Wu’s Family in Action (Chapter 1)

wus-family-in-action

 

Wu’s Family in Action (Chapter 1/4)

 

Judul: Wu’s Family in Action

Author: Gyvece

Genre: family, comedy, romance

Rating: all ages

Length: chapter

Main Cast: Kris Wu, Alice Wu (OC), Ailee Wu (OC), Anne Wu (OC)

Support Cast: Kris’ mom and dad, Park Chanyeol, Lee Kwang Soo

Author note: Hello, everyone! So actually, FF ini ditulis pada tahun 2014, jaman EXO masih hot-hotnya sama.. yah gitu lah dan album mereka yang Overdose. Ini menjelaskan kenapa lagu yang digunakan dalam FF ini berasal dari tahun 2014, termasuk juga lagu Holiday milik Henry Lau. But don’t worry, kami akan segera melanjutkan FF ini sehingga setting waktunya pada present time atau saat ini. FF ini juga sudah dipublikasikan pada blog pribadi kami di Wufanfics. Please anticipate! ^^

 

***

 

Because the truth is, you will never find any kind of love just like what you get in home.

Even the silly ones.

 

***

 

Vancouver International Airport, 08.00

                “Kalian jaga diri baik-baik ya. Lao Ma dan Appa hanya pergi sebentar kok. Kami kan juga butuh refreshing. Jauh dari keempat anak Lao Ma yang hobinya bikin orang tua sakit kepala,” kata Lao Ma sambil membetulkan letak handbag ZARA berwarna kuning yang sengaja Lao Ma pilih untuk menyambut musim panas tahun ini.

“Yang benar saja, Lao Ma,” sahut Alice sambil meminum Frappucino miliknya, diikuti oleh anggukkan kepala Ailee, adik kembarnya yang muncul 10 menit setelah kelahiran Alice.

“Nanti Lao Ma dan Appa juga pasti kangen sama kita,” timpal Anne, si bungsu sambil memeluk Lao Ma.

Lao Ma hanya tertawa melihat kelakuan anak-anaknya. Benar, mungkin saja ia akan sangat merindukan keempat anak-anaknya. Oh bukan, ia pasti akan sangat merindukan keempat anaknya.

“Kris, Appa titip perusahaan ya. Jadikan kesempatan ini sebagai bahan pembelajaran agar kau siap untuk memimpin perusahaan suatu saat nanti,” kata Appa sambil menepuk pundak Kris.

“Eo? Tentu saja, Appa. Appa tenang saja,” jawab Kris yang baru saja tersadar dari lamunan akan kasurnya yang nyaman dan empuk.

Tiba waktunya bagi Lao Ma dan Appa untuk check in. Destinasi pertama mereka adalah London. Mereka akan keliling Eropa untuk memperingati  Silver Wedding Anniversary mereka, meninggalkan keempat anak mereka yang seperti kata Lao Ma tadi, bikin sakit kepala.

Okay. Now it’s time for us to go. Take care, sweethearts,” kata Lao Ma sambil memeluk anak-anaknya satu per satu.

Take care, kiddos. We will be back soon. Kris, jangan lupa pesan Appa. Dan kalian bertiga dengarkan apa yang Gege kalian katakan. Jangan berulah selama Appa dan Lao Ma pergi. Arra?”

 

Kris’ POV

“Kris, Appa titip perusahaan ya. Jadikan kesempatan ini sebagai bahan pembelajaran agar kau siap untuk memimpin perusahaan suatu saat nanti,” kata Appa sambil menepuk pundakku. Aku yang masih berada di bawah bayang-bayang kasurku yang besar, nyaman dan empuk segera tersadar.

“Eo? Tentu saja, Appa. Appa tenang saja,” jawabku dengan tegas agar Appa tidak curiga kalau sedari tadi aku tidak mendengarkan satu kata pun yang keluar dari mulut Appa. Aku benar-benar masih mengantuk. Bayangkan saja, aku baru tidur 4 jam dan itu baru setengah dari waktu normal tidurku. Ini membuat otakku bekerja sedikit  err… lambat. Tapi apa boleh buat, setelah ini aku harus langsung ke kantor untuk menggantikan apa meeting dengan beberapa rekan bisnis nya.

Okay. Now it’s time for us to go. Take care, sweethearts,” kata Lao Ma sambil memeluk ketiga adikku dan terakhir ia memelukku. Aku pun membalas pelukannya dengan erat, seakan tidak ingin ia pergi. Aku tidak peduli dengan umurku yang akan menginjak 24 tahun bulan November nanti. Aku tetap tidak bisa lepas dari Lao Ma, satu-satunya wanita yang aku sayangi. Bahkan aku tidak menghiraukan kata-kata Lao Ma yang menyuruhku untuk mencari… umm, well, bisa dikatakan seorang pacar.

Take care, kiddos. We will be back soon. Kris, jangan lupa pesan Appa. Dan kalian bertiga dengarkan apa yang Gege kalian katakan. Jangan berulah selama Appa dan Lao Ma pergi. Arra?”

“Arra. Sudah kubilang, Appa tenang saja,” jawabku. Kemudian Appa memelukku juga. Ini kesempatan bagus untuk menggoda Appa. “Appa, bahagiakan Lao Ma ya disana,” bisikku yang menyebabkan lenganku kena tinjuan dari Appa.

Kemudian mereka pergi check in, meninggalkan aku dan ketiga adikku. Kami langsung menatap satu sama lain dengan senyum lebar tersungging di bibir kami. Si kembar bahkan menaik-turunkan alisnya.

Alright, girls. It’s time to start our greatest adventure.”

 

***

Petualangan pertama kami di mulai di Blue Moon Café. Seperti yang sudah kami rencanakan sebelumnya, dua minggu ini akan menjadi liburan musim panas kami yang paling menyenangkan!

 

#Flashback Start

A week ago

Jam dikamar Anne Wu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Namun kami berempat masih sibuk membahas project yang akan kami lakukan minggu depan.

“Tidak kusangka Lao Ma dan Appa akan pergi berlibur selama itu,” kataku sambil memakaikan Ace Wu, anak kesayanganku, kacamata berbingkai hitam favoritku.

“Itu sih bukan liburan. Itu honey moon kedua, kali,” celetuk Ailee.

“Iya betul! Kalau liburan, kita pasti di ajak. Sebentar lagi kan libur musim panas. Kita semua pasti dapat jatah libur dari Lao Ma dan Appa. Mana mereka keliling Eropa, lagi. Aku kan juga ingin ikut,” timpal Anne. Dia sudah mulai merajuk. Secara otomatis aku langsung menghela napas dan memutar kedua bola mataku.

“Iya. Aku ingin pergi Eiffel Tower lagi.” Ah, Ailee malah memihak pada Anne. Aku menghela napas- lagi. Dan ketika aku melirik Alice, dia sedang memutar kedua bola matanya.

“Aku juga ingin pergi ke Big Ben lagi!”

“Lalu ke Casa di Giuletta! Ah.. betapa romantisnya!” Geez Ailee.

“Travi Fountain!”

“Lalu belanja di Plaza The Spagna!”

“Di Paris pergi ke Arc The Trioumphe! Lalu Place De La Concorde Square. Champs Ellysees Avenue, Galery Lafay-“

“Benlux! Petite Palais, Grand Pal-“

“Enough, girls! Oh my. Berisik sekali kalian ini.” Aku sudah tidak tahan mendengar percakapan mereka yang aneh itu. Bahkan suara mereka semakin lama semakin meninggi.

“Kenapa kita tidak bikin acara sendiri sih?” Alice yang sedari tadi diam tiba-tiba memberikan ide brilian. Otomatis aku, Ailee dan Anne langsung menoleh kearah Alice.

“MWORAGO?!” ini aku dan Ailee.

“DAEBAK!” itu Anne.

“Eotthae? Kalian setuju?” tanya Alice dengan alisnya yang naik turun – kebiasaanya.

“Uri Alice jjang!”

 

***

“Jadi….. Bagaimana dengan rencana kita?”tanya Alice dengan santai nya, seakan-akan ia hanya bertanya tentang cuaca hari ini.

“Umm…. Sebenarnya gege masih ragu-ragu dengan rencana ini. Apalagi.     Appa menitipkan perusahaan nya.”jawab ku dengan hati-hati.

