Mean of Happy

Mean Of Happy-Poster
Mean of Happy

A fiction by bebhmuach (@bebh_muach)

 

[EXO] Kim Jongdae & [OC] IRISH

Vignette || AU, Romance, slight Friendship || PG

I OWN THE PLOT!

Happy reading!^^

“Terima kasih. Karena kau, aku bisa mencintai dan dicintai, Chen.” -Irish

©2016 bebhmuach

 

Godaan sambungan internet nirkabel gratis dengan kecepatan dewa di kedai kopi cepat saji ini tidak cukup efektif untuk mengenyahkan kejenuhan Kim Jongdae. Meja di depannya sudah berganti tuan sebanyak dua kali, kembali melirik arloji—memperhitungkan kemungkinan ia akan enyah dari sana juga.

 

“Maaf, aku sedikit terjebak macet.” Kalimat itu terlontar sebagai sapaan.

 

Adalah suatu kebiasaan baginya untuk selalu menunggu Irish. Jongdae tersenyum kecil sebagai respon selagi gadis berkemeja biru itu duduk di hadapannya.

 

“Jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?” tanya Jongdae sedetik setelah Irish memesan segelas capuccino kepada seorang pelayan yang kebetulan melintas di dekat mereka.

 

“Kau buru-buru?” Bukan menjawab Irish malah balik bertanya, ekspresinya tidak jauh dari rasa cuai yang kentara.

 

“Tidak juga, sih.”

 

“Ya sudah, kalau begitu. Kita bisa minum kopi bersama dulu.”

 

“Kau tahu ini tidak benar, bukan?” Jongdae berujar lagi. Ia tak ingin kedua mata indah di hadapannya akan bersirobok dengan miliknya, tapi terlambat ketika Irish langsung menatap ke arahnya setelah ia selesai melontarkan kalimat tanya itu.

 

Kekehan sarkastis dari Irish terdengar menyusul.

 

“Aku tahu. Tapi aku tidak sedang bertanya salah atau benar, Chen.”

 

Jongdae terdiam. Ia mengerjap sebentar, membiarkan otaknya berproses sebelum akhirnya menyadari bahwa Irish memang sengaja memanggilnya demikian.

 

“Aku akan memanggilmu Chen-Chen.”

 

“Nama apa itu?”

 

“Itu terdengar lucu dan menyenangkan. Ini panggilan sayangku untukmu.”

 

Memoar masa lalu itu tiba-tiba tergulung selesai ketika terdengar suara gelas membentur meja, membuat atensinya cepat beralih ke arah satu pelayan yang tengah mengantarkan pesanan si gadis.

 

“Kau terlihat lebih kurus sekarang?”

 

Si pemuda tak langsung menjawab. Ia hanya memandangi Irish yang masih betah menatapnya.

 

“Meski sibuk, kau harus tetap menjaga kondisi tubuhmu.”

 

Jongdae memilih bungkam—untuk saat ini.

 

Melihat ucapannya tak ada satu pun yang mendapat respon, Irish kembali membuka topik pembicaraan baru. “Oh ya, kau tahu kedai kecil yang baru buka di dekat stasiun itu? Katanya di sana mereka menjual ayam goreng dan bir yang enak.”

 

“Irish Levyona.” Jongdae menyebutkan nama itu lamat-lamat dan sukses membuat lawan bicaranya berhenti bercicit. “Kumohon hentikan semua ini.”

 

Ada hening sejenak menguasai atmosfer. Keduanya saling memaku pandang, sibuk membaca pikiran masing-masing. Tentu saja gagal, baik Irish maupun Jongdae tidak memiliki kemampuan seperti itu. Namun mereka masih seperti dulu, tatapan mereka masih mengisaratkan perasaan yang sama.

 

“Kenapa menatapku seperti itu sih, Chen. Aku malu, tahu.”

 

“Karena aku mencintaimu,”

 

Jongdae ingin sekali melontarkan umpatan untuk dirinya sendiri, presensi Irish tak ubahnya menggali masa lalu yang telah dikuburnya dalam-dalam. Perasaan dimana perih dan rindu bercampur menjadi satu.

