Another Me (Chapter 6)

IMG-20160130-WA0000

 

Title                 : Another Me

Author             : Jojjomi

Length             : chapters

Genre              : Fantasy, romance, family

Rating             : T

Cast                 : Kwon Alice, Oh Sehun (EXO), and many more.

A/N                 : this story belong to me. Info tentang makhluk – makhluk fiksi dalam cerita           ini dapat dari beberapa FF fantasy lain dan google tentunya.

 

Chapter 6

Look at the mirror! You’ll find another reflection of yours…

Siang itu seperti biasanya kepala sekolah akan berkeliling di kastil sekolah. Sekedar mengawasi kegiatan di dalam kelas atau menyapa beberapa anak-anak yang berkeliaran di koridor. Mr. Song selalu menyempatkan diri ditengah waktunya yang begitu sibuk mengurus sekolah dan bolak balik ke rumahnya yang berada di langit. Terkadang dia harus pergi ke kantor kementrian untuk sekedar melapor keadaan Cove Crown.

Song Il kook. Usianya sudah berabad-abad lamanya. Malaikat yang sangat disegani dimanapun. Tak ada makhluk yang tidak takut dengannya. Beliau sempat ikut dalam perang yang terjadi di tanah Cove Crown berdiri sekarang. Memperjuangkan undang-undang perdamaian antar iblis.

Beliau melewati koridor belakang kastil sekolah. Disana ia bertemu dengan vampir muda, putri dari vampir terkuat yang sangat ia kenal juga. Tidak perlu memanggil vampir itu karena vampir itu sudah menghadapkan tubuhnya pada Mr. Song kemudian membungkuk memberi hormat pada kepala sekolahnya. Aura energi kekuatan milik malaikat seumur Mr. Song sudah vampir itu rasakan jauh sebelum Mr. Song berada di dekatnya, itu mengapa ia langsung menyadari keberadaan malaikat paruh baya itu.

“kenapa hanya sendiri? Dimana Yinghan?” tanya kepala sekolah begitu sudah berada di samping Alice. Alice tau kepala sekolah hanya berbasa basi. Beliau pasti tau dimana sahabatnya itu berada dan sedang apa sekarang tanpa perlu bertanya lagi.

“sedang berada di kelas pengendalian khusus malaikat” jawab Alice lembut. Ia jawab juga sebagai tanda hormat atas pertanyaan kepala sekolah.

“aku senang kau bisa berteman baik dengan kaum kami” ucap Mr. Song tiba-tiba membuat Alice mengerutkan dahinya. Tidak paham dengan perkataan beliau.

“bukankah memang sudah seharusnya seperti itu? Undang-undang perdamaian yang anda perjuangkan ribuan tahun lalu tentunya diajarkan oleh orang tuaku pada semua anak-anaknya”

Suara tawa Mr. Song yang begitu besar memenuhi koridor belakang kastil sekolah. Tangannya menepuk pundak Alice dengan pelan.

“ya ya ya. Dan kau harus bersyukur dengan kehidupanmu sekarang, karena sudah mengorbankan banyak hal. Kalau saja hal itu tidak terjadi, takdirmu tidak akan berada sedekat ini padanya” dagu Mr. Song mengendik ke arah belakang Alice. Buru-buru Alice menolehkan kepalanya menuju arah tatapan Mr. Song. disana ada Sehun berdiri. Sepertinya anak itu baru datang dari lapangan belakang kastil. Sehun memasang tampang bingungnya mengapa kepala sekolah dan Alice menunjuk padanya.

Kembali tawa Mr. Song yang menggelegar terdengar disepanjang koridor. Alice menatap kepergian Mr. Song dengan kebingungan melanda pikirannya. Apa maksud semua pembicaraan dari kepala sekolah? Takdir? Bersyukur? Membawa Sehun dalam ucapannya juga.

Kepala sekola mengusak rambut coklat Sehun sembari berjalan melewatinya keluar kastil. Segera vampir laki-laki itu berlari menghampiri Alice.

