PETRICHOR [2]

6398e9_eb75fb1a9caa4a25b43e47ddadab0de1~mv2

Sejak saat itu Hye Rim tidak pernah bertemu Dyo lagi. Wali kelas hanya mengatakan Dyo harus pindah ke Seoul karena ada sesuatu yang harus dia lakukan. Dan Tuhan akhirnya mempertemukan mereka sekarang. Setelah setahun terpisah. Hari itu konser EXO memang berlangsung meriah dan sangat mengagumkan, Nana adalah penggemar berat EXO sejak awal mereka debut. Nana bahkan sangat menyukai Chanyeol, bagaimana jadinya kalau Nana tahu Hyerim dan 3 anggota EXO dulu bertetangga sekaligus teman bermain waktu kecil. Hye Rim tidak bisa seperti fans lain saat menonton konser itu, dia hanya termenung. Pandangannya fokus pada Dyo yang saat itu menyanyikan lagu Mama. Semua fans berteriak dan mengikuti lantunan lagu Mama, tapi Hye Rim justru meneteskan air mata, mengingat semua kenangannya di SMA dengan Dyo dan bagaimana dia berpisah dengan Dyo. Hyerim mulai mengerti, kenapa Dyo tidak mau mengatakan apapun saat itu. Semua yang dia lakukan mungkin karena ini, dia seorang trainee dan debut dalam waktu dekat.

Dia baru menyadari sesuatu, bahwa dia sangat merindukan Dyo. Saat dia sudah mulai melupakan Dyo sebagai masa lalunya.

Malam ini Hye Rim benar-benar tidak bisa tidur karena mengingat kejadian malam ini. Malam sudah sangat larut, tapi Hye Rim memilih berjalan keluar rumah dan melihat-lihat ke beberapa toko dan minimarket yang masih buka malam itu. Karena persediaan makanannya habis, Hye Rim ingin membeli beberapa makanan. Di minimarket itu tidak ada seorang pembeli pun kecuali Hye Rim. Tapi saat Hye Rim sibuk memilih mie instan, dia hanya mendengar seseorang datang.

“Permisi, vitamin tempatnya dimana?” tanya seseorang pada kasir minimarket.

“Ah~ silakan kearah sini, disana ada banyak minuman vitamin yang anda inginkan” jawab kasir sambil menunjukkan jalan.

“Ah~ iya, terima kasih…” laki-laki itu berterima kasih sambil membungkuk pada kasir.

Saat pandangan Hye Rim menyebar ke seluruh minimarket untuk mencari makanan selanjutnya yang dia cari, dia tidak sengaja melihat gantungan ponsel yang dipakai laki-laki itu. Hye Rim yang terkejut mencoba memastikan kalau laki-laki itu bukan laki-laki yang ada di pikirannya. Tapi apa yang dia pikirkan terbukti, pemilik gantungan ponsel ‘Pororo’ itu memang Dyo. Setelah yakin itu Dyo, Hye Rim langsung bergegas menutup kepalanya dengan topi jaket yang dia pakai dan langsung meletakkan keranjang belanjanya begitu saja. Perlahan Hye Rim meninggalkan mini market. Saat berhasil keluar dari minimarket, Hye Rim memang merasa sangat lega. Tapi Hye Rim akhirnya menyadari sesuatu…

“Kenapa aku harus kabur? Aku bahkan tidak membeli apa-apa hanya karena dia disana, ah~ tapi aku belum siap jika harus bertemu dengannya. Sudahlah, mungkin ada minimarket lain yang masih buka, aiiishh~” Hye Rim melanjutkan berjalan mencari minimarket yang masih buka.

Sambil mencari minimarket, Hye Rim melewati sebuah toko kaset dan dia mencoba masuk untuk melihat-lihat. Tapi lagi-lagi sesuatu mengejutkannya, karena pertama masuk toko itu Hye Rim sudah disambut sebuah poster jumbo EXO. Hyerim menyadari toko itu penuh dengan banner dan pajangan foto-foto EXO.

“Aish~ kenapa aku jadi seperti ini?” Hye Rim bergegas menuju kasir untuk menanyakan sesuatu, “Permisi~ apa kau masih menjual album Michael Jackson?”

