That’s Feeling

A fiction by bebhmuach (@bebh_muach)

Starring [EXO] Kim Minseok & [anneandreas’s OC] Reen

Support cast [AOA] Shin Jimin

Oneshot || Romance, Fluff || PG

Maaf untuk typo, HAPPY READING^^

Kau pernah jatuh cinta?

Atau kau merasa jumlah detak jantungmu lebih banyak dari biasanya, tiba-tiba pipimu terasa panas, pernah tidak?

©2016 bebhmuach

Reen merasa dirinya bodoh—bahkan super bodoh.

 

Satu jam lebih lima belas menit, Reen dengan setia menunggu Minseok. Lelaki bergaris Kim yang memiliki deretan gigi rapi dan dibingkai senyum indah itu memberi sebaris pesan padanya semalam.

 

Aku jatuh cinta pada seseorang.

Lima kata yang dirangkai dalam satu kalimat itu sukses membuat urat ingin tahu Reen mulai penasaran. Lima tahun menjadi adik perempuan palsu sekaligus teman curhatnya, tak sekali pun Minseok pernah membicarakan tentang seorang gadis yang ditaksirnya. Mungkin pernah sesekali Reen iseng bertanya, tetapi yang didapat hanya tatapan datar sampai-sampai gadis itu merasa canggung sendiri.

 

Pertengahan bulan Januari di Seoul, temperaturnya menyentuh titik di bawah nol derajat celcius. Sialnya, kedai kopi langganannya hari ini mengalami kerusakan pemanas ruangan. Jika Reen dipaksa menunggu satu jam lagi, ia yakin kopi beserta kentang goreng di atas mejanya akan berubah menjadi es.

 

“Maaf, aku terjebak macet.” Kalimat itu terlontar sebagai sapaan.

 

Akhirnya Minseok tiba. Wajahnya santai, sikap tubuhnya tak menunjukkan penyesalan atau apapun yang bisa membuat gadis itu sedikit lebih tenang.

 

“Bagus kau datang, aku berencana pergi jika lima menit lagi kau tak datang.”

 

“Jangan berlebihan.”

 

“Kau terlambat satu jam lebih! Astaga!” Reen mendengus kesal, sementara dengan santai lelaki yang masih mengenakan topinya itu tanpa permisi meraih cangkir kopi milik Reen dan kemudian menyeruputnya.

 

Ah, sudah dingin.”

 

Tentu saja, dasar bodoh! Reen membatin kesal, selagi memerhatikan Minseok yang memesan secangkir americano pada pelayan yang melintasi mereka tadi.

 

Reen mulai sangsi, apakah lelaki sepertinya sedang jatuh cinta pada seorang gadis?

 

-o0o-

 

“Kau pernah jatuh cinta?”

 

Reen berhenti mengunyah kentang gorengnya seraya mengalihkan tatap ke arah Minseok. Sedetik kemudian, gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai respon dan lantas kembali mengunyah kentang gorengnya.

 

“Atau kau merasa jumlah detak jantungmu lebih banyak dari biasanya, tiba-tiba pipimu terasa panas, pernah tidak?”

 

Satu kernyitan di kening, dan kalau bukan rasa penasarannya pada Minseok mungkin Reen sudah melempar piring bekas kentang gorengnya itu ke wajah si pemuda.

 

“Aku ingin tahu pendapatmu,” imbuh Minseok dengan tatapan ingin tahu.

 

“Siapa gadis itu?”

 

“Kau jawab dulu—”

 

“Aku tidak mau mendengar ucapanmu yang berputar-putar. Lebih baik, kau cepat katakan siapa gadisnya,” potong Reen, wajahnya berubah serius.

 

“Jadi kau hanya ingin tahu nama gadis itu?”

 

“Ya, dan aku di sini karena itu.”

 

Tanggapan Minseok adalah ekspresi kecewa. Tapi seolah tak peduli dengan perasaan pemuda itu, Reen dengan santai meneguk kembali kopinya dengan khidmat sebelum berujar, “Kau terdengar seperti anak SMA yang pertama kali jatuh cinta.”

 

Tidak ada jawaban. Selama beberapa sekon, Minseok hanya membiarkan keheningan berlalu. Helaan napas terdengar sebelum ia buka suara. “Kau tidak tahu sih, aku merasa seperti orang bodoh karena ini. Aku rela dimaki jika datang terlambat, aku suka saat melihatnya tertawa, aku marah jika melihatnya bersama laki-laki lain padahal belum tentu juga lelaki itu adalah seorang spesial untuknya.”

 

Dengusan geli terdengar, membuat Minseok memasang tampang tersinggung.

