Nightmare [Part VI] #Hard Mind

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Sepanjang hari, kau terus saja berlarian, berjalan, dan terbang di kepalaku. Ini membuatku gila dan tidak bisa berkonsentrasi.”

©2016.billhun94


Othmer—seorang tokoh ilmu psikologi membandingkan manusia dengan teka-teki (Puzzle). Beliau pernah berkata; “Para Pasien memiliki tak terhitung potongan Puzzle. Dan tugas sang konselor-lah untuk menentukan seperti apa bentuk Puzzle-nya setelah lengkap. Tapi untuk melakukannya, pertama-tama kau harus mengumpulkan sebanyak mungkin potongan Puzzle itu dari sang pasien.”

Yang kini Jongin lakukan adalah mengumpulkan data-data seorang (mantan) pasiennya yang sudah keluar dari Rumah Sakit Jiwa tempat ia bekerja beberapa minggu yang lalu. Merasa ada keterganjilan dalam kasus riwayat hidup sang pasien, Jongin pun memilih untuk menyelidiki dengan meminta bantuan temannya sesama seorang psikiater.

“Bagaimana menurutmu?” Jongin bertanya pada seorang lelaki yang sedang duduk di kursi ruangannya itu sembari menyodorkan lembaran kertas di tangannya.

Lelaki yang biasa disebut psikiater Lee tersebut mengambil kertas dari tangan Jongin, sebelum membuka mulutnya, “Kau sudah mengumpulkan data sebanyak ini….” Lelaki bernama lengkap Lee Taemin itu menggantungkan kalimatnya sebelum melanjutkan, “… selama tiga tahun?” Tidak berniat untuk bertanya, karena sedikit ragu, akhirnya ia mengubah nada suaranya seperti bertanya.

Jongin menganggukan kepalanya pelan, “Ya, aku ingin melakukan tes MMPI padanya. Tapi sayang, aku tidak sempat.” Nada bicaranya kentara rasa kecewa yang begitu besar.

Taemin mendengus pelan, “Kenapa kau sangat tertarik padanya?” Tanyanya, penasaran.

“Tidak tahu. Aku tidak tahu kenapa aku sangat tertarik dengannya. Aku hanya… Merasa dia butuh bantuanku.”

Sedikit informasi; tes MMPI bertujuan untuk mengukur psikopatologi (ilmu penyakit mental) seseorang. Hal yang dapat dinilai dari tes ini adalah kepercayaan terhadap orang lain, kecurigaan dan sensitivitas, schizophrenia, hypochondriacs, kecemasan, keragua-raguan, dan pikiran obsesif. Benar atau salahnya tidak ditentukan dalam test ini.

Taemin menyerah dengan sikap yang ditunjukan oleh sahabatnya ini. Dengan teliti, ia membaca satu persatu deretan huruf di kertas yang tadi Jongin berikan padanya. Lalu, beberapa menit kemudian, ia dapat menyimpulkan sesuatu.

“Diri-diri orang seperti ini sering kali kosong. Mirip dengan orang-orang yang berhati lembut yang berpura-pura untuk terlihat kuat….”

Taemin mengantung kalimatnya, setelah itu melanjutkan.

“Mereka bahkan lebih keras memaksakan opini mereka karena kurang percaya diri. Manusia memang cenderung untuk bersikap berlawanan dari jatidiri mereka sendiri….”

-oOo-

Merasa bosan dengan hanya berdiam diri di rumah besar milik Sehun, Mikyung pun memilih untuk ikut terlarut bersama para pelayan rumah yang jumlahnya hampir 20-an itu. Mereka hanya datang ketika Sehun sudah berangkat bekerja sekitar pukul setengah delapan, dan menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum Sehun menunjukkan batang hidungnya di rumah.

“Nona, biar saya saja yang mencuci piring. Anda tidak perlu melakukannya, nanti Presdir bisa marah jika mengetahui hal ini.”

Kepala pelayan Lee terlihat sangat khawatir dengan apa yang Mikyung lakukan saat ini. Tapi wanita itu justru menganggapnya angin lalu, dan tetap melanjutkan pekerjaannya.

