Memories and Miracle (Chapter 1)

memories and miracle.gif

 

Title                       : Memories and Miracle

Author                  : Putri Dini

Length                  : Chaptered

Genre                   : Angst, Romance, Life

Main Cast           : Bae Suzy, Oh Sehun

Other Cast          : Park Jiyeon, Park Chanyeol, etc.

Author’s Note    : ff ini adalah ff sequel dari ff author sebelumnya ‘Story Of The First Love And Endless Love’ yang couplenya Suzy-Baekhyun yang juga pernah di post disini tahun 2014 kalo gak salah. Semoga yang ingin membacanya dapat membaca dengan senang. Jika ada kesamaan kejadian hanya kebetulan semata. Thank’s.. Happy Reading…

 

 

 

–Memories and Miracle [Chapter 1]–

5 tahun kemudian.

Suzy berjalan menuruni tangga rumahnya satu persatu dengan sebuah tas yang menggantung di bahu kanannya dan sebuah kotak yang dipegangnya. Ia lalu duduk di meja makan. Di meja makan terlihat Tuan Park sudah duduk dihadapan Suzy.

“dimana Jiyeon?” Tanya Tuan Park saat Suzy hendak duduk.

“dia sedang diatas” jawab Suzy.

Nyonya Park atau ibu Suzy ia baru kembali dari dapur sembari membawa semangkuk sup yang baru saja diangkat dari kompor. Nyonya Park pun langsung duduk disebelah Tuan Park. Tak lama Jiyeon pun bergabung dengan mereka. Ia duduk disebelah Suzy.

“kalian berdua bisa melakukan yang terbaik bukan?” Tanya Tuan Park.

ne, appa. Aku sudah berusaha keras untuk masuk ke perusahaan ini. Tentu saja aku akan melakukan yang terbaik” jawab Jiyeon.

ne, aku akan lakukan yang terbaik” jawab Suzy sekedarnya.

Hari ini merupakan hari pertama mereka bekerja. Bukan di perusahaan ayah Jiyeon, melainkan disebuah perusahaan lain yang merupakan cabang dari perusahaan Tuan Park yang bergerak pada bidang media cetak/percetakan. Tuan Park memang berencana meletakkan kedua anaknya ini di posisi tinggi, tapi sebagai pelatihan mereka akan memulai sebagai karyawan biasa.

“Suzy-ah, kau berangkat dengan siapa?” Tanya Jiyeon disela sarapan mereka.

“dengan taksi” jawab Suzy singkat.

“lebih baik kau ikut saja denganku, nanti Chanyeol akan menjemputku” ucap Jiyeon menawarkan.

dwaesseo, aku tidak mau menganggu kalian..” ucap Suzy.

“hei, siapa yang mau berkencan? Lagipula, kau bisa menghemat. Sudahlah, pokoknya kau ikut bersamaku” ucap Jiyeon mengakhiri pembicaraan mereka.

***

gumawo, Chanyeol-ah..” ucap Suzy kepada Chanyeol melalui kaca mobil.

“sama-sama” Chanyeol tersenyum.

uri Jiyeon-i, bekerja keraslah..” Chanyeol kembali tersenyum manis pada kekasihnya Jiyeon.

arasso, Chanyeol-ah. Kau juga..” balas Jiyeon tak kalah manisnya.

Chanyeol pun kembali melajukan mobilnya.

kajja, Suzy-ah..” Jiyeon menggaet lengan Suzy dan segera masuk.

Suzy hanya diam dan mengikuti Jiyeon. Mereka lalu memasuki kantor cabang milik Tuan Park tersebut.

“kita bekerja dilantai berbedakan? Aku dilantai 12, kau berapa ya? Aku lupa..” tanya Jiyeon.

“lantai 9” jawab Suzy singkat.

“oh ya, kalau begitu aku duluan ya. Sampai bertemu dirumah..” Jiyeon mempercepat langkahnya setelah mengatakan itu pada Suzy.

Suzy pun hanya diam menatap Jiyeon yang mulai menjauh tanpa senyum. Ia lalu kembali berjalan menuju lift. Terlihat sudah ada 4 orang yang mengantri untuk masuk lift. Suzy pun berdiri dibelakang mereka samba tetap memegangi kotak yang ia bawa dari rumah tadi.

