Arranged Life (Chapter 6)

Poster Arranged Life

Arranged Life (Chapter Enam)

Kim Yoon Ae – Do Kyungsoo – Kim Jongin

Politic – Sad – Romance – Family – School Life

Prev: [5]

Cheongwadae (Blue House)

Salah satu hari keramat bagi putri mahkota kita telah tiba. Apalagi kalau bukan hari pertemuan pertamanya dengan keluarga presiden—termasuk Do Kyungsoo. Halaman Cheongwadae dipenuhi pria kekar berseragam hitam membentuk pagar betis sepanjang halaman masuk, mengawasi supaya wartawan tetap teratur. Pengamanan ketat dilakukan jelang pertemuan resmi raja dan presiden yang baru. Dengan agenda tambahan ‘Pertemuan Calon Pengantin Negara’, membuat pihak istana membatasi jumlah wartawan dan tamu undangan yang hadir.

Presiden Do telah meminta kepada pihak kerajaan supaya upacara minum teh dilaksanakan di Chunchugwan—paviliun musim semi—dan hanya dihadiri keluarga raja dan beberapa orang kepercayaan saja tanpa jurnalis. Upacara minum teh akan dilakukan setelah presiden selesai menjamu tamu dan melakukan konferensi pers.

Putri mahkota sudah berada di dalam ruangan pribadi Cheongwadae bersama dayang Choi sementara raja dan ratu masih mengikuti prosesi penyambutan. Yoon Ae mengenakan hanbok modern dengan atasan warna peach dan rok pink tua serta rambut bersanggul sederhana. Beberapa kali Yoon Ae meniup poninya untuk mengurangi rasa gugup yang luar biasa. Tubuhnya juga tidak bisa berhenti bergerak. Duduk, berdiri, duduk lagi dan kemudian berdiri melongok keluar di mana hanya ada lautan manusia yang terlihat dari balik jendela, kemudian duduk kembali.

“Apa Anda ingin minum sesuatu, Yang Mulia?” tanya dayang Choi sembari memperhatikan gerak-gerik Yoon Ae. Ia duduk di hadapan putri mahkota.

“Tidak, terima kasih,” jawab Yoon Ae singkat dengan nada gugup. Kakinya tak bisa berhenti bergetar.

“Tenanglah, Yang Mulia. Tarik napas dan hembuskan. Tarik dan hembuskan.” Dayang Choi mengusulkan teori penenangan batin yang sudah umum, Yoon Ae menurut. Menarik dan menghembuskan napas beberapa kali, tapi malah membuatnya mual.

“Tidak berhasil, Choi-nim,” ratap Yoon Ae frustasi. Tuan putri benar-benar gelisah.

Ruangan tempat Yoon Ae berada dipenuhi banyak buku. Dalam keadaan normal, Yoon Ae yang memang senang dengan buku pasti akan membuka salah satu dan membacanya. Namun, kali ini ia bahkan tak bisa menahan perutnya yang serasa dikocok dari tadi. Susah payah ia menahan dirinya agar tidak muntah. Mungkin Dayang Choi mengira tuan putri gugup karena akan bertemu dengan Kyungsoo untuk pertama kali. Ada benarnya memang karena Yoon Ae masih belum menceritakan pertemuan Cinderella mereka di Gyeonghoeru selain pada Kai—tapi, ada perasaan lain menggelayuti hatinya, membuatnya semakin panik, yaitu perasaan ‘naksir Kyungsoo’ yang belum sepenuhnya hilang. Yoon Ae sudah mencoba memfokuskan perjodohan ini sebagai ‘peraturan’ supaya tak melukai hatinya, tapi hatinya tak bisa berbohong.

Semakin membuatnya gila saja.

“Cho-Choi-nim, berapa lama lagi acaranya dimulai? Aku sudah sangat ingin pulang,” kata Yoon Ae setengah berharap bahwa Doraemon bisa menolongnya dengan mesin waktu—harapan yang mustahil. Dayang Choi hanya menggeleng.

