Closer (Chapter 8A)

1447225135780

Closer

Chapter 8A.  (Seduced by Devil’s Intoxicating yet Excruciating Love) – by Angel Devilovely95

Author : Angel Devilovely95 (Twitter: @MardianaSanusi)

Cast     : Oh Sehun – Im Neyna (OC) – Kim Jongin

Park Chanyeol & Lee Hyera (OC)

Genre  : Romance, Drama, Psychology & Marriage Life

Rating : 18 or Mature

Length : Chaptered

When a handsome man forces you to be his

 

.

.

.

.

.

 

Rangkaian mawar bertuliskan ‘Sehun’ ‘Neyna’ dengan tanda hati ditengahnya teronggok manis di bawah sana. Menjadi clue yang teramat jelas untuk benar-benar menyadarkan Neyna akan perasaan Sehun padanya. ‘Sehun’ love ‘Neyna’! Sungguh romantis. Dilain pihak, sungguh sulit untuk dipercaya.

 

“I, Sehun love u, Neyna.” Sehun mengeja, cenderung memodifikasi sendiri rangkaian mawar putih yang sebenarnya hanya bertuliskan ‘Sehun’ ‘Neyna’ yang dihubungkan dengan rangkaian mawar merah berbentuk hati di bawah sana.

 

“Sehun-sshi kau mencintaiku?”

 

“Yes.”

 

Sehun mencintainya.

 

Itu artinya Sehun menikahinya tulus dengan cinta di dalamnya?

 

Neyna berkedip dan mengigit bibir bawahnya. Jantungnya berdebar tak karuan, pipinya memanas. Perasaanya kalang kabut. Kekacauan yang melandanya bahkan semakin menjadi. Penyebabnya tidak lain tidak bukan suaminya sendiri. Sehun kini menatapnya hampir tanpa berkedip, pandangannya begitu dalam seakan melihat jauh kedalam matanya. Kalau saja ia tidak duduk sekarang, ia pasti sudah terjatuh karna lemas. Ia tidak sanggup menunduk, tubuhnya seakan kebas, terserap oleh semua kejutan dan pandangan Sehun yang mematikan. Oh! Ini keajaiban! Ia seperti tersihir.

 

“Sehun terbiasa dengan banyak wanita”

 “Dia pasti tidak sungguh-sungguh denganmu Neyna-ya!”

 

Dammit! Pikirannya melayang ke kenyataan yang teramat sialan! Ia jadi ingat kalau Sehun kerap kali memesan wanita dari Chanyeol. Kalau sudah begitu pasti Sehun juga sering mengumbar kata ‘cinta’ pada wanita-wanita itu kan? Hah! Menyebalkan! Entah kenapa dadanya sesak, perasaanya mencelos. Ugh…

 

“Bagaimana? Kau mau menerima cintaku kan sayang?” Tanya Sehun lembut dan menuntut disaat bersamaan.

 

“Sehun-sshi…Aku…Aku ragu dengan perasaanmu.”

 

Sehun seketika menggeram. Rahangnya mengeras, netranya menggelap memancarkan amarah. “LANDASKAN HELIKOPTER INI SEKARANG JUGA! (HERIPOTO WA IMA ARIMASU!)” Sehun berteriak, nyaris memaki pilot helikopter.

 

“Baiklah Presdir. (Nao daijōbu shachō)

 

“Oh Neyna…Oh Neyna…haha…berani-beraninya kau meragukan perasaanku sayang. Kau keterlaluan….benar-benar keterlaluan hmm.” Sehun tidak berteriak, tidak juga membentak. Pria itu kali ini berucap dengan santai, bahkan terkekeh sambil mengelus-elus pipi Neyna. Tapi celakanya, dibalik semua itu nada bicara Sehun terkesan sinis, sama halnya dengan tawanyanya dan tatapannya, membuat Neyna sama sekali tidak nyaman dan justru ketakutan.

 

“Kita sudah sampai Presdir. (Watashitachiha shachō ni made shite kimashita)

 

Tanpa menunggu bodyguard sewaannya membukakan pintu helikopter untuknya dan Neyna, Sehun langsung menggeser pintu berdisgn minimalis itu dengan tergesa, keluar lebih dulu, dan langsung menggendong Neyna ala bridal.

 

Empat bodyguard yang lebih dulu tiba di bukit pun memasang tampang panik, nampak ketakutan melihat bossnya keluar dari helikopter dengan sendirinya tanpa sempat dibukakan pintu oleh mereka. Seakan enggan membuat kesalahan yang lebih mematikan, keempat bodyguard itu akhirnya berjalan tergesa mengekor di belakang Sehun.

 

“Kalian berjaga saja disini! (Anata dake de nomi!)” Titah Sehun tanpa menoleh sedikitpun.

 

“Baiklah Presdir. (Nao daijōbu shachō)

 

Sehun terus menggendong Neyna dan masih saja memasang tampang datar menahan amarah dengan bibirnya yang terkatup rapat serta rahang yang mengeras.  Neyna yang hafal betul ekpresi angker Sehun saat terakhir kali melihatnya di dalam helikopter terlihat kapok untuk sekedar mendongakan wajahnya. Jangankan mendongak, mencuri pandang untuk melihat pemandangan di sekitarnya saja ia sungkan. Ia lebih memilih menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sehun sambil mencengkram haori Sehun.

 

Tidak jauh dari helikopter dilandaskan, rangkaian mawar merah berbentuk hati terpetak begitu jelas di tengah taman dengan ukurannya yang luar biasa besar. Tidak ada hiasan lain disekitar tanda hati selain mawar putih bertuliskan nama Sehun dan Neyna. Lima meter di depannya, ada Sehun yang sudah berdiri angkuh dengan Neyna digendongannya.

 

“Stop hiding your face Oh Neyna!” Titah Sehun tegas sambil mengapit dagu Neyna dengan telunjuk dan ibu jarinya, menggerakannya paksa hingga wajah Neyna mengarah ke depan.

 

“Sekarang aku bisa melihat wajahmu dengan baik.” Sehun menyeringai sinis, tapi hanya sesaat. Ekspresinya berubah datar lagi saat menurunkan Neyna dari gendongannya. Tanpa memperdulikan keadaan kaki Neyna—yang lemas karna habis digendong—, Sehun langsung menghadapkan tubuh Neyna ke rangkaian mawar berbentuk hati dan memeluk tubuh mungil istrinya itu dari belakang.

 

“Lihatlah Oh Neyna, aku sudah menyiapkan rangkaian mawar itu untukmu.”

 

Neyna membulatkan matanya, bibirnya bahkan sampai terbuka, takjub dengan rangkaian mawar berbentuk hati berhiaskan namanya dan Sehun di hadapannya. Luar biasa indah! Berkali-kali lipat lebih indah dari yang ia lihat saat di helikopter.

 

“Aku rasa kau sangat menyukai rangkaian mawar itu. Senang mengetahuinya.” Sehun menyeringai bangga sambil memiringkan kepalanya, mengamati wajah terkejut Neyna karna kesimpulan sepihaknya.

 

“Dan kau tahu, aku kecewa mengetahui kau meragukan perasaanku sayang.” Sehun kembali murka. Nada bicaranya dingin, netranya berkilat marah, ekspresi wajahnya sinis. Sehun bahkan melepas pelukannya dan berdiri menghadap Neyna, menyerong sedikit agar tidak menutupi rangkaian mawar yang tengah dipandang Neyna. Neyna jadi merasa begitu terintimidasi sekarang.

 

“Dengarkan baik-baik Oh Neyna. Aku memang pernah terlibat dengan banyak wanita, tapi bukan berarti aku mencintai mereka.”

 

Ajaib! Sehun bisa menebak kekhawatirannya. Neyna mengigit bibir bawahnya, antara malu dan senang. Malu karna pikirannya begitu mudah dibaca oleh Sehun dan senang karna… Sehun tidak mencintai wanita-wanita yang pernah ia pesan. Wow apa artinya?

 

“Asal kau tahu Oh Neyna, mereka hanya wanita yang aku pesan untuk semalam. Wanita yang  aku bayar karna sudah melayaniku. Wanita yang tidak pernah memuaskanku seperti kau memuaskanku semalam sayang.”

 

BLUSH. Pipinya memanas, nafasnya terengah-engah. Neyna tidak kuat mengontrol desiran aneh dalam dirinya. Pengakuan Sehun membuatnya begitu bangga sekaligus err…bergairah. Bayangkan saja begitu banyak wanita, Sehun hanya puas dengannya. Bukankah itu kenyataan yang patut untuk dibanggakan? Ya…kalau untuk urusan bergairah. Jangan lupa bagaimana ia melayani Sehun semalam, meski ia selalu menangis, tapi ia masih ingat rasa nyeri dan nikmat yang Sehun berikan. Jadi bukankah pengakuan Sehun sangat sexy jika disandingkan dengan kejadian semalam? Oh my god! Apa yang ia pikirkankan?