Tak lama pintu lift pun terbuka. Ia lalu masuk mengikuti 4 orang yang ada di depannya tadi. Suzy langsung ingin menekan tombol lantai 9. Tapi saat itu ada seorang pria yang juga ingin ke lantai 9 sehingga jari telunjuk mereka pun bersentuhan pada tombol tersebut.Suzy sedikit menoleh pria tersebut. Lalu kembali pada pandangannya kedepan tak perduli.

“Bae Suzy..?” ucap lelaki itu ketika melihat Suzy.

Suzy yang merasa nama dipanggil pun kembali menoleh kearah lelaki itu.

“ternyata kau benar Bae Suzy. Ini aku, Oh Sehun. Kau tidak mengingatku?” ucap lelaki yang beranama Oh Sehun itu.

“kau mengenaliku?” respon Suzy yang berbanding terbalik dari Sehun yang terlihat sangat mengenalinya.

“kau benar-benar tidak mengenaliku? Ini aku, teman sekelasmu pada saat kelas tiga. Bahkan kita juga pernah duduk bersama untuk waktu yang cukup lama. Jinjja molla..?” seru Sehun lagi yang terlihat sangat mengenali Suzy.

joesonghamnida..” ucap Suzy singkat sebagai tanda bahwa ia tidak mau melanjutkan pembicaraan ini.

Sehun pun diam melihat respon Suzy seperti itu.

“kenapa menggunakan bahasa baku pada teman?” gumam Sehun yang menyindir Suzy dengan suara yang cukup pelan.

Tapi, Suzy bisa mendengar itu.

***

annyeonghaseyo, Bae Suzy-imnida. Mohon bantuannya..” Suzy memperkenalkan diri kepada karyawan yang akan menjadi rekan-rekan kerjanya nanti.

annyeonghaseyo, Oh Sehun-imnida. Mohon Bantuannya..” ucap Sehun yang ternyata akan bekerja satu tim dengan Suzy.

“baiklah, selamat datang untuk Bae Suzy-ssi dan Oh Sehun-ssi. Saya berharap tim kita akan semakin bisa lebih baik lagi dengan adanya kalian berdua” ucap Manager Go selaku ketua pada tim tersebut.

ne, kamsahamnida..” ucap Suzy dan Sehun bersamaan.

“meja kalian berada disana, baiklah kalian sudah bisa mulai bekerja..” ucap Manager Go mengakhiri pembicaraannya.

Sehun dan Suzy lalu menuju meja mereka masing-masing. Meja kerja Suzy dan Sehun ternyata berhadapan dan hanya dibatasi oleh sebuah sekat.

“Suzy-ah, ayo kita bekerja sama dengan baik..” ucap Sehun tersenyum senang mengulurkan tangannya.

ne..” jawab Suzy singkat dan langsung duduk di meja kerjanya tanpa membalas uluran tangan Sehun.

“isshh..” Sehun duduk dengan sedikit kesal.

***

Waktu makan siang pun tiba. Suzy sedang mengantri makanannya di kantin kantor. Di kantor ini memang menyediakan makanannya sendiri untuk para pegawainya. Setelah mendapatkan makanannya, Suzy pun duduk disebuah meja. Disaat ia ingin melahap suapan pertamanya, Suzy terdiam karena melihat seseorang duduk di kursi yang ada dihadapannya.

annyeong..” sapa orang tersebut yang ternyata Sehun.

mwohaseyo?” Tanya Suzy yang terdengar dingin dan terlihat memang tidak ingin makan bersama dengan Sehun.

“makan, tapi kenapa kau menggunakan bahasa formal denganku? Kita ini adalah teman..”

“kita ini rekan kerja. Bisakah kau pergi? Aku sedang tidak ingin makan bersamamu” Suzy mengusir Sehun.

“kepribadianmu tidak pernah berubah, kau selalu bersikap dingin pada semua orang..” ucap Sehun yang terdengar meledek Suzy.

