PAINTING LOVE-(Baekhyun Ver.) Chapter 2 END

cover byun

 

ByunPelvis’s Story Line

Cast                       :Baek Sumin (OC)  // Byun Baekhyun

Other Cast          : Xi Luhan , ect.

Genre                   : Sad , Romance  , Friendship.

Leghet                  : TwooShoot

 

 hallo ^^ . aku author baru disini. salam kenal readers!! ^^
selamat membaca karyaku ini dan semoga kalian menyukainya
*
"Can you be my if I asked"

*

” I Like You Too”

Waktu dibumi semakin cepat berganti , begitupun dengan kegiatan semua orang. Kegiatan dikampus sangat membosankan karena dosen tak masuk dan hanya meninggalkan tugas merangkum. Sumin berulangkali menilik jam dipergelangan tangannya. Waktu kursus  melukisnya dimulai 2 jam lagi, dan ia akan menunggu lama jika ke Art Bank sekarang.

“apa aku pulang saja?”

Ucap Sumin sembari menangkup kedua wajahnya dengan tangan, nafas lelah dihembuskannya berulangkali.

“kau butuh sesuatu yang segar Sumin-ssi.”

Sumin mengangkat kepalanya saat ada yang mengajak bicara. Tubuhnya langsung tegak dan buku yang berantakan dihadapannya ia rapikan.

“e-eo Luhan Saem? Anyeonghaseyo.”

“wahh kau rajin sekali .”

“ah iya. Aku selalu mengutamakan tugas agar nanti ada waktu luang untuk belajar.”

“Universitas akan bangga jika semua mahasiswanya sperti dirimu.” Luhan mencoba bergurau dan itu berhasil bagi Sumin. Gadis itu meladeni segala pertanyaan yang salah satu gurunya itu lontarkan.

“emm Luhan saem bagaimana bisa anda ada disini?”

“hei,  aku mengajar seni hari ini. Kau lupa?”

ah nde. Jeongsohamnida

Luhan terkekeh melihat sikap formal Sumin. Sudah berkali-kali Luhan meminta agar gadis itu bersikap biasa saja padanya, seperti seorang teman misalnya.

Keduanya sama-sama diam, Sumin menyeruput minuman yang diberi Luhan. Sumin merasa tak nyaman hanya duduk berdua diperpustakaan, apalagi Luhan yang terus menatapnya.

“kau sudah siap menyatakannya?” tanya Luhan membuat Sumin mengerutkan dahinya.

“nde? menyatakan apa?”

“perasaanmu” ucapan Luhan hampir membuat Sumin tersedak latte yang diseruputnya. Tiba-tiba kejadian saat Luhan menyatakan perasaan suka padanya melintas dibenaknya. Sumin mendadak tidak enak hati dan menunduk.

“Luhan saem mian aku tak bisa menerimamu. A-aku-…“

“bukan perasaanmu padaku Sunmi-ssi. Aku tau cintaku padamu bertepuk sebelah tangan. Kau menyukai namja lain kan?”

Sumin semakin menunduksembari  mengigit bibir bawahnya, rasanya ia ingin kabur saja menghadapi situasi yang termasuk rumit itu.

“Iya . A-aku berniat menyatakannya. Luhan Saem apa dia juga menyukaiku? Ah kurasa tidak mungkin.”

“Byun Baekhyun?”

“yak Saem jangan terlalu keras.”

“wae? Byun Baekhyun tidaklah populer . Dia hanyalah mantan mahasiswa ditempat ini.”

Sumin meringis dan kembali menunduk. Luhan menepuk bahunya dan beranjak.

“fighting! Semoga kau mendapatkannya. Berbahagialah untukku Sumin-ssi. Aku boleh saja tak mendapatkan hatimu tapi bisakah kau memberiku kebahagiaanmu. Itu lebih dari cukup dari mendapat balasan cinta darimu.”

Bibir Sumin kelu, ia ingin menagis karena menyia-nyiakan namja baik dan juga dewasa seperti Luhan Seonsaengnim. Sampai Luhan berlalu ia masih tak mengeluarkan suaranya.