 

“Kau lucu sekali. Memang kau pikir siapa laki-laki spesial untuknya?”

 

“Aku.”

 

“Oh, jawaban yang cerdas, Kim Minseok!” Reen bertepuk tangan dengan meriah, sementara Minseok mendengus tidak terpengaruh.

 

“Hanya aku satu-satunya pria yang menjadi teman dekatnya.”

 

Reen langsung mengalihkan perhatian pada kentang gorengnya. “Terserah. Yang pasti, sejak tadi kau belum memberitahu siapa nama gadis itu.”

 

“Aku masih memastikan. Aku sudah lama mengenalnya tapi perasaan itu baru muncul sekarang.”

 

Reen yang terlihat gemas lantaran sudah tidak sabar ingin tahu, mendesah putus asa. “Dasar menyebalkan. Kalau aku yang jadi gadis itu, aku pasti menyesal disukai orang sepertimu.”

 

Tuk!

 

Seketika Reen mengaduh sakit, karena Minseok tiba-tiba menyentil dahinya. Namun pemuda itu malah tersenyum kecil melihat ekspresi jenaka yang tak sengaja Reen buat saat menggerutu tak terima atas perlakuannya.

 

-o0o-

 

Keesokannya, Reen kembali melintas di depan kedai kopi langganannya. Pendengarannya menangkap suara tawa orang yang tengah duduk di gazebo. Langkahnya terhenti dan lantas kedua matanya menoleh ke arah sumber suara. Itu Minseok, ujung-ujung sudut bibirnya terangkat.

Awalnya, ia berniat singgah dan meminta jawaban atas pertanyaan yang belakangan menjadi bersemayam di dalam benaknya—apalagi kalau bukan nama gadis yang disukai Minseok. Hanya saja, ia berubah pikiran setelah menemukan sosok gadis yang duduk bersama Minseok. Shin Jimin, gadis itu duduk berhadapan dengan Minseok, dan mereka terlihat dekat sekali.

 

Apakah gadis yang dimaksud adalah Jimin?

 

Itu bukan hal yang aneh, mengingat Jimin yang memiliki paras cantik dan perawakannya yang mungil membuat siapa saja yang melihat akan menyukainya. Namun—entah mengapa—ketika konklusi semacam itu melintas di dalam pikirannya, tiba-tiba saja di sudut hatinya yang terdalam merasa kosong. Ada sesuatu yang tidak beres.

Bukan karena gadis itu Jimin. Tapi lebih kepada, ketidak-relaan ada gadis lain yang mengisi tempat lebih tinggi darinya.

 

Apa yang membuat Reen merasa sedikit sedih? Toh, ia tidak akan kehilangan Minseok. Lelaki itu akan tetap menjadi temannya.

 

Namun Reen merasakan suatu sensasi aneh. Ia merasa nyaman tiap kali Minseok berada di dekatnya—meskipun tak jarang ada pertengkaran kecil menengahi keduanya. Tapi, ia suka. Lantas saat ia tahu ada gadis lain yang terlihat nyaman bersama Minseok, Reen tidak suka—sangat. Bagai ada dua sisi yang berlawanan di dalam dirinya.

 

Sebelum benar-benar gila, Reen buru-buru melangkah pergi dari sana.

 

-o0o-

 

“Reen.”

 

Hm.”

 

“Kalau tidak mau, sini ayamnya aku yang makan.”

 

Hm.” Lagi-lagi Reen berkemam sebagai jawaban.

 

Sementara di sisi lain, Jongdae sudah meletakkan satu potong ayam di atas piringnya.

 

“Tidak lapar?”

 

Kali ini Reen menggeleng sebagai respon.

 

“Sedang ada masalah, ya?”

 

Sedetik setelah kalimat tanya itu meluncur tatapan mereka bertemu beberapa jenak.

 

Eh, Jongdae.”

 

Si empunya nama mengalihkan atensinya pada Reen selagi mulutnya mengunyah dengan gerakan lambat.

 

“Kau tahu siapa gadis yang disukai Minseok?”

 

Pertanyaan itu lolos begitu saja disertai tatapan ingin tahu. Sukses membuat kerutan-kerutan terpeta di kening Jongdae. Lelaki itu menggeleng kecil.

 

“Apa kau tahu seberapa dekat Jimin dan Minseok?”

 

“Jimin anak personalia itu?”

 

Reen mengangguk cepat.

 

“Entahlah. Mungkin saja mereka dekat, aku belum pernah melihat mereka berduaan,” jawab Jongdae santai di sela kegiatan mengunyahnya.

