Twist Scenario (Chapter 1)


Author: Kang Seunghye (author tetap)

Cast:

  • Oh Sehun
  • Han Saehee (OC)
  • Kim Junmyeon (Suho)
  • Bae Joohyun (Irene)

Rating:

  • PG 15-17, NC 17-21 (blog pribadi)

Genre:

  • Romance, Drama

Summary:

Oh Sehun selalu berusaha agar semua perencanaannya tepat dan berjalan dengan baik. Termasuk perencanaan tentang kehidupan cintanya. Ia membuat agar Kim Joonmyeon bisa menikah dengan Han Saehee, gadis yang menyukai Joonmyeon. Sehun melakukan ini semata-mata agar wanita yang ia cintai, Bae Joohyun, berhenti mengejar Joonmyeon.

 Namun manusia memang hanya bisa berencana. Segala sesuatu yang sudah terjalin rapi itu, gagal di akhir. Joonmyeon menghilang di pernikahannya sendiri, meninggalkan Saehee sendirian di altar pernikahan. Tak hanya itu. Ia juga meminta Sehun untuk menggantikannya berdiri di samping Saehee, sebagai pengantin pria.

.

HAPPY READING

.

2010

Sehun-ah. Bisakah kau kemari? Aku sangat membutuhkanmu.

Sehun tak dapat menahan rasa cemasnya begitu mendapat pesan dari Irene. Chanyeol mengetahui perubahan Sehun yang aneh itu. Sehun yang awalnya tenang-tenang saja mengerjakan tugas kelompok, langsung terlihat tegang. Pria itu berdiri dan mengambil jaket serta tasnya.

 “Mau kemana?” tanya Chanyeol.

 “Aku harus pergi.” Sehun menjawab sekenanya lalu pergi.

Chanyeol mendengus. Tanpa Sehun katakan yang sebenarnya, ia langsung bisa menerka apa yang terjadi. Yang bisa membuat Sehun begitu tegang hanya seorang saja. Bae Joohyun, kakak kelas mereka yang selalu menjadi perhatian Sehun. Bahkan sejak Chanyeol belum mengenal Sehun.

Hubungan Sehun dan Irene sudah menjadi rahasia umum seantero sekolah. Irene yang primadona sekolah dan Sehun ace tim basket. Bagaimana mungkin mereka tidak terkenal. Semua orang tahu seberapa besarnya Sehun mencintai gadis itu. Semua orang juga tahu, Irene hanya menyukai seseorang saja. Suho, Ketua OSIS yang justru tidak pernah memperhatikan dirinya.

Terkadang Chanyeol ingin tertawa. Sehun terlalu dibutakan mencintai gadis itu hingga tidak menyadari bahwa ia semakin hancur. Sehun terlalu bergantung pada kemungkinan-kemungkinan dan perandaian. Jika Suho bersikap tegas pada Irene, Sehun bisa mengambil sikap. Jika Irene menyadari Suho tidak mencintainya, gadis itu bisa menjadi milik Sehun. Sesederhana itu, tapi kenyataannya sungguh rumit.

Sehun sampai di taman belakang sekolah seperti yang dikatakan Irene. laki-laki itu melihat Irene terduduk di bangku dengan kepala menunduk. Sehun langsung menghampirinya. Keringatnya bercucuran hingga membasahi kemejanya. Ia berlari dari lantai empat hingga ke taman hanya untuk Irene seorang. Itu hanya satu dari sejuta hal yang ia lakukan untuk Irene. Namun gadis itu tetap tidak melihatnya sama sekali.

 “Sehun-ah?” Irene mengangkat kepalanya ketika ia merasakan keberadaan Sehun. Laki-laki itu melihatnya dengan wajah sedih. Irene kembali menundu dan menangis. Sehun menghela napasnya dan berlutut. Ia harus menekuk tubuhnya yang tinggi agar bisa melihat wajah Irene. Gadis itu masih menangis dengan menutup wajahnya. Sehun lalu memeluknya.

 “Maaf aku berkeringat, tapi kau lebih butuh pelukan.” ujar Sehun dan tangis Irene makin menjadi.

.

.

.

2013

Penyambutan mahasiswa baru tahun tahun ini lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja kalau bukan karena Sehun panitianya. Kemampuan sekaligus daya tariknya membuat acara penyambutan menjadi sangat meriah. 2 tahun lalu (tahun saat Sehun menjadi mahasiswa baru), banyak mahasiswa baru yang tidak ikut acara penyambutan. Selain karena tidak wajib, acaranya cenderung tidak menarik dan membosankan.

 Sekarang setelah Sehun menjadi Ketua Panitia, ia rombak semua acara tradisi yang membosankan itu, menjadi pembukaan stand-stand dan kompetisi-kompetisi. Entah bagaimana caranya Sehun sampai mengundang pencari bakat dari agensi terkenal untuk menjadi juri kompetisi.

