TRAP (Chapter 1)

real trap

“TRAP.”

by hazelnuttella

 

Trap.

 (n).

any device, stratagem, trick, or the like for catching a person unawares.

 *

Starring: EXO’s Oh Sehun & OC’s Saitou Natsya| Support: Red Velvet’s Kang Seulgi. ( Others, please find by yourself ) |Genre: Sad and Hurt. | Rating: PG17 | Length: Chaptered. |

*

Story, purely mine. Cover by me. Please enjoy and sorry for typo(s).

*

Saitou Natsya agak kebingungan dengan sikap Kang Seulgi—sang sahabat karib—yang tiba-tiba saja, tepatnya sepuluh menit lalu, Seulgi si gadis bermata kucing itu mendatangi Natsya di perpustakaan kampus—setelah seminggu yang lalu, Seulgi memilih menghindar darinya dengan alasan yang tidak jelas. Bahkan Natsya sampai sekarang tidak tahu kenapa sang sahabat karib menghindarinya selama seminggu penuh.

Dan kini, Kang Seulgi ikut duduk di salah satu bangku di perpustakaan dengan sebuah pernyataan jika Saitou Natsya mesti kencan. Sontak saja Natsya menatapnya kebingungan. Air wajahnya tidak terbaca, lain dengan Seulgi yang tersenyum cerah bak sinar matahari di musim panas.

“Apa kau gila?” Itulah yang mampu Natsya katakan setelah terdiam dalam kebingungannya. Gadis itu berpikir jika—mungkin saja Kang Seulgi—salah memakan menu sarapannya pagi ini.

Seulgi menggeleng. Tampak seratus persen yakin atas pernyataannya tanpa keraguan yang bisa dikeruk.

“Aku punya kenalan.” Seulgi makin menjadi-jadi, pikir Natsya.

“Oke,” Natsya menggantungkan kalimatnya, sambil kedua tangannya merapikan buku-buku tebal yang tergeletak sembarang di meja belajar perpustakaan. “Sebenarnya, apa yang kau inginkan, Kang?”

Seulgi memperhatikkan wajah sahabatnya—yang kelewat sederhana tanpa polesan bedak—lekat-lekat. Saitou Natsya benar-benar gadis yang ketinggalan zaman, oke, Seulgi selalu mengejek Natsya seperti itu. Gadis Kang itu sungguh tak tahan untuk tidak mengejek sang sahabat ketika sahabatnya tersebut selalu bertandang ke kampus menggunakkan model baju yang monoton. Seperti; sweter dengan warna polos natural yang diimbangi rok selutut atau celana jeans sopan.

Demi Tuhan, Natsya adalah satu-satunya mahasiswi yang berpakaian seperti itu setiap harinya. Oh, Seulgi tak malu jika mereka berjalan beriringan ke kelas atau ke kafetaria kampus. Hanya saja, dengan gaya Natsya yang sederhana seperti itu, Seulgi takut jika sahabatnya tidak punya teman kencan.

“Aku hanya ingin kau berkencang dengan kenalanku. Itu saja.”

Natsya yang duduk di seberang meja menatap Seulgi dengan jengah.

“Kau sinting, sungguh.” Katanya gusar, agak khawatir jika Seulgi akan benar-benar gila.

“Kau lebih sinting karena betah tidak berkencan seumur hidupmu. Kau normal ‘kan?” Seulgi meraih beberapa buku-buku tebal di tangan Natsya ketika gadis itu bangkit berdiri. Oh, lihatlah penampilannya sekarang. Sweter berwarna peach kusam dipadukan dengan rok selutut bermotif bunga-bunga. Sahabatnya terlalu vintage.

“Kau juga tidak punya teman kencan saat ini, kenapa kau tidak mencarinya untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, huh?”

“Aku baru saja berkencan. Dan sekarang, aku berniat untuk melakukan hal yang sama padamu.” Seulgi tersenyum tipis ketika mereka baru saja keluar dari perpustakaan.

