Painting Love (Chapter 1/2 END)-Baekhyun Ver.

fdew

 

ByunPelvis’s Story Line

Cast                       :Baek Sumin (OC)

Byun Baekhyun

Other Cast          : Xi Luhan and other.

Genre                   : Sad , Romance  , Friendship.

Leghet                  : TwooShoot

 

 hallo ^^ . aku author baru disini. salam kenal readers!! ^^
selamat membaca karyaku ini dan semoga kalian menyukainya
*
"Can you be my if I asked"
*

Sungguh aku tidak tau bagaimana rasanya cinta yang tulus. Apakah cinta tulus adalah rasa suka pada pandangan pertama?. Kau akan gugup jika menatap matanya.

Atau apakah saat jantungmu berdebar hebat jika kau bersentuhan dengannya? . Oh Tuhan, aku merasakan itu semua. Rasa suka, jantung berdebar hebat,gugup , dan juga merasa bahagia saat melihatnya.

Aku tak bisa membohongi hatiku sejak pertama bertemu dengannya. Segala keinginan di hidupku selama ini selalu terpenuhi.

Mungkinkah ia kan menjadi miliku jika aku menginginkannya?.

Kuharap begitu, bahkan aku merelakan semua waktuku hanya demi berada dalam satu jarak dengan Byun Baekhyun. Namja yang memiliki hati misterius dan juga tatapan mata menipu.

.

.

Udara dingin di waktu senja ini sungguh menusuk kulit. Aku merapatkan mantel hangat yang kukenakan  dan mengemasi barangku untuk cepat keluar dari tempat ini. Aku pamit pulang pada Nam Saem dan juga beberapa rekanku.

Kakiku masih melangkah menuju pintu keluar utama didepan sana. Sudah kuduga, aku melihat pemandangan itu lagi. Dimana seorang namja terdiam mengamati hujan . Beberapa properti lukis berada dalam pelukannya, aku dengan ragu berjalan mendekatinya.

Kulirik namja itu setelah posisiku berada disampingnya. Ekspresi wajahnya selalu datar , tatapan matanya yang tajam itu nanar, dan suara emasnya sangat jarang kudengar. Mungkin ini yang membuatku penasaran dengan dirinya. Sungguh misterius namja bernama lengkap Byun baekhyun ini.

Kudengar dia dulu namja pembuat onar yang sangat sulit serius. Oh tapi bukannya ia nakal, tapi menurut cerita yang kudengar namja ini adalah sosok hiperaktif. Entah apa yang membuatnya berubah menjadi sosok dingin seperti sekarang. Dimana aku bisa mengetahui kisah dibalik perubahannnya?. Tidak mungkin jika aku bertanya langsung pada Byun Baekhyun.

Aku mengenalnya sudah 3 bulan lamanya. Kami adalah rekan satu khursus melukis , selebihnya aku tak pernah sekalipun tau dirinya.

Awalnya aku sering lewat tempat bernama Art Bank (nama tempat khursus lukis) ini. Aku tertarik dengannya yang sangat sering berdiam diri. Awalnya aku kira ia adalah sebuah patung, secara tatapannya kosong dan tak ada ekspresi sama sekali pada wajah tampannya.

Sampai hari itu datang, dimana aku meihatnya menangis pilu disebuah gereja . Hal itu membuatku semakin penasaran dengan sosoknya dan aku  diam diam selalu mengikutinya.

Sampai akhirnya aku memberanikan diri bergabung dalam kegiatannya.

Melukis bukanlah hobiku juga bukan bakatku.  Tapi karena dia aku mau berusaha keras, kesalahan apapun yang kubuat tak pernah aku menyesalinya.

Begitulah jalanku bisa berada didekatnya.

“Sunbae-nim , kau tak ingin pulang?.” Ucapku mencoba membuatnya bicara padaku. Tak ada jawaban selama lima detik, kurasa ia tak dengar karena suara gemercik air ini.