 Sehun semakin berkarisma dan disukai banyak orang ketika di universitas. Semua orang mengira ia memiliki kehidupan yang baik-baik saja, mengingat ia selalu menjadi pemberi solusi bagi semua masalah. Namun tidak ada yang tahu bahwa ia memendam rasa sakit yang luar biasa.

 Suho, Ketua Mahasiswa Universitas dan sekretarisnya, Irene. Dua orang yang menjadi alasan sakit hati Sehun. Bahkan setelah mereka lulus SMA, Sehun tetap menjadi bayang-bayang Suho dan mengejar cinta Irene. Sehun mengingat setiap rasa sakit yang dilupakan Irene atas perlakuan Suho pada gadis itu. Irene memang melupakan rasa sakitnya. Namun Sehun mengingatnya sampai tak bisa lupa sama sekali. Itu membuatnya menjadi termotivasi untuk memisahkan Suho dan Irene, hingga akhirnya ia mengikuti mereka sampai di universitas.

 Apa menurutmu aku harus mengatakannya sekarang?

 Tanya Irene lewat pesan singkat. Sehun terdiam sejenak memikirkan apa yang akan ia katakan pada Irene. Sesaat kemudian ia menggerakkan jari-jarinya dan menuliskan pesan.

 Ini hari terakhir kalian bertemu. Besok dia akan pergi ke Jerman untuk meneruskan S2nya. Kau harus mengatakannya sebelum terlambat. Buat dia menegaskan hubungan kalian. Menunggu kepastian selama 6 tahun bukan hal yang mudah.

 Sehun membaca lagi pesan yang ia kirimkan pada Irene. Ia memasukkan lagi ponselnya, lalu termenung. Benar. Menunggu kepastian selama 6 tahun bukan hal yang mudah. Meski ia terlihat mendukung Irene, tapi jauh di hati Sehun yang paling dalam, ia berharap Irene sakit hati dengan jawaban Suho. Irene harus merasa sakit hati dulu, lalu gadis itu bisa mengetahui keberadaan Sehun. Mengetahui bahwa ada kesatria pelindung yang selama ini selalu menjaganya.

 “Oh-sunbae!”

 Sehun langsung mengangkat kepalanya ketika ada yang memanggilnya. Jisung yang menjadi salah satu anggota panitia menghampirinya dengan membawa laporan.

 “Ada apa?”

 “Maaf sunbae. Bisakah sunbae mengantar laporan ini ke Ketua Kim?”

 “Memangnya siapa yang bertugas menyerahkan laporan? Kenapa aku?” Jantung Jisung hampir berhenti. Ia takut Sehun akan memarahinya.

 “Harusnya Kai-sunbaenim, tapi dia memintaku untuk mengantarkan ini ke Sehun-sunbae. Katanya biar sunbae saja yang mengantar laporan.”

 Dahi Sehun berkedut mendengar cerita Jisung. Dasar mahluk astral itu. Bisa-bisanya menjadikan junior sebagai kurir pengantar barang. Sehun mengambil laporan itu dan mengatakan akan mengantarnya kepada Suho.

 Ketika Sehun sampai di ruangan Suho, ia melihat Irene berdiri di depan pintunya. Seharusnya gadis itu sekarang ada di ruangan Suho dan mengatakan perasaannya. Namun gadis itu justru berdiri, menunduk, memperhatikan kakinya sendiri.

 “Ada apa?” Irene mengangkat kepalanya ketika suara Sehun terdengar. Ia lalu tersenyum. Pria itu benar-benar sangat baik dan perhatian.

 “Sehun-ah? Apa kau di sini untuk melihatku?”

 “Ah, ya. Aku juga harus memberikan laporan pada Kai. Tapi karena urusanmu lebih penting, laporan bisa ditunda.” Irene tersenyum lagi mendengar perkataan Sehun. Pria itu begitu mudah mengorbankan semuanya hanya demi dirinya.

 “Suho masih sibuk. Aku yang sekretarisnya bahkan tidak bisa masuk sebentar saja.” Raut wajah Irene terlihat aneh. Sehun merasakan sesuatu yang tidak beres.

 “Memangnya ada apa?”

“Tidak usah masuk. Aku tidak mau kalian bertengkar.”

 Perkataan Irene yang seperti itu justru membuat Sehun makin curiga. Ia menghempas pelan tangan Irene dan membuka pintu. Dilihatnya Suho duduk di sofa dengan memangku kepala seorang gadis yang sedang tertidur. Sehun tidak tahu siapa gadis itu. Yang jelas gadis itu bukanlah saudara ataupun teman dekat Suho. Kalaupun teman dekat, perbuatan mereka sudah keterlaluan.

 Suho memalingkan wajahnya dari buku ketika Sehun masuk. Ia lalu membangunkan gadis di pangkuannya.

 “Kupikir menjadi playboy tidak cocok untukmu, Hyungnim.”

 “Lalu apakah itu cocok untukmu?”

 “Setidaknya aku tidak memiliki karakter mahasiswa teladan dalam diriku.” Sehun lalu menarik tangan gadis itu dan mendorongnya keluar ruangan Suho. “Pergi, sana!” Sehun mendorong bahu gadis itu. Namun Song Ahri, nama gadis itu, terlihat tidak suka dengan perlakuan Sehun.

