Lucky One

luckyone

Title : Lucky One

 

Author : Marie Rose Jane (@janeew_)

 

Genre : Romance

 

Length : Oneshot

 

Rating : PG 15

 

Cast : Oh Sehun & Jang Surin (OC)

 

Hello! Kali ini saya bawakan ff berjudul Lucky One! Semoga kalian suka ya!

 Oh ya, jika kalian berminat membaca fanfic-fanfic saya yang belum dipublish dimanapun kecuali di wordpress pribadi saya, berkunjung saja ke : http://ohmarie99.wordpress.com jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian setelah kalian berkunjung ke wp saya!

Thanks and happy reading!

**

“Oh Sehun, aku benar-benar minta maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk menemanimu pergi ke pesta dansa dalam rangka reuni SMA-mu itu. Aku tidak enak badan dan sepertinya aku harus istirahat total hari ini. Aku harap kau mau mengerti.”

Kalimat yang diucapkan gadis bernama lengkap Jang Surin beberapa menit yang lalu melalui sambungan telepon itu terus terngiang ditelinga Sehun meskipun sambungan telepon mereka sudah terputus sedari tadi, memaksa laki-laki berperawakan tinggi dengan kulit putih susu itu khawatir ditengah-tengah rasa kecewa yang tidak dapat dibendungnya.

Tentu saja Sehun merasa kecewa. Saat ini Sehun sudah rapi dengan setelan jasnya dan ia baru saja akan pergi menuju apartment Surin untuk menjemput gadis itu. Jam tangan yang ia kenakan saat ini sudah menunjukan pukul enam sore dan itu berarti satu jam lagi acara pesta dansa itu akan segera dimulai. Sehun berdecak seraya melepas jas hitamnya kemudian ia melempar jas tersebut ke sofa ruang tamu dengan kesal. Laki-laki itu menempatkan dirinya disana sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa tersebut. Sesekali Sehun memijat dahinya yang tengah berkerut, berharap rasa kesalnya akan sedikit berkurang.

Sehun hanya merasa kesal dan sedari tadi ia bertanya-tanya dalam hatinya mengapa Surin baru menghubunginya dan berkata bahwa ia tidak bisa menemani Sehun ke acara tersebut saat Sehun sudah benar-benar siap. Selain kesal karena hal itu, Sehun juga merasa benar-benar kecewa. Sehun memang tidak ingin menyalahkan Surin karena alasan gadis itu pada kenyataannya dapat ia maklumi. Surin sedang tidak enak badan dan Sehun mau tidak mau harus mengerti akan hal itu.

Tapi jauh dalam lubuk hatinya, Sehun tidak dapat membendung rasa kecewanya saat ini. Selain kecewa karena Surin tiba-tiba membatalkan janji saat ia sudah benar-benar siap, Sehun merasa kecewa karena ia tidak dapat menghadiri acara pesta dansa yang sangat ingin dihadirinya itu.

Pasalnya semua panitia acara pesta dansa itu sudah mewanti-wanti Sehun untuk datang. Mereka bahkan menyebut Sehun sebagai ‘tamu yang paling ditunggu-tunggu’ mengingat sewaktu SMA dulu, Sehun adalah salah satu murid terbaik dalam bidang tari. Mereka juga meminta Sehun untuk mempersembahkan sebuah tarian terbaiknya, dan Sehun sudah menyanggupi hal tersebut.

Sewaktu SMA dulu, Sehun bahkan sering dijadikan pengganti guru ekstrakurikuler tari jika sang guru tidak dapat hadir untuk mengajar. Karena keahliannya dalam bidang tari itulah yang membuat Sehun dikenal oleh satu sekolah dan memiliki banyak penggemar wanita, baik itu dari sekolahnya sendiri maupun dari sekolah lain yang sering menonton Sehun menari dalam acara pentas seni yang setiap tahun diadakakan oleh sekolahnya.

Sehun benar-benar ingin menghadiri acara pesta dansa tersebut bukan karena ia ingin menunjukan pada semua orang bahwa ia pandai menari. Sehun merasa sangat antusias akan acara pesta dansa itu karena semenjak lulus dari sekolah menengah atas dan setelah itu berkuliah dengan mengambil jurusan arsitektur, Sehun tidak punya banyak waktu untuk mendalami hobi tarinya seperti saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Sehun bahkan terhitung sudah dua tahun tidak pernah menari lagi dan ia merindukan hobi sedari kecilnya itu.

Pada intinya, Sehun benar-benar tidak ingin melewati reuni tersebut apalagi sekarang ia tengah liburan semester. Sehun yakin saat liburannya sudah berakhir, akan sulit menemukan waktu luang untuk menghadiri acara reuni seperti ini dikarenakan jadwal kuliahnya yang benar-benar padat.

Namun sejujurnya, rasa kecewa Sehun tidak sebesar rasa khawatirnya akan keadaan Surin saat ini. Bisa saja Sehun datang ke acara pesta dansa itu tanpa Surin, namun Sehun benar-benar tidak ingin melakukan hal tersebut. Sehun tidak ingin bersenang-senang sementara gadis yang paling disayanginya itu sedang sakit saat ini. Lagi-lagi Sehun memijat dahinya yang tengah berkerut seperti orang yang tengah berpikir keras.

Sehun hanya heran, mengapa saat tadi mereka berbicara melalui telepon, Surin seperti berusaha keras untuk melarang Sehun datang ke apartmentnya, bahkan sebelum Sehun sempat berkata bahwa ia akan datang ke apartment gadis itu untuk menjenguknya.