“apa yang dia katakan?” tanya Sehun penasaran kenapa kepala sekolah menunjuk dirinya saat ia baru saja memasuki koridor.’

“dia? siapa yang kau maksud dengan ‘dia’?” tanya Alice balik.

“kepala sekolah tentu saja. Siapa lagi yang berbicara denganmu barusan memangnya?”

“kau benar-benar tidak punya sopan santun sedikitpun ya, Oh Sehun. Kau ‘men-dia-kan’ kepala sekolah? Apa orang tuamu tidak mengajarkanmu tata krama?” Alice sudah tidak mengerti lagi dengan sifat Sehun yang kurang ajar bahkan pada kepala sekolah.

“memang tidak. Kau fikir kau selalu berlaku sopan huh?”

Kalimat Sehun barusan begitu menampar wajah Alice. Iya memang benar terkadang Alice juga berlaku tidak sopan pada beberapa orang. Tapi ini kepala sekolah, beda lagi urusannya. Dan Sehun tidak pernah berlaku sopan pada siapapun!

“aku betanya padamu, apa yang dikatakan kepala sekolah tadi?” ulang Sehun.

‘kenapa kau ingin tau sekali? Bukan urusanmu juga!”

Selalu saja bertengkar. Seperti tak ada hal lain yang dapat mereka lakukan selain bertengkar ketika tidak sengaja bertemu.

Sehun POV-

“jujur saja aku merasa terkhianati karena kau lebih suka menghabiskan malammu untuk menghabiskan berkantung-kantung darah bersama Alice daripada tidur denganku” suara Chanyeol menyapaku begitu aku memasuki kamar kami berdua. Dia sedang duduk di pinggir ranjangnya sembari melipat kedua tangannya didepan dada. Memasang wajah kesalnya yang dibuat-buat.

“sudahlah, Yeol. Kalimatmu soal tidur denganmu itu sungguh membuatku mual!”

Berjalan menuju ranjangku setelah melepas jaket dan menggantungkannya pada tempat gantungan pakaian.

“ayolah, Hun. Akui saja kau mulai menyukai vampir itu” senyuman miring terlihat di wajah pucat Chanyeol. Manik merahnya menelisik wajahku, berusaha membaca pikiranku. Selalu saja hal ini yang ia bicarakan setiap kali aku kembali setelah bertemu Alice.

“jangan membuat gosip. Setiap kalimat yang keluar dari mulutmu itu begitu berpengaruh di seluruh sekolah” kilahku sembari membaringkan tubuh diatas ranjang.

“kau fikir bisa menyembunyikannya dariku? Jangan lupa kau tidak akan bisa menutup pikiranmu dariku. Aku bisa baca semua apa yang kau pikirkan” masih duduk ditempatnya tadi, Chanyeol terus menatapku tanpa berkedip.

Tapi apa benar kalau aku menyukai Alice? Kebersamaanku dengannya beberapa bulan ini membuatku sedikit mengenal sisi lain dalam dirinya. Dia tidak terlalu angkuh seperti yang aku tau sebelumnya. Aku hanya merasa senang dan nyaman berada didekatnya. Apa itu perasaan suka? Cinta?

“kau cemburu? Takut kalau aku direbut Alice?” sedikit menggodanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Sebelah mataku mengerling menggoda pada vampir yang sudah menjadi sahabatku lebih dari setahun.

“menjijikkan! Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku ingin mengajakmu bekerja sama. Bulan depan liburan akhir tahun, sepertinya tidak ada salahnya kalau kita berdua memulai semuanya pada saat itu. Bagaimana?”

Bibir Chanyeol semakin mengembang membentuk sebuah seringaian lebar. Melanjutkan maksud ucapannya barusan melalui pikirannya bersamaku. Merencanakan sesuatu yang pastinya menguntungkan bagi kami berdua.

-Author POV-

Mata Alice begitu berbinar menatap limosin yang terparkir didepan gerbang Cove Crown. Kaki kecilnya berlari menghampiri mobil tersebut sembari melambaikan tangannya pada laki – laki yang baru keluar dari dalam limosin itu.