“Bagaimana kalau nanti aku mengantuk? Besok hari pertamaku ke sekolah. Tidak lucu kalau mataku bengkak. Kenapa acara tidak dimulai-mulai?!” Yoon Ae mulai meracau yang tidak-tidak. Tangannya mencengkeram erat pinggiran roknya sambil terus mondar-mandir membuat Dayang Choi berdiri dan menekan kedua bahu Yoon Ae.

“Putri, tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Percayalah pada raja.” Dayang Choi memberinya nasihat. Sebagai orang yang bertahun-tahun menemani putri mahkota, Dayang Choi paham benar kepanikannya saat ini. Semua akan menjadi lebih berat untuk sang putri di kemudian hari. Wajar jika Yoon Ae merasa tertekan.

Yoon Ae hanya mengangguk-angguk dengan tatapan kosong dan mulai duduk dengan tenang. Dayang Choi benar. Ayah pasti akan melakukan yang terbaik untukku, pikir Yoon Ae.

“Minumlah, Yang Mulia.” Dayang Choi menyodorkan segelas air mineral ke hadapan Yoon Ae yang langsung meminumnya. Ia baru sadar setelah air menyejukkan kerongkongannya kalau ia benar-benar haus.

Di kamar terpisah, Do Kyungsoo kembali merapikan setelan jas hitamnya di depan cermin. Meski ini adalah pertemuan yang paling tak ia inginkan sepanjang hidupnya, ia tetap harus terlihat rapi. Setelah merasa nyaman, Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar barunya. Sem-pur-na. Tak ada fasilitas setengah-setengah untuk keluarga presiden. Hanya saja ia merindukan kamar lamanya.

Tinggal di kamar ini juga percuma. Ia pasti pindah kamar lagi setelah menikah dengan putri mahkota. Ya, Tuhan! Kyungsoo hampir saja melupakan bagian itu! Bagian di mana ia harus tinggal berdua dengan istrinya kelak. Mungkin malah sekamar bersama! Menggelengkan kepala kuat-kuat, Kyungsoo membuang pikiran-pikiran negatif dari dalam benaknya.

“Itu tidak akan langsung terjadi!” gerutunya. Memikirkannya saja sudah membuat Kyungsoo merinding.

Melirik arlojinya, sudah pukul delapan malam dan acara menjamu tamu seharusnya sudah selesai. Kyungsoo benar-benar ingin pertemuan ini cepat rampung. Ia menghempaskan pantatnya ke sofa dengan kasar kemudian mengecek ponsel. Untuk mengurangi rasa bosan, ia ingin mencoba cara Yixing, yaitu bermain game. Ia tak pernah suka game, bahkan selalu kalah dari Sehun dan Yixing dalam permainan apa pun. Saat hendak memilih icon salah satu game, matanya malah beralih pada icon email. Alih-alih jadi bermain, Kyungsoo malah membuka percakapan email-nya dengan Jessica kemarin.

I wish for your happiness ^^

You are my happinessNuna.” Kyungsoo menatap sedih layar ponselnya. Lama ia memandang pesan dari Jessica sebelum melempar ponsel ke ranjang. Si putra presiden merasa sangat frustasi karena bahkan dalam kehidupan asmaranya tetap diatur seperti ini. Well, dia sudah setuju pada Ayah maka dia harus tetap maju. Tak akan ada kata merengek karena Kyungsoo memiliki prinsip untuk menjadi pria kuat.

Sebuah ide mampir di benaknya. Peristiwa di paviliun Gyeonghoeru kembali teringat. Kepalanya yang sakit gara-gara ditimpuk sepatu. Tentu saja Kyungsoo tahu siapa pemilik sepatu sialan itu. Sang putri mahkota. Oh tidak perlu mencari-cari alasan kenapa gadis itu ada di sana. Sepertinya Tuhan memang telah sudah mengatur cara pertemuan mereka yang unik dan langka.

“Jadi, sepatu itu miliknya.” Kyungsoo langsung berdiri menghampiri nakas, mengeluarkan sepatu sebelah kanan dari dalam tasnya. Gadis itu sangat ketakutan saat Kyungsoo memakinya, pastilah dia putri mahkota yang cengeng! Semua kemudahan dalam hidupnya pasti membuat sang putri mahkota menjadi sosok manja dan penakut. Setidaknya itu yang ada di pikiran Kyungsoo.