“Ahh ge! Yang benar saja?! Masa kita liburan dirumah? Ini liburan musim panas, geeee!”dengan kecepatan extra dan suara yang melengking Anne langsung protes.

“YA! Anne, pelankan sedikit suara mu.”kataku sambil membekap mulut Anne.

“Ah ge! Come on! Kita berlibur 3 hari saja cukup. Please ge! Please!” rengek mereka bertiga. Oh my! Mereka sangat kompak ketika menyerangku dengan 3 pasang puppy eyes. Oke! Pertahanan diriku perlahan mulai runtuh.

Ok. Just three days.”jawabku sambil menyesap green tea latte favorite ku.

Ge! Tambah 1 hari lagi? Bagaimana? Sepertinya akan lebih menyenangkan.”kata Anne sambil mengeluarkan aegyo nya. Sayangnya, aku sudah kebal dengan aegyo nya.

“Astaga Anne Wu.” I’m growling right now.

“Oops, saawryyy,” kata Anne. What? Apa yang barusan dia katakan? Singkatan dari strawberry?

Whatever ~~~” kataku sambil menekuk kedua alis tebal ku. “Sudahlah, cepat habiskan makanan kalian. Hari ini kalian akan gege ajak ke kantor Appa. Ada beberapa urusan yang harus gege selesaikan sebelum kita pergi liburan.” jelasku.

Got it, Roger!”

***

Kris dan ketiga adiknya yang baru saja memasuki kantor sang Appa, langsung semua karyawan bowdown kepada mereka. Alice, Ailee dan Anne ikut bowdown dengan wajahnya yang sangat bingung dan senyum bodoh diwajah mereka. Sedangkan Kris, dia berjalan layaknya seorang supermodel tanpa mengetahui tingkah ketiga adiknya yang sudah tertinggal jauh.

Oppaaaaaaa, wae geurae ige?!”teriak Alice.

Kris pun menoleh ke arah ketiga adiknya dan menemukan ketiga adiknya berjalan kearahnya dengan senyum awkward menghiasi wajah mereka.

Ge, mengapa mereka bertingkah seperti orang Korea?”tanya Anne dengan sedikit berbisik.

“Appa sudah menerapkan kebiasaan ini kepada para karyawan.”jawab Kris. “Alice, mengapa kau memanggilku Oppa?”lanjut Kris.

“Ummm. If you know what I mean, gege.”kata Alice. Sifat Alice dan Kris sangat mirip. Mereka tidak ingin terlihat bodoh dihadapan banyak orang. Alice sengaja menggunakan bahasa Korea untuk menjaga citra nya sebagai anak dari CEO Scorpion Corporation.

Gege, ada meeting sebentar. Kalian ke ruanganku saja dulu. Dan kau Anne, manner!” kata Kris sambil menunjuk Anne. Sedangkan yang ditunjuk hanya menunjukan senyum 3 jarinya dan mengacungkan kedua ibu jarinya. Anne adalah anak bungsu, dia masih sedikit kekanak-kanakan. Dia sangat dimanja oleh Lao Ma, Appa, dan ketiga kakaknya, terlebih oleh Kris.

***

Selagi menunggu Kris rapat, Ms. Watson sekretaris Appa, yang mungkin sebentar lagi akan menjadi sekretaris Kris – menyiapkan minum untuk Alice, Ailee dan Anne yang sudah berada di dalam ruangan Appa– yang sekarang menjadi ruangan Kris.

“Wah! Jie, look at this! It is Wu Yi Fan now. Not Lee Ji Young anymore. Ahh.. Gege I’m so proud of you!” dengan heboh Anne menunjuk-nunjuk name plate yang sudah diletakkan diatas meja kerja besar yang menjadi milik Kris sekarang.

“Ah, gege memang pantas duduk disini. Aku tidak bisa membayangkan betapa cool nya gege ketika memimpin rapat. Menghadiri undangan client,” kata Alice sambil mengedipkan matanya.

“Tapi… mungkin dia akan sering lembur seperti Appa dan Lao Ma. Selama ini, baru mengikuti Appa ke kantor saja, gege sudah sering pulang malam dan jarang bersama kita lagi.” Ailee mulai mengeluh. Ya, Alice, Ailee dan Anne sangat dekat dengan Kris. Kris tidak ingin adik-adik nya terjerumus kedalam pergaulan yang salah, terlebih ia mendapatkan wejangan dari Appa dan Lao Ma untuk menjaga adik-adik nya karena kesibukan mereka mengurus perusahaan yang memiliki cabang di Paris dan China. Bahkan sekarang akan diperluas lagi di Korea. Di tanah kelahiran sang Appa.

 

“Hi, girls. You should be proud of your brother, right?” kata Ms. Watson yang mengagetkan mereka bertiga. “Ah, I can’t give you any beverages since I know you all loves this black soda drink,” lanjut Ms. Watson sambil meletakan nampan yang berisi 3 botol Coke.

                “Yeah indeed, Ms. Watson. Thank you very much!” kata Alice yang langsung mengambil satu botol Coke.

“Ya! Itu punyaku jie!” Teriak AIlee dan Anne. Dan terjadilah perebutan satu botol Coke oleh 3 orang perempuan konyol ini.

“Excuse me, tapi aku membawa 3 botol Coke kesini. Kalian tidak perlu rebutan,” sela Ms. Watson yang takut soda itu berhamburan ketika dibuka karena diperebutkan oleh ketiga anak ini.

“Ah, benar juga. Thank you Ms. Watson,” kata Ailee. Ms. Watson pun keluar dari ruangan tersebut setelah menyunggingkan sebuah senyuman.

 

***

Anne POV

 

Oh my! Ini sudah hampir 2 jam aku dan kedua jiejie ku menunggu Kris ge. Dia bilang hanya sebentar, tapi ini sudah melebihi sebentar. Sungguh! Aku bisa mati bosan disini. Aku bukan anak yang suka bermain game untuk menghilangkan kebosanan. Kenapa diruangan ini tidak ada TV sih? Alice jie dan Ailee jie sedang asyik dengan iPad nya. Salah ku juga tidak membawa iPad. Tapi… apa yang sedang mereka perhatikan?

Jie, kalian sedang apa?”tanyaku dengan sedikit antusias.

…….

…….

…….

Ya, hening melanda ruangan ini. Mereka tidak merespon pertanyaan ku. Lihat saja nanti, akan ku adukan kepada Kris ge.

“OMO! ROOMMATE!“ teriak Alice jie

“PARK BOM! SeHo, Lee So Ra, Lee Dong Wook, Park Min Woo, Park Chanyeol. Chanyeol? CHANYEOL OPPA! Waaaa, Seo Kang Joon oppa!” Ailee jie menyebutkan nama orang-orang yang akan ada di dalam variety show itu.

“Hong Soo Hyun, Shin Sung Woo, NaNa, Song Ga Yeon- Sebentar, tadi siapa? Park Chanyeol? ”lanjut Alice jie.

Aaaaaaaaa. Aku ingin meledak rasanya. Apa yang harus aku kerjakan agar aku tidak bosan? Berpikir Anne, gunakan otak mu!

.

.

.

AHA! Aku harus keluar dari ruangan ini!

BLAM

                Pintu ruangan tertutup dengan keras. Akupun memanggil Ms. Watson yang terlihat lumayan santai. Hmmm, kali ini aku harus sedikit egois. Aku tahu ini jam kerja, tapi apa boleh buat. Aku harus mencari hiburan agar aku tidak mati bosan.

“Miss Watson!” teriakku tepat didepan meja nya.

“Astaga Nona Anne,” kata Miss Watson sambil berdiri dan membungkukan badannya. “Ada yang bisa saya bantu?” lanjutnya lagi.

“Miss Watson, bisakah kau tidak bersikap seolah-olah aku ini atasan mu? Anggap saja aku ini teman mu. Aku tidak suka kalau kau melakukan itu pada ku. Dan jangan panggil aku Nona Anne. Panggilan itu membuatku merasa tua,” jawabku dengan muka kesal.

“Aah, ya. A..Anne. Ada yang bisa saya bantu?”

“Apa kau punya alat-alat make up?” tanyaku.

