PETRICHOR [1]

Featured Image -- 40463

Main Cast
Do Kyung Soo – Song Hye Rim

Other Cast
Kim Nana – All EXO’s Member

Genre
Drama – Romance – Reality

Length
7 chapters

Rating
PG – 13

Menjadi teman dekat sejak SMA, membuat Song Hyerim menjadikan Do Kyungsoo sebagai cinta pertamanya. Awalnya Hyerim tidak pernah tahu Kyungsoo adalah bagian dari anggota EXO, boyband baru yang sangat disukai sahabatnya saat ini. Pertama kali debut EXO, Hye Rim dan sahabatnya Nana menghadiri konser showcase EXO di Seoul Olympic Stadium. Hyerim tidak pernah ingin melihat konser itu, namun Nana memaksanya dengan alasan tak ada teman dan Nana tak ingin sendirian saat dia berteriak histeris memanggil nama Chanyeol, cinta pertama Nana sejak mengenal EXO.

Saat itu Nana berjuang mati-matian agar bisa terpilih melihat secara langsung satu persatu wajah anggota EXO yang baru diperkenalkan ke publik. Karena dari 8000 fans yang mendaftar, hanya dipilih 3000 fans yang dipilih melihat langsung konser itu. Hye Rim termasuk non-fans yang sangat beruntung saat itu, dia ada di barisan depan bersama Nana saat member EXO satu per satu mulai naik ke atas panggung dan memperkenalkan diri mereka. Untuk yang pertama kalinya sebagai orang biasa yang tidak pernah tahu kehidupan seorang fans idol, Hyerim bisa mendengar dan merasakan riuhnya teriakan para fans yang membuat gendang telinganya hampir pecah. Bahkan karena terlalu senang, Nana yang duduk disampingnya tidak pernah berhenti menepuk keras pundaknya, sesekali dia juga menggoyangkan tubuh Hyerim. Tapi Hyerim tidak bisa memberikan reaksi apapun karena tidak menyangka dengan apa yang dia lihat. Hyerim langsung mengenali Baekhyun dan Jongdae yang tidak lain adalah tetangga Hyerim dulu sewaktu dia tinggal di Gyeonggi ternyata juga bagian dari anggota EXO. Hyerim lebih tidak percaya saat Kyungsoo memperkenalkan diri dengan senyumnya yang khas. Tanpa sadar Hyerim langsung menutup wajahnya dengan handbanner yang dia pegang dari tadi.

“Bagaimana mungkin mereka disini pada saat bersamaan?” Hyerim terus bertanya-tanya tentang hal ini, bagaimana mungkin dia tidak pernah tahu Baekhyun, Jongdae bahkan Kyungsoo menjadi satu grup.

“Hei~ Hyerim…“ Hyerim tidak bisa mendengar Nana, karena sibuk dengan pikirannya dan suasana saat itu terlalu ramai. Tiba-tiba dia tersentak saat fans semakin ramai memanggil nama Kyungsoo, saat dia mulai memperkenalkan dirinya.

“Kyungsoo~”

“Kyungsoo oppa~”

“Dyo ah~”

“Dyo ah~ saranghae…”

“Ada apa ini?” batin Hyerim benar-benar bingung sekarang. Setelah sekian lama tak pernah melihat bahkan mendengar kabar Dyo lagi, begini lah takdir mempertemukan mereka kembali.

Flash Back as student at Senior High School “Pertemuan Terakhir”

Hari-hari Hyerim dan Dyo semasa sekolah sangat mengenang, mereka bahkan sudah dekat sejak SMP. Sikap Dyo kepada Hyerim lah yang akhirnya membuat Hyerim tak ingin jauh-jauh dari Dyo meski dia tak pernah bisa mengungkapkan perasaannya. Dyo selalu memberi perhatian lebih pada Hyerim, dia juga jarang terlihat dekat dengan anak perempuan lain selain Hyerim. Bahkan Dyo bisa tiba-tiba marah tanpa sebab saat Hyerim terlalu dekat dengan anak laki-laki selain dirinya.