Nah. Jika kau tak mau aku menjahilimu, maka kau harus meminta Ayah membatalkan pernikahan kita.” Kyungsoo seperti menemukan ide brilian lain untuk mengingkari janjinya sendiri.

Jangan terlalu percaya diri dulu, Soo.

 

Chunchugwan.

Do Kyungsoo dikutuk karena berniat tidak baik. Kakinya mengalami kesemutan hebat karena tak biasa duduk dengan kaki dilipat ala anggota kerajaan. Dalam sanubari Kyungsoo, ia merasa kesal pada Ibu karena tak membahas sampai ke detail cara duduk mereka. Kalau saja Ibu mengatakan bahwa ia harus duduk di lantai dengan cara seperti ini, setidaknya ia akan berlatih supaya tidak terlihat kaku. Kyungsoo tak suka jika orang lain menganggapnya kurang sempurna, bahkan hanya lewat cara duduknya. Ia tak suka dikritik orang lain, meski itu hanya di dalam hati mereka masing–masing. ( -___-)

Chunchugwan—paviliun musim semi—yang menjadi bagian dari Cheongwadae sudah ditata dengan sangat baik. Meja panjang di tengah ruangan tempat mereka akan melakukan upacara minum teh penuh dengan makanan tradisional yang sebagian belum pernah Kyungsoo lihat sama sekali dan tentu saja teko serta cangkir keramik yang menurut Kyungsoo, jika dilelang pasti sangat mahal. Putra presiden menyapukan pandangannya dari ujung ke ujung meja, sudut ke sudut ruangan, supaya ia bisa melupakan kakinya yang kesemutan. Sayangnya cara itu tidak berhasil. Jidat Kyungsoo mulai dipenuhi titik-titik keringat.

Ayah Kyungsoo, bapak presiden, duduk di kepala meja sambil mengobrol dengan orang kepercayaan raja (keluarga kerajaan belum datang). Kyungsoo melirik bantal duduk kosong persis di samping Ayah, di sanalah pasti raja akan duduk, mengingat wapres Lee tidak bisa datang karena harus mengurus sesuatu. Ini pertama kalinya ia akan bersua dengan raja. Seharusnya ia merasa luar biasa senang, asalkan agenda perjodohan itu tidak tercantum! Ibu duduk di sebelah kirinya, beliau sedang mengobrol dengan beberapa dayang yang duduk berderet di belakang mereka. Sepertinya membahas makanan dan dekorasi.

Kyungsoo berusaha memberi kode pada Ibu dengan menepuk pelan lutut ibunya berulang kali, namun Nyonya Do sepertinya sedang asyik dengan obrolannya sendiri. Karena sudah tak sanggup menahan sakit, Kyungsoo menepuk lutut ibunya lebih keras sampai beliau terlonjak dan menoleh padanya.

Astaga, Honey~ Kau kenapa?” bisik Nyonya Do pelan.

Kyungsoo menunjuk kedua kakinya yang mungkin tidak bisa berdiri lagi. Ia tak mau Ibu bereaksi berlebihan mengingat banyak dayang di belakang mereka. Putra presiden harus tetap terlihat cool, bukan? Nyonya Do  tak paham maksud putra semata wayangnya, hingga akhirnya Kyungsoo membisikkan sesuatu ke telinga ibunya.

“Kapan mereka datang, Ibu? Kakiku sakit sekali. Tak bisakah aku pura-pura ke toilet?”

Tepat sebelum Nyonya Do menjawab, penjaga di depan pintu paviliun mengumandangkan kedatangan raja bersama rombongan keluarganya. Semua yang ada dalam ruangan itu berdiri dan membungkuk, memberi hormat pada mereka. Lutut Kyungsoo bergetar hebat saat ia berdiri untuk ikut memberi hormat. Yah, setidaknya ia bersyukur masih bisa berdiri sejenak supaya kakinya tidak terlalu kaku.

Raja mempersilahkan semuanya untuk duduk. Para dayang menarik diri mereka meninggalkan ruangan sehingga tersisa hanya keluarga raja, keluarga presiden dan empat orang kepercayaan masing-masing kepala keluarga. Raja mengucapkan selamat datang dan basa-basi lainnya pada Ayah Kyungsoo sementara ratu dan Nyonya Do berbagi senyuman.

