Nightmare [Part IV] #Regret

image

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Pelukan dari belakang dapat membuatmu merasa seperti ada seseorang yang berdiri kokoh untuk menopang hidupmu….”

©2016.billhun94


Sinar matahari menembus gorden putih itu kala pukul menujuk ‘kan jam setengah tujuh pagi. Sinar matahari tersebut seperti menjadi boomerang bagi seorang wanita yang sedang terlelap di atas kasur ber-seprei putih tulang. Sebagian wajahnya terkena sinar matahari, membuat ia menampilkan raut terganggu di paras cantiknya. Dengan sedikit paksa, wanita itu membuka matanya yang sayu secara perlahan. Perlu untuk dirinya mengerjap beberapa saat sebelum bangun sepenuhnya.

Wanita itu melenguh, lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya sebelum beranjak dari atas ranjang.

Perlu kesadaran penuh untuk menyadari keberadaan si wanita yang merasa asing dengan tempat yang saat ini ia tempati. Irisnya menatap liar ke segala sudut, mencoba untuk mencari petunjuk.

Suara gemericik air dari dalam ruangan itu seakan menyadarkan wanita tersebut sebab pintu ruangan tersebut terbuka, dan menampilkan sosok pria dengan handuk yang melilit di bagian pinggangnya serta membiarkan bagian atasnya terbuka.

Seraya meneguk air liurnya sendiri, sang wanita yang masih mematung dalam tempatnya langsung tersadar saat pria itu meliriknya.

Menjadi gugup, wanita bernama lengkap Shin Mikyung tersebut hanya dapat menundukkan kepalanya karena tidak berani untuk bertatap muka dengan pria yang berdiri tidak jauh darinya. Ia tidak mau menunjukkan wajah meronanya pada pria tersebut hanya karena melihat keadaannya yang bertelanjang dada.

“Apa kau yang memindahkanku ke atas ranjang?”

Pertanyaan tersebut datang dari Mikyung, kepalanya terangkat mencoba menatap pria Oh itu yang sedang memakai kemeja putihnya; bahkan Mikyung tidak sadar sejak kapan Sehun sudah mengenakan celana hitam bahan miliknya.

Seperti biasa, Sehun tidak akan pernah menjawab pertanyaan yang tidak terlalu penting untuknya. Berbasa-basi bukanlah gaya seorang Oh Sehun. Menurutnya itu hanyalah membuang-buang waktu saja.

Setelah selesai mengancingkan seluruh kancing di kemejanya, Sehun yang berniat berjalan menuju pintu hotel terhenti oleh suara pertanyaan Mikyung (lagi).

“Kau ingin kemana? Bukankah bekas jahitan di perutmu belum mengering?”

Nada kekhawatiran sangat kentara dari pertanyaan Mikyung, irisnya yang terpaku hanya untuk Sehun seakan menunjukan jika ia mengkhawatirkan pria itu.

Sehun berbalik badan, dengan wajah tanpa ekspresinya, ia menatap balik Mikyung. “Tidak usah mengurusi diriku, urus saja dirimu sendiri.” Jawabnya ketus.

Mikyung merasa tertotohok dengan jawaban yang Sehun berikan. Tidak tahukah pria itu kalau ia sangat mengkhawatirkan dirinya, bahkan melebihi apapun. Bayang-bayang Sehun yang tidak sadarkan diri dengan luka tusukan di perutnya membuat Mikyung tidak dapat berpikir jernih. Rasa kekhawatiran akan hal yang sama kembali terjadi lagi, membuat ia begitu takut.

“Tidak. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu, Sehun-ssi.” Balas Mikyung seraya berjalan kearah Sehun. “Bahkan melebihi apapun…biarkan dirimu istirahat sebentar saja, luka di pe—”

Mikyung tidak melanjutkan perkataannya karena terpotong oleh Sehun.

“Aku tidak perlu rasa khawatir darimu, aku baik-baik saja.”

