Nightmare [Part V] #Kiss

image

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Setelah kupikir… saat hidupku berada di posisi paling rendah, aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya, aku hanya tahu apa yang sedang kulalui….”

©2016.billhun94


Pada umumnya, manusia memiliki 8 jenis emosi. Yaitu : gembira, penerimaan, rasa takut, terkejut, kesedihan, muak, amarah dan pengharapan. Untuk Mikyung, emosi yang paling menguasi dirinya saat ini adalah rasa takut. Entah mengapa, rasa takut itu mulai muncul ketika Sehun secara terang-terangan mengungkapkan perkataan yang memang seringkali berseliweran di otaknya. Tapi, parahnya, pria itu benar-benar mengungkapkan yang sesungguhnya; Mikyung dapat melihat dari raut dan binar yang terpancar dari mata Sehun. Oleh karena itu, sekarang ia hanya bisa termenung menatap genangan air di kolam renang sedangkan pikirannya berperang hebat.

Langit mulai berganti warna ketika Mikyung menyadarinya tatkala angin malam musim panas menerpa dress sederhana namun manis yang melekat di tubuh rampingnya.

Iris teduh itu, menatap kearah langit malam yang bertabur bintang. Tangannya mulai terangkat, seakan-akan ia bisa meraih bintang itu dengan tangannya. Tanpa terasa, senyum tipis terulas di bibir tipisnya. Jika ditanya, dari semua waktu yang paling ia sukai dari waktu yang ada di bumi ini; jawaban Mikyung adalah malam. Kenapa? Karena tanpa malam, tanpa gelapnya malam, kita tidak bisa melihat bintang yang bertaburan di atas langit. Ketika usianya 5 tahun, Mikyung pernah dibacakan buku dongeng sebelum tidur oleh Ibunya, dan beliau pun mengatakan hal yang sama dengan yang kini ia pikirkan.

Terhitung sudah 3 jam Mikyung duduk di bangku taman di sini, dan mulai sekarang, mungkin tempat ini akan menjadi tempat favorit baginya.

Pintu yang terbuat dari kaca itu terbuka, dan menampilkan sesosok pria yang sedari tadi terus memenuhi isi kepala Mikyung. Pria itu berjalan dengan handuk yang berada di tangannya, serta berjalan santai menuju kolam renang dengan hanya menggunakan celana renang dan membiarkan tubuh atasnya terekspos. Seakan menjadi objek tidak signifikan, Mikyung merasa terabaikan oleh Sehun.

Dengan sekuat tenaga, Mikyung berusaha untuk tidak mengeluarkan sumpah serapah yang sudah mengantung di ujung lidahnya hanya karena melihat Sehun saja. Ciptaan Tuhan yang akan selalu ia ingat dalam pikiran dan hatinya, Oh Sehun. Tubuh yang proposial, dan tanpa celah seakan menjadikan pria itu sebagai sosok yang sempurna; di mata Mikyung.

Sehun memang tidak bermaksud untuk menarik perhatian Mikyung, bahkan ia tidak tahu jika wanita itu ada di bagian samping rumahnya. Sehun hanya ingin olahraga malam, salah satu pilihannya adalah berenang. Dari kejauhan, Sehun dapat melihat bagaimana wajah termangu Mikyung. Dengan ekspresi bodoh miliknya, wanita itu memperhatikan Sehun tanpa berkedip barang sedetik pun.

Dinginnya air tidak menghalau Sehun untuk menceburkan diri serta meliukkan tubuhnya di dalam air berkaporit tersebut.

Setelah menghabiskan waktu 20 menit di dalam air, Sehun memilih untuk beranjak sejenak mengisi tenaga. Napasnya tersengal, beriringan dengan dadanya yang naik turun.

Langkah kaki terdengar samar, namun Sehun tidak terlalu mempedulikannya. Ia pun mengambil handuk yang ada di pinggir kolam setelah mendudukkan dirinya di tepi kolam. Dengan sedikit kasar, Sehun mengusap guna mengeringkan rambutnya dari tetesan air anak rambut yang menganggu.