Mata Kyungsoo berhenti pada sosok di sebelah kiri ratu yang melihat ke arahnya dari tadi. Putri mahkota duduk persis di hadapan Kyungsoo. Ia langsung menunduk saat Kyungsoo balik menatapnya. Duduknya tetap tegap dan anggun, mencerminkan ia sudah terbiasa duduk dengan posisi seperti ini dari dulu. Kyungsoo mengamati wajah gadis itu dalam-dalam. Tak ada reaksi apa-apa.

“Jadi kau gadis Cinderella itu?” Kyungsoo bertanya-tanya dalam hatinya. “Manis sekali kau di sini. Nyatanya kau pernah menimpuk anak orang dengan sepatu,” rutuk Kyungsoo masih dalam hati.

Putri mahkota terus menunduk sambil berusaha mengenyahkan pikiran bahwa Kyungsoo memandangnya dengan tatapan tidak menyenangkan. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tenang. Kegelisahan Yoon Ae kembali muncul ketika kata-kata Kai melintas di benaknya.

“Anak presiden itu. Bagaimana kalau dia tak suka bertemu dengan Anda, Yang Mulia?”

Sekarang Yoon Ae mempercayai kata-kata Kai. Putra presiden jelas tidak menyukainya. Bisa disimpulkan dari tatapan Kyungsoo padanya. Dalam pertemuan-pertemuan resmi yang lain, biasanya Yoon Ae akan terus tersenyum dan mencoba mengobrol dengan orang-orang yang datang, tapi kali ini Yoon Ae mati kutu. Ia bahkan takut untuk memberi kode pada ibunya sendiri.

“Nah, Tuan Putri. Di hadapanmu adalah putraku, Do Kyungsoo.” Sapaan mendadak dari Presiden Do mengejutkan Yoon Ae dan membuatnya langsung mendongak menatap Presiden.

“Y-ya, Bapak Presiden.” Yoon Ae hanya menjawab itu tanpa menoleh ke arah Kyungsoo yang masih terus menatapnya tajam.

“Kyungsoo, berilah salam,” perintah Presiden Do pada putranya.

Anak laki-laki itu diam saja. Masih menatap Yoon Ae dengan tajam. Baik raja, ratu, ibu negara, bahkan orang kepercayaan yang ada di sana melihat ke arah Kyungsoo yang seperti tidak mendengar apa-apa.

Ehem, Kyungsoo?” Presiden berdeham dan memanggil nama Kyungsoo dengan suara lebih lantang membuat Kyungsoo terkejut dan menatap ayahnya.

“Ya, Ayah. Ada apa?” tanyanya bego.

Raja dan yang lainnya saling pandang dan tersenyum. Mungkin mereka mengira Kyungsoo terkesima dengan Yoon Ae. Hei, hei, hei, tidak begitu! Tatapan tadi adalah tatapan jengkel penuh intimidasi. Sepertinya hanya Yoon Ae yang paham karena ia masih terus menunduk.

“Putri, kenapa kau menunduk terus? Berilah salam pada Kyungsoo.” Ratu Jung berbisik di telinga Yoon Ae. Tuan putri menatap Ibu dan menggeleng pelan membuat kening ibunya berkerut heran. Semua orang dewasa yang ada di situ mengira Yoon Ae malu, sebaliknya ia merasa ketakutan.

Untuk mengatasi kecanggungan antara dua anak muda, raja memberi isyarat untuk memanggil beberapa dayang pemandu upacara minum teh mereka. Upacara itu cukup ribet menurut Kyungsoo, menuangnya seperti ini, ke cangkir yang itu dulu, baru ke sini, cara meminumnya begini, begitu dan seterusnya.

“Oh, Ya Ampun! Hanya meminum secangkir kecil teh saja susah sekali!” Kyungsoo kembali memaki jengkel dalam hatinya. Kakinya mulai kesemutan lagi. Ia coba untuk sedikit mengangkat pantat, supaya beban tubuhnya tak terlalu menindas kedua kaki. Sungguh, Kyungsoo baru meminum teh dengan cara paling tidak nyaman sepanjang hidupnya. Lain dengan Yoon Ae yang tampak biasa-biasa saja, walaupun tangannya sedikit gemetar ketika mengangkat cangkir.