“Tidak Seulgi, kau salah. Aku tak ingin berkencan atau berkenalan dengan temanmu, dan, aku sangat yakin kau tahu alasannya.”

Natsya kurang percaya diri atas penampilannya. Ya. Jika Seulgi menjadi Natsya, mungkin dia akan berpikir yang sama dengan gadis itu.

Selain itu, seorang Saitou Natsya memiliki kadar kesopanan yang tinggi hingga gadis itu takut jika teman kencannya akan bosan atau apalah. Dia tidak tahu. Yang jelas, Natsya hanyalah seorang gadis pendiam yang tidak terlalu baik dalam hal berososialisasi dengan orang banyak. Plus, Natsya bukan seorang gadis yang termasuk dalam jajaran kategori gadis cantik atau menarik.

Tapi, bagi Seulgi, sahabatnya itu sungguh gadis yang sangat cantik. Hanya saja, Natsya benar-benar tidak peduli akan penampilannya tersebut.

“Yang ini berbeda. Maksudku, temanku berbeda. Tipenya persis seperti personalitimu, Natsya!” Seulgi berujar dengan girang. Berharap jika Natsya akan setuju.

“Kau mau ‘kan? Aku benar-benar berharap kau mau menemuinya Sabtu pagi. Jika kau tidak merasa cocok, kau bisa pergi dan menolak. Tapi, kumohon, temuilah dia sebentar, ya?”

Kapan Natsya bisa menolak permintaan Seulgi? Gadis itu pada akhirnya akan mengalah dan bersedia melakukan permintaan Seulgi. Begitu setiap harinya.

 

***

 

Keraguan tercetak dengan jelas di wajah seorang Saitou Natsya saat ini. Dia tidak pernah berpikir jika akan melakukan ini. Gadis berambut cokelat itu menatap pantulan dirinya di cermin.

Sebuah sweter putih lengkap dengan rok selutut sebagai bawahan tampak melekat dengan rapi di tubuhnya. Tidak lupa dengan sebuah flat shoes yang berwarna senada dengan sweternya. Natsya mengigit bibir bawahnya—yang baru saja dia lapisi dengan lip balm pemberian Seulgi—dengan pelan. Dia gugup sekali. Gadis Saitou itu lantas mengenakkan coat hangatnya, mengingat udara menjelang musim dingin begitu dingin hingga menusuk tulang.

Tepat ketika Natsya meraih tasnya serta melangkah ke pintu kamar, sebuah pesan dari Seulgi tampak muncul di layar ponselnya.

“Semoga berhasil. Aku yakin dia akan jatuh cinta padamu. Xoxo.”

Gadis itu memilih untuk menghiraukan pesan Seulgi dan segera melangkah turun untuk pamit pada Ayah dan Ibunya.

 

*

 

Oh Sehun terdiam di depan pintu café selama beberapa menit. Dia melirik jam tangannya, oke, sepertinya laki-laki itu terlambat sekitar tujuh belas menit—dan jujur, itu disengaja. Maniknya menilik keadaan di dalam café, sebelum berusaha mengingat ciri-ciri seseorang yang akan dia temui.

Sungguh, Sehun tidak perlu waktu lama untuk mencari gadis bernama Saitou Natsya tersebut. Gadis itu memang tampak tidak mencolok dan terlihat sangat sederhana dari kejauhan. Tapi, menemukannya tidaklah susah, mengingat fakta bahwa penampilan gadis itu begitu berbeda dari pengunjung yang lain, membuat Sehun bisa menemukan keberadaannya dengan mudah.

Dalam diam, Sehun memperhatikkan—bagaimana cara Saitou Natsya menyelipkan rambutnya di antara celah telinga—serta bagaimana cara gadis itu memandang sekitar dan bagaimana Natsya menggengam kesepuluh jemarinya di atas pangkuan.

Seulgi benar-benar pintar menggambarkan seseorang. Natsya memang sangat tampak begitu polos duduk di bangku café yang berada di sudut ruangan. Sangat mirip dengan bayangan Sehun.