Setelah mengatakannya, Sehun berbalik badan. Kembali berjalan menuju pintu kamar hotel. Tapi, langkahnya terhenti kembali tatkala mendengar seruan Mikyung.

“Mungkin dari luar kau merasa baik-baik saja, tapi di dalam dirimu sangat banyak luka lama yang bahkan belum mengering….”

Mikyung menatap punggung besar Sehun dengan nanar, dan rasa sesak mulai menyergap dadanya yang bergemuruh.

“…biarkan seseorang untuk mengobati lukamu itu, dengan begitu kau akan merasa jauh lebih baik….”

Sehun merasakan sesuatu yang melompat dari dalam tulang rusuknya, saat tangan putih bersih itu melingkar sempurna di atas pinggangnya. Tubuh yang terdiam seakan membeku, membuat Sehun menahan napas sejenak untuk menyadarkan dirinya kembali.

“Pelukan dari belakang dapat membuatmu merasa seperti ada seseorang yang berdiri kokoh untuk menopang hidupmu….”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Dalam benak yang menggantung di otak Sehun, ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana rupa seseorang yang menusuknya menggunakan pisau dapur. Ada luka bekas sobekan di sekitar pipi dan rahangnya, Sehun dapat merekam itu dengan sangat jelas.

Langkah besar yang membawa Sehun ke ruangannya seakan menjadi petunjuk jika ia sedang tidak dalam mood yang baik. Bahkan sang asisten pribadinya, terus saja berusaha untuk menyamai langkah dengan Sehun.

“Bagaimana hasilnya?”

Tanpa banyak basa-basi, Sehun menanyakan hal yang sudah menggerayangi dirinya begitu sampai di ruangan kerjanya.

“Tidak ada rekaman CCTV apapun saat dia masuk ke atap, presdir.”

Jika Sehun tidak menahan emosinya sendiri, mungkin kini ia sudah membanting benda apapun yang berada di sekitarnya. Tangan pria itu naik keatas kening, memijat pelipisnya pelan untuk meredakan rasa pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya.

“Bagaimana bisa?” Tanya Sehun, nada suaranya sedikit menurun.

“Saya akan mencari tahu lebih dalam lagi, presdir.” Balas sang asisten.

Sedikit penjelasan; kemarin malam—saat peresmian hotel cabang dari Glod Corp Group—Sehun berniat memang ingin ke toilet, tapi niatannya harus tertunda karena sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya dengan nomor yang tidak dikenal. Dari situ, Sehun mulai menaruh rasa curiga kala melihat isi pesan yang menyuruhnya untuk naik ke atap gedung hotel tersebut. Dan dengan bodohnya, Sehun mengikuti isi pesan itu.

Tangan pria itu turun dari kepalanya. Netra tajam yang menjadi ciri khas miliknya selama ini, menatap lekat sang asisten pribadi.

“Kau harus menemukan dia secepatnya.”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Mikyung sedang melamun kala kepala pelayan rumah Sehun menegurnya untuk segera makan siang. Dalam lamunan panjangnya, ia sedang menerka apa penyebab kejadian kemarin malam. Lamunan itu begitu serius, benaknya berperang, dan pikirannya mengambil spekulasi guna menjadi suatu alibi.

Untuk ketiga kalinya, kepala pelayan wanita tersebut menyuarakan ajakannya agar Mikyung segera menyantap makan siang yang sudah ia sediakan sebelumnya.

“Nona, apa Anda tidak ingin makan siang?” Lelah dengan ajakannya, kepala pelayan yang biasa di sebut dengan pelayan Lee itu menegur Mikyung seraya menepuk pelan pundak wanita itu.

Mikyung tersadar, ia menghapus lamunannya jauh-jauh. Iris hitamnya menatap pelayan Lee dengan lekat.

“Apa Anda tidak ingin makan siang, nona?” Tanya kepala Lee sekali lagi, masih dengan mempertahankan sopan santunnya.

