[Author Tetap] 2/3 Men In Black

Men In Black

Poster by Laykim @ Indo Fanfictions Arts

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com)| Sehun & Jung Nara | PG 17 | Line@: NYC8880L

Prev: Part 1 or Part 1

“You don’t have a chance to escape from here.” –Let Out The Beast, EXO

Sehun memutar gelas koktail, membiarkan ombak kecil bergulung di dalam sana. Serebrumnya mengirimkan ribuan neuron berisi informasi untuk menentukan langkah yang akan menjadi pijakan. Berulang kali berbagai adegan yang telah ia lakoni berputar tanpa jeda.

“Cinta, berikan saya cinta. Satu-satunya hal yang belum sekali pun saya jamah dalam hidup.”

Suara gadis itu serupa genta angin yang berkoar, bersautan. Lantunan yang kontan menarik sudut bibir Sehun membentuk seringaian.

“Biarkan saya mengalami pengalaman mencintai dan jatuh cinta. Ajarkan saya bagaimana caranya cinta bekerja.”

Deklarasi konyol, tolol, dan tak dapat pria itu respons.

Di kamus kehidupan Sehun, tak ada satu kosakata pun mengenai cinta. Pria itu telah membuang cinta jauh-jauh.

Bagaimana bisa ia mengajarkan sesuatu yang, bahkan tak pernah ia sadari keberadaannya?

“Ada berbagai macam cinta di dunia ini, cousin.” Kata Jongin menginterupsi lamunan sepupunya.

Fokus Sehun tak pula beranjak pada si lawan bicara. Ia tetap bergerilya memindai gemerlap kota melalui kaca di ruang kerja.

Jongin mengedikkan bahu, kurang antusias dengan topik yang menjadi pembicaraan mereka. “Kusarankan kau jangan mengumpankan dirimu sendiri. Lebih baik mencari ibu kandungnya―well―cinta anak dan ibu saja. Lebih aman.” Saran Jongin, dingin.

“Aku tidak takut pada apapun.” Sergah Sehun sembari beranjak, melangkah mendekati keremangan jendela. Mengacuhkan Jongin, sekali lagi.

“Aku tahu soal itu. Masalahnya cinta adalah hal yang kasat mata. Akan sangat konyol jika dirimu jatuh cinta pada buruanmu. Khusus yang satu itu kau harus bertoleransi pada dirimu.” Jongin berkata, diselingi bibirnya yang menyicip wine.

“Aku tidak suka bertoleransi,” balas Sehun.

“Aku tahu,” Jongin menggantung ucapannya. “Tapi, kau bertoleransi untuk menuruti permintaan gadis itu.” Lanjut pria yang masih mengenankan setelan kerjanya.

“Seberapa bahaya?” tanya Sehun, tak mengindahkan peringatan Jongin.

Jongin tampak menautkan alis, berpikir. “Sangat berbahaya. Mengingat, kalian sudah pernah mengenal sebelumnya dan bersama melakoni peran sebagai anak terlantar.” Kelakar Jongin, menutup perbincangan mereka malam itu.

Nara tak pernah mengingat lebih banyak daripada manusia lain. Memorinya sering meluruh mengikuti sekon yang berganti menjadi tahun. Namun, gadis itu memiliki ruang yang luas untuk seseorang. Apalagi, tidak banyak manusia yang patut mendapatkan kasihnya.

Hanya ada segelintir orang yang masih tersimpan rapi di hati, menunggu untuk dikenang kembali sebagai rasa. Bukan layaknya nama atau rupa.

Nara masih ingat, dulu di panti asuhannya yang kumuh. Ada anak laki-laki atau perempuan? Nara lupa. Pastinya, ia teman Nara, sahabat, dan juga kakak. Nara merasakan dirinya sedang berada dekat dengan patung batu yang hangat, jika bersama dengan dirinya. Teman Nara itu tak mau berbicara, hanya diam, bergerak pun hanya untuk melindungi Nara dari banyak hal. Pertama dan terakhir kalinya Nara merasa aman ialah bergandengan tangan bersamanya.

Serupa iklan di televisi, kemunculan teman kecilnya tidak berlangsung lama. Nara kehilangan ingatan mengenai bagaimana tiba-tiba temannya hilang begitu saja. Ia hanya mendapatkan duka yang teramat besar. Sakit yang masih tertancap pahit hingga saat ini.

Tidak biasanya Nara kembali membuka hati untuk mencari-cari kenangan rasa. Mungkin kematian yang begitu dekat, membuat gadis itu ingin kembali memindai kewarasan. Jiwanya secara naluriah mengais alasan baginya untuk tetap bernapas.

Opsi lain ialah kenangan rasa itu menguar ketika aktor yang membuat kembali berperan. Perumpamaannya hati Nara setara panggung, diisi oleh lakon-lakon yang dulu bermain.

