[Author Tetap] My Imaginary Girl – Ficlet

my-imaginary-girl-cover

My Imaginary Girl

A fanfiction Written by HyeKim ©2016

Starring With : Luhan & Kim Hyerim (OC)

Genre : slight!Childhood, Psychology, Romance, slight!Sad ||  Lenght : Ficlet || Rating : General

Summary :

Bagi Luhan, dirinya akan tetap mencintai Hyerim, gadis manis yang turut andil juga dalam kenangan masa kecilnya. Ya, Luhan akan tetap mencintai gadisnya bagaimanapun keadaannya. Sebatas imajinasi ataupun realita.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission.

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

 

Semburat oranye mentari di sore hari karap terlihat. Walau malam akan menyapa dan mentari mulai bersembunyi, tapi anak lelaki berumur 10 tahun itu tidak ada niatan untuk masuk ke rumahnya. Luhan, itulah nama anak lelaki yang masih setia berlari ke sana-ke mari dengan mengiring bola sepaknya. Tak sendiri, Luhan ditemani gadis manis sebayanya yang juga ikut berlari di belakangnya. Nama gadis itu Hyerim. Hyerim memasang raut lelah dan hampir putus asa karena tidak mendapat bagian mengiring bola, sementara Luhan tertawa-tawa merasa dirinya hebat karena dapat merajai bola sepaknya.

“Kau curang!” teriak Hyerim yang lantas berhenti berlari. Tangan mungilnya terlipat didepan dada serta bibirnya mengerucut sebal.

Menyaksikan teman bermainnya berhenti, Luhan pun melakukan penggerakan yang sama. Dirinya menahan bola sepaknya dengan kakinya diiringi kepalanya yang menoleh pada Hyerim yang berjarak beberapa meter di belakangnya. Gadis kecil itu masih merengutkan bibirnya kesal.

“Hyerim-ah,” Luhan mulai memanggil sahabat gadisnya itu yang ternyata memilih membalikan badan setelah usai menghujani Luhan dengan tatapan sebal, Hyerim berjalan menjauh dengan langkah lebar-lebar.

Tak punya pilihan, Luhan berlari mengejar Hyerim dan menarik lengan gadis itu sampai menatapnya. Masih sama, air wajah Hyerim tak kunjung berubah membuat Luhan menghela napasnya. “Kau marah?” Luhan bertanya dan respon yang ia dapatkan adalah Hyerim yang buang muka darinya.

“Tidak,” jawab Hyerim tegas.

“Bohong,” Luhan menyahut cepat dan Hyerim kembali menatapnya.

“Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya?” ucap Hyerim sebal.

Dikulumlah oleh Luhan senyum tipisnya lalu berucap, “Maafkan aku, kau boleh─”

“Luhan, sudah sangat sore. Ayo masuk rumah, cuci kaki, mandi, kemudian makan malam,” frasa Luhan terhenti karena suara Sang Ibunda yang menyentil kuat telinga Hyerim serta Luhan.

Diiringi itu, mentari pun sudah terbenam total ditandai langit yang mulai menggelap. Luhan membuang napasnya, tangannya yang tadi megenggam tangan Hyerim ia lepaskan dengan lembut. Hyerim hanya menatapnya masih dengan perasaan jengkel walau sudah mulai mengurang karena gadis itu tidak bisa marah lama-lama. Untuk kesekian kalinya Luhan tersenyum sebelum berkata.

“Ibu sudah memanggilku. Aku harus masuk rumah. Sampai jumpa besok dan maafkan aku, oke?” perpisahan mereka pun terjadi setelah Luhan mendekatkan wajahnya pada Hyerim dan mengecup pipi kanan gadis sebayanya itu. Rona kemerahan tak bisa dicegah dikedua pipi Hyerim.

Setelah itu, Luhan berlari menuju rumahnya sambil melambaikan tangan. Dengan salah tingkah, Hyerim mengangkat tangan membalas lambaian Luhan dengan senyum malu-malunya hingga lelaki itu menghilang dari pandangannya diikuti pula oleh dirinya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Semerbak harum bunga bermekaran menandakan musim semi sedang terjadi. Terdapat jalan setapak yang di kiri serta kanannya ditumbuhi jejeran bunga warna-warni. Tepat di jalan tersebut, dua sepedah berwarna putih dan merah melaju. Pengendara sepedah itu adalah remaja berbeda gander yang sedang tertawa-tawa. Hyerim dan Luhan, sebut saja keduanya seperti itu. Sekarang, mereka berdua bukanlah anak berumur 10 tahun, setiap hari keduanya tumbuh menjadi lebih dewasa ditandai usia mereka yang sudah menginjak 17 tahun detik ini.

“Hyerim, pelan-pelan!” seruan Luhan memecahkan kedamaian yang terjadi. Paras lelaki 17 tahun itu tampak kelelahan serta sangat kontras dengan Hyerim yang menampilkan raut wajah riangnya.

“Ayo Luhan, cepat!” Hyerim berseru sambil menolehkan sedikit kepalanya ke arah Luhan.