 “Apa-apaan, kau ini? Kenapa bersikap kasar pada seorang gadis?”

 Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Ahri, Sehun justru membentak gadis itu.

 “Jangan mendekati Suho lagi. Kau hanya mengganggu kerjanya saja.” Mata Ahri mendelik sinis mendengar perkataan Sehun. Ia lalu mencibir kesal.

 “Mengganggu pekerjaan? Bilang saja kalau keberadaanku sudah mengganggu sekretarisnya untuk bisa menggoda Oppa.”

 “Apa katamu?” Mata Sehun membulat marah. Irene dihina dan itu membuat darahnya mendidih. Namun Ahri tetap tidak takut.

 “Apa? Mau memukulku? Pukul saja? Toh kenyataan kalau Irene Bae menggoda Ketua Kim memang benar, dan hanya Irene-lah yang boleh mendekati Ketua Kim.” Amarah Sehun makin naik. Ia hampir melancarkan pukulannya pada Ahri sampai akhirnya suara Suho menghentikannya.

 “Sudahlah, Sehun. Hentikan.” Suho menghampiri Ahri, menjauhkannya dari Sehun. “Pergilah Ahri. Nanti kuhubungi.”

 “Baiklah, oppa.” Ahri mencium pipi Suho sekilas dan langsung pergi. Dalam hati Irene memendam kecemburuannya melihat perhatian Suho pada Ahri. Suho tahu itu, tapi ia memilih diam. Ia lalu menatap Sehun yang masih menantangnya dengan pandangan mendelik.

 “Aku selalu penasaran kenapa setiap gadis yang kutemui tiba-tiba merasa takut padaku. Rupanya kau yang menakuti mereka.” Suho lalu mendekati Sehun dan berbisik kecil. “Aku pikir kau mendukungku.”

 “Kau tahu aku selalu di pihak Nuna. Hari ini adalah hari terakhirmu di Korea, lalu kenapa kau tidak mencoba mendengarkannya sekali saja? Kau selalu menghindar selama 6 tahun ini. Mau sampai kapan kau melarikan diri, Hyungnim?” Suho tahu benar maksud Sehun, lalu ia mendengus seakan mengejek dan menatap Irene yang menatapnya tajam.

 “Apa kau senang ada yang membelamu? Selama 6 tahun ini kalian selalu menyerangku.”

 “Kau sendiri yang meminta untuk diserang. Kenapa kau tidak menegaskan hubunganmu pada Nuna sejak awal? Kalau 6 tahun lalu kau memberi batasan yang jelas, kami tidak akan menyerangmu.” ucapan to the point Sehun dibalas cengiran sinis dari Suho. Ia menepuk pundak Sehun dan tertawa kecil. Ia berbicara pada Irene dengan merangkul leher Sehun dari belakang.

 “Baiklah Irene Bae. Kita hentikan semua ini sekarang. Kalau kau meminta kejelasan padaku. Minta hal itu juga pada pria ini.” Suho menepuk pundak Sehun. Mata Sehun melebar. Ia terkejut Suho menyadari sesuatu dari dirinya. “Aku hanya akan bersikap jelas padamu, kalau pria ini sudah memilih akan berada dipihak siapakah, dia?”

 Irene tak mengerti. Ia tahu Sehun selalu berada di pihaknya. Namun perkataan Suho membuatnya bingung. Irene menatap Sehun yang menghindari tatapannya. Begitu ia ingin bertanya lagi pada Suho. Suho berpura-pura tuli dan kembali ke ruangannya. Irene lalu beralih pada Sehun. Bertanya pada Sehun apa maksudnya, tapi Sehun hanya diam saja.

.

.

.

Aku tidak bisa hidup tanpa Suho. Memikirkan dia tidak ada di sampingku rasanya membuatku ingin mati saja.

 Taman di belakang kampus yang sepi, membuat perkataan Irene terngiang-ngiang semakin keras di kepala Sehun. Setiap kali gadis itu gundah, atau menangis karena Suho, Irene selalu mengatakannya. Gadis itu selalu mengatakannya tak peduli ratusan jarum menghujam hati Sehun karena mendengarnya. Hingga akhirnya Sehun menjadi terbiasa mendengarnya dan entah mengapa menjadi tidak sakit lagi. Sehun membuka ponselnya dan melihat pesan dari Suho yang dikirimkan tepat setelah penutupan acara penyambutan. 

 Pastikan kau memihak siapa? Irene atau aku.

 Sehun kalut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bahkan untuk memilih Irene atau sahabatnya sendiri, ia tidak tahu. Melihat Irene sakit, membuat ia ikut sakit. Melihat Irene bahagia dengan orang lain, hatinya pun ikut sakit. Sehun ingin bunuh diri rasanya. Namun jika ia pergi, siapa yang akan menjaga Irene? Siapa yang akan melindunginya? Siapa yang akan memeluknya setiap gadis itu menangis? Sehun hampir saja berteriak sendirian seperti orang gila, tapi terhenti ketika seseorang memanggilnya.

