Nightmare [Part II] #Dark Inside

image

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

 [Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

“Aku tersenyum bukan untuk menyembunyikan rasa sakit. Tapi aku tersenyum untuk menyembuhkan rasa sakitku….”

©2016.billhun94


Oh Sehun. Siapa yang tidak mengenalnya? Pria tampan yang selalu menjadi idaman para wanita, mempunyai harta melimpah walau usianya baru menginjak 29 tahun, putra dari pengusaha terkenal Korea Selatan, dan masa depan yang mungkin sudah tidak diragukan lagi kecerahannya.

Diusia yang ke-29 tahun ini, Sehun berhasil membuka sebuah perusahaan iklan yang bernama JN Global. Pasar agregat JN Global seharga 150 triliun Won, dan ia adalah seorang multibilioner yang asetnya mencapai 80 triliun Won. JN Global memang mengalami banyak perkembangan sejak dibangun lebih dari 3 tahun yang lalu, serta para investor maupun perusahaan lain yang menggunakan jasa JN Global merasa jika perusahaan itu tidak usah diragukan lagi kemampuannya karena ketua dari JN Group adalah seorang Oh Sehun—anak dari pengusaha terkenal Korea Selatan maupun di dunia.

Sehun mempelajari bisnis sejak ia menginjak usia yang ke-12 tahun, saat itu sang Ayah menyuruh ia untuk mempelajari dasar-dasar bisnis. Mau tidak mau, Sehun menurut semua perkataan Ayahnya tersebut walaupun ia sudah menolak dengan alasan jika ia tidak ingin berada di dunia bisnis.

Hubungan Sehun dengan sang Ayah tidak terlalu baik sejak kematian Ibunya kala usia pria itu yang menginjak 7 tahun, dimana seharusnya anak seusia Sehun mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, tapi ia tidak pernah mendapatkan semua itu ketika usianya yang ke-5 tahun. Yang bisa didengarnya setiap hari hanya suara-suara pertengkaran Ayah dan Ibunya. Sehun tidak tahu harus berbuat apa kala itu, yang bisa ia lakukan hanya meringkuk seraya menahan tangisan. Sehun rindu saat-saat bersama kedua orang tuanya yang penuh kehangatan, bukannya perang dingin yang terus terjadi dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Ayah dan Ibunya seakan membutakan mata mereka dari Sehun, mereka sama sekali tidak peduli dengannya, bahkan sampai sang Ibu harus merenggut nyawa akibat kecelakaan besar. Dan saat itu, Sehun menangis; untuk pertama kalinya setelah 2 tahun ia mencoba untuk menahan tangisannya dalam kesedihan.

Kematian Ibunya membuat luka besar pada diri Sehun yang masih dini dan belum mengerti tentang kerasnya dunia ini. Sehun menaruh dendam pada sang Ayah setelah tahu jika Ayahnya tersebut berselingkuh dari Ibunya, dan menikahi selingkuhnya itu setelah 6 bulan kematian Ibunya.

Menutup diri dari dunia luar adalah salah satu pilihan Sehun untuk melampiaskan amarah dan rasa takutnya. Sampai ketika Sehun menginjak usia yang ke-10 tahun, ia memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan serta memulai semuanya dari awal; walaupun ia tahu jika semuanya tidak akan pernah sama seperti dulu lagi. Sehun kembali melanjutkan sekolahnya setelah tertunda 3 tahun. Kembali bangkit menjadi Oh Sehun tidaklah membuat ia menjadi anak yang manis dan periang seperti dulu, tapi membuat ia menjadi seseorang yang pembangkang dan lebih suka mengungkapkan segala sesuatunya dengan kekerasan.

Pernah suatu kali, Sehun hampir membunuh Ayahnya sendiri karena pria paruh baya itu mengungkit tentang kematian Ibunya dan membandingkan dengan selingkuhannya yang sekarang sudah berstatus sebagai Ibu tirinya, dan Tuan Oh langsung membawa putranya itu ke dalam Rumah Sakit Jiwa tanpa berpikir panjang. Sehun pun menghabiskan 4 bulan di dalam Rumah Sakit Jiwa. Setelahnya, ia dikirim ke Jerman untuk mendapatkan pelajaran tentang bisnis lebih dalam lagi. Psikiater yang menangani Sehun berkata jika pria itu sama sekali tidak mengidap gangguan kejiwaan sama sekali, hanya saja Sehun butuh kasih sayang yang sudah lama sekali tidak dirasakan. Dan dia juga memiliki banyak sekali trauma dalam hidupnya, yang mengakibatkan trauma itu menjadi beban didalam diri Sehun.