“maafkan aku Luhan saem. Hatiku terkunci olehnya.”

.

.

.

Sumin mampir ke minimarket terdekat. Disana ia membeli puncake dan juga sebuah kertas lengkap dengan amplop berwarna biru laut. Ia memnjam bolpoin pada ajhussi penjaga kasir untuk menulis sesuatu.

Sumin terlihat serius sampai tak melihat ada seseorang yang sedang lewat dihadapannya. Kaca minimarket yang tembus pandang membuat seseorang itu melihat jelas apa yang sedang Sumin lakukan. Ia memilih pergi sebelum Sumin sadar kehadirannya disana.

Setelah selesai Sumin memasukan kertas yang sekarang menjadi sebuah surat itu kedalam amplop. Gadis itu melihat arloginya dan mengangguk mantap untuk bergegas ke Art Bank.

.

.

Sumin berdiri dipintu menanti orang yang ditunggunya, sembari menanti ia mengingat apa kata-kata Luhan tadi. ‘Berbahagialah untukku Sumin-ssi. Aku boleh saja tak mendapatkan hatimu tapi bisakah kau memberiku kebahagiaanmu. Itu lebih dari cukup dari mendapat balasan cinta darimu’.

Sumin menghembuskan nafasnya karena gugup. Mobil Luhan sudah terparkir tanda jika gurunya itu sudah datang sejak tadi. Hanya tinggal murid-muridnya yang sepenuhnya belum hadir.

“Lama sekali.” Keluh Sumin. Gadis itu bukan tipe seseorang yang betah menuggu. Pada akhirnya ia berbalik untuk masuk dan malah menabrak sesuatu.

“aww ya Sumin-ah sedang apa kau didepan pintu? Astaga!”

Ternyata itu Hyeori, temannya. Sumin meringis karena karena dirinya Hyeori hampir saja tersungkur jatuh.

“mian Hyeori-ya. Aku tak sengaja.” Cengir Sumin sembari mengayunkan tangan Hyeori.

“masuklah ! Nam Saem sudah didal- eoh ini apa?”

Tiba-tiba Hyeori menunduk untuk mengambil sesuatu yang terjatuh. Sumin ikut menatap bawah dan melihat amplop biru miliknya tergeletak dilantai.  Ia membulatkan matanya karena Hyeori memungut suratnya.

“hei ini miliku.”

“surat apa itu? Wahh apa kau mendapatnkannya dari seseorang?”

“B-bukan. Aku hendak memberikan- “

Ucapan Sumin terpotong, Hyeori mengangkat sebelah alisnya karena temannya tak melanjtkan perkataan.

“Sumin-ah , aku sempat melihat marga Byun disana. Hahh apa kau?”

“anhiyeo. Kau salah lihat  Hyeori-ya kau… yakkk andwe.”

Tanpa ampun Hyeori merebut suratnya. Temannya itu dengan asal membuka dan membaca isinya. Tamat sudah riwayat Sumin detik ini.

“jadi benar jika kau menyukai Byun Baekhyun? hah?”

Sumin sedikit kaget saat tiba-tiba Hyeori berubah ekspresi dan juga berbicara dengan nada tinggi. Ia sudah ketahuan jadi tak ada gunanya mengelak.

“ iya aku menyukai Byun Baekhyun.” jawab Sumin lalu menunduk.

“menyerah saja Sumin-ah.”

“mwo?”

“percuma kau menyatakn perasaanmu padanya. Jangan menyerahkan hatimu pada Byun Baekhyun.” ucap Hyeori berniat merobek surat itu tapi dengan cepat Sumin merebutnya.

“wae? apa kau tak suka?’ tanya Sumin sekenanya. Hyeori tersenyum miris dan menatapnya semakin tajam.

“iya. “

“wae? kufikir kau teman yang mendukungku”

“geurae. Apa aku harus membiarkan temanku menggung sakit hati nantinya?”

Sumin mematung, Hyeori tiba –tiba berubah dingin padanya. Selama ini yang tidak pernah suka saat ia memperhatikan Baekhyun jelas Hyeori. Sumin selalu berusaha diam saat temannya itu memperingati.