 “Junmyeon-ah?”

 Salah. Suara gadis itu bukan memanggil Sehun, melainkan Suho. Sehun terkejut, gadis itu menggunakan nama kecil Suho -Junmyeon. Namun kalau dilihat-lihat Sehun tak pernah melihat wajah gadis itu. Sehun, Suho dan Irene adalah teman masa kecil. Sehun tahu pasti siapa yang sedang berhubungan dengan Irene dan Suho. Begitu juga Irene dan Suho yang tahu siapa saja teman-teman Sehun. Namun gadis ini, Sehun tidak mengenalnya sama sekali. Kalaupun gadis ini salah satu dari teman-teman wanita yang di dekati Suho, gadis ini seharusnya tidak tahu nama kecil Suho. Hanya Irene dan Sehun, yang tahu nama kecil Suho.

 “Aku bukan Junmyeon.” ujar Sehun. Gadis itu mengamati foto yang ia bawa dan kemudian melihat Sehun lagi. Ia lalu menertawakan kebodohannya.

 “Ah, benar. Orang Korea wajahnya mirip-mirip, ya.”

 Dahi Sehun berkerut semakin merasa heran. Dari wajahnya, terlihat sekali gadis ini orang asia timur. Ia juga menggunakan dialek Korea dan bahasa Korea yanga sangat fasih. Namun dari perkataannya ia seperti bukan orang Korea. Apa jangan-jangan Suho juga mendekati gadis luar negri lewat media sosial? Namun Suho tidak mungkin mengumbar nama kecilnya. Dia tidak suka orang lain tahu nama kecilnya.

 “Kau mencari Junmyeon?”

 “Ya. Kau mengenal Junmyeon?” Sehun mengangguk dan mata gadis itu berbinar cerah. Ia menarik tangan Sehun untuk bersalaman dengannya. “Aku Han Saehee, tunangan Junmyeon dari Jerman.”

 Mata Sehun membulat. Ia termangu dan membiarkan tangannya dijabat erat oleh Saehee. Namun ia masih tidak mengerti. Sehun melepaskan tangannya tiba-tiba dan membuat Saehee heran.

 “Tunggu? Kau tunangan Junmyeon? Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu?”

 Saehee menatap Sehun aneh, “Tanyakan sendiri pada Junmyeon. Kenapa dia tidak memberitahumu. Lagipula, pertunangan ini sudah lama. Kalau Junmyeon tidak memberitahumu, mungkin karena hubungan kalian yang buruk.”

Sehun terdiam sejenak lalu mendengus sinis.

 “Kau benar. Hubungan kami memang buruk.” Ia diam lagi, lalu bertanya pada Saehee. 

“Kau bilang pertunangannya sudah lama. Memangnya seberapa lama?”

 “Sejak 7 tahun lalu.”

 “Ap.. Apa?”

.

.

.

Enam tahun lalu, tepatnya saat Suho dan Irene kelas 2 SMA dan Sehun baru saja masuk ke SMA yang sama dengan mereka. Sehun yang memang sudah mengagumi Irene sejak pertama kali mereka bertemu, memutuskan mengikuti Irene ke SMA dan mengatakan perasaannya. Valentine 2010 adalah hari yang istimewa menurutnya, tapi ternyata membawa petaka berkepanjangan. Sehun berniat mengatakan cintanya, tapi ia terlebih dulu melihat Irene ditolak dengan kasar oleh Suho.

 Suho sudah berubah. Suho yang selalu tersenyum dan berhati malaikat itu, menolak Irene dengan kata-kata kasarnya dan pergi begitu saja. Irene adalah gadis yang baik dan tidak bisa menerima perlakuan jahat sekecil apapun. Hatinya terlalu lembut dan rapuh. Tentu saja ia menangis mendapatkan perlakuan seperti itu dan Sehun yang begitu mencintainya, naik pitam dan berubah menjadi ksatria pelindung Irene.

 Sehun pikir yang bisa Suho lakukan hanya menyakiti Irene. Ia memperlakukan Irene dengan baik, membuat gadis itu ada di sisinya, tapi terkadang memperlakukannya dengan kasar dan menyakiti hatinya. Sekarang kehadiran Saehee membuat Sehun tahu apa yang harus ia lakukan.

 “Kenapa kau bisa bertunangan dengan Suho?”

 “Siapa Suho?”

 “Junmyeon nama kecil Suho. Suho tidak memakai nama itu sekarang.”

 “Oh…” Saehee membuka kaleng jus yang baru saja Sehun belikan di mesin penjual minuman. Udara malam tidak terlalu dingin meskipun mereka ada di taman. Jadi Saehee berani untuk meminum jus dingin. “Orang tuaku meninggal karena kecelakaan 7 tahun yang lalu. Saat itu aku masih SD. Lalu Tuan dan Nyonya Kim menemukanku. Mereka bilang masih punya hutang pada kedua orang tuaku dan ingin membayarnya. Berkat mereka aku disekolahkan di Jerman dan bahkan ditunangkan dengan anak mereka, Junmyeon.”