Kalian tahu letak keanehan yang sama sekali tidak pernah Sehun bayangkan semuanya?

Semua kasus buruk yang pernah berhubungan dalam keluarga Oh maupun kasus Sehun tidak pernah sama sekali masuk ke dalam outlet berita di Korea Selatan maupun dunia yang seharusnya hal itu dapat terjadi mengingat betapa terkenal nya keluarga Oh sejak 4 generasi yang berbeda. Yang ada malahan hanya berita tentang suksesnya perkembangan Glod Corp yang berhasil menembus pasar dunia untuk kesekian kalinya. Sehun yang mengetahui hal itu hanya dapat berpikir bagaimana liciknya sang Ayah.

Oh Sehun hidup dalam dunia yang keras bahkan saat ia belum sama sekali mengerti arti dunia ini serta dalamnya yang mengandung banyak sekali misteri kehidupan.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Detik jam terasa lama ketika seorang pria yang kini sedang mematung di depan sebuah cermin panjang. Pakaian yang terlihat casual namun tidak mengurangi ketampanannya itu pas dengan tubuh tinggi yang ia miliki. Sehun menghela napasnya panjang tatkala jam dinding kamarnya yang sedari tadi menjadi pusat perhatian kini sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sepasang sandal rumah yang menjadi alas melangkah keluar dari area pribadinya tersebut.

Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu ber-cat hitam yang tidak lain adalah pintu rumahnya sendiri, Sehun menghentikan langkahnya tatkala mendengar panggilan seseorang.

“Sehun-ssi?”

Sehun membalikkan tubuhnya tanpa membuka suara.

“Kau ingin kemana?”

Pertanyaan itu datang dari seorang gadis dengan rambut hitam tergerai dan mengenakan gaun tidur selutut bertali spaghetti berwarna putih yang terlihat menyatu dengan warna kulitnya.

“Bukan urusanmu,” Sehun menjawab singkat sebelum berbalik dan meninggalkan gadis itu mematung dalam tempatnya.

Setelah mengenakan helm, Sehun menaiki motor miliknya yang berjenis NCR Leggera 1200 Titanium special edition. Motor dengan harga US$ 145.000 itu Sehun dapatkan beberapa bulan yang lalu, dan menjadi salah satu koleksi motor mahal yang berjejer di garasi rumahnya.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Suara musik yang mendengungkan telinga tidak membuat dua sejoli yang sedang dimabuk nafsu itu terusik dengan kebisingan yang terjadi di sekitar mereka. Bibir yang sibuk bercumbu dan tangan yang saling menjamah tubuh masing-masing; hal yang pastinya dilakukan oleh seorang pria dan wanita dewasa. Bahkan suara desahan yang terendam alunan musik tidak mengurangi bihari satu sama lain.

Sudah menjadi rutinitas bagi si pria menjamah tubuh wanita manapun yang mau bersetubuh dengannya. Tidak perlu usaha keras untuk merayu wanita cantik nan seksi guna bersetubuh dengannya, hanya dengan lirikan sekilas saja, wanita yang dilirik pasti akan menghampirinya dan menyerahkan tubuh mereka pada pria itu.

Adalah hal yang wajar jika pria tersebut sudah dicap sebagai ‘penikmat tubuh wanita’ karena hampir setiap malam ia menghabiskan waktunya untuk mempertemukan sel sperma miliknya dengan sel telur wanita yang bersetubuh dengannya. Sekalipun tidak mengenal tempat guna melakukan rutinitas, pria itu tidak terlalu memperdulikan; asal ia bisa melampiaskan nafsunya, tempat tidak selalu menjadi prioritas.

Setelah pelepasan terakhir, sang pria menyudahinya secara sepihak. Pria itu segera merapikan kemeja dan rambutnya yang berantakan, setelahnya menaikkan retsleting celana, lalu ia bangkit dari duduk. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan beberapa lembar Won, lalu menaruhnya di atas meja.

“Ini bayaranmu,” ujar pria itu, setelahnya pergi meninggalkan sang wanita yang masih sibuk merapikan pakaiannya.

Langkah si pria membawanya menuju sebuah mini bar yang tidak jauh dari tempatnya melampiaskan nafsu tadi.

“Sehun!”

Sebuah seruan yang menyerukan namanya membuat Sehun menoleh kearah seorang lelaki yang tampak seumuran dengannya. Dan lelaki itu berjalan melangkah kearah di mana Sehun berada kini.