“Kau bisa mendapatkannya di rak mancanegara, album terbarunya masih ada disana”

“Kamsahamnida, saya akan melihat-lihat sebentar” baru saja berbalik Hye Rim di kejutkan lagi dengan kedatangan dua orang laki-laki berbadan tinggi yang langsung masuk ke toko dan menuju kasir. Dan Hyerim hanya terdiam saat mengetahui laki-laki itu adalah Sehun dan Luhan yang sedang ingin membeli sesuatu di toko musik ini.

Mereka terlihat sibuk bicara dengan kasir dan Hyerim masih belum percaya, bisa bertemu mereka secara tidak sengaja. Belum sampai menemukan album Michael Jackson, Hyerim asal mengambil sebuah album EXO yang baru rilis. Dia langsung berbalik dan menghampiri mereka dengan berpura-pura menanyakan sesuatu lagi pada kasir. Rasa penasaran Hyerim pada mereka sangat besar, karena kesempatan seperti ini tidak akan terjadi 2x.

“Permisi~ maaf saya tidak jadi membeli album Michael Jackson” Hyerim menyela pembicaraan mereka sambil menyodorkan CD album perdana EXO pada kasir, jelas membuat Sehun dan Luhan langsung melihat ke arahnya dengan pandangan sedikit aneh.

“Sebentar… saya akan melayani mereka terlebih dulu” kasir laki-laki itu pun sedikit bingung, karena dia harus minta tanda tangan dan foto bersama dengan Sehun dan Luhan

“Ah~ baiklah… saya akan menunggu” saat kasir pergi mencari barang yang mereka cari, Hyerim pura-pura acuh pada mereka. Pandangannya menyebar ke seluruh ruangan, sesekali Hyerim melirik dan mendengar yang mereka bicarakan. Sebenarnya jantungnya saat ini bergedup sangat kencang karena Sehun tepat ada disebelahnya bersama Luhan.

“Annyeonghaseyo~ … apa kau EXO fans?” sambil membungkuk dan Luhan mengikuti, mereka tersenyum. Hyerim semakin tidak tahan ingin berteriak senang karena Sehun menyapanya lebih dulu. Tapi Hyerim masih bersikap tidak mengenal mereka.

“O~, benar saya EXO fans… waeyo?” Hyerim bahkan terlihat sangat natural bisa berakting tidak kenal mereka. Padahal perasaannya benar-benar ingin meledak-ledak karena sangat senang. Luhan dan Sehun saling melihat dan sedikit tertawa mendengar jawaban Hyerim.

“Aku rasa kau fans baru, benar?” Luhan mencoba membaca gerak gerik Hyerim yang terlihat tidak mengenalinya dan Luhan

Hyerim hanya tersenyum

“Apa anda mengenal semua member EXO?” tanya Sehun kemudian

“Oh~ maafkan aku… aku hanya menyukai lagu-lagu mereka, jadi aku tidak terlalu tahu dengan anggotanya” Hyerim masih terus tersenyum malu

“Hyung, apa kita perlu memperkenalkan diri?” Sehun berbisik pada Luhan

“Tidak perlu, ini akan menyenangkan jika dia tidak tahu siapa kita” entah darimana pikiran itu muncul, tapi Luhan mulai memikirkan sesuatu pada Hyerim

“Kau benar juga, hyung” ungkap Sehun setuju

“Nona, siapa namamu?” Luhan mulai melancarkan aksinya

“Hyerim, Song Hyerim… ada apa?” Hyerim tidak curiga dengan apa yang dilakukan mereka, dia bahkan masih pura-pura tidak tahu

“Tidak ada apa-apa, aku rasa kita punya minat yang sama. Kami juga penggemar EXO” Luhan ingin tertawa tapi dia harus menahannya

“Benarkah?! Woah… hahahaha kebetulan sekali” Hyerim mulai merasa aneh hingga terpaksa tertawa, kenapa tiba-tiba mereka mengaku penggemar EXO?

“Aku sangat menyukai maknae EXO, namanya Sehun… Oh Sehun. Dia sangat keren karena pandai menari” basa basi Sehun membuat Hyerim semakin yakin ada yang tidak beres dengan mereka, karena Hyerim hanya menanggapinya dengan senyum yang memaksa. Sehun kembali bertanya “Oh ya, ngomong-ngomong lagu apa yang paling kau sukai, Hyerim noona?” kali ini Sehun mengajukan pertanyaan yang lebih masuk akal untuk Hyerim

“Aku? Hahaha…” Hyerim tidak hafal dengan list lagu EXO, dia tidak tahu harus menjawab apa “Mama, hahaha” dia kembali tertawa.

