Sehun, I’m Pregnant (Chapter 9)

Tittle : Sehun, I’m Pregnant (9)

Author : Park Sunghyo

Genre : AU – Romance – Marriage Life

Length : Chapter

Rating : PG—17+

Main Cast : Oh Sehun – Park Sungra

 

-o0o-

“Ceraikan aku.”

Hening.

Tak ada ekspresi apapun yang nampak pada wajah Sehun, membuat Sungra makin gentar dalam hatinya.

Beberapa detik hanyut dalam keheningan, Sehun menarik napas perlahan, jarinya menyisir rambut kebelakang.

Sungra memilih bungkam dengan seluruh emosi yang mendidih dalam kepalanya, tidak, dia tak akan menghindari sepasang mata tajam itu lagi.

Dengan tenang Sehun menenggelamkan kedua tangannya pada tiap saku celana. Mata pria itu mengerjap sekali seolah sedang memiliki beberapa waktu untuk menenangkan diri.

Sungra menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Perlahan satu tangan gadis itu mengusap wajahnya, terlalu bingung dengan situasi ini.

Keheningan yang ditimbulkan keduanya makin membuat Sungra frustasi. Gadis itu tak terlalu baik dalam mengungkapkan sesuatu, pun Sehun terlalu sama dengannya.

Sorot tajam pria itu tak lepas memandangi Sungra. Kesekian kali ia mengambil napas mencoba menenangkan diri.

Tanpa berkata apapun lagi, Sehun segera berbalik dan membanting pintu kamar dengan keras, diikuti debaman pintu apartemen mereka.

Kedua tangan Sungra mengepal erat pada kedua sisi tubuhnya. Semua kata sumpah serapah tertahan di ujung lidah Sungra, membuat hati sesak juga pikirannya yang sudah kalang kabut.

Sungra meredam emosinya pelan-pelan, mencoba memasok oksigen ke paru-parunya yang terasa menyempit.

Jika Sehun tak menginginkan perceraian, lalu apa?

-o0o-

“Jika benda mengapung, tentu setengah bagian benda berada di dalam air dan setengahnya lagi berada di udara. Semuanya tak lepas dari hukum Archimedes, jika kita kaji gambar ini….”

Bla bla bla.

Hyera sebisa mungkin menatap papan tulis dan wajah Jung saem bergantian, pura-pura fokus, istilah menjadi murid baik harus ada dalam dirinya. Dengingan suara Jung saem begitu mengusik indera dengar membuatnya sebal setengah mati.

Ah, fisika benar-benar membunuhnya.

Demi bumi dan langit, siapapun yang menciptakan teori gila tentang gaya atau hukum…apa tadi namanya?

“Aish benar-benar,” gumam Hyera kesal.

Tubuhnya berada di kelas tapi tidak dengan pikirannya. Bayangan wajah Baekhyun tadi pagi yang melintas di benaknya terus terngiang. Cara dia tersenyum seolah tanpa dosa seperti itu, yah, walau Hyera akui senyum Baekhyun terasa tulus.

Bisa-bisanya pria itu sok ramah padanya setelah ketahuan berciuman dengan senior mereka di belakang sekolah. Lagi-lagi rasa sakit itu menggerogoti, menghempaskannya dalam rasa perih dan kata-kata kotor langsung memenuhi isi kepalanya.

Tak berapa lama wajah imut Baekhyun tergantikan dengan tatapan mematikan milik Kai.

Kai….

Suara berat juga deru nafasnya semalam. Ah, Hyera betul-betul gila dibuatnya.

Dalam sisi yang sama, mereka memang pria yang berbeda. Jadi, kenapa Hyera malah membandingkan mereka berdua? Toh Baekhyun bukan lagi milik Hyera dan Kai bukan siapa-siapa.

Bagus, sekarang perasaannya menjadi terombang-ambing seperti ini.

Lagi-lagi wajah Baekhyun muncul mendominasi otaknya. Sialan. Apa Hyera belum juga move on?

“Aish jinja!”

Suasana kelas yang awalnya hening menjadi lebih hening lagi. Entah bagaimana.

Hyera terperanjat akibat suaranya sendiri. Perlahan dia menaikkan pandangannya, seluruh pasang mata menatap Hyera tanpa terkecuali.

Setengah kelas menatapnya sambil menahan tawa dan yang lain berkerut bingung.

Saat tatapannya berpindah pada sepasang bola mata bulat yang melotot itu, Hyera langsung menahan napas.