 

“Aku melihat mereka kemarin. Kelihatannya mereka akrab sekali.”

 

Oh,” sahut pendek Jongdae. Ia sibuk memisahkan kulit crispy dari bagian daging ayamnya sebelum mengimbuhkan. “Jimin cantik juga. Kelihatannya mereka serasi.”

 

“Jadi, kau menganggap begitu?” Terdengar nada marah di balik suara Reen, tetapi ia berusaha menyembunyikannya.

 

“Minseok, kan, sudah dewasa. Sudah waktunya dia punya pacar.”

 

Sepertinya Jongdae tidak dapat membaca isi pikirannya. Bagaimana pun juga, teman satu kost Minseok sekaligus teman satu divisinya itu bukanlah ahli dalam membaca pikiran.

 

Reen menyesap lemon tea-nya agar punya sedikit waktu untuk menyusun kata. “Iya juga, sih. Dia memang seharusnya sudah punya pacar.”

 

“Kenapa kau sedih?” Jongdae menangkap aura lain yang tak sengaja di sampaikan mimik wajah si gadis. “Wah, jangan-jangan—”

 

Belum sempat Jongdae merampungkan kalimatnya, Reen sudah melemparnya dengan tisu basah bekas. “Sudah kau habiskan saja ayam itu.”

 

Di sisi lain, Reen tidak bisa menutup kegundahan hatinya begitu saja.

 

“Kurasa kau terlalu cepat menyimpulkan kalau Minseok menyukai Jimin.”

 

Eh? Kedua manik Reen membulat.

 

“Jimin memang cantik, dia juga menggemaskan. Tapi, kemarin yang kau lihat itu bukan sebuah kencan. Minseok tidak sengaja bertemu Jimin di kedai kopi itu, dan ternyata setelah mereka ngobrol, Jimin teman sekolah adiknya. Mungkin karena itu kau menyimpulkan mereka akrab sekali.”

 

Oh.” Hanya itu yang bisa Reen lontarkan untuk merespon penjelasan Jongdae.

 

“Kau menyukainya, ya?”

 

“Siapa?” Tanpa sadar intonasi Reen meninggi, namun bukan marah. Ia hanya berusaha menutupi—entah apa yang harus ditutupi, karena Reen pun belum sepenuhnya yakin.

 

“Hei, lagipula tidak ada salahnya kau menyukai Minseok. Dia laki-laki dan kau perempuan, normal bukan?” Jongdae tertawa kecil mengabaikan wajah Reen yang sedikit cemberut.

 

Perkataan Jongdae sih, tidak salah. Normalnya, dua orang manusia berbeda jenis bisa saja saling menyukai. Tapi, jika seorang gadis menyukai sahabatnya sendiri, apa tidak terdengar canggung?

 

“Bukan begitu.” sangkal Reen, merasakan pipinya mendadak memanas.

 

Memutuskan untuk tidak memberi Jongdae kesempatan menduga-duga lagi, Reen pun akhirnya membeberkan semuanya. Ia memberitahu jika perasaannya yang semula baik-baik saja berubah runyam saat melihat kedekatan Minseok dengan gadis lain. Hingga detil bagaimana kenyamanan yang Minseok berikan padanya, serta rasa takutnya kalau-kalau semua itu akan berubah atau bisa saja menghilang.

 

“Selama ini, Minseok adalah pemuda baik yang kukenal. Dia itu penyayang. Jika kau menyukainya atau mungkin dia menyukai orang lain, apa yang Minseok pernah lakukan tidak akan pernah berubah, Reen.”

 

Reen membiarkan mulutnya terkatup kala Jongdae bicara.

 

“Tapi, ada satu yang akan berubah.” Jongdae memberi jeda seraya membetulkan posisi duduknya. “Apa yang pernah kau lakukan pada Minseok akan berubah jika kau tidak bisa jujur dengan perasaanmu sendiri,” tambah Jongdae.

 

Reen tertegun sejemang. Ia mencoba menyerap makna dibalik kata-kata Jongdae.

 

“Mengakui perasaan itu bukan dosa, Reen. Jadi, kau tidak perlu takut.”

 

Ada senyum kecil merekah dari belahan bibir merah sang gadis sedetik setelah mendengar ucapan Jongdae.

 

“Kecuali, kau mengakui perasaanmu di rumah berhantu. Kau perlu takut, kan, siapa tahu ada hantu yang mengganggu.” Tawa Jongdae meledak, disusul suara tawa Reen kemudian.

 

“Kelihatannya seru, kalian sedang membicarakan apa?”