“Yaaa, saya punya. Apa kau mau memakai nya?” tanyanya sambil mengeluarkan peralatan make-up dari tas nya.

“Kau mau ikut aku ke ruangan Kris Ge? Sebentar saja. Aku ingin menunjukan sesuatu kepada mu?” tanyaku dengan senyum lebar menghiasi wajah ku yang, well…cantik ini.

“Baiklah jika itu mau mu. Tapi setelah aku selesai menyiapkan beberapa berkas untuk meeting jam 3 nanti ya?” kata Ms. Watson

“WHAT? Jam 3 Kris Ge masih ada meeting? No Excuse. I want you to follow me right now.” pekik ku. Beberapa karyawan yang berada disana menghentikan aktivitasnya secara bersamaan karena mendengar teriakan ku kepada Miss Watson. Eits, jangan salah paham dulu, aku tidak memarahi nya. Aku hanya terkejut dengan jadwal Kris ge yang begitu padat hari ini.

“Okay. Let’s go.”ajak Miss Watson. Tanpa basa-basi, kami langsung menuju ke ruangan Kris ge.

 

***

“Hey Miss Watson. What are you doing here?”tanya Ailee jie. Sambutan macam apa itu? Kenapa hanya Miss Watson yang ditanya? Menyebalkan sekali kau jie!

“Saya kesini untuk menemani Anne.”jawab Miss Watson. “Mungkin dia merasa bosan.”lanjutnya. You’re so smart Miss Watson!

“Ya! Anne! Kau merepotkan Miss Watson saja,” kata Alice jie.

“Ani-“baru saja aku ingin bicara, Ailee jie memotong pembicaraan ku ini.

“Miss Watson. Kau itu menyukai segala sesuatu tentang Korea kan? Apa kau sudah tahu kalau Roommate sebentar lagi akan tayang?” tanya Ailee jie.

“APA? ROOMATE?” teriak Miss Watson. “Umm, sorry. Imma just too excited. Apa benar Roommate akan segera tayang?” tanyanya lagi.

“IYA! Kau mau ikut menonton trailer nya?” tanya Alice jie dan dijawab dengan anggukan dari Miss Watson.

“YA!—-“ baru saja aku teriak dan tiba-tiba pesan Kris Ge tayang dikepala ku. “…Dan kau Anne, manner!” Aku langsung menutup mulutku dan mulai berbicara dengan sedikit lembut.

“Jieeeeee, kau merebut Miss Watson dariku! Sudah dari tadi kalian cuekin aku. Dan sekarang aku membawa teman untukku main malah kalian ambil lagi? Ayolah, aku sudah hampir mati kebosanan disini.  Jangan ajak Miss Watson ke dunia mu jieeeee~” Aku merengek kepada Alice dan Ailee jie.

Hening. Hening. Hening. Tidakah mereka mendengar apa yang ku katakan barusan?

“Astaga~ I’m so sorry dear. Jiejie terlalu asyik fangirling bersama Ailee. Kau mau melakukan apa dengan itu?” kata Alice jie sambil menunjuk tas make-up milik Miss Watson.

“Igo?” kataku sambil mengangkat tas itu. “A-aah. Aku ingin make over Miss Watson. Apakah kau tidak risih melihat sekretaris Gege tidak elegant?” bisikku kepada Alice Jie.

“AH! Pintar sekali kau Anne! Ayo kita lakukan sekarang!” ajak Alice jie bersemangat. Yeah! Mungkin dia sudah melupakan Roommate itu. Dia membisikan rencana kami kepada Ailee jie. Dan mendapatkan anggukan setuju.

“Miss Watson,” panggil kami bertiga sambil menghampirinya yang sedang berdiri dengan gugup.

“Yes, I am,” jawabnya dengan sangat gugup.

“Kau mau membantu kami?” tanya Ailee jie.

“Yup. Apa yang harus saya lakukan?” kata Miss Watson lagi.

Dengan segera aku dan Alice jie menarik nya duduk dibangku yang biasa digunakan oleh para karyawan yang dipanggil ke ruangan ini. Setelah Miss Watson duduk, aku membuka kacamata nya dan kunciran dirambutnya.

“Miss Watson. Kau harus mau kami make over. Sebentar lagi kan kau akan menjadi sekretarisnya Kris Ge, jadi kau harus sedikit lebih elegant. Atau mungkin sedikit lebih fresh dalam gaya make up mu. Kau terlalu sederhana untuk sekretaris seorang CEO.”jelas Alice jie.

“That’s right Miss Watson. Bagaimana? Kau setuju? Aku hanya bisa mendengar satu kata ‘yes’ darimu Miss Watson,” kata Ailee jie.

“Miss Watson. Ini juga akan membuat Mr. Watson semakin cinta kepadamu. Dia akan semakin tergila-gila kepadamu,” goda ku. Aku hanya bisa tersenyum puas saat ini. Make up Miss Watson terlalu tipis. Dia mempunyai peralatan make up yang lengkap tapi tidak digunakan dengan baik. Hanya bedak dan lipgloss yang dia gunakan.

Kami pun mulai me-remove make up yang dia gunakan diawal. Hingga akhir nya satu per satu dari kami mulai memoleskan bedak diwajah nya yang lumayan bersih. Aku mendapat bagian untuk mengerjakan bagian mata. Sekarang ini Ailee jie yang sedang memainkan perannya dalam memolesi bedak. Ailee jie sangat ahli dalam memilih warna bedak yang sesuai dengan kulit. Dia juga menggabungkan beberapa warna yang menghasilkan warna sempurna diwajah Miss Watson. Alice jie mengerjakan shading dibagian hidung dan jaw-line nya agar terlihat lebih terbentuk. Dia juga memakaikan blush-on untuk membuat pipi Miss Watson merona serta lipstick merah muda untuk bibir mungil Miss Watson. Sekarang adalah giliran ku. Aku mulai bermain dengan mata Miss Watson. Warna eye shadow yang aku gunakan, aku sesuaikan dengan warna baju nya Miss Watson saat ini, yaitu soft pink. Kutambahkan sedikit warna silver untuk membuatnya lebih elegant. Maskara dan eyeliner tidak lupa aku gunakan. Selesaaaai~

“Miss. Jangan buka matamu sampai kami bilang buka, oke?” kataku

“Oke. Nona-nona Wu,” jawab Miss Watson.

Aku dan Alice jie menuntun Miss Watson ke kamar mandi yang memang ada diruangan ini. Ailee jie memasukan semua peralatan make up kedalam tas dengan cepat lalu menyusul kami ke kamar mandi. Ketika kami semua sudah berada dikamar mandi, kami langsung membawa Miss Watson ke depan kaca besar yang ada didekat pintu kamar mandi.

“Buka mata mu Miss Watson,” kata kami bertiga. Perlahan tapi pasti mata Miss Watson terbuka. Aku tidak sabar melihat reaksi dari Miss Watson. Hahahahaha.

“Astaga!! Apa yang kalian lakukan?!” kata Miss Watson. “Waaah, kalian pasti belajar dari Mommy kalian ya? Kalian hebat sekali. Ini bukan seperti Samatha Watson!” lanjut Miss Watson. Ya! Miss Watson berubah menjadi seorang sekretaris yang elegant!

“Ayo kita foto!” ajakku kepada Miss Watson dan kedua jiejie ku.

“Ayooooo,” jawab mereka.

Kami menikmati kegilaan kami. Melakukan beberapa pose yang sangat konyol. Apa-apaan ini? Apakah kami layak disebut anak dari CEO Scorpion Corporation dan sekretaris dari sang CEO? Tentu layak! Aku, Alice dan Ailee jie bukanlah orang yang gila hormat dan pujian. Kami hanya berusaha untuk mendekati karyawan-karyawan Appa dengan cara kami sendiri, walaupun cara ini sangatlah konyol. Aku tidak suka dengan opini karyawan-karyawan kalau anak CEO itu manja, sombong dan dingin.

CKLEK!

OMO! The dragon is coming. Ow..ow. sepertinya aku akan mengatakan ‘good bye holiday’. Kami bertiga berusaha menutupi Miss Watson dengan berdiri didepan Miss Watson.

“Alice? Ailee? Anne? Apa yang kalian, ah maksudnya siapa yang kalian sembunyikan?” tanya Kris Ge to the point.