“Hyeori kenapa kau seperti tak menyukai Baekhyun sunbae?”

“apa terlihat jelas? Ya aku tak menyukai namja bodoh sepertinya.”

Sumin mengepalkan kedua tangannya, mendengar namja yang disukainya dihina oleh temannya sendiri membuat kemarahannya membuncah. Rasanya ia ingin memukul mulut Hyeori .

“Baekhyun Sunbae namja yang baik. Dia tidak bodoh.” Bela Sumin dengan nada cukup tinggi . Hyeori sedikit tersentak tapi gadis itu mengontrolnya.

“aku lebih tau bagaimana seorang Byun Baekhyun.”

“mwo? Kalian bert-“

“karena aku sama sepertimu Sumin-ah. Aku pernah menyukai Baekhyun.”

Mata Sumin membulat tak percaya mendengar ucapan Hyeori walau terdengar sangat lirih. Gadis itu kehilangan energi seketika yang membuat kakinya mendadak lemas.

“N-neo.. “

“berhenti sebelum kau menyesal.”

Setelah mengatakan itu Hyeori berbalik meninggalkan Sumin yang masih mematung. Gadis itu masih syok dengan kata-kata Hyeori . Sumin berjalan menghampiri Hyeori yang sedang mengeluarkan isi tas.

“jadi kau tak menyukai  Baekhyun karena ditolak?”

Hyeori menghembuskan nafas beratnya mendengar pertanyaan Sumin, gadis itu terlalu malas menerangkan. Mugkin ia harus memberitahu apa dibalik sikap Baekhyun .

“biar kuceritakan sesuatu yang mungkin akan membuatmu tercengang.”

“mwonde?” singkat Sumin dengan nada tak berminat.

“Byun Baekhyun mungkin tidak pernah berani jatuh cinta lagi. Kekasihnya mati karena dia sendiri.”

“a-apa maksudmu?”

“ya, Byun Baekhyun penyebab kematian kekasihnya sendiri. Dia terpuruk  hampir dua tahun ini karena ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya. Sampai sekarang ia seperti itu. Kau tau bagaimana kekasihnya itu mati?”

Sumin menggeleng mendengar pertanyaan Hyeori, tentu saja gadis itu tak tau bagaimana kekasih Baekhyun yang dikatakan Hyeori iyu mati. Ia saja baru bertemu baekhyun baru sekitar 5 bulan lalu.

“kekasihnya mati bunuh diri karena depresi dan itu disebabkan oleh keegoisan Byun Baekhyun. Dan kekasihnya itu juga adalah temanku, namanya Kim Seulrin.”

Penjelasan singkat Hyeori membuat Sumin tercengang, ia bahkan tak bisa mengatupkan mulutnya untuk saat ini. Sungguh mengejutkan apa yang telah diceritakan Hyeori padanya.

“ya Tuhan, m-mengapa kekasih Baekhyun melakukan hal bodoh”

“aku tak tahu jelas. Terakhir kali aku kontak dengan Seulrin saat dia tahu jika aku menyukai Baekhyun. Seulrin marah padaku dan memutuskan pertemanan. Dia sangat posesif dan terosebsi dengan Baekhyun, ia bunuh diri karena Baekhyun memilih untuk berpisah. Baekhyun bercerita padaku jika ia sudah tak tahan dengan sikap kekasihnya yang selalu menentangnga segala hal. Hah.. begitulah yang kutau. Mungkin ada masalah yang lebih rumit lagi dalam hubungan mereka. Baekhyun selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Seulrin.”

Sumin meneguk ludahnya dengan susah payah. Mungkinkah Baekhyun menyesal selama ini?

“j-jadi yang selalu dilukisnya itu , dia adalah-“

“ya, gadis dalam lukisannya itu adalah Kim Seulrin. Baekhyun selalu melukis kekasihnya yang sudah mati saat ia sedang rindu. Bahkan Baekhyun kesal padaku sampai saat ini karena aku pernah tak sengaja merusak salah satu karyanya. Aku benci dirinya yang bodoh karena terus terpuruk seperti itu.” terang Hyeori . Sedangkan Sumin masih saja kurang percaya dengan cerita temannya itu. Kematian gadis bernama Kim Seulrin sangat merubah hidup Baekhyun.