Namun, akhir-akhir ini sikap Dyo berubah drastis. Hyerim benar-benar bingung dibuatnya, dia tidak pernah tahu kesalahan apa yang dia perbuat sampai Dyo terus menghindarinya. Hari itu menjadi puncak kekesalan Hyerim pada Dyo.

“Dyo~ hari ini kau ingin makan apa?” Hyerim mencoba bicara pada Dyo yang masih serius membaca dan dia hanya diam tanpa memberikan tanggapan apa pun.

“Yya…Ddodo~ kau tidak mendengarku?” Hyerim masih bersabar meski sedikit kesal.

Mendengar itu Dyo hanya melirik kepada Hyerim yang sedang berdiri di depannya.

“Aku tidak ingin makan apa-apa” kembali lagi pada buku yang dia baca.

“Wae? Tidak biasanya kau seperti ini, katakan sesuatu… jeball” Hyerim masih bersabar dan berusaha mengambil hati Dyo sambil menggoyangkan sedikit lengan Dyo.

Tapi Dyo tidak menjawab, dia bahkan langsung pergi meninggalkan Hyerim. Hyerim memang bingung, tapi dia tidak kehabisan akal. Masih ada waktu sepulang sekolah nanti, dia akan berusaha lebih giat lagi. Hyerim tidak ingin mengejarnya saat itu, karena dia tidak ingin membuat suasana semakin tidak baik jika dia memaksa Dyo bicara.

Sepulang sekolah, Hyerim menunggu Dyo di depan gerbang sekolah. Hyerim sempat bertemu dengan Jongdae dan Baekhyun (mereka tidak satu sekolah dengan Hye Rim, tapi sering lewat depan sekolah Hye Rim saat pulang sekolah).

“Hyerim? Annyeong~” sapa Baekhyun disusul Jongdae yang melambaikan tangan pada Hyerim

“Annyeong~”

“Kau tidak pulang?” tanya Baekhyun

“Aigoo~ kau melakukannya lagi, akhir-akhir ini aku sering melihatnya berdiri di depan gerbang” celetuk Jongdae membuat Baekhyun semakin penasaran

“Benarkah? Kau melihat siapa yang dia tunggu?” tanya Baekhyun pada Jongdae

“Tidak, tapi anak kecil pun pasti tahu dia sedang menunggu laki-laki dari sekolahnya” pernyataan Jongdae membuat Baekhyun semakin ingin menggoda Hyerim. Selama Baekhyun mengikuti camp di kelasnya Jongdae memang sering pulang sendiri dan mendapati Hyerim berdiri di depan gerbang.

Suatu waktu Jongdae sangat penasaran dengan sosok orang yang ditunggu Hyerim, lalu dari balik semak-semak dia mengawasi Hyerim. Namun, hingga 3 jam berlalu Hyerim tak pernah bertemu dengan orang yang dia tunggu. Jongdae terpaksa menghampiri Hyerim dan membujuknya agar mau pulang dengannya, karena Jongdae dan Hyerim adalah tetangga dekat. Mungkin karena sudah sangat lelah, Hyerim menerima ajakan Jongdae. Tapi dia lebih banyak diam selama perjalanan pulang, Jongdae tidak mau banyak bertanya dan lebih berusaha menghibur Hyerim.

“Tidak!” dengan sigap Hyerim menyangkal pernyataan Jongdae, membuat Baekhyun mengernyitkan mata sipitnya sambil tersenyum menggoda. Jongdae justru tertawa lepas melihat Hyerim yang mendadak salah

“Lihatlah, dia masih mencoba berbohong” Baekhyun mulai gemas lalu mencubit kedua pipi cubby Hyerim

“Yya~ aa…aa sakit” Hyerim hanya bisa mengeluh tanpa bisa melepas kedua tangan Baekhyun dari pipinya.

“Aku tidak akan melepasnya sampai kau mau pulang bersama kami, atau aku akan mengatakan pada ibumu tentang apa yang kau lakukan akhir-akhir ini” Baekhyun mulai mengancam, membuat Hyerim semakin kesal

“Kalian pulang saja dulu, aku tidak takut” jawab Hyerim pura-pura tenang sambil melempar senyum palsu pada mereka.

