Nightmare [Part VIII] #Lost

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Kita harus kehilangan sesuatu agar menyadari seberapa berharganya hal itu. Seperti kehilangan seseorang, kau mungkin tidak akan tahu jika dia sangat berarti dalam hidupmu ketika dia masih ada, namun, ketika dia menghilang… hanya ada rasa penyesalan.”

©2016.billhun94


Suara sepatu kets itu terdengar nyaring melewati lorong hotel. Cahaya yang temaram tidak menghalanginya untuk melihat. Pintu hotel dengan status kamar suit room telah dipesan, Sehun membuka pintu kamar hotel. Kemewahan yang unggul, semuanya sama seperti isi kamar hotel pada umumnya. Langkah pria itu membawanya ke ranjang berukuran king size yang cukup untuk dua orang. Setelahnya, Sehun mengeluarkan ponsel dari saku celana. Selama perjalanan dari Seoul ke London, Sehun sengaja tidak menghidupkan ponsel. Kini, pria itu baru saja menghidupkan ponselnya kembali. Banyak panggilan masuk, tapi ia tampak acuh.

Pintu kamar diketuk oleh seseorang, Sehun mengernyit. Siapa gerangan yang mengganggunya malam-malam seperti ini? Lantas, Sehun menaruh ponsel di atas ranjang sebelum bangkit untuk membuka pintu.

Seorang lelaki dengan wajah lelahnya menyapa Sehun dengan salam. Napas lelaki itu tidak teratur, seperti habis lari beratus meter jauhnya.

“Maaf mengganggu Anda malam-malam seperti ini. Ada berita penting yang harus saya sampaikan.”

“Apa?”

Tarikan napas panjang lelaki itu terdengar gesa-gesa, “Nona Mikyung menghilang.”

-oOo-

Senyum kemenangan terpatri jelas di bibir Sanwook atau yang lebih akrab di panggil dengan Ketua Lee. Sanwook menyadari dengan keluarnya Mikyung dari dalam kungkungannya, itu berarti sama saja dengan bunuh diri. Wanita itu seakan memiliki perangai yang mampu membuat Sanwook mati hanya dalam jentikkan jari.

Satu-satunya cara agar Mikyung tidak perlu repot-repot untuk menggagunya lagi adalah dengan melenyapkan wanita itu. Tidak benar-benar melenyapkan, hanya menyembunyikan. Sama seperti apa yang dulu pernah ia lakukan.

Dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan luka tembak di bahu Mikyung, wanita itu kehabisan banyak darah. Merasa sewaktu-waktu Sanwook dapat memanfaatkan Mikyung kapanpun ia mau, ia langsung memanggil perawat yang sedang bertugas serta menyuruh mereka untuk tutup mulut jika mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan mereka. Sanwook juga memperhatikan rekaman CCTV yang memperlihatkan sosok Mikyung dari masuk rumah sakit hingga menuju ke ruangannya, dan ia meminta petugas keamanan untuk menghapus rekaman CCTV tersebut.

Pukul dua siang tadi, Sanwook mengirim Mikyung yang masih belum sadarkan diri ke suatu negara yang tidak akan ada satupun orang yang mengetahuinya. Segala strategi sudah dibuat sedemikian rupa apiknya, sampai tidak terhembus sedikit saja oleh orang luar. Dengan mengandalkan orang kepercayaannya, Sanwook memerintah untuk menjaga Mikyung sebelum ia sendiri siap untuk bertemu wanita itu.

Dan kini, Sanwook sedang menyusun strategi guna menghadapi Sehun yang mungkin saja akan mencurigainya atas hilangnya Mikyung.

Merasa bersalah?

Jelas Sanwook tidak merasa bersalah, karena tadi, yang memulai permainan adalah bukan dirinya. Toh, Sanwook juga masih membiarkan Mikyung hidup dan bukan membiarkan wanita itu tewas akibat kekurangan darah.