“lalu apa aku bisa merubah Baekhyun Sunbae seperti dulu?bisakah aku merubah hidupnya?”

Hyeori berdecak dan berdiri dari duduknya, diliriknya Sumin dengan pandangan kesal.

“sudahlah Sumin-ah. Aku tak ingin kau tersakiti nantinya. Kau hanya akan mendapat penolakan dari Baekhyun.”

“wae? kau tak senang kan aku bersama Baekhyun sunbae?”

Hyeori mengepalkan kedua telapak tangannya mendengar kata yang diajukan Sumin.

“tidak. Kau salah jika berfikir aku tidak suka. Baiklah jika kau memang tak percaya. Ayo kita buktikan!”

Sumin terbelalak saat Hyeori merebut surat yang ada ditangannya dan berjalan melewatinya, gadis itu tambah terkejut saat melihat Baekhyun yang baru saja masuk. Secepat apa ia mencegah Hyeori akan berbuah sia-sia karena Baekhyun sudah berhenti menanggapi Hyeori.

Sumin mencengkram lengan Hyeori untuk menarik temannya itu pergi tapi yang didapat justru sebuah hentakan.

“biar aku yang mengatakannya!”

Sumin menggeleng dan mengigit bibir bawahnya yang ingin berteriak menghentikan aksi Hyeori.

“ada apa?”

Kini suara emas lah yang terdengar sangat merdu ditelinga Sumin. Baekhyun menatap bingung dua gadis dihadapannya secara bergantian.

“Byun Baekhyun, ada yang ingin menyatakan cinta padamu” ucap Hyeori langsung . Sumin mengendurkan bahunya karena pencegahannya gagal. Kini Baekhyun akan tau bagaimana perasaannya.

Baekhyun masih memandang kedua gadis dihadapannya sampai Hyeori menyodorkan sebuah surat.

“ini pengakuan cinta dari Baek Sumin. Aku hanya membantunya menyerahkan surat ini pada orang yang disukainya. Aigo kenapa dia terjerat olehmu Baekhyun-ssi? . Kuharap kau tak menyakiti hatinya sama seperti kau menyakiti hatiku dan hati Seulrin.”

Ekspresi Baekhyun berubah saat Hyeori menyebutkan salah satu nama. Karena hanya diam yang didapati pada akhirnya Hyeori memaksa Baekhyun menerima surat yang disodorkannya.

“baca sekarang dan beri jawaban!” perintah Hyeori dengan nada dibuat tinggi. Baekhyun hanya memasang wajah datar seperti biasa, ia terlalu malas membuat konflik dengan orang lain.

Dengan malas ia membuka surat soft blue yang sudah ada digenggamannya.

Sumin berharap cemas melihat Baekhyun membaca suratnya. Gadis itu hanya bisa diam sedari tadi. melihat Hyeori berbicara membentak baekhyun sudah membuat keyakinannya ciut.

Baekhun telah selesai membaca surat dan berjalan mendekati Sumin.

“Maaf , aku belum bisa membuka hatiku untuk gadis lain” hanya itu yang dikatakan Baekhyun lalu namja itu berjalan melewatinya. Bahkan surat yang ditulisnya sudah berada ditangannya.

Sumin merasa hatinya hancur seketika,ia berharap hari ini sebuah kebohongan. Sumin berharap hari ini hanyalah sebuah mimpi buruk.

Hyeori berjalan mendekatinya dan memeluknya. Sumin tak bisa menahan kesedihannya saat ini. jadilah ia menangis dengan meminjam bahu Hyeori.

“kau lihat? dia begitu bodoh menutup hatinya.” Ucap Hyeori membuat Sumin semakin terisak.