“Ahh, Ge! Ayo kita makan siang, aku sudah sangat lapaaaar. Dan aku ingin sekali segera keluar dari tempat in. disini sungguh membosankan!” kataku yang langsung berlari dan memeluk Kris ge. Ah.. sudah ku prediksikan pasti Gege akan membalas pelukanku.

“Siapa yang kalian sembunyikan? Jawab atau kita batal liburan? Padahal gege mau ajak kalian liburan bukan hanya 3 hari. Tapi 2 minggu lhooo,” kata Kris Ge yang membuat aku melepaskan rangkulan Kris ge. Sedangkan kedua jiejie ku langsung menghambur kesamping untuk memperlihatkan kepada Gege kalau orang yang kami sembunyikan adalah Miss Watson.

“Miss Watson?! Is that you?” tanya Kris Ge dengan dahi yang mengkerut dan tatapan wajah tidak percaya.

“Yes sir. I’m so sorry sir. I don’t-“ segera ku potong kalimat Miss Watson. Ini rencanaku, aku harus mengakui nya. Ini bukan salah Miss Watson.

Gege! Ini semua rencana ku. Aku bosan karena jiejie asik berdua dengan iPad nya. Aku tidak berani menyalakan computer itu. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku memanggil Miss Watson kesini dan melakukan semuanya. Aku bisa mati karena bosan disini, ge!” jelasku tanpa keraguan sedikitpun.

“Oooh, Ms. Samantha Watson. I’ll call your husband. He will be glad. Hahahaha,” tawa Kris Ge membuat kami semua bingung. Kris Ge benar-benar menelepon Mr. John Watson.

Beberapa menit kemudian Mr. Watson datang dan menjatuhkan rahang nya ketika melihat istrinya dengan penampilan yang berbeda.

“Hey, kau berusaha merebut istri ku, buddy?” kata Mr. Watson sambil terkekeh dan meninju kecil lengan Kris Ge. Mr. Watson dan gege adalah teman semasa SMA. Mereka cukup akrab

“Hey! It’s not my style buddy. Hahaha. Go get your wife out from here. I give you extra lunch time. Kau bisa kembali setengah jam sebelum meeting dengan Mr. Ryan dimulai, John. Hahaha,” kata Kris Ge yang tetap tidak bisa menahan tawanya. Mungkin Gege kaget akan penampilan Miss Watson yang sangat memukau berkat kami.

***

Kris POV

 

Akhirnya pertemuan dengan customer lokal selesai juga. Sudah 2 jam waktu yang ku habiskan untuk mendengarkan presentasi dari mereka dan menampilkan presentasi yang telah aku siapkan. Aku merasa kasihan kepada gummies ku – panggilanku untuk ketiga adik ku. Pasti mereka bosan dan lapar. Aku harus segera ke ruangan Appa yang telah menjadi ruanganku sekarang. Tanpa berlama-lama lagi, langsung ku buka pintu ruangan dan ku dapati adik-adik ku menutupi sesuatu. Oh, bukan sesuatu tapi seseorang.

“Alice? Ailee? Anne? Apa yang kalian, ah maksudnya siapa yang kalian sembunyikan?” Aku bertanya to the point.

“Ahh, Ge! Ayo kita makan siang, aku sudah sangat lapaaaar. Dan aku ingin sekali segera keluar dari tempat in. disini sungguh membosankan!” kata Anne yang langsung memelukku. Anne! Kau masih saja melakukan ini, kau itu sudah hampir 17 tahun. Bertingkahlah lebih dewasa! Tapi tanganku ini tidak bisa tidak membalas pelukan gummy ini.

“Siapa yang kalian sembunyikan? Jawab atau kita batal liburan? Padahal Gege mau ajak kalian liburan bukan hanya 3 hari. Tapi 2 minggu lhooo.” Aku berusaha menggoda mereka dengan rencana yang baru saja aku dapatkan. GEEZ! Alice dan Ailee langsung minggir dari tempatnya berdiri sehingga aku dapat melihat jelas siapa yang mereka sembunyikan. Sedangkan Anne melepaskan tanganku yang merangkul pundak mungilnya.

“Miss Watson?! Is that you?” tanyaku kepada orang yang ada dihadapanku. Aku benar-benar terkejut melihatnya. Ku akui, dia sangat cantik dengan make up seperti ini. Aku ingat sekali pagi tadi ia tidak secantik ini.

“Yes sir. I’m so sorry sir. I don’t-“ Anne segera memotong kalimat yang akan diucapkan oleh Samantha Watson.

Gege! Ini semua rencana ku. Aku bosan karena jiejie asik berdua dengan iPad nya. Aku tidak berani menyalakan computer itu. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku memanggil Miss Watson kesini dan melakukan semuanya. Aku bisa mati karena bosan disini, Ge!” jelas Anne tanpa keraguan sedikitpun. Hey, Anne! Aku tidak akan menghukum mu, dear.

“Oooh, Ms. Samantha Watson. I’ll call your husband. He will be glad. Hahahaha.” Aku berkata sambil menahan tawa yang tidak bisa ditahan(?) Aku pun menelepon John Watson – teman ku yang juga suami dari Samantha Watson – untuk segera datang ke ruanganku

Beberapa menit kemudian John datang dan menjatuhkan rahang nya ketika melihat istrinya dengan penampilan yang berbeda.

“Hey, kau berusaha merebut istri ku, buddy?” kata nya sambil terkekeh dan meninju kecil lenganku. John Watson adalah teman ku semasa SMA. Kami satu sekolah, dan semenjak itu bersahabat hingga sekarang. Dan sekarang dia bekerja diperusahaan ini sebagai General Manager.

“Hey! It’s not my style buddy. Hahaha. Go get your wife out from here. I give you extra lunch time. Kau bisa kembali setengah jam sebelum meeting dengan Mr. Ryan dimulai, John. Hahaha,” kata ku yang tetap tidak bisa menahan tawa.

John dan Samantha Watson pun keluar dari ruanganku ketika aku mengizinkannya memiliki waktu lebih pada jam istirahat ini.

“Ayo kita makan. Kalian mau makan dimana? Jam 3 nanti Gege masih ada meeting dengan customer dari Singapore.” Ajak ku kepada gummies.

“Ge, are you serious? Kita akan pulang jam berapa?” tanya Anne yang tampak tak bersemangat mendengar pernyataan dariku.

“Sudahlah. Kita ini jarang ada disini. Biarkan kita menghabisi waktu disini. Daripada dirumah,” timpal Alice yang sangat senang berada kantor ini.

“Iya! Sudah lama sekali aku tidak kesini. Sejak tugas kulias yang menumpuk, aku jadi jarang keluar rumah.“ Ailee pun mengiyakan. Kasihan Anne, tidak ada yang memihak kepadanya bahkan aku sekalipun. Hmm, lebih baik aku mengalihkan pembicaraan saja.

“Baiklah. Bagaimana kalau kita makan siang di Lost + Found Cafe?”

“Wah, Ge! Kau tahu tempat itu juga?” Tanya Alice antusias.

“Teman-temanku di kampus membicarakan cafe itu terus!” Ailee menimpali dengan tidak kalah antusias.

“Tentu saja aku tahu. Gege mu ini kan update! Itu salah satu cafe favoritku untuk makan siang. Ayo, cepat! Kita makan. Aku sudah lapar.” Aku langsung berjalan keluar. Alice dan Ailee buru-buru mengejarku.

“Kami belum pernah makan disana lho, Ge,” Ailee berkata lagi dan Alice mengaggukan kepalanya. Mereka sangat kompak. Mungkin karena faktor mereka adalah saudara kembar. Tapi terkadang, mereka bisa seperti anjing dan kucing. Bahkan aku dan Anne bisa terseret-seret kedalam lingkaran setan yang mereka buat dan berakhir dengan kami berempat yang saling mendiamkan satu sama lain. Konyol, memang.

“Bagaimana kalau Anda, Mr. Wu merekomendasikan makanan nanti?” Alice bertanya dengan nada formal seolah-olah dia seorang reporter sambil menyodorkan tangan yang dibuat menyerupai mik olehnya.