Sehun segera menyambar kunci mobilnya yang terletak dihadapannya, tepatnya diatas meja kaca berkaki rendah tersebut. Sehun benar-benar tidak bisa menahan rasa khawatirnya lagi sehingga ia memutuskan untuk segera menuju ke apartment gadis itu untuk mengecek keadaannya sekarang ini.

Sehun hanya berharap gadis itu baik-baik saja.

**

Surin menghela napasnya dengan sangat berat seraya melangkahkan kakinya keluar dari lift yang membawanya ke lobi apartment. Rambut panjangnya tergerai sangat rapi, lebih rapi dari biasanya. Bahkan ada bentuk gelombang pada bagian bawah rambutnya yang tampak sengaja dibentuk. Make up tipis yang dikenakannya pun membuat Surin tampak seperti ingin menghadiri sebuah acara formal.

Ya, tadinya tujuan utamanya memang ingin menghadiri sebuah acara formal yakni menemani Oh Sehun, kekasihnya, untuk menghadiri acara pesta dansa. Surin sudah berjanji pada Sehun dua minggu yang lalu bahwa ia akan menemani laki-laki itu ke acara yang Surin tahu sangat ingin Sehun hadiri itu. Namun sayangnya semuanya harus batal, tepat setelah Surin benar-benar siap dan tengah menunggu Sehun untuk menjemputnya. Surin harus mengganti gaun hitam panjang yang dikenakannya menjadi celana jeans beserta kemeja hitam yang asal diambilnya dari lemari, setelah mendapat telepon dari seniornya di organisasi theatre kampus yang tiba-tiba menyuruhnya untuk menggantikan salah satu anggota organisasi theatre kampus itu membagikan brosur mengenai acara drama musikal spesial yang akan digelar oleh organisasi theatre tersebut dua hari lagi.

Keadaannya benar-benar mendesak membuat Surin menjadi khawatir dan mau tidak mau menyanggupi permintaan dari seniornya. Surin memang termasuk anggota baru di organisasi tersebut dan ia belum di ijinkan untuk ikut tampil memainkan peran diatas panggung, namun ia juga merasa bertanggung jawab akan acara yang akan diselenggarakan dua hari lagi itu. Seniornya berkata bahwa brosur promosi drama musikal spesial itu belum sama sekali dibagikan padahal acaranya tinggal dua hari lagi, membuat Surin menjadi panik sampai-sampai ia bertekad akan membagikan semua brosur itu sampai habis dalam satu hari ini.

Angin bertiup kencang membuat Surin yang mendadak kedinginan, menyesal karena melupakan mantel hangatnya. “Taksi!” Surin berseru dan sebuah taksi yang tadi dipanggilnya tidak lama berhenti dihadapan gadis itu. Surin segera meminta sang supir untuk mengantarnya ke Seoul National University, yang adalah kampusnya. Gadis itu harus pergi ke kampusnya terlebih dulu karena ia harus mengambil brosur-brosur tersebut diruang theatre kampus sebelum membagikannya.

Surin mengalihkan pandangannya pada jendela kaca taksi tersebut. Seketika ia teringat pada Sehun dan rasa bersalah saat itu juga mulai memenuhi seluruh sudut hatinya. Surin terpaksa harus berbohong pada Sehun karena ia tahu betul bahwa jika Surin berkata yang sejujurnya, Sehun tidak akan membiarkan Surin membagikan semua brosur itu malam hari ini juga. Ya, sudah dua bulan Surin bergabung dengan organisasi theatre kampusnya dan selama dua bulan itu juga Sehun tidak menyetujui bergabungnya Surin dengan organisasi tersebut.

Seminggu pertama, Sehun masih tampak mendukung Surin, namun selepas itu ia dengan terang-terangan melarang Surin untuk terlibat lebih jauh dengan organisasi theater tersebut. Surin sendiri tidak tahu alasan pastinya adalah karena apa, namun jika Surin boleh menebak, Sehun hanya tidak suka dengan para senior Surin yang terlalu menekan anggota-anggota baru organisasi itu terutama Surin. Sehun seringkali berkata bahwa para seniornya itu terlihat seperti memanfaatkan Surin dan terkadang suka bertindak seenaknya.

Surin masih ingat dengan jelas kejadian dimana Surin disuruh oleh para seniornya untuk membelikan minuman dan makanan di cafe yang terletak diseberang kampus. Saat itu, Surin baru saja keluar dari cafe dengan tangan yang penuh oleh bungkusan kopi dan juga roti. Surin tidak sengaja berpapasan dengan Sehun yang kebetulan hendak pergi ke cafe tersebut. Surin berusaha menutupi fakta bahwa sebenarnya ia disuruh oleh para seniornya untuk membelikan kopi dan roti yang tengah dipegangnya itu dengan berkata pada Sehun bahwa Surin sengaja mentraktir mereka karena para seniornya itu telah membantu Surin menyelesaikan sebuah naskah drama. Sehun yang pada saat itu tidak tahu apa-apa dengan mudahnya percaya akan ucapan Surin. Laki-laki itu bahkan segera menawarkan bantuannya untuk membawa bungkusan-bungkusan tersebut pada para senior Surin.

Sesampainya di ruang theatre, Sehun langsung bertanya-tanya dalam otaknya. Sehun hanya bingung dengan para senior Surin yang langsung menyerbu Surin dan sibuk bertanya dimanakah pesanannya. Jika itu adalah traktiran dari Surin, seharusnya para senior itu tidak berlaku demikian. Seharusnya mereka terkejut atau menunjukan ekspresi yang lainnya selain berlaku biasa saja seolah sebelumnya mereka sudah tahu Surin akan membelikan apa untuk mereka sebagai traktiran darinya.