“maafkan aku Sumin-ah. Aku melakukan hal tadi untuk membuktikan jika ia adalah namja bodoh. Aku tak mau kau tersakiti dan menanggung sakit hati sendiri karena Byun Baekhyun. Sungguh maafkan aku . Kau boleh kesal padaku Sumin-ah.” Lanjut Hyeori masih memeluk Sumin. Diusapnya bahu Sumin agar lebih tenang.

“m-maaf tak percaya padamu Hyeori-ya”

“hemm gwemchana. Sudahlah jangan menangis karena Baekhyun. Masih banyak pria yang bersedia membukakan hatinya untukmu diluar sana.”

Sumin melepas pelukan Hyeori dan menatap temannya itu dengan senyum. Sumin mengangguk dan mengusap sisa air dipipinya.

Mereka tak tau jika dibalik tembok seseorang sedang bersandar. Dialah Byun Baekhyun yang sebenarnya sajak awal mendengar percakapan Sumin dan Hyeori.

“maaf Baek Sumin , aku memang namja bodoh.” Lirih Baekhyun. Ia merasa brengsek membuat seorang yang selama ini perhatian padanya menangis karenanya.

.

.

Sejak hari itu Sumin hampir tak pernah masuk kursus melukis. Hyeori selalu bertanya pada Luhan karena namja yang  berstatus guru seni itu juga mengajar di universitas Sumin. Dan yang didapatinya selalu jawaban jika Sumin sedang fokus pada skripsi.

Ya , Luhan memang sempat bertemu dengan Sumin dan bahkan sudah tau apa yang sedang dialami oleh Sumin. Gadis itu terlalu jujur tentang patah hati yang  sedang dialaminya.

Hyeori sebenarnya merasa bersalah juga karena perlakuannya beberapa hari yang lalu. Karenanya perasaan Sumin terbongkar didepannya dan Baekhyun. Hyeori meyesal karena terlalu gegabah.

Hyeori menoleh saat suara lonceng yang terpasang dipintu berbunyi, itu pertanda seseorang membukanya.

“Sumin-ah!”

Hyeori berteriak heboh melihat Sumin datang, barusaja ia meratapi kesepiannya kini orang yang ditunggu sudah ada dihadapannya.

“maafkan aku. Apa kau tak masuk karena aku?”

“hei Hyeori-ya apa yang kau bicarakan? bukankah kau sudah mendengar alasanku dari Luhan Saem?”

Hyeori mengangguk polos dan tersenyum, Sumin juga ikut tersenyum dan meletakan tasnya di rak. Hari ini Art Bank cukup sepi karena terlihat hanya beberapa orang yang hadir termasuk dirinya, Hyeori, dan juga Baekhyun.

Tatapan Sumin terhenti pada Baekhyun yang sedang menatapnya dipojok ruangan. Dengan cepat Sumin mengalihkan pandangannya kelain arah.

“hyeori-ya. Terangkan apa saja yang Luhan Saem ajarkan minggu ini”

“baiklah , akan kuterangkan semuanya.”

Sumin tersenyum dan mengikuti Hyeori keruang sketsa. Gadis itu melewati Baekhyun dan berusaha acuh. Ia menahan hatinya untuk tak menatap Baekhyun.

.

.

Baekhyun tak fokus melukis karena kehadiran Sumin hari ini. Ia akan jujur jika belakangan ini harinya berbeda tanpa ada senyuman dari Sumin untuknya.

Sungguh Baekhyun tak tau apa yang terjadi padanya.

Dulu ia menolak pertemanan dengan Sumin, minggu lalu ia menolak perasaan gadis itu padanya.

Baekhyun sebenarnya terus memikirkan itu karena merasa bersalah. Apalagi dirinya mendapati perbahan sikap Sumin padanya.

Tak ada lagi tatapan hangat yang Sumin berikan padanya, tak ada lagi senyum yang selalu ditunjukan untuknya dan tak ada lagi pertanyaan kecil yang selalu Sumin lontarkan untuknya.

Baekhyun merasa hatinya menjadi semakin hampa.

Dan waktu sudah bergulir cepat sampai memakan hari-hari yang sama saja.

Baekhyun masih duduk dipojok ruang memandangi Sumin yang tertawa bersama Hyeori. Baekhyun ingin tak berurusan dengan wanita lagi lantaran kejadian yang menimpanya beberapa tahun silam. Namja itu takut mencintai seseorang.