“Seunghyun!!” pekik Alice senang melihat siapa yang menjemputnya.

“sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah sepertinya” ucap laki – laki tinggi itu begitu Alice berhenti tepat di depannya.

“tidakkah kau lihat wajahnya yang begitu bahagia?” suara Hanbin menyauti tiba-tiba dari belakang Alice, disusul suara tawa dari Hanbin dan Seunghyun.

Alice tidak memperdulikan ejekan kakaknya dan Seunghyun, anak buah kepercayaan daddynya, gadis itu langsung masuk ke dalam mobil dan bersandar santai. Mulai membayangkan hal-hal apa saja yang akan ia lakukan begitu sampai di rumah nanti. Sudah lama ia menantikan hari ini, akhirnya liburan musim dingin sudah datang. darah dalam tubuhnya berdesir begitu cepat tidak sabar ingin menemui daddynya dan bertanya apapun mengenai keanehan yang dia alami selama ini.

Dari dalam mobil, Alice bisa melihat mobil Audy yang terparkir tepat didepan limosin yang ia naiki. Kedua maniknya tertarik menatap laki-laki paruh baya disamping audy hitam itu. Tidak. Bukan hanya karna pria paruh baya itu yang membuatnya tertarik, tapi ada Sehun disana, beberapa saat yang lalu Alice melihat Sehun menghampiri pria itu kemudian membungkukkan badannya sopan.

Sepertinya itu Ayahnya Sehun datang untuk menjemput putranya. Memang jika hari terakhir sebelum liburan, para orang tua akan datang ke Cove Crown untuk menjemput anak-anak mereka. tidak heran juga ada begitu banyak mobil yang terparkir didepan gerbang.

Bibir Alice tersenyum miring menatap interaksi Sehun dengan ayahnya. Cih! Bisa juga dia bersikap begitu sopan pada orang yang lebih tua darinya, biasanya saja dia begitu tidak sopan dan tidak peduli jika berbicara pada para guru maupun kepala sekolah sekalipun.

“sudah selesai memandangi pujaan hatimu itu, tuan putri?” Hanbin yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya menyenggol lengan Alice sembari menyindir ndan mengendikkan dagunya ke arah dimana Sehun dan Ayahnya berada diluar mobil mereka. sedangkan adiknya itu hanya mendecil sebal, malas untuk menanggapi ejekan kakaknya, memilih untuk memejamkan matanya sembari menunggu Bobby dan kedua adik kembarnya memasuki mobil.

“haahh~ senangnya bisa bertemu denganmu di waktu liburan seperti ini”

“hmm… aku juga sangat senang karena kau mau turun dari langit hanya untuk menemuiku”

Yinghan semakin mempererat pelukannya di lengan kurus Alice. Rasa senangnya tidak bisa ia bendung lagi, rasanya ingin memeluk Alice terus sekuat tenaganya. Alice sendiri juga tidak kalah senangnya dengan Yinghan, sejak pertama mereka kenal, baru kali ini Yinghan mau turun dari langit saat liburan sekolah hanya untuk jalan-jalan dengannya. Sungguh diluar dugaan Alice.

Tadinya ia pikir ia akan nekat menerobos ribuan awan – awan diatas sana untuk mencapai kediaman sahabatnya itu jika saja pada musim liburan rasa rindunya pada Yinghan tidak dapat dia tahan lagi.

Eh? tapi hal itu tidak akan bisa dia lakukan, biarpun vampir bisa terbang, mau terbang setinggi apapun juga makhluk lain selain malaikat sendiri tidak akan bisa menemukan dimana pemukiman atas awan milik para malaikat.

Sore tadi Alice sedang duduk santai di ruang keluarga bersama dengan Jennie. Ketika sampai di rumah, Alice dan Jennie akan menjadi remaja layaknya manusia biasa, membicarakan masalah fashion, artis idola, hingga kecantikan dan perawatan tubuh. Begitu juga yang ia lakukan saat itu dengan adiknya. Hingga aura malaikat yang sudah sangat ia kenal menguar di sekeliling rumahnya, vampir pemilik surai bergelombang itu segera melompat dari sofa dan melesat menuju pintu utama rumah keluarga Kwon.