Suzy yang melihat Sehun tak bergerak sedikit pun dari tempatnya, ia langsung bangkit sambil membawa nampan makanannya. Suzy lalu melihat manager timnya bersama beberapa rekannya berjalan kearahnya. Setelah melihat itu ia kembali duduk ditempatnya tadi.

Sehun yang bingung melihat Suzy duduk kembali pun berbalik dan melihat manager timnya juga bersama rekan-rekan kerjanya juga.

“sepertinya kau juga tidak mau makan bersama mereka” ucap Sehun tersenyum tipis yang mengetahui alasan Suzy duduk kembali.

Suzy hanya memakan makanannya tak mengubris perkataan Sehun.

“tapi, bukankah kita harus terlihat rebih ramah? Kita pegawai baru dan harus mendapat kesan yang baik di kerja satu tim sehingga membuat kita lebih mudah nantinya” oceh Sehun lagi dengan mulut yang berisi makanan.

“bisakah kau diam saat makan?” Suzy menatap tajam Sehun.

“hei, aneh rasanya mendengarmu berbicara formal” Sehun kembali mengoceh seakan tak perduli dengan apa yang Suzy katakan.

Suzy menatap Sehun tak habis fikir sembari menghembuskan nafas panjangnya.

arasso, makanlah dengan diam..” ucap Suzy yang akhirnya menggunakan bahasa yang informal kepada Sehun.

Sehun tersenyum sembari melahap makanannya lagi.

“tapi, bukankah…” Sehun kembali ingin berbicara tapi langsung terhenti ketika suara sumpit Suzy diletakkan diatas meja dengan kasar sehingga menimbulkan suara.

Setelah meletakkan sumpitnya sebagai tanda mulai kesabarannya habis, Suzy sedikit melirik Sehun dengan tatapan es-nya. Sehun yang melihat tatapan itu langsung kembali melahap makanannya dengan tenang. Suzy pun melanjutkan makannya.

***

“kau pulang dengan siapa?” Sehun berjalan beriringan dengan Suzy berjalan keluar gedung karena sudah waktunya pulang.

Suzy tak menjawab dan terus berjalan.

“kau masih tinggal bersama Jiyeon-kan?” Tanya Sehun lagi.

Kali ini Suzy berhenti melangkah. Ia menoleh kearah kirinya, sedikit mendongak melihat wajah Sehun.

“bagaimana kau tahu?”

“sudah kukatakan, aku itu teman satu sekolahmu. Kau sangat berlebihan..” ucap Sehun.

Suzy lupa akan itu. ia tak ingat bahwa Sehun dulu satu sekolah dengannya. Tiba-tiba suara klakson salah satu mobil berbunyi. Suzy yang mengenal mobil itu pun mendekat. Kaca mobil itu lalu terbuka.

appa?”

***

Suzy duduk disbelah Tuan Park yang sedang mengendarai mobilnya dengan laju yang tidak begitu cepat.

“kenapa kau menjemputku? Kau tidak menjemput Jiyeon?” Tanya Suzy membuka pembicaraan.

“kenapa? Tidak boleh, aku ingin menjemputmu. Kalau Jiyeon sudah ada yang mengurusinya..” jawab Tuan Park dengan tetap fokus melihat kedepan.

“bukan begitu, hanya saja tidak seperti biasanya” jelas Suzy.

Pandangan Suzy lalu menjadi sedikit bingung.

“kenapa kau tidak belok? Bukankah kita mau pulang?”

“kita mampir ke suatu tempat dulu” jawab Tuan Park.

***

“kau pilih yang mana?” Tanya Tuan Park kepada Suzy.

Suzy hanya menatap dua buah mobil di hadapannya.

appa, aku tidak memerlukannya. Aku masih bisa menggunakan taksi” tolak Suzy yang ingin dibelikan mobil oleh ayah tirinya itu.

“pikirkan, kalau kau naik taksi ke kantormu pulang pergi selama setahun, kau bisa membeli sebuah mobil dengan uang itu” jelas Tuan Park.

Suzy terlihat berfikir. Ia berfikir ia masih tak pantas untuk menerima ini.

“tidak apa-apa, ini adalah hadiah dari ayahmu ini. Terimalah..” ucap Tuan Park meyakinkan bahwa itu hanyalah sebatas hadiah dari seorang ayah untuk putri tercintanya.