-oOo-

Bokongnya sudah panas menunggu, tapi tidak ada kabar apapun yang Sehun terima. Ini sudah lebih dari setengah jam, bahkan ia harus rela mengulur rapat dengan para kolega bisnisnya di London. Dengan gusar, Sehun berdiri, kemudian mengambil langkah menuju pintu hotel kamarnya. Sehun benci menunggu. Ia memutuskan untuk bertindak seorang diri.

Tepat ketika Sehun sedang menunggu lift, sang sekretaris datang menghampirinya. Membungkuk hormat sebelum sekretaris itu membisikkan sesuatu yang membuat Sehun naik pitam.

Sehun benci merasa khawatir, dan sosok Mikyung membuat ia merasa khawatir. Bukan hanya khawatir, tapi juga geram. Pasalnya, wanita itu selalu membuat onar. Melakukan segala hal sesuka hatinya.

“Setelah rapat ini, aku akan kembali ke Korea. Kau bisa menghandle beberapa pertemuan penting. Jika ada sesuatu yang mendesak, hubungi aku.” Ucap Sehun pada sang sekretaris sebelum pria itu masuk ke dalam lift.

Rapat yang memakan waktu hampir dua jam itu kini sudah selesai, dan Sehun langsung menuju bandara guna kembali ke Korea. Masih dengan pakaian kantornya, Sehun menarik perhatian beberapa pengunjung bandara. Kebanyakan dari mereka mengagumi betapa tampannya Sehun, memuji kulit putih bersihnya, tubuh yang proposial, dan banyak lagi. Di mana pun pria itu berada, tampaknya tidak luput dari perhatian orang banyak.

Langkah besar Sehun membawanya ke terminal bandara ketika pemberitahuan akan pesawat yang ia tumpangi berkumandang. Kalau saja Mikyung tidak membuat masalah seperti ini, Sehun tidak perlu repot-repot seperti sekarang. Wanita itu sudah menghilang dua hari, namun, tidak ada tanda-tanda kepulangannya. Dan, Sehun sulit untuk menutupi rasa khawatir yang menyambanginya setiap malam.

“Di mana kau, Shin Mikyung?”

-oOo-

“Kalian tahu? Tadi aku melihat seorang perempuan yang mirip sekali dengan Shin Mikyung di lobi.”

Sontak semua perawat yang kala itu sedang berada di kantin rumah sakit menoleh ke arah seorang perawat pria yang membuka mulutnya tadi.

Ke-4 perawat itu duduk disatu meja yang sama, salah satu dari mereka yang merupakan perawat wanita menimpali, “Benarkah? Aku tidak percaya. Mungkin kau salah lihat.”

“Walaupun wajahnya tertutupi masker, tapi aku sangat yakin jika perempuan itu adalah Shin Mikyung,” balas perawat pria tadi yang semula membuka pembicaraan.

“Hei! Perawat Choi, Shin Mikyung tidak mungkin berada di sini, bukankah dia sudah keluar? Pasti sekarang dia sedang menikmati hari-hari bebasnya.” Ujar seorang perawat wanita lain.

“Apa yang dikatakan perawat Nam ada betulnya juga. Kalian lihat tidak kemarin malam, suami Shin Mikyung alias Oh Sehun menjadi perbincangan publik karena keserasian mereka. Mana mungkin Shin Mikyung berada di sini lagi. Dia tidak akan pernah mau dikurung di dalam neraka seperti dulu,” timpal seorang perawat pria yang lain.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Seorang lelaki datang dengan nampan penuh makanan di tangannya yang menghampiri ke empat perawat tadi. Terkejut dengan kedatangannya, perawat-perawat itu memilih untuk tutup mulut.

“Kami hanya membicarakan seorang pasien dari lantai 10, Psikiater Kim.”

Namun, tampaknya, psikiater yang bernama lengkap Kim Jongin itu tidak percaya. Ia mengambil bangku kosong, lalu duduk diantara para perawat yang ketakutan karena mereka sudah membicarakan ‘Shin Mikyung’ yang jelas jika mereka membicarakan wanita itu di sini, sama saja mereka sedang mencari ajal. Memang tidak ada larangan untuk membicarakan sosok Shin Mikyung, entah mengapa, jika nama wanita itu disebut, semua orang akan menghindar untuk tidak membicarakannya di rumah sakit jiwa ini.