“Kau bisa berenang juga rupanya.”

Suara itu datang bersamaan dengan langkah kaki yang semakin mendekat kearah Sehun. Dan pria itu, kembali dengan rasa ketidak peduliannya pada omong kosong yang tidak berguna apapun untuknya.

“Boleh aku bantu untuk mengeringkan rambutmu?” Tanya Mikyung, setelah mendudukkan dirinya tepat di sebelah Sehun dengan sebagian kakinya yang masuk ke dalam kolam. Ia sedikit meringis pelan saat dinginnya air mengenai pori-pori kulitnya.

Seperti biasa, Sehun mengabaikan Mikyung. Walaupun ia tahu jika wanita itu tidak suka diabaikan; seperti apa yang dikatakannya tempo hari. Tapi, siapa yang peduli? Sehun hanya menganggap itu sebagai angin lalu.
Secara sepihak, Mikyung merampas handuk yang berada di atas kepala Sehun dari tangan Pria itu. Ia tersenyum karena berhasil melakukan apa yang ia inginkan sedari tadi.

“Hei! Aku sudah bilang kalau aku tidak suka diabaikan. Jadi, mulai sekarang, jika kau mengabaikanku, aku akan melakukan hal apapun yang aku inginkan.” Ujar Mikyung, menelengkan kepalanya untuk menatap Sehun tanpa menghapus senyumnya.

Sehun menghela napas kasar. Sikap seenaknya Mikyung, sudah membuatnya terusik. Kehadiran wanita itu tidak luput dari perhatian dunia yang begitu menanti kehadirannya. Tapi, ia malah mengurung Mikyung di dalam rumahnya sendiri dengan status sebagai istrinya. Tidak banyak yang tahu tentang kebenaran. Karena kebenaran yang sesungguhnya, akan terungkap suatu saat. Jadi, Sehun memilih diam.

Iris tajamnya tidak bisa berpindah dari wanita di hadapannya kini ketika Mikyung mengusap pelan handuk di atas kepalanya menggunakan tangan wanita itu. Mikyung terlalu fokus dengan rambut dan handuk tersebut, sehingga tidak menyadari ekspresi wajah Sehun yang mengeras.

“Kau harus mengusapnya dengan perlahan, jangan terlalu terburu-buru.” Ujar Mikyung disela-sela kegiatannya mengeringkan rambut Sehun.

Memilih untuk diam selagi nyaman; agaknya itu menjadi pilihan Sehun. Walaupun awalnya ia tidak suka dengan kelancangan Mikyung, tapi biarlah wanita itu melakukan hal semacam ini selama privasinya tidak terganggu oleh istrinya tersebut.

“Nah, sudah selesai.”

Usai mengeringkan rambut Sehun, Mikyung malah terpaku oleh tatapan tajam dari pria itu. Tidak dapat untuk berkata atau berulah banyak, Mikyung tetap pada posisi dengan tangan yang masih memegang handuk di atas kepala Sehun.

Waktu seakan berhenti, membiarkan Mikyung untuk tenggelam dalam pesona Sehun yang memasuki dirinya. Merasa jika ia akan mati bodoh di tempat, Mikyung memilih untuk memalingkan wajah serta melepas tangannya dari handuk di atas kepala Sehun tadi—tapi sepertinya itu hanya akan menjadi khayalannya saja. Karena dengan tiba tiba, Sehun menarik tengkuk Mikyung; membawa wanita itu guna mengikis jarak di antara mereka.

Mikyung jelas terkejut dengan sikap Sehun yang satu ini, namun dilain sisi, ia merasakan kehangatan yang mengalir di seluruh tubuhnya.

Sempat mengalihkan tatapan kearah lain, akhirnya Mikyung menyerah untuk menatap iris tajam milik Sehun. Tatapan mereka bertemu; membentuk bendungan besar beruba rangkaian diri masing-masing.

“Apa yang kau lakukan, Sehun-ssi?” Tanya Mikyung yang berusaha untuk menetralkan rasa gugup yang mulai menguasi dirinya.

