Anonymous

Anonymous

by Ranfzhr

AU-Fantasy-Tragedy | One-short-shoot | PG-13 | EXO-OT9

.

  • Written from Monster MV
  • Also published in ferhanifatimah.wordpress.com

***

.

.

3016.

.

Ini bukan masa yang aman untuk kami.

Bumi sudah tidak cocok untuk kami tinggali.

Manusia bersama seluruh isi bumi berubah, dan kami hampir tidak bisa sama sekali untuk hidup berdampingan dengan mereka lagi.

.

.

Lalu.. dimana kami harus tinggal?

.

.

.

.

“Hyung..”

Piercing berantai yang menggantung di telinganya sedikit bergemerincing saat Baekhyun-Hyung menoleh, berhenti sejenak dari kesibukannya mengemasi barang di rumah ini yang tak seberapa jumlahnya. Iris hitam kebiruan-nya menatapku tajam—tatapan khasnya di tiap situasi genting.

Tanpa menunggunya menjawab, aku lekas bertanya,

“Kemana kita akan pergi?”

Mendengar pertanyaanku, ia justru kembali pada kegiatannya dan hanya mengeluarkan satu kata,

“Pindah.”

Aku menghela nafas. Bukan itu jawaban yang kuinginkan. Aku tahu kami akan pindah (lagi), tapi kemana? Bahkan bila kami mencari hingga ke bagian terpelosok di bumi ini, tak akan ada ruang lagi yang bisa ditinggali. Semuanya penuh—dengan gedung-gedung bersama seluruh penghuninya yang tak terhingga jumlahnya. Dan kami tidak bisa—tidak mungkin—berada di tengah-tengah mereka. Kami.. tidak lagi diterima. Lagipula aku tidak lagi tertarik membayangkan dunia luar yang semakin kelabu.

Jongin, ia pasti ada di kamar sekarang, bersama dengan Kyungsoo-Hyung. Di saat seperti ini, mereka perlu banyak waktu berdua tanpa gangguan, mengumpulkan banyak informasi juga tenaga untuk kepindahan kami. Pintu kamar mereka sedikit terbuka, dan benar saja, dengan posisi duduk berhadapan, mereka diam memejamkan mata—yang kuyakin sudah berjalan sejak sekian jam yang lalu.

Yixing-Hyung muncul dari pintu kamarnya, membawa satu tas hitam berbahan kulit, berjalan menuju tempat Baekhyun-Hyung berada dan meletakkan tas itu bersama barang lainnya. Mereka terlibat permbicaraan serius setelahnya.

Di empat buah sofa yang disusun melingkar di tengah ruangan, Jongdae, Junmyeon, dan Minseok-Hyung tengah berdiskusi, ditambah Chanyeol-Hyung yang setia mendengar dengan posisi berbaring santai dan mata terpejam. Rambut merah menyalanya yang bergesekan dengan permukaan sofa sedikit menimbulkan percikan api kala Chanyeol-Hyung menggoyang-goyangkan kepalanya seolah tengah menikmati musik, namun tak ada yang peduli di antara mereka.

Entah mengapa aku tidak berminat bergabung dengan kegiatan siapapun di rumah ini sekarang. Semua hal yang mereka lakukan membuatku tidak nyaman—membuatku semakin sadar bahwa lagi-lagi kami dihadapkan pada situasi genting yang entah keberapa kalinya.

Sambil menatap ke luar jendela yang menampakkan pemandangan dari ketinggian ratusan kaki, aku berusaha mencari ketenangan. Mencoba melupakan rasa gelisah yang menyelimutiku sejak Junmyeon-Hyung mengumumkan bahwa tempat ini sudah tak lagi aman bagi kami untuk tinggal.

Tapi menatap apa yang disuguhkan jendela ini kepadaku ternyata sama sekali tak berhasil menenangkanku. Sejauh yang kulihat, hanya ada gedung-gedung tinggi, kota yang padat, dan langit yang kelabu. Dan naasnya, semua itu mengingatkanku pada segala kenangan buruk yang aku benci. Kilasan-kilasan peristiwa saat saudara-saudaraku mati satu per satu memenuhi pikiranku. Kepala dan hatiku memanas bila mengingatnya—begitupun mataku, dimana air mata mendesak keluar tiap kali memori itu melintas.

