[Author Tetap] Twist Scenario (Chapter 2)

wp-1474616090081.jpeg

Author: Kang Sunghye
Cast:
  • Oh Sehun
  • Han Saehee (OC)
  • Kim Junmyeon (Suho)
  • Bae Joohyun (Irene)
Rating: PG-15-17
Note:
  • Sehun: 24 tahun
  • Saehee: 20 tahun
  • Suho: 25
  • Irene: 25
(Karena ada kesalahan perhitungan tahun, ini umur aslinya di tahun 2016, menggunakan umur internasional. Harap untuk melihat tahun agar tidak bingung karena alur maju mundur)
Summary:
Oh Sehun selalu berusaha agar semua perencanaannya tepat dan berjalan dengan baik. Termasuk perencanaan tentang kehidupan cintanya. Ia membuat agar Kim Joonmyeon bisa menikah dengan Han Saehee, gadis yang menyukai Joonmyeon. Sehun melakukan ini semata-mata agar wanita yang ia cintai, Bae Joohyun, berhenti mengejar Joonmyeon.
Namun manusia memang hanya bisa berencana. Segala sesuatu yang sudah terjalin rapi itu, gagal di akhir. Joonmyeon menghilang di pernikahannya sendiri, meninggalkan Saehee sendirian di altar pernikahan. Tak hanya itu. Ia juga meminta Sehun untuk menggantikannya berdiri di samping Saehee, sebagai pengantin pria.
.

HAPPY READING
.
2009
“Benteng selalu berjalan miring dan kuda berjalan membentuk huruf L.”
“Ooh, begitu.”
Dahi Suho berkedut-kedut tidak nyaman. Ketenangannya membaca koran pagi diusik oleh sepasang anak kecil berusia 13 tahun yang sedang asyik bermain catur. Siapalagi kalau bukan Han Saehee dan teman barunya dari sekolah, Lee Jungshin.
Hari ini hari Minggu. Saehee tiba-tiba meminta ijin pada Ibu Suho untuk mengajak temannya datang ke rumah. Ibu Suho yang sudah menganggap Saehee seperti anaknya sendiri tentu saja mengijinkan. Toh istri Junghan itu akan pergi bersama suaminya ke Kanada untuk mengurus perusahaan.
Suho mendengar bahwa ayahnya akan mengirim Saehee ke Jerman. Namun karena proses yang agak lama dan gadis itu belum bisa bahasa Jerman, maka Saehee sekolah dulu di SMP daerah sekaligus belajar bahasa Jerman.
Sebenarnya Ibunya ingin Saehee fokus belajar bahasa dulu, tapi bocah itu mengaku bosan di rumah terus dan meminta untuk sekolah di SMP biasa. Ibu Suho menyanggupinya. Gadis itu sangat disayang oleh Ibu Suho. Saehee sudah seperti anak keluarga Kim walau Junghan tidak pernah mendaftarkan Saehee sebagai anggota keluarga.
“Wah, Jungshin. Kau pintar sekali. Pantas saja nilai ujianmu selalu tertinggi di kelas.”
Saehee memuji Jungshin dengan sesekali tertawa. Itu hanya pujian biasa. Namun Suho yang mendengarnya entah mengapa merasa kesal. Jungshin seperti memamerkan kemampuannya pada Saehee dan membuat gadis kecil itu memujinya habis-habisan. Di balik koran yang menutupi wajahnya, Suho mencibir pelan.
“Dasar bocah. Masih kecil sudah main cinta-cintaan.”
“Saehee. Kakakmu tidak mau bermain bersama kita?” Jungshin menatap Suho yang masih menutup dirinya dengan koran. Saehee melihat Suho sejenak kemudian mengabaikannya.
“Biarkan saja. Dia tidak bisa memainkan permainan anak kecil.” Perkataan Saehee membuat dahi Suho berdenyut kesal. Ia hempaskan koran yang sedari tadi menutupi wajahnya dan menatap bocah 13 tahun itu.
“Aku bukannya tidak bisa. Aku tidak mau. Itu bukan permainanku karena aku bukan anak kecil lagi.”
“Kalau tidak mau main, ya sudah. Kenapa sewot sekali?”
“Tentu saja aku sewot. Temanmu itu mengubah-ubah aturan catur seenaknya. Benteng itu hanya bisa berjalan lurus. Bukan miring!” Suho lalu menghampiri papan catur dan mengubah seluruh posisi pion catur ke tempat semula. “Kalian ulangi lagi. Permainan tadi tidak sah karena aturan yang dipakai salah.” Saehee melirik Suho dengan tatapan tidak suka. Ia lalu melihat Jungshin dengan wajah ramahnya.
“Jungshin, kita main yang lain saja yuk. Aku punya monopoli. Kamu mau mengajariku main monopoli juga, tidak?”
Jungshin tidak menjawab Saehee. Ia justru menunduk takut melihat Suho.
“Ma… maaf Saehee. Aku harus pulang. Ibuku akan mencariku.” Tanpa Saehee menahannya, Jungshin langsung berlari ke pintu depan. Meninggalkan Saehee dan Junmyeon sendirian di ruang tamu. Saehee melototi Junmeyon. Ia berdiri dan menendang papan catur.
“Ini semua gara-gara kau. Jungshin pasti ketakutan melihatmu marah-marah begitu.”
“Kenapa jadi salahku?”
“Aku sebenarnya tahu aturan catur. Aku mengajaknya bermain ke rumah dan mengajariku main catur karena ia tidak punya teman di sekolah. Hanya aku temannya. Sekarang setelah kau memarahinya, dia pasti ketakutan dan tidak mau main ke rumah lagi.”
“Aku tidak tahu dia tidak punya teman di sekolah. Harusnya kau beritahu aku sebelumnya. Ini rumahku.”
“Ini rumah Junghan ahjusshi dan aku sudah meminta ijinnya. Lagipula, memangnya aku bakal tahu kau akan marah-marah tidak jelas? Apa salahnya sih, membiarkan dia salah? Kalaupun kau ingin membenarkannya, setidaknya pakai cara yang lembut. Bukan marah-marah seperti tadi. Kau jadi terlihat seperti sedang cemburu, tahu. Dasar pedofil.” Saehee langsung pergi dengan langkah disentak-sentak karena kesal. Suho tidak sempat memprotes perkataannya. Ia lalu terdiam dan merutuki heran melihat tingkah Saehee.
Dia dapat kata pedofil dari mana?
2011
Hari ini adalah hari kepulangan Saehee dari Jerman. Gadis itu mulai dikirim Junghan saat masuk SMP 2 tahun lalu dan tiap akhir tahun gadis itu selalu pulang ke Korea mengisi liburan semesternya. Namun Sahee tidak pernah melihat Suho saat liburan karena dia selalu berangkat sekolah saat Saehee masih tidur dan pulang sekolah saat Saehee sudah tidur. Jadi ini pertama kalinya Suho bisa bertemu Saehee langsung. Kebetulan liburan Saehee dan Suho bersamaan.
Saehee hanya menghabiskan waktu 2 tahun SMP karena otaknya yang cerdas. Rupanya kemampuan otak Ayahnya menurun padanya, mengingat Ayahnya adalah seorang guru. Tahun ini pun Saehee mulai persiapan masuk SMA di Jerman. Sementara Suho sudah memasuki dunia perkuliahan. Suho sempat mendengar bahwa Ayahnya akan mengirimnya S2 ke Jerman tepat setelah ia menyelesaikan gelar sarjananya.