Ah, pelayan Lee. Ya, aku akan makan siang sekarang.”

Mikyung pun berjalan menuju meja makan setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam di halaman belakang rumah Sehun.

Makan siang yang membosankan. Tapi, Mikyung sudah terbiasa dengan makan siang seperti ini. Sangat banyak lauk pauk yang tersedia di meja makan, bahkan porsinya bisa melebihi untuk dua orang, sedangkan di meja makan itu sendiri hanya terdapat Mikyung saja. Ia mulai menyantap makan siangnya, dan mulai terlarut dalam lamuman (lagi); entah mengapa akhir-akhir ini ia sering sekali melamun.

“Aku ingin bertemu dengan menantuku.”

Seruan seseorang menyadarkan Mikyung dari lamumannya, ia pun menoleh kearah sumber suara yang berasal dari pintu utama. Mikyung beranjak dari kursinya, lalu menghampiri pemilik suara tersebut.

Di pintu utama, sudah ada pelayan Lee yang sedang berhadapan dengan seorang wanita paruh baya. Langkah Mikyung semakin dekat dengan mereka, tapi tampaknya mereka tidak menyadari kehadirannya.

“Tapi, maaf nyonya, presdir tidak mengizinkan Anda untuk masuk,” pelayan Lee membungkuk berulang kali, sedangkan wanita paruh baya tersebut berdecak sebal.

Gincu yang menantang setiap orang untuk beradu argumen dengannya, menjadi pelengkap yang seakan tidak dapat dipisahkan dari wanita paruh baya itu.

“Apa?! Sehun tidak mengizinkanku untuk masuk? Keterlaluan sekali anak itu.” Nada bicara wanita paruh baya tersebut menaik. Pelayan Lee kembali membungkukkan badannya sembari meminta maaf.

“Ada apa ini?”

Wanita itu dan pelayan Lee menoleh kearah Mikyung secara bersamaan. Mereka terdiam sembari menatapnya, lalu si wanita paruh paruh baya itu menghampirinya dengan senyum tulus yang terpatri di wajah cantiknya walaupun sudah sedikit keriput dimakan usia.

Mikyung membalas senyuman tersebut dengan ramah. Merasa tidak asing dan pernah melihat wanita ini beberapa hari yang lalu.

“Kita bertemu lagi, menantuku.” Ujar Nyonya Oh seraya tersenyum merekah pada Mikyung.

Yang dipanggil hanya dapat tertegun dalam tempat. Mikyung mengerjap sesaat sebelum akhirnya menyadari keadaan. Jadi, wanita di hadapannya kini adalah ibu mertuanya? Mikyung merasa lucu. Ia sudah menikah dengan Sehun, tapi mengapa ia tidak tahu jika yang ada di hadapannya kini adalah ibu mertuanya sendiri. Ah, itu tentu saja. Karena Sehun bahkan sama sekali tidak memberinya informasi tentang keluarga Oh. Pria itu terlalu tertutup.

Annyeong Hasaeyo, Shin Mikyung Imnida.” Mikyung membungkuk, dengan memberikan perkenalan diri secara resmi karena ini adalah pertemuan mereka untuk pertama kalinya secara sah.

“Senang bertemu denganmu, Mikyung-ya.” Sambut nyonya Oh hangat.

“Mari silahkan masuk, eommeoni.”

“Tapi—”

Pelayan Lee menggantungkan kalimatnya kala nyonya Oh sudah masuk ke dalam rumah tuannya. Ada berbagai macam alasan mengapa Sehun tidak mengizinkan ibu tirinya itu untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri. Yang pelayan Lee tahu salah satunya adalah karena Sehun tidak menyukai alias membenci nyonya Oh. Tidak tahu pasti alasan sebenarnya apa, yang jelas sikap Sehun ketika bertemu dengan nyonya Oh sangatlah tidak bersahabat.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Pukul sudah menunjukkan jam setengah dua siang ketika Sehun menginjakkan kakinya di kediamannya. Tidak ada yang spesial dari rumah bergaya minimalis modern itu. Sama seperti hari-hari biasanya, hanya kekosongan yang menyambut kedatangannya. Tapi, begitu Sehun melangkah menuju ruang tamu guna mencapai kamarnya, suara gelak tawa menghentikan langkahnya. Berpikir sejenak, lalu melanjutkan langkah.