“Katakan saja, aku tidak akan memberitahukannya pada siapapun. Aku janji,” Jongin membuat janji penuh kepercayaan di ekspresi wajahnya yang rupawan.

“Perawat Choi melihat Shin Mikyung di lobi tadi,” perawat Nam yang terpesona dengan aura Jongin—yang memang menjadi primadona di rumah sakit—langsung menimpali tanpa permisi terlebih dahulu. Dan, membuat perawat yang lainnnya kesal.

“Shin Mikyung?” Tanya Jongin memastikan.

BRAK

Sebelum sempat menjawab pertanyaan dari Jongin, perawat Choi beserta semua pengunjung kantin saat itu langsung menoleh ke sumber suara yang sangat nyaring. Suara tersebut berasal dari gebrakan meja oleh seorang kawanan pria dengan setelan jas hitam mereka.

“CARI KE SEMUA SUDUT!”

Perintah itu datang dari seorang pria yang tampak seperti komando dari para kawanan lainnya.

“Ada apa ini?”

“Apa terjadi sesuatu?”

Suara bangku yang bergeser datang dari Jongin. Lelaki itu bangkit guna menghampiri Pria dengan setelan jas hitam yang memberi komando. Meminta penjelasan, Jongin bertanya datar, “Sedang apa kalian di sini? Apa kalian tidak tahu jika kalian sudah membuat orang-orang di sini ketakutan?”

“Kami hanya mengikuti instruksi dari atasan kami.”

Alis Jongin terangkat, “Memangnya siapa atasan kalian?”

“Oh Sehun Sajangnim.”

“Oh Sehun?”

-oOo-

“Kau sudah bertindak terlalu jauh, Sanwook-a.”

Tawa kecil terdengar, “Jika bukan karena aku, mungkin kau tidak akan bisa bertahan lebih lama, Jinyoung-a.”

Jinyoung mengetuk berirama jemari tangannya di meja. Ia menatap sang sahabat dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Memang, jika bukan karena tindakan Sanwook, ia mungkin sudah bergeser posisi. Namun, rasanya sedikit ganjil.

“Kemana Jinyoung si ambisius yang dulu ku kenal?”

Jinyoung menimpali dengan senyum miringnya, “Aku hanya takut….” ujarnya.

“Takut karena apa? Ini yang kau inginkan, bukan?”

“… kebohongan ini akan terbongkar. Apalagi Mikyung sudah tahu jika yang membunuh orang tuanya adalah kau. Pasti kau juga masih ingat kalau yang membantumu untuk menghabisi nyawa orang tua wanita itu adalah….” Jinyoung mengantung kalimatnya, sebelum melanjutkan. “… aku.”

-oOo-

Sehun sampai di bandara Incheon Internasional Airport pada pukul 9 malam. Sebelum memasuki pesawat yang membawanya kembali ke Korea, ia sempat menghubungi bawahannya untuk menggeledah Rumah Sakit Jiwa Hangsa guna mencari Mikyung di sana. Firasatanya seakan terus mengatakan jika wanita itu berada di rumah sakit jiwa tersebut Namun, yang ia dapat dari para bawahannya, mereka bilang jika mereka tidak menemukan Mikyung di sana.

“Aku ingin bertemu dengan Ketua Lee,” ujar Sehun pada seorang resepsionis.

Resepsionis itu sempat tercengang dengan kehadiran Sehun. Siapa yang tidak mengenal pria itu? Sosok pengusaha muda yang tampan. Banyak yang bilang jika Sehun lebih cocok untuk menjadi seorang idol daripada seorang pengusaha yang sekarang sedang ia lakoni. Tapi, sepertinya omongan orang-orang itu ada benarnya juga.