“Kau sudah menemukan gadis itu?” Tanya lelaki tadi, yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri—Park Chanyeol.

Sehun menyesap segelas Vodka and Orange— minuman dengan campuran vodka beralkohol 40% dan orange juice—yang sudah dipesannya tadi sebelum menjawab pertanyaan Chanyeol. “Ya, aku sudah menemukannya.”

Jawaban Sehun sontak membuat lelaki berambut merah itu terkejut, “Benarkah? Lalu, apa kau akan segera menikahinya?” Tanyanya sedikit tidak sabaran.

Tarikan kecil mendarat di sudut bibir Sehun, yang dimaksud Chanyeol adalah gadis bernama Shin Mikyung yang sudah ia cari kurang dari 2 tahun yang lalu keberadaannya. Mungkin jika sang Ayah tidak menuliskan surat wasiat bodoh yang mengharuskan Sehun menikahi putri dari sahabat karib Ayahnya, ia tidak akan pernah mencari keberadaan gadis itu hanya untuk mendapatkan perusahaan Glod Corp dari tangan pamannya sendiri; yang mana seharusnya ialah sekarang menjadi pemimpin utama perusahaan tersebut karena dalam hak waris sang Kakek, nama Sehun tertulis jelas di sana jika ia kelak akan mewarisi perusahaan tersebut. Tapi, sialnya, sang Ayah malah menulis surat wasiat bodoh sebelum kematiannya.

“Bukankah sudah jelas di dalam surat wasiat itu,” jawab Sehun.

Dan jika saja—surat wasiat yang selalu dianggapnya bodoh padahal tidak bersalah apapun—tidak pernah bocor ke publik, pasti semuanya tak akan mengakibatkan Sehun harus terjebak ke dalamnya serta membiarkan para petinggi di perusahaan bermain sesuka hati mereka, karena mereka tahu, Shin Mikyung tidak mungkin ditemukan karena kepolisian Korea Selatan menganggap jika gadis itu sudah hilang di tengah-tengah laut akibat kecelakaan yang dia alami bersama keluarganya. Tapi, Sehun punya firasat lain yang mengatakan jika gadis itu masih hidup. Ya, ia yakin akan hal tersebut. Dan benar, pencarian yang sudah dilakukannya akhirnya berhasil serta membuahkan hasil.

“Berikan Shin Mikyung padaku,” Sehun berujar santai dengan raut datarnya dan tidak memperdulikan raut seseorang di seberangnya yang tampak gusar juga terkejut.

“A-apa maksudmu?”


Satu pertanyaan yang paling Sehun benci, ia menyeringai melihat air ketakutan tergambar jelas di wajah Pria paruh baya di hadapannya kini. “Kau tidak bodoh untuk tidak mengetahuinya, ketua Lee.” Jawab Sehun. “Berikan Shin Mikyung padaku, atau semua bukti dana gelap yang sudah kau makan itu akan aku umbar ke media.” Imbuh Sehun dengan raut serius di wajah tampannya.

Jika tahu semudah itu mengancam orang tua tidak berguna seperti ketua Lee, Sehun akan lebih gencar lagi mencari keberadaan Mikyung yang disembunyikan di ruangan terisolasi; bahkan ia sama sekali tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi pada Mikyung. Di matanya, kehidupan Mikyung benar-benar terlihat menyedihkan, sama sekali tidak ada bedanya dengan kehidupan yang pernah ia lalui dulu.

“Apakah dia cantik?”

Sehun melirik Chanyeol sekilas setelah pertanyaan terlontar dari mulut lelaki itu, “Lihat saja sendiri,” jawabnya acuh. Lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan lelaki tersebut sendirian.

“Sudah pasti dia cantik, dan aku berharap gadis itu bisa merubah Sehun.” Ujar Chanyeol pada dirinya sendiri.

Sahabatnya itu memang tidak jauh beda dengannya, sama-sama brengsek dengan yang namanya wanita. Tapi Chanyeol merasa ia lebih baik dari Sehun, karena setidaknya ia pernah merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya pada sosok makhluk yang disebut wanita. Tidak seperti Sehun yang 9 tahun terakhir selalu saja menjadikan wanita sebagai pelampian nafsu semata, tidak lebih dari itu. Chanyeol sebagai sahabatnya sangat khawatir dengan keadaan Sehun, dan ia sangat berharap besar dengan keberadaan Mikyung mampu membuat Sehun berubah. Ya, semoga.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Pintu besar yang terbuat dari kayu itu terbuka. Kegelapan dan kedinginan selalu menyambut ketika Sehun membuka pintu tersebut. Dan perasaan hampa yang menjadi pusat dari segalanya.