“My pleassure, ladies.” Kami tertawa dan kemudian masuk ke dalam lift. Aku menekan tombol yang bertuliskan G. Lift pun bergerak turun kebawah sementara Alice masih berlagak seolah-olah dia seorang reporter dan aku narasumbernya. Ailee sampai tertawa dibuatnya, hingga matanya menjadi semakin sipit  karena tingkah laku kami yang konyol.

 

***

 

Anne POV

 

Aku membelakakkan mataku. Menyebalkan! Sekarang mereka sibuk membicarakan cafe apa-entah-namanya bertiga. Tidak ada yang menggubris perkataanku tadi. “Aku mau makan di Chinatown…” Aku mengatakannya lagi. Sudah dua kali aku mengatakan itu! Semakin lama suaraku makin lirih. Bahkan Gege melirikku pun tidak! Apakah mereka lupa kalau mereka punya adik yang satu ini?!

“Tentu saja aku tahu. Gege mu ini kan update! Itu salah satu cafe favoritku untuk makan siang. Ayo, cepat! Kita makan. Aku sudah lapar,” kata Gege. Kedua jiejie ku langsung mengejar langkah Gege. Mereka agak tertinggal beberapa langkah karena kaki Gege yang panjang membuatnya lebih cepat melangkah. Mereka tertawa-tawa, masih membicarakan cafe tersebut. Bahkan Alice jie berpura-pura menjadi seorang repoter yang mewawancarai narasumbernya, yaitu Kris Ge. Gege langsung berdeham dan memasang wajah cool nya yang kelewat cool sampai-sampai membuat kedua kakak kembarku tertawa.

Aku tertinggal dibelakang. Masih terdiam di tempatku. Dengan sedikit berlari aku mengejar mereka. Mereka bahkan tak menyadari adik mereka yang paling kecil, yang imut, manis, tidak ada bandingnya ini juga ada disini. Aku dilupakan. Lagi.

Aku mengikuti mereka masuk kedalam lift. Tidak ada yang berbicara padaku. Mereka masih sibuk memainkan peran “repoter dan narasumber” konyol itu. Aku memutar kedua bola mataku dan mengehela napas pelan dan panjang. Ah, Lao Ma, Appa.. Aku merindukan kalian.

 

***

 

Lost + Found Cafe yang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat ini terletak di tempat yang sangat startegis. Dekorasinya pun unik. Makanannya? Sudah tidak perlu di pertanyakan. Mereka menyajikan berbagai macam menu sandwich dan salad. Bahkan ada juga menu khusus bagi para vegetarian. Banyak orang yang datang mengunjungi cafe ini untuk sekedar makan siang, bersantai, bahkan mengadakan acara spesial sekalipun. Siang ini Kris mengajak ketiga adiknya untuk makan siang di cafe yang sudah menjadi salah satu cafe favoritnya begitu ia menginjakkan kaki di tempat ini.

“Welcome to Lost + Found Cafe. Good Afternoon, Sir. How many seats?” Seorang pelayan wanita dengan ramah menyapa Kris yang masuk kedalam cafe terlebih dahulu. Alice and Ailee berdiri di belakangnya. Mata mereka sibuk memperhatikan setiap sudut cafe. Dan tentu saja, berakting cool agar tidak ketahuan kalau mereka baru pertama kali datang ke cafe ini. Anne berdiri dengan diam di belakang si kembar, dia masih saja terpaksa berada di dalam dunianya sendiri. Ya, terpaksa.

“For four people, please,” kata Kris sambil menyunggingkan senyumnya. Kris ingat “nasihat dan masukkan” ketiga adiknya, bahwa dia harus lebih sering tersenyum. Padahal dia hanya mau berakting cool dengan jarang tersenyum.

Pelayan itu sempat tertegun beberapa detik melihat senyum Kris. Ah.. Lagi-lagi, kata Kris dalam hati. Dia juga merasakan beberapa pasang mata para pengunjung cafe, bukan hanya para wanita- para lelaki juga, sedang memperhatikan Kris dengan tatapan err.. Iri? Sebenarnya ini juga salah satu alasan mengapa dia “malas” tersenyum. Dia anak yang ceria, sungguh. Dia juga suka tersenyum. Tapi Kris hanya melakukan itu apabila ia bersama dengan orang-orang yang dirasa nyaman baginya. Ia hanya merasa risih apabila orang-orang memandanginya dengan tatapan memuja, yang menurut Kris mengerikan dan merupakan sesuatu yang aneh, apalagi jika wanita yang melemparkan tatapan itu pada Kris. Dan selanjutnya, Kris akan berakhir menjadi kikuk. Dan itu sama sekali tidak keren. Being uncool is not his style. He really means it.

Nah, sekarang pipi pelayan wanita itu merona merah. Kris hanya bisa pasrah dengan “pesona” nya itu. Untung saja mereka sudah sampai di meja yang akan mereka gunakan untuk makan nanti.

Segera saja Kris duduk, diikuti oleh Alice dan Ailee- yang masih sibuk memperhatikan dekorasi. Dengan Ailee yang sekali-kali memperhatikan pelayan tampan yang sedang mengantarkan minum untuk meja di depannya. Anne duduk dengan diam. Dia duduk di sebelah Kris sedangkan si kembar di seberang mereka berdua. Kris sebenarnya agak bingung dengan tingkah laku Anne yang sejak tadi hanya diam saja dengan kepala menunduk. Mungkinkah…? Pikir Kris.

“I-ini menu nya,” pelayan wanita itu menyodorkan dua buku menu. Tuh, kan.. Pikir Kris. Bahkan sekarang suara nya gemetar. Tuhan, mengapa Kau memberikanku wajah dan tubuh yang sedemikian sempurna? Eh, tunggu. Harusnya kan aku bersyukur. Ya Tuhan, terima kasih atas wajah dan tubuh yang sempurna ini. Perkataan yang tadi hanyalah omongan semata. Tolong jangan tarik ketampananku.

“Ge, mau pesan apa?” Alice berbisik sehingga menyadarkan Kris dari lamunannya.

“O-oh. Begini saja, nanti akan saya panggil apabila kami sudah menentukan pesanannya, bagaimana?” Kris memandang pelayan wanita itu. Demi Tuhan! Si pelayan wanita yang bernama Emma ini- ketahuan dari name tag nya- sedari tadi sibuk menjaga tingkah laku dan yang paling penting, jantung nya. Bisa-bisa Daniel- pacar Emma- cemburu besar jika memergoki Emma seperti ini.

Emma berdeham pelan. “Baiklah,” katanya kemudian berjalan pergi. Ini adalah hari pertama nya bekerja sebagai pelayan cafe di Lost + Found dan dia benar-benar tidak menyangka mendapat kunjungan dari customer yang membuatnya menyesal telah melayaninya tadi. Sekarang dia lebih memilih melayani pasangan tua yang terlihat, well, kaya yang sekarang sedang dilayani oleh Cassie.

 

***

 

“Nah, kalian masih mau kurekomendasikan makanan disini?” Kris bertanya sambil melepas jas dan ikatan dasinya serta menggulung lengan kemejanya hingga batas siku. Seharusnya dia tidak melakukan hal tersebut. Tapi sekarang dia berada di hadapan gummiesnya, bukan para rekan bisnisnya. Kris tidak suka benda itu melilit lehernya sehingga membuatnya sulit untuk makan karena takut tidak bisa menelan dengan baik kemudian bisa menyebabkan kematian. Sekali lagi, ini alasan konyol karena tidak pernah ditemukan satu kasus pun kematian -atau setidaknya hampir mati karena seseorang makan dengan dasi terpasang di lehernya. Keheningan melanda meja mereka. Alice dan Ailee sibuk memilih menu dan Kris sedang me re-check jadwal untuk hari ini dan besok. Anne? Jangan ditanya, dia hanya menatap kosong buku menu yang ada didepan matanya.

“Ahh, ya. Lemon Lentil Soup with Bun. Ini menu favorite ku. Kalian harus mencoba nya. Apa ada yang kalian inginkan?“ Kris pun membuka pembicaraan dengan mengatakan menu favorite nya. Kris berhasil mendapatkan 3 anggukan dari adiknya. Itu berarti dia akan memesan menu itu 4 porsi.