“Ketua Lee sedang tidak bisa dikunjungi saat ini,” balas sang resepsionis setelah menghubungi asisten Ketua Lee.

“Sayangnya, aku tidak peduli bajingan itu bisa ditemui atau tidak!” Suara Sehun naik satu tingkat, ia kesal serta lelah mengikuti permainan konyol tak ada gunananya ini.

Setelah menerobos pintu besar berwarna cokelat itu, Sehun berhasil memasuki ruangan Sanwook dengan penuh paksaan. Dan di kursi kebesarannya, duduklah Sanwook yang sedang menghadap jendela besar di belakangnya.

“Kau ingin mencari Shin Mikyung? Dia tidak ada di sini,” ujar Sanwook sembari memutar kursinya.

“Di mana dia sekarang?” Tanya Sehun, tangannya sudah mengepal.

“Sudah kukatakan. Aku tidak tahu keberadaannya, Oh Sehun.” Jawab Sanwook dengan nada mengejek, “Dan oh ya, tolong beritahu para bawahanmu untuk tidak menerobos masuk seperti tadi kalau mereka tak mau aku melaporkannya pada polisi,” tambah Sanwook.

Sepertinya Sehun sudah sangat hapal dengan setiap gerak-gerik gusar yang terlihat pada diri seorang Lee Sanwook. Jelas terlihat di matanya jika lelaki setengah paruh baya itu sedang menutupi sesuatu walau rautnya tidak menunjukkan demikian.

“Tunggu saatnya, aku pasti akan menemukan Mikyung!”

Sehun berjalan keluar, ia tidak sanggup untuk menguasi amarah yang membakar dirinya. Melihat wajah Sanwook membuatnya ingin melayangkan tinju ke wajah lelaki itu yang tampak empuk untuk menjadi sasaran.

Di dalam ruangan, Sanwook tertawa keras. Tawa itu mulai mereda, lalu ia berucap menantang, “Cobalah cari di mana istrimu itu berada, Oh Sehun. Karena kau tidak akan pernah menemui istrimu lagi.”

-oOo-

Dentuman musik membuat para penghuni klub malam yang bertinggal menggila dibuatnya. Seorang pemuda tampak sedang menikmati segelas sampanye di depannya sendirian. Wanita bergaun biru tua menghampiri pemuda itu. Tangan si wanita yang nakal mulai menggerayangi punggung pemuda tersebut. Tepisan kasar diberikan si pemuda pada wanita tadi yang kini sedang meringis memegangi pergelangan tangannya yang memerah.

“Jangan mencoba untuk menyentuhku!” Bentak pemuda itu kesal.

“Aku hanya berusaha untuk menenangkanmu, Taeyong-a.” Belas si wanita bernama lengkap Cho Seora.

Taeyong menyeringai, tatapan tajamnya seakan menyilet tubuh Seora detik itu juga.

“Aku tidak sudi untuk berbagi tubuh dengan Oh Sehun. Tubuhmu sudah ternodai olehnya, bukan? Jadi, tolong jangan pernah mendekatiku atau bahkan menyentuhku lagi,” desis Taeyong.

Mata Seora mengembun di balik kontak mata yang ia gunakan. Taeyong yang ia kenal dulu bukanlah Taeyong yang memperlakukannya dengan kasar seperti ini.

“Saat itu aku butuh uang, dan aku tidak punya pilihan lain selain tidur bersamanya.” Seora mulai terisak.

Taeyong sama sekali tidak menaruh sedikit pun rasa iba, “Bahkan aku merasa jijik mendengar suaramu,” ujarnya dalam keadaan setengah mabuk.

“Kau jahat sekali,” isakan Seora semakin terdengar jelas.

“Lebih jahat mana denganmu? Kau meninggalkanku dan memutuskan hubungan kita hanya untuk pria berengsek macam Oh Sehun! Jalang sepertimu memang patut untuk dibuang, Cho-Seo-Ra.”

PLAK

Satu tamparan mendarat enteng di pipi mulus Taeyong. Dilihatnya Seora yang mencoba untuk mengatur napas, menatap Taeyong penuh hina.