“baiklah, akan kuterima” ucap Suzy setelah mendegar penjelasan dari Tuan Park.

***

Keluarga Tuan Park sedang menikmati makan malam mereka.

“oh, Jiyeon ada yang ia ingin sampaikan kepada kalian” ucap Tuan Park ditengah makan malam mereka.

Suzy serta ibunya pun serempak menoleh kearah Jiyeon.

“em.. aku akan segera menikah” ucap Jiyeon.

“menikah?” ulang Nyonya Park.

“dengan Chanyeol?” sambung Suzy yang juga terkejut.

“tentu saja, memangnya dengan siapa lagi” jawab Jiyeon tersenyum.

***

Di kamar Jiyeon dan Suzy.

“pernikahanmu kapan akan diadakannya?” tanya Suzy yang sedang duduk di mejanya.

“em, bulan depan” jawab Jiyeon yang sedang tiduran di kasurnya.

“apa itu tidak terlalu cepat?”

“aku hanya tidak ingin membuatnya terlalu lama”

Suzy mengangguk-ngangguk mengerti.

“oh ya, apa kau mengenal Oh Sehun? Sepertinya ia satu sekolah dengan kita dulu” Suzy yang tiba-tiba teringat Sehun.

“Oh Sehun?” Jiyeon mencoba mengingat-ngingat nama itu.

“ah, Oh Sehun? Iya, aku mengingatnya.  Iya, benar dia satu sekolah dengan kita dulu. Dia pindahan dari Jepang kalau tidak salah. Oh ya, kalau tidak salah pada saat kelas 3 kau sempat duduk sebangku dengannya, masa kau tidak ingat?” ucap Jiyeon.

“dia pernah sebangku denganku?” ulang Suzy.

Aigoo, Bae Suzy.. kau itu benar-benar keterlaluan. Teman sebangku saja kau tidak ingat, kau itu terlalu fokus dengan bukumu sehingga teman sebangkumu saja kau tidak mengetahuinya”

Suzy terlihat masih belum mendapat gambaran tentang sosok Sehun.

“dia juga murid pintar, sama sepertimu. Dia adalah juara 2 setelahmu juara 1 disekolah. Dia itu juga siswa akselerasi di Jepang, tak heran dia pintar seperti itu”

“akselerasi? Berarti dia lebih muda dari kita?”

eo, 2 tahunkah? Aku tidak begitu ingat, tapi sepertinya ia lebih muda 2 tahun. Lalu..” Jiyeon terlihat ragu menceritakan kelanjutannya.

“lalu apa?”

“ada rumor kalau dia dulu menyukaimu”

mwo? Ada juga rumor seperti itu?” Suzy terlihat terkejut.

“Bae Suzy, kau benar-benar tidak tahu apa-apa selain belajar. Bagaimana bisa kau tidak menyadari ada pria yang menyukaimu” ucap Jiyeon tak habis pikir.

Suzy hanya diam karena apa yang dibilang oleh Jiyeon adalah benar.

“pada saat ia masuk ke sekolah kita, ia langsung menjadi primadona. Wajahnya yang tampan membuat para siswi lainnya tergila-gila kepadanya dan hanya melihatnya melalui jendela kelas” cerita Jiyeon.

“apa kau juga?” pandang Suzy curiga.

“hei, aku mempunyai Chanyeol. Lagipula, aku tidak terlalu ingat dengan wajahnya..”

“lalu apa lagi?”

“saat naik ke kelas 3 ia sekelas denganmu dan Chanyeol. Saat pertama-tama kau duduk bersama Chanyeol, bukan? Setelah itu kau duduk bersama dia karena ia yang meminta Chanyeol untuk menukar tempat duduk. Sejak saat itulah rumor itu beredar” jelas jiyeon panjang lebar.

“ah, jadi laki-laki yang duduk disampingku menggantikan Chanyeol itu dia?” Suzy sedikit mulai mengingatnya.

“kau sudah ingat?”

“tidak semua, tapi aku ingat kalau memang pernah duduk dengan seorang lelaki selain Chanyeol” ucap Suzy.

