PETRICHOR [5]

Featured Image -- 40463

Flashback Senior High School “My Petrichor”

Saat itu hujan turun sangat deras, kelas Hyerim dan Dyo hari ini baru saja mengadakan tour ke sebuah museum di Seoul. Bus yang membawa mereka akan mengantar mereka pulang ke rumah masing-masing. Karena hujan sangat deras dan Dyo tidak membawa payung, dia memutuskan untuk pulang bersama Hyerim. Padahal seharusnya dia sudah turun daritadi.

“Kyungsoo ah~ kau tidak mau turun?” tanya guru wali kelasnya

“Tidak saem, aku akan pulang ke rumah teman” jawab Dyo sambil melirik Hyerim yang tertidur

“Aku tahu, dia pasti ingin pulang kerumah Hyerim” celetuk salah seorang temannya

“Betul, akurasa lebih baik kalian segera menikah setelah lulus nanti” seorang lagi menambahi membuat mereka tertawa lepas bersama saat menggoda Dyo dan Hyerim

“Sudah…sudah…berhenti menggoda Kyungsoo, kau harus pulang setelah mengantarnya” pinta sang guru dan Dyo mengangguk sopan

Gurauan dua teman sekelasnya yang terkenal jahil di kelas ini, membuat seisi bus gaduh dan sebagian dari mereka bahkan menggoda Dyo sampai akhir. Tapi Dyo tidak menunjukkan ekspresi apa pun, dia hanya melihat ke arah Hyerim yang duduk di bangku paling belakang, untungnya dia tertidur dengan headset masih menempel di kedua lubang telinganya.

Satu persatu teman sekelasnya turun, tapi hujan masih sangat deras. Dan bus sudah mulai sepi, Hyerim juga masih tertidur pulas di tempatnya. Dyo yang tadinya duduk di depan perlahan menghampiri Hyerim dan duduk disampingnya. Dia mencoba lebih dekat dengan Hyerim, saat bus sedikit terguncang kepala Hyerim memutar tepat kearah pundak Dyo. Dyo sempat terkejut, karena baru pertama kalinya dia merasakannya. Jantungnya bahkan berdegup tidak wajar, dia mencoba menarik nafas dan membuat Hyerim lebih nyaman. Dia bahkan melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Hyerim untuk selimut. Bingung harus berbuat apa, Dyo mencoba melepas salah satu earphone Hyerim, saat mencoba mendengar suara earphonenya Dyo terkejut lagi karena Hyerim tidak memutar lagu apa pun. Dyo semakin termenung dan terpaku lebih lama. Dia tidak tahu harus berbuat apa selain diam.

“Nak…nak~ ! Ini sudah disekolah, kalian tidak ingin pulang?” suara sopir bus yang membangunkan mereka cukup membuat mereka kaget dan terbangun. Dyo baru sadar dia tertidur dengan posisi kepalanya bertumpu pada kepala Hyerim. Begitu juga Hyerim yang terkejut karena sudah tertidur cukup lama dipundak Dyo.

Mereka akhirnya harus turun di depan sekolah, karena bus sekolah harus kembali pada tempatnya sebelum malam. Hujan memang sudah reda dan tanah masih terasa basah saat mereka berjalan bersama. Awalnya Hyerim ingin pulang duluan dan meninggalkan Dyo begitu saja, tapi…

“Song Hye Rim…” panggil Dyo

“…” tidak berani menengok ke belakang dan berhenti di tempat tanpa sepatah kata pun

Dyo langsung bergegas menghampirinya dan meraih tangan kanan Hyerim lalu menggandengnya. Dyo bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, meski dia sadar Hyerim masih sangat marah padanya.

Lama mereka berjalan, Hyerim masih tidak bicara sepatah kata pun. Sesekali Dyo melihat wajah Hyerim yang masih terlihat mengantuk.

“Kyungsoo ah~”menghentikan langkahnya mendadak tanpa melihat wajah Dyo

“Hmmm, wae?” langsung berbalik kearah Hyerim

“Bisakah kau jujur padaku?” Hyerim mulai mengajukan pertanyaan

“Aku tidak pernah berbohong padamu” Dyo menjawab tanpa tau maksud pertanyaan Hyerim

“Kalau begitu bisa kau katakan padaku, apa kau membenciku?” Hyerim masih belum berani menatap Dyo

“Yya~ kau ini kenapa?” Dyo mulai bingung

“Aku yang seharusnya menanyakan itu padamu, kau kenapa? Kenapa kau tidak pernah jujur tentang perasaanmu? Kau membuatku semakin sakit, kau juga membuatku semakin sulit, tapi kenapa sedikit pun aku tidak bisa membencimu??” ekspresi Hyerim masih datar dan sedikit menunduk, dia juga langsung melepaskan tangan Dyo yang menggandeng tangannya.

“Benar… aku, memang sangat membencimu! Kau membuathidupku semakin sulit, hanya karena melihatmu semua rumus matematika yang sudah aku pelajari 3 malam hilang dalam sekejap. Kau membuatku menjadi gila, karena aku tidak tahu harus bagaimana saat melihatmu menangis. Kau membuatku selalu ingin melindungimu dan ada di dekatmu setiap waktu, aku selalu berusaha melenyapkannya, tapi tidak pernah bisa karena kau selalu muncul tiba-tiba dihadapanku. Sekarang, bagaimana kau akan bertanggungjawab dengan semua kesalahan yang telah kau lakukan padaku dan aku rasa, minta maaf bukan jalan terbaik! Karena maaf tidak akan merubah semuanya” Dyo bicara sangat cepat, membuat Hyerim lebih bingung

“Apa yang kau inginkan? Kau ingin aku mengatakan yang sebenarnya? Kau ingin aku berlutut dan memohon padamu? Setidaknya katakan padaku, bahwa kau memang menyukaiku…”

“…” Dyo diam dan menatap mata Hyerim lekat

“Apa sebenarnya yang kau inginkan? aku sudah sering mengatakan padamu, bahwa aku menyukaimu meski kita berteman” Hyerim tidak bisa lagi membendung air matanya

“Yya~ Song Hye Rim… kenapa kau menangis lagi?”

“Kau pikir siapa yang membuatku seperti ini?”

“yya~ hentikan, sudahlah” Dyo memegang kepala Hyerim, berusaha menghapus air mata Hyerim. Dengan perasaan sedikit ragu, Dyo memutuskan untuk menarik Hyerim dalam pelukannya. Hanya berharap dia lebih tenang, tapi Hyerim tidak membalas pelukan Dyo.

Sejak saat itu, Hyerim memang sadar Dyo juga menyukainya lebih dari siapa pun.Tapi sikap Dyo mulai berubah menjelang hari kelulusan.

To Be Continued…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s