“KAU PIKIR AKU MAU MELAKUKAN PEKERJAAN SEPERTI INI?! MELADENI PRIA HIDUNG BELANG DAN TIDUR BERSAMA MEREKA. AKU BAHKAN MUAK DENGAN HIDUPKU SENDIRI!”

Seora merasa harga dirinya terinjak. Apakah sehina itu ia di mata orang-orang? Seora juga tidak mau menjual tubuhnya hanya demi uang yang ia gunakan untuk pengobatan kanker otak sang Ibu. Semuanya ia lakukan dengan alasan, bukan tanpa alasan. Seora juga tahu ini adalah pekerjaan kotor, tapi hanya dengan pekerjaan inilah yang mampu menghasilkan uang banyak tanpa harus bersusah diri.

Taeyong tersentak mendengar cercaan Seora terhadap dirinya. Wanita itu menangis tersedu-sedu setelahnya, membuat Taeyong mau tidak mau menaruh pusat perhatiannya pada Seora. Apalagi sekarang mereka sedang menjadi pusat perbincangan orang-orang. Taeyong lantas bangkit dari kursinya, lalu menghampiri Seora. Niatnya ingin menarik tangan wanita itu untuk diajak berbicara di tempat yang lebih sepi, tapi mendadak terhenti ketika Taeyong melihat sosok pria yang sudah sangat dihapalnya. Pria itu tanpa sengaja menyenggol bahu Taeyong, setelah menyenggol, pria tersebut melengos begitu saja.

“Oh Sehun?!”

Seruan kencang Taeyong membuat sang empunya menoleh kearahnya, dengan tatapan tidak peduli Sehun melirik. Oh Sehun memang tidak akan berubah sampai kapanpun. Oh Sehun ya Oh Sehun. Si pria angkuh dan dingin. Taeyong tersenyum miring, mengambil langkah guna lebih dekat pada Sehun yang saat itu sepertinya sudah mabuk akibat alkohol.

“Sama sekali tidak berniat untuk meminta maaf setelah menyenggolku?” Tanya Taeyong sarkastis.

Sehun rasa pembicaraan ini tidak penting, jadi ia membalikkan badan dan melangkah menjauh. Sebuah tangan menahan lengannya, membuat Sehun menoleh ke belakang. Dan satu kepalan tangan berhasil mendarat di rahang Sehun. Ia terhuyung ke belakang. Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Sehun pun melihat Taeyong sedang menatapnya dengan tajam.

Jujur, Taeyong masih menyimpan rasa benci yang teramat dalam pada Sehun. Bukan hanya yang terjadi belakangan ini, namun, berbelas-belas tahun silam. Ingatan tentang Sehun yang menghina Ibunya dengan kata-kata kasar, dan mengatai jika ia, kakaknya, beserta sang Ibu berasal dari keluarga rendahan serta tidak pantas untuk hidup bersama Ayahnya Sehun. Pria itu hidup dengan semaunya sendiri, tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang lain yang jelas merasa tersakiti.

Taeyong mendekat, seraya bertanya. “Kenapa tidak kau membalasnya?”

“Aku sedang tidak ingin meladenimu,” jawab Sehun lalu kembali berbalik.

“Tumben sekali. Kau terlihat sangat lemah hari ini,” ejek Taeyong. Sehun menghentikan langkah.

Satu hal lagi yang Sehun benci. Yaitu adalah ia benci terlihat lemah.

“Aku dengar istrimu menghilang. Jika seperti itu, berarti kau tidak bisa untuk mengambil perusahaan keluargamu dari tangan pamanmu. Sayang sekali,” Taeyong tidak lelah membuat Sehun naik pitam.

Sehun berbalik, menghadap Taeyong dengan rahang yang mengeras dan tatapan tajam menusuk lurus ke arah pemuda itu.

“Sudah aku bilang sebelumnya jika aku tidak ingin meladenimu, tapi jika kau tidak berpikir demikan, aku berubah pikiran.”