Entah mengapa kepulangan Saehee tahun ini dirayakan. Katanya karena gadis itu berhasil meraih peringkat satu dalam ujian kelulusan. Ibunya sendiri yang meminta untuk merayakan ulang tahun Saehee. Junghan pun setuju-setuju saja dengan usul istrinya. Padahal saat Suho mendapat peringkat pertama se-Korea, Ayahnya atau Ibunya tidak membuat perayaan. Saehee benar-benar menjadi kesayangan keluarganya. Gadis itu lebih tepat jika disebut sebagai putri Keluarga Kim dibanding menantu Keluarga Kim.
Suho baru turun dari lantai atas ketika Saehee masuk ke dalam ruang tamu rumah keluarga Kim yang besar dan luas. Ia terhenti sejenak di pertengahan tangga karena merasa tidak familiar dengan sosok gadis yang masih menggenggam koper warna biru langit itu. Suho tidak mengenali Saehee dari belakang. Rambut panjang gadis 12 tahun yang selalu Suho lihat dulu, berubah menjadi rambut sebahu gelombang yang elegan. Gadis itu tampak mengobrol ramah dengan pelayan sampai akhirnya Ibu Kim datang dari dapur dengan melepas celemek, dan memeluk Saehee erat.
“Akhirnya putriku pulang juga.” Ibu Suho mengelus kepala Saehee, memperhatikan tubuh gadis itu yang mulai tumbuh dewasa, bahkan hampir menangis saking terharunya. Ia lalu berteriak memanggil Junghan. “Yeobo! Saehee putri kita sudah pulang.” Junghan keluar tak lama setelah istrinya memanggil. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya di ruang kerja.
Annyeonghaseyo, ahjusshi.” Saehee membungkuk hormat. Junghan memeluk lalu menepuk bahunya dan tersenyum.
“Kau masih memanggilku Ahjusshi? Kita akan menjadi keluarga, Saehee. Kau akan menikah dengan Junmyeon.”
“Itu masih lama, ahjusshi.” Saehee menyengir cerah. Suho menatap mereka dari atas tanpa antusiasme apapun. Ia menarik bibirnya sinis, melihat bagaimana Ayah dan Ibunya begitu menyayangi Saehee. Kalau memang mereka ingin membalas jasa kedua orang tua Saehee, mengangkat gadis itu sebagai anak sudah cukup. Suho akan lebih menerima gadis itu sebagai adik angkatnya dibanding tunangannya. Namun pikiran dangkal ayahnya justru membuat ia terjebak untuk menikahi Han Saehee.
Sosok Suho yang mencolok di tangga membuat Nyonya Kim menyadari keberadaannya. Nyonya Kim memanggil Suho untuk segera turun. Pria 20 tahun itu lalu turun. Saehee yang sedari tadi memunggungi Suho, berbalik dan melihat tunangannya. Pria itu terlihat lebih pendek dari biasanya atau memang dirinya yang menjadi lebih tinggi?
Merasa diperhatikan, Suho mengamati Saehee. Dalam langkahnya yang makin melambat, ia terdiam mengamati Saehee. 2 tahun tidak bertemu, gadis itu tumbuh makin cepat saja. Tidak hanya tingginya yang sekarang hampir menyamai tinggi Suho. Wajah polos anak usia 12 tahun saat pertama kali mereka bertemu, berubah menjadi wajah cantik yang tak pernah Suho kira akan membuat jantungnya terhenti sejenak. Suho yakin. Beberapa tahun lagi kecantikan Saehee akan mirip seperti wanita-wanita karir yang anggun nan elegan seperti dalam drama yang sering ditonton Irene. Saehee mungkin berasal dari keluarga sederhana. Namun aura dan karisma gadis itu tidak seperti gadis sederhana biasa. Jika mereka sekeluarga mengikuti pesta besar direksi, orang-orang pasti mengira Saehee adalah putri kandung Keluarga Kim.
“Kenapa kau melamun begitu? Kaget melihat tunanganmu makin cantik?” Suara Nyonya Kim membuat jantung Suho hampir copot. Pria itu segera tersadar dan mengubah ekspresinya. Ia tampak gugup dan tidak bisa berbicara lancar.
“Aah… Yah. Tapi kau lebih cantik jika tidak menggunakan riasan berlebihan.”
Wajah Suho memerah mengatakannya. Nyonya Kim menyikut tulang rusuk suaminya, seakan menunjukkan betapa lucunya putra semata wayang mereka. Padahal Junghan juga melihat itu semua dengan bibir tersungging. Sementara mata Saehee membulat melihat Suho. Ia tidak tersipu ataupun merasa malu. Gadis itu kemudian memecahkan suasana canggung dengan lebih dulu mengajak Nyonya Kim ke ruang makan.
Suho lalu mengamati lagi Han Saehee dengan tatapan kebingungan. Gadis itu benar-benar tidak bereaksi apapun. Padahal ia benar-benar tulus memujinya. Apakah ada yang salah dengan ucapannya?
.
.
.
Antar Saehee jalan-jalan. Dia butuh refreshing setelah pusing belajar untuk ujian masuk SMA.
 
Ucapan Ibunya membuat hati Suho sedikit merajuk. Padahal dulu waktu ia ujian masuk SMA, ingin libur sehari saja tidak diijinkan. Dia langsung dihadapkan dengan guru les yang mengajarinya pelajaran SMA bahkan sebelum pelajaran itu diajarkan di sekolah. Namun perlakuan keluarganya pada Saehee sungguh berbanding terbalik. Gadis itu diberikan semuanya yang ia mau bahkan yang gadis itu tidak mau sekalipun. Ayah dan Ibunya lebih cocok memperlakukan Saehee sebagai putri mereka dibanding menantu mereka.
Sekarang di sinilah Suho. Duduk diam di tangga teras menunggu Saehee berganti pakaian. Padahal gadis itu sendiri yang ingin refreshing, tapi ia malah bangun kesiangan.
“Maaf lama.” suara Saehee mengejutkan lamunan Suho. Pria itu menengok ke belakang dan dilihatnya Saehee dengan gaun musim panas panjang dengan corak-corak bunga. Ia terdiam sejenak menatap Saehee dari atas sampai bawah. Sejujurnya Saehee tidaklah seburuk itu untuk menjadi tunangan Suho. Gadis itu cantik, cerdas, dan mendapatkan hati kedua orang tua Suho. Namun entah mengapa setelah 3 tahun berusaha mencari-cari kelemahan gadis ini agar ia bisa menolak pernikahan, Suho justru ingin menyerah. Ia ingin menerima pernikahan itu.
Suho lalu tersenyum tipis. Ia berdiri dan membersihkan celananya dari debu.
“Kau mau ke mana?”
“Entahlah. Aku ingin pergi ke luar tapi tidak tahu harus ke mana.”
“Lain kali rencanakan kalau ingin berpergian.”
“Aku sudah merencanakannya. Aku pergi ke luar rumah, keliling kota mungkin, atau ke pantai mungkin, atau ke pasar mungkin.”
“Yang penting keluar rumah, kan?” Suho lalu mengeluarkan kunci mobilnya, tapi Saehee langsung berteriak.
“Tidak ada mobil.” Saehee melotot pada Suho. “Kita ini harus mengurangi jumlah polusi dunia.” Ia lalu mengambil kunci mobil pria itu dan berlari. Suho mengamati Saehee yang sudah berlari sangat jauh dan mendengus kecil lalu mengikutinya.
.
.
.
Kincir angin dua kali, roller coaster tiga kali, permainan ekstrim 4 kali.
Jangan pernah remehkan Han Saehee. Penampilannya saja yang seperti putri kerajaan, tapi dalamnya seperti monyet. Melompat ke sana ke mari tanpa takut apapun. Suho tidak bisa mengikuti Han Saehee lagi. Ia manusia. Bukan monyet seperti Han Saehee. Suho hanya ikut roller coaster sekali dan perutnya langsung terasa mual.