 “Kenapa kau kemari? Bukannya Suho ke Jerman besok?”

 “Ah, benar. Aku lupa!” Saehee berdiri tiba-tiba. “Tadi aku kemari karena katanya di sekitar sini ada kampus Junmyeon. Aku ingin bertemu dengannya dan berangkat ke Jerman bersama-sama, tapi hari sudah malam, ya?” Saehee melihat sekelilingnya gelap dan hanya lampu taman saja yang membuat taman itu terang. “Kau kenal Junmyeon, kan? Antarkan aku ke rumahnya, ya.”

 Sehun lalu berdiri dan merogoh kunci motor di saku jaket kulitnya. “Aku akan mengantarmu, tapi sebelum itu kau harus menjawab pertanyaanku.” Saehee termangu. Matanya berkedip-kedip, penasaran sekaligus bingung. “Apa kalian saling mencintai?” Beberapa saat kemudian Saehee tersenyum lebar.

 “Tentu saja. Justru Junmyeon-lah yang lebih dulu mencintaiku.” Sehun lalu tersenyum tipis. Saehee sudah tidak sabar ingin diantar ke rumah Suho, tapi Sehun masih terlihat santai-santai saja.

 “Kalau begitu aku akan membantumu. Akan kubuat kau menikah dengan Suho tanpa gangguan apapun.” Sehun menyeringai percaya diri. Namun Saehee melihatnya seperti sedang kerasukan roh jahat. Gadis itu lalu mencibir.

 “Tidak perlu. Aku percaya Junmyeon. Lagipula kenapa pernikahan kami harus diganggu? Jangan bilang kau yang akan mengganggu pernikahan kami? Kau punya affair sama Junmyeon, ya?”

 “Apa?” Rupanya tunangan sangat tidak waras.

 “Kalau begitu jangan terlalu percaya diri untuk membantuku. Aku percaya dengan Junmyeon dan aku yakin kami baik-baik saja. Oh, ya. Aku tidak jadi diantar olehmu. Aku akan minta Junmyeon menjemputku saja.”

Gadis ini masih memanggil Suho dengan Junmyeon dan membuat Sehun makin kesal. Mendengar nama kecil dari Suho membuat telinganya gatal. Gadis itu juga entah mengapa berubah menyebalkan, pikir Sehun. Dia terlalu percaya diri dan sangat angkuh. Apa semua orang yang tinggal di luar Korea seperti ini?

 “Terserah kau saja. Tersesat pun aku tak peduli.”

 “Aku juga tidak minta kau peduli padaku.” Gadis itu lalu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.

 Cih, dia tidak tahu kalau tadi siang Junmyeon kesayangannya itu meniduri seorang gadis. Meski gadis itu hanya tidur di pangkuannya, tetap saja itu meniduri.

Sehun membatin kesal seraya melihat Han Saehee yang sedang menelpon Suho.

 “Oh, Junmyeon-ah. Ini aku, Han Saehee.” Wajah Saehee terlihat berbinar. “Aku sedang di Korea. Sekarang ada di taman dekat kampusmu. Tadi aku ke kampus mencarimu, tapi malah bertemu dengan cowok aneh.”

 Apa katanya? Aku cowok aneh?

 “Apa? Namanya?” Saehee lalu melirik Sehun. “Hei, namamu siapa?” Sehun lalu berbicara dengan keras agar Junmyeon di seberang sana bisa mendengarnya.

 “Bilang saja dari Ksatrianya Irene!”Sehun berteriak hingga telinga Saehee berdenging.

 “Ish, kenapa harus keras-keras, sih?” Saehee menggosok telinganya sendiri lalu berbicara pada Junmyeon. “Dia bilang dia Ksatrianya Irene.” Tak lama kemudian Saehee menutup ponselnya. Sehun meliriknya lagi.

 “Bagaimana? Dia mau menjemputmu?”

 “Tentu saja. Dia kan tunanganku.” Cara bicara Saehee membuat Sehun kesal. Gadis itu seakan bahagia sekali memiliki tunangan Junmyeon.

 Kau harusnya berterima kasih padaku. Kalau aku tidak berteriak keras, dia pasti mengabaikanmu. Sekarang ini dia pasti kalang kabut. Dia sudah merahasiakan pertunangannya dariku dan Irene selama 6 tahun. Sekarang tunangannya justru bertemu denganku. Sesuatu menjadi sebuah rahasia ketika orang-orang tidak tahu. Sekarang itu bukan rahasia lagi.

 “Oh, ya. Kenapa kau tidak pergi? Junmyeon akan menjemputku. Jadi kau tidak perlu di sini lagi.” Setelah menyombongkan diri, sekarang ia mengusir Sehun. Hebat sekali.

 “Aku menunggumu. Memastikan Junmyeon memang menjemputmu dan tidak menelantarkanmu.”