Netra Sehun mengingatkan Nara pada rasa itu.

Gerak-gerik Sehun mengingatkan pada kawan lamanya yang menghilang. Teman yang ia kasihi mati-matian. Sahabat yang menguap karena waktu.

Tidak.

Ada perbedaan, tentu saja.

Sehun hanya sebongkah es―sama sekali jauh dari hangat.

“Sehun,” Nara bergumam sembari menuliskan nama pria itu pada jendela yang berembun.

Hanya melantunkan namanya saja membuat Nara mengigil. Bukan karena pria itu dapat mencabut nyawanya dengan mudah. Ia tidak takut kematian, hidupnya akan berakhir indah jika dirinya berhenti bernapas.

Bunuh diri?

Nara telah ratusan kali melakukannya, tetapi selalu gagal. Luka akibat ketidakberhasilan itu justru meremukkan tubuhnya. Nara lelah sakit, ia sangat bosan menderita.

Pintu kamar tidur―penjaranya―terbuka, menampilkan aktor yang sedari tadi Nara tunggu-tunggu.

Nara mengamati Sehun yang melangkah ke arahnya dengan begitu elegan. Kemeja abu-abu yang tidak pernah kusut, celana kain hitam lurus, dan sepatu pantofel mengkilap―menyempurnakan pria itu.

“Baca baik-baik.” Ucap Sehun ketika menyerahkan dokumen yang tertata rapi.

“Ini apa?” tanya Nara.

Sehun bergeming beberapa saat, namun perkataannya menguar juga. “Saya akan memberikanmu ‘cinta’ sesuai perjanjian. Dokumen itu adalah riwayat ibu kandungmu. Kita akan menemukan ibumu sebagai ganti perutmu.” Jelas Sehun cepat dan tajam.

Napas Nara tercekat. Pendengarannya nampak terganggu, gadis itu terlalu meledak-ledak. “Ibu?” Seloroh Nara, memastikan.

Pria itu mengangguk. “Saya enggan menjawab pertanyaan yang sama sekali tidak penting. Semua pertanyaan yang muncul di otakmu, sudah terjawab di dokumen itu.” Sehun berkata, kemudian melenggang meninggalkan ruangan serba kayu.

Sehun menyilangkan kaki, duduk santai di kursi empuk nan mewah. Di hadapannya terdapat meja kecil tempat kaleng soft drink bertengger. Sementara atensi Sehun tertuju pada gadis yang mengenyakkan diri di kursi paling sudut alat transportasi udara ini. Netra Sehun bergerak lincah mengamati tingkah laku Nara yang janggal―sudah hampir satu bulan ia melewatkan banyak kegiatan bersama Nara, seharusnya Sehun lebih terbiasa atas kelakuan anehnya.

Gadis itu memamerkan raut terpukau, bercampur kaget, dan tidak percaya. Sehun bisa menangkap gerak bibir Nara yang berucap ‘aku terbang’ dan ‘ini jet pribadi’.

“Iya benar, ini jet pribadi. Milikku.” Ujar Sehun, mengisi keheningan mereka.

Nara terpenjat membuat gaun merah muda yang sedang dikenakannya bergoyang. Gadis itu menyelipkan anak surai ke telinga sangking gugupnya―tidak mengira jika Sehun bersedia membuka obrolan, apalagi dengan gaya informal.

“Kemana kita akan pergi?” tanya Nara lirih.

Sehun menopang dagu, memberikan tatapan pada jendela bundar yang merangkum awan sebagai pemandangan.  “Seoul.” Jawab Sehun layaknya gumaman.

“Bukankah aku dirumahkan di Seoul?” Nara kembali bertanya, kali ini penuh kehati-hatian―menggunakan gaya informal menyesuaikan Sehun.

Sehun melejitkan bahu―enggan peduli dengan cara Nara berujar padanya. Sehun hanya memilih untuk membalas singkat. “Tidak.” Intonasi pria itu menandakan jika obrolan mereka harus diakhiri.

“Kenapa kita pergi ke Seoul?” Bukan Nara namanya kalau tidak kelepasan bicara.

Tatapan Sehun melesat begitu saja, membuat gadis itu merasa terancam. “Menemukan ibumu.” Ungkap Sehun, menghela napas sebelum melanjutkan. “Dan… menyiapkan operasi pengambilan berlian itu. Di Seoul nanti, ada briefing mengenai bagaimana cara melenyapkanmu. Menguliti atau langsung disuntik mati.” Lanjut Sehun datar dan tak berperasaan.

Nara mengigit bibir.

Kematian terdengar menyenangkan. Namun, akan berbeda rasanya jika dirimu mulai terpesonamenjurus jatuh cinta―pada malaikat kematianmu.