Suho duduk menyandarkan kepalanya yang pusing. Saehee datang dengan melompat-lompat riang. Ia tidak terlihat pusing ataupun lelah setelah mencoba permainan itu. Suho meliriknya dengan tatapan lelah.
“Ini waktunya aku mengakui kalau aku sudah tua.” Saehee hanya tertawa-tawa saja melihat betapa payahnya Suho. Namun ia kemudian duduk di sebelah pria itu dan memijat kepalanya.
“Harusnya kau bilang kalau kau tidak bisa ikut permainan ekstrim. Aku jadi bisa memilihkan permainan yang cocok untuk orang tua sepertimu.”
“Aku juga tidak tahu kalau aku ternyata tidak bisa main permainan seperti itu.”
“Memangnya kau tidak pernah ke taman hiburan?”
“Tidak. Ini pertama kalinya aku kemari.” Suho terdiam sejenak merasakan pijatan Saehee di kepalanya. “Aku tidak pernah ke taman hiburan sebelumnya.” Tiba-tiba Saehee melepaskan tangannya dan beranjak.
“Aku beli minum dulu, ya.”
Saehee langsung pergi tanpa Suho mengijinkannya. Pria itu kembali bersandar dan mengamati lalu lalang pengunjung taman. Ada yang membawa anak, ada juga yang sedang berkencan. Suho dan Saehee pasti terlihat seperti sedang berkencan, walaupun sebenarnya mereka tidak berkencan sama sekali.
Entah mengapa Suho merasa dirinya sedikit aneh. Ia merasa tidak keberatan lagi jika Saehee mendekatinya. Ia juga merasa tidak masalah jika pernikahan itu terjadi. Namun sosok seorang gadis masuk dalam pikirannya tiba-tiba. Gadis itu pasti akan sedih. Gadis yang selalu membuntutinya kemanapun ia pergi. Gadis yang tidak pernah membuat jeda sedetikpun di antara mereka. Irene.
Suho teringat ketika ia membuat gadis itu menangis untuk pertama kalinya. Tepatnya kemarin. Saat ia mengatakan ingin memutus semua hubungan. Saat ia mengatakan tidak ingin lagi menemui Irene. Ia mengatakan hal kejam itu bukan tanpa maksud. Ayahnya sangat keras dan Ibunya selalu menyetujui pendapat Ayahnya. Tidak ada seorangpun di rumah itu berpihak padanya. Karena itu ia membuat rencananya sendiri. Ia akan berpura-pura untuk menyetujui pernikahan itu dan pergi dengan Irene saat hari pernikahan. Terlihat kejam untuk Saehee, tapi itu tidak masalah.
Han Saehee hanya ingin keluar dari Gunung Jiri. Selain itu kunci terselesaikannya hutang budi kedua orang tuanya ada pada gadis itu. Namun jika Saehee menerima saja untuk bisa dinikahkan dengannya, apakah berarti gadis itu memang tertarik padanya?
Saehee kembali dengan dua botol air mineral dingin di tangannya. Ia menyentuhkan botol air itu di leher Suho. Sensasi dingin yang mengejutkan itu membuat Suho sedikit menjauhkan lehernya. Bibir Saehee menyengir cerah. Ia lalu duduk dengan santai di dekat Suho dan membukakan tutup botol air mineral lalu memberikannya pada Suho. Suho meneguknya sekilas. Ia tidak kuat meminum air dingin yang sudah di mesin pendingin sejak lama. Ia meletakkan botol itu di sampingnya.
“Tidak dihabiskan?”
“Kepalaku pusing minum-minuman yang terlalu dingin.”
“Harusnya kau bilang padaku. Aku bisa mencarikanmu minuman yang lebih hangat.”
Suho terdiam lama sekali. Begitu juga dengan Saehee. Tidak ada dari mereka yang memulai percakapan lebih dulu. Saehee lebih memilih mengamati kincir angin besar yang makin lama makin melambat. Suasana taman mulai sepi seiring dengan hari yang makin gelap. Mereka ternyata seharian berada di taman. Saehee lalu melihat Suho. Laki-laki itu lebih memilih untuk menghilangkan rasa pusingnya dengan menundukkan kepalanya. Saehee lalu menarik pundak Suho dan membuat pria itu tertidur di pangkuannya.
“Tidur dulu saja sebentar.” ujar Saehee dengan senyum cerahnya. Suho termangu, melihat sikap Saehee.
“Kau pasti sangat mencintaiku, ya?”
“Hm?” Saehee menggumam, tak mengerti kenapa Suho tiba-tiba bertanya demikian.
“Kau tidak ada orang lain yang kau sukai?”
“Tidak ada.”
“Teman sekolahmu di Jerman? Mereka pasti lebih tampan dan lebih cerdas dariku. Tidak ada yang kau sukai di sana?”
“Memang banyak sih, tapi tidak ada yang kusukai.”
“Bagaimana kalau di masa depan kau menyukai laki-laki lain?
“Kau ini benar-benar tidak mau menikah denganku, ya?” kini giliran Saehee yang merajuk. Pertanyaan Suho hari ini aneh sekali. Laki-laki itu bangun dan menatapnya lekat-lekat.
“Lalu kenapa kau terima saja menikah denganku?”
Saehee terdiam. Ia terlalu fokus pada mata gelap Suho. Ia tahu betul pertanyaan pria itu dan ia juga tahu jawaban apa yang harus ia katakan. Namun entah mengapa mata hitam itu jauh lebih indah dipandang daripada menjawab pertanyaan Suho.
Suho juga tiba-tiba kehilangan fokusnya. Ia melupakan pertanyaannya sendiri. Mata kecokelatan terang milik Han Saehee entah mengapa terlihat mencolok. Ia terus menatap mata itu hingga tanpa sadar mendekatinya. Tangannya menggapai pipi Saehee perlahan, dan kemudian melirik bibir merah muda terpoles lipstik perasa strawberri. Saehee menutup matanya. Ia membawa mata Suho ke dalam bayangannya sendiri. Tepat seperti yang ia pikirkan, Suho ikut memejamkan mata. Wajah pria itu perlahan mendekat dan menyentuhkan bibirnya tepat seperti yang diduga Han Saehee. Mereka berciuman untuk memastikan perasaan masing-masing. Memantapkan hati apakah pernikahan itu harus terjadi atau tidak.
.
.
.
Batasan yang ditetapkan Suho tiba-tiba membuat Irene syok. Bagaiman tidak. Selama ini kedekatan mereka tidak pernah disinggung pria itu sama sekali. Lalu secara tiba-tiba pria itu mengatakan ingin membuat jarak, ingin berpisah, ingin menjauhi Irene. Siapa yang tidak merasa sakit hati. Pria itu tidak pernah protes dengan kehadiran Irene di sisinya. Pria itu tidak pernah marah ataupun merasa jenuh dengan keberadaannya. Pria itu juga membuat Irene selalu berharap bisa memilikinya sampai akhir.
Irene terlalu sakit hati. Ia tidak bisa menerima perlakuan tiba-tiba seperti ini. Tanpa tanda-tanda apapun Suho menetapkan batasan yang sangat keras. Suho-pun tidak bercanda dengan yang ia katakan. Ia bertemu Irene hanya membahas masalah OSIS. Bahkan meskipun Irene mengikutinya sampai kuliah, ikut kegiatan mahasiswa bersama, ikut organisasi mahasiswa bersama, yang dibahas Suho dengannya tidak pernah lebih dari urusan itu. Suho tidak lagi menanyakan kabar Irene. Tidak pernah lagi mengajak Irene menonton film bersama. Tidak pernah lagi makan siang bersama. Suho benar-benar tegas dengan keputusannya.
Nuna. Ayo kita ke taman bermain. Kau tidak bisa mengurung dirimu terus seperti ini.”