Netra tajam Sehun menangkap dua orang wanita yang sudah tidak asing di matanya. Dengan langkah tegas, ia berjalan kearah mereka.

“Sehun-ssi?”

Mikyung yang jauh lebih muda dari wanita di sampingnya, menyadari kehadiran Sehun. Senyum manis terpetak pada wajah cantik Mikyung.

“Siapa yang mengizinkanmu masuk?”

Sehun tak lantas menghiraukan sambutan Mikyung, ia tertuju pada ibu tirinya yang sedang menatapnya balik. Dalam sekejab, aura dingin begitu terasa. Atmosfer yang tadinya biasa-biasa saja, kini berubah menjadi kelam. Mikyung yang menyadari lebih dulu, langsung menghalau pandangan Sehun dengan mengubah posisinya berada di hadapan pria itu.

“Kau sudah pulang? Apa kau sudah makan siang?” Tanya Mikyung, hanya untuk sekadar menghilangkan atmosfer aneh di sekitar mereka.

Tapi, sepertinya, Sehun mengabaikan kehadiran Mikyung.

“Aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan menantuku. Apa itu sangat menggangu untukmu?” Tanya Nyonya Oh seraya berdiri dari duduknya.

“Iya, itu sangat menggangu untukku. Sekarang juga, aku ingin kau pergi dari hadapanku!”

Mikyung sedikit tersentak saat Sehun meninggikan nada suaranya. Tidak ingin terjadi keributan, ia pun mengelus pelan punggung Sehun guna menenangkan pria itu dari amarah yang mulai menguasai dirinya.

“Kau tidak boleh se—”

“Diam.”

Perkataan Mikyung terhenti karena dipotong oleh Sehun. Datar memang, tapi rasanya seperti menusuk sampai ke tulang saat Sehun memotong ucapannya.

“Baiklah, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik, Sehun-ah, Mikyung-ya.”

Nyonya Oh menghilang di balik pintu ber-cat hitam rumah Sehun. Terdapat banyak rasa kecewa yang ditampilkan di raut wanita paruh baya itu, Mikyung dapat melihatnya dengan jelas.

“Kenapa kau mengusirnya?” Tanya Mikyung, menatap Sehun dengan kesal.

Bukankah sangat kurang ajar kalau Sehun mengusir ibunya sendiri? Dan juga sama sekali tidak manusiawi; oke, Mikyung tahu itu berlebihan.

Seperti biasa, Sehun mengabaikan pertanyaan Mikyung. Langkah besar membawanya menuju lantai dua rumahnya untuk menuju kamarnya. Bisa dibilang jika lantai dua adalah daerah kekuasaannya, kamar Mikyung saja berada di lantai satu. Di lantai dua, terdapat ruang perpustakaan, ruang kerja, dan area pribadi lainnya milik Sehun. Ia terobsesi dengan ketenangan, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang dapat memasuki lantai dua. Dan, Mikyung bukanlah salah satu dari orang-orang yang ia izin ‘kan untuk memasuki area privasi miliknya. Tapi, wanita tersebut seakan menganggap jika itu adalah hanya omong kosong; pelayan Lee sudah memberitahu jika lantai dua adalah area kekuasaan Sehun, dan pria itu sendiri yang menyuruh untuk memberitahukannya pada Mikyung.

Langkah Sehun terhenti di pertigaan tangga, ia tidak memutar tubuhnya. Dan ia juga tahu kalau Mikyung mengikutinya dari belakang. Kenapa wanita itu suka sekali mengurusi hidupnya?