Dan benar saja, begitu dia berhenti diambang pintu, dia melihat sosok malaikat cantik baru saja menyentuhkan kaki kecilnya pada halaman rumah Alice. Dari kejauhan sayap besar dan berbulu milik malaikat itu terlihat begitu indah, warna ungu pada sayap itu yang Alice mulai lihat saat hari pertama masuk sekolah beberapa bulan lalu semakin terlihat begitu kentara sekarang.

“apa ada masalah besar di langit sampai membuatmu mau turun ke bumi saat musim liburan sekolah begini?” sindir Alice sembari berkacak pinggang ketika malaikat berambut panjang tadi berjalan mendekatinya. Para vampir penjaga di sekitar rumahnya tampak begitu waspada mengawasi pergerakan si malaikat.

“tenang saja, gadis ini temanku. Kalian tidak usah tegang begitu” teriak Alice pada para penjaga.

“apa kau tidak mau memelukku? Kau fikir tidak jauh terbang menuju kemari huh?”

“oh jangan berlagak kau Xi Yinghan! Kau pasti berteleportasi setengah jalan tadi. Aku tau itu!”

Kedua gadis beda ras itu tertawa bersama sembari memberi pelukan hangat. Baru saja satu minggu sejak terakhir mereka bertemu di sekolah, rasanya sudah merindukan satu sama lain. Yinghan bilang ingin jalan-jalan dengan Alice, menikmati liburan yang sesungguhnya. Dan begitulah, hingga sekarang mereka berada di daerah pasar malam kota Seoul.

Tiba-tiba saja tangan Yinghan menggenggam pergelangan tangan kiri Alice begitu erat, memaksanya untuk berhenti berjalan. “ung.. El… sebelumnya aku minta maaf ya…”  ucap Yinghan lirih sembari menundukkan kepalanya.

Biarpun rasa senang yang Yinghan rasakan ketika bertemu Alice begitu besar, perasaan bersalahnya pada sahabat vampirnya itu juga tidak bisa ia tutupi. Ia berusaha sebaik mungkin menutupi kegelisahannya karena mengajak Alice keluar jalan-jalan.

“minta maaf untuk apa Yi?” kedua manik biru Alice menatap Yinghan khawatir bercampur curiga.

“ya apapun itu tolong maafkan aku… aku tidak bermaksud membohongimu tapi aku… ah! Yang jelas aku min-“

“oyy!! Yinghan! Alice!”

Saat belum sempat Yinghan menyelesaikan kalimatnya, kedua gadis itu mendengar suara husky yang sangat familiar. Suara itu sering sekali Yinghan dengar dimanapun dia berada selama di sekolah, kecuali ketika di kamar mandi dan asrama putri tentunya.

“Park Chanyeol?! Oh Sehun?!!” pekik Alice tidak percaya. Matanya membulat begitu melihat dua sosok vampir sedang berjalan mendekati mereka dari arah kanannya.

Gadis vampir itu kembali mengarahkan pandangannya pada malaikat di depannya, berusaha mencari kebenaran atas apa yang dia pikirkan tentang situasi yang sedang terjadi saat ini. kepala Yinghan mengangguk kecil mengiyakan dugaan Alice.

“sudah lama menunggu?” ucap Chanyeol begitu sudah berdiri di dekat Alice dan Yinghan. “maaf kami terlambat ya” cengiran khas milik Chanyeol mengakhiri ucapan maafnya.

Alice berusaha tidak peduli dengan apapun yang dilakukan Chanyeol kali ini. sesungguhnya dia ingin marah, kalau bisa mematahkan leher Chanyeol dan menginjak kepala bocah itu juga akan dia lakukan saat ini juga. Tapi biarpun dia vampir setidaknya dia masih punya sedikit hati nurani, dia tidak mau merusak kesenangan sahabatnya.