Kejadiannya sangat cepat, ketika Sehun menendang perut Taeyong tanpa aba-aba yang menyebabkan pemuda itu tersungkur.

“TAEYONG!” Jerit Seora, membantu Taeyong untuk bangkit.

Baru saja Taeyong berniat untuk memukul wajah Sehun dengan kepalan tangannya, Sehun sudah menahan kepalan tangan itu, mencengkeram tangan Taeyong sekuat tenaga. Sehun tidak bisa mengendalikan emosinya jika sudah mabuk seperti ini. Kepalan tangan Taeyong masih berada di tangan Sehun, dan ia tidak punya niatan untuk melepaskan.

Taeyong berniat untuk melawan dengan tangannya yang lain, namun hasilnya sama. Mencoba peruntungan menggunakan kedua kakinya, dan malah ia yang tersungkur ke lantai karena Sehun lagi-lagi berhasil menghalau serangannya.

“YA! OH SEHUN LEPASKAN! TULANGKU BISA PATAH KARENAMU!!! KEPARAT!” Maki Taeyong.

Sehun mengindahkan, waktunya begitu berharga hanya untuk meladeni omong kosong seorang Kim Taeyong. Sehun pun melepas cengkeramannya, dan saat itu seruan yang memanggil nama Taeyong memasuki indera pendengarannya.

“KIM TAEYONG?!”

Sehun menyeringai ketika tahu siapa yang datang. Kim Jongin. Mereka berdua sama saja, tidak ada bedanya di mata Sehun; sama-sama rendahan.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Jongin panik.

“Tentu saja aku tidak baik-baik saja! Sepertinya tulangku patah, semua ini karena pria berengsek itu, hyung!” Taeyong menunjuk Sehun yang membuang muka.

Jongin mengikuti arah telunjuk Taeyong yang mengarah pada seorang pria. Tadinya Jongin tidak menyadari kehadiran Sehun, tapi kini ia menyadarinya. Sudah terduga sebelumnya jika yang membuat adiknya seperti ini adalah Sehun. Karena setahu Jongin, adiknya dan Sehun adalah musuh besar sejak dulu. Berbeda dengannya yang tampak acuh dengan Sehun.

“Ayo kita ke rumah sakit,” titah Jongin membangunkan Taeyong.

“Sehun-ah!” seru seorang wanita. Sehun menoleh dan menemukan Soojung tengah berlari menerobos kerumunan di antara orang-orang yang melihat perkelahiannya dengan Taeyong tadi.

Seketika itu juga, Jongin menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah soojung yang terlihat begitu khawatir pada Sehun. Ia tersenyum kecut, seharusnya ia tahu berharap pada seseorang yang tidak pasti itu tidak mengenakan. Fakta bahwa Jongin masih mencintai Soojung seperti pisau yang menyayat hatinya.

-oOo-

3 Years Later

-oOo-

Kehidupan kota Seoul seakan tidak ada matinya, dari pagi hingga ketemu pagi lagi. Awal Desember mulai memasuki musim dingin, dan orang-orang lebih suka bermalas-malasan di rumah daripada harus mengerjakan pekerjaan mereka. Namun, berbeda dengan sesosok pria tampan yang akrab dipanggil ‘Sehun’ itu. Ia lebih memilih untuk menikmati musim dinginnya dengan mengerjakan proyek iklan besar-besaran untuk natal tahun ini.

Sehun menaruh pensil yang ia gunakan untuk menggambar, lalu menghembuskan napasnya panjang. Punggungnya terasa sakit karena terus menerus menggambar sepanjang hari.

“Aku datang~”

Teriakan itu sudah Sehun hapal di luar kepala. Soojung datang dengan secangkir hot chocolate di tangannya sembari tersenyum, lalu memberikannya pada Sehun.

“Hari ini cuacanya lebih baik dari kemarin,” Soojung membuka suara, sembari duduk di sofa ruangan Sehun.