Tapi ia tak tahan saat melihat Sumin seolah menghindarinya, tadi pagi saja saat berpapasan di pintu Sumin terlihat cuek padanya. Apalagi satu hari yang lalu saat Baekhyun berdiam diri menunggu hujan  biasanya Sumin akan berdiri disampingnya tapi apa? Gadis itu langsung lari menerobos hujan seolah tak sudi berada disampingnya. Ditambah lagi saat Luhan ada bersama Sumin rasanya begitu aneh. Baekhyun merasa kesal karena Sumin tersenyum pada namja yang berstatus guru seninya itu.

“huhh” Baekhyun menghembuskan nafasnya.

Ia baru sadar memiliki hal baru dalam hatinya. Selama ini ia juga memperhatikan Sumin tanpa diketahui siapapun. Baekhyun melihat Sumin untuk pertamakalinya saat digereja. Saat itu Sumin berdoa dengan khitmat dihadapan Tuhan. Betapa tersentuhnya Baekhyun saat pertama melihat senyum manis Sumin yang ditunjukan untuknya. Sampai hari-hari setelahnya ia sangat sering bertemu Sumin.

*

*

“sampai juma lagi Luhan Saem, Shin Saem “

Hyeori dan Sumin mengucap salam bersamaan sebelum pulang. Mereka keluar Art Bank bersamaan dan mendapati hujan sedang turun.

“eoh sial. Kenapa setiap hari hujan sih?” keluh Hyeori sembari menghentakan kaki bak anak kecil yang sedang merasa kesal. Sumin terkikik dan mengacak rambut Hyeori.

“aigoo kau imut saat seperti itu Hyeori-ya”

“yak Sumin-ah kau-eoh”  kata-kata Hyeori yang hendak mengumpat Sumin terpotong karena ponselnya berdering. Dengan cepat gadis itu mengangkatnya dan berbicara pada seseorang. Sumin diam mengamati hujan. Tiba-tiba pikirannya mengarah pada seseorang.

“argg eothokae? Oppaku malah menjemputku. Ah itu mobilnya. Maaf Sumin-ah tak bisa pulang bersama.”

Sumin tersenyum dan mengangguk. Hyeori sebenarnya mengajaknya pulang bersama tapi bagaimana lagi karena temannya itu malah dijemput sang Oppa.

“hemm aku tak apa pulang sendiri . sudah sana”

“benarkah? Aigo maaf ne.Aku janji besok kita pulang bersama.”

“emm sudahlah Oppamu sedang menunggu. Salam untuk Chanyeol oppa ya.”

“pasti, khaseyo.”

Sumin melambai pada Hyeori yang lari menerobos hujan. Kini tinggal ia sendiri ditempat itu.

Sumin merogoh tasnya untuk mengambil payung .

“eoh? Tidak ada?” ucapnya terkejut. Kemudian gadis itu berfikir sejenak.

“ah kau bodoh Baek Sumin. Aisshh aku lupa memasukannya tadi pagi” umpatnya pada diri sendiri. Ia memandang halte bus didepan sana. Mungkin ia akan menerobos hujan sampai tempat itu.

Setelah berfikir Sumin mengangguk yakin dan mulai hendak berlari.

“eoh”

Belum sempat melangkah tangannya sudah dicengkram oleh seseorang. Sumin terdiam saat tau siapa yang menahannya.

“kau bisa sakit jika menerobos hujan seperti ini nona Baek.”

Sumin mendadak gugup saat namja dihadapannya berbicara padanya. Gadis itu berusaha menormalkan detak jantungnya, takut jika nanti akan terdengar.

“ekmm a-aku tak peduli itu. Aku harus-“

“kalau begitu gunakan payungku saja”

Sumin hanya memandang kosong payung yang disodorkan padanya.

“maaf Baekhyun Sunbae. Lebih baik kau gunakan payung itu untuk dirimu sendiri. Terimakasih sudah menawarkannya padaku.”