Setelah upacara itu selesai, aura di dalam Chunchugwan menjadi lebih serius. Pembahasan pernikahan Kyungsoo-Yoon Ae dimulai. Baik Kyungsoo maupun Yoon Ae sama-sama tak berkomentar. Keduanya duduk menunduk dalam diam sambil mendengarkan dengan seksama pembicaraan itu.

Raja dan presiden akhirnya memutuskan pernikahan putra-putri mereka dilangsungkan setelah masa kerja seratus hari presiden—sekitar tiga bulan lagi. Namun, pertunangan mereka akan langsung dilakukan minggu depan. Baik raja dan presiden mengamati perubahan reaksi anak mereka masing-masing, tapi keduanya tetap bergeming. Mereka beranggapan kalau Yoon Ae-Kyungsoo setuju. Situasi politik lebih mendesak untuk dipulihkan. Setelah keputusan itu, pikiran Yoon Ae-Kyungsoo tidak bersama tubuh mereka, melayang kemana-mana dan telinga mereka seperti tak lagi mendengar pembicaraan yang lain. Sudah diputuskan bahwa status lajang mereka akan berakhir seratus hari lagi.

Bisakah dalam seratus hari itu mereka saling mencintai?

Menyendiri di balkon Paviliun Chunchugwan, Yoon Ae melakukan kebiasaannya: memandangi kolam teratai. Musim panas membuat bunga-bunga itu mekar sempurna. Minggu depan akan menjadi pertunangannya dengan Kyungsoo dan seratus hari lagi akan menjadi hari pernikahan mereka. Rasanya ingin sekali ia langsung bercerita pada Kai, namun Kai benar-benar tidak ikut. Pangeran Kim menemani Bibi entah kemana. Tapi, Yoon Ae curiga kalau Bibi Kim dimintai tolong oleh Ibu untuk mempersiapkan segala hal untuk hari pertunangan nanti.

Memang tidak mungkin kalau raja dan ratu melepasnya begitu saja setelah pernikahan terjadi, tapi keadaan pasti akan berubah drastis. Yoon Ae merasa bahwa istana ini penuh kebohongan. Mereka yang ada di dalamnya menggunakan putri mahkota untuk menyelamatkan kerajaan. Mereka egois! Yoon Ae tahu ini merupakan kewajiban sebagai seorang putri, tapi apa mereka juga tahu bagaimana rasanya kawin paksa? Wajah-wajah anggota parlemen yang ia lihat juga penuh basa-basi berlebih. Bukankah sebagian dari mereka ingin menghapus keluarga kerajaan? Entah kenapa pikiran Yoon Ae dipenuhi hal-hal negatif setelah pertemuan hari ini. Dia merasa seperti berdiri sendiri, tanpa ada yang memihaknya.

Putri mahkota tak menyadari kalau putra presiden mengawasinya dari belakang. Do Kyungsoo sengaja berada di sana dalam diam—mengintai istilahnya—karena belum bisa menilai Yoon Ae dengan baik.  Gadis itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa pun saat upacara minum teh. Mungkin saja itu kedok untuk citra anggunnya. Bagi Kyungsoo melempari anak orang dengan sepatu termasuk perbuatan tak termaafkan.

Alasan lain pengintaiannya adalah ingin memulai pembullyan terhadap Yoon Ae. Kyungsoo memutuskan untuk menghampiri gadis itu, namun langkah Kyungsoo terhenti saat jarak mereka hanya tinggal tiga langkah lagi. Tubuh Kyungsoo terpaku, ia bisa mendengar Yoon Ae menangis. Melihat tubuh Yoon Ae bergetar hebat. Tangan Yoon Ae terlihat beberapa kali menghapus air matanya. Entah kenapa ada perasaan bersalah di hati Kyungsoo. Berbagai pertanyaan mengenai Yoon Ae muncul di benaknya. Apakah hidup sebagai seorang putri mahkota tidak menyenangkan sampai ia harus menangis sendirian di sini? Mungkinkah Yoon Ae sama tersiksanya dengan dirinya?