Oh tidak, jangan lagi.

“Lee Hyera! Keluar!”

-o0o-

Hyera menghela napas kasar. Matanya menatap sekeliling lapangan yang sepi. Untungnya kelas lain yang berolahraga pada jam ini harus mengikuti kelas tambahan karena urusan remedial. Jadi Hyera tak harus menanggung malu lebih banyak lagi.

“Dasar Jung botak gila! Aku benar-benar membencinya!” sungut Hyera kesal.

Dengan setengah hati, Hyera mulai mengitari lapangan luas Seoul High School. Ia masih sanggup jika diberi empat putaran, tapi…tujuh putaran?!

Gadis itu rasa ia akan pingsan sebelum waktunya.

Benar saja, tak lama langkahnya melambat dan berhenti sebelum genap empat putaran. Tubuhnya membungkuk 90° dengan kedua tangan menempel pada tiap lutut kakinya.

Napas Hyera masih terengah diikuti wajahnya yang memerah akibat paparan sinar matahari.

“Aku bersumpah rambutnya tak akan tumbuh selamanya.”

Hyera menggeram kesal dan terus-menerus menyumpah dibalik tempurung kepalanya.

Masih mempertahankan posisi, Hyera mendengar suara langkah kaki samar-samar mendekat dan berhenti tepat di sampingnya.

Wangi khas cologne pria memenuhi rongga hidungnya tatkala sosok itu membungkuk dan tersenyum, satu tangannya terulur mencoba membantu gadis itu berdiri.

Sadar siapa yang ada di sampingnya, Hyera langsung berdiri tegap dan mengalihkan pandangannya kearah lain, kedua tangannya bersedekap di depan dada.

Baekhyun menghembuskan napas perlahan dan ikut berdiri. Matanya tertuju lurus kearah Hyera tapi tidak dengan gadis itu.

Saat mata mereka bertemu pandang dalam satu waktu, Hyera langsung menundukkan pandangan dan menggigit bibir bawahnya gugup.

Hampir satu bulan mereka tak saling menyapa, dan saat bertemu kembali setelah lama berpisah membuat Hyera merasakan sesuatu. Rindu?

“Dihukum lagi ‘eoh?”

Suara merdu Baekhyun mengalun indah dalam pendengarannya, menghantarkan jutaan kejutan listrik dalam tubuh Hyera.

Gadis itu mendengus dan mengalihkan wajahnya kearah lain.

“Bukan urusan—“

“Itu urusanku juga,” pungkas Baekhyun cepat.

Apa-apaan pria ini? Kenapa Baekhyun masih ingin berbicara dengannya?

“Kau pucat. Ayo ke UKS, aku akan bilang pada Jung saem bahwa kau sakit, Hye.”

“Kau!” jari telunjuk Hyera mengacung tepat di depan wajah Baekhyun.

Rasa marah masih merelung dalam hatinya.

“Berhenti bersikap seperti ini dan jangan menggangguku lagi,” dinginnya.

Gadis itu tak pernah berhadapan dengan situasi seperti ini dan tentu Hyera bingung setengah mati. Jantungnya makin berdenyut gila melihat tatapan Baekhyun yang intens.

Suara keras Hyera menggema di telinga Baekhyun. Pria itu hanya diam dan membuang wajahnya beberapa saat. Baekhyun meraih tangan gadis itu dan menyeretnya menuju halaman belakang sekolah.

Hyera menghentakkan tangannya yang digenggam erat oleh Baekhyun.

Baekhyun mendorong cepat tubuh Hyera kearah dinding, mengunci pergerakan tubuh gadis itu dengan kedua lengannya di tiap sisi tubuh gadis itu.

“Dengar.”

Suara rendah Baekhyun membuat kedua kaki Hyera bergetar hebat di bawah sana. Mereka berdua tak pernah melakukan skinship apapun selain berpegangan tangan dan merangkul satu sama lain.

Dan jarak wajah mereka yang begitu dekat adalah alarm bahaya bagi Hyera.

Mata Hyera meredup dan jantungnya berpacu lebih cepat dibanding saat ia berlari tadi. Hyera tak tahu harus berbuat apa dalam situasi semacam ini.

Dia tak pernah terlalu dekat dengan pria mana pun sampai Baekhyun mulai menyatakan perasaan padanya, mereka berkencan layaknya pasangan remaja yang lain, berbagi cerita dan tertawa, sering bertengkar walau berakhir dengan Baekhyun yang selalu mengalah. Klise sekali.