“Jangan berharap terlalu banyak, sebenarnya siapa yang selalu kau tunggu? Apa dia pacarmu?” bagaimana pun Jongdae memang lebih banyak mengerti Hyerim dari pada Baekhyun

“Bukan~ hanya teman” jawaban Hyerim terdengar ragu dan terbata

“Eeeiih… bukan~ hanya teman, kita sudah lama berteman. Kenapa kau masih terus berusaha membodohi kami” Baekhyun menggoda Hye Rim dengan menirukan gaya bicara Hye Rim.

“Yya~ Berhenti menggodaku, cepat pergi sana!” dan Baekhyun tertawa senang karena berhasil menggoda Hye Rim, meski dia sempat mendapat pukulan dibahu kanannya dari Hye Rim.

“Oh ya, Jongdae~ bisakah kau bilang pada ibuku, aku akan pulang terlambat lagi hari ini” Hye Rim mengatakannya pada Jongdae karena rumahnya yang paling dekat dengan rumah Hye Rim.

“Wae~? ibumu, pasti bertanya alasannya” tanya Jongdae, dia paling tidak bisa berbohong pada orang lain terutama ibu Hyerim.

“Nanti aku akan bilang pada ibu, maaf…aku tidak bisa mengatakannya padamu” Hye Rim hanya tersenyum.

“Baiklah, sepertinya memang sulit bicara pada gadis keras kepala ini, kalo begitu kami pulang duluan. Kau menang sekarang, kami pergi! Aku akan bilang pada ibumu, kau pergi berkencan!!” pada jarak yang cukup jauh, Baekhyun masih sempat menggoda Hye Rim.

“Yyaaa~ Baekhyun~ aku akan memukulmu sampai kau berbohong pada ibuku” mendengar teriakan Hye Rim, Baekhyun semakin senang dan melambaikan tangannya pada Hye Rim.

Hye Rim tahu Baekhyun hanya sangat suka menggoda semua orang. Itulah kenapa dia tidak menanggapi serius lelucon Baekhyun. Mereka akhirnya meninggalkan Hyerim. Hyerim kembali terlihat gelisah menunggu Dyo keluar.

Sudah satu jam lebih Hye Rim menunggu Dyo, tapi dia tidak muncul juga.

Hingga 3 jam berlalu dan sekolah sudah sangat sepi. Dyo tidak terlihat sama sekali. Ini sudah kesekian kalinya Hyerim menunggu berjam-jam tanpa hasil. Dia bermaksud ingin menyelesaikan perasaan yang mengganggunya selama ini. Dia harus menyelesaikannya hari ini, karena hari ini adalah ulang tahun Dyo.

“Dimana dia? Apa dia sudah pulang?” nada bicaranya lirih, sampai akhirnya Hye Rim mencoba melihat ke dalam sekolah. Semua sudut sekolah dia jelajahi, tapi tidak ada seorang pun disana. Bahkan anak-anak band dan basket yang biasanya latihan sampai sore pun tak terdengar suaranya.

“Ddodo~ ddodo…!!?!” Hye Rim berteriak sekuat tenaga, tapi tidak seorang pun menjawab. Dengan perasaan kecewa dan lelah karena belum makan siang Hye Rim hanya duduk di teras depan sekolah sambil menundukkan kepala.

Saat itulah tiba-tiba Hye Rim mencium bau hujan, dia ingat Dyo sangat menyukai bau hujan. Hye Rim melihat ke atas langit yang gelap dan hujan turun sangat deras, sudah pasti Hye Rim tidak akan bisa pulang karena dia tidak membawa payung apa lagi jas hujan. Hye Rim memutuskan untuk menunggu hujan sedikit reda.

Sebenarnya, saat jam makan siang tadi Hye Rim ingin memberi kejutan kecil untuk Dyo tapi karena Dyo tidak mau makan dan mengacuhkannya, dia tidak ikut makan dan kado yang sudah dia siapkan untuk Dyo masih dia simpan dengan baik di dalam tas. Dalam keadaan apa pun Hyerim selalu percaya satu hal, dia akan melihat Dyo saat dia benar-benar memikirkannya.