Ratusan ribu tahun yang lalu, kami hidup berdampingan dengan manusia, hidup begitu damai tanpa ada setitikpun intimidasi terhadap kami yang sedikit berbeda. Saat itu adalah masa yang jauh berbeda dengan sekarang ini. Ketika itu, manusia masih memiliki hati yang peduli, hati yang penuh cinta. Kami bekerja dan hidup bersama-sama mereka di alam bumi yang indah. Mengingatnya, ingin sekali aku memutar kembali masa itu.

Aku menatap pergelangan tanganku. Disana, beberapa urat nadi menonjol memusat membentuk pusaran angin. Ini hanya salah satu tanda fisik yang membedakan kami. Namun selain itu dan beberapa keistimewaan lain, kami sama seperti manusia. Kami benar-benar sama.

Namun aku tidak mengerti mengapa seiring berjalannya waktu, toleransi untuk kami semakin tipis dan akhirnya hilang. Entah sejak kapan generasi apatis manusia mulai berkembang dan akhirnya memenuhi populasi. Generasi yang sibuk hingga tanpa sadar saling memunggungi satu sama lain. Tidak ada lagi cinta. Yang ada hanya obsesi kuat untuk mengembangkan dunia mereka masing-masing. Mereka hidup, namun tak membuat kehidupan. Sebagai bagian dari generasi yang telah lama menghuni bumi, kami tak habis pikir bagaimana makhluk berumur pendek seperti manusia masih bisa menyombongkan diri dan mengklaim bahwa dunia adalah milik mereka.

Aku sampai tak percaya, bahwa jauh sebelum ini pernah ada masa yang indah.

“Mau kemana. Baek?” Suara Junmyeon-Hyung membuatku turut menoleh. Kulihat Baekhyun-Hyung yang telah mengenakan penyamarannya berdiri di dekat pintu.

“Aku akan pergi membeli beberapa perbekalan untuk kita.” jawab Baekhyun-Hyung datar.

“Memangnya perbekalan kita sekarang sudah tidak cukup? Kalau masih ada lebih baik tidak perlu pergi. Di luar tidak aman. Iya, kan, ..Sehun?” Chanyeol-Hyung menyahut, tanpa sedikitpun beranjak dari posisinya. Aku hanya diam menatap lantai.

“Aku bisa jaga diri.”

“Baekhyun-Hyung..” panggilku. Ia berhenti lagi sesaat sebelum meraih gagang pintu.

“Sudah kubilang aku bisa jaga diri. Kutanya pada kalian, berapa kali kalian pernah melihatku pulang dengan luka di tubuhku?” Ia membalas ketus.

Tidak pernah.

“Situasi sekarang berbeda, Byun Baekhyun.” Yixing-Hyung bersuara.

Mendengus, Baekhyun-Hyung kembali menyahut, “Aku bukan Junmyeon-Hyung, yang sekalinya pergi keluar malah menempatkan diri dalam bahaya dan nyaris mati jika saja Jongin dan Kyungsoo tak segera menyelamatkannya—“

“Baekhyun jaga bicaramu.”

Mata dengan segaris goresan luka milik Minseok-Hyung menatap Baekhyun-Hyung tajam, memberikan peringatan atas ketidaksopanannya.

Junmyeon-Hyung nampak menahan amarah, sementara Baekhyun-Hyung melengos tidak peduli. Air dalam gelas kaca yang ada di hadapan Junmyeon-Hyung sedikit bergetar dan berbuih. Ia mengepalkan tangan, terlihat jelas tanda berbentuk setetes air di punggung tangan kirinya mulai bergerak-gerak.

“Hyung.. Jangan pergi, di luar sana berbahaya..” Aku ikut meminta. Pikiranku mulai melayang tak terkendali, membayangkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi pada Baekhyun-Hyung di luar sana. Jantungku mendadak berdegup kencang saat satu dari sekian ingatan yang aku benci kembali melintas, ingatan saat Luhan-Hyung memaksa untuk pergi ke luar di akhir pekan yang tenang—tersenyum mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja, namun nyatanya ia tak kembali. Luhan-Hyung mati terbunuh. Dua tahun yang terlewat bahkan tidak cukup bagiku untuk melupakan duka akibat kematiannya. Rasanya hatiku dipenuhi dendam, frustasi dan kebingungan, serta bertanya-tanya, mengapa mereka sekeji itu?