***

Suzy sedang mengatur meja kerjanya dengan barang-barangnya yang baru ia bawa dari rumahnya. Ia lalu mengeluarkan sebuah bingkai foto yang terdapat foto Baekhyun yang memakai seraga sma disana. ia lalu meletakannya di sebelah kanan komputernya. Ia lalu kembali membongkar kotak yang berada di atas pahanya itu.

eo? Kenapa itu tidak ada?” ia terus membongkar kotak tersebut.

Setelah mencari di dalam kotak tersebut, ia tak menemukan barang yang ia cari itu. ia lalu membongkar tasnya.

“kemana itu? itu tidak boleh hilang..” gumamnya yang sudah takut akan kehilangan barang tersebut.

“siapa ini? namchin-mu?” ucap Sehun tiba-tiba yang melihat foto Baekhyun diatas meja Suzy.

Suzy langsung menoleh kearah Sehun yang datang tiba-tiba.

“urus saja urusanmu” ucap Suzy.

“dia cukup tampan, walaupun tidak setampan diriku” gumam Sehun bangga terhadap dirinya sendiri.

Suzy menghembuskan nafas panjangnya dan langsung membuang pandangannya dari Sehun.

“Bae Suzy” panggail Manager Go.

ne, Manager Go” Suzy langsung berdiri.

“pergilah ke coffee shop di depan dan beli kopi untuk semuanya”

ne? kopi?”

“ini kartu untuk membeli kopinya. Kau beli 14 kopi yang berbeda ya..” perintah Manager Go.

“14? Saya sendiri?”

“bersama saya saja, Manager Go” Sehun menawarkan diri.

***

Suzy dan Sehun menunggu pesanannya dengan berdiri di depan tempat memesan kopi tersebut.

“ kau suka kopi?” Sehun yang mencoba basa-basi.

Seperti biasa, Suzy bahkan tak menghiraukan pertanyaan dari Sehun.

“hei, aku sedang berbicara denganmu” Sehun yang kesal terhadap sikap Suzy.

“kopinya sudah siap” ucap pekerja kedai tersebut.

Suzy pun langsung mengambil kopi tersebut dan membayarnya. Sehun pun langsung emngambil kopi yang lainnya.

***

Makan siang, Suzy kembali duduk sendirian. Tapi, itu kembali tak berlaku dengan duduknya Sehun di hadapannya.

“kenapa kau terus mengikutiku?” ucap Suzy yang terkesan sinis langsung tepat pada saat Sehun duduk.

“penyambutan yang cukup aneh” ucap Sehun.

“apa mungkin kau menyukaiku?” tanya Suzy.

mwo?”

“kalau tidak, menjauhlah. Karena aku tak berharap bisa berteman denganmu”

Sehun terdiam menatap Suzy yang berbicara kepadanya.

“kalau aku menyukaimu, bagaimana?” balas Sehun.

Kali ini Suzy yang dibuat terdiam oleh Sehun.

“kalau begitu, alasanmu untuk menjauh semakin jelas. Aku tidak menyukaimu, bukankah alasan itu cukup?”

“hei, aku bukan lelaki yang pantang menyerah”

Suzy hanya menghembuskan nafasnya dan mulai melahap makanannya. Ia sudah tidak mau lagi berdebat dengan Sehun yang menurutnya sama sekali tak penting.

“aku melihat kau membawa mobil hari ini, itu mobil barukan? Terlihat dari modelnya” Sehun yang tetap berusaha dekat dengan Suzy.

Suzy terus melahap makanannya tanpa perduli tentang keberadaan Sehun.

“sebenarnya, aku ingin bertanya satu hal. Kenapa kau memilih menjadi penerjemah dan penulis artikel berita. Dan yang ku tahu kau sangat lemah di pelajaran bahasa inggris. Lalu, kau dulu adalah siswa terbaik di sekolah. Dengan otakmu, mungkin sekarang kau bisa bekerja di kantor kepresidenan” tanya Sehun yang terlihat benar-benar penasaran.

Suzy hanya meliriknya sesaat dan kemudian makan kembali.

“hei, kau benar-benar tidak berubah. Tinggal jawab saja, kenapa begitu susah?”

Suzy lalu menatap Sehun dengan dingin.