Sehun dan Luhan saling memandang “Mama?!” mereka sedikit tidak percaya, karena yang mereka tahu, tidak banyak fangirl suka lagu Mama. Mereka akan lebih menyukai lagu romantis seperti What Is Love atau Black Pearl.

Hyerim sangat senang bisa bicara lebih lama dengan Sehun dan Luhan, Hyerim akhirnya tahu kalau mereka hanya mencoba bicara dengan Hyerim sebagai fans. Saat kebahagiaan Hyerim benar-benar meledak, Hyerim menjadi sangat akrab dengan Sehun Luhan dan pada akhirnya Hyerim berhasil foto bersama mereka sebagai sesama fans EXO. Tapi baru sekali berfoto-foto ria, Hyerim mendengar seseorang masuk toko dan dengan suara yang lantang berteriak.

“Yeorobeun~ kalian sudah menemukannya?” teriak seorang laki-laki berperawakan lebih tinggi darpada Sehun yang tiba-tiba masuk dan menyapa mereka berdua, itu Chanyeol.

Awalnya Hyerim tidak melihat siapa pun yang berjalan di belakang Chanyeol saat masuk toko, tapi begitu tahu itu Dyo. Lagi-lagi Hyerim langsung memakai topi jaketnya dan menaikkan resleting jaketnya sampai menutupi seluruh wajah, Hyerim berbalik dan berusaha mencari jalan keluar. Jelas Hyerim tidak bisa melihat apa-apa, karena wajahnya tertutup jaket. Dia sangat gugup, sampai tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.

Sehun, Luhan, dan Chanyeol hanya melihat keheranan. Melihat tingkah bodoh Hyerim, mereka bahkan tertawa melihat Hyerim yang terlihat lucu.

“Dia kenapa hyung?” tanya Sehun kebingungan

“Entahlah” jawab Luhan juga kebingungan

“Dia siapa? Kalian mengenalnya?” Chanyeol yang tidak tahu apa-apa lebih bingung melihat kebodohan Hyerim.

Hyerim juga terlalu bingung hingga tanpa sengaja menabrak Dyo yang berdiri tenang di depannya. Dyo sudah melihat Hyerim dari luar toko saat dia bercanda dengan Sehun dan Luhan. Dyo juga sangat mengenali jaket yang dipakai Hyerim malam itu, jaket itu satu-satunya hadiah ulang tahun pemberian Dyo. Bahkan jaket itu menjadi jaket kesayangan Hyerim sampai sekarang.

“Song Hye Rim?” terdengar sangat kaku dan dingin

“Hyung kau mengenalnya?” celetuk Sehun

”Kyungsoo ah~ apa dia temanmu?” Chanyeol mulai penasaran

Hyerim sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Dyo memanggil namanya, Dyo bahkan membuka paksa resleting jaketnya yang menutupi wajah. Hyerim berusaha tersenyum, tapi dia justru terlihat sangat bodoh. Hyerim bahkan tidak mengerti kenapa dia ingin menghindari Dyo, yang ada dalam hatinya saat itu adalah perasaan sakit dan kecewa saat melihat Dyo.

“Hehehe… Ddodo ah~ annyeong! Lama tidak berjumpa” mungkin karena mendengar Hyerim memanggil Dyo dengan sebutan ‘Ddodo’, Chanyeol, Sehun dan Luhan langsung tertawa lepas. Apa lagi melihat tingkah polos Hyerim dan Dyo hanya biasa saja tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.

“Mwo??! Hyung, sejak kapan kau punya nama Ddodo?” Sehun masih melanjutkan tertawanya setelah bertanya

“Dyo ah~ kau tidak perlu bersikap seperti itu padanya” Luhan berusaha menengahi

Dyo masih bersikap datar-datar saja, dia bahkan tidak menunjukkan senyum sama sekali seperti saat pertama masuk toko tadi.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyungsoo dengan nada datar

“Maafkan aku hyung, dia baru saja ingin membeli album kita” Sehun berusaha membela

“Benar~ aku hanya ingin membeli…” Hyerim masih tersenyum bodoh di depan Dyo yang menatapnya tanpa berkedip

“Sehun ah~ Luhan hyung dan Chanyeol, jika kalian sudah selesai kita bisa langsung pulang, manager hyung menunggu kita di mobil” dia mengabaikan Hyerim dan langsung pergi lebih dulu

“Mwo?? Kyungsoo ah~ Kyungsoo…!!” Chanyeol sempat membungkuk beberapa kali di depan Hyerim dan menyusul Dyo.