Itu adalah kali kedua setelah apa yang menimpa Kris-Hyung. Disusul Tao, seseorang yang sudah kuanggap seperti soulmate. Mereka semua pergi. Mereka semua terbunuh. Padahal mereka tak berbuat apapun yang salah. Tapi lagi-lagi dengan alasan bahwa kami berbeda, orang-orang itu.. terus menganggap kami membahayakan dan tidak berhak untuk tinggal disini. Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti mengapa mereka seperti itu.

“Kau hanya sedang paranoid, Oh Sehun.”

“Tidak! Jika kubilang jangan, maka jangan pergi! Kau tidak mengerti rasanya menjadi diriku yang selalu dihantui firasat akan segala yang akan terjadi! Dan sayangnya firasat-firasat itu benar adanya.. Aku hidup dalam kekhawatiran karna hatiku tak pernah berhenti memberi sinyal bahwa kita dalam bahaya. Dibanding kalian semua, aku yang paling merasakan ancaman itu..”

Tanpa sadar aku berteriak, menumpahkan apa yang menyesakkan, mengganjal perasaanku. Mataku terasa semakin panas, dan sesak di dadaku semakin menjadi. Demi Tuhan.. aku hanya khawatir. Aku menyayangi saudaraku dan aku tidak ingin mereka terluka.

“Sehun..”

Jongdae-Hyung mendekatiku, menghela nafas sembari menepuk bahuku. Aku memandang sekitar, dimana beberapa benda jatuh dari tempatnya dan tirai-tirai menyibak terbuka. Selanjutnya aku hanya bisa tertunduk dengan terengah, menstabilkan emosiku atau rumah ini bisa menjadi lebih berantakan lagi.

“Duduk, Baek.” pinta Chanyeol-Hyung, dan akhirnya Baekhyun-Hyung beranjak menjauhi pintu.

Begitu jatuh terduduk, aku mulai terisak. Hatiku lebih dari sekedar gundah—perasaan takutku semakin besar, bersama bayang-bayang kematian yang seolah tak berhenti mengintai.

Selama beberapa waktu aku hanya membenamkan wajahku di antara lengan yang memeluk lutut. Mencari sedikit saja kedamaian namun nyatanya nihil.

Hingga sesuatu seperti mendobrak pintu pikiranku dan memberi sinyal akan sesuatu yang buruk. Aku tersentak.

Tidak.

Aku mendengarnya. Aku mendengar langkah kaki mereka!

Aku segera mendongak, panik. “Ju—junmyeon-Hyung!”

Oh tidak, mengapa harus di saat seperti ini?! Derap langkah itu semakin jelas tiap detiknya. Dan kupikir.. mereka datang sekompi penuh.

Semua tahu ketika aku mendadak panik, maka pastilah sesuatu tengah—dan akan terjadi.

“Ada apa Sehun??”

Aku bergegas berdiri, berlari kesetanan menuju kamar Jongin. Disana ia masih diam di tempat. Yang artinya, urusannya belum selesai dan kami tak dapat melarikan diri.

Kurasakan kakiku kebas, tak dapat lagi merasakan lantai.

“Oh Sehun! Apa yang terjadi?!”

Lagi-lagi, suara derap langkah seragam yang memenuhi kepalaku membuatku nyaris menumpahkan air mata.

“Mereka dalam perjalanan kesini Hyung.. hiks—aku mendengarnya.. Mereka akan datang sebentar lagi..”

Tidak ada lagi yang mampu kulakukan selain bersandar pasrah pada dinding. Aku tidak tahu—aku berusaha melawan prasangka yang mendadak muncul. Tapi sesuatu memberitahuku…

..bahwa segalanya akan berakhir sampai disini.

Minseok-Hyung bergerak cepat menghampiri Jongin dan Kyungsoo-Hyung di dalam kamar, menarik mereka kembali dari perjalanan astral yang tadinya dilakukan untuk mempersiapkan tempat tinggal yang baru bagi kami.

Tapi.. persetan dengan tempat tinggal. Satu-satunya tempat tinggal kami setelah ini bukanlah dunia lagi. Kami akan segera berakhir.

Terakhir, ketika suara derap mengerikan itu tak lagi hanya didengar olehku, semua sudah bersiap menghadap pintu—sebelum tembakan pertama diluncurkan hingga pintu itu hancur menjadi debu.

