Nightmare [Part III] #It’s Feel…?

image

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Bila ada 6 milyar manusia yang menghuni planet ini, maka akan ada 6 milyar jenis pikiran, kepribadian, dan watak yang berbeda. Karena kondisi psikologis, watak dan kepribadian tiap manusia berbeda-beda…semua manusia adalah unik.”

©2016.billhun94


Senyum bahagia tampak merekah dikedua bibir mereka—mengulas senyuman bahagia bersama di bawah teduhnya pohon cherry blossom.

Seorang wanita dan pria tertawa lepas seraya menggelitik perut satu sama lain, tawa yang terdengar sangat bahagia bagi siapapun yang mendengarnya.

Sang pria mulai menghentikan permainan jarinya di atas perut si gadis yang berada di bawah tubuhnya. Tatapan mereka bertemu dan Terkunci dengan tatapan masing-masing; mengagumi setiap binar cahaya yang terpancar.

Wanita itu menutup kedua matanya tatkala si pria mulai memajukan wajahnya. Degupan jantung yang berpacu cepat dirasakan oleh wanita tersebut, dan wangi pohon pinus yang begitu kental memasuki rongga penciumannya yang datang dari sang pria.

Hanya tinggal 5 cm saja, kedua material lembut itu siap untuk bertemu….

“Nona Mikyung?”

3 cm lagi….

“Nona Mikyung?”

1 cm lagi….

“NONA!”

Mikyung membuka mata saat mendengar pekikkan yang membangunkannya dari tidur, sempat tersentak beberapa saat, tapi bisa dikendalikan setelahnya.

Asisten pribadi Sehun tampak cemas, “Maafkan saya karena telah membangunkan Anda, nona.” Kaki tangan Sehun itu pun berekspresi dengan rasa bersalah yang dalam.

Mikyung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa bodoh karena sudah tertidur di dalam mobil Sehun. Tapi sungguh, semalaman ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata dan terjaga semalaman.

“Tidak apa-apa,” tenang Mikyung, “Dimana Sehun?” Tanyanya.

Asisten pribadi Sehun itu sedikit berdeham sebelum menjawab pertanyaan Mikyung, “Presdir sudah ada di dalam, nona.” Jawabnya.

Arah pandang Mikyung menatap lekat pada gedung berlantai 4 yang dibangun di tengah-tengah kota, setelahnya, ia menatap tulisan besar yang berada di atas gedung tersebut. Sebuah butik. Untuk apa Sehun membawanya kesini? Karena terlalu serius memandang gedung itu, sampai-sampai Mikyung tidak menyadari jika kini asisten pribadi Sehun tersebut sudah membukakan pintu mobil untuknya.

Mikyung keluar dari mobil, dan masuk ke dalam butik tersebut. Sama seperti butik-butik lainnya yang sering ia datangi, ada berbagai macam pakaian yang tergantung di rak-rak serta terpasang di maneken. Dan Mikyung yakin, jika semua harga baju-baju yang ada disini tidaklah murah; terlihat dari desain dan bahannya.

Seorang karyawati menghampiri Mikyung yang bingung tampak langkahnya, ia tersenyum ramah sembari menyapa Mikyung. “Annyeong hasaeyo, ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya.

Mikyung balas tersenyum, lalu membalas sapaan ramah yang ia terima sebelum membuka mulutnya kembali. “Aku ingin bertemu dengan Sehun, apa dia ada di sini?” Jawabnya.

Sempat terkejut, tapi seperkian detik mampu mengendalikan, karyawati itu kembali bersikap seperti biasa. “Apa maksud Anda Presdir Oh?” Tanyanya untuk memastikan.

Mikyung mengangguk singkat.

“Tapi, maaf sebelumnya. Anda siapa?”

Mikyung tampak berpikir sejenak, dan seketika ingatan dua hari lalu kembali menyambangi benaknya serta dibalik alasan mengapa ia tidak bisa tidur kurang lebih selama dua hari ini.

“Jika ada seseorang yang bertanya tentang dirimu atau pertanyaan tentang apa hubunganmu denganku, jawablah yang sebenarnya.”

Mikyung tidak pernah menginginkan status baru ini—status sebagai nyonya Oh yang bahkan tak pernah terbayang sedikitpun olehnya—dan kini, status itu terus melekat pada dirinya, walaupun banyak orang yang tidak mengetahui.