 “Ksatrianya Irene baik sekali ya. Memangnya Irene tidak marah kalau ksatrianya menjaga orang lain?”

 Sehun termangu sesaat lalu duduk lagi di bangku taman. “Hanya semalam saja tidak masalah. Memangnya kau tidak bertanya siapa Irene?”

 “Kenapa aku harus bertanya? Irene adalah orang yang kau jaga, tentu saja.”

 “Ya. Tapi ada yang lain.” Saehee menatap Sehun seraya berdeham. Matanya berkedip-kedip lagi, bertanya pada Sehun. Sehun lalu tersenyum sinis. “Irene. Gadis yang sangat mencintai Junmyeon-mu dan aku ksatria yang melindunginya.”

 Sesaat kemudian Saehee mendengus dan tertawa kecil.

“Jadi putri yang ingin kau lindungi menginginkan ksatria lain. Pantas saja kau bilang tidak masalah menjagaku sebentar. Kasihan sekali. Kau ternyata hanya ksatria sukarelawan.”

 “Apa?”

Dahi Sehun kembali mengkerut tentang isi kepala gadis di depannya ini. Saehee tertawa-tawa dan kemudian berseru saat melihat mobil hitam mengkilat milik Suho berhenti tak jauh dari bangku mereka.

 “Itu Junmyeon. Sampai jumpa ksatria sukarelawan! Terus mengabdi pada masyarakat, ya!”

 “Hei, kau!” Sehun terlambat protes. Gadis itu sudah berlari menuju mobil Suho. Suho turun dari mobilnya dan menyambut pelukan Saehee. Sehun mengamati pria itu dari kejauhan. Ia bisa melihat mata tajam Suho menatapnya. Beberapa saat kemudian wajahnya berubah lembut ketika Saehee melepas pelukannya. Mereka masuk mobil sambil tersenyum dan meninggalkan Sehun sendiri dengan menatap kepergian mereka.

 Sekarang Sehun tahu dia harus memihak kepada siapa. Ia tidak akan memihak Irene. Tidak juga memihak Suho. Ia memihak dirinya sendiri. Selama ini pun dia hanya memihak dirinya sendiri dan akan terus seperti itu.

.

.

.

1992

Kim Junghan, seorang pengusaha yang menempati peringkat tiga besar pengusaha dengan omset perusahaan terbanyak se-Korea. Bahkan hampir mencampai agensi paling terkenal di Korea dan perusahaan ponsel ternama di dunia. Karakternya yang tegas dan keras membuat orang-orang kagum sekaligus segan padanya. Termasuk anaknya sendiri, Kim Junmyeon. Namun tidak ada yang tahu siapa orang di balik layar yang telah mensukseskan kehidupan Kim Junghan.

 Han Hongjae namanya. Seorang guru sekolah desa yang tinggal bersama istri serta putri semata wayangnya di dekat Gunung Jiri. Ayah Saehee itulah yang telah membuat Junghan menjadi salah satu orang terkaya paling berpengaruh di Korea. Saat itu, pada tahun 1992, Kim Junghan terlilit hutang sementara istrinya harus melahirkan anak pertama mereka, Junmyeon. Hanya Keluarga Han yang mau menerima Junghan disaat semua teman-teman dan relasi bisnisnya menjauh. Hongjae membayarkan semua hutang Junghan bahkan memberi modal untuk usaha Junghan. Sementara istrinya, membantu persalinan istri Junghan. Itu adalah hutang yang tak pernah bisa dibayarkan Junghan karena Hongjae menolak Junghan membayar hutangnya.

 Mungkin Tuhan memberi kesempatan pada Junghan untuk membayar hutangnya 17 tahun kemudian, meskipun dengan cara yang sangat menyakitkan. Hongjae dan istrinya meninggal karena kecelakaan. Meninggalkan seorang gadis 12 tahun yang terkatung-katung di panti asuhan miskin. Beruntung Junghan segera menemukan Saehee dan merawatnya. Uang dibalas uang, dan nyawa dibalas nyawa. Hongjae sudah memberikan uangnya untuk Junghan. Maka Junghan memberikan uangnya untuk Saehee dengan menyekolahkan Saehee ke Jerman. Istri Hongjae menyelamatkan nyawa Junmyeon dengan membantu persalinan Ibunya. Maka Junghan menikahkan Saehee dan Junmyeon untuk memberikan cucu pada Hongjae.

 Saehee yang saat itu berusia 12 tahun, ternyata cukup cerdas untuk mengetahui semua itu. Ia ingin menolak karena ia tahu Ayahnya akan menolak itu semua. Ayahnya sangat baik. Bahkan ketika mereka kesusahan sekalipun, ia tidak menagih hutang Junghan. Lagipula, jika hutang itu sudah lunas jauh-jauh hari, Junghan tidak perlu mengunjunginya. Namun Junghan mengunjunginya dan mengatakan ayahnya menolak ia membayar hutangnya.