.

.

.

Tak ada lagi yang sempat berkomunikasi sejak tembakan pertama dilepas, bahkan sampai kami semua nyaris kehilangan nafas dan kesempatan untuk hidup.

Mengapa firasatku selalu terjadi? Mengapa firasatku yang selalu buruk ini tak pernah salah?

Darah sudah seperti hiasan di wajah kami. Ruangan yang tadinya hanya putih bersih, kini diwarnai dengan yang lain. Cahaya lampu yang tadinya menerangi hingga seluruh penjuru rumah, sekarang hanya menyisakan kedipan tak berarti.

Tubuh Baekhyun-Hyung berlutut tak berdaya, seluruhnya bercahaya redup dan sesekali berkedip. Tak berbeda dengan bohlam lampu di atas sana.

Jongdae-Hyung dengan posisi sama memegangi tangannya sambil menahan sakit. Kudengar suara serupa setruman listrik saat terjadi korsleting dari tangannya.

Jongin, dia terduduk di sudut ruangan.. dengan noda darah terbanyak di sekujur tubuh.

Itu yang terakhir kulihat. Aku tak sanggup lagi. Aku tak ingin menyaksikan mimpi burukku yang menjadi nyata.

Setetes darah terjatuh dari ujung bibirku yang sobek. Namun aku sudah tak peduli. Luka di seluruh tubuhku tak lagi sakit—tidak lebih sakit dari apa yang kurasakan di dalam hati.

Langkah-langkah gontai yang diseret paksa kudengar mendekat. Saat aku mendongak, aku melihat kedelapan saudaraku berjalan mendekatiku. Aku tak tahu untuk apa, kini mereka mengelilingiku dalam bentuk lingkaran.

“Oh Sehun, jangan takut. Kita akan baik-baik saja.”

Suara Junmyeon-Hyung lah yang pertama tertangkap indera-ku. Disertai senyum malaikatnya di tengah sekian luka yang menodai wajah rupawannya.

Sesuatu terasa mulai menyelimuti hatiku.. terasa hangat dan penuh perlindungan.

..Apa ini?

Kesemua dari mereka tersenyum ke arahku.

“H—Hyung?” Atas apa yang tiba-tiba menyelimuti hatiku yang penuh kegundahan, ketakutan juga kesedihan, air mataku mengalir begitu saja.

“Jangan menangis, karena sekali lagi, kita akan baik-baik saja.” Aku menoleh pada Kyungsoo-Hyung.

“Kita..” Untuk pertama kalinya, aku melihat sorot yang begitu lembut dari mata Baekhyun-Hyung. “..akan bersatu..” Oh tidak, aku tahu. Aku tahu apa ini! “..di dalam dirimu.”

Tak sempat aku berkedip, delapan cahaya menyilaukan berpendar terang, membuatku terpaksa menutup mata.

Tidak…

Aku menjerit dalam hati. Mengapa.. mengapa mereka senang sekali mengambil keputusan sendiri? Mengapa mereka selalu berkorban..

hanya demi aku?

Dalam waktu yang begitu singkat, segalanya terjadi begitu cepat.

Ketika cahaya serasa menelan ragaku..

Ketika rasa panas yang membara merambat membakar setiap inci tubuhku..

Ketika kejutan listrik menyengat dan menggetarkan seluruh tubuhku..

Ketika tiba-tiba segala panas dan sengatan tersapu hilang oleh hawa beku yang menusuk..

Ketika bumi mendadak menenggelamkan dan memerangkapku..

Ketika lubang hitam menarikku menyajikan kilasan-kilasan pemandangan berbagai tempat..

Dan ketika segalanya mendadak terasa sejuk dan damai, sedamai permukaan air yang tenang..

Serta terakhir, ketika seluruh luka di tubuhku hilang, dan aku kembali membuka mata, berdiri tegap di ruangan yang sama seperti terakhir kali aku membuka mata.

Kini, aku berdiri sendirian.

Tapi aku tidak takut lagi.

.

Yang aku tahu sekarang hanya—

.

—aku bisa berbuat apapun terhadap mereka sekarang.

Aku dan saudara-saudaraku.. akan mengalahkan mereka.

.

.

.

fin.

One thought on “Anonymous

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s