Setelah menghela napas panjang, Sehun memutar tubuhnya menghadap Mikyung. Netranya yang tajam, menatap wanita itu lekat.

“Aku ingin bicara denganmu,” ujar Mikyung dengan ekspresi kesal; sejujurnya itu adalah kamuflase untuk menutupi rasa gugupnya ketika berhadapan dengan Sehun.

“Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu,” balas Sehun datar. Lalu ia membalikkan tubuhnya, dan kembali melangkah menuju kamarnya.

Mikyung yang tetap gigih untuk menagih penjelasan pada Sehun, tetap mengikuti langkah pria itu. Tapi, langkahnya terhenti begitu Sehun sudah memasuki kamarnya. Tidak banyak pergerakan yang bisa ia lakukan. Hanya tinggal satu anak tangga lagi Mikyung mencapai lantai dua, dan ia malah mematung seraya pikirannya yang berperang.

Suara rintihan seseorang berhasil menyadarkan Mikyung dari lamunannya. Ia menoleh pada pintu yang tidak tertutup sepenuhnya. Suara itu berasal dari sana. Mikyung kembali memahat jalannya, menuju pintu kamar Sehun di mana suara itu berasal.

Tanpa memikirkan kelancangan yang Mikyung lakukan, ia tetap membuka pelan pintu kamar Sehun dan menimbulkan bunyi gesekan dari pintu tersebut. Membuat empunya menoleh kearah Mikyung yang sedang terpaku pada tempatnya. Tanpa sadar, kaki Mikyung melangkah tanpa perintah darinya.

Iris teduhnya menatap luka di perut Sehun dengan nanar. Lihat! Luka jahitan pria itu bahkan belum mengering. Tapi, mengapa Sehun sangat egois sekali? Bagaimana kalau terjadi infeksi parah? Bahkan untuk saat ini Mikyung tak dapat berpikir jernih sama sekali.

“Apa itu tidak sakit?” Tanya Mikyung, tubuhnya kaku seperti orang bodoh di hadapan Sehun.

“Bagaimana kalau sampai infeksi? Ish! Kau ini sangat keras kepala. Sudah ku katakan jika tunggu lukamu sampai mengering.” Omel Mikyung, seperti memarahi seorang anak kecil berusia 5 tahun yang nakal. Dan Sehun? Pria itu hanya terdiam seraya memandang Mikyung tanpa ekspresi.

“Lihatlah ini! Aku akan membantumu mengganti perbannya.”

Mikyung berjongkok di hadapan Sehun yang sedang terduduk di sisi ranjang. Baru saja akan menyentuh perban yang terdapat di perut Sehun, tangan wanita itu di tahan oleh tangan kekar yang sudah ia ketahui pemiliknya. Sudah sangat mati-matian menahan rasa gugup ketika harus melihat otot kencang perut Sehun, dan kini malah di tambah dengan tangan kekar yang terasa hangat itu menyentuh permukaan kulitnya. Sungguh. Ini sama sekali tidak berefek bagus baginya.

Mikyung mendongakkan kepala. Pandangannya dengan Sehun langsung bertemu, begitu terus sampai beberapa detik sebelum Sehun memutuskan.

“Kenapa kau suka sekali ikut campur?”

Pertanyaan Sehun membuat Mikyung tercekat, bingung ingin menjawab apa.

“Maksudmu?” Dan Mikyung membalikkan pertanyaan Sehun, dahinya berkerut bingung.

“Lupakan,” dengan cepat, Sehun menepis tangan Mikyung yang ingin menyentuh perutnya.

Butuh kesadaran lebih untuk terbangun dari rasa heran yang menyelimuti Mikyung. Ia tidak bodoh, tapi pura-pura bodoh. Masih dalam posisi sebelumnya, dengan terpaku ketika Sehun sedang mengganti perban yang terdapat di perutnya seorang diri. Begitu kentara rasa sakit di wajah tampan pria itu, tapi Sehun menutupinya sedemikian agar Mikyung tidak dapat melihatnya.