Sekarang Saehee yatim piatu tanpa uang sepeser pun. Latar belakang orang tuanya bukanlah berasal dari keluarga kaya. Kehidupan mereka juga sederhana. Keadaannya yang seperti itu tidak bisa menjadikan alasan Junghan untuk memanfaatkannya dengan sebuah bantuan, kecuali jika Junghan benar-benar tulus. Namun Saehee akhirnya menyetujui keinginan Junghan merawatnya, dan keluar dari Gunung Jiri.

Itu adalah saat Suho bertemu pertama kalinya dengan Saehee. Gadis itu sangat lusuh dan kotor. Suho tidak bisa berhenti mengkasihani gadis itu sekaligus memandang jijik padanya karena kondisi menyedihkan gadis itu. Namun ketika pelayan rumahnya membantu gadis itu berpakaian. Ia tidak bisa berhenti menatap gadis itu. Kemana semua kotoran yang menutupi kulit seindah kapas itu? Rasa penasaran sekaligus kagum ketika menatapnya. Setelah itu, Ayahnya menceritakan bahwa ia dan gadis itu akan menikah.

 “Kenapa aku harus menikah dengannya?” Suho bertanya dengan sedikit menaikkan nadanya. Ia terkejut ketika Ayahnya tiba-tiba mengatakan pernikahan mereka. “Aku masih muda. Masih ingin senang-senang.”

 “Ayah tidak memintamu menikah sekarang, Junmyeon. Ayah hanya ingin mengenalkanmu.” Masih dalam posisi duduknya di kursi kerja, Junghan menatap Junmyeon tajam.

 “Ayah… ayah tahu, kan. Aku…” Junmyeon hampir menyebut nama gadis yang ia cintai, tapi suara Ibunya menginterupsi.

 “Junmyeon-ah.” Suho menatap wajah sedih Ibunya. Ibunya selalu sedih jika ia bersikap kasar kepada kedua Ayahnya, dan Suho sangat mencintai Ibunya. Suho terduduk lesu. Ibunya mengelus tangan Suho. “Junmyeon-ah. Turutilah Ayahmu. Ini adalah hutang kita kepada mereka.” Suho hanya diam saja. Ia tidak bisa membalas perkataan Ibunya. Namun ia membalasnya kepada Sang Ayah.

 “Itu adalah hutang Ayah. Kenapa aku harus ikut terseret masalah Ayah?”

 “Itu adalah hutangmu juga. Kau tahu kenapa kita bisa berkecukupan seperti ini? Pernahkan kau berpikir bagaimana Ayahmu bisa mendapatkan uang untuk membiayai les-mu yang mahal itu? Membiayai sekolahmu yang mahal itu?” Suara Junghan yang keras sedikit mengejutkan Suho. “Itu karena kedua orang tua Saehee. Ayah Saehee memberikan modal untuk usaha kita yang sekarang menjadi besar ini. Siapa sangka, justru modal itulah yang membuat kita menjadi sekaya ini. Lalu Ibu anak itu. Yang melahirkanmu memang Ibumu. Namun Ibu Saehee membantunya melahirkan. Tanpa Ayah Saehee kau tidak akan bisa makan, dan tanpa Ibu Saehee kau tidak akan bisa bernapas. Kau hutang nyawa pada orang tua Saehee. Bagaimana kau akan membayarnya? Mereka telah meninggal dan Saehee sendirian terlantar di panti asuhan miskin. Apa kau mau memberikan nyawamu agar kedua orang tua anak itu hidup lagi? Itupun kalau kau bisa.”

 Suho terdiam. Ia sudah 17 tahun. Sudah bukan bocah lagi untuk tidak mengerti apa yang Ayahnya bicarakan. Ini adalah hutang seumur hidup. Seseorang yang terlalu baik membuat mereka berhutang padanya. Suho menggenggam erat tangannya. Menahan kekesalannya. Ini karena seseorang memberi pertolongan. Padahal ia tidak minta ditolong. Ia tidak minta dilahirkan. Kenapa seseorang harus membantu Ibunya melahirkan? Untuk apa ia terlahir jika pada akhirnya untuk mengorbankan keinginannya sendiri selamanya?

 Ini adalah sesuatu yang tidak bisa diputuskan dengan singkat. Suho harus berpikir. Ia harus memikirkan semuanya. Ia harus mengurus Irene. Ia juga harus mengurus Han Saehee. Suho menghela napas panjang. Ia berdiri dan menatap Ayahnya tegas.

 “Baiklah. Aku akan memikirkannya lagi.” Suho membungkuk hormat pada Ayahnya lalu pergi dari ruang kerja Junghan. Istri Junghan menghela lelah. Ia tidak menyangka Junmyeon yang biasanya penurut, tiba-tiba memberontak ketika diminta menikah.

 “Yeobo… Kau tidak harus berbicara begitu pada anak kita.”

 “Aku juga tidak ingin berkata seperti itu. Namun mau bagaimana lagi? Meskipun Hongjae menolak, aku tidak bisa membiarkan hidup anaknya sengsara sementara anak kita berkecukupan. Setiap malam rasanya seperti mimpi buruk saja, karena memikirkan hidup Junghan.”