Ya, ketika Yinghan minta maaf padanya kemudian dengan tidak disangka Chanyeol muncul bersama Sehun, Alice sudah bisa menebak bahwa ini adalah rencana gila yang datang dari otak gila milik vampir gila bermarga Park itu!

 

Kenapa harus Sehun?! Kenapa harus vampir menyebalkan itu yang Chanyeol ajak bersamanya untuk rencana double date atau apalah ini?! kenapa vampir bertelinga lebar itu tidak membawa sahabatnya yang lain? Jongin begitu, atau siapalah yang penting bukan Oh Sehun. Park Chanyeol sialan!

Alice sangat membenci kecanggungan yang terjadi antara dirinya dengan Sehun. Mengingat bagaimana anggapan teman-teman mereka di sekolah tentang hubungannya dengan Sehun. Sungguh, rasanya canggung sekali harus berhadapan dengan Sehun saat ini. apalagi sekarang Chanyeol dan Yinghan pergi entah kemana, meninggalkan mereka berdua yang kini sedang berdiri canggung seperti patung di depan sebuah toko elektronik.

 

-Sehun POV-

Kalau saja Chanyeol bukan sahabat baikku, sesungguhnya aku tidak akan mau membantunya seperti ini. aku tau sejak kami tiba, bagaimana tidak sukanya vampir yang berdiri di depanku ini ketika dia tau kalau aku dan Chanyeol menjadi bagian dari acara jalan-jalan dengan sahabatnya.

Sebisa mungkin aku mencoba memulai percakapan dengannya tapi aku rasa hal itu tidak berguna, vampir angkuh itu sama sekali tidak perduli dengan apapun yang aku lakukan. Sial! Biarpun aku sedikit suka dengan rencana Chanyeol ini tapi kalau jadinya aku akan berakhir begitu canggung dengan Alice juga sama saja!

“arrhhh!! Sebenarnya kemana perginya mereka berdua eoh?! Pasti sahabatmu itu meminta Yinghan untuk membuat aura mereka berdua tidak bisa dirasakan agar kita tidak dapat menemukan mereka!” Alice mengeluh kesal sembari mengacak rambutnya. Kepalanya tidak berhenti bergerak menoleh kesana kemari masih berusaha mencari keberadaan Chanyeol dan Yinghan.

“apa kau tidak bisa bertelepati dengan Chanyeol? Kalau memang mereka mau menghabiskan waktu berdua kita bisa pamit pulang duluan begitu. Membuang waktu saja!”

Aku hanya menggeleng menanggapi perkataan Alice. Tanpa aku beritahupun pasti Alice tau kalau maksudku adalah tidak bisa bertelepati dengan Chanyeol karna bocah gila itu pastinya menutup pikirannya untuk terhubung dengan siapapun. Tidak mau diganggu sepertinya.

“ya sudah kalau begitu telpon saja dia! kalian pasti bawa handphone kan karna ini sudah tidak di lingkungan sekolah lagi.”

“sorry… yang perlu kau tau, kalau aku, Chanyeol, dan Jongin tidak memakai benda persegi yang biasa kau sebut smartphone. Benda itu tidak akan bertahan lebih dari satu jam di tangan kami bertiga” aku menggaruk tengkukku. Bisa aku lihat wajah Alice semakin kesal setelah mendengar ucapanku barusan. Ya mau bagaimana lagi, benda elektronik macam itu tidak bisa menahan kuatnya genggaman dan ketukan jari kami.

“kita benar-benar terjebak disini. Dimanfaatkan oleh telinga lebar itu!” dengus Alice.

“tapi aku senang bisa membantunya.” Aku mengulum senyum menanggapi kekesalan vampir di depanku. “kalau tidak membawamu juga, Yinghan tidak akan pernah mau turun dari langit saat sedang libur begini kan? tenang saja. Chanyeol tidak akan menyakiti sahabatmu” perlahan tanganku menepuk pundak Alice, berusaha menenangkannya. Aku tau dia juga sangat khawatir dengan keadaan Yinghan.