“Jangan ditahan. Aku tahu rasanya pasti sangat sakit. Kenapa kau tidak pergi saja ke rumah sakit? Itu ‘kan lebih higienis daripada harus menggantinya di sini. Apa kau benar-benar tidak butuh bantuanku?”

Bisakah Sehun membungkam mulut wanita di hadapannya ini sekarang juga? Ia benar-benar tidak tahan dengan mulut cerewet miliknya.

Setelah selesai mengganti perbannya, Sehun bangkit dari duduk lalu melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian. Sedangkan Mikyung, wanita itu berdiri dari posisinya dan mengikuti setiap pergerakan Sehun. Ngomong-ngomong, ini adalah pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar pria itu. Kamar ini didominasi dengan warna hitam-putih, bahkan tidak hanya kamar, tapi seluruh interior rumah ini memang didominasi warna yang sama pula. Memang sangat Oh Sehun sekali.

Sehun berbalik badan setelah selesai memakai kaus abu-abu berbahan katun yang sangat nyaman untuk dikenakan. Ia memperhatikan Mikyung yang juga sedang memperhatikannya. Ia tidak habis pikir dengan wanita itu, tidakkah ada hal yang lebih penting daripada harus terus mencampuri segala urusannya.

“Kenapa kau masih di sini?” Tanya Sehun.

Mikyung menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal, “Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Ada keraguan dalam ucapannya.

“Apa?”

“Tentang eommeoni tadi….”

Mikyung tidak melanjutkan kalimatnya kala netra Sehun yang langsung menyalurkan aura gelap begitu ia menyebut tentang ibu dari pria itu. Jelas jika ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam silsilah keluarga Sehun, karena memang ia tidak pernah mengetahui keluarga konglomerat itu sedikitpun. Yang ia tahu, jika mendiang Ayahnya adalah sahabat baik dari mendiang Ayah Sehun. Itupun ia tahu ketika pengacara pribadi Sehun yang menjelaskan saat mereka sedang mengurus untuk keperluan dari Akta Pernikahan yang harus diisi datanya.

“… kenapa kau memperlakukannya seperti tadi?” Mikyung kembali melanjutkan perkataannya yang berbuah menjadi pertanyaan.

Terdengar helaan napas berat Sehun. Ia mendekat kearah Mikyung dengan tatapan yang mengintimidasi.

“Dia memang pantas mendapatkannya,” balas Sehun, masih dengan langkah menuju Mikyung.

“Kenapa?” Tanya Mikyung, tidak dapat dipungkiri jika ia sangat gugup saat ini.

Setelah sampai di hadapan Mikyung, Sehun memajukan wajahnya ke wajah wanita itu. Tapi, setelahnya, ia melesetkan ke arah telinga Mikyung. Dengan jarak 3 senti, Sehun dapat mencium aroma vanila yang menguar dari rambut wanita tersebut.

“Itu bukan urusanmu,” bisik Sehun tepat di telinga Mikyung.

Yang dibisikkan justru terpaku, otaknya seperti kehilangan akal sehat.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Seorang pria dengan secangkir teh di tangannya, mulai mengeraskan rahang kala sang asisten membisikkan sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya memanas.

“Kau sudah mentransfer uang yang ku kirim padanya, bukan? Dan kau sudah memerintahkan dia untuk pergi dari Korea, ‘kan?”

“Iya, tuan.”

Guratan ketakutan tergambar jelas dari wajah sang asisten. Benar saja, apa yang ia takutkan terjadi juga. Suara pecahan beling menggema di ruangan itu.

“BODOH!!! BAGAIMANA BISA DIA TERTANGKAP?!” Bentakan dari tuannya si asisten itu dapatkan.

Pria yang membentak tadi, memukul keras wajah sang asisten pribadinya itu. Sampai membuat asisten pribadinya tersebut tersungkur ke lantai marmer yang dingin.