Sehun benar. Dia tidak bisa mengurung diri terus-terusan. Namun melihat matahari saja membuat hatinya sakit. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang membuat dirinya ragu untuk pergi keluar. Bagaimana kalau ia bertemu dengan Suho. Ekspresi seperti apakah yang harus ia tunjukkan. Kalimat seperti apa yang harus ia katakan untuk menyapanya.
“Aku tidak mau bertemu Suho.”
“Siapa yang mengajakmu bertemu Suho? Kita akan pergi ke tempat di mana Suho tidak pernah ke sana.”
Suho tidak pernah ke taman bermain. Pria itu terlalu sibuk dengan urusan akademiknya dan organisasi-organisasinya itu. Kalaupun ia pergi ke tempat hiburan, ia hanya akan pergi dengan Irene. Itupun jika Irene yang mengajaknya. Setelah berdebat cukup lama dengan pikirannya sendiri, Irene akhirnya menyanggupi. Ia meminta Sehun menunggu di luar dan berganti pakaian.
Hari sudah hampir sore. Taman bermain tetap buka sampai malam, meskipun pengunjungnya tidak seramai saat pagi hari. Irene justru suka hal itu. Saat ini ia tidak ingin berada di tempat yang ramai dan penuh sesak orang.
.
.
.
Sehun langsung meninggalkannya sejenak untuk membeli air minum dan pop corn. Pria itu ingin mengajak Irene menonton pertunjukkan sirkus. Irene menunggu tak jauh dari komidi putar raksasa yang berputar melambat. Angin malam semilir berhembus, tapi cukup kuat untuk menerbangkan selembar kertas pamflet. Irene ingin mengambil pamflet itu tapi tangannya tidak sampai. Pamflet itu terjatuh tak jauh dari semak besar. Irene berhasil mengambilnya kali ini. Pamflet itu berisi pengumuman festival kembang api yang diadakan juga di taman bermain ini. Irene tersenyum tipis. Ia akan memberitahu Sehun dan mengatakan ingin pergi ke festival kembang api itu.
Irene hampir saja berbalik sampai akhirnya kakinya terhenti. Ia seperti mengenali seseorang. Ia lalu melihat lagi apa yang telah dilewatkannya dan tercengang sendiri. Pria itu… Suho. Dia berciuman dengan seorang gadis.
Badan Irene mendadak kaku. Ia sontak berbalik dan merasakan kakinya sendiri gemetaran. Ia lalu jatuh terduduk dan tercengang sendiri dengan apa yang sudah dilihatnya. Suho tidak sedang bercanda untuk menjauhinya. Pria itu benar-benar serius.
2016
Sehun menyelesaikan pasien terakhir yang dikunjunginya tepat saat ponselnya berdering. Ia meraih ponsel yang selama bekerja selalu ia tinggal di saku jas putihnya, dan melihat nama Han Saehee. Sehun menggeser tombol panggilan dan mendengarkan suara Saehee dari seberang. Saehee langsung berteriak kencang begitu Sehun menjawab panggilannya.
“Kenapa keras-keras, sih?” Sehun menggosok telinganya sendiri dan mendekatkan lagi ponselnya.
“Kau sendiri yang mengajakku bertemu tapi membuatku menunggu lama sekali.”
“Benarkah? Sudah jam berapa ini?” Sehun melihat jam tangan di pergelangannya dan mengendikkan bahunya. “Baru jam 8 malam.”
“Baru jam 8 malam katamu?” Darah Saehee serasa naik mendengar Sehun begitu santainya. “Aku menunggu 4 jam dari yang dijanjikan. Astaga. Harusnya aku pulang saja.”
Sehun terkekeh. Ia bisa membayangkan wajah kesal Saehee yang sudah menunggunya lama sekali. Jangan pula salahkan Sehun. Pekerjaannya sebagai dokter tidak bisa ditata dengan baik seperti pekerja kantoran lainnya. Jika ada pasien yang harus operasi mendadak, ia harus siap siaga.
“Sebaiknya kau jangan marah-marah, Han Saehee. Besok pernikahanmu. Marah-marah hanya akan membuatmu semakin capek.”
“Kau yang membuatku capek, dasar gila!” Saehee berteriak dan Sehun langsung menjauhkan ponselnya sambil terkikik. Ia berjalan keluar rumah sakit dengan menenteng jas dokter putihnya ke sebuah cafe kecil yang tidak jauh dari rumah sakit. Ia memang sengaja memilih cafe dekat rumah sakit tempat ia bekerja. Cafe itu memiliki jendela-jendela kaca yang lebar. Ia bisa melihat Saehee masih memegangi ponsel di telinga dari luar. Sehun lalu menutup ponselnya. Dahi Saehee mengernyit heran. Ia menatap ponselnya sendiri dan bibirnya bergerak komat-kamit tidak jelas. Sehun terkekeh. Gadis itu pasti mengumpatinya.
Sehun masuk dan Saehee langsung tahu bahwa bunyi pintu cafe terbuka karena kedatangan Sehun. Sejujurnya pria itu sangat tampan. Saehee sadar hal itu karena gadis-gadis pengunjung cafe lainnya langsung mengamatinya. Pria itu selalu terlihat mencolok dan menjadi pusat perhatian. Bahkan sejak jauh sebelum ia bertemu dengan Sehun.
“Apa karena pernah menunggu cinta seseorang, lalu kau balas dendam padaku dengan membuatku menunggu lama begini?”
Sehun hanya mengendikkan bahunya. Ia melampirkan jas dokter di bahu kursi dan duduk bersandar dengan santai.
“Kau hanya menungguku 4 jam, bukan menunggu selama 15 tahun.”
Saehee menyeringai. “Kau curhat padaku, heh? Tidak ada gunanya. Semua penderitaanmu akan berakhir besok. Suho akan menikah denganku dan kau bisa memiliki Irenemu.”
Sehun terdiam sejenak. Ia menatap Saehee dalam diamnya. Saehee menyesap teh kelima yang ia pesan karena sibuk menunggu Sehun. Merasa diperhatikan, Saehee menatap Sehun tajam.
“Apa lihat-lihat?”
“Bukan apa-apa.” Sehun kembali mengendikkan bahunya. Ia memanggil pelayan untuk membawakan menu dan memesan bubble tea kesukaannya.
“Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa kau bilang ingin membantuku meskipun kau sendiri berada di pihak Irene. Suho mencintaiku sama besarnya dengan aku mencintainya. Kalau masalahnya ada pada Irene, harusnya kau bisa mengatasinya. Kau kan penjaganya Irene.”
Sehun mendengus dalam hati. 3 tahun berlalu dan Han Saehee masih tidak tahu bahwa Suho itu palsu. Suho itu licik dan sangat berambisi pada apa yang ia inginkan. Ia tidak keberatan menjadi domba hanya agar bisa diterima di kalangan domba-domba lain. Meskipun Sehun sudah menceritakan semuanya. Masalah yang Irene alami sejak SMA hingga sekarang. Namun Saehee tetap keras kepala. Ia terlalu dibutakan cintanya pada Suho.
Flashback
Sehun tahu pasti hari apakah besok. Besok adalah hari keberangkatan Suho. Seharusnya Irene menangis, meminta Sehun untuk mengantarnya ke rumah Suho agar mereka dapat berbicara. Namun gadis itu hanya diam membaca buku dengan tenang di rumahnya.
“Kau tidak ingin ke rumah Suho?” tanya Sehun.
“Untuk apa?” jawab Irene santai. Ia memposisikan dirinya senyaman mungkin di sofa dan membaca buku dengan rileks.
“Kau… tidak marah?”
Membalik lembaran kertas dengan tenangnya, Irene menjawab “Kenapa harus marah?”