Yang membuat Sehun semakin terkejut, setelah mendapatkan kopi dan rotinya, mereka tidak mengucapkan terima kasih pada Surin. Akhirnya keheranan Sehun terjawab ketika salah satu senior Surin berkata bahwa keberadaan Surin di organisasi tersebut sangat berguna. Berguna untuk dijadikan dompet berjalan. Setelah mendengar perkataan salah satu senior laki-laki Surin itu, Sehun merasa geram dan tanpa pikir panjang Sehun segera meninju wajah sang senior dengan kepalan tangannya yang kuat.

Sehun bahkan mengancam para senior Surin, bahwa ia tidak akan tinggal diam jika kejadian seperti itu tertangkap olehnya lagi. Semenjak kejadian itu, Sehun tidak pernah sekalipun menyetujui Surin untuk sering-sering berkumpul dengan organisasi tersebut. Sehun selalu marah pada Surin jika tahu gadis itu terlibat dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh organisasi theatre itu.

Sebenarnya Surin juga ingin keluar dari organisasi itu, namun sekuat mungkin Surin berusaha untuk bertahan. Setidaknya, ia ingin berhasil mendapatkan satu peran dan dapat ikut tampil dipanggung theatre kampus yang megah, sebelum ia keluar dari organisasi itu. Surin ingin tujuannya itu tercapai meskipun hanya satu kali. Ia sendiri sudah berjanji pada dirinya akan langsung keluar dari organisasi itu setelah ia berhasil mewujudkan hal tersebut.

Itu sebabnya Surin memilih untuk berbohong pada Sehun. Surin tahu jika ia jujur pada Sehun, laki-laki itu tidak akan tinggal diam dan Surin takut kejadian diruang theater yang ingin dilupakannya itu malah terjadi lagi.

Seketika Surin jadi merasa benar-benar tidak tenang karena memikirkan Sehun. Surin tidak dapat membayangkan betapa marahnya laki-laki itu ketika ia tahu akan hal yang sebenarnya. Surin tidak dapat membayangkan betapa marahnya Sehun ketika laki-laki itu tahu bahwa Surin membatalkan acara pesta dansa yang sudah dijanjikan oleh gadis itu sedari dua minggu yang lalu, hanya untuk membantu seniornya menyebar brosur dimalam hari seperti sekarang ini.

Surin memperhatikan layar sentuh ponselnya yang saat ini tengah memperlihatkan fotonya dengan Sehun yang tampak berpelukan di depan wahana komedi putar yang ada di Lotte World, salah satu tempat kencan favoritenya dengan Sehun. Seketika rasa bersalah langsung melingkupi gadis itu membuat Surin hanya dapat menghela napasnya dengan berat seraya mengelus layar sentuh ponselnya itu tanpa tahu harus berbuat apa ketika nantinya pikirannya sekarang ini berubah menjadi nyata.

Surin benar-benar tidak tahu harus berbuat apa kalau sampai Sehun tidak sengaja melihatnya saat nanti ia membagikan brosur di daerah Sinsa. Sungguh, Surin tidak ingin hal itu sampai terjadi.

**

“Apa yang sebenarnya kau lakukan, Jang Surin?!”

Sehun mengepalkan satu tangannya kuat-kuat sementara satu tangannya lagi memukul setir mobil yang berada dihadapannya dengan kesal. Sehun hanya tidak percaya akan pemandangan yang dilihatnya dari jendela kaca depan mobil sedannya itu. Sudah hampir dua puluh menit Sehun mengulang pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang baru dilontarkannya satu menit yang lalu. Sebenarnya apa yang Surin lakukan ditengah-tengah kerumunan orang itu? Mengapa gadis itu memilih untuk membohonginya? Mengapa Surin berkata bahwa ia ingin istirahat total hari ini, tapi ternyata sekarang ia malah berada di daerah Sinsa, membagikan kertas yang tidak Sehun tahu berisi apa pada semua orang yang lewat disekitarnya?

Sehun terus memperhatikan Surin yang masih sibuk membagi-bagikan selembaran kertas yang tengah dipegangnya. Sudah dua puluh menit ia tidak bergeming dari mobilnya dan hanya memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Sedari tadi Sehun mati-matian menahan keinginannya untuk menarik gadis itu pulang sekarang juga, terutama ketika ia baru sadar bahwa saat ini gadis itu hanya mengenakan kemeja hitam tipis berlengan panjang dan juga celana jeans berwarna gelap. Sehun hanya khawatir jika gadis itu merasa kedinginan diluar sana sekarang ini. Pasalnya angin terus bertiup dengan kencang dan Sehun juga benar-benar yakin bahwa sebentar lagi hujan akan turun dengan sangat deras.

Seketika Sehun langsung teringat akan cerita Surin mengenai acara drama musikal spesial yang sebentar lagi akan diselenggarakan oleh organisasi theatre kampus. Sehun menduga bahwa kertas tersebut pasti ada hubungannya dengan acara itu. Laki-laki bertubuh tinggi itu kembali berdecak, meyakini dugaannya barusan. Sehun berjanji jika ia bertemu dengan senior Surin yang menyuruh gadis itu untuk membagikan brosur ditengah malam seperti ini, Sehun tidak akan berpikir dua kali untuk melayangkan tinjuan kerasnya pada orang itu.

Tiba-tiba rintik hujan mulai turun begitu saja membuat Sehun langsung panik terutama ketika rintik-rintik itu dengan perlahan berubah menjadi guyuran deras dari langit. Tanpa pikir panjang Sehun langsung keluar dari mobilnya dan berlari kecil menghampiri Surin yang kini tampak sibuk mengenakan jas hujan kekecilan yang diambilnya dari dalam tas selempangnya. Sehun menghentikan langkah kakinya. Pandangan Sehun hanya tertuju pada Surin yang kini sudah berhasil mengenakan jas hujan kekecilan miliknya. Jas hujan itu bahkan tidak dapat melindungi tubuh Surin dari derasnya guyuran air hujan.