Setidaknya Alice sudah bisa tenang sekarang. Tidak banyak mengomel seperti tadi. Gadis itu berdiri didepanku sambil sibuk memainkan smartphone miliknya, dia berdiri membelakangi pintu kaca toko elektronik yang sudah tutup sejak sepuluh menit yang lalu.

Senang rasanya bisa melihatnya lagi. Mataku tidak bisa lepas memperhatikan setiap gerakan yang ia lakukan. Terkadang aku ikut tersenyum ketika dia tersenyum karena sesuatu dari smartphonenya. Ohh aku tidak tau kalau Alice bisa sedikit manusiawi ketika di luar sekolah begini. Sesaat yang lalu aku melihat Alice yang aku kenal di sekolah, tapi ketika dia tenang dan tersenyum begini aku seperti melihat sisi lain darinya. Manis. Dan aku suka.

“berhenti memandangiku terus Oh Sehun” gumam Alice tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari smartphonenya. Eoh sial! Dia tau kalau aku memperhatikannya sejak tadi. Aku lupa kalau dia vampir juga sama sepertiku, sensitifitasnya terhadap sesuatu disekitarnya begitu tinggi. Segera saja aku mengalihkan pandangankau kearah lain. Menatap pantulan diriku pada pintu kaca toko di belakang Alice.

Astaga tidak lagi!

Aku lupa kami sedang berdiri didepan sebuah pintu kaca. Kaca. Bayangan. Sosok mirip Alice itu ada lagi disana. Anehnya, kali ini sosok itu tidak menangis dan tidak berusahan meraih Alice seperti yang aku lihat sebelum – sebelumnya. Aku sedikit tercekat melihat matanya yang jelas sedang menatapku sambil menyunggingkan senyuman. Kenapa? apa dia benar sedang tersenyum padaku?

Tidak mungkin kalau penglihatanku sebagai vampir akan berkurang tanpa sebab apapun. Maksudnya, aku memang tidak salah lihat kalau makhluk itu tersenyum sambil menatapku. Senyuman yang begitu lembut, seperti ingin memberitahu sesuatu dari senyuman dan tatapannya itu. Apa dia juga bisa melihatku? Bukan hanya aku saja yang bisa melihatnya?!

Sambil sesekali melirik Alice untuk memastikan bahwa dia tidak tau kalau makhluk yang menganggunya muncul lagi. Tidak. Gadis itu masih sibuk dengan smartphonenya.

Dan kembali aku melihat pada bayangan itu di pintu kaca. Sedikit menganggukkan kepalaku padanya, berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau makhluk itu memang sedang melihatku juga. Tak lama dia juga menganggukan kepalanya membalas apa yang aku lakukan tadi.

Sialan! Dia benar-benar melihatku, tersenyum padakau dan barusan membalas anggukan kepalaku! Kalau saja aku masih bernafas mungkin saja nafasku akan berhenti sesaat ketika dia merespon perlakuanku tadi. Sungguh aku begitu penasaran dengan sosok mirip Alice itu. Sepertinya aku harus mencari tau siapa dia, berhubung Alice tidak memperdulikanku lebih baik aku mendekati pintu kaca disana agar bisa berinteraksi dengan makhluk itu lebih banyak.

Tapi sialnya, baru aku melangkahkan kaki kananku untuk mendekat, sosok itu menghilang dalam sekejap. Dalam pintu kaca didepanku hanya tersisa pantulan diriku sendiri dan satu pantulan Alice tentunya.

“waahh… sepertinya ada begitu banyak kabar baik setelah aku tidak mengajar di Cove Crown lagi ya”

reflek aku berbalik ketika mendengar suara tadi.

“Mr. Shim!!” pekik Alice dan aku bebarengan ketika mengetahui suara yang menginterupsi kami barusan.