Sehun merasa tidak perlu bertanya lebih lanjut atau mengatakan hal apapun. Irene pasti punya alasan tersendiri kenapa bersikap seperti itu. Namun semakin lama dipikir, otak Sehun makin memikirkan kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Irene tidak mungkin merelakan Suho semudah itu. Mereka sudah bersama-sama sejak SD. Ia tahu rasa cinta yang kuat akan sulit sekali untuk dihilangkan. Irene tidak akan mungkin semudah itu merelakan Suho. Ia sendiri mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Suho. Bagaimana mungkin ia bisa begitu tenang-tenang saja membiarkan Suho pergi ke Jerman dengan seorang gadis.
Namun Sehun tetap penasaran dengan reaksi Irene. Apakah Irene tahu pria itu punya tunangan?
“Kau tahu Suho punya tunangan?”
Sehun bisa melihat itu. Tatapan Irene terhenti. Namun kembali bersikap santai dengan cepat. Gadis ini merencanakan sesuatu rupanya.
“Yah, aku tahu. Suho sendiri yang mengatakannya.”
“Kau… tidak apa-apa?” Sehun mengamati ekspresi Irene lagi. Gadis itu masih berkutat dalam topeng ‘santai’ miliknya.
“Tidak apa-apa.”
Meski Irene mengatakan bahwa ia baik-baik saja, bukan berarti Sehun akan membiarkannya begitu saja. Sejak malam itu ia selalu merasa Suho dan Irene memiliki rencana tersembunyi yang ia tidak tahu. Sehun pikir Suho akan meninggalkan Saehee dan kabur bersama Irene. Namun pria itu tetap membawa Saehee. Sehun sendiri yang melepas kepergian mereka di Bandara Incheon.
Sebaliknya, Sehun semakin yakin bahwa Suho dan Irene punya rencana sendiri. Suho pernah bertanya akan berada di pihak siapakah Sehun. Sehun memang belum menjawabnya. Tepat sebelum Suho dan Saehee masuk area check in, Sehun meminta nomor dan email Saehee tanpa sepengetahuan Suho.
“Kenapa?” tanya Saehee dengan tatapan menginterogasi.
“Untuk berjaga-jaga saja.”
“Berjaga-jaga dari apa? Memangnya ada musuh?”
“Astaga kau ini.” Sehun langsung meraba pakaian Saehee. Gadis itu berteriak seraya menghindari tangan Sehun tapi pria itu langsung mendapatkan yang ia inginkan. Ponsel Saehee. Sehun langsung mengetikkan nomor ponselnya dan membuat missed call. Nomor Han Saehee masuk. Sehun menyerahkan ponsel Saehee dengan bibir tersungging kebawah seakan mengejeknya. “Gitu saja kok susah.” Saehee terbelalak dan hampir mengumpat lagi, tapi Sehun terlanjur pergi.
Suho mendapati mereka berdua kembali bersama-sama. Saehee yang awalnya berwajah cemberut menahan kesal langsung bersinar cerah menatap Suho. Ia memeluk Suho dan menggelayut di lengannya.
“Ayo kita masuk sekarang.” ajak Suho pada Saehee.
“Kau yakin tidak ingin menunggu Irene?” Sehun memancing Suho sekali lagi. Suho terdiam dan berbalik tak menjawab pertanyaan Sehun. Sehun merasa pria itu dendam padanya karena ia tidak menjawab pertanyaan Suho sebelumnya.
Hyung!
Langkah Suho terhenti tepat sebelum ia masuk area check in. Suho berbalik dan mendapati Sehun menyeringai.
“Aku berada di pihak Han Saehee.” ujar Sehun lantang.
“Hah? Kenapa aku?” Saehee melotot. Ia menatap Sehun tajam dan bahkan mengayunkan tangannya, mengancam menghajar Sehun karena sudah menyebut namanya. Meskipun ia tidak mengerti kenapa ia disangkutpautkan. Namun yang jelas Suho pasti marah. Tangan Suho di pundaknya berubah kaku dan meremas dengan sangat keras. Seperti sedang menahan amarahnya.
Suho lagi-lagi tidak mengatakan apapun. Ia membawa Saehee dalam jalannya dan memasuki area check in.
Flashback End
 
“Bukankah sudah kukatakan aku selalu dipihakmu?” Sehun menyesap bubble tea dalam gelas plastiknya. Saehee menatap Sehun horor dan bergidik ngeri.
“Kau menakutkan. Kau tidak berada dipihakku. Kau mengikutiku sampai ke Jerman. Itu namanya stalker. Dasar penguntit. Astaga. Aku juga tidak bilang ingin ada yang memihakku.”
Suho ke Jerman untuk melanjutkan studi masternya. Sementara Saehee baru masuk perkuliahan bachelor’s degree-nya. Meskipun terakhir kali ia bertemu dengan Sehun nomornya diminta dengan paksa, tapi pria itu belum menghubunginya. Sampai setahun kemudian pria itu SMS “Kalau mau menikah, jangan lupa undang-undang.”
Seharusnya SMS itu bisa diabaikan Saehee. Gadis itu juga sudah menganggap itu hanyalah SMS main-main saja. Namun anehnya Saehee tetap mengabari Sehun tentang pernikahannya dan mereka mulai mengobrol banyak hal. Lalu, setahun setelah kepindahan Suho ke Jerman, gadis itu mendengar bahwa Sehun ada di Jerman sebagai dokter di sebuah rumah sakit. Sementara Irene menjadi desainer fashion terkenal di Paris.
“Aku tidak mengikutimu. Aku mengikuti Irene dan ia mengikuti Suho.”
“Lalu kau ingin mengatakan kalau ada kemungkinan Suho akan pergi dengan Irene, begitu?”
“Ups, aku tidak bilang begitu, lho. Kau yang bilang. Jadi itu tanggung jawabmu kalau benar-benar terjadi.”
“Kau yang membuatku berpikir seperti itu!” Saehee hampir melempar kotak tisu di depannya, tapi ia segera mengontrol emosinya. Ini kesalahannya juga. Kesalahan dari imajinasinya yang terlalu futuristik. Saehee lalu menjadi tenang dan kembali pada inti pertemuan mereka yang sebenarnya. “Besok aku menikah. Tidak seharusnya aku menemui laki-laki lain sekarang. Katakan keperluanmu lalu kita berpisah. Kau mengatakan tentang bantuan dan aku merasa kau tidak membantu sama sekali karena memang tidak ada masalah yang terjadi. Hubunganku dan Suho lancar-lancar saja. Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa aku ingin bertemu denganmu.” Wajah tanpa dosa milik Sehun membuat Saehee ingin menghancurkannya dengan golok.
“Kalau tidak ada keperluan aku akan pergi.” perkataan Saehee seakan-akan memberikan Sehun kesempatan untuk berpikir apa yang ingin laki-laki itu lakukan. Sejujurnya mereka tidak cukup dekat. Mereka juga bukanlah musuh. Sehun selalu mengatakan ia berada di pihak Saehee tapi Saehee merasa tidak pernah membuat kubu apapun.
“Aku hanya ingin melihatmu karena kau akan menikah besok.”
Saehee melihat Sehun dengan jengah. Dia memang tidak berubah sejak pertama kali mereka bertemu tiga tahun yang lalu. Sehun masih tetap menyebalkan.
“Tolong jangan buat aku seperti sedang menyelingkuhi pengantin pria.”
“Jadi kau punya perasaan padaku? Wah, aku terharu.” Saehee hampir membenturkan kepalanya sendiri. Sehun semakin gila saja. Pria itu justru tertawa kecil melihat reaksi Saehee. Sesaat kemudian Sehun terdiam melihat wajah cemberut Saehee. Gadis itu selalu cantik. Bahkan ketika dia cemberut, dia tetap cantik. Sehun jadi menyayangkan jika gadis ini harus menikah dengan Suho. Entah mengapa hatinya merasa tidak rela.