Sehun yang sekarang sudah benar-benar basah kuyup hanya terus memandangi Surin. Gadis itu tidak menyadari kehadirannya dan tetap mengerjakan pekerjaannya untuk membagikan selembaran kertas yang kini tengah dipegangnya, pada orang-orang yang berjalan dengan terburu-buru dibawah payung mereka masing-masing. Sehun sudah benar-benar tidak tahan lagi sehingga saat ini ia berjalan tergesa-gesa ke hadapan Surin dengan emosi yang membuncah. Sehun bersumpah ia akan meninju bahkan menghabisi orang yang telah membuat gadisnya seperti sekarang ini.

“Oh Sehun?!” Surin berujar tidak percaya ketika saat ini Sehun berdiri dihadapannya dan langsung menggenggam pergelangan tangannya dengan sangat kuat. “Jang Surin, apa yang sebenarnya kau lakukan sekarang ini?!” Sehun langsung berujar dengan nada suara yang terdengar sangat nyaring membuat Surin langsung tersentak. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Sehun dari pergelangan tangannya, namun tenaga laki-laki itu jauh lebih kuat darinya.

“Kau bilang kau sakit, lalu mengapa kau berada disini sekarang dan bukan beristirahat seperti apa yang sudah kau katakan padaku? Kertas apa yang sedari tadi kau bagikan ini, Jang Surin?!” Sehun merebut tumpukan brosur yang masih dipegang Surin dengan kasar. “Benar ternyata dugaanku. Ini semua berhubungan dengan organisasi sialan itu, kan?! Harus berapa kali lagi aku berkata padamu bahwa aku tidak suka kau bergabung dengan organisasi itu?! Mengapa kau tidak pernah mendengarkanku dan sekarang kau bahkan membohongiku demi organisasi tidak penting itu, Jang Surin?!” Sehun kembali membentak Surin sementara gadis itu hanya terdiam, merasakan air matanya bersatu dengan air hujan yang terus membasahi bumi dengan sangat deras.

“Jawab pertanyaanku! Bagaimana bisa kau sebodoh ini? Bagaimana bisa kau mau saja melakukan apapun yang para seniormu perintahkan padamu?”

“Aku melakukan ini semua bukan karena senior-senior itu! Aku melakukan ini untukmu, Oh Sehun!” Surin yang sudah tidak tahan karena Sehun terus saja menyudutkannya akhirnya bersuara. Surin menatap laki-laki itu dengan matanya yang tampak kabur oleh air mata. “Aku ingin setidaknya aku dapat tampil satu kali untuk memainkan salah satu peran dalam naskah drama dipanggung theatre yang megah itu untukmu. Aku sadar bahwa aku hanyalah seorang gadis biasa, bahkan kelewat biasa yang bernasib beruntung karena mendapatkan kekasih sempurna seperti dirimu. Kau tampan, kau berbakat, kau berprestasi, dan kau juga memiliki banyak penggemar wanita di kampus. Tidak tahukah kau bahwa selama ini aku merasa terpojokan karena melihat ratusan penggemarmu di kampus yang lebih segalanya dariku?”

Surin terus menatap kedua manik mata berwarna cokelat milik Sehun yang sedari dulu sudah sangat disukainya itu. Dadanya merasa sakit dan sesak, bahkan Surin merasa kesulitan untuk sekedar menarik napas. Surin merasa malu akan ucapannya barusan. Ia merasa malu karena setelah mendengar ucapannya itu, Surin jadi semakin merasa bahwa ia benar-benar tidak memiliki apapun yang dapat membuat dirinya pantas bersanding dengan Sehun.

Surin yang lama-kelamaan tidak tahan melihat Sehun diam saja dibawah guyuran air hujan yang deras akhirnya menundukan kepalanya, menatap pergelangan tangannya yang masih digenggam kuat oleh Sehun. Bagaimana pun juga, hari ini Surin akan menyuarakan seluruh perasaannya yang selama ini dipendamnya jauh dalam lubuk hati. “Aku ingin mempunyai sesuatu dalam diriku yang dapat aku banggakan padamu, karena itu aku melakukan ini semua. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu karena itu aku melakukan ini semua, Oh Sehun.”

“Dengar, kau tidak perlu melakukan ini semua.” Sehun mengangkat dagu Surin dengan satu tangannya, sehingga kini Sehun dapat menatap lurus kedua manik mata berwarna hitam pekat milik Surin. “Surin-a, kau harus tahu bahwa kau sudah mempunyai segala sesuatu yang aku cari selama ini dalam dirimu. Kau sudah mempunyai segala sesuatu yang aku inginkan dan butuhkan dalam dirimu. Kau sudah mempunyai itu semua dan aku tidak dapat menemukannya pada orang lain. Jangan pernah membandingkan dirimu dengan mereka. Jangan berusaha menjadi seperti mereka. Aku mencintaimu karena kau adalah kau, Jang Surin.”

Seketika jantung Surin berdesir setelah mendengar ucapan tulus dari Sehun barusan. Surin tersenyum seraya menganggukan kepalanya membuat Sehun membentuk lengkungan serupa pada wajahnya. Sehun segera menggandeng tangan Surin dan menarik gadis itu untuk berlari kecil menuju mobilnya yang terparkir dipinggir jalan sementara hujan masih mengguyur bumi dengan derasnya.