“Tidak ada,” jawab Sehun. Ya, memang tidak ada yang ia lakukan. Bahkan ia sendiri heran mengapa ia melakukan hal semacam ini pada Mikyung.

“Kalau begitu lepaskan aku,” balas Mikyung sedikit sarkastis.

Sehun mengendurkan tangannya pada Mikyung yang berada di tengkuk sedangkan satu tangannya yang berada di pinggang wanita itu—bahkan Mikyung sendiri tidak tahu kapan tangan itu sudah berada di sana—pada akhirnya, ia dapat bernapas lega.

Sudah sangat sigap, serta berniat untuk beranjak, Mikyung strategi ‘kan sebagai rencara untuk kabur. Namun, begitu ia baru berhasil melangkah mundur satu kali, tangannya di tarik dengan paksa oleh Sehun. Karena tidak dapat menjaga keseimbangan tubuh, ia pun terjatuh ke dalam kolam dengan Sehun yang menjadi panutannya sebab tangannya masih dalam kendali pria itu.

“YA!” Pekik Mikyung.

Sekujur tubuh Mikyung basah; dari atas sampai bawah. Mikyung menyembulkan sebagian tubuhnya. Masih dengan ekspresi kesal karena Sehun sudah menyebabkan dirinya tercebur ke dalam kolam, ia menatap pria itu penuh selidik.

“Apa-apaan ini?!” Sungut Mikyung. Tangannya masih berada dalam genggaman Sehun yang juga ikut tercebur ke kolam, jadi ia tidak bisa melakukan banyak perlawanan.

Sehun sendiri juga sebenarnya tidak mengerti dengan dirinya yang seperti ini, terlalu banyak keasingan yang harus ia cicipi satu persatu bila berdekatangan dengan Mikyung. Namun, anehnya ia sama sekali tidak terlalu bermasalah dengan keasingan tersebut.

“Aku tidak tahu.”

Kening Mikyung refleks mengerut ketika Sehun menyuarakan jawabannya. Pria itu sangatlah rumit untuk dimengerti. Sungguh.

“Aneh sekali,” cibir Mikyung.

Disaat Mikyung ingin melepaskan genggaman tangan Sehun, pria itu malah menggenggamnya lebih kuat. Lantas Mikyung pun menatap heran kearah Sehun.

“Apa maumu sebenarnya? Tolong lepaskan tanganku, di sini dingin sekali.”

Oh, tentu saja dingin. Air di dalam kolam renang ini benar-benar dingin, membuat seluruh tubuh Mikyung menggigil dibuatnya. Tapi tampaknya, Sehun sama sekali tidak mengindahkan perkataannya.

“Oh Se—”

Baru saja Mikyung akan kembali membuka mulut untuk mengeluarkan protesnya; bibirnya terbungkam oleh Sehun menggunakan bibir basah pria itu. Butuh beberapa detik bagi Mikyung untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Tangan Sehun yang berada di belakang tengkuk Mikyung; semakin ia kerahkan untuk mengikis jarak diantara mereka. Lalu, tangan yang tadinya yang masih menggenggam erat tangan Mikyung, kini mulai terlepas dan beralih pada pinggang wanita itu.

Ciuman yang tadinya bermula sebagai sebuah kecupan, kini beralih menjadi sebuah lumatan-lumatan kecil yang mengiring disetiap decakan yang terdengar.

Mikyung mulai berani untuk menutup mata, dan tanpa sadar tangannya yang bebas mulai terangkat naik mengalung di leher Sehun ketika pria itu mengigit bibir bawahnya.

Ini adalah ciuman mereka yang kedua—setelah insiden di kamar Sehun tempo hari—rasanya masih tetap sama bagi Mikyung; sangat mendebarkan. Harus diakui, jika Sehun adalah seorang good kisser oleh Mikyung, dan dari sana jugalah, wanita itu mulai menaruh rasa curiganya pada Sehun. Shin Mikyung tetaplah Shin Mikyung. Rasa curiga yang berbuah pada prasangka buruk, selalu saja ditepis paksa olehnya. Walaupun rasa curiga itu sudah menggunung sekalipun.