“Kenapa kau masih disini?” dan dia benar-benar datang setelah sekian lama Hyerim menunggu, Dyo sekarang berdiri tepat di depannya dengan membawa satu payung besar.

Hye Rim yang sudah mulai kedinginan, hanya membalasnya dengan senyuman.

“Ddodo ah~ saengil chukkae…! Maaf, sudah membuatmu marah” sambil menahan dinginnya hujan, meski Hyerim tidak kehujanan sama sekali. Tapi hujan saat itu membawa hawa dingin yang sangat menusuk tulang.

“Apa kau sudah gila? kenapa kau melakukan hal sebodoh ini? Bagaimana jika tadi aku tidak bisa menemukanmu?” kata Dyo sedikit kesal, dia langsung melepas jaketnya dan memakaikannya pada Hye Rim.

Hye Rim masih berpikir keras tentang apa yang membuat Dyo marah. Dyo menggandeng tangan Hye Rim begitu erat dibawah payung dan hujan yang deras. Selama perjalanan pulang, tak ada suara diantara mereka hanya suara riuh hujan yang terdengar di telinga mereka. Dyo masih memegang tangan Hye Rim erat yang sedikit gemetar, tangannya terasa sangat dingin. Hye Rim merasakannya dan melihat ke arah Dyo, tatapan mata Dyo hanya lurus kedepan. Sesekali Hye Rim melihat tangannya yang masih memegang erat tangan Dyo. Tapi Hye Rim benar-benar tidak ingin bicara apa-apa, hanya menikmati hujan bersama Dyo, baginya sudah sangat cukup. Hye Rim lebih mendekat dan melingkarkan tangannya pada lengan Dyo lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dyo.

“Semoga perasaanmu lebih hangat seperti sebelumnya, Dyo ah~ boghosipo” Hye Rim hanya bisa mengatakannya dalam hati.

Dyo tidak menolak, dia semakin mempererat pegangan tangannya pada tangan Hye Rim.

Sesampainya tiba di depan rumah Hye Rim…

“Masuklah…” Dyo melepaskan pegangannya,

“Tidak bisakah kita bicara sebentar?” nada bicara Hye Rim terdengar sangat rendah dan halus, Dyo hanya memandangnya lekat.

“Aku harus segera…” belum selesai bicara, Hye Rim sudah memotongnya dengan air mata yang mulai mengalir. Dyo langsung terdiam, karena untuk pertama kalinya saat itu dia melihat Hye Rim menangis tepat di depan matanya.

“Jeball, sekali pun jangan pernah berbohong padaku. Karena aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan pernah berbohong padamu. Aku hanya ingin tahu apa salahku, sebenarnya apa yang membuatmu tidak mau mengatakannya?” suasana semakin hening saat Hye Rim benar-benar menangis, suara hujan yang deras masih menemani perbincangan serius diantara mereka.

“Maafkan aku…Hye Rim~ aku akan mengatakannya jika waktunya sudah tepat” Dyo sedikit gugup,

“Wae? Waeyo? Wae?” tangisan Hye Rim semakin tidak tertahan lagi, meledak dan membuat Dyo semakin merasa bersalah, Hye Rim bahkan beberapa kali memukul dada Dyo.

Dyo yang awalnya diam saja, kini mencoba menghentikan pukulan Hye Rim dengan memegang kedua tangannya. Meski Hye Rim memberontak dengan terus menangis, sekuat tenaga Dyo mencoba menenangkannya dan memeluknya erat.

“Maafkan aku…Hye Rim~ tolong maafkan aku, aku berjanji suatu saat nanti akan mengatakannya padamu. Aku harap kau tidak akan pernah menangis lagi karena aku” bisik Dyo sambil memeluk Hye Rim semakin erat.

Dan tangisan Hye Rim semakin keras, dia marah pada dirinya sendiri karena dia tidak tahu kenapa dia sangat menyukai Dyo. Dia hanya berharap Dyo segera mengatakan kesalahannya dan memahami perasaannya saat itu.

Continued…

Iklan

One thought on “PETRICHOR [1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s