“Alice, bagaimana dengan kalau kita pesan Chicken Sandwich? Aku penasaran dengan menu itu. Tapi berdua makannya, aku takut tidak habis. Eotthae?” Ailee memberi penawaran hanya kepada Alice. Anne tidak diikut sertakan. Lagi.

“Ge, boleh aku pesan Thai Noodle?” Akhir nya Anne membuka suaranya walaupun hanya berbisik kepada Kris. “Tapi kau harus membantuku untuk menghabiskannya nanti. Eotthae?” Lanjut Anne dengan suara yang kecil dan wajah yang senang yang dipaksakan.

“Okay. Porsi nya memang lumayan banyak. Lalu kau mau apalagi? Dessert?” Tanya Kris. Anne hanya menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum paksanya.

“Twins, kalian sudah memutuskan pesanan kalian yang lain?” Pertanyaan Kris dijawab dengan anggukan dari si kembar. Kris mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Dan pelayan yang bernama Emma itu yang datang untuk melayani mereka.

“Okay. 4 Lemon Lentil Soup with Bun, 1 Thai Noodle. 1 Chicken Sandwich. 3 glass of Limonata and 1 cola. Thanks,” kata Kris kepada pelayan itu dengan wajah sok cool nya. Sebenarnya Kris bingung harus senyum atau harus tetap cool. Sehingga wajahnya tidak bisa terbaca antara senyum dan cool. Bisa dibilang wajah Kris terlihat seperti orang yang sedang menahan sakit perut.

“Okay, please wait for 15 minutes. Enjoy your time,” kata Emma yang sudah sedikit mengatur suaranya. Emma pun pergi kebagian cook untuk menyerahkan daftar pesanan dari meja nomor 3, meja Kris.

Anne bingung harus berbuat apa. Kedua jiejie nya memulai fangirling lagi. Kris? Anne melihat Kris sedang melihat beberapa berkas di iPadnya yang akan ia pertimbangkan di meeting jam 3 nanti. Kris menuruni sifat sang Appa yang tekun dan teliti dalam bekerja. Tapi dalam gaya hidup, jangan harapkan mereka akan teliti. Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Untuk urusan gaya hidup, sang Appa menurunkan sifat ceroboh dan konyol kepada 4 anaknya.

“Ge, boleh aku pinjam iPhone mu? Aku pikir tidak akan selama ini di kantor, jadi aku meninggalkan iPad dan iPhone ku di rumah,” tanya Anne dengan suara yang masih saja pelan.

“Ambil saja, Anne. Biasanya kau langsung mengambilnya tanpa izin,” kata Kris tetap focus pada layar iPadnya. Kris! Tidakah kau peka kepada adik mu yang satu ini? Anne sedang mencoba menarik perhatian Gege nya yang sedikit bodoh ini. Tapi beberapa detik kemudian Kris tersadar kalau adik bungsu ini sedang melihat folder foto keluarga mereka.

 

***

 

Kris POV

 

“Ge, boleh aku pinjam iPhone mu? Aku piker tidak akan selama ini di kantor, jadi aku meninggalkan iPad dan iPhone ku di rumah.” Mengapa Anne bertanya seperti orang berbisik kepadaku? Biasanya suara nya yang melengking itu memenuhi suasana ketika kami makan baik pagi, siang, sore ataupun malam.

“Ambil saja, Anne. Biasanya kau langsung mengambilnya tanpa izin,” kata ku yang tetap focus pada layar iPad ku. Aku sedang memeriksa berkas yang Appa berikan untuk dipertimbangkan di meeting jam 3 nanti. Hey, apa Anne sedang mencoba tertarik atau menarik perhatian ku? Ada apa dengan Anne? Aku pun meliriknya yang sedang melihat foto difolder keluarga. Mungkinkah dia kangen sama Lao Ma dan Appa? Belum ada satu hari ditinggal pergi berlibur dia sudah seperti ini? Bagaimana jika 2 minggu ini dia hanya menghabiskan liburnya dirumah? Apa dia akan depresi? Astaga Kris! Apa yang kau pikirkan. Aku tidak bisa membuat Anne seperti ini terus.

Akupun melirik Alice dan Ailee yang kebetulan juga melihat ke arahku. Aku memainkan alis dan bola mataku untuk berkontak batin dengan si kembar.

“Ge, ada apa dengan Anne?” –Alice

“Apa dia sakit?” – Ailee

“Tidak tahu. Mungkinkan dia kangen dengan Lao Ma dan Appa?” – Aku

“Masa?” Si kembar menaikkan alisnya kompak. Akupun hanya mengangkat bahuku pertanda “kontak batin” ini selesai. Aku pun memulai pembicaraan.

“Anne, apa kau mau Gege menelpon nanny Julie untuk mengantarkan handphone dan iPad mu?” tanya ku sambil membelai rambut panjangnya.

“Tidak perlu. Nanny pasti sedang sibuk dirumah,” jawabnya dengan singkat dan lemah. Anne! Kau jangan membuatku khawatir. Aku masih memikirkan apa yang harus kukatakan untuk memperbaiki suasana hati Anne dan mencegah kekikukkan. Tak terasa, makanan kami pun datang. Untunglah bukan pelayan wanita yang bernama Emma yang mengantarkannya. Aku tidak yakin dia akan membawa makanan dengan benar, hanya membawa buku menu untukku saja dia gemetaran. Bagaimana dengan makanan? Bisa-bisa makanan yang dibawa nya tumpah.

Lagi-lagi Ailee menatap pelayan pria dengan name tag Daniel di seragamnya tanpa berkedip. Ailee! Gege mu ini lebih tampan dari dia. Aku tidak rela kalau sampai Ailee naksir sama Daniel ini.

“Akhirnyaaaaa!” kata Alice yang memang sudah tidak sabar untuk mencoba Lemon Lentil Soup with Bun nya. Segera saja Anne mengambil sendok untuk mecoba sup nya.

“Eh! Tunggu! Alice, berdoa dulu. Remember?” Ailee langsung menghentikan tangan Alice yang sudah mau menyendok satu sendok penuh sup.

Alice hanya nyengir. Aku menggeleng. “Kau memang selalu begitu, Al. Bertemu dengan makanan enak saja, langsung lupa semua,” kataku menggodanya. Aku tertawa melihat ekspresi meringis Alice. Kemudian kami berdoa masing-masing sebelum menyantap makanan yang sudah tersedia di depan kami.

“Selamat makaaaan!” kata kami berempat berbarengan. Senang rasanya melihat ketiga adikku ini suka dengan pilihanku. Alice dan Ailee bahkan sudah menghabiskan setengah porsi soupnya. Anne sudah menghabiskan setengah roti yang berisi daging ayam dan sayuran itu.

“Bagaimana rasanya? Enak kan? Gege tidak salah pilih kan?” tanyaku kepada mereka bertiga. Mereka hanya mengangkat jempol tanda ‘ya’ karena mulut mereka sibuk mengunyah. Duh, adik-adikku ini. Eh.. Sebenarnya tidak beda jauh dengan ku juga sih.

O-oh. Akhirnya, aku melihat wajah Anne yang mulai kembali ceria. Walaupun perasaanku mengatakan dia belum kembali sepenuhnya, setidaknya aku merasa agak lebih baik sekarang.

“Ge, apa meeting jam 3 nanti akan lama?” Akhirnya Anne bertanya dengan suara normal lagi.

“Kurasa tidak. Aku akan mempercepatnya. Lagipula ini bukan permintaan kita. Ini permintaan mereka yang sangat mendadak. Jadi Gege bisa alasan, ada keperluan yang lebih penting daripada negosiasi ini,” jelasku kepada Anne. Tidak terasa, waktu menunjukan pukul 2 siang. Aku harus segera ke kantor untuk menyelesaikan urusan dengan Mr. Ryan.

Aku memanggil pelayan untuk membawakan bill kami. Seorang pelayang yang mungkin sepantaran dengan Lao Ma menghampiri kami dengan membawa papan bill. Akupun membayarnya dengan Flash card ku.

“Ge, aku dan Ailee akan menunggu dimobil. Berikan kunci mobilnya,” kata Alice. Aku memberikan kunci mobil ku dan membiarkan mereka menunggu dimobil. Kesempatan bagus untuk bertanya kepada Anne selagi menunggu card ku kembali.