“A-aku…hmm a-aku—”

“Dia istriku.”

Dan jawaban yang sebenarnya bukan datang dari Mikyung, melainkan dari Sehun yang entah datang dari mana. Jawaban tersebut juga membuat Mikyung serta merta terkejut bukan main. Tidak hanya wanita itu saja yang terkejut, karyawati yang berada di hadapannya ini juga sama terkejut dengan Mikyung.

“Ah, maaf. Saya tidak mengetahui sebelumnya jika Anda adalah istri dari presdir Oh.”

Bungkukkan menghujani Mikyung kala karyawati itu meminta maaf padanya terus menerus, membuat ia tidak enak hati dibuatnya.

“Kau tidak perlu berlebihan seperti ini. Lagipula kau tidak tahu siapa aku juga, ‘kan? Jadi, tolong jangan seperti ini.” Ujar Mikyung, mengangkat bahu karyawati yang terus membungkuk padanya sebagai tanda rasa bersalah.

Senyum hangat te-rulas manis di bibir Mikyung yang berlapis lip tint berwarna Cherry Ade. Dan karyawati itu sedikit merasa tenang karena setidaknya Mikyung tidak melakukan hal yang tak senonoh seperti menamparnya atau bahkan melakukan kekerasan seperti yang sering ia lihat di drama bagaimana seseorang yang derajatnya lebih tinggi darinya memperlakukan seseorang yang derajatnya lebih rendah seperti itu. Beda dengan Mikyung, wanita ini punya hati yang sangat lembut.

“Kembalilah bekerja,” ujar Sehun yang ditunjukan untuk karyawati tersebut.

“Baik, presdir.”

Setelah kepergian karyawati tadi, Mikyung berbalik badan menghadap Sehun yang berada tidak jauh darinya. Setelah menghilangnya Sehun selama dua hari sejak mereka sah di mata hukum sebagai suami-istri, Mikyung merasakan perasaan aneh begitu melihat pria itu kembali. Dan tatapan mata Mikyung yang tidak lelah menelaah bagaimana keadaan Sehun setelah mereka tidak bertemu dua hari lamanya.

“Apa kau Shin Mikyung?”

Satu pertanyaan datang dari seorang wanita cantik yang muncul dari punggung besar Sehun. Mikyung mendelik, merasa ia tidak pernah bertemu dengan wanita tersebut.

“Aku Jung Soojung, teman Sehun.”

Satu uluran tangan wanita bernama Soojung itu ulurkan pada Mikyung yang terdiam di tempatnya. Tapi tidak berlangsung lama, Mikyung membalas uluran tangan Soojung dan tersenyum ramah.

“Aku Shin Mikyung,” balas Mikyung.

Soojung melirik Sehun sekilas, “Pantas Sehun menikahimu, kau sangat cantik rupanya.”

Mikyung tahu apa yang diucapkan Soojung hanyalah lelucon semata begitu melihat tawa yang mengakhiri ucapannya, dan Mikyung juga ikut tertawa menanggapi.

Soojung menggandeng tangan Mikyung untuk melihat sekeliling butik ini, satu bisikan ia berikan pada wanita Shin itu setelah mereka berada jauh dari Sehun.

“Sehun memintaku untuk memilihkan gaun yang cocok untukmu.”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Pada tahun 1952 psikolog berkebangsaan Amerika, Gordon Exner, membuka disertasinya yang paling terkenal dengan kalimat berikut. “Bila ada 6 milyar manusia yang menghuni planet ini, maka akan ada 6 milyar jenis pikiran, kepribadian, dan watak yang berbeda. Karena kondisi psikologis, watak dan kepribadian tiap manusia berbeda-beda…semua manusia adalah unik.”

Mikyung pernah mendengar disertasi itu saat ia menginjakkan kakinya di Universitas Seoul sewaktu ia masih memegang status sebagai mahasiswa falkutas Psikologi di sana. Banyak hal yang ia pelajari, dari mulai filsafat orang-orang berpengaruh di dunia dan teori-teori Psikologi yang sampai saat ini masih ia ingat di kepalanya. Gelar yang diraih gadis itu adalah S1, saat ia ingin melanjutkan ke S2, sayang…kesialan menghampiri dirinya, dan mengakibatkan ia tidak bisa untuk melanjutkan kuliahnya lagi.