 

“Aku tidak tahu apa kau mengerti maksudku yang sesungguhnya kenapa aku mengatakan itu semua. Aku benar-benar tidak tahu. Tapi aku ingin perjelas bahwa aku hanya mencintaimu Oh Neyna. Kau berbeda dari wanita-wanita jalang yang pernah aku pesan. Kau berbeda dari wanita-wanita yang aku kenal.” Sehun mendesis, nampak frustasi dengan kalimat terakhirnya yang cenderung ambigu—yang bisa jadi menimbulkan kesalahpahaman untuk Neyna.

 

“Ok, jangan salah paham sayang.  Meskipun aku mengenal beberapa wanita, aku tidak pernah menjalin hubungan percintaan atau apapunlah dengan wanita-wanita itu.” Lanjutnya mengoreksi, kecemasan jelas terpampang di wajahnya.

 

Neyna jelas terkejut. Semua pernyataan Sehun hampir membuatnya limbung. Tapi disamping itu, ia sebenarnya begitu antusias untuk mendengar pernyataan Sehun yang lainnya. Karena apa? Ya karna Sehun hanya mencintainya dan hanya menjalin hubungan percintaan dengannya. Ia merasa diistimewakan kau tahu?

 

“Percaya atau tidak. Oh salah…” Sehun berdecak sebal dan mengacak rambutnya frustasi. Salah diksi lagi rupanya.

 

“Maksudku kau harus percaya padaku sayang. Ya kau harus percaya padaku! Oh Neyna, aku belum pernah jatuh cinta pada siapapun sebelumnya. Aku tidak pernah tertarik untuk berpacaran atau bahkan menikah sebelumnya. Intinya aku tidak pernah percaya cinta itu ada sampai aku bertemu denganmu. Saat pertama kali melihatmu, aku sudah sangat-sangat tertarik padamu, bisa dibilang aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Oh…Aku bersumpah aku tidak pernah percaya pada istilah‘love at first sight’sebelumnya, tapi semakin lama aku menghabiskan waktu bersamamu, aku sadar bahwa aku sudah terjebak pada hal yang tidak aku percayai sebelumnya. Aku benar-benar sudah terjerat padamu sayang. Ini memang pengalaman pertama bagiku, tapi aku yakin sekali dengan apa yang aku rasakan.” Sehun menghembuskan nafasnya kasar. Pandangannya tidak luput sedikitpun dari Neyna. Ekspresi wajahnya semakin serius. Tidak ada senyum sama sekali, bukti bahwa semua pernyataannya bukan rayuan, tapi pengakuan atau bahkan kesaksian.

 

“Aku. benar-benar. jatuh.cinta. padamu. Oh Neyna. Aku mencintai kecantikan fisikmu sekaligus kecantikan sifatmu. Fisikmu begitu cantik, tapi sifatmu jauh lebih cantik. Kau begitu lembut, kau begitu sabar. Kau bahkan tidak pernah memakiku atau menamparku meski aku kerap bersikap kasar padamu. Aku tahu kau takut padaku, tapi menurutku setakut-takutnya orang pasti pernah berkata kasar saat dikasari. Tapi teori itu justru tidak berlaku sama sekali padamu, kau justru mempertahankan kelembutanmu. Waktu-waktu yang aku lalui bersamamu membuatku mengerti akan semua itu, mengajarkanku bahwa aku tidak ingin berhenti pada istilah picisan ‘love at first sight’ tapi ‘loving Oh Neyna for the rest of my life’. Oh Neyna…Aku tidak pernah berbicara sepanjang ini sebelumnya selain saat rapat atau mengomeli bawahanku. Jadi kau bisa simpulkan bahwa apa yang aku bicarakan bukan bualan, tapi aku benar-benar serius sama seperti keseriusanku saat rapat dan mengomeli bawahanku. Jadi, jangan pernah berpikir aku berbohong atau mengatur kata-kata dulu untuk berbicara panjang lebar seperti ini padamu.”

 

Sehun memijat pelipisnya. Ia merasa benar-benar cerewet dari tadi, sementara Neyna hanya diam membisu seperti bawahan yang tengah diomeli oleh atasannya. Entah Neyna bingung atau pusing mendengarkan ocehannya, yang ia takutkan ia sudah sangat cerewet dari tadi, tapi Neyna tidak percaya juga pada perasaannya. Hah! Sehun mengusap wajahnya frustasi dan akhirnya memetik asal lima tangkai mawar. Meski ada banyak duri di tiap tangkai mawar, Sehun tidak mempedulikannya. Ia justru menggenggamnya erat-erat yang celakanya malah membuat telapak tangannya berlumuran darah.

 

“Oh Neyna sebelumnya kau kelihatan tidak suka dengan taman tulip yang aku belikan, jadi aku membeli lahan di bukit ini untukmu, untuk ditanami mawar-mawar ini. Pengerjaannya memang baru berjalan dua hari, jadi mawar yang sempat ditanam baru di bagian selatan. Meski begitu, Oh Neyna kau harus percaya padaku. Jangan ragukan perasaanku lagi. Aku rela memberikan apapun untukmu sayang.” Sehun berjalan menghampiri Neyna dengan mawar digenggamannya, juga dengan tangan yang berlumuran darah.

 

Taman berhiaskan tulip.

Bukit berhiaskan mawar.

Rela memberikan apapun.

Rela melukai dirinya sendiri.

Inikah cara Sehun mengeskpresikan cintanya?

 

Oh tunggu. Ini tidak benar! Sehun melukai dirinya sendiri!

 

“Sehun-sshi tanganmu terluka. Tolong taruh saja mawarnya hmm.” Neyna menggigit bibir bawahnya dan menatap ngeri ke arah lumuran darah di tangan kanan Sehun. Meski bukan ia yang terluka, tapi justru ia yang merasa ngilu. Sementara Sehun yang terluka malah terlihat santai-santai saja, tidak meringis sedikitpun dan tetap mempertahankan mawar digenggamannya meski sudah dibujuk oleh Neyna.

 

“Oh Neyna kau percaya padaku kan? Kau percaya kalau aku benar-benar mencintaimu kan sayang?”

 

“Sehun-sshi tanganmu….Astaga darahnya menetes…” Neyna membekap mulutnya. Ia benar-benar tidak tahan melihat lumuran darah di tangan Sehun. “Letakkan mawarnya eoh. Aku mohon Sehun-sshi.”

 

“ITU BUKAN JAWABAN YANG AKU INGINKAN OH NEYNA!” Bentak Sehun sambil memelototi Neyna.

 

“Baiklah…baiklah.” Neyna menghela nafas panjang, mengalah. “Aku percaya padamu Sehun-sshi. Maaf karna telah meragukan perasaanmu dan terimakasih sudah mencintaiku hmm.”

 

Sehun mengangguk dan tersenyum tipis, melukai tangannya sendiri ternyata ada hasilnya juga, Neyna akhirnya percaya pada perasaannya. “Oh Neyna aku pernah bilang kalau aku menginginkan hadiah ulang tahun darimu. Hadiah yang lebih gampang. Kau ingat?”

 

“Iya, aku ingat.”

 

“Karna kau sudah percaya pada perasaanku, berarti aku anggap kau sudah menerima cintaku.” Putus Sehun sepihak, lagi-lagi menyimpulkan sesukanya. “Jadi hadiah yang harus kau berikan  akan lebih mudah lagi Oh Neyna.”

 

“Lalu apa yang harus aku berikan?”

 

“Hatimu. Aku ingin kau membalas cintaku.”

 

Sehun menginginkan cinta darinya?

 

Hanya itu?

 

Setelah segala hal yang Sehun berikan untuknya. Entah itu materi atau cinta yang begitu besar yang celakanya tidak pernah ia sadari sedikitpun. Dan kini Sehun hanya menginginkan cinta darinya, istrinya sendiri? Bukankah itu permintaan yang timpang jika disandingkan dengan segala hal yang Sehun berikan? Ya! Timpang, sangat. Disamping itu, bukankah memang sudah sewajarnya ia sebagai istri memberikan cinta untuk suaminya?

 

Neyna mengangguk, mengiyakan opininya. Ia berjinjit dan akhirnya mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun. “Sehun-sshi maaf aku belum benar-benar bisa membalas cintamu sekarang, tapi aku akan berusaha untuk membalasnya…suamiku.” Neyna tersenyum malu-malu, lalu mengigit bibir bawahnya, menyadari tindakan nekatnya. Ia sadar, sepenuhnya sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia hanya ingin melenyapkan kecemasan Sehun dan err…sedikit lebih dekat dengan Sehun? Ya sepertinya begitu.

 

“Suamiku?” Sehun menyeringai nakal dan menahan pinggang Neyna. “Aku tidak salah dengar kan sayang?”

 

“Eumm…Tidak. Kau tidak salah dengar.”

 

“Hmm…Aku tidak menyangka kau ternyata pintar menggodaku. Kau sangat menggemaskan Oh Neyna. Aku jadi ingin menidurimu lagi… istriku sayang.” Sehun kembali menyeringai nakal dan mengecup pipi Neyna.

 

Neyna berkedip beberapa kali dan lagi-lagi terengah-engah, terkejut sekaligus terangsang. Entah kenapa ia merasa semakin terpengaruh oleh Sehun. Baik itu kalimat dan tindakannya, terlebih Sehun semakin nakal menjamah pipinya. Ciuman Sehun bahkan kini semakin menjadi, menjalar ke ujung bibirnya.  Neyna buru-buru menolehkan wajahnya, menghalau ciuman Sehun. “Se-sehun-sshi…eumm…k-kau masih menggenggam mawar yang kau petik… Kau belum meletakkannya.” Ucap Neyna kikuk, mencoba mengalihkan perhatian Sehun.