 

“Hari ini. Berikan aku waktu hanya hari ini untuk terakhir kalinya, Chen.”

 

Jongdae tahu jika apa yang dilakukannya hari ini adalah sebuah kesalahan—dan bila tak dimaafkan sekali pun ia bisa terima. Namun untuk kali ini, otak dan hatinya bukan suatu kolaborasi yang baik—sesuatu yang mengatas namakan dirinya sebagai logika kalah dengan perasaan. Maaf!

 

“Baiklah. Ayo, kita habiskan hari ini bersama.”

 

***

 

Irish memerhatikan Jongdae sedari tadi mereka berjalan berdampingan.

 

“Kenapa kau melihatku terus?”

 

“Tidak ada apa-apa,” jawab si gadis sembari menggelengkan kepala.

 

Setelahnya, ia menirukan apa yang dilakukan Jongdae; memasukkan kedua tangannya ke dalam mantel. Seoul malam hari ini terasa dingin sekali—salahkan Irish yang meminta Jongdae untuk tidak membawa mobil. Ketika kedua mata lelaki itu menangkap sosok Irish yang sedang kedinginan, dengan cepat Jongdae meraih tangan kiri Irish dan menggenggamnya erat.

 

“Coba saja kalau aku bawa mobil, kau tidak akan kedinginan seperti ini.”

 

Irish hanya bisa diam dan tak menolak ketika Jongdae memasukkan tangan mereka yang bertautan ke dalam saku jaketnya. Ada banyak kupu-kupu terbang di dalam perutnya—menggelitik namun menyenangkan. Jongdae mengeratkan genggamannya, menarik irish lebih dekat.

 

Ya, hanya hari ini saja. Jongdae membatin selagi mengulum senyum di balik bibirnya.

 

“Kupikir, hari ini kau tak akan datang.”

 

“Tadinya.”

 

Mendengar celetukkan Jongdae, gadis itu memberengut. “Dasar kejam.”

 

“Lebih kejam mana; meninggalkanku untuk menikah dengan orang lain atau jalan bersama mantan pacar padahal besok kau akan menikah?”

 

Irish menyikut Jongdae. “Ini biasanya disebut pesta lajang sebelum menikah.”

 

Satu senyum kecil Jongdae merekah dan ia memilih mengalah. Tidak ada gunanya memperpanjang perdebatan, lantaran ia tidak ingin merusak suasana hari ini.

 

“Oh ya, bagaimana dengan Anna?” Maniknya memerhatikan reaksi lebih lanjut dari si pemuda.

 

“Dia baik,” sahut Jongdae pendek.

 

“Kapan kalian akan menikah?”

 

“Entah. Anna masih harus menyelesaikan beberapa tugasnya.” Jongdae menoleh ke arah Irish sekilas guna menatapnya. “Memangnya kenapa?”

 

“Kalian harus segera menikah, agar aku tak merebutmu dari Anna,” ucapnya dengan nada penuh keyakinan yang dibuat-buat.

 

Mendengar itu Jongdae tak bisa menahan dirinya untuk tidak memberikan cengiran kecil.

 

“Lucu, ya?”

 

Inginnya, Jongdae cium saja bibir merah itu dan tidak membiarkannya mengolok-ngolok perasaannya. Memang pelik, masih memiliki perasaan pada gadis yang akan menikah besok. Ia tak ingin memoar masa lalu bersama Irish kembali ke dalam ingatannya—cukup, biarkan Jongdae kembali pada kenyataan sekarang, hm, masih ada sisa waktu tiga jam baginya sebelum berpikiran jernih. Karena esok, gadis yang tangannya kini berada dalam genggamannya itu akan resmi menjadi milik orang lain.

 

Tanpa sadar Jongdae mengeratkan genggaman. Irish bisa merasakan itu. Gadis itu beringsut mendekat, menyandarkan bola kepalanya di atas bahu Jongdae.

 

“Seharusnya tidak begini kisah cinta kita berdua.” Jongdae mendengar Irish menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Harusnya ada sesuatu yang bahagia di akhir cerita.”