Sesampainya mereka berdua di dalam mobil, hanya suara gemerutuk gigi masing-masing yang memenuhi mobil tersebut. Keadaan Sehun saat ini lebih parah dari pada Surin yang tadi cukup terlindungi oleh jas hujan kekecilannya. Meskipun Surin cukup basah karena jas hujan yang baru saja dibuangnya itu tidak mampu melindungi seluruh tubuhnya dari guyuran air hujan, namun setidaknya Surin tidak sebasah kuyup Sehun yang benar-benar tidak mengenakan pelindung apapun saat tadi ia turun dari mobilnya untuk menghampiri Surin.

Sehun hanya mengenakan kemeja putihnya dan celana bahan panjang beserta dasi berwarna hitam yang letaknya sudah tidak beraturan. Seketika Surin baru sadar bahwa pakaian Sehun saat ini adalah pakaiannya untuk ke acara pesta dansa. Surin benar-benar merasa bersalah sekarang. Selain karena ia sudah berbohong pada Sehun sehingga laki-laki itu tidak jadi menghadiri acara pesta dansa yang sangat ingin dihadirinya itu, Surin juga merasa bersalah karena ia sudah membuat Sehun basah kuyup seperti sekarang ini.

Sehun bahkan sudah bersin berkali-kali membuat Surin langsung khawatir. Surin tahu betul Sehun paling tidak bisa terkena air hujan. Laki-laki itu akan langsung terserang flu jika kepalanya terkena rintik-rintik air hujan. Surin menyalakan penghangat mobil kemudian mengelap wajah dan rambut Sehun yang basah dengan tisu yang diambilnya dari dashboard mobil.

“Aku akan mengantarmu pulang sekarang.” Ujar Sehun seraya mulai bersiap untuk melajukan mobilnya. Baru saja ia akan menginjak gas tiba-tiba Sehun kembali bersin berkali-kali membuat Surin menjadi benar-benar tidak tega. “Apartment-mu lebih dekat dari sini. Kita ke apartment-mu dulu saja. Aku akan membuatkanmu sup hangat sebelum kau benar-benar terserang flu berat.” Sehun mengangguk kemudian segera melajukan mobilnya dijalanan Seoul yang saat itu cukup ramai meskipun hujan deras terus turun tanpa henti.

Tiba-tiba ucapan Sehun yang membuat jantungnya berdesir beberapa puluh menit yang lalu, terngiang di dalam kepalanya membuat Surin dengan begitu saja tersenyum senang seraya mengalihkan pandangannya ke jendela kaca yang berada disampingnya. Kata-kata Sehun itu benar-benar membuat Surin merasa berarti sekaligus bahagia dalam waktu yang bersamaan. Surin merasa bahagia karena Tuhan mempersatukannya dengan Sehun, laki-laki yang tulus mencintainya.

“Aku mencintaimu karena kau adalah kau, Jang Surin.”

 

**

“Cepat sana mandi, aku akan membuatkanmu sup hangat.” Surin berujar seraya langsung berjalan menuju dapur dan mengecek persediaan bahan makanan di dalam lemari pendingin sesampainya mereka di apartment milik Sehun. “Ya, Surin-a! Kau pikir aku akan membiarkanmu dengan bajumu yang basah seperti itu?” Sehun segera menghampiri Surin lalu laki-laki itu meletekan tangannya pada kedua bahu Surin seraya menuntun gadis itu menuju kamar tidurnya.

“Kau juga harus mandi dan mengganti pakaianmu yang basah itu. Pilihlah pakaianku di lemari itu. Kau tahu? Pakaianmu saat ini benar-benar sangat berbahaya.” Sehun tertawa sementara Surin langsung menjauh dari laki-laki itu dengan gerakan was-was. “Maksudku berbahaya karena pakaian basahmu itu dapat membuatmu terserang flu. Memangnya kau berpikir apa?” Sehun berujar meledek kemudian berjalan menuju lemari pakaiannya. Sehun segera mengambil pakaian gantinya dan juga dua handuk baru untuknya dan Surin.

“Aku akan mandi di kamar mandi tamu. Kau mandi di kamar mandi itu saja.” Sehun berujar seraya menunjuk pintu kamar mandi yang berada di sudut kamarnya kemudian berjalan meninggalkan Surin di kamar tersebut. Surin dapat mendengar laki-laki itu bersin berkali-kali membuat Surin langsung merasa cemas. Surin harus buru-buru mandi dan segera memasakan sup hangat untuk laki-laki itu.

Baru saja Surin akan membuka lemari pakaian milik Sehun, tiba-tiba terdengar seruan Sehun dari luar kamar. “Surin-a, cepat ganti pakaianmu karena aku dapat melihatnya!” Seru Sehun membuat wajah Surin langsung berubah menjadi merah seperti tomat matang. “Melihat kemeja hitammu yang basah maksudnya. Jangan coba-coba untuk berpikir yang tidak-tidak!” Seru Sehun lagi dan setelah itu terdengar suara tawa jahil laki-laki itu juga bersin serta batuk yang tidak berhenti. “Oh Sehun! Kau benar-benar menyebalkan!”

Setelah dua puluh menit membersihkan diri, Surin segera berjalan menuju dapur. Sehun tampak duduk di sofa ruang tamu seraya mengeringkan rambutnya. Sesekali laki-laki itu bersin membuat Surin menggelengkan kepalanya seraya menghela napas. “Rasakan akibatnya. Siapa yang menyuruhmu menghampiriku tanpa payung ditengah hujan deras seperti itu?” Ujar Surin sementara Sehun hanya membalasnya dengan suara bersin.

Surin segera membuatkan susu cokelat hangat dan tidak lama ia langsung berjalan menuju Sehun untuk menyerahkan susu cokelat tersebut. “Terima kas—huachi!!” Sehun kembali bersin membuat Surin lama-kelamaan menjadi tidak tega terutama ketika melihat hidung laki-laki itu yang sekarang terlihat merah. Surin langsung duduk disebelah Sehun kemudian gadis itu membantu Sehun untuk mengeringkan rambutnya dengan handuk yang sekarang ini terletak diatas kepala laki-laki itu sementara Sehun tampak asik menikmati susu cokelatnya.