 

Sehun berdecak sebal dan menghembuskan nafasnya kasar, kesal lantaran ciumannya tidak terlaksana. Mau tidak mau Sehun akhirnya melepaskan tautan tangannya di pinggang Neyna, lalu mengecupi kelopak mawar di genggamannya. “Hmm…Aku tidak jadi mencium bibirmu, jadi hanya mawar ini yang bisa kucium.” Sindir Sehun sarkastik sambil terus mengecupi kelopak mawar di genggamannya yang malah membuat Neyna tertawa.

 

“Mawar ini harum sekali, tapi sayang sekali harus kubuang.”  Sehun langsung membuang mawar yang ia genggam, lalu menaikkan sebelah alisnya. “Apa itu lucu?”

 

“Eum.”

 

“Aku tidak berniat melawak dan aku tidak pintar melawak Oh Neyna, tapi melihatmu tertawa.. yaa…Aku merasa sangat senang, setidaknya aku tidak hanya bisa membuatmu menangis, tapi juga tertawa.”

 

Neyna hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Sehun. Teringat dengan tangan Sehun yang terluka, Neyna akhirnya meraih tangan kanan Sehun. Sehun tersentak, sementara Neyna mengigit bibir bawahnya. Antara ngeri melihat keadaan tangan Sehun dan gugup. Biar bagaimanapun ini pertama kalinya ia memegang tangan Sehun dan anehnya jantungnya berdegup begitu kencang hanya karna hal sepele semacam ini.

 

“Sehun-sshi darah di tanganmu banyak sekali. Aku rasa darahnya akan berhenti mengalir kalau tanganmu diperban.”  Neyna melepaskan tangan Sehun dan berjongkok, berusaha merobek ujung yukatanya. Sehun yang melihatnya hanya mengernyit heran. Neyna terus saja berusaha merobek yukatanya, tapi tidak juga berhasil. “Bagaimana ini? Kenapa susah sekali dirobek?”

 

“What are you doing actually Oh Neyna?”

 

“Ripping my yukata.” Neyna kembali berdiri dan hendak berjalan menghampiri dua bodyguard pria, tapi baru berjalan dua langkah, Sehun sudah lebih dulu mencekal tangannya.

 

“Kau mau kemana? Jangan bilang kau mau kabur dariku Oh Neyna!”

 

“Aku tidak berniat kabur Sehun-sshi. Aku hanya ingin meminta bantuan pengawal-pengawal pria itu untuk merobek ujung yukataku.”

 

“TIDAK! KAU TIDAK BOLEH MEMINTA BANTUAN PRIA LAIN SELAIN AKU!” Sehun berteriak murka sambil mendelik dan mencengkram tangan Neyna.

 

“Akh iya iya, aku tidak akan melakukannya Sehun-sshi.”

 

Sehun tersenyum lega dan akhirnya melepaskan cengkramannya di tangan Neyna. Selayaknya psikopat, Sehun begitu lihai memperdaya korbannya, menghasutnya agar memihak padanya, demi keutungannya sendiri. Demi keposesifannya yang akut. Korbannya yang sudah diperdaya  bahkan benar-benar dieksekusi. Kesempatan pria lain untuk dekat dengan korbannya, jadi kesempatannya. Sehun begitu licik. Pria itu langsung memanfaatkan kesempatannya, berjongkok dan langsung merobek ujung yukata Neyna dengan sekali hentak.

 

Wow!

 

Menakjubkan!

 

Neyna mengigit jarinya, terpukau. Dari awal seharusnya ia meminta bantuan Sehun mengingat suaminya itu begitu mahir dalam urusan robek merobek. Entah merobek pakaiannya sampai merobek selaput daranya. Hah! Apa yang ia pikirkan? Ini keterlaluan!

 

“Ini.” Sehun berdiri dan menyerahkan potongan yukata yang dirobeknya pada Neyna yang kemudian langsung diraih oleh Neyna.

 

“Potongan yukatamu sebenarnya untuk apa?”

 

“Untuk membalut luka di tanganmu Sehun-sshi.” Neyna tersenyum tipis sambil membalut tangan Sehun dengan potongan yukatanya.

 

“Tidak ada perban, jadi aku pikir lukamu bisa dibalut dengan kain lain, dengan yukataku.” Neyna mengikat kedua sisi potongan yukatanya, menyudahi kegiatannya membalut luka di tangan Sehun.

 

“Ah akhirnya selesai. Maafkan aku kalau tidak begitu rapih Sehun-sshi. Ini pertama kalinya aku—”

 

Sehun sontak mencium bibir Neyna, memotong kalimat istrinya itu. Lumatan kian lumatan bertubi-tubi dilancarkan Sehun. Ia sudah gemas dengan tingkah Neyna yang dari tadi selalu berhasil menggodanya. Desahan-desahan tertahan yang lolos begitu saja dari bibir Neyna alhasil membuatnya semakin terangsang. Kalau sudah begini, mau tidak mau ia harus berhenti atau bisa jadi Neyna habis di tengah taman. Terpaksa. Sungguh terpaksa. Ia akhirnya menghentikan ciumannya, membiarkan Neyna bernafas, begitu juga dengan libidonya.

 

“Kenapa kau pintar sekali memukauku hmm?” Sehun menatap Neyna dalam-dalam sambil mengelus-elus pipi Neyna. Sementara Neyna hanya mengigit bibir bawahnya, bingung mau jawab apa.

 

“Kau benar-benar membuatku kacau Oh Neyna, membuatku benar-benar gila.” Sehun menghembuskan nafasnya kasar dan akhirnya menggendong Neyna. “Wrap your hands on my neck sweethearth.” Titah Sehun tegas yang langsung dituruti oleh Neyna.

 

“Kita mau kemana Sehun-sshi?”

 

“Kembali ke hotel. Kau harus tidur siang.”

 

“Tidur siang?” Neyna mengernyit, bingung. Apa maksud Sehun? Tidur siang dalam artian sebenarnya? atau mungkin….Tidur siang dalam artian bercinta di siang hari? Oh no!

 

“Tidur siang. Tidur di siang hari.” Jelas Sehun dengan ekspresi wajah yang serius. Melihat Neyna menghela nafas lega, Sehun pun langsung mengubah ekspresi wajahnya, menyeringai nakal.  Rupanya ia baru menyadari keambiguan makna ‘tidur siang’ yang membuat Neyna bingung. “Tidur siang juga bisa berarti bercinta di siang hari sayang. Bagaimana kau paham?”

 

“Iya aku paham.” Neyna memekik dan mengangguk cepat. Dasar polos!

 

“Karna kau paham dan memekik segala, itu artinya kau mau hmm?”

 

“Aaahh Sehun-sshi…aku…aku masih nyeri.” Rengek Neyna dengan bibir dikerucutkan dan tatapan sendu khas puppy eyes, merajuk sebisanya.

 

“Baiklah-baiklah, aku tidak akan menerkammu siang ini.”

 

Tidak menerkam siang ini bukan berarti nanti malam juga berlaku kan?

 

Memang dasar lugu! Neyna justru kembali menghela nafas lega dan tersenyum manis seperti tidak sadar bahaya apa yang menghandangnya kelak. “Sehun-sshi kau juga tidur siang bersamaku?”

 

“Hmm. Aku makan bekal buatanmu dulu baru tidur.”

 

“Sehun-sshi kau menggendongku memangnya tanganmu tidak sakit?” Tanya Neyna sambil menoel tangan Sehun yang menyembul dari balik pahanya.

 

“Tidak.”

 

“Sehun-sshi kemarin Gyojangnim bilang untuk saat ini dia akan merahasiakan dulu statusku dari guru-guru dan yang lainnya. Apa mungkin kau yang menyuruhnya untuk merahasiakannya?”

 

“Iya, agar kau tidak diisukan yang aneh-aneh oleh mantan rekan kerjamu dan mantan muridmu. Selain itu, sebenarnya aku memang sengaja merahasiakan identitasmu dari public. Aku baru akan mengungkap identitasmu saat perayaan ulang tahunku Oh Neyna.”

 

“Aah begitu…”

 

“Sehun-sshi nanti di ryokan, aku akan mengobati lukamu. Aku akan mengganti perbanmu dengan perban yang asli hmm.”

 

“Di hotel saja sayang.”

 

“Sehun-sshi…eumm…aku.”

 

“Apalagi sayang?”

 

“Aku ingin mencium mawar-mawar itu. Kesana dulu eoh?” Pinta Neyna sambil menunjuk mawar di sebrang rumput hijau.

 

“Oh Neyna kita sudah di depan helikopter kau masih sempat-sempatnya ingin mencium mawar-mawar itu huh?!”

 

“Aaah Sehun-sshi.” Neyna merengek lagi dengan bibir dikerucutkan dan tatapan sendu khas puppy eyes. Jurus aegyo andalannya!

 

“Baiklah…Baiklah.”

.

.

.

.

.

.