“Ibuku,” gumam Nara saat ia menyaksikan seorang wanita berusia awal 40 tahunan berlenggang di atas panggung opera.

Nara tahu. Sehun telah memberikan informasi melalui dokumen yang tersimpan di balik bantal, tempatnya di sekap. Ibunya seorang aktris opera. Akan tetapi, mengungkung langsung sang ibu yang telah lama hilang dengan mata kepalanya sendiri, membuat Nara tidak percaya.

Aku benar-benar manusia. Aku dilahirkan, bukan muncul begitu saja dari batu. Bisik batin gadis itu.

“Rasanya mencintai, perjanjian pertama kita selesai.” Sehun yang duduk di kursi penonton―bersebelahan dengan tahanannya berkelakar.

Nara mengangguk setuju―menerima kematiannya yang semakin dekat.

Toh, Sehun sudah berhasil sejak awal. Nara telah mengerti bagaimana rasanya mencintai―jatuh cinta.

Aku jatuh cinta padamu, Sehun.

Dugaan Sehun benar. Firasatnya selalu satu langkah lebih depan daripada tubuhnya dan waktu. Wanita yang digadang-gadang sebagai ibu Nara, enggan mengakui keberadaan putri pertamanya. Netra Sehun mengelupas topeng yang dikenakan si wanita―Nyonya Hwang, terpatri jelas di paras rupawan Hwang bahwa kehadiran Nara di dunia merupakan aib.

“Hwang Ah Jung adalah putri saya satu-satunya,” Hwang tersenyum ringkas dan memikat, sembari merangkul seorang gadis berusia 17 tahun―lebih muda dua tahun daripada Nara.

Sehun mengangguk, parasnya terlihat tak puas. Kepalanya menoleh pada Nara yang berdiri di sampingnya. Lantaran putus asa serta tertolak, ekspresi Nara cenderung lega. Nara tersenyum tulus. Sehun menelusuri sudut bibir tawanannya, membuat remang rasa yang membeku sedikit bergetar.

Nara mengulurkan tangan hendak menjabat wanita dan gadis yang masih menggunakan kostum panggung. “Anda mengingatkan saya pada ibu saya yang sudah lama meninggal.” Kelakar Nara penuh keanggunan yang selama ini tak pernah terlintas di benak Sehun. “Saya penggemar Anda dan merasa beruntung karena dapat berbincang dengan Anda.” Nara mengimbuhi, ketika uluran tangannya disambut antusias.

“Tentu saja saya tidak dapat menolak penggemar yang sangat cantik seperti Nona Jung. Terlebih lagi, Direktur Oh―seperti yang kita ketahui pemilik 90% hiburan dan pariwisata di Korea―meminta langsung pertemuan ini.” Balas Hwang, nampak bersungguh-sungguh.

Dengusan Sehun terdengar begitu kentara. Mencela kepura-puraan wanita yang langsung membuatnya ingin memuntahkan makan siangnya yang baru ia telan dua jam lalu. “Kita harus pergi, Nara. Ada banyak acara yang harus dihadiri,” kata Sehun setengah berbisik kepada Nara tetapi masih dapat terdengar di telinga yang lain.

Nara belum sempat menjawab, jemari Sehun bertaut sempurna pada miliknya. Sehun bergegas menuntun Nara beranjak dari belakang panggung yang penuh dramatisme. Tanpa mengucapkan salam perpisahan pada pendusta.

“Jangan berharap banyak, dia sudah melupakanmu. Dia tidak ingat pernah melahirkanmu.” Ejek Sehun ketika mereka memasuki limusin.

Nara menghela napas sangat dalam. Sehun memang seperti itu, setiap kalimat yang terkoar dari bibirnya bernada menghina dan menindas.

“Aku juga tidak berharap ibu mengenaliku dan mengingatku. Sebentar lagi aku pun juga akan mati, percuma juga punya ibu.” Ungkap Nara, melengoskan tatapannya pada Sehun.

“Argh!” teriakan merajam heningnya malam.

Kamar hotel berbintang itu terisi ketegangan yang merayap, hingga menyayat sekujur badan. Tubuh Nara mengejang, bergetar ganjl di atas ranjang. Jari-jarinya menelungkup membentuk genggaman erat. Bulir-bulir keringat dingin mengalir deras, melukiskan nyeri yang menyerang.

Nara mengeram. “Perutku terbakar!” Seruannya tertahan.

Gadis itu hilang akal. Ada api yang menjilat di tubuhnya. Membinasakan kewarasan.

“ARGH!” Teriakan Nara sekali lagi menguar menjadi dentuman. Nara menengadahkan kepala, napasnya habis sudah. “A-aku… t-tidak mau m-mati dengan cara ini, S-sehun. A-aku tidak mau mati dengan disiksa.” Nara mengajukan permohonan yang memilukan.