Sehun melepas pagutannya dengan Mikyung. Irisnya yang tajam perlahan mulai melunak; disadari atau tidak. Ia tidak memisahkan jarak diantaranya dengan Mikyung, terus membiarkan posisi yang kini mereka alami. Dan terus membiarkan sesuatu di dalam rongga dadanya berdegup kencang, seakan otot jantungnya tak lelah untuk memberi asupan darah lebih seluruh ke tubuhnya dengan debaran hebat seperti ini.

Mikyung masih berusaha untuk mengatur napas serta debaran jantungnya yang kelewat kencang. Kepalanya menunduk untuk menutupi wajahnya yang memerah dari Sehun. Tinggi badannya yang hanya sampai sebatas bahu Sehun, mempermudahkannya untuk menghirup aroma tubuh pohon pinus milik pria itu. Untuk kesekian kalinya, ia terperosok dalam pesona yang sama.

Tidak sengaja, iris teduh Mikyung menangkap perban di perut Sehun. Seketika, ingatannya mengarah pada kejadian yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Ia mengangkat wajahnya untuk melihat kearah Sehun yang sama-sama sedang mengatur napasnya.

“Lukamu… apakah tidak apa-apa jika dibiarkan terkena air terlalu lama? Pasti sangat sakit, ya?” Tanya Mikyung dengan raut khawatir yang begitu kentara.

Sehun menggeleng sebagai jawaban. Rasa sakit luka di perutnya tidak akan sebanding dengan apa yang selama ini ia rasakan.

Jarak yang mereka berdua ciptakan memberikan sensasi tak terduga sebelumnya; baik untuk Mikyung maupun Sehun. Keduanya dapat menghirup aroma masing-masing dari tubuh lawan.

Sedikit tidak selaras dengan apa yang terjadi diantara kedua pasangan sejoli itu; salah satu dari mereka merasakan keraguan tak kasat mata. Sebuah keraguan yang selama ini terus menghantuinya dalam menjalin suatu hubungan. Yaitu….

Ketika kita semakin cinta pada seseorang, maka semakin banyak pula ketakutan yang lahir dari perasaan itu; ketakutan akan datangnya sebuah perpisahan yang melemahkan satu pihak.

-o0o-

Menjadi seorang psikolog adalah pilihan tersendiri pada lelaki bernama lengkap Kim Jongin itu. Seorang psikolog mampu mengobati atau membantu menyembuhkan luka dalam (batin) pasiennya; itu yang Jongin suka dari pekerjaannya sekarang.

Besar tanpa kasih sayang seorang ayah, membuat lelaki berusia 30 tahun tersebut harus hidup dengan berbagai risiko yang ia tanggung sendiri sejak kecil. Jongin tumbuh bersama Ibu dan adiknya yang berjarak dua tahun lebih muda darinya. Seringkali, ia dicap sebagai anak haram oleh sebagian orang karena ketidak hadiran sosok ayah dalam hidupnya berserta sang adik. Oleh karena itu, Jongin memiliki sikap yang tegas sebagai seorang pemimpin yang kuat dan berpendirian tinggi; sangat berbeda sekali dengan adiknya.

Terdengar hembusan napas kasar dari Jongin. Ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Menghabiskan waktu bergelung dengan pekerjaan membuat ia sangat letih.

Tanpa perlu repot-repot untuk menganti baju ataupun sekedar membasuh wajah; Jongin mulai menutup mata untuk terlelap.

Rasa kantuk yang menyerang Jongin harus terganggu karena kehadiran seorang wanita yang membuka pintu kamarnya. Jongin sudah tahu siapa seseorang yang berani membuka pintu kamarnya dengan seenak hatinya saja; siapa lagi jika bukan Ibunya.

“Kau sudah pulang? Mau makan malam?” Tanya wanita paruh baya bernama lengkap Han Yooin itu seraya menghampiri putranya.

“Tidak,” jawab Jongin samar.

Yooin mendudukan dirinya di sisi ranjang, menatap sang putra dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.