Elusan dan pelukan posesif tidak lagi dirasakannya. Ranjang yang ia tiduri pun kini hanya menyisakan dirinya sendiri, tanpa Sehun di sampingnya. Neyna mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Sehun, tapi nihil. Sehun tidak ada di kamar. Sehun bahkan meninggalkan handphoneyang kemungkinan besar memang milik pria itu. Sehun mungkin lupa membawanya dan pasti membutuhkannya.

 

Dengan handphone Sehun di genggamannya, Neyna lantas turun dari ranjang dan berjalan tergesa hingga menendang paper bag berisi boneka Barbie yang tergeletak di lantai. Neyna sontak tersenyum, mengingat bagaimana Sehun dengan kakunya membahas boneka Barbie yang dibelinya. Aksesoris rambut dan makan-makanan manis. Sehun juga membelinya. Untuknya. Menggelikan bukan? Sangat! Tapi dari situ pula lah terbukti bahwa Sehun memang mencintainya dan celakanya err….terlalu memanjakannya.

 

Otoriter, posesif, keras, dan kasar, disamping itu manis dan romantis. Siapa yang bisa menolak pesona pria seperti itu kan? Kedua hal yang mematikan pertahanan wanita itu juga menyerangnya dan sialannya membuat perasaanya porak-poranda. Gugup, senang, malu. Bercampur menjadi satu. Neyna buru-buru mengelus dadanya dan beralih berjalan ke luar kamar, berharap desiran aneh yang menjalarinya enyah secepatnya. Namun sayang, Sehun terlalu otoriter. Tidak hanya fisik, suaminya itu ternyata juga senang mendominasi batinnya.

 

“Nyonya mau kemana? (Iku no aijin?)” Tanya Izumi—salah satu bodyguard wanita sewaan Sehun— pada Neyna.

 

“Aku ingin bertemu suamiku. Izumi-san kau tahu dimana suamiku? (Watashi wa watashi no otto ni aitai to omoimasu. Izumi-san kare wa doko ni aru ka shitte imasu ka?)

 

“Presdir Oh di ruang rapat. Beliau sedang rapat bersama dewan direksi hotel. (Kaigijitsu de no Oh shachō. Kare wa torishimariyaku no hoteru no bōdo to kaidan shimashita)” Izumi  memeriksa arlojinya, mengecek durasi rapat. Tepat dua jam, rapat kemungkinan besar sudah selesai. Izumi pun membungkuk sopan dan tersenyum hormat pada Neyna. “Nyonya maaf sepertinya rapat sudah selesai. Nyonya tunggu di kamar saja, Presdir Oh akan menemui Anda. (Hosutesu wa zan’nen kaigi ga shūryō shita yōdesu. Hitori de heya de taiki shite iru aijin wa, Oh shachō o mitashimasu)

 

“Izumi-san aku ingin bertemu suamiku sekarang. Bisakah kau mengantarku? (Izumi-san wtasahi wa ima watashi no otto o mite mitaidesu. Anata wa watashi o toru koto ga dekimsu ka?)” Pinta Neyna cepat dengan sekali ucap seperti sedang terdesak. Selain fakta bahwa Sehun pemilik hotel ini—yang baru ia ketahui secara tidak sengaja dari percakapan karyawan hotel beberapa saat lalu—Sehun juga ternyata pekerja keras yang sangat sibuk. Demi menemaninya, Sehun harus kucing-kucingan dengan pekerjaannya. Sungguh, ia jadi merasa bersalah karna sempat menolak kehadiran Sehun di Jepang.

 

“Baiklah. Ikuti saya Nyonya. (Wakarimashita. Watashi no aijin ni shitagatte kudasai)

 

Neyna mengangguk dan mengikuti Izumi memasuki lift. Diantara 58 lantai, Izumi memencet Lt 1, lantai dasar tepat dimana ruang rapat berada. Jauh sekali, sementara ia ada di lantai lima puluh delapan, lantai teratas sebelum rooftop. “Apa mungkin aku bertemu Sehun-sshi?” Gumam Neyna membatin. Tidak ada satu menit, lift ternyata sudah tiba di lt 1. Luar biasa! Inikah pesona hotel bintang lima? Sepertinya.

 

Neyna keluar lebih dulu dari lift, tapi selanjutnya Izumilah yang berjalan lebih dulu, memimpin jalan. Dari tempatnya berdiri sekarang, ia bisa melihat pintu ruang rapat terbuka, tanda rapat memang sudah berakhir. Begitu juga dengan beberapa pria dan wanita berpakaian formal yang keluar dari ruang rapat. Sehun? Untunglah suaminya itu juga masih ada di depan ruang rapat. Sehun nampak beda sendiri. Pria itu masih mengenakan seragam kendo. Dan satu-satunya yang masih muda, sekaligus satu-satunya yang paling tampan.

 

Ya tampan. Sehun memang tampan. Sangat. Neyna mengigit bibir bawahnya. Entah kenapa ia jadi malu dan gugup. Apalagi Sehun sudah menyadari kehadirannya dan kini berjalan menghampirinya dengan senyum yang sialannya begitu mempesona.

 

PLAK

 

Tamparan mengenai pipinya. Neyna seketika membulatkan matanya, begitu juga dengan Sehun. Panas dan perih tak pelak menjalari pipinya, Neyna pun meringis kesakitan sambil memegangi pipinya. Sayangnya, tindakan Neyna justru membuat Kurumi menyeringai puas.

 

“Hah tidak perlu jauh-jauh ke Korea ternyata aku bisa menamparmu disini. (Hah kankoku ni tōku ni iku hitsuyō wanai watashi wa koko ni watashi o hirateuchi kanōsei ga hanmei shimashita)” Kurumi menggeram dan berusaha menghardik Neyna lagi, tapi sayang usahanya kali ini digagalkan oleh Izumi.

 

“DASAR PELACUR PEREBUT SUAMI ORANG! KEMARI KAU!! (KIHON-TEKINA BAISHUNPU WA OTTO O GODATSUSHA! KOKO DE!!)” Teriak Kurumi kesal sambil terus saja berusaha menghardik Neyna.

 

“Jaga bicaramu! (Anata no shita o tamochimasu!)” Sehun mencekal tangan Kurumi dan sontak menghentikkan aksi brutal mantan istri Jongin itu.

 

“JANGAN IKUT CAMPUR! LEPASKAN! (KANSHO SHINAIDE KUDASAI! RIRISU!)

 

“Sehun-sshi tolong lepaskan Kurumi eonni hmm.”

 

“Tidak hanya kehilangan suami, ternyata kau juga kehilangan kewarasanmu Kurumi-san. Kasihan sekali. (Sore wa mata, anata no shōki o ushinauga hanmei shi kanojo no otto o ushinatte inai dake Kurumi-san. Dōjō)” Sehun menyeringai sinis dan akhirnya menghentakkan kasar tangan Kurumi. Terpaksa. Kalau saja Neyna tidak membujuknya, sudah pasti ia mematahkan tangan Kurumi.

 

“Dari mana kau tahu kehidupanku?! Dari mana kau tahu namaku?! (Dono yō ni anata ga watashinojinsei o gozonjideshita ka?! Dono yōni watashi no namae o shitte ita nodesu ka?!)

 

“Dari mana aku tahu kehidupanmu? Dari mana aku tahu namamu? Haha kau tidak perlu mengetahuinya Kurumi-san. (Watashi wa jinsei o shitte iru no? Dono yō ni watashi wa anata no namae o shitte imasu ka? Haha emi anata wa Kurumi-san o shitte iru hitsuyō wa arimasen)” Sehun tertawa geli, meledek. “Yang perlu kau ketahui hanya siapa aku. (Anata wa watashi ga chōd dare daka shitte iru hitsuyō ga aru koto)

 

“Hah memangnya siapa kau? (Tashika ni anatahadaredesu ka?)

 

“Aku suami dari wanita yang kau sebut pelacur perebut suami orang! (Watashi wa anata ga otto no gōdatsusha no baishunpu o yobu josei no ottodeshita!)” Sehun mendelik tajam ke arah Kurumi.

 

Kurumi seketika memucat, jelas-jelas terkejut sekaligus ketakutan. Tatapan Sehun begitu tajam, selaras dengan ekspresi wajah pria itu yang terlampau sinis, bahkan bisa dibilang bengis.

 

“Eonni, aku sudah menikah. Aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Jongin Oppa. (Eonni, watashi wa kekkon shite imashita. Watashi wa kore ijō Jongin Oppa o tsukatte nani o motte imasen)” Jelas Neyna berusaha meyakinkan Kurumi. “Sehun-sshi aku baik-baik saja. Sudah jangan marah-marah lagi hmm.” Neyna menghampiri Sehun dan mengelus lengan suaminya, berusaha menenangkannya.

 

“TIDAK! KAU TIDAK BAIK-BAIK SAJA OH NEYNA! PIPIMU DITAMPAR KENCANG SEKALI, MANA MUNGKIN BAIK-BAIK SAJA HUH?!” Bentak Sehun sambil mendelik kearah Neyna. Meski marah Sehun justru terkesan begitu perhatian, terlebih pria itu kini mengelus-elus pipi Neyna, lembut sekali seakan takut melukai pipi istrinya itu. “Minta maaf! Kau harus minta maaf pada istriku! Sekarang! (Shazai! Anata wa watashi no tsuma ni shazai suru hitsuyō ga arimasu! Imasugu!)” Sehun mengarahkan tatapan tajamnya kembali ke arah Kurumi.