Dia melangkah masuk dan melangkah semakin dekat ke arah meja si gadis.

 

*

 

Kopi Prancis kental di dalam cangkir Natsya mulai mendingin. Sesaat, gadis itu tersenyum hambar. Berpikir jika si-kenalan-Seulgi alias teman kencannya Sabtu ini tidak berminat untuk datang karena si-kenalan-Seulgi tidak menampakkan batang hidungnya lebih dari lima belas menit. Dalam hati, Natsya memutuskan akan pergi sekitar lima menit lagi.

Namun, seseorang tiba-tiba saja berdiri di depan mejanya. Sontak saja gadis bersweter putih itu mendongak—penasaran.

Saitou Natsya nyaris tidak bisa menelan ludahnya sendiri, bahkan untuk bernapas dengan baik sekalipun—dia tidak sanggup. Laki-laki dengan rambut dicat putih diselingi hitam itulah yang menjadi tersangka. Natsya memandangi wajah laki-laki itu dengan teliti. Tidak sekalipun terselip pikiran jika kenalan Seulgi setampan ini. Tidak. Tadinya, Natsya mengira jika kenalan Seulgi adalah seorang laki-laki membosankan—sama sepertinya, sebab, Seulgi bilang jika kenalannya memiliki tipe gadis yang mirip seperti personaliti Natsya. Itu sama saja dengan, laki-laki yang membosankan berusaha menemukan gadis yang sama membosankannya.

Tapi, fakta tampaknya berkata lain. Sejenak, Natsya merasa tak yakin. Mungkin laki-laki dengan t-shirt putih polos dilapisi coat hangat berwarna hitam di depannya ini salah orang atau sebagainya.

Oh Sehun kelihatan tidak enak ketika Natsya memandanginya seperti itu, terlihat jelas dengan lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.

Uh, boleh aku duduk?” Ucap Sehun akhirnya—berusaha menyadarkan Natsya dari keterkejutannya yang tergambar jelas di raut wajah gadis itu. Sehun tidak jarang melihat tatapan seperti itu untuk dirinya. Dia hampir mendapati tatapan kagum hampir di mana-mana.

“Oh, ya, tentu saja.” Setelah berdehem, Natsya mengeluarkan suara pertamanya untuk Oh Sehun dan itu kedengaran lembut sekaligus lemah.

Kini, Oh Sehun bisa dengan jelas memandangi wajah Natsya secara langsung dan dari dekat. Kulit wajah yang putih tanpa bedak, hidung mancung, mata hitam arang yang terlihat berkilauan serta bibir yang di poles dengan sedikit lip balm. Laki-laki itu menyeringai pelan.

“Oh Sehun.” Laki-laki itu mengeluarkan senyuman mautnya sambil mengulurkan satu tangannya ke arah Natsya. Diam-diam, di dalam hati, Sehun menyerukan jika; permainan baru saja akan dimulai.

 

***

 

Namanya Oh Sehun.

Umur mereka sama. Sehun lebih besar beberapa bulan.

Dia mengambil jurusan seni di Seoul University—salah satu kampus bergengsi di Seoul. Sedangkan Natsya, gadis itu mengambil jurusan kedokteran.

Dia kenal Seulgi dari temannya—yang entah siapa namanya. Natsya lupa.

Dan dia bilang, tipe gadisnya adalah tipe gadis seperti Saitou Natsya, gadis yang sopan dan juga pintar. Benarkah tipe Oh Sehun seperti itu?

Oh Sehun bilang, dia benar-benar ingin memiliki istri seorang dokter, kelak.

Oh Sehun mengaku jika dia tidak banyak berkencan dengan gadis. Dan sejenak, Natsya meragukan itu karena wajah Sehun yang memesona tidak akan dimanfaatkan dengan sia-sia oleh laki-laki itu. Dengan wajah setampan itu, Sehun sepertinya akan mampu menaklukan seluruh gadis di permukaan dunia sekalipun.