Sampai Baekhyun mengacaukan semuanya, semua harapan yang Hyera miliki.

Yoo Ga Eun. Senior kelas tiga tercantik—juga memiliki segudang bakat lain dalam dirinya—yang  diketahui tengah dekat dengan Baekhyun, saat status pria itu masih bersama Hyera.

Awalnya Hyera tak mengacuhkan gosip-gosip murahan macam itu, tapi tidak sampai hari dimana Hyera sendiri yang menyaksikan semuanya. Baekhyun mencium Ga Eun tepat di depan matanya sendiri.

Sontak Hyera meraih apapun benda di dekatnya—tongkat baseball usang—dan langsung menghantamkannya pada lantai dengan kasar.

Bahkan Hyera masih ingat ia kabur dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.

“Ga Eun bukan siapa-siapa. Aku hanya menyukaimu, kau tahu itu, Lee Hyera.”

Suara Baekhyun memecah lamunannya. Hyera menelan dengan susah payah. Seolah ada benjolan besar dalam tenggorokannya. Perutnya terasa geli dan mual dalam waktu bersamaan.

Melihat kediaman gadis itu, Baekhyun kembali bersuara, “Biarkan aku memperbaiki semuanya.”

Dalam perjalanan hidupnya, Baekhyun tak pernah menemukan gadis macam Hyera yang bisa membuatnya kesal namun tertarik dalam satu waktu.

Lee Hyera datang menawarkan perasaan janggal yang baru Baekhyun rasakan, yang biasa disebut ketulusan.

Awalnya Baekhyun mengelak semua statement dalam kepalanya. Namun, saat gadis itu tak lagi di sisinya, semua berubah. Dan Baekhyun benci itu.

Harusnya Hyera menginjak kaki pria itu sekuat tenaga atau menjambak rambutnya lalu kabur. Tapi, hatinya mendesir hebat saat mata mereka bertemu, dimana kedua mata di hadapannya memancarkan keyakinan dan kejujuran.

Hyera menarik Baekhyun mendekat dan memeluknya, menenggelamkan wajahnya di lekuk leher pria itu, menangis keras disana.

Baekhyun menegang sesaat sebelum kedua tangannya meraih tubuh Hyera dan mengeratkan pelukan mereka. Layaknya menemukan kembali oksigen yang selama ini ia cari, membuatnya merasa bebas dan tenang dalam waktu yang sama.

“Kau harus mentraktirku es krim rasa vanilla, arra?! Aku masih marah padamu!” ucap Hyera di sela tangisnya.

Baekhyun tertawa kecil dalam pelukan mereka. Astaga. Dia rindu sekali dengan gadis ini.

“Apapun untukmu, Hye.”

-o0o-

Sehun terbangun dengan geraman tertahan. Dia tertidur di kursi kerjanya, salah satu lengannya memangku kepala Sehun di atas meja. Sehun menegakkan tubuhnya dan berdiri perlahan, berjalan menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya disana.

Seluruh sendi tulangnya terasa lepas, pria itu beberapa kali melakukan peregangan tubuh agar bisa rileks sejenak.

Sesaat pria itu berpikir dimana letak ponselnya dan seolah sudah menemukan jawaban, ia langsung berbalik pelan dan mencari ponselnya di sela-sela sofa tersebut.

Semalam ponselnya menjadi korban akibat emosi Sehun, membuat pria itu melempar kasar ponselnya, untungnya benda kotak itu mendarat mulus di atas sofa dan bukan di dinding atau lantai marmer.

Setelah menemukan ponsel tersebut, Sehun langsung mendial nomor Chanyeol.

“Halo?”

“Dimana kau?”

“Hah? Apa?”

Sehun menghembuskan napasnya.

“Hey, aku kan masih marah padamu dan, oh! Kenapa aku harus menjawab telfonmu?!”

Sehun menggeleng pelan mendengar suara iparnya di seberang sana.

“Kau sibuk?”

“Ya, aku selalu sibuk.”

“Kita harus bertemu, akan kukirim alamatnya lewat pesan.”

PIP

Sehun mematikan ponselnya sepihak dan dapat dipastikan Chanyeol tengah bersumpah serapah sekarang.

Pria itu menyisir rambut ke belakang dengan jemari. Dua detik kemudian matanya teralihkan kembali pada layar ponsel dan segera menekan speed dial nomor satu.

Telfonnya segera tersambung namun hanya ada suara ‘tut’ panjang berkali-kali.