“Taeyong membuat ulah lagi. Sekarang dia ada di kantor polisi, tapi eomma tidak berniat untuk menjenguknya. Biarlah dia mendapat pelajaran dari apa yang sudah dia lakukan.”

Jongin membuka mata ketika nama sang adik disebut oleh Ibunya.

“Jangan terlalu memanjakannya. Lihat, dia sekarang jadi seperti ini.”

Walaupun sudah menua dimakan usia, wajah Yooin tetap terlihat cantik serta menawan, dan itu menurun pada putra-putranya yang lahir dengan wajah rupawan bak seorang pangeran dari negeri dongeng.

Jongin membenarkan posisinya menjadi duduk. Lalu menatap Ibunya lembut. “Eomma, pasti sangat sulit, ya?”

Mengerti dengan pertanyaan dari Jongin, Yooin hanya dapat tersenyum getir.

“Inilah kehidupan, nak.”

-o0o-

Cahaya yang kurang tidak mengurangi wajah menyeramkan yang datang dari seorang pria setengah baya yang kini sedang mencengkeram gelas anggur di tangannya.

“Bunuh dia sekarang.”

Perintah itu seakan menjadikan perintah paling berat bagi seorang pria lain yang berdiri di samping pria setengah baya tadi.

“Jangan meninggalkan jejak sedikitpun.”
Pria setengah baya yang tidak lain adalah Oh Jinyoung itu menyesap pelan gelas yang berisi anggur. Jinyoung dikenal dengan sikapnya yang keras, dan licik. Tidak ada yang mampu mengalahi kelicikan seorang pemimpin dari perusahaan terbesar di Korea itu.

“Baik, tuan.”

-o0o-

Hanya untuk menetralkan keadaan yang sedang genting sebab sang paman terlibat dalam kasus penggelapan dana sebuah rumah sakit ternama di Seoul, Sehun terpaksa harus menunggu sampai keadaan reda dan dimana semuanya sudah kembali normal seperti biasa. Serta hari ini, ia berniat untuk ke Gold Corp guna menemui sang paman.

“Aku harus mengenakan pakaian seperti apa nanti?” Tanya Mikyung disela-sela kegiatan saparapannya di meja makan bersama Sehun. Setelah mereka berstatus sebagai pasangan suami-istri, ini adalah kali pertama mereka sarapan bersama. Biasanya, Sehun sudah berangkat bekerja pagi-pagi buta.

“Pamanku bukan orang penting,” jawab Sehun acuh.

Mikyung mendesis pelan, “Bagaimana pun juga dia adalah pamanmu,” sahutnya.

Dengan sedikit kasar, Sehun menaruh cangkir kopi yang baru diminumnya ke tempat semula. Ini masih pagi, tapi mengapa Mikyung sudah mengibarkan bendera perang padanya.

“Cepat habiskan sarapanmu,” ujar Sehun, lalu beranjak dari duduknya menuju lantai dua kamarnya.

Mikyung mengikuti pergerakan pria itu, “Dia sangat sensitif sekali, seperti sedang PMS.” Cibirnya, yang tentu tidak dapat didengar oleh Sehun.

-o0o-

Mobil sedan hitam mengkilap milik Sehun itu berjalan menyusuri kota Seoul yang ramai pada jam-jam tertentu, seperti sekarang misalnya; padahal jam belum menunjukan jam untuk makan siang, tapi orang-orang dengan berbagai macam profesi sudah siap untuk menyambut datangnya makan siang.

Seperti biasa, Sehun yang bungkam dan Mikyung yang memilih untuk ikut bungkam walau sejujurnya ia tidak menyukai keadaan seperti ini.

Perusahaan keluarga milik keluarga Oh tersebut berada di pusat kota, dimana orang-orang dapat mencarinya dengan mudah. Begitu banyak para sarjana dengan berbagai macam bidang serta keahlian dari tahun-tahun yang berbeda melamar pekerjaan di perusahaan tersebut, bahkan jumlahnya ribuan. Tidak hanya berada di Korea saja, cabang dari Glod Corp juga menjamah dibeberapa negara Asia lainnya yang memiliki orang-orang berkompeten dalam bidang bisnis.