“Aku bercanda. Aku hanya ingin memastikan. Apa kau yakin untuk menikah dengan Suho.”
“Tentu saja aku yakin.”
“Kau hanya spontanitas. Pikirkan dulu baik-baik. Kau sungguh yakin menikah dengan Suho?”
Entah mengapa Sehun merasa sedikit aneh dengan pertanyaannya sendiri. Namun ia tetap melanjutkan. “Bukankah terkadang ada yang namanya kecemasan pengantin. Tiba-tiba saja pengantin wanita merasa cemas dan takut karena harus memasuki kehidupan yang baru.”
“Kalau ingin takut, aku lebih takut padamu yang mengikutiku terus. Apa yang kau khawatirkan, Oh Sehun? Jika kau khawatir Irene akan merebut Suho dariku, justru itu adalah kesalahanmu karena tidak bisa menjadi penjaga dengan baik.”
“Aku cemas karena suasananya terlalu tenang dan damai.” Jawaban Sehun membuat Saehee kembali mencibir.
“Suasana yang terlalu tenang, kau mengeluh. Ada keributan kau juga mengeluh. Kau membuang waktu istirahatku yang berharga menjadi terbuang sia-sia.” Saehee mengemasi tasnya dan beranjak dari kursi. “Aku pergi. Kau ingat, aku harus menikah besok.” Saehee berjalan melewati Sehun, tapi pria itu langsung menahan tangannya. Saehee terhenti dan memperhatikan Sehun yang masih memegangi tangannya.
“Kau tahu, kan? Aku selalu berada di pihakmu.”
“Melihat apa yang telah kau lakukan selama ini, aku masih belum memutuskan apa kau benar-benar berada di pihakku.”
Sehun mendengus sinis. Kalo dilihat-lihat, sebenarnya Sehun lebih terlihat sedang menggoda calon istri orang. Saehee terlalu lurus dan teguh. Sejak awal mereka bertemu hingga sekarang, yang dilihatnya hanya Suho. Bahkan perkataan Sehun tentang Irene yang bisa saja merebut Suho, membuatnya tidak bergeming sedikitpun.
Suara notifikasi pesan muncul begitu saja. Sehun melihat layar ponsel di meja menyala. Ia melihat pesan dari Irene.
Kau pulang jam berapa? Aku sudah di depan pintu apartemenmu.
2013
Irene tidak percaya dengan sosok yang sekarang ada di depannya. Sosok yang selalu ia lihat selama ini. Sosok yang selalu ia tatap penuh cinta. Sosok yang membuatnya bahagia sekaligus sakit hati. Kim Junmyeon, Suho. Pria itu datang ke apartemen Irene sendirian. Tanpa suruhan Sehun, ataupun permintaan Irene sendiri. Gadis itu jadi bingung. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Apakah ia harus bersikap baik lagi dengan harapan yang selalu sama? Harapan bahwa Suho akan menghapus lagi jarak di antara mereka. Atau ia harus bersikap sinis sebagai bentuk perlindungan dari rasa sakitnya?
Irene memilih untuk kapok. Ia menatap Suho dingin. Ia mengingat perkataan Sehun untuk tidak mengindahkan lagi tingkah Suho dan berbalik memandang pria itu. Ya. Ia akan mulai melihat Sehun dari sekarang. Ia akan memanfaatkan perasaan pria itu untuk menyembuhkan hatinya. Mungkin saja ia bisa mencintai Sehun sama besarnya dengan rasa cintanya pada Suho.
“Untuk apa kau kemari? Bukannya besok kau akan ke Jerman?”
“Kau tak mengijinkanku masuk?” tanya Suho. Irene mengalah. Ia melebarkan pintu dan membiarkan Suho masuk apartemennya. Pria itu duduk di sofa, diikuti Irene yang duduk di seberangnya, menjauhi Suho.
“Aku pikir kau akan segera pergi, jadi aku tidak punya minuman untukmu.”
“Ternyata kau bisa berkata sinis juga, ya? Apa Sehun yang sudah mengajarimu?” Bibir Suho tersungging sinis. Irene mengalihkan pandangannya. Ia merasa malu karena perkataan Suho. Pria itu tahu. Ia tidak akan pernah bisa berkata kasar padanya. Ia terlalu mencintai Suho. Menolak kedatangan Suho saja membuatnya sakit hati.
“Kau selalu tahu tentangku. Itu membuatku hampir lengah sekaligus benci.”
Mengatakan sepatah kata saja membuat Irene hampir mencurahkan semua emosinya. Membuat gadis itu hampir membentak Suho, mencaci pria itu, bertanya kenapa dia harus menjauh, bertanya tentang gadis yang pria itu cium di taman dua tahun lalu, bertanya tentang kejelasan hubungan mereka. Kenapa Suho harus membuat batas, tapi pria itu masih mengawasi gerak-gerik Irene. Suho membuat jarak diantara mereka, tapi menjauhkan semua pria yang mendekati Irene. Pria itu dulu sangat tegas, dan membenci ketidakjelasan. Namun justru pria itulah yang tidak jelas.
Mata Irene berkaca-kaca. Ia langsung mengalihkan pandangannya, menutupi matanya yang berair. Namun Suho melihatnya dengan jelas. Pria itu hanya bisa termangu dan merutuki kesalahannya dulu. Ia membuat rencana yang salah. Ia membuat Irene terkatung-katung dalam perasaannya sendiri. Suho lalu memandang Irene sekali lagi. Gadis itu melamun
“Untuk kali ini saja. Aku akan menjamin kelengahanmu tidak akan membuatmu merasa sakit hati lagi.”
Bibir Irene tertarik sinis. Apa katanya? Jaminan tidak akan merasa sakit hati?
“Tolong. Jangan buat diriku semakin sulit lagi…. Aku…”
Perkataan Irene langsung terhenti ketika Suho beranjak dan duduk bersimpuh di hadapannya.
Kumohon, jangan begini. Aku jadi tidak bisa menolakmu lagi.
 
“Aku berjanji. Kali ini aku tidak akan mempersulitmu.” Kepala Suho menengadah, menatap Irene penuh iba. Ia lalu menyentuh kaki Irene dan menundukkan kepalanya di lutut gadis itu, seakan memohon pengampunan. “Aku akan segera menikah…”
Irene langsung menyentak tubuh Suho dan menjauhi pria itu. “Kau ingin mempermainkanku lagi? Kau bilang tidak akan menyakitiku lagi dan kau…”
“Dengarkan aku dulu…” Suho langsung memotong perkataan Irene. Ia tahu Irene tidak bisa diajak berdiskusi terlalu lama. Ia harus menjelaskan semua pada gadis itu dengan cepat atau gadis itu akan memunculkan pikiran-pikiran negatif lain di kepalanya. “Aku berencana menggagalkan pernikahanku. Pertunangannya sudah lama. Tepat sehari setelah aku memintamu untuk menjauhiku saat SMA dulu. Aku tidak bisa menolaknya. Hanya ini caranya.”
Irene terdiam. Bibirnya bergetar dan air matanya tertumpah begitu saja. Ini air mata yang seharusnya ia keluarkan sejak tadi, tapi keluar tanpa sebab.
“Apa yang ingin kau rencanakan?”
“Saat ini Ayahku mengirimku ke Jerman. Aku mungkin juga akan mengambil alih perusahaan ayah nantinya. Namun aku akan diam-diam mencari pekerjaan lain. Aku akan memulai lagi dari bawah, dan jika hari pernikahan itu tiba, aku akan pergi denganmu.”