Sehun segera mematikan panggilannya dan menghembuskan napas panjang.

Suara ketukan pintu terdengar dan Sehun menyahut malas pada ketukan ketiga.

Jay memasuki ruangan dengan membawa setumpuk berkas yang harus Sehun periksa. Tanpa berkata apapun, Jay menaruh semua beban di tangannya di atas meja dan mengalihkan diri kearah Sehun.

Tuannya masih mengenakan kemeja putih dan celana dasar kemarin juga dasi yang sudah tak karuan bentuknya masih tergantung di kerah leher. Rambutnya begitu berantakan ditambah cekungan hitam di bagian bawah matanya, jelas sekali pria itu kelelahan dan tidak sedang dalam mood yang baik.

“Jay.”

“Ya, tuan?”

“Atur perjalananku ke Cina sekarang. Aku akan berangkat hari ini.”

“Tapi perjalanan Anda besok, tuan. Anda masih bisa menghirup udara Seoul hari ini,” ucap Jay tenang.

Sehun bungkam dan menatap Jay dengan sorot tajamnya. Melihat tatapan peringatan itu, Jay hanya tersenyum tipis dan segera membungkuk lalu meninggalkan Sehun sendiri.

Sehun kembali berpusat pada ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Chanyeol.

-o0o-

Sungra duduk diam di atas ranjangnya, menekuk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya disana. Sudah dua jam lebih ia termangu sendiri tanpa berbuat apa-apa.

Kejadian semalam masih berputar dalam kepalanya. Bagaimana Sungra meminta sebuah perpisahan dan dibalas dengan keacuhan pria itu.

Harusnya Sehun menatapnya dengan hangat atau setidaknya menunjukkan raut rasa bersalah. Tapi pria gila itu tak melakukannya sama sekali, makin membuat Sungra bingung dibuatnya.

Jika memang Yesoo tak akan kembali dan dirinya harus pergi dari kehidupan pria itu, bukankah Sehun bisa mencari wanita baru?

Memulai hidupnya dari awal dan tidak harus terikat dengan gadis sepertinya.

Sungra mengusap perutnya perlahan, merasakan kehidupan disana. Matanya menutup sesaat dan kehangatan mengaliri seluruh saraf tubuhnya.

Harusnya Sungra tak berbicara soal perceraian. Bukankah pria itu bilang ia akan bertanggung jawab dengan bayi di kandungannya?

Sungra menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia merasa begitu bodoh karena telah mengusik ego pria itu.

Jadi sekarang apa?

Haruskah Sungra minta maaf?

Sungra menghela napas panjang dan matanya menelusuri sekeliling, mencari ponselnya. Matanya berhenti di satu titik dimana ponselnya tergeletak di atas karpet. Layar ponselnya sedikit tergores akibat bantingan Sungra semalam. Tentu saja, Sungra harus punya pelampiasan emosi.

Gadis itu terduduk di atas karpet dan mulai membuka lock screen-nya. Menemukan satu panggilan tak terjawab dari Oh Sehun.

Haruskah ia menelfon balik?

Sebentar lagi ia menekan warna hijau pada ponselnya, gadis itu langsung menggeleng dan membanting ponselnya kearah belakang.

Sungra menjambak rambutnya perlahan. Rasa bersalah mengikat hatinya saat ini. Namun, ego gadis itu mengalahkan segalanya.

Beberapa menit terdiam , Sungra berbalik dan menyambar ponselnya cepat.

“Haloo Park Sungra!”

“Hye, kau dimana?”

-o0o-

Sehun duduk diam sambil menyilangkan kedua lengannya. Matanya menatap lurus kearah jendela kaca café tersebut, memperhatikan tiap orang berlalu-lalang pada sore hari ini.

Dia tak tahu apakah keputusannya pergi ke Cina tanpa memberitahu Sungra adalah hal yang benar atau tidak. Toh gadis itu tak akan perduli.

Sehun menghela napas perlahan untuk kesekian kalinya. Sesekali ia melirik jam pada pergelangan tangan kirinya dan mencoba menunggu dengan sabar. Chanyeol memang memiliki jam karet pada otaknya.

“Lama menunggu?”

Suara berat Chanyeol memecah lamunan Sehun, membuatnya mengalihkan tatapan pada sosok tinggi di hadapannya. Chanyeol langsung duduk dan memanggil pelayan dengan gerakan tangan.

“Lumayan,” jawab Sehun usai si pelayan pergi meninggalkan meja mereka.

“Jadi, ada apa?”