“Nona, saya mohon tolong hentikan.”

Dan sekali lagi, Kepala pelayan Lee memohon pada Mikyung yang tetap bergeming. Namun untuk kali ini, sepertinya wanita itu tidak tampak berbuat untuk bergeming. Mikyung mematikan keran, lalu melepas sarung tangan berwarna pink tersebut, serta berbalik badan menghadap Kepala pelayan Lee.

“Sudah aku katakan, aku tidak apa-apa mengerjakan pekerjaan ini. Lagipula, berdiam diri di rumah sebesar ini sangat membosankan, kau tahu? Tidak salah jika aku membantu sedikit untuk mengusir rasa bosanku.” Jelas Mikyung santai.

Kepala pelayan Lee menghela napas pelan; mengutamakan sopan santun pada istri dari majikannya itu. Tapi kali ini ia tidak langsung membalas ucapan dari Mikyung, karena salah satu anak buahnya datang menemuinya.

“Maaf, menggangu. Pelayan Lee, ini daftar belanja bulanan yang sudah saya buat. Silakan diperiksa.”

Bernama Yeon Jieun, pelayan tersebut menyerahkan secarik kertas pada Kepala pelayan Lee. Pelayan yang tampak jauh lebih muda dari Mikyung itu berucap seraya mengumbar senyum tipisnya dengan menjaga sopan santun disetiap ucapan yang keluar dari bibir manisnya.

“Ini sudah benar. Oh, tolong tambahkan buah apel dan anggur,” ujar Kepala pelayan Lee, lalu kembali menyerahkan secarik kertas itu pada Jieun.

“Baiklah, kalau begitu saya akan membelinya sekarang. Permisi.”

Mikyung yang sedari tadi terus memperhatikan Jieun, merasa memiliki kesempatan yang bagus untuk menikmati waktu senggangnya kali ini.

“Tunggu, Jieun-ssi! Bolehkah aku ikut bersamamu?”

-oOo-

Gold Corp Group tidak hanya terpaku pada pusat bisnis beruba hotel, resort, restoran, apartemen, tanah, dan hal-hal yang berbau semacam itu. Tapi, Gold Corp Group juga berkecimpung dalam pasar ekonomi dengan membuka swalayan sendiri, yang bernama ‘Gold Market’.

Perdebatan yang sangat panjang dan memakan waktu hampir satu jam telah Mikyung tempuh untuk bisa berada di Gold Market saat ini. Setelah berdebat dengan Kepala pelayan Lee, akhirnya Mikyung diizinkan untuk ikut berbelanja bahan makanan bulanan bersama dengan Jieun. Namun dalam syarat, yaitu; harus bersama seorang bodyguard yang biasa berjaga di depan rumah Sehun. Awalnya memang tidak nyaman, karena dia terus saja mengintili Mikyung dan Jieun. Tapi mau diapakan lagi, jika tidak seperti itu Mikyung tidak akan bisa menghabiskan waktunya di sini.

Rasanya sudah sangat lama sekali tidak pergi ke swalayan sejak terakhir kali, membuat Mikyung terlampau senang. Bahkan, ia terus memasukkan cemilan, minuman, dan barang-barang lainnya ke dalam troli yang ia dorong sendiri. Sedangkan Jieun, ia mendorong troli yang berisi bahan makanan bulanan. Karena troli yang sedang Mikyung dorong bukanlah bahan makanan yang sudah terdaftar, melainkan milik wanita itu sendiri.

Tak luput dari bisik-bisik orang yang dilewati oleh Mikyung, menjadi hal tabu yang kiranya harus terbiasa baginya. Juga tak jarang para pegawai, bahkan manager pusat swalayan dari Glod Market yang ia kunjungi ini memberikan salam dan rasa hormat mereka dengan kedatangannya ke sini. Mikyung berpikir, seharusnya tadi ia membawa penyamaran agar orang-orang tidak dapat mengenalinya. Karena sungguh, ia merasa tidak nyaman dengan status yang disandangnya ini. Seorang istri bakal pemimpin baru dari sebuah perusahaan terbesar seantero Korea bahkan Asia sekaligus.