Langkah sepasang sepatu kets Sehun terdengar nyaring mengisi kediaman pribadinya disaat pukul sudah menunjukkan jam 1 pagi.

Sehun berjalan menyusuri ruang tamu, cahaya temaram menyambutnya tatkala ia melangkahkan kakinya ke sana guna menaiki tangga menuju lantai 2 yang memang letaknya tidak jauh dari ruang tamu. Kulit dahinya mengerut saat mendapati televisi yang menyala dan seorang gadis yang sedang menekuk lututnya di sofa. Sebab penasaran, Sehun mendekat.

“Eoh, Sehun-ssi? Kau sudah pulang?”

Sehun berusaha untuk mengabaikan pertanyaan yang datang dari seorang gadis bernama Shin Mikyung itu, tapi entah kenapa, ia tidak bisa hanya untuk sekedar mengabaikannya saja. Alhasil ia mematung seperti orang tolol dengan tatapan yang lurus menatap Mikyung yang juga melakukan hal yang sama dengannya.

“Sehun-ssi?”

Suara lembut Mikyung terhanyut bersama angin malam yang terasa menusuk tulang. Dan tetap, Sehun mematung di tempat. Tapi sekarang, ia sudah menemukan mengapa ia seperti orang tolol di sini. Setelah sekian lama sejak kematian Ibunya, Sehun mendengar pertanyaan “Kau sudah pulang?” Yang selalu menjadi pertanyaan wajib yang Ibunya tanyakan setiap kali ia pulang dari sekolah. Terlihat sederhana memang, tapi tidak untuk Sehun yang merindukan sosok wanita itu dalam hidupnya.

“Aku tidak bisa tidur, jadi aku menonton televisi.” Ujar Mikyung sembari menampilkan senyum hangatnya pada Sehun yang masih mematung di tempat. “Kau tidak marah, ‘kan?” Tanya Mikyung kala Sehun tidak lekas memberikan sambutan atau balasan.

“Sehun-ssi?”

Mikyung bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Sehun yang masih betah pada posisi dan keterdiaman. Tangan dingin Mikyung ingin meraih lengan Sehun, tapi pria itu keburu menghindar dan membuatnya mengernyit tidak mengerti dengan keadaan Sehun. Tapi tidak berlangsung lama, Mikyung kembali tersenyum.

“Kau pasti lelah, lebih ba—”

Mikyung tidak sempat melanjutkan perkataannya karena Sehun yang keburu menyela.

“Apakah semudah itu bagimu untuk tersenyum tulus? Tidakkah itu tampak bodoh di mata orang?” Tanya Sehun, tanpa aba-aba dari mulutnya dan pertanyaan itu mengalir begitu saja.

Sehun tahu segalanya tentang Mikyung, kehidupan pahit yang menghinggapi gadis itu. Kehilangan kedua orang tuanya, hidup sebatang kara di dunia ini, dan tinggal bertahun-tahun di dalam ruangan terisolasi; tidakkah semua itu cukup membuat Mikyung merasakan perih dalam hatinya, atau bahkan rasa sakit seperti apa yang Sehun rasakan dulu.

Mikyung memudarkan senyumnya begitu mendengar pertanyaan Sehun. Ia memalingkan wajahnya kearah lain, dan tangannya yang bebas memilin satu sama lain. Pertanyaan Sehun seakan menjadi titik lemahnya selama ini, alasan kenapa ia selalu tersenyum walau merasa tersakiti sekalipun.

“Aku berusaha untuk tidak mengungkit masalah ini dalam hidupku, tapi apa kau tahu? Kebanyakan orang berkata jika tersenyum dapat menutupi rasa sakit seseorang….” Mikyung menundukkan kepalanya, “Aku tersenyum bukan untuk menyembunyikan rasa sakit. Tapi aku tersenyum untuk menyembuhkan rasa sakitku….” Dan Mikyung kembali mendongakkan kepalanya menatap netra Sehun yang terasa kosong.