 

Enggan terintimidasi, Kurumi pun menyeringai sinis dengan tangan saling bersidekap. “Tidak akan! (Sa remasen!)” Tolaknya tegas.

 

“Baiklah. (Daijōbu)” Sehun menyeringai sinis dan membungkukan tubuhnya hingga wajahnya persis di hadapan wajah Kurumi. “Di hotel ini ada banyak CCTV. Aksi brutalmu pasti terkenal kalau rekaman CCTV disebarluaskan. Orang gila sepertimu pasti ingin sekali terkenal kan? (Kono hoterude wa CCTV ga takusan arimasu. Myū zan’nin’na kōi wa tashika ni yoko CCTV no eizō o hiromete iru koto o shira rete imasu. Anta no yōna kyōki no hito wa migi, ichido yūmei ni shitaidesu ka?)”  Sehun tertawa geli dengan tatapan yang terlampau tajam, seakan mencabik-cabik Kurumi. Melihat Kurumi meneguk salivanya susah payah, Sehun pun tertawa semakin geli. Pria itu buru-buru menegakkan tubuhnya dan mendekap Neyna. Erat dan posesif, seolah takut istrinya itu dilukai orang lain lagi.

 

Brengsek.

 

Gila.

 

“Neyna menikah dengan pria kejam seperti dia? Tidak masuk akal! Kenapa aku jadi kasihan dengan Neyna?” Keluh Kurumi membatin. Jongin dengan pria di hadapannya sungguh kontras. Selera Neyna terlampau janggal, menyedihkan. “Ne-neyna a-aku minta maaf.” Ucap Kurumi terbata, akhirnya mengalah.

 

“Iya, eonni. (Hai, eonni)” Neyna berusaha mengubah posisinya, menghadap Kurumi, tapi Sehun tetap mendekapnya erat-erat, melarangnya berhadapan langsung dengan Kurumi. “Eonni maaf posisiku. Aku tidak bisa menghadapmu langsung. Eumm… Eonni tanganmu pasti sakit saat menamparku tadi. Kau bisa mengompresnya dengan air hangat setelah ini hmm. (Eonni, mōshiwakearimasenga watashi no tachiba. Watashi wa chokusetsu suru kotow a dekimasen. Eumm…Izen hirateuchi-ji ni te ga byōkidenakereba narimasen. Anata wa, kono oto ni onsui de asshuku suru koto ga dekimasu)

 

“Kenapa kau masih saja baik pada orang seperti dia sayang?!” Protes Sehun tidak terima.

 

“Sstt…Sehun-sshi.”

 

“Terimakasih Neyna-san. Benar kata suamimu, kau tidak perlu bersikap baik pada orang sepertiku. (Arigatō Neyna-san. Tadashī tango anata no otto wa, anata wa watashi no yōna hito ni shinsetsu ni suru hitsuyō wa arimasen)” Kurumi tersenyum kikuk. Berbeda dengannya, Neyna sangat cantik dan ternyata sangat baik. Pantas saja Jongin begitu menggilainya.

 

Sehun mendegus. Ketika Kurumi membungkuk hormat dan menegakkan tubuhnya kembali, tepat saat itulah Sehun menyeringai sinis dan mendelik. Begitu tajam, begitu gelap. Tatapan Sehun sarat akan kemurkaan. “Pergilah, persiapkan kematianmu Kurumi-san! (Idō shimasu, anata no shi no junbi Kurumi-san!)” Ancam Sehun dengan dialek Kansai.

 

Neyna sudah pasti tidak mengerti, tapi lain halnya dengan Kurumi. Dialek khas kota kelahirannya itu—Kyoto— begitu dikenalnya. Begitu juga maknanya. Entah Sehun tahu dari mana mengenai dialek Kansai, intinya pria di hadapannya tahu informasi tentangnya sekaligus berhasil mengancamnya. Dari awal ia merasa ada yang tidak beres dengan Sehun. Dan lebih baik ia enyah sekarang.  “Neyna-san aku pamit dulu. (Neyna-san watashi ga saisho ni wakare o tsugumasu)” Tanpa menunggu jawaban Neyna, Kurumi lantas melenggang keluar hotel.

 

Sehun kembali menyeringai. Tatapannya tidak luput sedikitpun dari Kurumi. Ketika Kurumi tiba di pelataran hotel, Sehun pun melepaskan dekapannya. “Oh Neyna tunggu disini hmm. Aku ada urusan sebentar dengan sekertarisku.”

 

Sehun lantas berjalan tergesa menghampiri Jongdae yang entah kapan datangnya, sudah berdiri di lobi hotel.

 

“Nyonya mari duduk di sana dulu.” Saran Izumi sambil mengarahkan Neyna duduk di sofa dekat ruang meeting.

 

“Baiklah.”

 

“Kurumi. Kau tahu wanita itu kan?” Bisik Sehun sesaat setelah tiba di samping Jongdae.

 

“Iya Presdir.”

 

“Ikuti Kurumi dan bunuh dia.  Hari ini hari special, jadi aku tidak mau mengotori tanganku. Aku serahkan dia padamu.  Kau bisa melakukannya kan sekertaris Kim?”

 

“Iya Presdir.”

 

“Bagus, laporkan padaku hasilnya segera.”

 

“Baiklah Presdir.”

 

“Aku tidak membiarkan siapapun melukai istriku, meski kau sudah meminta maaf sekalipun Kurumi-san!” Ancam Sehun membatin sambil menyeringai sinis. Tepat saat Neyna tersenyum ke arahnya, saat itulah Sehun melenyapkan ekpresi angkernya. Sehun tersenyum tipis layaknya malaikat yang penuh dengan kebaikan dan belas kasih. Whereas viceversa, he’s the sadistic devil!

.

.

.

.

.

 

“Neyna-ya kau dari mana saja huh?” Tanya Yeri sesaat setelah Neyna tiba di hadapannya.

 

“Aku ada urusan yang harus diselesaikan eonni.” Neyna tersenyum sumringah sampai lesung pipinya melengkung begitu dalam. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona, terutama pria. Keindahan pohon sakura dengan kerlap-kerlip lentera di sekitarnya dan hubungannya dengan Sehun yang semakin membaik entah kenapa membuatnya begitu senang sampai ingin tersenyum terus-terusan.

 

“Ckck mencurigakan. Kau seperti orang yang sedang jatuh cinta yang habis berkencan Neyna-ya.” Yeri berdecak dan menyipitkan matanya, curiga dengan tingkah laku Neyna.

 

“A-aku?”

 

Yeri mencebikkan bibirnya, enggan menanggapi keterkejutan Neyna. Menurutnya Neyna sudah tertangkap basah tengah jatuh cinta dan habis berkencan. Entah Neyna berkencan dengan siapa ia akan tanyakan nanti, yang terpenting sekarang kehadiran Sehun yang baru saja tiba di kawasan festival. “Sial! Presdir Oh tampan sekali. Dari sebrang sini saja aku tetap bisa melihat wajahnya yang super tampan. Tubuhnya yang tinggi tegap benar-benar menggoda. Apalagi dada bidangnya. Andai saja aku istrinya, aku pasti sudah mencabik-cabik seragam kendo yang Presdir Oh kenakan, lalu mengelus dada bidangnya, lalu mengecupnya… Ah pasti Presdir Oh juga punya abs yang sexy. Dan kejantanannya ah pasti besar. Aku yakin pasti Presidir Oh hebat sekali saat beraksi di ranjang….”

 

Yeri masih saja meracau tidak karuan, sementara Neyna sudah mengigit bibir bawahnya, kedua tangannya bertaut di bagian perut—mencengkram yukatanya kuat-kuat—, kedua kakinya saling menyilang dan menekan, berharap hasrat aneh dalam dirinya bisa diredam. Ucapan Yeri, kejadian semalam saat Sehun memperkosanya, sampai tatapan tajam nan menggoda yang kini Sehun layangkan sayangnya membuat usahanya sia-sia. Hasratnya malah semakin menggebu, detak jantungnya berdebar tidak karuan, pipinya memanas, nafasnya tidak beraturan dan akhirnya… “Ha…Aaah…” Neyna mendesah.

 

“Neyna-ya kau kenapa?” Yeri seketika menghentikkan racauannya dan menatap Neyna menyelidik sambil mengeryit.

 

“A-aku… pe-perutku tiba-tiba sakit eonni. Mu-mungkin aku akan datang bulan.” Jawab Neyna gelagapan, berbohong.

 

“Kau ingin istirahat?”

 

“Tidak eonni. Perutku sudah baikan. Rasa sakitnya tiba-tiba hilang. Aneh sekali ya.”

 

Yeri mengernyit dan menggeleng, curiga. Enggan ambil pusing, Yeri lantas mengalihkan perhatiannya kembali pada Sehun. “Neyna-ya Presdir Oh terus-terusan melihat ke arah kita. Aku kira dia hanya asal melihat kesini. Tapi rupanya tatapannya tidak beralih sedikitpun dari kita.”