“Kau ingin membuatku menjadi perempuan jahat yang mengambil pengantin pria dari seorang gadis?”
“Gadis itu tidak akan kenapa-kenapa, Irene. Dia menjadi tunanganku karena hutang ayah ibuku. Lagipula keinginannya adalah keluar dari Gunung Jiri. Menikah dengan tukang satpam pinggir jalan juga tidak masalah buatnya, asal ia bisa keluar dari kampung halamannya.” Suho bersikeras. Ia tidak mengerti kenapa Irene tiba-tiba menjadi sangat keras kepala dan bersikap seperti menolaknya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat nama Saehee di layar ponselnya dan mengangkatnya. “Hmm, Halo?”
“Oh, Junmyeon-ah. Ini Aku han Saehee. Aku sedang di Korea. Sekarang ada di taman dekat kampusmu. Tadi aku ke kampus mencarimu, tapi malah bertemu dengan cowok aneh.”
Suara perempuan yang keluar dari ponsel Suho membuat Irene tahu bahwa itu suara tunangan pria itu.
“Cowok aneh siapa?”
“Apa? Namanya? Hei, namamu siapa?”
“Bilang saja dari Ksatrianya Irene!”
Mata Suho membulat terkejut. Ia tahu benar siapa pemilik suara itu dan ia tak menyangka Saehee bisa bertemu dengan Sehun. Entah mengapa ia merasa ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Ia tidak bisa membiarkan pria itu membocorkan semuanya. Ia tidak bisa membiarkan Sehun memberitahu Saehee tentang dirinya dengan Irene. Saehee memang tidak mungkin memberitahu kedua orang tuanya, tapi gadis itu bukan gadis biasa. Dia bisa melakukan hal yang aneh sekalipun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Suho bahkan tidak tahu isi kepala gadis itu.
“Kau diam di sana. Aku akan menjemputmu.” Suho langsung menutup ponselnya dan mengambil jaket.
“Sepertinya kau sangat mencintai tunanganmu itu.”
Ucapan Irene menghentikan langkah Suho sejenak. Suho menatap gadis itu lalu menghela napasnya.
“Aku akan membukakan jalan untukmu agar rencananya bisa berjalan. Mulai sekarang persiapkan paspor, aku akan mencari jalan agar sewaktu-waktu kau bisa ke Jerman.” Lalu Suho pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Irene terdiam dalam pikirannya. Ia merasa kepalanya sangat pening. Ia memijat-mijat dahinya sendiri dan kemudian menyandarkan kepalanya. Lagi-lagi Suho membuatnya bingung. Namun entah mengapa perkataan Suho kali ini membuatnya yakin. Jauh lebih yakin dibanding sebelum-sebelumnya. Mungkin karena ini interaksi pertama yang lebih dulu dilakukan Suho setelah 3 tahun lamanya mereka saling diam dan hanya membicarakan urusan perkuliahan saja.
2016
Sembilan lewat empat puluh menit. Suara hiruk pikuk dari tamu-tamu undangan sejak kedatangan tamu pertama hingga sekarang. Seakan tidak ada yang menyadari bahwa acara sudah terlambat empat puluh menit lamanya. Kecurigaan Sehun semakin menjadi. Acara pernikahan tidak kunjung dimulai karena Suho tidak juga muncul. Junghan sudah menghilang entah kemana, sementara istrinya tampak sedang menenangkan kerabatnya. Yang lebih aneh adalah tamu undangan lebih sedikit dari yang Sehun kira. Tidak ada pers, tidak ada wartawan yang meliput. Hanya kerabat Suho dan beberapa orang yang tidak Sehun kenal, datang.
Sehun memutuskan keluar gereja untuk mencari tahu. Ia melihat Tuan Kim Junghan berjalan kesana kemari kelimpungan sendiri dengan berkali-kali menekan-nekan layar ponselnya. Junghan juga mengumpat-umpat karena menghilangnya Suho. Bibir Sehun tertarik sinis. Kecurigaa selama bertahun-tahun lamanya sudah terbukti. Sayangnya ia telah kecolongan. Pria itu lalu mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Irene. Seingatnya hari ini gadis itu mengikuti seminar fashion internasional di Amerika. Sehun tahu karena Irene meminta untuk didaftarkan jauh hari sebelumnya.
Panggilan Sehun tidak dijawab. Sehun mencoba untuk menelpon Irene lagi tapi masih tidak dijawab. Sampai akhirnya ponselnya bergetar karena panggilan masuk. Telepon dari Suho.
“Ke mana saja, kau? Cepat kemari. Pernikahanmu…”
“Aku tidak akan menikah, Sehun-ah.”
“Apa maksudmu?”
“Sekarang aku sudah di bandara Belanda. Aku akan pergi.”
“Bandara Belanda? Lalu… Han Saehee?”
“Han Saehee? Tentu saja itu menjadi urusanmu. Bukankah kau sendiri yang mengatakan kau berada di pihak Han Saehee?”
Sehun lalu teringat dengan Irene kemarin malam. Untuk pertama kalinya gadis itu mengunjungi Sehun lebih dulu. Ia bahkan memasakkan makan malam di apartemen Sehun dan mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya pula. Lalu ketika ia meminta untuk diantar ke stasiun. Gadis itu mengatakan ada urusan sebentar di Belanda sebelum ia mengikuti seminar di Amerika. Tangan Sehun terkepal erat. Semua kejanggalan Irene terhubung hari ini dan ia merasa sangat marah.
Lebih dari itu, raut wajah polos Saehee yang bersedih terbayang di pikirannya. Tawa gadis itu setiap menceritakan Suho, raut penuh rasa cinta dan kekaguman setiap kali mereka membicarakan Suho. Terlepas dari ketidakakraban mereka di masa lalu, gadis itu tumbuh dengan harapan bisa keluar dari Gunung Jiri dengan menikahi Suho, dan sekarang pria itu memupuskan harapannya. Harusnya Suho tahu bagaimana karakter ayahnya. Jika Saehee tidak bisa menikah dengan Suho. Junghan pasti menuntut semua yang ia berikan pada Saehee.
“Kurang ajar! Kau sungguh akan meninggalkan Han Saehee? HAH!”
“Sehun-ah…” Bentakkan Sehun dibalas dengan panggilan pelan dari Suho. Pria itu benar-benar santai dalam menangani Sehun yang emosional. “Kenapa bukan kau saja yang menikahi Saehee?” Sehun mematung. Kata-kata Suho seperti melumpuhkan seluruh syarafnya. “Kau sendiri yang mengatakan kau berada di pihak Han Saehee. Sekarang saatnya kau melakukan apa yang harus kau lakukan. Kau ingin Han Saehee dipermalukan semua orang karena pengantin prianya menghilang? Jika kau yang menjadi pengantin pria, setidaknya orang-orang akan beranggapan bahwa ini pernikahan putri angkat Keluarga Kim. Bukan pernikahan putra sulung Keluarga Kim.”
Entah mengapa perkataan Suho benar-benar menaikkan darahnya hingga ke ubun-ubun. Sehun membanting ponselnya hingga remuk dalam sekali bantingan. Teriakkannya membuat Junghan yang masih sibuk menelpon, terkejut sendiri. Junghan tampak menyadari keanehan sahabat putranya itu. Ia melihat ponsel Sehun yang sudah hancur, dan menghampirinya.
“Ada apa? Apa itu telpon dari Junmyeon?”