Sehun sendiri merasa tertohok dengan jawaban yang Mikyung berikan. Seperti yang sudah pernah ia katakan sebelumnya, jika ia dan Mikyung tidaklah berbeda. Mereka sama-sama menyimpan kegelapan di dalam, dan mencoba untuk menunjukkan sinar mereka di luar. Juga dengan cara itu pula, mereka bisa hidup tanpa harus memikirkan masalah yang sejatinya akan terus memayungi mereka berdua jika takdir tidak berkata lain.

“Terserah kau saja.”

Dan agaknya, Sehun akan tetap menyimpan kegelapan dalam dirinya hanya untuknya saja. Biarlah ia yang menikmati kepahitan hidup ini sendirian, setidaknya ia mampu untuk menanggungnya sendiri.

Mikyung yang masih mematung di tempat dengan nafas yang sedikit memburu kala jantungnya berdetak hebat; setelah kepergian Sehun barulah ia merasa lega untuk bisa memukul dadanya yang terasa sesak ini. Tangannya mencoba untuk mencari sesuatu yang dapat dijadikan penyangga, dan pilihannya jatuh pada kepala sofa. Dengan segera ia mendudukan dirinya di sofa tersebut.

Sebenarnya ada alasan lain yang selalu membuat Mikyung untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi walau sekesal apapun; yaitu seperti sekarang ini, ia akan kesulitan bernafas jika emosinya menaik atau tidak dapat terkontrol. Dan hal ini terjadi setelah kecelakaan yang menimpa Mikyung dan keluarganya.

Tanpa sepengetahuan siapapun, Sehun masih terus memperhatikan Mikyung dari jauh. Melihat bagaimana gadis itu memukul-mukul dadanya, dan mencoba untuk mengatur nafasnya. Tapi, bukan Oh Sehun namanya jika ia ber-empati dengan sukarela pada seseorang.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

“Cari semua data yang berhubungan dengan Shin Mikyung di rumah keluarga Shin, segara.”

Perintah itu datang dari Sehun yang sedang menatap kearah luar jendela besar di ruangannya yang terbilang sangat luas itu.

“Baik, presdir.”

Dan sahutan sopan berasal dari asisten pribadi Sehun yang kini melangkah keluar ruangan guna menjalankan perintah tuannya.

Sehun berbalik setelah mendengar suara pintu yang tertutup. Hembusan nafas berat terdengar nyaring di telinganya. Netranya yang tajam itu menangkap sebuah map di atas meja, tapi dengan cepat ia memalingkan wajah kearah lain. Map itu berisi tentang data-data Shin Mikyung beserta keluarganya, Tuan dan Nyonya Shin. Mencari gadis itu memang membutuhkan informasi sedetail mungkin, dan Sehun mendapatkan informasi keluarga Shin sejak 2 tahun yang lalu, dikala ia mengetahui sendiri tentang surat wasiat kelewat bodoh yang ditulis sang Ayah.

Tinggal satu langkah lagi ia bisa mendapatkan perusahaan keluarga Oh dari tangan pamannya yang licik itu. Dan setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Sehun akan membuka kedok pamannya tersebut. Jahat? Biarlah, ia juga tidak peduli dengan sang paman jika mengingat bagaimana perlakuan buruk yang ia dapatkan dari pamannya itu dan menyebabkan luka di hatinya semakin menganga.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Mikyung merasa bosan berada di rumah besar ini dengan majalah yang terus menjadi pelampiasannya untuk mengurangi rasa jenuhnya. Para pelayan hanya akan menetap sampai makan siang saja, setelahnya mereka meninggalkan rumah ini dan menyisakan kepala pelayan dan beberapa petugas keamanan yang berjaga di luar rumah.

Mikyung mengerucutkan bibir, dan menopang kepalanya dengan tangan. Pandangannya tertuju pada sisi kiri rumah yang berisi kolam renang dan taman kecil. Gadis itu menelengkan kepalanya mencoba untuk berpikir hal apa yang bisa Ia lakukan untuk mengusir rasa bosan ini. Sepertinya mencoba kolam renang si pemilik rumah tidak ada salahnya, dan Mikyung tersenyum setelah memikirkan hal tersebut. Lantas ia beranjak dari duduknya menuju sisi kiri rumah yang berbataskan pintu kaca.

Senyum cerah langsung menyambut Mikyung ketika ia mencoba memasukkan tangannya ke dalam kolam renang dengan tinggi sekitar 1.5 meter.

“Mikyung-ssi, sedang apa kau di sini?”

Hampir saja Mikyung tercebur ke dalam kolam saking terkejutnya saat mendengar pertanyaan yang datang secara tiba-tiba itu. Mikyung menoleh ke belakang, menemukan Sehun yang sedang berjalan kearahnya.