 

Suara tak asing itu tiba-tiba menyela. Keduanya dikejutkan dengan presensi Minseok yang mendadak muncul dan langsung duduk di sebelah Jongdae.

 

Eh, kau datang? Katanya, kau makan siang dengan Chanyeol?” Jongdae lekas sedikit menggeser bangkunya.

 

“Tidak jadi,” jawabnya datar.

 

Ekspresi datar yang ditunjukkan Minseok sedikit membuat Reen penasaran.

 

“Kalian membicarakan apa?” ulang Minseok yang masih terlihat ingin tahu objek pembicaraan kedua orang yang tengah ditatapnya secara bergantian.

 

“Reen menyukai seseorang.” Tanpa basa-basi Jongdae buru-buru ambil langkah seribu dan meninggalkan mereka berdua.

 

Sialan, awas kau Kim Jongdae! Reen menggerutu dalam hati tanpa memerhatikan ekspresi Minseok yang tengah menatapnya.

 

“Benar?”

 

“Bu—bukan begitu—”

 

“Kelihatannya kalian dekat, ya?”

 

Hah?

 

“Kau dan Jongdae terlihat akrab, sekarang dia juga jadi teman curhatmu?” imbuh Minseok yang langsung mengalihkan tatapannya dari Reen.

 

Reen berdecak, entah mengapa sikap Minseok hari ini menyebalkan sekali.

 

“Hei, kau belum memberitahu nama gadis itu padaku.” Tanpa pertimbangan Reen mulai menggali lagi. Rasa penasarannya tidak berkurang secara signifikan.

 

“Kenapa memangnya?”

 

“Dia bekerja di kantor ini, iya kan?”

 

Reen harap-harap cemas menunggu ekspresi dari Minseok. Namun beberapa detik selanjutnya yang terjadi di luar ekspetasinya.

 

“Lalu kenapa?” Ekspresinya tidak jauh dari rasa cuai yang kentara.

 

Bagi Reen, respon Minseok seolah membenarkan konklusi yang selama ini memenuhi pikirannya.

 

Jadi, gadis itu memang Jimin.

 

“Aku salah menyangka, jika aku satu-satunya pria yang menjadi teman dekatnya.”

 

“Jimin dekat dengan pria lain?” Kalimat tanya Reen sukses membuat Minseok bergeming. Tak ada jawaban.

 

Reen kembali buka suara, sadar bahwa Minseok sama sekali tak mau membuka percakapan. “Jika Jimin dekat dengan pria lain itu wajar. Kau, kan, tahu kalau Jimin itu cantik. Kudengar Sungjae dari bagian pemasaran juga menyukainya. Tapi, kau tidak boleh menyerah.” Reen membagi senyum berusaha meyakinkan Minseok.

 

“Apa hubungannya Jimin denganku?”

 

“Bukankah yang kautaksir itu Shin Jimin bagian personalia?”

 

Bukan mendapat jawaban, malah tawa Minseok meledak. Reen mengernyitkan dahi mengamati Minseok yang semakin larut dalam tawanya.

 

“Memangnya ada yang lucu?”

 

“Bagaimana bisa kau menarik kesimpulan bahwa aku menyukai Jimin?” tanya Minseok terkekeh ringan.

 

“Aku melihatmu dengan Jimin kemarin di kedai kopi. Kalian terlihat akrab sekali. Masih mau menyangkal?”

 

Cih, dasar. Jadi itu masalahnya.”

 

“Makanya itu, tadi aku bertanya pada Jongdae.”

 

Setelah mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Reen, Minseok lantas menghentikan tawanya. “Kau banyak cerita pada Jongdae?”

 

“Setidaknya Jongdae bisa mendengarkan ceritaku hingga akhir tanpa mencela,” ucap Reen datar terkesan meremehkan.

 

Mendadak raut wajah Minseok berubah serius.

 

“Jadi, gadis itu Jimin atau bukan? Atau orang lain, ya?”

 

“Sudahlah.” Minseok bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.

 

-o0o-

 

Minseok hari ini tidak masuk kerja. Ia sempat memberi tahu Reen jika terserang demam dalam pesannya beberapa waktu lalu. Reen tengah melangkahkan kedua kakinya menuju apartemen Minseok yang tidak terlalu jauh dari kawasan kantor.

 

“Kau datang?”

 

Minseok sedikit terkejut melihat presensi Reen yang sudah berdiri di balik pintu lengkap dengan senyum khasnya.

 

“Aku membawa bubur. Kau pasti belum makan, kan?”

 

Minseok mengangguk lemah, dan memberi isyarat mempersilahkan Reen untuk masuk.