“Tidak. Tidak usah. Aku akan ke suatu tempat setelah ini. Tidak perlu repot-repot.” Natsya tersenyum. Bangkit dari kursinya. Mereka sudah berbincang sekitar dua jam kurang.

“Aku bisa mengantarmu.”

“Tidak, Sehun. Ayahku akan menjemputku.” Gadis itu menyelipkan helaian rambutnya di antara celah telinganya—lagi. Dia melirik jam tangannya sebelum berucap, “Sekitar dua menit lagi Ayahku akan sampai.”

Sehun menyerah pada akhirnya. Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar. Natsya merasa agak tidak nyaman—atau lebih tepatnya merasa minder? Gadis itu merasa tidak pantas sekali berjalan di samping laki-laki itu. Tapi ketika Natsya mendongak, mencoba memastikan ekspresi si laki-laki, Sehun terlihat santai dan tidak keberatan berjalan beriringan bersama Natsya di sampingnya.

“Oh, Ayahku sepertinya sudah datang.” Kata Natsya ketika maniknya menangkap mobil sang Ayah yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Sehun mengangguk canggung. Melirik mobil yang disangka-sangkanya milik Tuan Saitou.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih banyak untuk hari ini.” Saitou Natsya tersenyum tulus sambil mengatakkan itu dan membuat Sehun terhenyak sesaat. Dan lebih terhenyak lagi ketika gadis di depannya ini membungkuk sopan sebelum berjalan menuju mobil BMW hitam tersebut.

Ketika beberapa langkah sebelum memasuki mobil sang Ayah, Natsya menoleh ke belakang—melihat Oh Sehun yang masih berdiri di tempat mereka tadi. Dan dengan kurang ajar merapalkan sebuah doa yang membuatnya begitu malu pada dirinya sendiri—bahkan hanya untuk memikirkannya saja.

Semoga setelah pertemuan ini, Oh Sehun masih tetap ingin menemuiku walau tadi, kita benar-benar kaku dan canggung.

Dalam diam, Natsya mulai menyadari jika dia baru saja merasakan perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama yang sebenarnya. Akankah ini akan berjalan mulus?

 

***

 

Oh Sehun menyisir rambut putihnya dengan jemari setelah laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya. Dia menghela napas keras-keras. Di sampingnya, duduk seorang gadis yang kelihatan begitu tertekan.

“Kalian lama sekali.” Keluhnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

Sehun melirik Seulgi dengan malas. “Aku tadi bahkan merasa jika aku sudah sangat sangat sangat lama sekali mengobrol dengan gadis membosankan itu.” Ucapnya dongkol—memikirkan waktu dua jam yang dia habiskan untuk berbincang dengan gadis kuno itu.

Seulgi tertawa pelan.

“Aku heran kenapa kau bisa menghabiskan waktu bersamanya setiap hari. Dia sunguhan gadis paling membosankan yang pernah kutemui seumur hidup.”

“Oh, maafkan aku, Sehun.” Seulgi menatap Sehun dengan geli. Gadis itu jelas tahu Oh Sehun itu adalah laki-laki yang lebih suka menghabiskan waktunya di club dan bermain dengan gadis-gadis yang memujanya ketimbang bertemu dengan gadis seperti Saitou Natsya.

Seulgi jadi merasa agak kasihan karena memasukkan Sehun dalam rencanannya sebelum laki-laki di sampingnya itu menatap Seulgi dengan nakal disertai seringaian yang Seulgi tahu-apa-artinya-itu.

It’s okay. Because, tonight, I will make love to you. Tidak ada yang gratis zaman sekarang ‘kan?”

 

CUT!

 

  1. IDEK WHAT IM WRITING. But, hope you guys love it J
  2. Please leave your comment and don’t be silent reader(s).
  3. Thank you so much to those who have commented on my story. (( LAFF YA GUYS ))
  4. Actually, I made this story special for my sister who always ask me to made a hurt sad story. LOL.

 

Sincerely,

Hazelnuttella.

Iklan

2 thoughts on “TRAP (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s