 

Saat itu, keduanya masih meninggikan ego masing-masing. Jongdae tidak ingin dibilang ‘lelaki yang tunduk dengan wanita’, sementara Irish ingin hubungan mereka teratur dan konstan. Gadis itu hanya ingin Jongdae menjadi pribadi yang sempurna untuknya.

 

“Bisakah kau tak mengatur untuk kali ini saja, Rish?”

 

“Itu hanya sebuah saran bukan aturan, kok. Kalau kau mau mendengarkanku, coba kaulakukan.”

 

“Tidak. Aku sudah dewasa, Rish. Aku lebih tahu mana yang lebih baik untuk diriku sendiri.”

 

“Kau egois.”

 

“Jika aku egois, lalu kau apa?”

 

Sebenarnya tidak ada masalah yang mendominasi. Keduanya hanya tersandung kebosanan. Sayangnya, bukan membuat penyelesaian untuk perdebatan, mereka memilih berpisah dan lari masalah.

 

“Kau pasti bahagia, aku yakin.”

 

Irish tidak berminat menanggapi kalimat Jongdae barusan.

 

“Baekhyun laki-laki baik, bertanggung jawab dan juga perhatian. Dia juga humoris, kau pasti akan dibuat banyak tersenyum.”

 

Meskipun ucapan Jongdae benar, entah mengapa Irish tidak bisa melenyapkan sosok Jongdae dalam benaknya.

 

Lima belas menit berlalu—selepas mereka turun dari bis—pagar rumah Irish terlihat tak lama kemudian.

 

Jongdae sedikit menundukkan kepala dan menatap Irish dalam-dalam. “Pastikan kau selamat malam ini, agar besok Baekhyun ada yang menemani di atas altar.”

Irish mendengus. Jika biasanya percakapan dengan kondisi seperti ini akan terasa dramatis, sensasinya menjadi lain bila Jongdae yang bicara. Di sanalah letak keunikan Kim Jongdae yang membuat gadis berusia 25 tahun itu jatuh hati; pemuda itu selalu memberikan kenyamanan jika bersamanya.

 

Biasanya—dulu—Jongdae akan mengecup kening Irish dan berjalan pulang. Namun nampaknya Irish harus mulai tak mengingat kebiasaan lama itu. Harus, karena esok akan ada kebiasaan baru yang harus ia ingat untuk seterusnya.

 

“Semoga kau bahagia.”

 

Jongdae bergerak maju sedetik setelah kalimat itu terlontar. Menempatkan satu ciuman di atas bibir merah si gadis. Hangat, manis, dan penuh kasih.

 

***

 

Tepuk tangan dan sorak riuh menginvasi ruang café Whitmore. Meneriaki nama ‘Kim Jongdae’ dengan penuh semangat. Si empunya nama makin melebarkan senyum kala suara tepukan penghormatan untuknya tetap terdengar hingga ia menduduki tempatnya. Rautnya yang tengil berubah kecewa ketika mendapati seloroh menggoda menyentil indera pendengarannya.

 

“Kupikir usia akan mengikis kemampuan bernyanyimu. Ternyata kau masih sama bagusnya seperti dulu,” ucap si pria kurang tinggi—kau bisa menyebutnya pendek jika kuasa—yang duduk di sampingnya. Kim Minseok, karib sekaligus pria tertua dari rekan-rekannya yang berada di meja sama, menepuk bahu Jongdae yang sudah kembali duduk setelah sebelumnya diminta menyanyikan sebuah lagu oleh si pemilik café.

 

“Aku memang sudah tidak tergabung dalam band sekolah lagi, tapi kemampuanku tidak hilang begitu saja,” balasnya, lengannya terulur meraih cuping cangkir kopinya.

 

Minseok tak bisa menahan diri untuk tidak memberikan cengiran kecil. Ia selalu senang menggoda satu kawannya itu. Jongdae tidak pernah marah, meskipun Hyung tertuanya terkesan mengganggu.

 

“Kenapa kau tidak datang ke acara pernikahan Baekhyun?” Kali ini Jongin—adik satu tingkatnya di SMA—yang buka suara mengganti topik pembicaraan.