“long time no see, kids! Aku tidak begitu kaget ketika bertemu Chanyeol dan Yinghan sedang jalan berdua tadi, tapi kalian… ohh sungguh diluar dugaanku kalau kalian akan berkencan! Hahahaha!” Mr. Shim tertawa begitu keras sambil menatap kami bergantian.

“tidak! Kami tidak berkencan! Kami hanya membantu mereka berdua. Tidak lebih!”

Baru aku akan membuka mulutku untuk menyanggah dugaan Mr. Shim, tapi Alice sudah lebih dulu menyanggahnya dengan tegas.

“ya ya, terserah kalian saja mau membuat pembelaan seperti apa hahaha” mantan guru Cove Crwon itu kembali tertawa tapi kemudian berusaha menghentikan tawanya ketika dia menyadari kalau Alice sedang menatapnya dengan pandangan mengerikan. “ hei Oh Sehun! Senang rasanya bisa bertemu denganmu lagi!” Mr. Shim menyapaku sembari mengusak rambutku.

Laki – laki tinggi didepan kami ini adalah mantan guru Cove Crown. Sebelum Mr. Jongki mengajar kami di kelas pertahanan, dialah guru kami sejak di tahun pertama. Sebenarnya dia sudah sejak lama mengajar di Cove Crown, tapi entah kenapa beliau tidak mengajar lagi ketika kami memasuki tahun kedua.

“aku banyak mendengar kabar kalau kemampuanmu meningkat begitu pesat sekarang. Hebat! tidak salah kalau kau adalah murid kesayanganku, Sehun!” tangannya menepuk pundakku begitu keras, merasa bangga dengan perkembanganku belakangan ini, aku hanya membalas pujiannya dengan anggukan dan senyuman. Beliau memang satu-satunya guru yang dekat denganku, saat di tahun pertama aku banyak berlatih di luar jam pelajaran bersamanya.

“dan Alice! Kwon Alice, apa kabarmu tuan putri?” senyuman Mr. Shim semakin terkembang begitu melihat Alice di sampingku. vampir setengah malaikat itu sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyamai tingginya dengan Alice.

“senang juga bisa bertemu dengan anda lagi, Mr. Shim.” Alice membungkukkan badannya pada Mr. Shim.

Guru berdarah campuran itu  sedikit mendekatkan wajahnya pada wajah Alice, senyumannya masih terukir di wajahnya. “senang bisa melihatmu lagi… dan senang sekali rasanya karna kau Alice, bukan yang lain…” ucapnya lagi kemudian kembali menegakkan tubuhnya dan menepuk pundak kami berdua. Sedangkan Alice sendiri hanya menatapnya bingung.

“aku duluan ya anak-anak. Biarpun kalian vampir tapi jangan pulang terlalu larut” bisiknya sebelum melangkah pergi meninggalkan aku dan Alice. Tangannya melambai pada kami mengucapkan selamat tinggal dan detik berikutnya dia menghilang menggunakan kekuatan yang dibawa dari setengah darah malaikat yang mengalir pada tubuhnya. Teleportasi.

 

-TBC-

 

Haaii! Senangnya bisa update lagi! Aku seneng banget ternyata ada yang nungguin update-an ffku ini~. maaf yaa karena waktu updatenya lama sekali karena udah mulai mumet semester tua hahaha. Tapi aku usahakan buat update cepet. Daann… aku tau EXO-L itu sama hebatnya kayak Sinichi Kudo karna mecahin Pathcode aja bisa, jadi aku mau ngajak kalian main tebak-tebakan yaa hehe. Karena di chapter ini lumayan banyak petunjuk tentang siapa si makhluk misterius itu, jadi ayo coba tebak dia itu apa dan siapa?? Chapter depan aku bakal kasih jawabannya!

Selamat mencari jawabannya~~!

2 thoughts on “Another Me (Chapter 6)

  1. Baru bisa koment di chapter ini.
    Penasaran sama kelanjutan nya dan siapa makhluk misterius yang dilihat sama sehun. Penuh teka-teki semua nya dan tetap di tunggu kelanjutannya.
    Fighting authornim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s