Belajar tentang ilmu psikologi membuat wanita Shin itu mampu membaca setiap ekspresi wajah seseorang, walaupun orang itu tidak mengetahui jika Mikyung mampu melakukannya. Seperti saat ini, wanita tersebut terus saja memperhatikan Sehun dari jarak jauh. Ekspresi yang Sehun tunjukkan terlalu kaku dan dingin, tangan yang ia lipat di dada, dan pandangan yang terus mengarah pada arloji di tangannya, membuat Mikyung tahu kalau pria itu sedang bosan—bosan menunggu kedatangannya.

“Apa kau akan membuat Sehun mati karena menunggu terlalu lama?”

Soojung datang dari arah belakang Mikyung, tapi wanita itu tidak terlalu terpengaruh dengan kedatangannya. Soojung berjalan kearah Mikyung dan ikut memperhatikan Sehun yang tidak sadar jika kini mereka sedang memperhatikan seorang pria yang sama.

“Tolong jaga Sehun baik-baik,” ujar Soojung tanpa menatap lawan bicaranya.

Mikyung menoleh pada Soojung, “Kenapa?”

“Pria itu terlalu mendapat banyak luka sejak dia masih kecil, dan luka itu mampu bertambah lagi. Aku sebagai temannya tidak menginginkan hal yang sama terjadi padanya. Apa kau mengerti?”

Dari tatapan Soojung yang dalam, Mikyung tahu jika—wanita cantik yang tampak seumuran dengan Sehun itu—terlihat begitu menyayangi Sehun. Bisa dikatakan lebih dari seorang teman.

“Aku akan menjaganya, tanpa kau meminta sekalipun….”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Decakan kesal mengiringi setiap menit yang berlalu begitu lama. Siapa yang suka menunggu? Pasti semua orang beranggapan tidak suka. Termasuk Sehun, ia sangat benci menunggu. Bahkan barang semenitpun. Hanya karena seorang wanita, Sehun mau melakukan hal yang paling tidak ia suka selama ini (menunggu).

Tirai yang tadinya tertutup, kini perlahan dibuka. Tirai yang tepat berada di hadapan Sehun itu menampilkan seorang wanita yang sudah ditunggunya lebih dari dua jam yang lalu, dan membuat ia tampak seperti orang bodoh.

Baru akan mengeluarkan cercaan kasarnya—tapi, begitu saja menggantung di ujung lidah—Sehun bahkan mengatupkan mulutnya rapat-rapat tatkala terpaku dalam tempat.

Seorang wanita yang sah berstatus sebagai istrinya dimata hukum kini berdiri tidak jauh darinya itu membuat Sehun merasakan debaran jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Serta desiran aneh yang mewarnai setiap pompaan darah di jantungnya.

Wanita itu tersenyum pada Sehun, Shin Mikyung (nama wanita tersebut) pun melangkah pelan menghampiri Sehun yang masih terdiam dengan ekspresi datar andalannya.

Mikyung memang menghabiskan waktu yang lama untuk memilih gaun dan merias wajahnya bersama Soojung yang kini entah pergi kemana. Untuk beberapa saat, bahkan wanita itu tidak dapat mempercayai jika ini adalah dirinya. Mikyung tampil dengan balutan gaun berenda berwarna salmon yang sangat pas menyatu pada kulit putihnya, dan make up yang sederhana membuat kecantikan alaminya semakin terlihat.

 Mikyung tampil dengan balutan gaun berenda berwarna salmon yang sangat pas menyatu pada kulit putihnya, dan make up yang sederhana membuat kecantikan alaminya semakin terlihat

“Apa gaun ini terlihat tidak cocok untukku?” Tanya Mikyung ragu kala melihat reaksi Sehun yang hanya diam sembari terus memperhatikannya.

Sehun membuang pandangan begitu menyadari kebodohannya sendiri, bahkan ia tidak mampu mengerti dengan dirinya ini. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa jantung ini terus berdetak kencang? Atau mungkin ia terkena serangan jantung dadakan? Ah, tidak mungkin.

Hal yang sama juga terjadi pada Mikyung, melihat bagaimana tatapan Sehun padanya—membuat ia kalang kabut—untuk menahan desiran aneh yang menyambangi tubuhnya.