Jieun yang melihat situasi tersebut, hanya dapat meringis ngeri. Mengapa? Pasalnya, Sehun tidak memperbolehkan Mikyung untuk keluar rumah tanpa meminta izin terlebih dulu padanya. Karena wanita itu yang terlalu keras kepala, mau tidak mau semua pelayan yang ada di rumah Sehun memperbolehkannya begitu saja.

Setelah selesai melakukan pembayaran, Mikyung dan Jieun menyerahkan barang-barang mereka pada sang bodyguard yang berada di belakang mereka. Tapi, langkah Mikyung terhenti kala irisnya menangkap sesosok yang ia kenal—Oh Jinyoung—paman Sehun; yang sedang berjalan kearahnya.

“Sedang apa kau di sini?” Tanya Jinyoung, sembari tersenyum kearah Mikyung.

Mikyung membalas pertanyaan Jinyoung dengan salam, “Annyeong Hasaeyo, Samcheon.” Salamnya seraya membungkuk kecil.

Jinyoung menghapus senyum dari wajahnya yang mulai menampilkan rona keriput. Setelahnya, lelaki berumur awal 50-an itu memberi interuksi untuk asistennya agar meninggalkannya bersama Mikyung. Berlaku pula bagi Jieun dan bodyguard wanita itu. Jieun ragu, namun Mikyung berusaha untuk meyakinkan.

“Anda ingin berbicara apa?” Tanya Mikyung, masih dengan sopan santun yang ia pertahankan; walaupun sejujurnya ia sudah sangat malas berhadapan dengan Jinyoung.

“Tolong berikan ini pada Sehun,” Jinyoung menyerahkan map berwarna cokelat pada Mikyung, dan Mikyung menerimanya tanpa banyak bertanya.

“Saya akan berikan padanya,” balas Mikyung. “Kalau begitu saya permisi dulu,” lanjutnya.

“Tunggu!”

Baru membalik badannya, suara Jinyoung menghentikan langkah Mikyung. Tanpa berbalik, ia cukup menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut lelaki setengah baya itu.

“Kau harus menjaga Sehun dengan baik, jika kau tidak ingin dia diambil oleh wanita lain. Aku hanya memperingati, jika kau ingin tahu.”

-oOo-

Letaknya yang tidak jauh dari pusat kota membuat sebuah klub malam ini menjadi pusatnya bagi orang-orang berusia cukup untuk bersenang-senang ataupun sekadar penghilang stres. Terdapat sebuah area live music di sebelah kanan dan area dengan meja biliar di sebelah kiri. Kemudian ada dua lantai dansa yang terletak di dua tingkat berikutnya, lalu terdapat para bartender tidak jauh dari lantai dansa. Klub malam tersebut terkenal dengan para pengunjungnya yang rata-rata terdiri dari kalangan berdompet tebal, serta para pelacur kelas kakapnya.

Salah satu pengunjung setia klub malam tesebut adalah Oh Sehun, putra dan cucu konglomerat Korea Selatan. Memiliki kehidupan malam bukan menjadi penghalang bagi Sehun untuk sukses, bukan? Jadi, ia tidak terlalu mementingkan opini orang-orang yang menganggapnya sebagai pria brengsek sekalipun.

Kegemaran yang menjadi prioritas untuk Sehun datang ke klub malam ini adalah guna menikmati servis dari para jalang yang memang sudah ahlinya.

Suara decapan memenuhi sudut ruangan; suara decapan yang berasal dari Sehun dan seorang wanita dengan gaun malamnya yang minim bahan. Tangan wanita itu menggerayangi punggung Sehun, sedangkan empunya melahap habis bibir si wanita dengan rakus. Dentuman musik yang sangat keras tidak menghentikan aktifitas mereka, malah semakin panas.

Bukan menjadi suatu hal yang langka jika menemukan pasangan sedang bercumbu mesra di setiap sudut klub. Itu justru sudah menjadi hal yang lumrah.

Lenguhan panjang keluar dari bibir sang wanita ketika Sehun mengalihkan fokusnya pada tengguk putih nan mulut milik wanita itu. Seraya menjambak kecil rambut Sehun, tangan si wanita yang bebas menekan kepala pria itu untuk semakin tenggelam di lekungan tengguknya.