Masih dengan Hyerim yang memimpin ditemani sepedah putihnya serta Luhan yang masih terus berusaha menyusulnya. Aksi balap-membalap itu terhenti dengan keputusan final bahwa pemenangnya Hyerim. Sepedah putih dan merah keduanya sudah terparkir rapi di dekat jejeran taman luas yang menampilkan berbagai bunga dengan warna berbeda. Duduklah kedua insan tersebut di rerumputan dilengkapi oleh canda dan tawa.

Semilir angin masih setia menyapa Luhan dan Hyerim yang sudah menaruh kepalanya dibahu prianya. Iris hitam milik keduanya menatap hamparan bunga yang layaknya menari karena ulah angin. “Luhan,” seketika Hyerim memanggil.

“Hmmm?” sahutan Luhan hanya berupa gumaman.

“Aku mencintaimu,”

Mendengar ungkapan yang selama 1 tahun terakhir ini karap kali Hyerim ucapkan, Luhan pun menarik kedua ujung bibirnya tersenyum dan mengelus surai panjang teman masa kecil sekaligus kekasihnya saat ini.

“Aku juga, apapun yang terjadi,” balas Luhan seraya mengecup kepala Hyerim penuh kasih sayang.

Ya, apapun dan bagaimanapun keadaannya. Luhan akan tetap mencintai gadisnya. Siang yang tak lumayan terik itu dihabiskan oleh mereka berdua di halaman penuh bunga tersebut. Tertawa serta beradu argument karap kali dilakukan kedua insan itu.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Hari makin berganti serta waktu terus bergulir. Tidak terasa dua insan dimabuk asmara itu akan mengalami ujian kelulusan. Tinggal menghitung bulan, masa menjadi murid Sekolah Menengah Atas resmi diakhiri. Namun bukannya mempersiapkan hal-hal untuk ujian, Luhan malah harus terbaring di rumah sakit. Detik ini, lelaki berumur 18 itu sedang terduduk di ranjang rumah sakit sambil membuka-buka buku pelajarannya. Walau sakit, Luhan tetap harus bersiap-siap untuk ujiannya.

“Lu,” sapaan lembut memasuki telinga Luhan yang langsung mengangkat kepalanya dari buku pelajaran.

Sosok Hyerim hadir kembali di kamar inapnya, wajah gadis itu pucat dan khawatir. Hal itu makin terlihat dimata Luhan dengan jelas ketika Hyerim melangkah mendekat ke arahnya serta duduk di pinggir ranjangnya. Tatapan mata gadisnya itu sayu menatap Luhan.

“Apa dirimu masih harus berlama-lama di sini?” Hyerim menyerukan pertanyaannya.

Dilayangkan oleh Luhan tangannya sekedar untuk mengusap lembut pipi kanan Hyerim, lalu kepala Luhan mengeleng dan menjawab, “Sebentar lagi aku akan keluar dari rumah sakit. Lihat saja, aku ini tampak sehat.”

Hyerim menatap dalam Luhan yang tersenyum lebar guna meyakinkan dirinya. Tangan Hyerim meraih tangan Luhan dipipinya kemudian digenggam erat olehnya. “Aku tahu. Tapi bukan tampak luar yang membuatmu sakit, namun dalam dirimulah yang menyebakan kau harus di sini,” ujar Hyerim lalu menghela napas berat sesaat. “Teman sekelas bahkan tidak mau menjengukmu. Karena aku, kau dianggap gila. Karena aku─”

Sssttt… jangan menyalahkan dirimu,” potong Luhan sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Hyerim. Mata gadisnya itu sudah memerah menahan air mata. Luhan melepaskan genggaman Hyerim dan membelai wajah gadis itu lembut. “Aku yang memilih seperti ini, aku yang memilih untuk terus bersamamu. Ingat, aku mencintaimu apapun yang terjadi. Jadi berhenti menyalahkan dirimu, oke?” lalu Luhan mencubit pelan pipi kanan Hyerim dengan senyuman yang masih terpatri dibibirnya.

“Luhan,” suara ibundanya terdengar membuat fokus Luhan teralih pada ibunya yang menatapnya prihatin. Melihat Ibu Luhan hadir, Hyerim pun langsung menghilang dari kamar inap Luhan.

“Iya, Bu?” Luhan bertanya. Sang Ibunda tampak melangkahkan kaki mendekat ke arah Luhan dan berdiri di samping ranjang putranya dengan mata sayunya.

“Kau ingin sembuh kan?” Ibu balik bertanya dan tentu respon Luhan adalah sebuah anggukan mantap. Ibunya menarik napas sejenak dan menghembuskannya, mencari kekuatan untuk mengatakan hal yang akan ia serukan. “Maka dari itu, lupakanlah Hyerim.”