“Presdir, maaf mengganggu. Tapi acaranya akan dimulai 25 menit lagi.”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Manusia mirip dengan perpustakaan yang menyimpan sangat banyak informasi dan rekaman. Untuk mencari sesuatu yang dicari, kau harus memeriksa semua informasi di sana secara seksama.

Tapi, untuk kasus seperti Sehun ini, Mikyung terlalu segan menggali informasi tentangnya. Kepribadian Sehun yang tertutup membuat ia yakin, seberapapun pertanyaan yang menggelitik otaknya untuk ditanya, tidak akan ada satupun dari pertanyaan itu yang akan dijawab pria dingin seperti Sehun. Oleh karena itu, Mikyung harus menggali informasi tentangnya. Tapi, sekali lagi, wanita itu terlalu segan.

Banyak sekali tentang diri Sehun yang Mikyung tidak ketahui, tapi pria itu seakan mengetahui dirinya sampai ke akar.

Mikyung melirik Sehun yang sedang terdiam menatap luar jendela dalam duduknya dengan kaki yang dilipat, dan untuk kesekian kalinya, ia terpesona. Tidak dapat dipungkiri, jika Mikyung juga mabuk dalam pesona luar biasa yang Sehun pancarkan. Dan ingatan liarnya, membawa ia kembali mengingat saat beberapa jam yang lalu; ketika tertidur di dalam mobil yang kini sedang membawanya.

Merasa bodoh karena sudah memimpikan hal-hal semacam itu, membuat kedua pipi Mikyung memerah seketika karena malu pada dirinya sendiri. Ia mengalihkan pandangan kearah lain, dan melakukan seperti apa yang Sehun lakukan.

Mikyung masih penasaran, sebenarnya ia akan dibawa kemana oleh pria itu. Sudah mencoba untuk bertanya, dan selalu tidak ada jawaban yang keluar; agaknya itu memang sudah terbiasa bagi Mikyung untuk menelan rasa penasarannya sendiri.

Mobil yang membawa Sehun dan Mikyung kini sudah memasuki hotel mewah yang tampak ramai. Mikyung sedikit menelengkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya, dan ia menemukan sekumpulan orang dengan kamera canggih mereka sedang sibuk mewanti-wanti sesuatu.

Benar saja, saat mobil sedan mahal mengkilap milik Sehun berhenti tepat di depan sebuah hotel mewah, sekumpulan orang-orang tersebut mulai menyiapkan kamera mereka. Mikyung yang sama sekali tidak mengerti hanya mampu mengernyit bingung.

“Jangan berbicara dengan siapapun saat kita sudah berada di dalam, dan juga jangan pernah berjauhan dariku.” Ujar Sehun seraya membenarkan setelan tuxedo hitam yang melekat pada tubuhnya.

Mikyung hanya menggagukan kepala mengerti. Dan pada akhirnya, ia pun ikut terseret dalam permainan yang Sehun ciptakan ini.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Hujanan blizt kamera mengiringi setiap langkah Sehun dan Mikyung di red carpet, tidak luput juga pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang haus akan berita. Tapi, baik Sehun maupun Mikyung, mereka tetap menutup mulut mereka rapat-rapat. Mikyung menebar senyum manisnya, sedangkan Sehun cukup berjalan lurus dengan wajah datarnya.

Tangan Mikyung yang menggantung di lengan Sehun semakin ia pegang erat, tatkala netra hitamnya menangkap sesosok orang yang Mikyung kenal begitu ia bersama Sehun sudah berada di lobi hotel sebelum menaiki lift menuju tempat di adakannya acara. Mikyung meneguk salivanya dengan kasar, dan tangan itu juga semakin menggenggam erat lengan Sehun; sampai-sampai membuat sang pemilik meliriknya aneh.

Sehun merasa ada hal ganjal di sini. Ia pun diam-diam memperhatikan Mikyung di sampingnya. Air wajah wanita itu tampak tidak selaras sebelumnya dalam langkah yang membawa mereka menuju lift. Dan Sehun juga merasakan jika Mikyung menggenggam erat lengannya, serta tangan yang bebas milik wanita itu pun terkepal erat.

Begitu sampai di dalam lift yang hanya diisi oleh Sehun dan Mikyung, Mikyung langsung mengeluarkan napasnya dengan lega. Perlahan genggaman erat pada lengan Sehun berkurang.

“Sebenarnya kita ingin kemana?” Tanya Mikyung pelan kala napasnya yang mulai memburu.