Sehun memijat batang hidungnya sesaat dan kembali menatap Chanyeol.

“Sungra ingin cerai.”

Mimik muka Chanyeol berubah tegang. Pria itu memajukan tubuhnya dan kedua tangannya saling menggenggam erat.

Melihat kerutan di wajah Chanyeol, Sehun menambahkan, “Semalam kami bertengkar. Dia meminta perceraian dariku.”

“Lalu?”

Sehun menatap Chanyeol.

“I said nothing.”

Chanyeol membanting tubuhnya pelan pada senderan kursi.

Beberapa detik mereka tenggelam dalam keheningan.

“Kupikir pada awalnya kalian sama, tapi ternyata tidak. Bagai minyak dan air. Aku tak mengerti mengapa Tuhan bisa menyatukan kalian berdua.”

Sehun terkekeh pelan mendengar ucapan sahabatnya. Diam-diam membenarkan ucapan Chanyeol dalam kepalanya.

“Aku akan ke Cina selama seminggu. Kau bisa menghubungiku jika terjadi sesuatu padanya.”

Chanyeol mengangguk perlahan dan menahan kalimat keluar dari mulutnya kala pelayan mengantarkan pesanan mereka.

“Kau tak memberitahunya langsung ‘ya?” tembak Chanyeol.

Sehun membuang wajahnya kearah lain.

“Dia bahkan tak ingin tahu,” dingin Sehun dalam kalimatnya.

Chanyeol menghembuskan napas dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Kalian ini benar-benar,” gumam Chanyeol pada dirinya sendiri.

“Bagaimana dengan pacarmu?” tanya Sehun sambil mengangkat cangkir espresso miliknya.

Mendengar itu, Chanyeol menggigit kedua bagian dalam pipinya.

Hening sesaat.

“Kami putus.”

Sehun menaruh kembali cangkirnya usai menyeruput sedikit cairan pahit itu.

“Berpikirlah lebih kritis, Chanyeol.”

Hubungan rumit antara Chanyeol dan Nayeon bukan hal baru untuk dibicarakan. Para sahabat Chanyeol sudah malas dengan sikapnya yang cuek dan ketidakberdayaan Nayeon dalam satu waktu. Namun, di lain sisi mereka juga merasa prihatin dengan ketidakjelasan hubungan sahabatnya itu.

“Haruskah aku…melepaskannya?” tanya Chanyeol ragu.

“Ide bagus. Dia akan menikahi pria lain di luar sana daripada pecundang sepertimu,” balas Sehun santai.

“YA! Kan aku hanya bertanya saja, tahu! Tidak serius!” timpal Chanyeol sebal diikuti senyum geli pria di hadapannya.

“Dia mungkin sedang berkencan di luar sana sekarang. Kalian sudah resmi putus ‘kan? Biasanya Nayeon hanya meminta waktu jika dia sedang marah padamu. Ck, kalian benar-benar berakhir,” goda Sehun dengan raut datarnya.

Chanyeol menanggapi ucapan Sehun dengan serius. Terlihat dari wajahnya yang mulai berpeluh di ujung dahi dan menggigit bibir bawahnya dengan bodoh.

Chanyeol menghabiskan latte miliknya dalam sekali tegukan.

“Aku harus pergi. Terimakasih untuk traktirannya Mr. Oh!”

Sehun menggeleng perlahan melihat langkah lebar Chanyeol membuka pintu café dan berjalan menuju mobilnya dengan terburu.

Tak lama ponsel Sehun berdering dan tertulis nama Jay disana. Sehun segera mengangkat panggilan tersebut.

“Saya sudah mengurusnya. Dua jam lagi keberangkatan Anda, tuan.”

“Ya.”

Sehun langsung mematikan ponsel dan meraih jas miliknya. Memanggil pelayan untuk meminta bill dengan segera.

Mereka berdua akan baik-baik saja walau tanpa satu kabar pun. Sehun meyakinkannya dalam hati.

-o0o-

“Kau melamun lagi.”

Suara Hyera membuyarkan tiap pikirannya barusan.

Gadis itu mengalihkan pendangan dan tertuju pada Hyera.

Merasa sedikit aneh, Sungra menyingkap syal yang melingkari leher sahabatnya itu.

“Sungra apa yang—”

“Ya Tuhan!” pekik Sungra tertahan.

“Eng…Sungra, begini, aku bisa jelaskan….”

Dua detik setelahnya, tawa Sungra memecah atmosfir keheningan dalam kamar Hyera. Membuat gadis di hadapannya mati kutu dan merasakan malu luar biasa sekarang.