Tanpa sengaja tangan Surin menyentuh tengkuk Sehun dan seketika gadis itu benar-benar panik. Surin langsung memegang dahi Sehun untuk memastikan temperatur tubuh laki-laki itu. “Astaga, Oh Sehun. Kau terserang demam tinggi. Tunggu disini, kau harus makan dan segera meminum obat.”

Surin buru-buru berjalan menuju dapur dan mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan yang dibutuhkannya dari dalam lemari pendingin. Surin juga mempersiapkan semua alat-alat untuk masak dan setelah itu ia mulai mencuci sayuran juga daging yang akan dimasaknya dengan tergesa-gesa. Surin tampak benar-benar sibuk menguasai dapur apartment Sehun sementara laki-laki itu hanya tersenyum sambil memperhatikannya dari jauh. Ya, saat ini Sehun tengah menyandarkan dirinya pada tembok yang berada di sebelahnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

Sehun tampak benar-benar menikmati pemandangan yang berada dihadapannya sekarang ini sampai-sampai matanya benar-benar tidak terlepas dari sosok Surin yang berdiri membelakanginya itu. Surin berjalan ke sana dan kemari dengan tergesa, tangannya pun tampak sibuk dengan ini dan itu membuat Sehun tertawa kecil karena baginya hal itu benar-benar sangat menggemaskan.

Setiap kali Surin menunjukan rasa perhatiannya pada Sehun, laki-laki itu merasa semakin jatuh hati pada sosoknya. Tapi kali ini berbeda. Sehun merasa jatuh hati dua kali lipat pada Surin. Selain karena rasa perhatian gadis itu untuknya, Sehun benar-benar merasa jantungnya berdesir karena baru menyadari bahwa sekarang gadis itu tampak sangat manis dengan balutan kemeja putih kebesaran miliknya. Kemeja putih itu terlihat seperti baju terusan selutut di tubuh Surin membuat Sehun semakin gemas dibuatnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan disitu? Sana duduk dan istirahat saja.” Surin berujar tanpa melihat Sehun setelah sebelumnya ia menangkap laki-laki itu tengah memperhatikannya sambil berdiri bersandar pada tembok. Alih-alih menuruti perkataan Surin, Sehun malah berjalan mendekat ke arah Surin dan langsung memeluk gadis yang tengah memotong sayur-sayuran itu dari belakang. Sehun mengeratkan pelukannya pada pinggang Surin membuat gadis itu dapat merasakan suhu tubuh Sehun yang hangat menjalari punggungnya. “Oh Sehun, suhu tubuhmu benar-benar tinggi sekarang.” Ujar Surin ketika rasa hangat itu semakin terasa pada punggungnya.

Sehun tidak menjawab dan malah meletakan dagunya pada puncak kepala Surin seraya memejamkan kedua matanya ketika aroma segar shampoo dapat dihirupnya dari rambut gadis itu yang belum kering sepenuhnya.

“Surin-a.” Panggil Sehun membuat Surin langsung menjawabnya dengan gumaman. Gadis itu berjalan untuk mengambil bumbu di rak yang terdapat diatasnya dengan Sehun yang masih betah memeluk tubuhnya. Gerak Surin menjadi jauh lebih lambat karena Sehun terus saja memeluknya dari belakang sementara Surin harus kesana dan kemari untuk mengambil bahan-bahan yang hendak dimasukannya pada panci berukuran sedang berisi sup yang sudah setengah jadi itu.

“Surin-a.” Panggil Sehun lagi membuat Surin langsung berdecak. “Ada apa?” Surin berujar tidak sabar sementara Sehun langsung tertawa kecil. “Tidak apa. Hanya ingin memanggil namamu saja.” Ujarnya seraya terus mengikuti gerak-gerik Surin tanpa berniat untuk melepaskan pelukannya dari tubuh Surin yang jauh lebih kecil darinya itu.”Ya, Oh Sehun! Dari pada berujar tidak penting seperti itu lebih baik ambilkan aku bumbu yang itu karena aku tidak dapat menggapainya.” Surin berusaha dengan susah payah untuk mengambil bumbu tersebut namun tidak kunjung didapatkannya membuat Sehun tertawa terbahak sebelum akhirnya ia membantu gadis itu untuk mengambil bumbu tersebut.

“Sudah sana duduk saja. Sebentar lagi supnya akan segera matang.” Sehun menggeleng kemudian mengalihkan dagunya yang masih menempel dipuncak kepala Surin pada bahu gadis itu. “Aku hanya ingin memberitahumu bahwa kau tampak benar-benar cantik dengan kemeja putihku ini.” Ujar Sehun membuat semburat merah mulai menghiasi kedua belah pipi Surin. Gadis itu mati-matian menahan senyumannya sementara Sehun yang melihat hal itu langsung mendaratkan kecupan singkatnya pada sebelah pipi Surin. “Kalau mau senyum, senyum saja tidak usah ditahan seperti itu.” Surin langsung menyikut perut laki-laki itu membuat Sehun langsung melepaskan pelukannya dan mengaduh kesakitan.

“Rasakan hukumanmu itu. Sudah sana cepat duduk disitu. Supnya sudah matang. Kau harus segera makan lalu meminum obat, setelah itu kau harus beristirahat.” Ujar Surin dengan tegas membuat Sehun akhirnya menuruti ucapan gadis itu dengan duduk pada kursi yang terletak dibelakang meja makan berbentuk persegi.