Sehun mengamati wajah tegas Junghan. Dahinya berkerut karena emosi yang terlalu banyak ia keluarkan akibat menghilangnya Suho. Pria ini terkenal tegas dan tidak menerima istilah hutang. Ia sudah mendengar keseluruhan cerita Saehee bahwa Kim Junghan punya hutang budi pada ayahnya. Saehee hanya ingin keluar dari Gunung Jiri, dan pria ini mengatakan akan membawa Saehee keluar jika gadis ini mau menikah dengan Suho, sebagai ganti hutang budi Junghan pada Ayahnya. Pria ini membuat Saehee mencintai Suho tanpa tahu arti cinta yang sebenarnya. Jika Saehee akhirnya tidak menikah dengan Suho, pria ini pasti menuntut semua yang sudah ia berikan pada Saehee.
Sekarang Saehee dulu yang harus diurus. Ia akan melepaskan Irene dan Suho untuk sekarang. Benar kata Suho. Ia tidak bisa membiarkan Saehee dipermalukan karena pengantin prianya menghilang. Masalah nanti akan ia urus belakangan.
.
.
.
Sembilan lewat empat puluh menit. Terlambat empat puluh menit dari jam yang ditentukan. Harusnya sekarang Han Saehee telah selesai membacakan ikrar sumpah setia sehidup semati dengan Junmyeon. Namun ia justru masih duduk di ruang tunggu pengantin wanita, masih dengan buket bunga di tangannya. Tidak mungkin Saehee duduk dengan sangat tenang. Ia berkali-kali duduk-berdiri duduk-berdiri karena cemas namanya tidak kunjung di panggil.
Saehee teringat lagi dengan perkataan Sehun kemarin. Pria itu sangat aneh. Pria itu ingin membuatnya memikirkan ulang pernikahannya, seakan-akan menikah dengan Suho adalah pilihan terburuk dalam hidupnya.
Perkataan Sehun membuat Saehee mau tak mau memikirkan Suho sekali lagi. Ia mengingat ciuman di taman bermain dulu. Ia juga mengingat bagaimana Suho menatapnya lembut, tersenyum padanya, memperhatikannya. PRia itu sudah memberikannya banyak cinta dan perhatian selama ini. Suho pasti datang. Suho pasti akan membungkam mulut besar Sehun dan wajah songong pria itu.
Pintu ruang pengantin wanita terbuka. Ahjumma Song datang dengan wajah tenangnya. Namun Saehee justru merasa tidak tenang. Ia menghampiri Ahjumma Song.
“Ahgasshi…”
“Bagaimana, Ahjumma? Junmyeon…”
Perkataan Saehee terputu ketika ia melihat sosok Junghan di belakang Ahjumma Song. Wajah Junghan kaku seperti yang sering dilihat Saehee. Namun entah mengapa kali ini terlihat tidak biasa.
Junghan membawa Saehee tepat di pintu altar. Pintu itu tertutup seakan memberi kejutan untuk Saehee, sekaligus memberi kejutan untuk orang-orang di dalamnya. Junghan masih tidak menuntun Saehee membuka pintu altar. Dia masih terdiam menatap pintu berukir itu, meskipun pembawa acara sudah mempersilahkan pengantin wanita untuk masuk. Saehee mengamati Junghan sekali lagi. Lengannya sudah menggamit lengan Junghan, layaknya seorang ayah yang akan menuntun putrinya ke altar pernikahan. Namun Junghan masih menatap pintu altar sampai akhirnya bahu pria tua itu bergerak menghadap Saehee. Pria itu memegangi bahu Saehee, seakan ingin gadis itu mendengarkan ucapannya.
“Aku tidak tahu, takdir apa yang digariskan Tuhan padaku dan padamu. Aku berusaha membawamu keluar dari Gunung Jiri dengan caraku, tapi Tuhan berkehendak lain.”
“Junghan-ahjusshi… apa terjadi sesuatu?”
“Mulai sekarang kau panggil aku Papa, Ayah, atau sebutan Appa apapun kesukaanmu. Kau adalah putri angkat Keluarga Kim.”
Saehee ingin menginterupsi, tapi Junghan langsung membuka pintu altar. Junghan menggamit lengannya saat Saehee berusaha mengenali sosok yang tengah berdiri di ujung altar. Suho tidak mungkin setinggi itu. Rambut Suho terakhir kali ia lihat bukanlah pirang. Bahu pria itu juga terlalu lebar, tidak seperti Suho. Saehee tiba-tiba merasa asing dengan calon suaminya sendiri. Ia tidak mengenali mempelai pria, sampai akhirnya mempelai pria itu berbalik dan melihatnya.
Mata Saehee melotot, membulat hampir terjun dari kepalanya. Sehun, pria itu, berdiri di posisi yang harusnya diisi oleh Suho. Saehee terlalu sibuk terkejut hingga tak sadar tangannya sudah dipindah Junghan dan berganti tangan Sehun yang menggenggamnya. Ia bahkan melewatkan sumpah setia yang diucapkan Sehun dan membuatnya harus terkejut sendiri ketika pendeta menyebut namanya.
“Han Saehee. Apa kau bersedia mengasuh dan merawatnya, dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat dan setia kepadanya seumur hidup?”
Di saat seperti ini tanpa mendengarkan perkataan pendeta dengan cermat pun ia akan langsung dengan keyakinan penuh, menjawab ‘Ya’. Namun entah mengapa pertanyaan pendeta terngiang-ngiang di kepalanya. Apakah ia benar-benar ingin bersama Sehun kapan pun? Apakah ia bersedia menemani pria itu hingga akhir hayat? Tiba-tiba saja kepala Saehee terasa berat. Ia memikirkan Suho. Bagaimana dengan pria itu? Kenapa ia tidak muncul? Kenapa Sehun yang menggantikannya? Apakah ini bagian dari rencana kedua pria itu? Lalu kenapa Junghan membiarkan begitu saja?
Ah, benar. Junghan. Ahjusshi itu memang tidak mau dipanggil Ahjusshi seperti biasanya. Namun alasannya kali ini berbeda. Kau adalah putri angkat Keluarga Kim.
Kepala Saehe makin lama makin terasa berat saja. Ia mendengar pendeta menyebutkan namanya sekali lagi. Ia juga bisa mendengar pertanyaan sumpah pendeta dengan sangat jelas. Hanya saja kekhawatiran Saehee ketika pertanyaan sumpah itu habis dan ia harus menjawab pertanyaan itu.
“Han Saehee. Apa kau bersedia, hidup dalam susah maupun sedih, sakit maupun sehat, berkecukupan maupun tidak berkecukupan, hingga akhir hayatmu?”
Pertanyaan pendeta seakan membuatnya dihadapi ujian lisan yang amat sulit. Saehee merasa semua orang memperhatikannya termasuk Sehun. Gadis itu memilih untuk menatap gaun pengantin putihnya yang sangat lebar dan indah. Gaun itu Suho yang membelikannya. Ia berharap bisa menunjukkannya pada pria itu, tapi ia justru harus membiarkan orang lain yang melihatnya. Kepala Saehee kembali terasa berat. Telinganya berdenging kencang.
“A… Aku…”
NGIIIINGGG
Telinga Saehee kembali berdenging. Ia bahkan tidak bisa mendengar suaranya sendiri. Setelah ia mengatakan sesuatu yang ia sendiri tidak yakin, seluruh pandangannya menggelap.
T.B.C
Iklan

8 thoughts on “[Author Tetap] Twist Scenario (Chapter 2)

  1. Akhirnya d update jg 😅
    Hehe
    Part ini bikin nyesek..
    Ikut bayangin jd saehee..
    Pas hari H pernikahan ternyata mempelai lelakinya berubah,
    Cinta yg d peruntukkan k suho pun seolah2 cuma cinta sepihak dmn saehee yg menjadi org yg sangat mencintai suho.
    Astaga sehun gentleman bgt sumpah udh mau ngorbanin dirinya sendiri buat nyelametin reputasi saehe dan keluarga kim :’)
    Luvluv sehun dah pokoknya ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s