 

Kondisi Minseok tidak terlalu buruk, tapi ia memang benar-benar sakit. Kedua iris cokelat itu menangkap sebuah baskom berisi air yang dengan selembar handuk kecil tenggelam di dalamnya diletakkan di atas meja. Sofanya disulap menjadi tempat tidur lengkap dengan satu bantal dan selimut tebal.

 

Minseok berjalan menghampiri sofa dan lekas berbaring seraya menyelimuti tubuhnya.

 

“Kalau kau haus, kau bisa ambil air di dapur, Reen. Maaf hari ini aku tidak bisa melayani tamu.” Terdengar suaranya bergetar, kelihatannya Minseok masih menggigil.

 

“Tidak apa-apa. Aku bisa ambil sendiri. Seharusnya kau tidur di kamar, bukannya di sofa.”

 

Tak ada jawaban. Kedua mata Minseok terpejam. Reen lantas berjalan menuju dapur dan menuangkan bubur yang dibawanya ke dalam mangkuk. Dengan hati-hati Reen membawa bubur melangkah mendekati Minseok.

Perlahan menempatkan mangkuk itu di atas meja dan mendudukkan dirinya di atas lantai menghadap Minseok. Merasa khawatir, satu lengannya lekas ditempelkan di atas kening si pemuda guna mengukur suhu tubuhnya. Minseok masih demam. Dengan cekatan, Reen segera meraih baskom dan membawanya ke dapur. Ia mengganti airnya dengan yang baru dan kembali ke tempat semula.

 

Reen meletakkan handuk basah di atas kening Minseok. Ia memandangi raut wajah karibnya lekat-lekat. “Dasar bodoh. Seharusnya kau menjaga kesehatan.” Reen mengulum senyum dibalik bibirnya.

 

Reen tidak tampak ingin protes lantaran Minseok yang malah meninggalkannya tidur. Reen sama sekali tidak merasa direpotkan saat ia mau tak mau merawat Minseok yang tengah sakit seperti ini.

Reen masih setia mengarahkan irisnya menatap Minseok. Ia tidak berkata apa-apa, jemarinya menyapu lembut pipi si pemuda.

 

“Kenapa bukan Jimin atau siapa pun gadis itu yang merawatnya?” gumam Reen tanpa sadar.

 

Ia kembali membasahkan handuk dan meletakkannya di atas kening Minseok, sebelum bangkit. Namun tiba-tiba Minseok menarik lengan Reen dan berhasil membuat gadis itu kembali duduk.

 

“Aku butuh kau, bukan Jimin atau gadis mana pun.”

 

Hm?”

 

“Aku—” Minseok mendadak menghentikan kalimatnya, membuat Reen mengernyitkan dahi seraya menunggu.

 

“Mau bicara atau tidak?”

 

Minseok melepas genggaman tangan mereka demi menyambar handuk yang menempel di atas keningnya, dan menaruhnya asal. Ia berusaha bangkit untuk duduk sebelum menjawab. “Aku menyukaimu, Reen.”

 

Jawaban itu sukses membuat Reen bungkam.

 

“Kau gadis yang kumaksud. Bukan Jimin atau yang lainnya. Kau yang bisa membuatku cemburu karena lebih senang bercerita pada laki-laki lain daripada denganku.”

 

Penjelasan Minseok, membuat Reen menahan kikik tawa. Pemuda itu sedikit cemberut lantaran tidak dianggap serius.

 

“Ada yang lucu?”

 

Reen mengangguk. “Wajahmu.” Kekeh ringan itu lolos dan tak lama senyuman menggantikan kemudian. “Kau terlihat manis saat cemburu.”

 

Minseok tidak langsung menanggapi. Ia menangkap kedua pipi gadis itu sedikit merona, pengakuannya membuat sudut-sudut bibir Reen belum lelah menunjukkan rasa senang. Tanpa pertimbangan, si pemuda Kim membawa tubuh Reen ke dalam rengkuhannya.

 

“Reen.” Minseok mengucapkan nama itu lamat-lamat seraya mengeratkan pelukannya. “Maukah kau menjadi kekasihku?”

 

Belum terdengar jawaban dari Reen, namun ia membalas pelukan Minseok tak kalah erat. Selama beberapa detik ia ingat ucapan Jongdae; Reen harus jujur dengan perasaannya.

 

.

.

.

“Aku mau.”

.

End.

 

 

 

Aku turut bahagia untukmu, Anne♥

Semoga acaranya nanti lancar dan khidmat ya^^

/tebar kecup/ lope lope diudara/

 

One thought on “That’s Feeling

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s