Sehun dan Luhan langsung menghampiri Hyerim yang masih berdiri memandangi Dyo yang melangkah pergi.

“Noona~ kau baik-baik saja?” rasanya terlalu sakit melihat sikap Dyo barusan, perhatian Sehun bahkan tak membuat Hyerim merasakan apa-apa lagi selain hanya sakit. Hyerim masih terdiam, pandangannya kosong, matanya mulai berkaca-kaca.

“Hye Rim ssi~ kau menangis?” Luhan mencoba memberinya tisu

“Aku tidak apa-apa, tidak~ aku tidak menangis, maaf… aku sebenarnya tahu kalian anggota EXO. Permisi” Hyerim mengatakannya agar lebih tenang tapi air matanya semakin deras, perasaannya benar-benar sangat sakit saat itu. Hyerim tidak pernah tahu dan tidak mengerti kenapa Dyo bersikap seperti itu, bahkan saat pertemuan pertama mereka setelah setahun tidak bertemu.

“Noona~ uljimayo” teriakan Sehun tidak pernah terdengar oleh Hyerim, perasaan Hyerim benar-benar remuk malam itu. Dia tidak menyangka Dyo akan memperlakukannya seperti ini.

Gantungan ponsel pororo yang dipakai Dyo adalah hadiah terakhir dari Hyerim dan Dyo masih memakainya sampai sekarang. Saat perjalanan pulang, Hyerim bahkan masih menangis. Hyerim masih tidak mengerti kenapa Dyo tiba-tiba menghindarinya, bahkan meski sekarang dia mengingat Hyerim sebagai orang yang dia kenal, tapi Hyerim merasa sangat kehilangan Dyo yang dulu. Dia terlihat seperti membenci Hyerim. Air mata Hyerim mengalir, tangisnya bahkan semakin deras saat mengingat kenangan manisnya saat pertama kali mengenal Dyo.

Flash Back in Senior High School “ Welcome to my live my Prince”

“Annyeonghaseyo, Do Kyung Soo imnida… kalian bisa memanggilku Dyo, mohon bimbingannya” saat itu dia masih sangat manis. Dia bahkan terlihat sangat pendiam, saat beberapa teman laki-laki sekelasnya mencoba berteman dengannya dia terlihat sangat mudah bergaul meski pun awalnya sangat canggung. Di sekolah, dia terkenal sangat cerdas dan tidak sedikit anak perempuan yang ingin berteman dengannya.

Hari dimana Hyerim pertama kali mengenal Dyo adalah hari ketiga disekolah baru, kelas baru dan teman baru. Karena pak guru mengadakan kerja kelompok untuk praktek mata pelajaran biologi dan Hyerim adalah teman satu kelompok dengannya dan satu kelompok hanya 2 orang. Di green house untuk praktek mencangkok.

“Baiklah, anak-anak hari ini kita akan praktek bagaimana caranya mencangkok tanaman, sekarang silakan cari jenis tanaman yang bisa di cangkok. Sesuai dengan yang sudah kalian pelajari sebelumnya” ujar pak guru setelah mengajak semua murid berkumpul di taman sekolah

Semua siswa kompak dengan jawaban “Yee~ saem…”

“Ddodo ya~ bisa kita gunakan tanaman ini?” tanya Hyerim sambil menunjukkan sebuah tanaman yang sudah berbunga

Dyo masih sibuk mencari tanaman lain, hingga tak menjawab pertanyaan Hyerim “…”

“Ddodo ah~ kau tidak mendengarku? Bisakah kita pakai tanaman ini?” sekali lagi Hyerim bertanya dengan nada sedikit keras

Dan Dyo masih diam “…” sibuk mencari tanaman lain

“Yaaa~ Do Kyungsoo…!!” teriakan kesal Hyerim mengalihkan perhatian semua orang, terutama pak guru dan Dyo

“Wae~??” Dyo berteriak lebih keras lagi

“Hye Rim ah~ Kyungsoo… ada apa? Apa ada masalah?” pak guru bergegas menghampiri mereka

“Obseoyeo saesangnim, cheusungaeyeo” Hyerim terpaksa harus meminta maaf tapi dia merasa tidak bersalah atas hal ini

“Kerjakan dengan benar, jangan membuat masalah” pinta sang guru sebelum kembali ke tempatnya

“Yyee~” membungkuk

Setelah pak guru pergi, Hyerim melirik Dyo dengan kesal.