“Anne, kau kenapa?” tanyaku.

“Tidak apa-apa. Aku hanya bosan,” jawabnya.

“Kau yakin?”

“Yakin, Gege.”

“Hari ini kau berubah menjadi Anne yang tidak Gege kenal. Kau murung sekali, Anne. Ada apa? Kau kangen sama Lao Ma dan Appa? Tak apa. Katakan saja pada Gege.” Aku sedikit memohon kepada Anne sambil mengelus lembut kepalanya.

“Aku hanya kesal. Jiejie kerjaan nya fangirling terus dari tadi. Bahkan aku tidak mempunyai apa-apa untuk menghilangkan kebosananku. Mereka bermain bersamaku ketika ada Miss Watson. Dan kalian seperti lupa denganku. Aku tidak mau lunch disini, Ge.” Anne mengatakan segala yang mengganjalnya dari tadi. Kenapa aku tidak sadar dengan perubahan mood nya Anne sejak dikantor tadi?

“Astaga! Kau membuat Gege panik, Anne. Gege pikir kau sakit. I’m so sorry Anne. Gege sangat tergiur ketika membayangkan menu disini. Lalu kau mau makan dimana?” Kataku sambil tetap mengelus kepalanya.

“Lupakanlah. Lebih baik kita kembali Ge. Sebentar lagi kau akan terlambat.” Anne mengalihkan pembicaraan ini. Baiklah, aku akan menurutinya.

 

***

 

Untunglah, meeting berlangsung dengan lancar sehingga tidak membutuhkan waktu lama. Presentasi mereka pun bagus sehingga menambah bahan pertimbanganku untuk bekerja sama dengan mereka. Pukul 6 sore kami sudah berada di rumah. Anne langsung masuk ke kamarnya sedangkan Alice and Ailee sudah duduk di ruang keluarga, menyalakan TV besar dan menonton acara musik Inkigayo, salah satu acara musik dari  Korea Selatan. Si kembar ini memang menyukai segala yang berbau K-pop. Anne juga suka sebenarnya. Hanya tidak segila si kembar. Aku well, yah, harus kuakui aku menikmati K-pop. Aku juga suka drama korea, seperti I Need Romance dan Iris. Hatiku selalu bergetar setiap menonton drama itu. Padahal sudah beberapa kali aku menontonnya.

“Girls, kalian mandilah. Ini sudah jam 6 sore.” Sambil berjalan mengambil minum ke dapur, aku memperingatkan mereka.

“Tunggu. Sebentar, Ge. Sebentar saja.” Sudah kuduga. Tidak akan di gubris.

“Hhh…” Aku menghela napas. Tidak ambil pusing, aku memilih pergi kekamar untuk mandi dan tentu saja, beres-beres pakaian untuk kepergian 3 hari lagi. Jaga-jaga supaya tidak ada yang ketinggalan. Aku yakin ketiga adikku senang dengan liburan ini. Tapi mengapa mereka tidak beres-beres pakaian ya? Tunggu.. Apakah aku sudah mengatakan kepada mereka kalau kita akan berlibur selama 10 hari penuh?

Aku masih sibuk memasukkan baju kedalam koper setelah selesai membersihkan diriku. Aku membawa baju santai, tentu. Kaos, jaket, celana panjang dengan berbagai macam motif terbaru untuk summer dari berbagai macam merk. Tapi, merk favortiku adalah Pigalle.  Begini-begini, aku ini seorang fashionista. Mungkin turunan dari Appa. Karena Appa juga punya minat dan bakat dalam industri fashion sehingga dia mendirikan Scorpion Corporation.

Aku mendengar pintu di ketuk. “Masuk,” kataku tanpa menoleh kearah pintuk. Aku dilema. Haruskah aku membawa semua snapbackku? Atau beberapa saja? Aku bisa membeli snapback disana. Aku tahu snapback merupakan fashion item nomor satu disana, sehingga pasti model keluaran terbaru ada disana.

“Oh, Anne. Ada apa, gummy?” Tanyaku. Mengingat dia sedang feeling blue hari ini, aku menghentikan aktivitasku dan memberikannya perhatian penuh.

“Ge.. Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kau berkemas? Ge, apa kau juga akan melakukan perjalanan bisnis seperti yang sering Appa dan Lao Ma lakukan? Bagaimana..” Dia sedikit terisak. Hah? Terisak?!

“Anne.. Tunggu. Kau kenapa?” Aku bertanya panik. Segera aku mengampirinya.

“Bagaimana.. Dengan liburan kita, Ge? Kau lebih memilih bisnis dibanding kebersamaan?” Kulihat air mata sudah mengalir deras di matanya. Oh Anne.. Kenapa kau ini?

“Kau kenapa, Anne? Gege tidak melakukan perjalanan bisnis. Oh my. Gosh. Anne, tidakkah kau ingat kita akan berlibur ke Korea? ” Aku bertanya sambil memegang bahu Anne. Ada apa dengan ketiga adikku? Mengapa mereka tidak antusias dengan liburan kita? Kita akan ke Korea! Demi Tuhan! Bahkan sekarang Anne lupa kita akan berlibur- sekali lagi, berlibur ke Korea selama 10 hari!

Bahu Anne segera berhenti berguncang. Dia mendongak dan matanya sukses membulat. “Gege bilang apa? Kita? Liburan? Ke Korea? Korea Selatan? Korea yang itu?! Tanah kelahiran Appa?!” Anne bertanya. Suaranya makin lama makin melengking. Di akhir pertanyaan dia justru berteriak. Aku mendengar derap langkah kaki yang terburu-buru menaikki tangga. Tak lama Alice dan Ailee sampai di kamarku dengan napas tersengal karena berlari menaikki tangga. Kamar kami semua berada di lantai 2, sedangkan Lao Ma dan Appa di lantai 1.

“Ge, ya Tuhan. Apa yang kau lakukan terhadap Anne?!” Ailee langsung memeluk Anne.

“Kau.” Alice maju sambil menudingkan telunjuknya ke arahku. “Apa yang kau lakukan terhadap Anne?” Tanya Alice. Dia mengarahkan telunjuknya yang ditudingkan ke arahku menjadi ke arah Anne yang masih berada di dekapan Ailee. Anne masih terisak sedikit.

Kenapa jadi mereka yang marah, sih?! Harus nya kan mereka senang! Astaga. Ada apa ini?! Dalam hati aku berteriak frustasi. Terjadi keheningan di antara kita. Aku hanya menghela napas. Alice dan Ailee menunggu jawaban dariku. Oh, man. This is bad. Never make a lion inside a girl’s soul wake up.

 

***

 

Begitu mendengar teriakan Anne, Alice dan Ailee langsung berpandangan dan berlari menuju arah suara Anne. Ternyata dia berada di kamar Kris. Si kembar yang masih terengah-engah karena harus berlari menaikki tangga terkejut mendapati Anne menangis dan kakak laki-laki mereka yang wajahnya nampak panik, bingung dan… Kesal?

“Ge, ya Tuhan. Apa yang kau lakukan terhadap Anne?!” Ailee langsung memeluk Anne.

Alice yang pada dasarnya memiliki sifat tomboy -dia tidak terbiasa dengan pelukan dan semacamnya. Dia juga tidak bisa bersikap “lembut” seperti Ailee. “Kau,” kata Alice sambil menudingkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Kris. “Apa yang kau lakukan terhadap Anne?” Lanjutnya sambil menunjuk Anne yang masih sedikit terisak dipelukan Ailee.

Kris yang di tunjuk seperti itu langsung gelagapan. Pertama, dia tidak menyangka Alice akan menudingkan telunjuknya tepat ke depan wajahnya. Kedua, dia bingung karena ketiga adiknya tidak antusias, tidak ingat kalau mereka akan berlibur selama 10 hari penuh di Korea. Ketiga, dia tidak mengerti mengapa ketiga adiknya bertingkah seakan-akan dialah bad guy nya.

“Girls, girls. Calm down. Ini salah paham. Gosh, aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang buruk pada Anne,” kata Kris berusaha menenangkan hati mereka. “Tidakkah kalian senang kalau kita akan berlibur selama 10 hari penuh di Korea?!” Kris bertanya -berteriak, lebih tepatnya- dengan nada frustasi. Dia tidak habis pikir mengapa ketiga adiknya tidak antusias, tidak senang menyambut liburan- sekaligus pemberontakkan sepertinya- mereka ke Korea.