Surin yang sudah siap dengan sup buatannya segera meletakan mangkuk berisi sup tersebut dimeja yang berada dihadapan Sehun. Sehun tersenyum senang kemudian laki-laki itu menepuk kursi yang berada disebelahnya, bermaksud untuk menyuruh Surin duduk disitu. “Tanganku lemas dan aku tidak kuat mengangkat sendok.” Ujar Sehun membuat Surin menghela napasnya, mengerti akan maksud Sehun berkata demikian. “Baiklah, bayi besar. Sekarang, buka mulutmu.” Surin mengambil alih mangkuk tersebut dan menyendok potongan kentang pada sup tersebut seraya mengarahkan sendok itu pada Sehun yang langsung melahapnya.

“Sehun-a, aku ingin meminta maaf padamu.” Surin berujar sambil terus melanjutkan kegiatannya menyuapi Sehun. “Pertama, aku telah membohongimu sampai-sampai kau tidak jadi datang ke acara pesta dansa yang sangat ingin kau hadiri itu. Kedua, aku telah membuatmu terserang flu seperti sekarang ini. Aku minta maaf. Kau mau memaafkanku, kan?” Sehun tampak menimbang pertanyaan Surin barusan membuat gadis itu langsung menatap Sehun dengan tatapan memohonnya. “Baiklah. Aku akan memaafkanmu.” Surin langsung bertepuk tangan dengan senang tapi kemudian tepuk tangannya berhenti setelah mendengar ucapan Sehun berikutnya. “Tapi dengan satu syarat.”

“Aish, kau benar-benar menyebalkan. Apa lagi sekarang?” Tanya Surin dengan gemas sementara Sehun langsung bangkit dari tempat duduknya. Surin terus memperhatikan laki-laki yang kini tengah berjalan menuju alat pemutar musik yang terletak tepat disebelah televisi. Tidak lama setelah Sehun berkutat pada ponselnya untuk memilih musik yang tepat, sebuah musik klasik bernada lembut mengalun memenuhi ruangan. Sehun berlari kecil dari ruang tamu menuju ke arah Surin. Ia menjulurkan telapak tangannya pada Surin membuat gadis itu tertawa kecil.

“Oh ayolah, Oh Sehun. Kau sedang sakit. Kau harus segera menghabiskan sup-mu dan meminum obat, setelah itu kau harus langsung tid—”

Ucapan Surin terhenti begitu saja ketika sekarang ini Sehun menarik tangannya dan membawanya menuju ke ruang tamu. “Syaratnya adalah kau harus menjadi pasangan dansaku malam ini.” Surin tertawa, bermaksud meledek syarat dari Sehun barusan. “Ya! Aku serius.” Sehun langsung menarik Surin mendekat padanya dan dengan cepat memeluk pinggang gadis itu. “Sekarang, letakan tanganmu seperti ini.” Sehun mengalungkan kedua tangan Surin pada lehernya sementara gadis itu hanya tersenyum sambil terus menatap kekasihnya yang jika dilihat dari jarak sedekat ini semakin bertambah tampan.

Sehun mengeratkan pelukannya pada pinggang Surin, seakan tidak ingin menyisahkan jarak sedikitpun diantara mereka. Sehun mulai menuntun Surin untuk berdansa mengikuti alunan musik klasik yang memenuhi ruangan tersebut. Sehun menatap kedua manik mata milik Surin dengan senyuman yang tidak berhenti mengembang diwajahnya. Sehun tidak tahu mengapa ia sebahagia ini sekarang. Mungkin karena Surin yang sekarang ini benar-benar berjarak dekat dengannya juga karena tatapan lembut dari kedua matanya serta senyuman manis gadis itu yang tidak pernah membuat Sehun lelah untuk mengaguminya.

“Seharusnya hari ini kita dapat berdansa seperti ini di lantai dansa yang sebenarnya. Sehun-a, aku hanya ingin meminta maaf sekali lagi padamu.” Surin berujar membuat Sehun tersenyum singkat. “Berjanjilah satu hal padaku. Berjanjilah kau akan keluar dari organisasi itu secepatnya. Aku tidak tahan melihatmu harus mengerjakan semua perintah tidak masuk akal dari senior-seniormu itu. Janji?” Sehun tersenyum ketika Surin mengangguk dengan yakin.

“Baiklah, aku berjanji. Ah, dan aku ingin meminta maaf lagi karena seharusnya hari ini kau melihatku tampil cantik dengan gaun hitam panjang yang kau sukai itu saat kita tengah berdansa. Tapi sekarang bukannya tampil cantik, aku benar-benar tampak berantakan seperti ini.” Surin berujar membuat Sehun segera menyentil dahi gadis itu. Surin sibuk mengaduh kesakitan sementara Sehun tertawa kecil. Laki-laki itu kemudian mengecup dahi Surin, bermaksud menghilangkan rasa sakit tersebut. “Bukankah aku sudah bilang padamu bahwa kau tampak sangat cantik dengan kemeja putihku ini?” Sehun kembali memeluk pinggang Surin yang sedang tersipu akibat ucapannya barusan, melanjutkan dansa mereka yang sempat terhenti.

Mereka berdua kembali berdansa mengikuti alunan musik, sambil terus menatap kedua bola mata satu sama lain, seolah sekarang ini mereka sedang bercakap-cakap melalui kontak mata mereka juga senyuman manis yang terulas baik diwajah Sehun maupun Surin. “Aku tidak pernah tahu bahwa berdansa rasanya seperti melayang diudara seperti ini.” Ujar Surin membuat Sehun langsung terbahak.