 

“Begitukah?” Neyna memekik dan membulatkan matanya pura-pura terkejut.

 

Yeri mengangguk, mengiyakan. “Neyna-ya aku ingin berkenalan langsung dengan Presdir Oh. Kau temani aku eoh.”

 

“Eonni Presdir Oh kan sudah punya istri, lagipula aku aku..” Neyna mendesah frustasi. Perasaanya tiba-tiba mencelos, pikirannya kalut. Ia tidak rela ada wanita lain yang ingin mendekati Sehun. Dan bodohnya ia bingung mau cari alasan apa untuk mencegahnya.

 

“Istri Presdir Oh kan tidak ada disini Neyna-ya. Sudah ayo temani aku.” Yeri mengibaskan tangannya acuh dan langsung menarik tangan Neyna.

 

“Aku istri Presdir Oh eonni. Aku disini.” Keluh Neyna membatin.

 

“Neyna-ya kau kan pernah bertemu langsung dengan Presdir Oh. Menurutmu Presdir Oh itu orangnya seperti apa?”

 

“Dingin, tegas.”

 

“Aku tahu. Sifat Presdir Oh yang seperti itu sudah terkenal Neyna-ya, jadi aku sudah tahu.” Yeri menghembuskan nafasnya kasar dan memutar bola matanya, jengah. “Aku bahkan sudah tahu rumor bahwa Presidir Oh sangat ketat dengan bawahannya sampai tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun.”

 

“Ah pantas saja Sehun-sshi senang sekali menghukumku.”

 

“Apa?”

 

“Ah tidak.”

 

“Neyna-ya sebentar lagi sampai. Aigoo aku gugup.” Yeri menoleh sambil mengelus-elus dadanya.

 

Neyna meringis. Ia jadi merasa seperti remaja yang tengah pacaran diam-diam dan terpaksa menemani temannya yang ingin berkenalan dengan pacarnya sendiri. Konyol. Benar-benar konyol . Kalau saja Yeri nanti tahu Sehun suaminya, ia bisa pastikan Yeri akan sangat-sangat syok.

 

“Kabarnya Presdir Oh jarang sekali tersenyum Neyna-ya. Orang yang melihatnya tersenyum termasuk orang yang beruntung. Ah aku jadi penasaran apa Presdir Oh akan tersenyum padaku? Ommo aku malu membayangkannya.”

 

Sehun pelit senyum? Haha sayangnya Sehun mudah sekali tersenyum padanya. Neyna menyeringai penuh kemenangan. Fakta ini membuatnya senang sekaligus bangga.

 

“Neyna-ya kita mampir dulu ke stan takoyaki eoh.” Yeri menyeret Neyna begitu saja ke stan takoyaki, lalu mengambil satu porsi takoyaki di stan siswa kelas XI tersebut.

 

Arah pandangan Sehun selalu tertuju pada Neyna, mengintainya bagaikan elang. Sampai saat Neyna akhirnya tiba di hadapannya, Sehun tidak sedikitpun meluputkan pandangannya. Alisnya bertaut keheranan, nampak bingung mendapati Neyna tiba-tiba menghampirinya. Namun ketika Neyna mengigit bibir bawahnya sambil menatapnya malu-malu, Sehun pun tak kuasa untuk tidak menyeringai.

 

“P-Presdir Oh sa-saya… Pe-perkenalkan na-nama saya Song Yeri. Sa-saya guru bi-biologi di Woosam.” Yeri tersenyum kikuk, gugup. “I-ini sa-saya bawakan takoyaki u-untuk Anda.” Lanjut Yeri sambil menyodorkan seporsi takoyaki pada Sehun.

 

Bukannya menerima takoyaki pemberian Yeri, Sehun justru bersidekap dan menaikkan sebelah alisnya dengan arah pandangan yang stagnan, tetap tertuju pada Neyna. “Im Neyna-sshi. Kau tidak membawakan makanan juga untukku?”  Tanyanya tegas sekaligus menuntut.

 

Yeri sontak menoleh kesamping, ke arah Neyna. Sementara Neyna hanya bisa menggeleng sambil mengigit jarinya seperti anak kecil yang tertangkap basah tidak mengerjakan pekerjaan rumah oleh gurunya.

 

Sehun yang melihatnya lantas menghembuskan nafasnya kasar sambil memijat pelipisnya, pura-pura frustasi. Tujuannya sudah jelas ingin membuat Neyna merasa bersalah.

 

“Presdir Oh maafkan aku. Aku…eumm.. kau memangnya mau maka—”

 

“Presdir Oh memangnya mau makan apa? Biar saya saja yang ambilkan untuk Anda.” Tawar Yuri cepat, menyela ucapan Neyna.

 

“Hmm…Kalau begitu bawakan *1yakitori, *2ramen, *3okonomiyaki, *4gyūdon, dan *5tonkatsu.”

(*1= potongan daging ayam yang dipanggang di atas arang panas), (*2= mie dalam kaldu dengan potongan kecil daging dan sayuran), (*3= serabi gurih yang mengandung berbagai bahan), (*4= semangkuk nasi yang diatasnya diberi daging sapi dan bawang rebus dengan saus yang agak manis), (*5= potongan daging babi dilapisi tepung roti goreng iris menjadi strip tipis disertai dengan bumbu saus manis)

 

“Ahh baiklah saya akan membawakannya segera.” Ucap Yeri menyanggupi. Tanpa mengajak Neyna, Yeri pun langsung beranjak dari hadapan Sehun. Sepertinya Yeri memang sengaja tidak mengikutsertakan Neyna bersamanya agar Neyna tidak merecoki urusannya, tapi sayang tindakannya malah menghantarkan keuntungan telak bagi Sehun.

 

Sehun yang memang berniat mengerjai Yeri akhirnya menyeringai licik. Misinya berhasil, Neyna bahkan tertinggal sendirian di hadapannya. Keberuntungan benar-benar ada dipihaknya. Tidak mau kehilangan kesempatan, Sehun pun langsung membopong Neyna dan berjalan dengan tergesa bagaikan penculik kelas kakap.

 

“Sehun-sshi kita mau kemana? Yeri eonni kan sedang mengambilkan makanan untukmu.”

 

“Kita akan kembali ke ryokan dan aku tidak peduli dengan wanita centil itu.” Ucap Sehun acuh. “Dia pasti tahu aku sudah menikah, tapi dasar centil masih saja menggodaku. Sialan.” Sehun menggeram dan menampar pelan bokong Neyna. “Dan kau istriku sayang malah mengorbankanku pada wanita centil itu. Haish memangnya kau tidak cemburu huh?!”

 

“Aku…aku…” Neyna mengigit bibir bawahnya, lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan pada Sehun kalau sebenarnya ia CEMBURU?

 

“Ah baiklah-baiklah kau sebenarnya cemburu. Iya iya aku mengerti sekarang.” Putus Sehun sepihak, berasumsi seenaknya.

 

“Aaah Sehun-sshi.”  Neyna merengek manja sambil mencubit pelan pinggang Sehun, berusaha protes karna ucapan Sehun yang seenaknya, tapi sebenarnya malu karna tertangkap basah mulai cemburu.

 

“Aw aw sakit sayang.” Sehun meringis pura-pura kesakitan, berusaha menarik perhatian Neyna. Neyna yang memang polos mau saja dikerjai, Sehun tertusuk duri sampai berlumuran darah saja tidak meringis sedikitpun, seharusnya ia menyadari trik licik suaminya yang pura-pura kesakitan hanya karna dicubit pelan olehnya. Sudah terlanjur terjebak, alhasil Neyna pun meminta maaf dan mengelus-elus pinggang Sehun. Efeknya tentu membuat Sehun menyeringai puas.

 

“Sehun-sshi turunkan aku eoh. Aku takut ketahuan murid dan guru-guru Woosam. ”

 

“Kita sudah setengah jalan Oh Neyna. Lagipula ini di ujung kawasan festival. Murid dan guru Woosam tidak ada di sini.”

 

“Aaah begitu.” Neyna mengangguk, tapi detik berikutnya merengut. “Sehun-sshi aku tidak mau dibopong. Kepalaku pusing.” Rengeknya manja.

 

“Eh?” Sehun mengernyit dan langsung menurunkan Neyna. “Lalu apa kau ingin di gendong ala bridal?”

 

Neyna menggeleng. “Disini terlalu ramai. Aku malu kalau digendong seperti itu.”

 

Piggyback? You want it?”

 

Neyna mengangguk dan tersenyum kikuk lengkap dengan tatapan malu-malunya seperti anak kecil. Sehun pun tidak kuasa untuk tidak tersenyum dan mengelus puncak kepala Neyna, gemas dengan tingkah laku istrinya itu. “Oh Neyna…Oh Neyna kau benar-benar menggemaskan. Kenapa aku baru bertemu kau sekarang hmm? Kenapa tidak dari dulu saja?” Sehun menghembuskan nafasnya kasar dan mencubit pipi Neyna sebelum akhirnya berbalik dan berjongkok untuk menggendong Neyna. “Mendekatlah sayang.” Titahnya tegas.