“Peresmian salah satu cabang dari Glod Corp Group,” jawab Sehun datar dengan nada tenangnya.

“Dan untuk apa kita ke sini?” Tanya Mikyung (lagi) sembari mengatur napasnya.

Sehun melirik wanita di sampingnya ini sekilas, “Kau juga akan tahu nanti.” Balasnya.

Tidak. Mikyung tidak ingin tahu nanti, ia membutuhkan jawabannya sekarang.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Sehun sangat puas kala melihat ekspresi wajah pamannya yang tegang saat ia menemui lelaki setengah baya itu dan memperkenalkan Mikyung sebagai istrinya. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat bagaimana guratan ketakutan tergambar jelas di wajah pamannya itu. Dan kini, di atas podium, ia mengumumkan tentang pernikahannya pada para petinggi yang hadir untuk peresmian hotel cabang milik Glod Corp Group ini.

“Seperti apa yang dituliskan mediang Abojie saya dalam surat wasiatnya. Kini saya telah mampu untuk memenuhi surat wasiat tersebut. Dan sekarang, Shin Mikyung, wanita itu sudah sah menjadi istri saya.”

Bisik-bisik tidak percaya mulai memenuhi ruangan berdekor kelewat mewah ini. Dari mereka mengatakan jika Sehun pasti berbohong, dan pria itu dapat mendengarnya dengan jelas.

“Shin Mikyung masih hidup, tapi sayang, nasibnya tidak terlalu baik. Dan kini, wanita itu sudah kembali.” Terang Sehun menjelaskan.

Sedangkan Mikyung yang terduduk di meja tamu hanya mampu menebar senyuman kala ratusan pasang mata menatapnya. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan saat ini, perasaan gugup terus menghantuinya.

“Saya minta pada Shin Mikyung untuk naik ke atas panggung.”

Persetan dengan MC acara ini yang membuatnya harus menjadi pusat perhatian. Tangannya bergetar karena gugup, dan langkah yang membawanya naik ke atas panggung itu tampak gusar. Untung saja, Mikyung mampu mengendalikan wajahnya. Mimik yang wanita itu tunjukan terlihat tenang dengan senyum manis di wajah cantiknya.

Tangan dingin Sehun merampas tangan Mikyung yang bergetar saat wanita itu sudah sampai di sampingnya. Mikyung tersentak, ia menoleh pada Sehun. Tatapan yang mengatakan jika “Kau tidak perlu gugup.” Itu mampu membuat Mikyung kembali melempar senyum tipisnya di atas panggung.

“Bisakah Anda memberi kata sambutan pada hadirin yang ada di sini, Nyonya Oh.”

Mikyung merasa sedikit risih dengan panggilan yang MC itu berikan untuknya. Nyonya Oh? Tidakkah itu terlalu berlebihan.

“Saya Shin Mikyung. Putri dari mendiang Shin Hyun Suk dan Kim Mijin. Banyak hal yang saya alami sebelum bisa berdiri di sini, tapi kini, saya sudah bisa melalui itu semua berkat…seorang pria yang kini sudah sah menjadi suami saya. Dan saya merasa senang akhirnya bisa berdiri di sini, terima kasih atas perhatiannya.”

Mikyung mengakhiri perkataannya dengan bungkukkan kecil. Ia tidak terlalu meneliti kata-kata yang keluar mulutnya tadi, tapi setidaknya ia sudah memberanikan diri untuk tampil di muka umum sejak kematian orang tuanya yang memang berpengaruh pada negara ini mengingat pengabdian Beliau pada bidang kesehatan sangat besar. Banyak orang yang menyesali kematian tuan Shin kala mengingat bagaimana mendiang banyak membantu orang-orang susah di Korea Selatan maupun dunia dengan membangun rumah sakit gratis bagi yang tidak mampu.

Tatapan Sehun hanya mengarah pada Mikyung yang tersenyum bahagia, sebelum akhirnya ia sadar pada keadaan.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Tatapan tidak suka seorang lelaki setengah baya berikan pada dua anak manusia yang sedang menjadi pusat perhatian saat ini. Tangannya terkepal seiring rasa amarah yang mulai menguasi dirinya. Shin Jinyoung tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya dikalahkan oleh keponakannya sendiri. Umur tidak selalu menjadi prioritas, memang. Tapi, Jinyoung merasa malu pada dirinya sendiri.