“kalau begitu aku juga ingin bertanya. Kenapa kau lebih memilih menjadi penulis artikel berita, sedangkan kau adalah siswa akselerasi dari Jepang. Dengan otakmu, mungkin sekarang kau bisa menjadi seorang professor muda di salah satu Universitas terkenal” balas Suzy yang bertanya persis seperti Sehun.

Sehun dibuat terkejut dengan balasan Suzy.

“kau duluan menjawab, aku yang duluan bertanya” Sehun yang bingung, harus berkata apa.

shirreo

“baiklah, aku kalah. Aku tidak akan memaksamu menjawab, karena aku juga tidak bisa menjawabnya” ucap Sehun yang sudah mengalah.

Suzy melanjutkan makannya.

***

Suzy yang sedang duduk membongkar-bongkar laci mejanya.

“apa yang kau lakukan?” tanya Jiyeon yang baru keluar dari kamar mandi.

“mencari sesuatu, apa mungkin kau pernah melihat sebuah flash disk?” tanya Suzy yang sudah putus asa mencari barang yang ia cari itu.

flash disk?”

“oh ya..” Jiyeon lalu membongkar tasnya seakan teringat sesuatu.

“ini, apa punyamu?” Jiyeon menyodorkan sebuah flash disk.

Suzy terkejut melihat flash disk itu bisa berada di tangan Jiyeon.

“bagaimana bisa ini denganmu?” Suzy yang terkejut pun mengambil flash disk itu dari tangan Jiyeon.

“waktu itu, Chanyeol bilang terjatuh di mobilnya. Dan itu bukan punyaku” jawab Jiyeon.

“oh begitu” Suzy meletakkannya di laci mejanya.

“itu punyamu? Aku belum pernah melihatnya, apa isinya penting? Tentang pekerjaan?” tanya Jiyeon yang penasaran.

“bukan, ini punya Baekhyun” jawab Suzy.

“Baekhyun?” pekik Jiyeon yang terkejut.

Jiyeon lalu duduk dikasur Suzy membuat Suzy memutar kursinya menatap Jiyeon.

“kenapa punya Baekhyun bisa bersamamu?” Jiyeon yang semakin penasaran.

“Baekhyun yang memberikannnya kepadaku” jawab Suzy.

“sebelum ia pergi?” tanya Jiyeon pelan yang takut membuat Suzy teringat kepada Baekhyun.

ani, sesudah ia pergi. Ia meninggalkannya” jawab Suzy yang tetap tenang.

“apa isinya?”

“hanya sebuah video”

“tapi, kenapa aku tak pernah melihatmu melihat video itu. bukankah itu bisa membuatmu lebih terhibur ketika merindukannya, bukankah begitu?”

“aku pernah melihatnya, hanya sekali”

wae?”

geunyang.. disitu ia terlihat sedikit tidak sehat”

Jiyeon terdiam. Ia tahu apa maksud Suzy.

“oh ya, besok kita pesan baju untuk pernikahanku, ya? Kita pergi bersama, kita juga memesan untukmu” Jiyeon yang terlihat berusaha merubah suasana.

“baiklah kalau kau maunya begitu” jawab Suzy.

“tidurlah, akan kumatikan lampunya” Jiyeon langsung berdiri dan mematikan lampu utamanya dan menghidupkan lampu kecil yang berada di sebelah kasurnya dan begitu pun dengan Suzy yang langsung naik keatas tempat tidurnya dan menghidupkan lampu tidurnya.

Suzy lalu tak langsung menutup matanya. Ia malah membekap mulutnya sendiri. Ia menahan tangisnya. Air matanya yang terus mengalir membasahi bantalnya. Sedari tadi, ia tahan tangis itu di depan Jiyeon. Membicarakan Baekhyun, masih menjadi kelemahannya.

Selama 5 tahun ini,ia masih belum bisa membicarakan Baekhyun dengan tenang. Mungkin secara fikiran ia sudah berusaha untuk melupakannya, tapi hatinya masih belum bisa menerima kepergian cinta pertama yang begitu tiba-tiba.