“Mwo??” Dyo balik melototi Hyerim

Hyerim sudah sangat kesal dengan kesan pertama Dyo saat harus satu kelompok dengannya.

“Kau benar-benar tidak mendengar apa yang kukatakan tadi?” sekali lagi Hyerim mencoba berbaik hati pada Dyo

Dyo langsung berbalik dan menghadap tepat di depan Hyerim, dia mendekatkan wajahnya pada Hyerim. Hyerim hanya bisa sedikit menjaga jarak sambil terus menatap matanya

“Ddodo? Siapa?” Hyerim bahkan menahan nafas dan hanya bisa mengerlipkan mata berkali-kali. Saat itulah jantung Hyerim benar-benar terasa berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Dyo lalu memberinya satu pot kecil sebuah tanaman. “Lakukan dengan benar, jika kau melakukan kesalahan. Aku tidak akan memaafkanmu”

Dyo hanya tidak senang dipanggil ‘Ddodo’, itulah sebabnya dia bungkam “Saem… cheusungeoyeo, saya minta izin ke toilet” dia langsung pergi meninggalkan Hyerim yang masih tertegun.

“Baiklah, cepat kembali” pinta sang guru sebelum Dyo benar-benar pergi

Pikiran Hyerim masih kosong, rasanya benar-benar aneh. Bahkan saat dia menghela nafas panjang. Dia memukul pelan kepalanya sendiri, mencoba tenang dan tidak berpikir macam-macam tentang kejadian tadi. Setelah dia tersadar, Hyerim segera membuat cangkokan dari dua tanaman yang diberikan Dyo dan tanaman yang dia pilih sendiri. Hyerim sempat memikirkan 2 tanaman itu adalah dia dan Dyo dan suatu saat akan menghasilkan sebuah tanaman indah. Bahkan saat memikirkannya Hyerim tersenyum sendiri, lalu menyadarkan dirinya sendiri bahwa itu tidak mungkin.

Hasil praktek cangkok sudah waktunya di kumpulkan, Hyerim langsung mengumpulkannya tanpa diperiksa Dyo lebih dulu. Saem membagikan nilainya saat akan pulang sekolah, saat itu yang mengambil nilai Dyo.

“Yaa~ Song Hye Rim” Dyo menghampiri Hyerim dikelas dan langsung menggebrak mejanya

“Wae~?” tanya Hyerim cuek

“Aku sudah katakan padamu, untuk melakukannya dengan benar”

“Kau sudah mengambil nilainya? Bagaimana hasilnya?” Hyerim terlanjur girang karena yakin akan mendapatkan nilai bagus

“Bagaimana kau terlihat sangat cerdas, tapi sebenarnya tidak” meninggalkan kertas nilai di meja Hyerim dan pergi. Hyerim sangat terkejut melihat kertas nilai itu, ‘B’

“Nilai ini bagus, kenapa dia harus marah?” Hyerim memeriksa sebentar pekerjaannya, setelah beberapa menit dia berpikir. Hyerim langsung berlari mengejar Dyo yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah.

“Ddodo ah~~ Ddodo…!! Ya Kyungsoo ah~” nafasnya sudah terengah-engah karena mengejarnya. Dia sudah di parkiran mengambil sepedanya, Hyerim mempercepat larinya dan terus memanggil Dyo. Sampai akhirnya Hyerim bisa menghentikannya, meski kakinya harus terluka karena terkena ban depan sepeda Dyo.

“Mwo?” Dyo sudah siap jalan

“Yaa~ Ddodo ah~ …bukankah ‘B’ itu nilai bagus?” Hyerim hampir tidak bisa berdiri karena lemas, Hyerim bahkan masih bisa menahan sakit di kakinya.

“Aniyo~ bukankah ‘A’ lebih baik? Dan tolong berhenti memanggilku Ddodo”

Keringat Hyerim sudah deras, kakinya benar-benar tidak bisa menahan tubuhnya lagi. Sampai akhirnya Hyerim terjatuh dan entah bagaimana Dyo langsung merespon, dia langsung menjatuhkan sepedanya dan membantu Hyerim berdiri.

“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Dyo

Dyo memeriksa kaki Hyerim, ada sedikit luka gores disana dan darah keluar.

“Aku tidak tahu” berusaha berdiri sendiri tapi terjatuh lagi

“Kita harus ke UKS” dia langsung menggendongnya, membawanya ke UKS.

Continued…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s