 Istri Junghan menatap wajah lelah suaminya. Ia setuju untuk merawat Saehee dan menikahkan anak mereka karena juga merasa tertolong. Istri Hongjae membantunya saat masa-masa sulit kehamilan dan persalinan. Ia tidak bisa membiarkan Saehee terlantar sementara Istri Hongjae mengurus anaknya saat masih dikandungan. Istri Junghan menghela napas.

 “Aku juga begitu, suamiku.”

.

.

.

Suho menatap Saehee yang melihatnya dengan intens. Gadis itu mengenakan piyama pink bercorak boneka dan dengan boneka beruang besar di pelukannya. Saehee melihatnya sedikit sinis, Suho juga begitu.

 “Aku masih tidak mengerti. Kenapa membayar hutang harus dengan perjodohan. Bahkan pasanganku seorang anak dibawah umur. Padahal aku bukan pedofil.” Suho menyindir Ayahnya sendiri sekaligus Saehee di depan gadis itu. Saehee hanya melihat Suho sekenanya.

 “Sebenarnya aku tidak peduli dengan pernikahan. Aku menyetujui Junghan-ahjussi hanya karena ingin keluar dari Gunung Jiri. Lagipula bukan aku yang menentukan perjodohan. Itu Ayahmu sendiri.”

 “Jadi kau tidak masalah menikah dengan siapapun asal bisa keluar dari Gunung Jiri?”

 “Yap.”

 “Kau ini masih kecil tapi murah sekali, ya?”

 “Kalau terlalu mahal, nanti tidak ada yang mau beli.” Saehee menatap Suho jengah. Lalu menyeret boneka beruangnya yang besar itu, melewati Suho.

 “Aku tidak akan menikah denganmu! Dasar bocah!” Teriak Suho kesal.

 Saehee terlalu dewasa untuk ukuran anak 12 tahun, menurut Suho. Mungkin karena kehidupan mereka yang keras, apalagi setelah ayahnya meninggal, Saehee juga sempat masuk panti asuhan miskin yang mengharuskannya bekerja untuk mencari makanan sendiri, cara berpikir anak itu mulai terlatih oleh kerasnya dunia. Namun itu tidak bisa menjadi alasan Suho untuk tertarik pada Saehee. Justru sebaliknya. Gadis itu adalah orang yang menggagalkan ssemua rencana Suho. Keberadaan gadis itu merusak semua yang Suho inginkan.

 Suho sekarang harus berpikir lagi. Bagaimana caranya agar kedua orang tuanya menganggap bahwa ia setuju untuk menikah. Namun keinginannya sendiri juga tercapai. Sepertinya Irene harus sedikit lama menunggu.

 -T.B.C-

a/n

Insya Allah kelanjutan setiap seminggu sekali. Fic ini aslinya NC-17 sampai NC-21. Versi aslinya dipost di blog pribadi. (Edited)

8 thoughts on “Twist Scenario (Chapter 1)

  1. Bagus ceritanya eonn.. Cinta segi4.. Tp sebenernya suho cinta ga sih sama irene? trus ahri itu siapa?

    Btw, alurnya juga ga terlalu kecepetan eonn, tp agak bingung dikit, bagian mana yg lg on going, mana yg flashbacknya. Kalo bisa ditambahin keterangan flashback on-flashback off eonn, sama buat sudut pandang (sehun pov, saehee pov, etc) sekedar masukan aja eonn😀 biar makin mantep😄 hehehee

    Ksh tau WP nya dong eonn😄

    Nextnya ditunggu bgt loh >,< keep writing~

  2. suka ffnya ceritanya, sehunnya semuanya pokoknya, udah sedikit ketahuan suho sebenarnya mencintai irene, dan suho benar2 sedikit jahat #DiKeroyokMasa
    aku reader baru salam kenal dan ijin baca…..

  3. Nice story, lanjutkan ya Mbak Kang….hehehe
    salam kenal yaa, aku reader baru….kkkk

    Karakter Sehun nyebelin banget, mau-maunya lu berharap ama cewek yang ngelirik lu aja enggak Hun, kesannya kaya dipermainin banget Sehunnya. Pleaseee, lu harus berubah, sama Saehee aja, jangan sama Irene….
    Suho juga, lu bisa tegas dikit napa ama cewek. Udah mah Saehee, Irene di PHPin terus Ahri….
    Kalo emang suka ama Irene, ya udaaah tembak aja, dia juga suka ama elu Ho, sebelum dia lelah dan malah berpaling ama Sehun yg nantinya bakal udah nikah ama Saehee, belibet-belibet daaah….penyesalan emang suka diahir, kecuali lu nuntun sapi/kerbau baru boleh nyesel di depan, karena di depan pasti bakal diseruduk ama tu sapi/kerbau….peaceee abaikan…

    Alur maju mundur gak masalah,justru disitu letak bagusnya, satu masalah langsung beres karena tau penyebabnya apa, gak bertele-tele…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s