 

Masih dengan senyum kikuk dan tatapan malu-malunya, Neyna pun menuruti perintah Sehun. Mendekat dan mengalungkan tangannya di leher Sehun untuk selajutnya digendong ala piggyback.

 

Sehun yang tadinya memasang tampang serius kini nampak frustasi. Posisi Neyna yang sekarang ini benar-benar menggoda libidonya. Dada berisi Neyna seolah tergencet di punggungnya, deru nafas Neyna begitu hangat dan menggelitik lehernya. Geraman tertahan pun terlontar begitu saja saat kejantanannya mulai berkedut.

 

“Sehun-sshi ayo jalan.” Bisik Neyna dengan suara lembutnya yang serak-serak basah. Berbicara biasa saja, Neyna seperti mendesah. Dan kini gadis itu berbisik segala. Tepat di telinganya pula. Sial. Sehun meneguk salivanya susah payah dan mau tidak mau kembali berjalan.

 

Berbeda dengan Sehun, Neyna sebenarnya gugup dengan posisinya sekarang. Aroma tubuh Sehun menguar pekat dari tengkuk pria itu, aroma maskulin. Benar-benar memabukkan. Ini pertama kalinya ia menyadari betapa menggodanya aroma suaminya itu. Pipinya memanas, jantungnya bahkan berdebar tak karuan hanya karna hal ini. Ugh…Memalukan.

 

 

“Oh Neyna disini mulai sepi. Kau tidak mau mencium pipiku seperti di helikopter hmm?” Sehun menyeringai nakal dan menyodorkan pipinya, mendesak Neyna agar cepat-cepat mencium pipinya. Memang dasar mesum. Ada-ada saja ulahnya. Bukannya mengalihkan situasi yang memanas malah semakin menyulutnya.

 

“Aahhh….Sehun-sshi aku malu.” Neyna merengek manja, lalu mempoutkan bibirnya.

 

“Just kiss my cheek. Don’t be shy sweetheart.”

 

“Sehun-sshi…tetap saja aku malu.”

 

“No need to shy! Just kiss my cheek now!” Sehun kembali ke kebiasannya, otoriter dan pemaksa.

 

Neyna mengigit bibir bawahnya dan akhirnya mengecup pipi Sehun. “Aaahh aku maluu.” Rengek Neyna lagi saat pipinya kembali memanas. Neyna buru-buru menenggelamkan wajahnya di tengkuk Sehun, sementara Sehun menyeringai puas. “Mencium pipiku saja kau sudah malu, bagaimana kalau kau mencium bagian tubuhku yang lainnya sayang?”

 

“Eh? Aahhh…. Sehun-sshi.”

 

Sehun hanya menyeringai. Dan sesaat setelah tiba di ryokan Sehun pun kembali memasang tampang datarnya, lalu menurunkan Neyna dari gendongannya.

 

Ryokan sepi sekali.” Ucap Neyna sambil celingak-celinguk.

 

“Itulah kenapa aku ingin kembali ryokan. Agar kita bisa berduaan Oh Neyna.”

 

Neyna sontak mengigit bibir bawahnya, membuat Sehun akhirnya kembali menyeringai. “Kita sudah menikah. Memangnya salah kalau aku ingin berduaan denganmu sayang?”

 

“Tidak. Tidak salah.” Neyna menggeleng cepat dan menatap Sehun takut-takut.

 

“Begitukah?”

 

“Eumm.”

 

Sehun menaikkan sebelah alisnya dan menjilat bibir bawahnya, puas melihat kepolosan sekaligus kepatuhan Neyna. “Kalau begitu ayo masuk. Kita berduaan di kamar saja.” Titah Sehun sesaat setelah membuka pintu kamarnya.

 

“Tunggu dulu Sehun-sshi…Eumm…Kau pasti lapar, kau ingin aku masakkan sesuatu untukmu?”

 

“Aku belum lapar Oh Neyna.”

 

“Eh? Belum lapar ya. Eum…Kalau kopi? Kau mau?”

 

“Kau ingin mengulur waktu untuk berduaan denganku huh?!” Tuduh Sehun sarkastik.

 

Neyna meneguk salivanya kepayahan, tuduhan Sehun ada benarnya. Kalau mengaku, Sehun pasti semakin marah. Mau tidak mau Neyna akhirnya memberanikan diri untuk memegang pinggang Sehun, berjinjit, lalu menelengkan wajahnya ke satu sisi sambil menatap Sehun lekat-lekat. “Sehun-sshi kau memangnya tidak ingin kopi buatanku hmm?”

 

Sehun berkedip beberapa kali, tergoda. Awalnya marah Sehun pun akhirnya tersenyum tipis dan mengangguk pasrah seperti tersihir. “Tentu. Aku mau.” Ucapnya mantap, antusias.

 

“Ok sajangnim.” Neyna tersenyum manis dan buru-buru berlari meninggalkan Sehun.

.

.

.

.

.

.

 

“Sesuai perintah Anda, Kurumi sudah saya bereskan.”

 

“Bagus.” Sehun menyudahi sambungan telfonnya. Tidak ada senyum sinis ataupun seringaian, hanya ekspresi datar seperti biasanya, jelas sekali kalau bukan pertama kalinya ia membunuh. Dengan santainya, Sehun pun beralih menggunting seprai bekas semalam—yang baru saja dilepas oleh Nara Ahjumma—hingga menyerupai sapu tangan, tepat di bagian bekas bercak darah keperawanan Neyna.

 

“Oh Neyna… Oh Neyna I love you to death sweetheart.” Kali ini Sehun tersenyum senang, lalu mengendus dan mengecup bercak darah keperawanan Neyna yang sudah mengering. Sehun buru-buru melipatnya dan menyimpannya di kopernya bersamaan dengan potongan yukata Neyna yang sebelumnya dipakai untuk membalut luka di tangannya.

 

Setelahnya, Sehun bersiul sambil berjalan ke Onsen pribadi di pelataran kamarnya. Seragam kendo ia tanggalkan hingga menyisakan celana boxer yang membungkus ketat bagian bawah tubuhnya. Hangatnya air di Onsen membasuh tubuhnya ketika ia mulai turun ke kolam. Tubuhnya yang tinggi hanya menenggelamkannya sampai batas perut sehingga ia harus bersandar di tepi kolam.

 

KRIET. Pintu kamar terbuka. Neyna masuk dengan membawa nampan berisi secangkir kopi. “Sehun-sshi.”  Panggil Neyna ketika Sehun tidak ada di ruang utama—ranjang. Ketika pandangannya mengarah ke arah onsen, Neyna pun tersenyum lega, Sehun ternyata sedang berendam disana. Bahu lebar lengkap dengan punggung telanjang Sehun yang terekspos benar-benar sexy. BLUSH. Pipinya seketika memanas, Neyna pun mengigit bibir bawahnya. Ugh…Ia jadi gugup bertemu Sehun.

 

“Eh? Tunggu… Neyna?” Neyna berkedip beberapa kali, lalu membulatkan matanya. “Neyna? Namaku?”

 

Penglihatannya tidak kacau. Jarak shoji tempatnya berdiri dengan onsen di pelataran kamar juga terhitung dekat. Tato berbentuk sayap di punggung Sehun bertuliskan namanya— ‘Neyna’—diantara kedua sisi sayap bukan ilusi. Neyna berjalan menghampiri Sehun, pandangannya tidak luput dari tato di punggung Sehun. Semakin ia mendekat, tato milik Sehun pun semakin jelas. Bukan tato temporer, tapi tato permanen.

 

Neyna meneguk salivanya susah payah. Tidak peduli dengan nampan di genggamannya, Neyna  lantas meletakkannya begitu saja di lantai dekat onsen. “Sehun-sshi. Namaku…Namaku di tatomu.”

 

Sehun menoleh, lalu berbalik menghadap ke arah Neyna. “Ahh akhirnya kau menyadarinya.” Sehun tersenyum sambil mengulurkan satu tangannya pada Neyna. “Kemarilah sayang.”

 

Neyna menanggapi uluran tangan Sehun, lalu duduk di tepi kolam. “Making a tattoo. It must be really hurts.” Gumam Neyna sambil menatap Sehun sendu dengan air mata yang mulai menggenang.

 

“Biasa saja.” Sehun hanya mencebikkan bibirnya, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Neyna. “Kau suka tatoku kan sayang?”

 

Bukannya menjawab, Neyna justru menangis. Alhasil Sehun pun mengernyit bingung. “Kenapa kau menangis sayang? Kau tidak suka tatoku hmm?” Tanya Sehun sembari menghapus air mata Neyna.

 

“Aku suka. Aku hanya tidak tega membayangkanmu saat ditato.”

 

Sehun seketika tersenyum geli dan menggeleng berkali-kali. “Oh Neyna sayang, aku kan sudah bilang ‘biasa saja’. Itu artinya tidak sakit. Kau tidak perlu menangis hmm.”

 

“Kenapa kemarin-kemarin aku tidak menyadari tatomu? Kenapa baru sekarang? Aku pasti sudah rabun.” Neyna menunduk, merutuki kebodohannya.