Air wajah Luhan berubah. Raut ceria tersebut memudar menjadi masam dengan tatapan tak sukanya. “Bu, sudah berapa kali aku bilang. Aku tidak mau,”

Ibu pun menggigit bibir bawahnya serta memejamkan matanya sesaat, “Luhan, karenanya kau menderita seperti ini. Saat usiamu masih 7 atau 10 tahun, ibu membiarkanmu terus bersamanya. Tapi sekarang kau sudah beranjak dewasa…” Ibu menarik napas sejenak lalu melanjutkan. “Apa kau tidak sadar dengan apa yang sedang kau alami?” Ibu pun tampak putus asa.

“Aku sadar, aku tahu,” jawab Luhan seraya membuang muka menatap ke luar jendela yang menyuguhkan taman rumah sakit. Di sana, tedapat Hyerim yang sedang tersenyum tipis sembari melambai padanya. Hal tersebut membuat Luhan tersenyum. “Skizofrenia.” gumam Luhan lalu menatap ibunya kembali. “Aku akan selalu bersama Hyerim dan mencintainya. Meskipun aku tahu bahwa Hyerim yang selama 18 tahun ini menemaniku─

─hanyalah gadis dalam imajinasiku.”

─Fin─


Cuap-cuap receh ala Elsa : Apa-ini, maafkan aku yang kena semi writter block hingga nulis FF debut macem gini, jujur ide udah lama tapi pas ditumpahin dalam bentuk frasa malah cem gini ugh T^T jadi ya intinya Si Luhan ini punya temen khayalan dan pas udah remaja malah jatuh cinta sama sosok gadis khayalannya ._. walau dia sadar Hyerim itu cuman ada dalam imajinasinya tapi cinta itu buta ea /ditimpuk/

Btw, ini postan pertama aku di sini >< terimakasih untuk para admin yang mau nerima aku juga untuk para readers, semoga mau mensupport aku sebagai author🙂 oh iya perkenalkan namaku Elsa tapi nama penaku HyeKim buakakakak. Salam kenal ya🙂 i hope we can go long as well, yang mau kenalan bisa ubek blog pribadiku ^^

[ http://www.hyekim16world.wordpress.com ]

with love, HyeKim

23 thoughts on “[Author Tetap] My Imaginary Girl – Ficlet

  1. El, ke sini donk, pengen kugigit kamu :v ternyata Hyerim imajinasi dia -.- nampak kali Luhan jones akut hingga berimajinasi selama 18 tahun 😂😂😂
    Btw, Skizofrenia itu apa? /malas nanya om gugel/

    1. Tidak tidakk, andwae jan gigit aku😄😄
      Iyap bakakak baru ngeh Luhan semacem ngenes 18 tahun berimajinasi sm seorang gadis dan parahnya jatuh cinta buakakakak😄

      Skizofrenia itu macem penyakit jiwa yg suka berdelusi over. Jd penderitanya punya dunia sendiri, bs mendengar/melihat wujud sesuatu dalam imajinasinya gituuu.

  2. hay dek els, kamu ahh bikin lluhan cinta sama hyerim ehh Hyerimnya ternyata cuma khayalan _._ ahh kamu nih -_- ahh iya dek els tulisan kamu itu yang “Semburat (oranye) harusnya bukannya (orange) mentari di sore hari (karap) ini juga harusnya bukan (kerap) yah? terlihat” nah itu aja dek yang perlu mungkin kamu benahi sama yang tengah2 juga ada okke ff yang on going sama comeingup tak tungguin loh yah🙂

    1. Edisi curhat karena pas kecil punya sosok khayalan tapi gak falling in love juga😄😄

      Oalaaahh, makasih kak reviewnya tar aku bener2in lagi ahaha lagi agak writer block nulis ini

      Sip tunggu aja ya kak ❤

  3. Elsa~ ciye ciye author tetap… peluk dulu dong :v

    Kamu ya, buat ending yang bikin daku nahan napas /hasek bi laik: cuman hayalan??!/

    Hhh /elus dada/ tapi good job lah! keep writing yaa~ ^^

    1. Aku maonya pelukan dari Luhannieeeekuuu😄😄 iya nih gak percaya juga diterima wakakak, kakak kenapa gak ikut daftar juga? ‘-‘

      Wakakak iyap, semacem curhatan diriku yang pas masih kecil suka ngayal2 dengan teman imajinasi. Tapi gak kayak Luhan juga wakakak😄😄

      1. Aku ditolak sama elsa -.- /peluk chanyeol/
        Aku takut jarang post, anak sma banyak tugas T.T belum tentu juga keterima😀 ilmu daku kan masih cetek😀
        Selamat lagi yaaa~ /prok prok/
        Jangankan masa kecil, sampai sekarang aku juga masih sering ngayal😀

      2. Yaudah kakak sama chanyeol ajaahh
        Aku mau sama Luhanniekuuu sayang😄😄

        Aku juga anak SMA baru kok kak :3 tapi msh summer holiday wkwkwk

        Lah ilmu nusliku juga masih cetek banget kokkk. Iyap kak makasih ya ❤
        Diri ini jg msh suka ngayal kdg astral jadinya gini huft

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s