Sehun menyesap pelan hot chocolate itu, lalu mengalihkan perhatiannya pada gambar yang baru setengah jadi. Ia pun kembali melanjutkan kegiatan menggambarnya.

Soojung memperhatikan Sehun dari tempatnya. Pria itu sangat tampan. Tidak ada kata-kata yang akan cukup untuk memujinya. Jika di dunia ini tidak ada yang bisa di bilang ‘sempurna’, maka itu adalah pengecualian untuk seorang Oh Sehun.

“Apa… dia belum ketemu juga?”

Soojung sebenarnya ragu untuk mengungkit topik yang sudah sangat lama tidak ia ungkit selama ini. Mungkin sudah dua tahun lebih. Sepanjang tahun-tahun yang berlalu, Sehun selalu saja menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja. Kalau membutuhkan hiburan, Sehun memilih untuk pergi ke klub malam, sama seperti yang ia lakukan tahun-tahun dahulu.

Sehun menghentikan gambarannya, ia menggantungkan pensil yang berada di tangannya di udara.

“Kau baru sadar jika wanita itu sangat berharga untukmu, ‘kan?” Tanya Soojung dengan hati-hati.

Sehun bergeming, ia menaruh pensil di tangannya ke atas meja dengan kasar. Topik ini adalah topik pembicaraan yang paling sensitif untuknya. Dan Soojung, malah mengungkitnya kembali.

“Aku tidak in—”

Soojung menyela perkataan Sehun cepat.

“Kita harus kehilangan sesuatu agar menyadari seberapa berharganya hal itu. Seperti kehilangan seseorang, kau mungkin tidak akan tahu jika dia sangat berarti dalam hidupmu ketika dia masih ada, namun, ketika dia menghilang… hanya ada rasa penyesalan.” ujar Soojung.

Sehun terdiam di tempatnya tanpa membuat pergerakan cukup lama. ‘Berharga?’ Apakah benar wanita itu berharga untuknya? Sepertinya tidak… atau mungkin iya?

Drrt… drrt….

Suara ponsel Sehun menyadari lamunannya, ia meraih ponsel di atas meja lalu mengangkatnya. Nama sang asisten tertera di depan layar ponsel.

“Ada apa?” Sehun membuka.

Butuh seperkian detik bagi Sehun untuk mencerna perkataan sang asisten di seberang sana. Seperti mimpi yang menyambarnya ketika ia sadar, Sehun tidak percaya akan hal yang baru saja didengarnya.

“Kau serius?” Sehun memastikan.

Tidak ada keraguan sedikitpun dari nada bicara sang asisten. Sehun menutup panggilan itu secara sepihak, ia beranjak dari duduk guna mengambil kunci mobil dan mantel miliknya. Soojung terheran dengan kelakuan Sehun.

“Kau ingin kemana?” Tanya Soojung setelah Sehun selesai mengenakan mantelnya.

“Dia sudah ditemukan, Soojung-a.”

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

P.s :

Pasti banyak yang bertanya-tanya, kemana si Mikyung??? Hahaha, dia sengaja gk muncul di part ini. Di next part baru ada, hehehe.

Jangan kaget kalo isinya kebosenin karena part kali ini memang khusus untuk pengenalan Cast yang lain, ya, walaupun masih berpusat sama Sehun.


Waktu itu ada yang komen katanya alur ff ini kecepatan. Emang alurnya sengaja aku cepetin. Bukan berarti ini pengen end atau apa ya. Kenapa aku cepetin? Karena kalau ceritanya terus muluk-muluk disitu aja kayaknya gimana gitu, ini juga dari pengalaman, ffnya gak bakal maju-maju. Jadinya, memang sedikit aku cepetin.

Mau fast update??? Ayo komen sebanyak-banyaknya!!!😄😄😄

18 thoughts on “Nightmare [Part VIII] #Lost

  1. Aku masih gak ngerti sama masa lalunya,,, kenapa bisa ambisius banget para tetuanya maksudnya selain karena harta gitu
    masih bingung,,, tapi suka alur chap ini
    d tunggu update selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s