Drrt… drrt….

Kegiatan penuh gairah mereka harus terhenti karena ponsel Sehun yang berdering, menandakan satu panggilan masuk. Dengan sedikit kasar, ia merogoh sakunya guna mengeluarkan ponsel. Tatapan yang mengatakan, “Tunggu sebentar” Sehun layangkan bagi sang wanita pelacur yang tampak sangat kecewa itu.

Sehun menjauh untuk mengangkat panggilan tersebut, setelah menemukan tempat yang pas barulah ia mengangkat panggilan itu. Nama sang asisten tertera jelas di depan layar.

“Ada apa?” Buka Sehun, langsung ke inti.

Namun, tidak ada jawaban yang diberikan oleh asisten pribadi Sehun tersebut, membuat Sehun mengernyit tak mengerti sekaligus heran.

“Kenapa kau menghubungiku? Apakah ada sesuatu yang penting? Cepat katakan!” Nada suara Sehun sedikit meninggi diakhir.

Lagi-lagi, tidak ada jawaban yang diberikan. Membuat Sehun geram.

“Kalau hanya untuk hal-hal tidak berguna seperti ini, lebih baik tidak usah menghubungiku. Aku tu—”

“Tunggu!”

Perkataan Sehun terhenti ditengah kala suara seorang wanita menyela. Suara yang terasa sudah tidak asing lagi baginya.

“Bisakah kau pulang lebih awal, Sehun-ssi? Ada yang harus aku katakan padamu. Penting.”

-oOo-

“Ada apa?”

Mikyung tersentak ketika mendengar suara Sehun; pria itu mengangkat panggilannya. Tunggu. Ia tidak menghubungi Sehun melalui ponselnya, karena ia saja tidak memiliki ponsel. Jadi, ponsel yang ia gunakan saat ini adalah ponsel asisten Yoon.

“Kenapa kau menghubungiku? Apakah ada sesuatu yang penting? Cepat katakan!”

Mikyung masih bergeming; tidak berani untuk menyuarakan isi hatinya yang sungguh! Sudah sangat menganggu dari tadi.

“Kalau hanya untuk hal-hal tidak berguna seperti ini, lebih baik tidak usah menghubungiku. Aku tu—“

“Tunggu!”

Refleks. Mikyung menyela perkataan Sehun cepat. Namun, setelahnya, ia malah merutuki kelakuannya ini.

Wanita itu mengigit bibirnya, lalu berucap ragu, “Bisakah kau pulang lebih awal, Sehun-ssi? Ada yang harus aku katakan padamu. Penting.”

Selang 30 menit kemudian, mobil Sehun sudah terparkir di depan rumah. Mikyung melihat itu dari celah jendela dekat pintu. Debaran jantungnya pun semakin menjadi-jadi. Ini adalah tindakan terbodoh dalam hidupnya, ia tidak tahu akan hal apa terjadi setelah ini.

Pintu rumah terbuka, menampilkan sosok Sehun dalam balutan kemeja berwarna abu-abu yang dipadukan dengan celana bahan berwarna putih. Yang membuat Mikyung harus menahan napas adalah; lengan kemeja tersebut yang tergulung sampai siku, membiarkan tangan putih nan mulus pria itu terpampang nyata di hadapannya. Oke, Mikyung tahu ini berlebihan. Tapi, inilah yang memang ia rasakan.

Iris tajam Sehun menangkap keberadaan Mikyung yang tidak jauh dari pintu masuk utama. Ia pun langsung menghampiri wanita itu.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Cepat katakan!” Nada tenang dari Sehun membuat Mikyung dapat bernapas sedikit lega.

“Hmm… apakah aku mengganggumu?” Tidak langsung menjawab, Mikyung malah balik bertanya.

“Tentu saja, iya.” Jawab Sehun tanpa ragu, membuat Mikyung meringis pelan mendengarnya.

“Maaf.”

“Cepat. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

Mikyung memilin kesepuluh jarinya bersamaan, ketika tatapan intens Sehun seperti sedang menginterupsinya saat ini.