“Kau memang sedang melayang diudara. Coba lihat kakimu.” Surin langsung melihat kebawah dan mendapati telapak kakinya sekarang ini berada tepat diatas kedua kaki Sehun. Seketika ruangan tersebut langsung dipenuhi oleh gelak tawa keduanya. Musik klasik bernada lembut itu pun berganti menjadi musik bertempo cepat membuat Sehun langsung mengeratkan pelukannya pada pinggang Surin dan mulai berdansa dengan gerakan cepat, mengikuti irama musik bertempo cepat tersebut. Ya, telapak kaki Surin masih berada tepat diatas kaki Sehun membuat gadis itu tidak dapat berhenti tertawa terutama ketika saat ini Sehun mempercepat gerakan dansanya.

Sehun yang tengah tertawa sambil terus membawa Surin berdansa dengan gerakan cepat itu tidak melihat pinggiran sofa yang berada dibelakangnya membuat tubuh Sehun saat itu langsung oleng begitu saja. Yang Sehun tahu saat ini ia sudah tergeletak di sofa berukuran besar tersebut dengan Surin yang berada diatas tubuhnya. Surin yang panik ketika baru menyadari posisi mereka sekarang ini, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan dirinya dari Sehun tapi laki-laki itu malah dengan jahilnya mengunci tubuh Surin dengan pelukan tangannya yang kuat pada pinggang Surin.

Sehun menyelipkan rambut Surin kebelakang daun telinga gadis itu membuat Surin dengan seketika mati-matian menahan debaran jantungnya yang seakan ingin melompat dari tempatnya saat itu juga, terutama ketika Sehun dengan perlahan menyentuhkan ujung hidungnya dengan ujung hidung Surin. Sungguh, Surin merasa perutnya benar-benar diremas ketika matanya malah tidak dapat diajak berkerja sama dengan otaknya. Kini Surin malah mengedarkan pandangannya ke seluruh inci wajah Sehun, sibuk mengagumi keindahan yang telah Tuhan ciptakan itu. Pandangannya terhenti pada bibir Sehun yang berwarna merah muda natural dan berbentuk sempurna itu. Surin langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat membuat Sehun yang melihat hal itu spontan tertawa terbahak dibuatnya.

“Ya, Jang Surin. Mengapa kau menggelengkan kepalamu dengan tiba-tiba seperti itu?” Sehun berujar jahil membuat Surin langsung menyentil dahi laki-laki itu dengan keras. “Berhenti menjahiliku dan lepaskan aku sekarang juga atau aku akan menyentil dahimu jauh lebih keras dari tadi.” Ancam Surin membuat Sehun hanya tertawa tanpa sekalipun berniat menuruti ucapan Surin barusan.

“Surin-a, kau tahu? Sedari kecil aku sudah menari. Aku sudah banyak tampil dipanggung besar dan juga dihadapan banyak orang. Aku juga sudah memenangkan banyak penghargaan karena hal tersebut. Aku bahagia melakukan itu semua, tapi aku belum pernah merasa sebahagia ini sebelumnya ketika menari.” Sehun berujar seraya menatap lurus kedua bola mata Surin.

“Dan aku yakin alasan dibalik kebahagiaanku hari ini adalah karena kau. Kau tidak keberatan kan menjadi pasangan dansaku setiap hari?” Sehun tersenyum ketika Surin menganggukan kepalanya dengan lengkungan serupa persis seperti milik Sehun.

“Aku menyayangimu, Oh Sehun.” Ujar Surin dengan tiba-tiba membuat kebahagiaan yang dirasakan Sehun seolah terasa semakin lengkap.

“Aku juga menyayangimu, Jang Surin.” Surin dapat mendengar nada yang benar-benar tulus dari ucapan Sehun barusan. “Sangat menyayangimu.” Ujarnya kemudian Sehun memperkecil jarak diantara mereka sampai akhirnya ia berhasil mendaratkan bibirnya pada bibir Surin yang selalu berhasil membuat jantungnya hendak meloncat begitu saja dari tempatnya setiap ia merasakan rasa manis buah cherry dari lip balm yang selalu Surin kenakan.

Seketika Surin merasa beruntung karena telah memiliki Sehun. Disaat Surin merasa dirinya tidak mempunyai apapun yang dapat dibanggakannya pada Sehun, disaat Surin merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ratusan penggemar Sehun diluar sana, disaat Surin merasa ia tidak pantas menjadi pendamping Sehun, laki-laki itu selalu berusaha untuk memberitahu Surin bahwa ia sangatlah berarti.

Surin merasa benar-benar beruntung.

-FIN.

 

HUWAAAAAA. Lagi dalam mood fluffy se-fluffy fluffynya fluffy. Maaf ya kalo kebanyakan romantic scene yang bikin merinding(?) Belakangan ini aku makin gak tahan(?) liat Sehun kalo lagi pake kemeja putih. Sebenernya gak cuma kemeja putih aja yang bikin hati ini dag dig dug ser. Kemeja biru, kemeja hijau gelap, kemeja hitam, kemeja pink ah pokoknya kalo Sehun pake kemeja bawaannya pengen tubruk, peluk sampe besok. Kalo lagi pake kemeja, punggungnya yang pelukable itu jadi makin lebar terus badannya juga makin tinggi huhuhu! Nah, efek kemeja putih dan kemeja-kemeja Sehun yang lain, jadi pengen nulis ff yang fluff abis. Maafkan kenistaan ini AHAHA. Semoga manisnya ff ini nyampe juga ya ke kalian!

Semoga juga ffnya gak ngebosenin ya. Terima kasih sudah mau sempetin baca bahkan sampe kata-kata terakhir ini! Please send your thoughts about this ff on the comment box!

Don’t forget to visit my own wp -> http://ohmarie99.wordpress.com there’s so many Sehun’s ff that you can read only on my wordpress! >< See you on the next ff!

One thought on “Lucky One

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s