Mobil sedan itu berhenti tepat di depan lobi pintu masuk perusahaan, asisten Yoon pun dengan sigap membukakan pintu untuk Sehun dan Mikyung. Dari tatapan yang diberikan oleh beberapa karyawan perusahaan, Mikyung menyimpulkan jika mereka menaruh rasa iri yang begitu besar padanya. Dibuat tidak nyaman, Mikyung segera menghampiri Sehun.

Berbalut dress berwarna biru dongker dengan lengan sepertiga serta panjang se-dengkul, Mikyung terlihat anggun dan menawan secara bersamaan. Sehun sendiri seperti biasa, berbalut setelah jas armani yang membentuk tubuh atletis miliknya. Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan di mana pamannya Sehun berada.

Pintu lift terbuka tepat di lantai 15. Sehun yang lebih dulu mengambil langkah, setelahnya Mikyung mengikuti.
Mikyung memang tidak begitu mengetahui tentang selisih keluarga Sehun seperti apa, dan bagaimana keakraban mereka, lalu seperti apa sifat mereka. Tapi, dari cara Sehun berbicara dan bertutur kata di hadapan pamannya sendiri, sudah tergambar jelas jika pria itu sama sekali tidak menyukai sang paman.

“Senang bisa menyambutmu secara resmi seperti ini, Mikyung-ssi.”

Mikyung menebar senyum manisnya, “Saya juga merasa senang bisa bertemu Anda kembali.” Dan sejujurnya, itu hanyalah bualan semata. Sama sekali tidak ada perasaan senang ketika bertatap muka dengan paman Sehun itu. Jika saja Sehun tidak menyuruhnya untuk ikut, ia pasti tidak akan berada di sini sekarang.

“Selamat datang di keluarga Oh.”

Oh Jinyoung—tidaklah benar-benar senang dengan kehadiran Mikyung, karena baginya wanita itu sama seperti sebuah bencana besar.

“Terima kasih,” Mikyung sedikit menundukkan kepalanya seraya berucap.

“Bagaimana dengan keadaan perusahaan?”

Sehun yang notabenenya tidak suka berbasa-basi, langsung menanyakan tujuan dari kedatangannya ke sini.

Jinyoung tertawa pelan, “Menanyakan kabar dulu bukankah lebih baik, Sehun-a.” Sebagai seorang paman dari Sehun yang sudah mengenal pria itu dari kecil, menjadikannya hapal sikap dan sifat dari keponakannya itu.

“Aku ke sini bukan untuk menanyakan kabarmu,” balas Sehun ketus.

Mikyung yang diam, perlahan mulai merasakan aura tidak mengenakan di sekelilingnya begitu wajah Jinyoung berubah menjadi serius, tidak ada lagi raut ramah didalamnya seperti tadi.

“Kau bisa melihat keadaannya baik-baik saja, semuanya normal seperti biasa. Walaupun aku sedang bermasalah, tapi itu tidak memengaruhi keadaan perusahaan.”

Sehun terdiam sejenak, sebelum membuka mulutnya. “Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada perusahaan,” ucapnya tegas.

“Kau tenang saja. Oh ya, ngomong-ngomong ibu tirimu datang menemuiku beberapa hari yang lalu.”

Detik itu, rahang Sehun mengeras ketika mendengar kata ‘ibu tiri’ terlontar pahit dari bibir Jinyoung. 
Mikyung yang tidak mengetahui apapun, hanya mengernyit bingung apa maksud dari perkataan Jinyoung tadi. Ibu tiri? Lalu dimana ibu kandung Sehun sekarang?

“Dia menyuruhku untuk memberitahumu kalau aset appamu akan seluruhnya diberikan kepada kedua anaknya.”
Sehun langsung bangkit dari duduk. Menatap tajam Jinyoung, namun raut wajahnya tetap pelit akan ekspresi.

“Aku keluar sebentar.”