***

Suzy sedang menulis sebuah artikel menggunakan bahasa inggris di komputernya. Suzy terlihat sangat bersungguh-sungguh dalam bekerja. di meja depannya, Sehun juga sibuk bekerja. Sesekali ia mendapat telepon dan mengangkatnya dengan professional.

“Bae Suzy” panggil managernya yang sudah berdiri di sampingnya.

ne?” Suzy pun bangkit, berdiri di hadapan managernya.

“hari ini kau wawancara kepala sekolah SMA Dongmun, ia ingin memasukkan profil sekolahnya ke dalam majalah kita”

“SMA Dongmun?”

“iya, kudengar kau lulusan disana. Mungkin kau akan lebih tahu apa yang harus di ekspose lebih” managernya menyerahkan beberapa file pertanyaan kepada Suzy.

“kapan aku akan mewawancarainya?”

“terserah kau jam berapa, yang pasti hari ini”

“tapi, apa aku sendiri?” Suzy yang terlihat kurang mampu untuk mengerjakannya sendiri.

“ehmm.. aku tidak memikirkan itu, tapi kalau kau memang membutuhkan seseorang. Ajaklah seseorang”

“bagaimana kalau aku saja, manager?” Sehun langsung berdiri mengajukan dirinya.

“kau?”

ne, aku juga lulusan dari SMA Dongmun”

“oh ya, kau benar. Aku hampir saja lupa. Baguslah kalau begitu, kau pergi bersama Sehun” ucap managernya mengakhiri.

Suzy menatap Sehun sambil menghembuskan nafas panjang. Sedangkan Sehun tersenyum  bahagia.

***

“wahh, ini benar-benar masih seperti ini..” Sehun memandangi lapangan SMA-nya dulu.

“bahkan pasir disini masih terlihat tetap sama” sambung Sehun.

“tak bisakah kau menutup mulutmu untuk sesaat?” Suzy berhenti melangkah menoleh kearah Sehun.

“kenapa kau bersikap begitu dingin kepada teman lamamu?  Itulah sebabnya kau masih sendiri sampai sekarang..” omel Sehun.

Suzy yang terlihat benar-benar tak bisa mendengar lagi ucapan Sehun pun segera mempercepat langkahnya.

“hei, tunggu aku..”

***

“terima kasih kepada kalian yang sudah mau membantu untuk mengekspose sekolah ini..” ucap kepala sekolah tersenyum sambil menyalami Sehun dan Suzy.

“itu bukan apa-apa, kami juga dulu bersekolah disini. Kami juga ikut bangga jika sekolah ini bisa menjadi lebih baik..” ucap Sehun tersenyum ramah sambil membalas uluran tangan kepala sekolah.

Suzy pun juga tersenyum melihat mantan kepala sekolahnya itu yang masih menjabat sampai sekarang.

“kalian ini dulunya adalah murid berprestasi si sekolah ini, kenapa kalian menjadi wartawan? Seharusnya dengan prestasi yang sudah kalian miliki, kalian bisa menginjak tangga yang jauh lebih tinggi” tanya sang kepala sekolah.

“menjadi wartawan juga tidak berdosa, lagipula kami ingat bahwa bekerja akan lebih baik jika kita menikmati dan senang terhadap apa yang kita kerjakan. Dan sepertinya kami lebih senang diposisi ini” jawab Sehun lagi.

“oh iya..iya..”

“kepala sekolah, sepertinya kami harus berpamitan sekarang..” ucap Suzy.

“oh iya, maaf telah mengganggu orang sibuk seperti kalian..”

aniyo, kalau begitu kami pamit” Suzy dan Sehun memberi hormat sebelum keluar dari ruangan kepala sekola tersebut.

***

“hei, kenapa kau ingin cepat-cepat pulang..?” tanya Sehun.

“kalau begitu, kau tinggal saja disini..” jawab Suzy dengan tatapan esnya.

Sehun memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Suzy yang terlalu dingin. Mereka berjalan menelusuri koridor sekolah mereka dulu.

“hei, ayo lihat kelas kita dulu. Sudah lam..”

“kau saja..” Suzy memotong ucapan Sehun dan langsung mempercepat langkahnya.

aish.. hei..!!” teriak Sehun yang juga mempercepat langkahnya dengan Suzy.