“Aku… apa yang kau lakukan di luar rumah jam segini?” Tanya Mikyung, ia mendongakkan kepalanya guna menatap iris tajam Sehun yang sedang menatapnya.

Tanpa ragu, Sehun menjawab, “Bercinta dan mencari kesenangan.”

Mikyung melotot mendengar jawaban Sehun. Namun, detik selanjutnya ia menetralkan keadaan. Tentu saja ia tidak bodoh untuk mengerti jawaban Sehun tadi.

“Dengan wanita lain?”

Terdapat banyak keraguan dalam pertanyaan Mikyung. Namun jika tidak diutarakan, hanya akan membuat pikiran dan hatinya meraung meminta penjelasan. Setelah mendengar perkataan Jinyoung tadi siang di swalayan, Mikyung terus terganggu dengan perkataan itu. Walaupun sudah ia coba untuk menghilangkannya, tetap perkataan itu terus berputar di sekeliling pikirannya.

“Ya.” Jawab Sehun.

Mikyung tersenyum getir mendengarnya. Tidakkah hal yang lumrah bagi seorang pria lajang seperti Sehun mencari kesenangan i luar saja. Hei! Tapi itukan dulu. Berbeda dengan sekarang. Pria itu sudah memiliki seorang istri. Jadi, untuk apa sebenarnya Sehun menikahinya? Ah, sekarang Mikyung tahu. Sehun menikahinya hanya untuk mengambil semua warisan yang sudah menjadi milik pria itu jika dia menikahinya. Tidakkah Mikyung seperti sebuah kotoran saja di sini. Lucu sekali.

Tidak ada perkataan selanjutnya yang keluar dari bibir manis Mikyung sebagai balasan. Terlanjur rasa sakit itu menyerang ulu hatinya. Sejujurnya, ia benci di situasi seperti ini; situasi di mana ia terlihat lemah. Mikyung benci terlihat lemah, karena itu membuatnya semakin menyedihkan. Dan kenapa, ia harus terlahir sebagai seorang wanita… makhluk yang lemah jika disejajarkan dengan pria. Mikyung tidak menyukai itu.

Rasa sesak mulai menggerogoti ruang dada Mikyung. Namun wanita itu, tetap tersenyum mendekat kearah Sehun. Logika mengatakan jika mengapa sikap Mikyung seperti ini karena satu hal, yaitu; ia menyukai Sehun. Entah sejak kapan perasaan itu mulai muncul dan mengambil seluruh kerja jantung sekaligus otaknya. Mikyung tidak peduli jika pria itu terus mengacuhkannya, membentaknya, memarahinya, ia akan tetap menyukainya.

Tangan Mikyung terulur untuk menggapai anak rambut Sehun yang menutupi sebagian dahi pria itu, lalu menyingkirkannya ke pinggir. Mikyung tidak tahu apa yang ia lakukan sekarang, otaknya tidak bermain, tapi hatinya. Tangan wanita itu berpindah ke pipi mulus Sehun, mengelus permukaan pipi itu dengan lembut. Terus turun, sampai tangan Mikyung berhenti di rahang Sehun. Irisnya menemukan bekas lipstick berwarna merah nyala di sudut bibir Sehun. Seketika, rasa sesak itu semakin menggerogoti ruang dadanya.

“Tidak bisakah kalau kau hanya milikku seutuhnya? Tidak bisakah kau tidak menyentuh wanita lain selain aku? Bibir ini milikku, tubuh ini juga milikku, dan hati ini….” Mikyung mengarahkan tangannya ke dada Sehun, “… juga milikku.” Lanjutnya.

Tatapan yang Mikyung berikan sangat dalam, dan sarat akan luka lama yang kembali menguak. Iris teduh wanita itu, perlahan mulai berkaca. Namun dengan sekuat tenaga, Mikyung menahan tangisan yang akan pecah itu. Bukan, ini bukan karena Sehun. Tapi karena rasa sesak yang mengumpul di dadanya sungguh membuatnya sangat menyiksa.