Sumin melepas cengkraman Baekhyun dan berlari menerobos hujan. Ia memejamkan matanya sejenak karena menyesal sekaligus senang mendapati Baekhyun berbicara padanya bahkan menawarinya payung.

Tapi mengingat apa yang telah terjadi hari itu membuatnya tak ingin didekat namja itu.

Baru setengah jalan langkahnya kembali terhenti . Baekhyun menahan lengannya lagi.

“Subae lepas!”

Baekhyun tak menjawab dan memandang Sumin dengan tatapan tajamnya. Sumin ingin menangis ditatap seperti itu karena ini terlalu tiba-tiba.

“sun-“

“kau marah padaku? Kau menghindariku kan?”

Sumin mengigit bibirnya, ia mengeleng begitu jelas tapi tak membuat Baekhyun puas. Keduanya berdiri ditengah hujan dengan berlindung payung yang dipegang oleh Baekhyun.

“Baek Sumin kau membuat hatiku sangat aneh.”

“mwo?”

“aku tak tau mengapa merasa kesepian saat tak melihatmu beberapa hari. Aku tak tau mengapa sangat sakit saat kau tak menatap mataku. Kau tau? aku mengharapkan kau tersenyum lagi padaku.”

Sumin meneguk ludahnya samar. Tak ada kekuatan untuk melepas cengkraman erat Baekhyun. Gadis itu berusaha menahan hatinya lagi.

“maaf Sunbae. Tapi aku selalu tersenyum pada semua orang. Dan tentang surat itu, k-kau lupakan saja. Anggap saja aku tak pernah menyatakan apapun padamu.”

Bagai tersambar petir saat hujan begini,

Hati Baekhyun mendadak berdenyut. Entah mengapa menerima kenyataan untuk melupakan pernyataan cinta dari Sumin terasa berat untuknya.

“aku tau kau marah karena hal itu”

“aku tidak marah. Aku memaklumi tentang kisah cintamumu sebelumnya. Aku tau alasanmu tak bisa membuka hatimu sekarang ini Sunbae. Ya, aku sangat tau jika kau masih mencintai Kekasihmu yang sud-“

Cup

Ucapan Sumin mendadak terhenti karena sesuatu mengunci bibirnya. Gadis itu sangat syok sampai menjatuhkan paper bag yang digenggamnya. Mata Indahnya kini membulat sempurna kerena apa yang dilakukan Baekhyun. Namja yang selama ini diharapkannya tanpa ijin menciumnya.

Tubuh dua insan itu diguyur hujan karena Baekhyun melepas payung yang digunakan untuk berlindung. Sumin tak bisa melepas tautan Baekhyun karena kedua tangan namja itu menangkup pipinya.

Ciuman manis itu masih berjalan lembut dengan tenpo pelan penuh perasaan, Baekhyun melakukannya agar tak menyakiti perasaan gadis dihadapannya.

Sungguh, otak Sumin tak bisa bekerja sama dengan tubuhnya. Untuk bergerak saja rasanya tidak sanggup.

“Maafkan aku Sumin-ssi.” lirih baekhyun setelah melepas pautannya. Mata onyx’nya masih betah memandang iris coklat milik Sumin, begitupun sebaliknya. Kini hujan semakin deras, membuat air mata Sumin tak begitu terlihat jelas. Sumin menangis karena tak bisa menahan perasaannya. Ini sungguh mengejutkan untuk gadis itu.

“Aku akan menarik kata-kataku saat itu.” ucap Baekhyun lagi dengan nada lantang.

Sumin hanya bisa mematung sejak tadi sampai tak sadar Baekhyun telah merengkuh tubuhnya. Baekhyun menyenderkan kepala Sumin pada dada bidangnya. Seolah agar gadis itu mendengar bagaimana detak jantungnya yang tak beraturan.

“Baek Sumin, sejujurnya aku sama sepertimu.”

“mwo?” pinta Sumin agar Baekhyun mengulang kembali kata-kata yang baru saja diucapkan.