“Anak tiriku memang cerdik, bukan begitu Jinyoung-a.”

Kalimat itu seakan sangat diperuntukan untuk Jinyoung, ia pun menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang wanita yang tampak lebih tua darinya kini sedang menatapnya dengan mengejek.

“Tidakkah kau berpikir demikian?”

Pertanyaan datang dari orang yang sama.

“Kau harus mengulang niatmu untuk mengalahkan Sehun, karena sudah kuperingatkan dari awal, jika dia bukanlah orang yang sembarangan.”

Tawa picik Jinyoung anggap sebagai tanggapan, ia menatap kedua iris milik lawan bicaranya. “Aku tidak semudah itu untuk dikalahkan,” ucapnya.

Oh Sehun. Cukup membuat Jinyoung kalang kabut hanya untuk menangani bocah satu itu. Bahkan, jabatan yang digenggamnya selama 3 tahun ini harus terancam statusnya.

“Benarkah? Kita lihat saja nanti, sampai mana kau bisa mengalahkan Sehun.”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Kedua iris Mikyung bergerak liar mencari keberadaan Sehun yang entah pergi kemana. Awalnya, pria itu berucap ingin ke toilet sebentar, tapi sudah 20 menit ia menunggu dan kehadiran pria itu tidak kunjung terlihat. Membuat Mikyung harap cemas dalam duduknya. Tatapan yang seakan menguliti wanita itu tidak kunjung lepas dari orang-orang di sekitar. Jika saja Mikyung punya keberanian, pasti ia sudah menegur mereka satu persatu.

“Mikyung-ssi, apa ini benar-benar kau?”

Mikyung memutar kepalanya kala suara seorang lelaki yang tidak asing di telinganya terdengar. Senyum merekah ia berikan begitu tahu siapa lelaki tersebut. Lantas, wanita itu bangkit dari duduknya lalu membungkuk kecil.

Annyeong hasaeyo, psikiater Kim.” Sapa Mikyung sopan.

Yang disebut namanya pun ikut tersenyum dan membalas sapaan Mikyung, “Annyeong hasaeyo, Mikyung-ssi. Lama kita tidak bertemu.”

Kim Jongin, psikiater yang dulu sempat merawat Mikyung dalam waktu lama kini kembali menampakkan batang hidungnya di hadapan wanita itu. Entah kebetulan atau memang disengaja.

“Sudah kubilang jika kita akan bertemu lagi,” ujar Mikyung dengan nada candaan.

Jongin menganggapinya dengan kekehan pelan. Awalnya, ia tidak mengenali Mikyung karena penampilan wanita itu yang terlihat sangat berbeda dari yang terakhir ia lihat. Tidak ada lagi wajah pucat yang menghiasi harinya, dan kini berganti menjadi wajah berseri yang semakin membuat Mikyung terlihat cantik.

“Kau datang bersama dengan siapa ke sini?” Tanya Jongin.

“Aku datang bersa—”

Belum sempat Mikyung melanjutkan perkataannya, seruan seseorang yang menyerukan namanya menghentikan perkataannya. Ia pun menoleh kearah sumber suara yang berasal dari seseorang yang sudah tidak asing lagi.

“Nona Mikyung!”

Asisten pribadi Sehun berlari terburu-buru menghampiri istri majikannya itu dengan menembus paksa kerumunan orang-orang yang sedang menikmati pesta.

“Ada apa, asisten Yoon?” Tanya Mikyung saat asisten pribadi Sehun tersebut sudah berada di hadapannya dengan napas yang memburu.

Lelaki yang tampak seumuran dengannya itu, mengatur napasnya terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Mikyung.

Tidak ingin ada seseorang yang mendengar perkataannya, asisten Yoon membisikkan kalimat-kalimat yang sukses membuat Mikyung terserang kepanikan yang luar biasa. Lantas, wanita itu berlari dengan wajah serius menembus kerumunan orang-orang serta meninggalkan Jongin dengan tanda tanya besar di atas kepalanya.

Dengan sedikit paksa, Mikyung menekan tombol lift berulang kali, tapi lift itu tak kunjung terbuka. Dan wanita itupun berpindah pada lift yang berada di sebelah lift tadi, sialnya, hal yang sama juga terjadi.