 

Entah mengapa, tiba-tiba saja Chanyeol—pria gila yang gagal mengusulkan malam ini membuat kawan-kawannya mabuk—merasa geli dengan pertanyaan Jongin. Bukan tanpa alasan titel ‘happy virus’ tersemat pada pria jangkung asal Seoul itu. Baginya, topik apa pun bisa menjadi suatu hal yang lucu. Yah, mungkin itu salah satu warisan dari gen keluarga Park.

 

Namun, Kyungsoo yang tengah duduk di kursi paling ujung tidak berpikiran sama. “Memangnya, ada yang lucu?”

 

Tambahkan fakta bahwa Chanyeol semakin lebar menarik sudut-sudut bibirnya di ujung sana, membuat Kyungsoo merasa kalau satu kawannya itu benar-benar butuh penanganan dari ahli kejiwaan.

Chanyeol langsung melayangkan tatap ke arah pria bergaris Do itu selagi mengubah kurva di belahan bibirnya ke posisi datar. “Tidak juga, sih,” timpal Chanyeol dengan memberi jeda sejenak yang membuat semua pasang mata menanti ia melanjutkan kalimatnya. “Hanya saja, bukankah sedikit menggelikan jika Jongdae hadir di acara pernikahan teman yang menikahi mantan kekasihnya?” Tanpa permisi kikik kecilnya menyembul keluar.

 

Entah kenapa, semua pria itu—kecuali Jongdae—setuju dengan pendapat Chanyeol.

 

“Aku masih ingat bagaimana Jongdae minta bantuan Kak Junmyeon untuk membuat surat cinta.” Sehun tak mau ketinggalan masuk ke dalam topik.

 

Jongdae yang merasa namanya di sebut-sebut langsung memberikan reaksi, “Ya! Itu, kan, sudah lama sekali. Untuk apa diungkit lagi, sih.”

 

“Saat itu kau lucu, tahu.” Sehun begitu lepas memulas bibirnya dengan tawa.

 

Sialan kau! Jongdae membatin sedikit kesal. Ia hanya dapat mendengus pelan selagi Sehun semakin larut dalam tawanya dan empat temannya yang lain mulai ikut tertawa.

 

“Berarti kau harus cepat menikah dengan Anna agar bisa move on.” Minseok menepuk-nepuk bahu Jongdae penuh semangat.

 

“Sudahlah. Sekarang mereka sudah bahagia, jangan coba-coba kalian rusak itu,” ucap Jongdae seraya menyeruput kopinya. Membiarkan pahit mendominasi lidahnya melayangkan seluruh ingatannya pada Irish.

 

“Kau pasti bahagia, percayalah. Aku tahu Baekhyun, dia pria yang baik. Terima kasih, karena telah mengenalkanku pada bahagia, Rish. Terima kasih, karena telah mengenalkanku pada cinta. Kau pantas mendapatkan pria terbaik.”

 

“Terima kasih. Karena kau, aku bisa mencintai dan dicintai, Chen.”

 

Percakapan singkat malam itu—tepat beberapa detik setelah tautan mereka terlepas—masih membekas. Jongdae tersenyum kecil. Kedua matanya bergulir mengamati satu per satu kawan-kawannya yang tengah larut dalam tawa.

 

Sejemang kemudian, Chanyeol menginterupsi. “Kau dapat hadiah apa di ulang tahunmu ini?”

 

Oke, selain berlabel ‘happy virus’ pemuda park itu pun selalu ingin tahu. Lantas keempat temannya yang lain mulai ikut-ikutan menunggu jawaban Jongdae. Bahkan Kyungsoo yang kelihatannya tak terlalu minat untuk mengetahui urusan orang lain, kedua matanya sudah mengunci Jongdae.

 

“Anna hamil.”

 

Kelimanya bersorak layaknya tim sepak bola kesayangan mereka berhasil menembakkan gol kemenangan.

 

 

 

End.

Happy birthday uri chen-chen ♥

Entahlah ini ff kok rasanya super aneh, hahaa.. gak apalah. Yang nulis lagi agak konslet kayaknya. Hahaha..

Sekali lagi, hepi besdey uri vocal line, wish the best fo you, always be apart of us. Sarangahae♥

2 thoughts on “Mean of Happy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s