“Cepat ganti pakaianmu, kita akan pergi ke suatu tempat.”

Sejak kejadian malam itu, Mikyung terkesan sekali untuk menjauh dari Sehun walaupun ia sudah mencoba untuk tidak terlalu memperlihatkannya secara nyata. Kenyataan selalu membuatnya kecewa, Sehun yang ada di dalam mimpinya dengan Sehun yang berada di hadapannya kini sangat berbeda telak. Tapi Mikyung tidak boleh mengeluh tentang hal tersebut, karena bagaimanapun Sehun sudah memberikannya tempat tinggal gratis walaupun ia sendiri tidak tahu motif dasar pria itu.

“Pergi kemana?” Tanya Mikyung dengan raut bingung.

Sehun tidak usah bersusah payah untuk menjawab pertanyaan Mikyung, karena pria itu sudah melangkah pergi menjauh dan menghilang di balik pintu kaca.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Senyum tipis mewarnai paras cantik Mikyung. Tubuh sedangnya berbalut dress cantik berwarna pink rose selutut, serta rambut kecoklatan miliknya yang digerai indah. Jika seperti ini, Mikyung lebih pantas tampak seperti gadis remaja jika tidak mengingat usianya yang sudah beranjak 25 tahun. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mikyung kembali memoleskan make up pada kulit wajahnya.

Jarak setiap sudut rumah besar Sehun sangatlah luas dan juga memakan waktu, terkadang membuat Mikyung kesal karena harus membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Walaupun dulu saat ia masih tinggal bersama orang tuanya kala mereka masih hidup, ia juga merasakan tinggal di rumah mewah dan megah sedari kecil. Tapi, itu sama sekali tidak membentuk karakter bak seorang putri raja bagi Mikyung. Orang tuanya menjadi peran penting yang mengharuskannya rendah hati pada sesama.

“Nona, presdir Oh sudah menunggu Anda.”

Satu seruan membangunkan Mikyung dari lamunannya, ia sempat tersentak dengan kehadiran asisten pribadi Sehun yang menghampirinya di pelataran rumah.

“Ah, baiklah.”

Mikyung melangkah menuju mobil yang di dalamnya terdapat Sehun yang sudah menunggunya. Pintu mobil dibukakan oleh asisten pribadi Sehun, dan Mikyung menyambutnya dengan ramah.

“Kita akan kemana hari ini?” Tanya Mikyung pada Sehun yang sedang sibuk dengan tab di tangannya.

Bahkan sampai mobil yang mereka tumpangi berjalan, Sehun tetap tidak menjawab pertanyaan Mikyung. Dengan sabar, gadis itu memaklumi sikap Sehun ini. Mungkin pria tersebut sedang tidak ingin diganggu karena sibuk dengan pekerjaannya.

Mikyung memperhatikan luar jendela; di mana aktivitas kota Seoul hidup. Dan kini, ia kembali pada kehidupan seperti 3 tahun yang lalu, kehidupan normal yang pernah ia lakoni. Ya, ia tidak boleh takut untuk menghadapi dunia luar. Karena rasa takut hanya akan membuat seseorang terpuruk dan tidak bisa bangkit dari rasa ke-terpurukkan itu. Mikyung harus bisa menjalaninya apapun yang akan menjadi pijakannya untuk berdiri menjalani kehidupan normal seperti dulu lagi.

Mobil yang dikendarai oleh asisten pribadi Sehun berhenti tepat di sebuah gedung tinggi yang berada di pusat kota. Sehun sendiri sudah turun dari mobil, dan selanjutnya diikuti oleh Mikyung.

“Ini….”

Sehun melirik Mikyung sekilas, “Kantor catatan sipil,” ucapnya.

Mikyung menoleh pada Sehun setelah memperhatikan tulisan besar yang berada tepat di depan gedung tersebut.

“Apa ini alasan kau membawaku keluar dari sana?”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

P.s :

Yuhuuuu~~ yeyyy akhirnya update:) maapkeun aku kalau sedikit ngaret huhuhu…
Karena udah masuk sekolah jd aku gk punya banyak waktu lg buat nulis, dan ini pun ngebut cuma 2 hari mumpung weekend jd ngerjainnya cepet hahaha….

Sorry kalau ini gk nge-feel dan mungkin sedikit absurd^^

Let’s be friend with me : D138F198

 

25 thoughts on “Nightmare [Part II] #Dark Inside

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s