Tidak ada pilihan lain, untuk keadaan genting seperti sekarang selain menaiki tangga darurat. Mikyung melempar high heels mahalnya dengan sembarang, lalu menaiki anak tangga secepat yang ia bisa. Sedangkan asisten Yoon yang sedari tadi mengikuti, juga melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan saat ini.

Hanya satu tujuan yang Mikyung gapai untuk saat ini, yaitu menghampiri di mana Sehun sekarang. Tidak sempat untuk disangkal, segala pikiran buruk tentang keadaan pria itu terus menggelayuti dirinya.

Mikyung sama sekali tidak memperdulikan keadaan saraf-saraf kakinya yang menegang dan terasa sakit begitu ia sampai di atap gedung pencakar langit ini. Mulutnya menganga, dan matanya membulat. Dengan terburu-buru, ia menghampiri Sehun yang tergeletak dengan darah yang mengalir terus dari perutnya.

Wanita Shin itu tersungkur di samping Sehun, “Sehun-ssi! Sadarlah!” Pekik Mikyung, kedua matanya mulai memanas melihat keadaan Sehun yang mengenaskan seperti ini.

“YA! CEPAT PANGGIL TENAGA MEDIS!!!”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Tepat pukul 1 pagi, Sehun masih belum sadarkan diri karena masih terpengaruh obat bius. Pria itu kehilangan banyak darah, dan harus mendapatkan pasokan darah tambahan.

Di dalam kamar hotel yang dijaga ketat, kini tubuh Sehun terbaring lemah. Kejadian yang pria tersebut alami tidak boleh tersebar ke media, maupun para petinggi perusahaan lainnya. Oleh karena itu, Sehun tidak dibawa ke rumah sakit walau ia mengalami luka yang cukup parah.

Tangan Sehun yang dingin terus digenggam erat oleh Mikyung yang harap cemas menantikan keadaan pria itu. Tanpa harus pikir panjang, ia hanya memikirkan keadaan Sehun tadi. Dan juga, tanpa harus memikirkan keadaan telapak kakinya yang berdarah karena terkena pecahan kaca di atap gedung tadi. Tapi, semua itu tidak sebanding dengan rasa khawatir yang begitu besar pada Sehun—suaminya.

Wajah pucat pasi Mikyung menggambarkan bagaimana cemasnya ia sedari tadi, terhitung sudah dua jam ia menunggu Sehun siuman, tapi pria itu tidak kunjung melakukan hal yang ia tunggu.

Netra kelam Mikyung memperhatikan wajah Sehun tanpa bosan; tidak akan ada kata bosan untuk mengagumi wajah tampannya. Dengan keberanian yang sudah dikumpulkan, wanita itu perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh rambut Sehun yang terlihat sangat lembut. Helaian demi helaian Mikyung rasakan dan rasanya benar-benar halus walaupun ia hanya membelai beberapa helai rambut saja. Setelahnya, Mikyung mengambil alih tangannya.

“Cepatlah sadar…aku sangat mengkhawatirkanmu…Sehun-ssi,” gumam Mikyung lemah kala dirinya terserang rasa kantuk.

Beberapa detik setelah Mikyung mengucapkan kalimat itu, gerakan pelan tangan Sehun yang berada dalam genggamannya menyambut. Mikyung sendiri tidak dapat merasakan hal tersebut, karena matanya yang perlahan mulai tertutup.

Tepat saat Sehun membuka matanya, Mikyung menjatuhkan kepalanya ke samping di mana tepat di bahu Sehun. Sehun yang merasakan berat pada bahunya, menoleh pelan dan menemukan wajah terlelap Mikyung yang terlihat damai.

Dan untuk pertama kalinya, dalam hidupnya, Sehun merasakan getaran aneh yang menyerang hatinya. Tangan mereka yang saling bertaut, tak luput dari perhatian. Rasa hangat yang selama ini sudah tidak pernah ia rasakan lagi setelah sekian lama, kembali pria itu rasakan.

Mencoba untuk Sehun tepis, perasaan asing itu nyatanya tetap memaksa untuk masuk kembali.

“Perasaan apa ini?”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

P.s :

Sorry kalau aku late post lagi:( tugas numpuk-_-
And sorry again kalo ini engga nge-feel…NGEBUT COYYY hahahaha

22 thoughts on “Nightmare [Part III] #It’s Feel…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s