“Aku sama sepertimu. Aku menyukaimu sejak pertama kali kau tersenyum  padaku di gereja  itu”

Tubuh Sumin semakin lemas , dinginnya air hujan yang membasahi tubuhnya tak dapat dirasakannya sama sekali . Hatinya mendadak kosong dan fikirannya hilang entah kemana.

Bolehkah Sumin bahagia saat ini? Tapi mengapa ia justru tak merespon ucapan Baekhyun?

“Aku tau kau benar-benar marah padaku.Sungguh aku terlalu takut menerima kenyataan jika aku menyukaimu. Aku selalu menolak setiap pikiran tentang perasaan spesial ini Sumin-ssi. Aku-…aku juga menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Hatiku merasa hangat saat kau tersenyum padaku. Aku sangat bahagia saat kau menawarkan sebuah pertemanan padaku. Aku memang bodoh karena tak berani dekat denganmu. Maafkan aku.”

Sumin melepas pelukan Baekhyun dan memandang namja itu dengan senyum tipis. Baekhyun lega melihat senyum itu lagi, energinya bagai terisi penuh kembali.

“Apa kau takut jatuh cinta lagi Sunbae-nim?” Tanya Sumin membuat Baekhyun terdiam memikirkan kisah cintanya yang berakhir tragis dulu.

“Ya, kau benar Sumin-ssi. Aku takut jatuh cinta lagi. Aku takut hanya akan melukai perasaan seseorang yang kucintai. Aku tak ingin mengulang kejadian lalu, aku sangat takut”

Sumin meraih kedua tangan baekhyun dan menggenggamnya. Ia tak peduli jika ada yang mengetahui kalau dirinya menawarkan hati pada seorang pria, bukan malah sebaliknya.

“Aku akan membantumu  Sunbae. Ijinkan aku menyembuhkan hatimu. Aku akan berusaha membuatmu menikmati bagaimana itu cinta” terang Sumin lalu tersenyum.

“  Terima kasih karena sudah mencintaiku Baek Sumin. Aku juga akan berusaha mengembangkan perasaan ini. Buat aku hanya mencintaimu. Aku ingin membuka lembar baru bersamamu”

“Aku siap melakukannya.  Eumm jadi sekarang kita….?”.

“eum jadilah kekasihku Baek Sumin!.”

Sumin kembali tersenyum bahagia , tanganya terangkat menarik kerah baju Baekhyun. Sontak saja wajah mereka  semakin dekat. Tanpa ragu Sumin menempelkan bibirnya pada bibir tipis Baekhyun. Tak ada kata terkejut bagi Baekhyun karena pria itu juga menginginkannya. Baekhyun membalas lumatan kecil yang Sumin berikan, dua insan itu tak peduli dengan derasnya hujan yang semakin deras mengguyur tubuh keduanya.

“Saranghae Byun Baekhyun.”

“nado Saranghaeyeo Baek Sumin”

Setelah mengatakan kata indah itu Baekhyun mengambil payung yang tergeletak dilantai dan memayungi Sumin.

Eksrpesinya berubah bingung saat Sumin justru terkekeh.

“waeyo?”

“anhiyeo…  . hanya saja bukankah kita sudah basah? Untuk apa berteduh lagi?”

“ah ne. Emm kalau begitu kita harus cepat  kemobil.”

“emm… ne Oppa.”

Keduanya berjalan saling menggenggam tangan. Baekhyun berusaha membuang jauh perasaan canggung yang menyelimuti dirinya. Namja itu hanya tak mau  Sumin merasa tak nyaman. Baekhyun janji akan mengembalikan sikapnya seperti dulu. Sifat cerianya yang sudah mendarah daging padanya.

End

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “PAINTING LOVE-(Baekhyun Ver.) Chapter 2 END

  1. Jadi? Baekhyun udah mau ngelupain masa lalunya? Aku kira baekhyun ansos gara-gara ada penyakit atau sindrom sosial gitu. 😌

    Walah-walaahh, saem-nya luhan? Duh, muda banget sih mukanya jadi dosen. Beehh, doaen aku aja udah tua semua. Banyak yang mulai pensiun malah. 😂😂

    Heeuu aku malah jadi iri punya dosen kaya gitu wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s