Sementara Sehun sama kacaunya dengan gadis itu. Tangannya memegangi Nara yang terus memberontak. “Jongin lakukan sesuatu, aku bisa gila.” Perintah Sehun nada suaranya tak sabaran―tidak seperti biasanya.

Jongin segera bertindak, meramu beberapa cairan untuk dimasukkan pada jarum suntik. Pria itu hendak menyuntikkan pada tangan si gadis biang keladi atas keributan, sebelum Sehun menyela.

“Bius dia, jangan lupa.” Ucap Sehun tergesa, agak kualahan dengan raungan Nara. “Berengsek, hilangkan rasa sakit itu segera.” Sehun menambahi dengan umpatan.

Serebrum Sehun tak dapat memindai dan mengolah. Pikirannya berteriak agar pria itu dalam kendali, namun ditolak mentah-mentah oleh Sehun. Raganya merasakan sakit yang sama menangkap segala teriakan dan rintihan tawanannya.

Batu yang selama ini menjadi wujud, retak begitu saja ketika gadis itu menderita. Sehun sendiri tak dapat mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Rintihan gadis itu menjungkir balikkan dirinya, hingga tak berbentuk.

“S-sakit,” gumam Nara lirih ketika Jongin menyuntikkan cairan bening. Perlahan,kejang pada tubuh gadis itu mulai menghilang. Nara membuka kelopak mata, tatapannya segera bertumbuk pada netra Sehun, meminta pertolongan―meluluhkan logika si pria.

Raga Sehun sekali lagi digerakkan kekuatan tak kasat mata. Perlahan jemari Sehun membelai surai Nara. Jari-jari Sehun berusaha menghilangkan peluh yang merembes enggan dikendalikan.

“Semua akan baik-baik saja,” gumam Sehun sembari mengecup puncak kepala gadis itu.

Jongin terperangah. Rahangnya hampir saja terjatuh dari tempatnya jika saja ia tak segera menutup mulut. “Kau sudah gila.” Olok pria berkulit tan itu.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Sehun, mengacuhkan sindiran saudaranya.

Jongin mengangkat bahu. “Baik―”

“―kau bilang seperti ini baik?” Potong Sehun.

Jongin memutar bola mata. “Percaya padaku, oke? Aku dokter.” Kelakar Jongin, agak tersinggung. “Itu efek dari cairan pengawet berlian yang biasa disuntikkan pengutil―ayah angkatnya―pada Nara. Kau harus segera mengeluarkan benda sialan itu dari dalam tubuhnya.” Lanjut Jongin.

Sehun menghela napas panjang, beranjak dari ranjang gadis itu―meninggalkan Nara yang mulai tenang. “Satu minggu lagi persiapannya sudah selesai. Mulai dari pengambilan hingga pemusnahan tubuh gadis ini―”

“―Keluarkan saja sekarang, gadis itu tidak akan punya harapan hidup jika menunggu satu minggu lagi.” Jongin menyela.

“Akan rusak apabila dikeluarkan sekarang.” Sehun menjawab singkat, seakan dilematis yang baru saja dilewatinya tak pernah terjadi.

Jongin menyeringai. “Kau menyukai gadis ini. Kau akan membunuhnya dengan tanganmu sendiri.” Simpul pria berkemeja merah.

“Sedikit.” Sehun berucap pelan. Ia menatap Nara yang terbaring memilukan. “Iya, tentu saja.” Pria itu melanjutkan.

Jongin menepuk bahu saudaranya, jawaban yang Sehun koarkan telah ia duga sebelumnya. “Kau harus tahu, sekali dirimu jatuh cinta tidak akan ada jalan untuk melarikan diri―jalan untuk kembali. Ada banyak hal yang tidak bisa dilogika dan ternyata bisa menjadi lebih kuat.” Kata Jongin, lalu merajut langkah meninggalkan kamar suram yang nampaknya akan merubah banyak hal.

Sehun tertawa hambar. Hanya satu bulan, Jung Nara. Kau sudah berhasil membuatku menjadi diriku yang dulu. Sahabat sekaligus cinta pertamamu, tujuh tahun lamanya―kemudian kita bertemu lagi dengan ingatan dan kondisi yang sama sekali tak berpihak padamu―juga padaku.

-oOo-

 Part selanjutnya dapat dibaca di [3/3] Men In Black.

4 thoughts on “[Author Tetap] 2/3 Men In Black

  1. ini hal berat bagi sehun, di satu sisi dia sudah jatuh cinta pd nara, tp dia jg harus mengambil berlian tersebut,
    pssti rasanya sakit melihat orang yg dicintai kesakitan seprti itu,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s