“Jadi, siapa?” tanya Sungra dengan senyum jenakanya, menggoda gadis itu.

“Baek—baekhyun…,” cicit Hyera sambil mengambil kembali syalnya yang terjatuh dan langsung menyumpalkan kearah wajahnya.

Ya Tuhan…. Hyera malu setengah mati.

“Balikan ‘eoh?” tanya Sungra sambil menyilangkan kedua lengannya.

“Aku bisa jelaskan Sungra…,” rengek Hyera.

Sungra hanya tersenyum geli dibuatnya. Astaga, sahabatnya sudah dewasa sekarang.

Keheningan menyapu kembali suasana di kamar itu.

“Lalu bagaimana dengan Kai?” tembak Sungra.

Hyera yang awalnya menggerutu menjadi diam seribu bahasa.

“Kai? Kami tidak ada apa-apa,” balas Hyera cuek.

Sungra menganggukkan kepalanya mengerti.

“Baguslah jika begitu. Chanyeol sempat memberitahuku lewat pesan jika Kai sudah memiliki pacar baru sekarang. Kukira aku akan khawatir,” ucap Sungra sambil melirik Hyera sesekali.

Sesuatu seperti mengganjal dalam kerongkongan Hyera membuatnya sulit untuk mengambil satu tarikan napas.

“Pilih satu, Hye. Kau tak bisa memainkan peran untuk dua hati sekaligus,” ujar Sungra meledek.

Hyera menghembuskan napas perlahan dan mengangguk dua detik setelahnya. Gadis itu menatap Sungra. Apa gadis di hadapannya paranormal?

Sungra tersenyum melihat raut Hyera. Setidaknya sahabatnya itu bahagia dengan pilihannya. Dia bahkan memiliki pacar populer karena ketampanan juga kecerdasannya. Hidup Hyera begitu sempurna di mata Sungra.

Lagi, Sungra meredam gejolak dalam dadanya. Sepertinya Sungra harus belajar untuk berhenti membandingkan hidupnya dengan orang lain. Karena jika berlanjut terus-menerus, ia akan selalu menderita dengan pikirannya.

Getaran pada saku celananya menyadarkan lamunan Sungra. Gadis itu dengan cepat merogoh ponselnya dan mengecek dengan tergesa.

Jantungnya seolah berhenti beberapa saat mendapati satu pesan tertera dengan nama Sehun pada layarnya.

From : Oh Sehun

Maaf, Sungra.

Dua kata itu berhasil membuat dunia Sungra jungkir-balik beberapa saat. Kedua telapak tangannya berkeringat dan Sungra menggigit kuku jarinya tanpa sadar. Kedua kakinya terasa dingin, pipi gadis itu bersemu merah diikuti senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan.

Oh Tuhan…. Sungra harus menjawab apa sekarang?

“Park Sungraa!”

Sungra terperanjat kaget dan langsung menatap Hyera dengan dahi berkerut. Yang ditatap hanya menghembuskan napas dalam dan menggeleng perlahan.

“Eomma dan Appa sudah pulang. Mereka mengajakmu makan malam, Sungra. Sekarang jugaa!”

“E—eoh.”

Sungra meletakkan ponselnya di pinggiran meja dan langsung berjalan menyusul langkah Hyera di depan.

To : Sehun

Aku juga memikirkan hal yang sama, Sehun.

TBC

Mau minta maaf sama yang udah nungguin ff ini. Beberapa bulan terkahir aku sibuk sama tes masuk perguruan tinggi. Alhamdulillah keterima dan semoga masih ada yang mau baca ff absurd ini. Makasih semuanya!

 

20 thoughts on “Sehun, I’m Pregnant (Chapter 9)

  1. semakin penasaran sama lanjutannya…duuhhh authornim bikin perasaan turun naik kea naik roller coaster….good job….next chapternya janga lama lama ya

  2. Selamat authornim untuk lolos tesnya! Akhirnya ini dilanjutiiin masih nungguin kok :’D ditunggu bgt kelanjutannya! Kalo bisa agak panjangin dikiiit😂 #readerbanyakmau

  3. Selamat ya kak atas kbrhasilannya,
    kgen bc krya kkak. Part sehun ma sungra kok dkit ya *drpada gk ada tp gk pa2 crtnya ttep mnarik kok, sllu mnrik tuk ditunggu
    Ok next nya ku tunggu, semangat ya kak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s