-o0o-

Senyum getir mengiringi langkah Mikyung. Ia tidak akan pernah menyangka sebelumnya jika hidup Sehun ditakdirkan dengan sangat menyedihkan seperti ini. Walaupun tidak mendengar langsung dari empunya, tapi sudah cukup baginya untuk mengetahui hidup seperti apa yang Sehun jalani. Tidak hanya dirinya yang terjebak dalam mimpi buruk, tapi pria itu juga mengalami hal yang sama seperti apa yang ia alami.

Benar apa yang sudah menjadi dugaan Mikyung, jika Sehun berada di atap gedung pencakar langit ini. Kaki jenjangnya perlahan mendekat kearah pria itu. Dilihatnya, jika Sehun sedang menghisap sebatang rokok dengan ujungnya yang terbakar. Mikyung tidak pernah mengetahui sebelumnya jika Sehun adalah seorang perokok, tapi itu benar-benar mengganggunya.

“Sepertinya kau suka sekali menyendiri.”

Sehun langsung mematikan puntung rokok yang berada di tangannya saat mendengar suara Mikyung dari belakang.

“Aku juga tidak tahu kalau kau seorang perokok, Sehun-ssi.”

Sehun tidak berniat untuk berbalik badan.

“Dan aku juga baru tahu kalau banyak sekali rahasia yang selama ini kau pendam seorang diri. Tidak berniat untuk berbagi denganku?”

Mikyung sudah tepat berada di samping Sehun, tapi pria itu seakan menghindari keberadaannya.

“Setelah kupikir… saat hidupku berada di posisi paling rendah, aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya, aku hanya tahu apa yang sedang kulalui….”

Mikyung mengulas senyum pahit, “Aku tidak pernah menceritakan kisah sedih hidupku pada siapapun. Tapi, aku menyesal mengapa aku tidak menceritakannya pada orang lain, karena itu hanya akan membuat dirimu semakin memilukan.”

Perlahan, Sehun mulai menatap balik Mikyung yang berada di sampingnya. Wanita itu sedang tersenyum tipis setelah menyelesaikan perkataannya barusan.

“Kau sedang membuka Bimbingan Konseling, ya?”

Dengan wajahnya yang tampak bodoh itu, Mikyung tercengang ketika mendengar pertanyaan Sehun. Namun, detik selanjutnya, tawa kencang menghampiri Mikyung.

Merasa jika pertanyaannya tidak aneh, Sehun mengernyit bingung.

Setelah berusaha untuk meredakan tawanya, Mikyung menatap Sehun kembali walaupun masih sesekali tertawa.

“Hei! Aku sangat serius tadi, tapi mengapa kau menghancurkannya?”
Sehun menatap Mikyung aneh.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Ya, memang. Aku sedang membuka Bimbingan Konseling. Khusus untukmu, hanya untukmu.”

Mikyung mendekat kearah Sehun, sembari memahat ekspresi serius di wajahnya.

“Kau ketahuan merokok olehku, kira-kira poinnya 25. Lalu, kau sering menciumku seenak jidatmu saja, poinnya 30. Dan, kau harus menceritakan tentang dirimu padaku. Jika tidak, poinmu akan bertambah 20 .”

Sehun lagi-lagi mengernyit bingung, “Apa maksudmu?”

“Jika poinnya sudah sampai 100, kau akan kuberi pelajaran.”

“Pelajaran seperti apa?” Sehun bertanya seperti menantang Mikyung balik.

Mikyung tampak menimang, pelajaran apa yang akan ia berikan pada Sehun nantinya.

“Menciummu?”

Dan dengan tololnya, Mikyung malah mengatakan hal yang berada diluar kendalinya sendiri.

“Jika itu yang kau mau, aku bisa melakukannya sekarang.”

-o0o-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

P.s :

Eiyyyyy cieeeeee yg lg bunga2 *colek Sehun-Mikyung* hahahaha

Ini alurnya kecepatan gk sih? Kalau kecepatan emng sengaja aku cepetin, soalnya bakal ada berbagai macam konflik dan hal-hal lainnya *Apa sih?

Oke, mudah2an di chp ini kgk terasa absurd sama sekali ya hahaha



See you~~

19 thoughts on “Nightmare [Part V] #Kiss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s