 

“Sstt…Jangan berbicara sembarangan. Kau tidak rabun sayang.” Bela Sehun sambil mendongakkan wajah Neyna.  “Aku memang kerap bertelanjang dada, tapi kau kan tidak pernah melihat punggung telanjangku Oh Neyna. Lagipula semalam kita bercinta dengan posisi misionaris, jadi wajar saja kau tidak menyadari keberadaan tatoku.”

 

“Lalu sejak kapan kau memiliki tato namaku?”

 

“Dihari saat kau kabur dari apartmenku.” Sehun menyeringai sinis. Tatapannya berkilat marah. Mengingat tragedi kaburnya Neyna tiba-tiba saja membuatnya kesal. Sehun lantas menenggelamkan wajahnya di paha Neyna sambil memeluk pinggang istrinya posesif, berusaha meredam amarahnya. “Aku begitu ingin memelukmu, tapi sayangnya kau tidak ada di sisiku Oh Neyna.” Keluh Sehun dengan nada mengiba, memelas belas kasih Neyna.

 

Neyna tentu langsung terpedaya. Gadis itu mengigit bibir bawahnya dan sontak mengelus rambut Sehun, sehingga Sehun akhirnya menyeringai licik dan langsung memanfatkan situasi, memeluk Neyna semakin erat. “Dengan tato ini, aku menganggap kau menyatu dalam diriku. Jadi aku merasa kau selalu memelukku Oh Neyna.” Sehun mendongak, lalu mengelus pipi Neyna. “Kau bagaikan malaikat untukku, tepat setelah aku mengklaim kau milikku saat itulah sayapmu aku patahkan. Kau tidak bisa terbang dengan bebas lagi, kau tidak bisa pergi kemanapun. Sayapmu sudah patah dan aku simpan di punggungku dengan namamu sebagai segelnya. Itulah makna tatoku sayang. Bagaimana kau suka kan?” Tuntut Sehun dengan senyum yang justru terlihat mengerikan.

 

Seakan dibutakan oleh kesintingan Sehun, Neyna justru mengangguk dengan lugunya. Setelah sebelumnya mengelus rambut Sehun, Neyna kini beralih mengelus punggung Sehun. “Sehun-sshi jadi tato sayap dengan tato namaku dibuat bersamaan?” Tanya Neyna sambil terus mengelus punggung Sehun.

 

“Hmm.”

 

“Rasa sakitnya pasti berkali-kali lipat.” Neyna merengek hampir menangis lagi, tapi Sehun buru-buru mengecup pipi Neyna.

 

“Aku baik-baik saja sayang. Saat ataupun setelah tato ini dibuat, jadi jangan menangis hmm.” Sehun mencubit singkat pipi Neyna, lalu melepaskan pelukannya dan naik ke luar kolam.

 

“Kopi buatanmu. Aku harus meminumnya.” Sehun meraih secangkir kopi buatan Neyna dan langsung meminumnya dalam sekali tenggak. “Enak. Terimakasih Oh Neyna.” Neyna baru saja mengangguk, Sehun sudah masuk ke ke dalam kamar. Tanpa tahu apa yang Sehun lakukan, tidak ada lima menit Sehun sudah muncul lagi dengan boneka Barbie putri duyung di genggamannya.

 

“Oh Neyna ini boneka Barbie berbentuk putri duyung.” Sehun menelengkan kepalanya dan memijat pelipisnya, keheranan dengan boneka di genggamannya. “Ckck ada ekornya segala, ada ada saja.” Sehun berdecak, lalu kembali turun ke kolam. Sementara Neyna hanya bisa tertawa melihat tingkah kaku Sehun.

 

“Ini peganglah sayang.” Sehun menyerahkan boneka Barbie pada Neyna yang kemudian ditanggapi oleh Neyna. “Aku sudah bawakan mainanmu, jadi jangan menangis hmm.” Sehun bersikap seperti sedang menghadapi anak kecil. Lucu sekali. Neyna tidak kuasa untuk tidak tersenyum.

 

“Terimakasih…Ahjussi.” Neyna menelengkan kepalanya dan tersenyum manis seakan menjahili Sehun.

 

“Ahjussi?” Sehun menaikkan sebelah alisnya, lalu mencebikkan bibirnya. “Aku tidak suka.” Putus Sehun tegas sambil menggendong dan menurunkan Neyna sampai keduanya kini berendam di Onsen. Hangatnya air di kolam langsung membasuh tubuh Neyna, menenggelamkan tubuh mungilnya sampai sebatas dada.

 

“Nara Ahjumma bilang kau lebih tua dariku, kalau kau tidak mau dipanggil Ahjussi, lalu kau ingin aku panggil Oppa?”

 

“Tidak, terimakasih. Kau memanggil Chanyeol dan mantan pacarmu dengan sebutan ‘Oppa’, jadi aku tidak mau dipanggil Oppa juga. Aku tidak sudi disamakan dengan mereka. Tetap panggil aku Sehun-sshi saja. Aku suka dipanggil seperti itu, jadi kau juga tidak boleh memanggil pria manapun dengan akhiran “sshi” sepertiku Oh Neyna.”

 

Ugh! Sehun memang tidak pintar melawak, juga ternyata tidak punya selera humor. Padahal Neyna mencoba meledek, tapi Sehun terlalu serius untuk diledek. Sehun bahkan mengekang dan mengontrol segala hal. Masalah panggilan pun diklaim sebegitu posesifnya. Sehun memang otoriter. Pria itu kini bahkan mulai mengekang tubuh Neyna. Memeluknya dari belakang sambil satu tangannya bergerak nakal. Melepaskan obi Neyna dan membuangnya.

 

“Sehun-sshi obiku hanyut.”

 

“Yasudah biarkan saja.” Sehun mengecup dan mengigit-gigit kecil daun telinga Neyna, membuat Neyna berjengit geli. Tangan Sehun yang sempat melepas obi Neyna, kini bergerak semakin naik, mengelus sampai meremas dada berisi Neyna.

 

“Aaah.” Neyna sontak mendesah, membuat Sehun semakin nafsu hingga tangan lainnya mulai menembus kedalam yukata Neyna, mengelus, menekan dan menggesek daerah intim Neyna. Dua serangan sekaligus, dada, daerah intim, dan kini bertambah menjadi tiga. Sehun mengecup leher Neyna, menghisap dan melumatnya rakus.

 

“Aaahh Sehun-sshi…Aaahh.” Neyna menggelinjang, bibirnya terus mendesah nikmat. Tubuhnya mulai lemas sehingga boneka Barbie di genggamannya lepas begitu saja.

 

“Se-sehun-sshi eunggh…bo-boneka…Barbieku…aaah…hah…hanyut.”

 

“Biarkan saja. Dia punya ekor. Dia bisa berenang sendiri Oh Neyna.” Omel Sehun disela-sela kegiatannya. Disituasi kritis seperti ini, Neyna masih saja mengurusi boneka Barbie. Ada-ada saja.

 

Neyna mengangguk pasrah, membuat Sehun menyeringai puas. “My dick is getting hard sweetheart. Can you feel it?” Bisik Sehun seduktif sembari semakin mendempetkan tubuhnya ke tubuh Neyna hingga kejantanannya yang sudah mengeras seakan menyodok bokong Neyna.

 

“Euungh ahh…” Neyna lagi-lagi mengangguk pasrah. Desahannya tidak tertahankan. Kejantanan Sehun menyesakkan bokongnya, kedua tangan Sehun pun masih saja menjahili dada dan daerah intimnya.

 

“Kejantananku mengeras karnamu sayang, Jadi kau harus tanggung jawab hmm.” Sehun menyeringai, lalu menjilat pipi Neyna. “I want you tonight sweetheart. Here. In this onsen.”

 

 

 

 

TBC

 

  • Dialek Kansai biasanya itu ceplas-ceplos, sangat kasar, terus gak sopan. Dialek Kansai juga digunakan di daerah Fukui, Mie, Shiga, Kyoto, Osaka, Hyogo, Nara, Wakayama, dan Tokushima.
  • Festival yg diadain Woosan SHS itu festival Hanami, festival musim semi.
  • Posisi misionaris itu posisi man on top. Cowo diatas cewe dibawah. Taulah ya…^^

 

 

#Cara Dapetin Password Closer Chapter 7:

  • Comment di chapter-chapter sebelumnya. Maksuddnya komen dari chapter 1-6.
  • Selanjutnya kunjungin email: sitimardianasanusi@gmail.com dengan nyebutin ID kamu pas komen.

 

Cara dapet PW sebenernya ada di page WP pribadi aku, cuma aku lupa ngasih tau pas ngepost chapter 6 di exo ff.

 

 

 

Regards

 

Angel Devilovely95

 

 

 

Iklan

60 thoughts on “Closer (Chapter 8A)

  1. aku kemarin udh baca tapi lupa komen karena kemarin kouta langsung abis pas chapter 8 b
    waktu komen ternyata langsung error.
    berhubung aku inget dan kouta baru beli jadi langsung komen
    oh iyyaaa aku belum baca chapter 7 lohh kak tolong bls email.
    ini kan lgi liburan tolong nanti buka email kakak yaaa

  2. bagus kak.. ini dia yang aku tunggu” ff nya.. panjang juga ya thor ceritanya.. sampai aku ngebayangin critanya.. thor kok chap 8b harus dibuka pakai wordpress?.. huhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s