Kyungsoo—dengan sedikit keraguan—melanjutkan langkahnya menghampiri Yoon Ae kemudian menepuk bahunya pelan. Gadis itu terkejut dan langsung menghapus air matanya dengan punggung tangan ketika mendapati Kyungsoo ada di belakangnya. Anak laki-laki itu tak mengatakan apa-apa, hanya merogohnya saku celananya lantas memberikan sapu tangan pada Yoon Ae kemudian berbalik pergi. Putri mahkota menerima benda itu sembari terus menatap punggung putra presiden yang menjauh. Tak seperti saat menatapnya tajam di dalam paviliun, Kyungsoo terlihat iba.

Yoon Ae tersenyum dan bergumam pelan. “Terima kasih.”

Di bawah balkon, di seberang kolam teratai, Pangeran Kim memperhatikan interaksi keduanya. Ia melihat semuanya; Yoon Ae yang menangis sendirian dan Kyungsoo yang memberikan sapu tangan. Mungkinkah si anak presiden itu juga setuju-setuju saja dengan pernikahan mereka? Pemandangan yang membuat Kai kembali merasakan kebencian terhadap Do Kyungsoo. Ia mendengus dan berjalan menjauhi Paviliun Chunchugwan. Menyesali kedatangannya kemari jika tahu akan disuguhi pemandangan seperti tadi.

Saat berbelok ke jalan setapak menuju gerbang utama Gyeongbok, Kai melihat seorang wartawan yang memotret balkon tempat Yoon Ae berdiri. Ia mengamati gerak-gerik si wartawan dari balik sebuah pohon. Ketika wartawan itu menelpon seseorang, Kai bisa mendengar sekilas percakapan mereka.

“Kami sudah mengamati situasi di sini, Tuan Park—Baik—Baik, terima kasih.”

“Tuan Park? Jadi ada orang bernama Tuan Park yang mengawasi kegiatan keluarga kerajaan. Tapi, Tuan Park siapa?” Kai bertanya dalam hatinya.

Kai memutuskan untuk nekat bertanya dengan si wartawan. Namun saat ia keluar dari persembunyian, wartawan itu sudah raib. Yang ada hanya kartu kecil terjatuh di bekas tempat si wartawan berdiri. Kai bergegas menghampiri benda itu. Betapa ia sangat terkejut ketika benda itu bukan kartu, tapi sebuah foto polaroid dirinya yang mengobrol bersama Paman Seo beberapa hari lalu.

Bukan hanya Yoon Ae yang diawasi, tapi juga dirinya.

“Kita tinggal menciptakan skandal yang akan dimainkan anak-anak itu. Dan kita juga akan mengatur skenarionya,” kata Ketua pada Tuan Park dan Ayah Jongdae di sebuah bar kecil.

“Pangeran Kim sangat antusias ketika putraku memberitahunya bahwa ada kelompok yang menentang perintah presiden.” Ayah Jongdae, Kim Yeongsuk, meneguk sojunya. Ketua dan Tuan Park mengangguk-angguk senang. Mereka membayangkan bila rencana ini nantinya lebih mudah karena hanya tinggal mempermainkan perasaan anak remaja saja. Kyungsoo-Yoon Ae-Jonginlah nantinya yang akan merusak citra pemerintahan Presiden Do sendiri.

“Orangku sudah kusuruh untuk meninggalkan jejak yang bisa ditemukan Pangeran Kim. Kita tinggal menunggu, apakah Pangeran Kim cukup cerdas kali ini,” tambah Tuan Park—petinggi Kerajaan bagian Kesejahteraan —kembali menuangkan soju ke gelas Ketua mereka. “Jika mereka melakukan itu untuk melindungi silsilah keluarga mereka, maka bukankah kita harus melakukan hal yang sama, Kakak Ipar?” Tuan Park mengedikkan kepalanya pada Ketua mereka, Wapres Lee.

-tbc

©Miss Candy

CurMu section😄 :

  • Maaf kalau ceritanya semakin aneh dan ngelantur. Kkk
  • Terima kasih untuk yang sudah membaca… J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s