“eumm. Aku akan pulang nanti.”

Oh dia menjawabku, telinganya cukup normal.

“emm aku bawa dua paayung. Kau mau meminjamnya?.”

“Terima kasih , tapi aku juga membawa payung.”

Aku terpaku mendengar ucapanya. Jadi ia membawa payung? Astaga betapa malunya aku karena berlagak menjadi pahlawan kesiangan. Bahkan kepalanya masih lurus memandang object didepan sana. Ia tidak menatapku sebagai lawan bicaranya, bukankah itu kurang sopan? .

Aku masih sibuk dengan pikiranku sampai namja ini membuka payungnya dan berjalan pergi meninggalkanku.

Aku terdiam menatap punggung kokohnya, dia berhenti lalu berbalik menatapku. Tunggu, dia tersenyum padaku?.

Aku menepuk pipiku yang rasanya sangat panas, setelah ia benar-benar hilang dibalik tikungan aku menutup mulutku tak percaya. Ternyata bahagia dalam hidupku  itu sangatlah sederhana, yaitu melihat senyumnya.

.

.

.

Yang lalu biarlah berlalu, begitu juga hari ini. Seperti biasa, tepat setelah jam kuliah selesai aku masuk khursus melukis. Ada beberapa praktek yang diberikan kali ini. Nam Saem menyuruhku melukis sebuah sketsa yang belum kumenegrti, aku tak tau mengapa tema yang harus kulukis harus berkaitan dengan ekspresi seseorang. Huh kufikir itu tak nyambung sama sekali.

Pandanganku diam-diam terarah pada namja yang sedang sibuk menggaris dimeja pojok ruangan. Dia terlihat sangat serius , aku jadi tak berani untuk mencoba bertanya padanya.

Byun Baekhyun termasuk sudah lama disini, tepatnya sudah hampir 2 tahun. Hampir setiap harinya namja itu berada disini untuk melukis.

Bukankah berarti ia sudah sangat mahir bukan? . Ya tentu saja.

Tatapanku masih tertuju padanya sampai matanya juga memandangku. Aku tersentak dan memalingkan wajah. Ah sial aku tertangkap basah sedang memperhatikannya.

Setelah kira-kira sepuluh detik berlalu aku kembali meliriknya, dan betapa malunya aku karena matanya masih terarah padaku.  Dengan canggung aku tersenyum dan mendekatinya.

“em Sunbae bisa kau ajari aku?”

“tentu.”

Aku mengangguk dan duduk disampingnya , kujelaskan bagaimana tugas yang Nam Saem sampaikan tadi.

Tapi yang kudapat malah tatapan datarnya yang terus tertuju padaku, aku mengigit bibirku karena gugup. Sampai saat aku menunduk barulah Baekhyun mengalihkan wajahnya.

“ah jadi kau perlu melukis sebuah ekspresi?.”

“emmm majjaseo.”

“bagaimana kalau kesedihan?.” Ucapnya.

“a-apa? waeyo?.”

“aku hanya bisa membuat lukisan semacam itu.”

Sungguh aku heran dengannya, kenapa malah kesedihan yang ia sarankan padaku?. Aneh sekali.

Ah iya aku lupan, selama ini yang terus dilukisnya adalah sebuah gambar seorang . Lebih tepatnya setiap lukisannya selalu ada gadis  yang sedang berada disuatu tempat dan itu membuatku sungguh penasaran.

Kulihat lukisan yang ada dihadapannya, ini adalah gambar seseorang yang sedang berada disebuah bangku taman dimusim gugur. Yang lebih membuatku heran lagi gambar gadis dalam lukisan itu tak memiliki wajah. Hanya sketsa kepala juga tubuhnya saja, oh ini sangat aneh.

“Sunbae, m-mengapa kau tak melukis mata,bibir,dan hidungnya?.” Tanyaku mencoba mendapat jawaban darinya. Ia terlihat sedikit tersentak dan terdiam memikirkan sesuatu. Gerak matanya tak tentu arah seperti sedang kebingungan.