Sehun bergeming, tidak tahu harus mengatakan apa. Terlalu banyak pujian yang ia terima selama ini, tentang fisik sampai kerja kerasnya. Bahkan tidak segan wanita di luar sana mengoarkan suara mereka jika ia adalah milik mereka. Tapi, ketika Mikyung mengatakan hal yang sudah biasa ia dengar; perasaannya berbeda drastis. Menghangat dalam kurun waktu yang lama, serta desiran aneh ketika tangan dingin Mikyung menyentuh permukaan kulitnya.

Terdengar hembusan napas dari Mikyung yang putus-putus, wanita itu mencoba untuk tidak menunjukkannya pada Sehun, namun Sehun justru dapat mendengarnya karena jarak mereka yang hanya 15 sentimeter saja.

“Sepanjang hari, kau terus saja berlarian, berjalan, dan terbang di kepalaku. Ini membuatku gila dan tidak bisa berkonsentrasi.” Ungkap Mikyung dengan nada frustasi.

Tak ayal jika Mikyung merasakan hal-hal semacam picisan romantis yang sering ia tonton di drama setelah tinggal dengan Sehun kurang lebih sebulan ini. Walaupun pria itu jarang pulang ke rumah, tapi secara diam-diam, Mikyung sering menanyakan kabar Sehun dari sang asisten yang kadang kala berkunjung ke rumah guna mengambil berkas-berkas milik Sehun yang tertinggal di rumah.

Menanyakan kabar kalau Sehun makan teratur atau tidak, meminum vitamin C yang ia berikan atau tidak, tidur pada waktunya atau tidak, dan masih banyak lagi.

“Kau sok hebat seolah kau adalah orang yang berpendirian. Padahal pendirianmu mudah sekali goyah. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Dan jalani hidupmu seperti biasa, tanpa perlu memikirkanku.” Ujar Sehun dengan nada suaranya yang datar serta tenang.

Seharusnya Mikyung tahu dari awal jika seorang pria seperti Sehun bukanlah sosok pria yang mampu untuk digantungkan dalam hidupnya. Oh Sehun bukanlah tipe pria yang berniat untuk menikah dan bahkan untuk Mikyung sekalipun dia tidak akan membuat pengecualian. Tapi, Sehun membutuhkan Mikyung. Dan dengan terpaksa harus menikahinya.

Mikyung tersenyum pahit. Ya, seharusnya dari awal ia menyadari jika hadir dalam hidup pria itu hanya akan membuatnya semakin terperosok dalam jurang yang disebut ‘Mimpi Buruk’. Tololnya Mikyung, kenapa ia baru menyadarinya sekarang.

“Apakah ada alasan lain mengapa kau membawaku keluar dari sana?” Tanya Mikyung, setelah mencoba mengendalikan emosinya perlahan dengan kepalan tangan di sisi tubuhnya.

Sehun menyilangkan kedua tangan di dadanya, “Tidak ada,” jawabnya jelas.

Mikyung tersenyum getir, lalu menundukkan kepalanya. “Jika tidak ada… bolehkah aku menjalani hidupku seperti biasa? Tanpa perlu memikirkanmu?” Tanyanya sembari mengangkat kepalanya kembali, menatap Sehun lekat.

Sehun tidak bodoh untuk mencerna dengan baik perkataan Mikyung. Terdapat maksud berbeda dari apa yang ia katakan tadi. Wanita itu ingin… meninggalkannya.

“Tidak untuk sekarang, Mikyung-ssi.” Jawab Sehun pelan.

Entah sebenarnya apa yang ada di dalam benak wanita itu, Sehun tidak mengerti sama sekali. Kenapa wanita selalu rumit sekali? Dan ini adalah salah satu alasan mengapa selama hidupnya ia tidak pernah terikat dengan satu wanita. Itu hanya akan membuatnya mati muda saja.

“Terserah kau saja.”

Mikyung yang sudah tidak dapat menahan gemuruh sesak di dalam dadanya, berbalik badan menuju kamarnya. Ia menyerah menghadapi Sehun yang memiliki rasa keterpekaan yang minim. Tapi, tangannya yang bebas diraih oleh pria itu, membuatnya harus menghentikan langkah.