“Urus semuanya! Aku tidak ingin ada bekas noda di dalam namaku.”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Sehun kembali menjauhkan wajah serta tubuhnya dari Mikyung. Ia membalik tubuh, lalu melengos keluar kamar. Tapi, perkataan Mikyung membuat langkahnya terhenti ditengah jalan.

“Kenapa? Aku bertanya kenapa, apa sangat sulit untuk menjawab yang sebenarnya? Bukankah ini tidak adil. Kau mengetahui segalanya tentang diriku, tapi aku sama sekali tidak mengetahui sedikitpun tentang dirimu. Lalu, kau anggap apa pernikahan ini? Sebuah permainan? Iya?”

Mikyung sama sekali tidak menyangka jika ia akan meledak ‘kan rasa kesalnya seperti ini. Entah mendapat keberanian dari mana untuk berucap lebih pada Sehun. Melihat bagaimana acuh tak acuh pria itu padanya selama ini, cukup membuat ia tertekan. Mikyung tidak suka diacuhkan. Selama ini mungkin ia terlihat tenang, tapi memendam ketenangan padahal di dalamnya bergemuruh hebat tidaklah semudah kelihatannya. Ia sudah cukup menahannya lebih dari dua minggu ini; selama tinggal bersama Sehun.

Merasa tidak terlalu penting untuk dibahas, Sehun kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Dan lagi-lagi, perkataan Mikyung membuat langkahnya terhenti. Tapi, untuk kali ini, ia tidak bisa menahannya. Lantas, ia berbalik badan dan menghampiri wanita itu.

“Aku menyesal… menyesal mengapa kau sudah mengeluarkanku dari sana.”

Mikyung merasakan sesak mulai menyergap ruang dadanya. Pertahanan yang selama ini sudah ia pondasikan untuk tidak jatuh, pada akhirnya jatuh juga. Sehun bukanlah sosok seseorang yang hangat dan mudah untuk diajak berkompromi. Poin minus yang sejujurnya tidak Mikyung sukai.

“Jadi kau menyesal?” Pertanyaan Sehun, membuat Mikyung tak lantas takut menghadapi pria itu.

“Iya, lebih baik aku membusuk di dalam sana dari pa—”

Mikyung tidak sempat untuk melanjutkan kalimatnya karena Sehun yang membungkam bibirnya menggunakan bibir pria itu. Alhasil, kedua bibir mereka bertemu. Mikyung yang masih terkejut, membulatkan kedua bola matanya, dan telapak tangan yang berada di sisi tubuhnya terkepal erat.

Sehun menarik pinggang Mikyung, dan tangannya yang bebas mulai menggerayangi tengkuk belakang wanita itu. Yang tadinya hanya sebuah kecupan, berubah menjadi lumatan-lumatan kecil. Tidak ada perlawanan maupun penolakan dari Mikyung, karena saking terkejutnya.

Sampai ketika Sehun menyudahi aksinya, Mikyung masih setia dengan membulatkan kedua matanya yang mengerjap guna mengambil nyawanya yang terbang entah kemana. Sehun tidak menarik kedua tangannya dari tubuh Mikyung. Sudah cukup benteng yang selama ini Sehun buat, karena pada akhirnya akan runtuh juga. Sudah cukup ia menahan hasrat untuk tidak menyentuh Mikyung, karena pada akhirnya pertahanan dirinya runtuh juga.

“Jika kau memang benar-benar menyesal, aku bisa membawamu kembali ke sana.”

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

P.s :

Kyknya ini ff makin lama makin absurd yy? Hahaha

19 thoughts on “Nightmare [Part IV] #Regret

  1. maaf thor koreksi sedikit mungkin lebih enak bagian Pukul sudah menunjukkan jam setengah dua siang jadi Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang ya authornim, maksud dr kata tsb agar lebih jelas, maaf bila tersinggung🙂
    Makin penasaran itu Sehun kenapa ampun misterius banget~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s