“aku tak bisa.” Jawabnya . Ini aneh, kurasa sebuah lukisan seseoarang  tak akan sempurna tanpa wajah.

“waeyo, kau-“

Srekk..

Belum aku selesai bicara Baekhyun sudah bangkit dari duduknya. Ia mengemasi barangnya dan pindah ketempat lain. Kurasa aku telah mengganggunya.

.

.

Sejak hari itu Baekhyun seolah menghindariku, saat hujan seperti ini aku tak mendapatinya berdiri didepan pintu. Aku kecewa pada diriku sendiri, aku merasa bodoh sudah membuatnya menghindariku. Kesalahanku membuaku penasaran, sungguh alasannya menghindariku tak logis.

Hari selanjutnya dia masih mengacuhkanku. Oh tapi sebenarnya sikapnya padaku sejak awal memang seperti itu. Baekhyun hanya bertanya padaku jika seperlunya, ia akan tersenyum padaku jika aku dulu yang tersenyum padanya.

Tapi setelah kesalahanku semua menjadi semakin rumit. Untuk memandangku saja Baekhyun seolah tak sudi.

“Sumin-ah neo gwemchana? kau diam sejak tadi , mungkinkah kau sedang sakit?” . Aku mengegeleng saat Nam Saem bertanya. Guruku ini masih tak percaya sampai memeriksa keningku segala.

aigo Saem nan gwemchana. Geokjongmaseyo!.”

“ah geurae. Kalau begitu lanjutkan membuat sketsa. Aku akan memeriksanya 30 menit lagi.” Ucap Nam Saem dengan menunjukan senyum keibuannya padaku. Aku membalas senyum itu dengan ketulusan hatiku.

“ah nde Saem.”

Nam Saem berlalu untuk melihat karya yang lain. Sampai mataku tertuju pada Baekhyun yang sedang dikritik .

Srekkk

Namja itu berdiri dari duduknya dan pergi,

Sama dengan apa yang terjadi saat ia bersamaku. Nam Saem melihatku yang sedang memandangnya. Tak ada ekspresi terkejut diwajah wanita paruh baya itu. Mungkinkah Baekhyun selalu seperti ini?

sebenarnya ada apa denganmu Byun Baekhyun. Kenapa kau sangat misterius. Siapa…. gadis dalam lukisanmu itu?’

.

.

Author.

“eomma aku berangkat!”

“sayang hati-hati !”

“eum”

Seorang gadis menggayuh sepeda sederhananya menelusuri gang kecil didaerah Gangnam. Satu tangannya menadah chery blossom yang berjatuhan.

“woah yaepuda.

Senyum gadis bernama lengkap Baek Sumin itu tak pernah lepas dari wajahnya. Ia ingin menjadi sosok penghangat dipagi hari.

Tiba-tiba matanya terarah pada satu arah. Ia menghentikan sepedanya dan memandang sesuatu itu.Rasanya seperti ia sedang diikuti oleh seseorang, Sumin meneguk ludahnya dan kembali menjalankan kendaraannya. Pikiran negatif bertebaran dalam otaknya. Ia barusaja membaca tindak kejahatan yang sedang marak terjadi  di Seoul tadi malam. Sumin semakin cepat menggayuh sepedanya untuk menuju kampusnya.

.

.

Kringggg…

“khamsahamnida seonsanegnim!” ucap mahasiswa dengan serantak. Dengan semangat Sumin mengemasi barangnya. Ini hari Rabu yang artnya ia mengikuti khursus melukis.Sekarang ia merubah jadwal khursus menjadi satu minggu 3 kali. Selain karena jadwal kuliahnya yang padat gadis itu merasa nyaman jika hanya ikut 3 hari yaitu selasa,rabu,dan kamis. Selebihnya kegiatan yang dilakukannya adalah belajar giat dan bersantai dirumah.