“Jika kau beralibi bahwa aku mengeluarkanmu dari sana hanya untuk memanfaatkan dirimu guna menguasi warisan keluargaku; ya, itu memang benar. Tapi… lamban laun, aku bisa menerima kehadiranmu di rumah ini. Walaupun awalnya terasa asing, lama kelamaan aku mulai terbiasa denganmu.”

Sehun mengatakan yang sebenarnya, yang ia rasakan selama ini dengan kehadiran Mikyung. Bahwasanya, ia mulai terbiasa dengan kehadiran wanita itu dalam hidupnya (ralat) mungkin lebih tepat di rumahnya.

Mikyung berbalik badan, menatap Sehun dengan binar yang rumit untuk diartikan. Keduanya memang belum terlalu mengerti diri masing-masing, waktulah yang akan menjawab semua misteri di antara mereka. Tapi, semakin Mikyung terhanyut dalam diri Sehun; ia kalap sendiri untuk menanganinya. Pria itu terasa tak asing. Seperti pernah berjumpa di masa lampau.

Ucapan yang Sehun ucapkan itu, berhasil membuat Mikyung mengerjap beberapa kali. Sebelum ia membuka suaranya, “Aku senang mendengarnya,” jujurnya, senyum manis pun tersemat di bibirnya.

Tanpa aba-aba, Sehun menarik lengan Mikyung untuk mendekat kearahnya, lalu setelahnya, menarik pinggang wanita itu dan merengkuhnya guna mendekatkan wajahnya ke wajah Mikyung.

Mikyung dapat merasakan hembusan lembut napas Sehun di permukaan pipinya, hembusan napas yang teratur itu membuatnya tenang sekaligus menghangatkan.

Sehun yang tidak mengerti dengan dirinya yang seperti ini, hanya menikmati perdebatan antara hati dan otaknya. Di hidupnya sekalipun, Sehun tidak pernah membiarkan egonya kalah dari perasaannya sendiri. Namun untuk kali ini, ia menyampingkan egonya. Biarlah perasaan yang jarang tersentuh oleh siapapun itu yang bermain, untuk kali ini saja.

Sehun mengecup singkat permukaan bibir Mikyung lembut, sebelum berubah menjadi lumatan kecil. Tidak usah diragukan lagi keahlian Sehun dalam hal-hal semacam ini, karena ia memang ahlinya.

10 detik selanjutnya adalah, Sehun yang berubah menjadi kasar dengan mengigit bibir bawah Mikyung dan mulai menyudutkan wanita itu di tembok. Punggung Mikyung terbentur tembok cukup keras, dan ia hanya bisa meringis pelan merasakan nyeri di sekitar punggungnya.

Mikyung sendiri tidak tahu harus membalas seperti apa perlakuan Sehun yang mengejutkannya ini, memang terkadang pria itu suka sekali bertindak seenak jidatnya saja, membuat ia geram dibuatnya. Walaupun begitu, Mikyung tetap menikmati segala sentuhan Sehun di tubuhnya. Sungguh! Pesona pria yang satu ini sangat sulit untuk ditolak.

Ciuman mereka semakin intens. Namun, harus terhenti karena Sehun yang menyudahinya kala napas mereka yang mulai habis. Walaupun begitu, Sehun tidak membiarkan Mikyung lepas dari kendalinya; dengan tetap merengkuh tubuh wanita itu di dalam tubuhnya.

Napas mereka yang tersengal saling beradu. Mikyung menatap wajah Sehun melalui ujung matanya, dan dengan keras ia berusaha untuk menutupi wajah meronanya dari pria itu dengan bersembunyi di dada Sehun.

“Ini adalah awal….” ujar Sehun, melirik Mikyung sekilas sebelum kembali bersuara, “… kau akan menjadi milikku sepenuhnya….”

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

Iklan

39 thoughts on “Nightmare [Part VI] #Hard Mind

  1. akhirnya sehun ngalahin egonya.. untuh ada paman sehun tadi.. kalau gak min kyung gak tau lagi kebiasaan sehun yg ini.. min kyung selalu punya kata kata yg bikin baper..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s