“hei, kenapa kau suka sekali meninggalkan orang yang sedang berbicara denganmu. Kau sungguh tidak sopan..” Sehun yang berbicara dengan cepat membuat Suzy tak sanggup mendengarnya lagi.

Tapi, tiba-tiba Suzy berhenti melangkah.

“sekarang apa lagi? Tapi kau memeprcepat langkahmu sekarang kau berhenti. Sebenarnya, apa yang kau lakukan?” Sehun yang terlihat kesal dengan Suzy.

Mata Suzy sedang melihat kearah perpustakaan. Ia melihat melalui kaca perpustakaan. Melihat itu, kembali membuatnya kembali teringat dengan Baekhyun.

“hei, kau pulang saja duluan..” ucap Suzy kepada Sehun.

“kenapa?”

“aku ada urusan yang harus kuselesaikan..”

“kenapa aku harus menurutimu?” Sehun tersenyum jahil dengan niat mempermainkan Suzy.

“apa yang kau mau?”

“makan malam denganku” jawab Sehun.

“baiklah, aku berhutang makan malam denganmu” Suzy langsung cepat mengiyakan permintaan Sehun barusan.

“baiklah, aku pulang dulu..” Sehun pun melanjutkan perjalanannya.

***

Suzy memasuki perpustakaan dengan berjalan pelan sambil melihat kiri dan kanan, seakan melihat kondisi perpustakaan yang sudah 5 tahun tidak ia kunjungi. Suzy lalu berhenti melangkah ketika melihat kursi yang biasa ia duduki saat belajar bersama Baekhyun.

Suzy kemudian duduk di kursi tersebut. Ia mengelus meja yang biasa tempatnya menulis. Suzy lalu memandangi kursi yang dihadapannya. Kursi dimana Baekhyun yang biasa duduk disitu. Lagi, Suzy kembali membayangi adanya Baekhyun yang sedang duduk disitu sembari tersenyum dengannya.

‘kau harus ingat bagian ini, ini pasti keluar saat ulangan maupun ujian..’

Suzy kembali terbayang mendengar suara Baekhyun yang sedang mengajarinya. Tiba-tiba, air matanya mengalir begitu saja. Ia mencoba menahannya. Tapi, semakin ia tahan semakin deras air mata itu mengalir. Ia memegangi dadanya yang sakit. Suara tangisannya mulai terdenga. Suzy pun menundukkan kepalanya diatas meja sambil tetap menagis dengan membekap mulutnya sendiri, mencoba meredam suara tangisannya.

***

Waktu sudah menunjukkan 04.17 sore waktu setempat. Suzy masih belum pulang, ia sekarang sedang duduk dibangku yang terletak dibawah pohon tempat dimana ia dan Baekhyun makan es krim untuk pertama dan terkahir kalinya.

Suzy lalu membuka bungkus es krim yang ia beli tadi. Ia kemudian melahapnya sedikit demi sedikit. Tanpa tatapan yang pasti ia terus melahapnya sedikit demi sedikit.

‘Suzy-ah..’

Suzy kembali mendengar suara Baekhyun yang memanggil namanya. Suzy menoleh kearah sebelah kanannya. Ia kembali terbayang wajah Baekhyun yang tersenyum sambil memakan es krim juga. Tiba-tiba, tangan Suzy yang memegang es krim melemas akibat air matanya mulai menetes kembali. Dengan tangan kanan yang memegang es krimnya itu, ia juga memegangi bangku tersebut untuk menahan tanganisannya.

Ia menggenggam kuat bangku tersebut sebagai lampiasan tangisannya. Sedangkan tangannya kirinya memegangi dadanya yang selalu sakit jika memikirkan Baekhyun. Es krim yang dipengangi itu pun perlahan-lahan menetes ke tanah. Seakan ikut bersedih dengan Suzy, es tersebut menetes seperti sebuah air mata yang menemani Suzy menangis.

–TBC–

Iklan

2 thoughts on “Memories and Miracle (Chapter 1)

  1. knp suzy dingin ya sifatnya…
    apa krena baekhyun oergi
    ijin baca ya author.. ceritanya menarik,,
    dtunggu next part ya author..
    #semangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s