Gadis itu menggayuh lagi sepeda mininya ke Art Bank. Didepan tempat itu sudah banyak kendaraan yang terparkir pertanda jam akan dimulai sebentar lagi.

“anyeonghaseyo!”

“oh Sumin-ah! Ah bogoshipta.”

Sumin langsung disambut pelukan oleh temannya, berubahnya jadwal hadirnya membuat tempat itu berpengaruh. Pasalnya Sumin sangat dikenal sebagai mood maker oleh seluruh isi art Bank. Bahkan salah satu guru pria disana mengaku tertarik dengan dirinya secara blak-blakan. Tentu saja Sumin ada alasan untuk menolak.

Saat sedang berbincang dengan temannya Baekhyun masuk. Rasanya Sumin sangat ingin menyapa namja itu tapi bibirnya seolah terkunci rapat. Sampai bahunya mengendur ketika Baekhyun melewatinya. Keberaniannya seakin surut sekarang,.

“ya! Baek Sumin!”

“e-eoh nde?”

“kau memperhatikan Byun Baekhyun?’

nde? ah Seolma. Anhi godeun.”

Temannya mengendikan bahu dan menariknya dudk di bangku. Sumin terlalu lemah untuk mengacuhkan keberadaan Baekhyun yang duduk jauh dibelakangnya. Tadi ia sempat melihat tatapan mata Baekhyun yang mengarah padanya, ia sangat yakin.

“astaga Sumin-ah. Aku bertanya padamu.”

Sumin tersentak saat temannya lagi-lagi menyadarkannya dari lamunan. Ia merasa malu ketahuan bengong dua kali.

“eoh mian Hyeori-ya. A-aku sedang banyak fikiran. Eum apa yang kau tanyakan?”

“tidak jadi. Aku yakin kau sedang memikirkan seseorang. Dia kan?”

Sumin mendelik saat temannya menujuk Baekhyun, dengan cepat ia menurunkan tangan Hyeori sebelum Baekhyun melihatnya.

“kubilang aku tak memikirkan namja itu. mana mungkin aku memperhatikan namja aneh sepertinya.”

“ohh jadi kau juga memperhatikannya? Kufikir hanya sekedar memikirkannya saja” ucap temannya yang mebuatnya semakin tergagap.

“a-ah tidak . aku- em aku kekamar mandi sebentar.”

Bingung dengan apa yang harus dijelaskan Sumin memilih kabur kekamar mandi. sebelumnya ia melewati Baekhyun dan melirik dengan ekor matanya. Tak diduganya kalau namja itu kembali menatapnya.

Betapa cepatnya detak jantungya saat ini, ia berjalan sembari menutup matanya hingga.

Dugg..

“akhh”

Sumin menabrak pintu jalan kekamar mandi, betapa malunya karena beberapa orang melihat kejadian itu termasuk Baekhyun sendiri. Ia tak mau melihat reaksi Baekhyun dan langsung lari kedalam kamar madi itu.

“ahh memalukan.”

.

.

Berpaling pada Baekhyun yang sedang tersenyum menahan tawanya saat ini, kemudian namja itu melunturkan senyumnya . Ia tak tau sejak kapan mulai sering tersenyum karena Sumin. Tiba tiba saja gadis itu hadir dalam hidupnya menawarkan sebuah pertemanan. Baekhyun bukan namja kejam yang tak ingin menolak sebuah pertemanan, tapi ia hanya tak mau Sumin menjadi dekat dengannya walau hanya status berteman.

Semua juga tak tau mengapa dirinya seperti itu. Anti bersosialisasi adalah kepribadiannya , ada beberapa orang yang tau tentang kisah dibalik siatnya itu. Dan mereka yang mendengar tentang  kisah hidupnya pasti akan merasa kasihan dengannya.

TBC…

Iklan

4 thoughts on “Painting Love (Chapter 1/2 END)-Baekhyun Ver.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s