Hening. Detik berikutnya yang terdengar adalah teriakkan “APA?!” “Kau bilang apa?!” “Kita ke Korea?!” Oleh si kembar dan “Ini beneran?!” Oleh Anne yang sudah berhenti menangis saking kagetnya.

 

***

 

#Flashback

 

Kris bangkit berdiri lalu menjabat tangan calon rekan bisnisnya. Presentasi mereka sudah selesai, dan untungnya bagus sehingga tidak menyia-nyiakkan waktu Kris. Mr. Cassidy -kaki tangan sang Appa- sedang membereskan berkas. Kris memandangnya sementara pikirannya melayang jauh. Membentuk kepulan-kepulan asap yang berisi berbagai pemikiran pemuda berusia 24 tahun, kakak dari 3 orang adik perempuan, anak tertua dari Tuan dan Nyona Wu, calon penerus bisnis keluarga dan CEO sementara dari Scorpion Corporation.

Sebagai pemuda yang berumur 24 tahun, jiwa petualang dan pemberontak masih berada di dalam diri Kris. Kris ingin berlibur, merasakkan suasana baru yang tenang, nyaman dan menyenangkan. Jauh dari penatnya urusan bisnis yang selama ini selalu berada di sekelilingnya. Mungkin, ini hanya mungkin, jauh di lubuk hati Kris ia ingin memiliki seseorang yang ingin ia jaga seutuhnya. Seseorang yang bisa melengkapi dirinya yang tidak sempurna. Tapi, Kris seolah-olah tidak menyadarinya karena dia sadar tanggung jawab akan perusahaan nantinya akan diletakkan pada bahunya. Dia harus mempersiapkan diri, belajar dan mencari pengalaman agar tidak mengecawakan Appa yang telah mendirikan perusahaan Scorpion Corporation. Lagipula, dia juga merasa hidupnya sudah lengkap dengan kehadiran Alice, Ailee dan Anne.

Kris juga seorang kakak. Dia memiliki 3 orang adik. Alice, Ailee dan Anne. Dia ingin menjadi kakak yang baik terhadap adik-adiknya. Memberikan kasih sayang, rasa aman, rasa nyaman dan tentunya menjadi panutan bagi 3 adiknya. Dan yang terpenting, dia ingin melakukan banyak kegilaan dan kekonyolan yang akan menjadi kenangan bahagia bagi mereka. Dia ingin adik-adiknya bahagia. Tapi, liburan kali ini dia justru membuat ketiga adiknya bisa-bisa mati kebosanan di rumah. Lao Ma dan Appa pergi berlibur sehingga Kris ditugaskan memimpin perusahaan untuk sementara, membuat adik-adiknya hanya bisa merasakan liburan hanya dirumah.

Sebagai anak tertua, terlebih anak laki-laki satu-satunya yang dimiliki orang tua nya, Kris tentu memiliki tanggung jawab lebih. Dia harus memperhatikan ibu dan ayahnya yang sibuk bekerja. Memberikan perhatian lebih kepada ketiga adiknya. Bekerja lebih keras untuk keberlangsungan hidup mereka apabila Lao Ma dan Appa tua nanti. Otomatis, Kris akan menjadi “rumah” bagi anggota keluarganya yang lain.

Kris kuliah di Korea Selatan dulu. Ia mengambil jurusan Manajemen Bisnis agar bisa melanjutkan perusahaan sang Appa. Bukan, bukan. Ini bukan paksaan dari kedua orang tuanya. Orang tua nya selalu memberikan Kris kebebasan. Sejak dulu, Kris memang tertarik dengan dunia bisnis. Selain itu perusahaan Appa bergerak di bidang fashion yang menjadi minat dan bakatnya. Bakat Kris dibidang fashion mulai terlihat semenjak ia SMA. Ia kerap menjadi perhatian para siswa-siswi karena gaya berpakaiannya yang keren. Tak jarang ia diikut sertakan dalam tim desain di perusahaan sang Appa. Kris kerap memberikan berbagai ide baru untuk berbagai fashion item untuk laki-laki baik itu baju, jaket, sweater maupun celana yang akan dirilis oleh Scorpion Corporation. Kris tidak meresa tertekan atau merasa hidupnya di kendalikan. Karena, sekali lagi, sejak kecil dia sudah tertarik di bidang bisnis juga fashion.

Hmm.. 2 minggu ini ia akan menjadi CEO sementara. Kris sangat mengerti ini merupakan kesempatan besar untuk belajar dan menambah pengalaman. Sang Appa menjadikan Kris CEO sementara dengan tujuan agar Kris mengetahui gambaran seorang CEO. Appa tentu tahu kemampuan sang anak. Ia hanya ingin Kris mengecap pengalaman sebelum terjun ke dunia bisnis sesungguhnya. Appa juga sudah meminta Mr. Cassidy yang merupakan tangan kanan Appa membantu Kris. Appa dan Mr. Cassidy sahabat sejak kecil. Karena itu, Mr. Cassidy sudah mengenal keluarga Lee Ji Young dari dulu. Ia menyayangi anak-anaknya seperti anaknya sendiri. Dan dia dengan senang hati akan membantu Kris berkembang agar bisa menjadi pengusaha hebat seperti sahabatnya. Tidak, Mr. Cassidy tidak pernah berniat mengkhianati sahabatnya. Tidak akan pernah. Kris, sama seperti sang Appa, juga mempercayai Mr. Cassidy dan sudah menganggapnya sebagai ayahnya juga.

Entah pikiran dari mana, tiba-tiba Kris menyadari perusahaan akan baik-baik jika di pegang sementara oleh Mr. Cassidy. Ia hanya ingin berlibur bersama ketiga adiknya. Ia ingin pergi keluar sana. Dan entah mengapa, Korea Selatan sepertinya pilihan yang tepat. Mengapa? Pertama. Korea Selatan merupakan tanah kelarian Appa mereka dan sedang menjadi buah bibir belakangan in. Korea Selatan merupakan negara tujuan wisata terbesar di Asia karena memiliki banyak sekali hiburan yang tidak dapat di temukan di negara lain. Kedua, sepertinya hampir 7 milyar penduduk bumi terpapar demam K-pop. Termasuk si kembar. Bahkan Anne dan Kris bisa di bilang penyuka K-pop. Jadi, apa salahnya? Siapa tahu bisa bertemu artis. Atau kalau bisa bertemu sahabat nya yang sekarang sudah menjadi artis terkenal disana. Dan ketiga, ini yang terpenting. APPA DAN LAO MA TIDAK AKAN KE KOREA. Karena tujuan mereka hanya berkeliling Eropa.

Dan untuk pertama kalinya, Kris melanggar janjinya kepada sang ayah. Untuk sekali ini, ia ingin melepaskan tanggung jawab yang di embannya dan menjadi kakak yang baik untuk ketiga adiknya.

Tapi Kris dilema. Apakah ia akan menjadi anak yang kurang ajar? Yang tidak penurut? Apakah ini “Kris”?

Lalu entah bagaimana Kris mendapati dirinya berkata kepada Mr. Cassidy, “Mr. Cassidy, ada yang ingin kubicarakan.”

Dan detik berikutnya Kris mendapati dirinya sedikit memohon kepada Mr. Cassidy untuk diijinkan pergi.

“Kris, apa kau yakin? Walaupun aku orang yang sangat dipercaya oleh Appa mu, aku takut beberapa keputusan yang ku ambil tidak sesuai dengan keinginan dan harapan Appa mu,” kata Mr. Cassidy meyakinkan Kris.

“Kumohon. Aku tidak bisa membiarkan adik-adikku tidak menikmati liburan yang sudah mereka tunggu-tunggu. Kau tau kan, mereka akan senang sekali jika aku ajak ke Korea. Terakhir mereka ke Korea itu pada saat moment yang tidak tepat. Saat Kakek ku meninggal.” Sekali lagi Kris memohon. Terhitung 3 kali Kris memohon kepada Mr. Cassidy.

“Benar juga Kris. Adik-adik mu butuh perhatian lebih dari mu. Lao Ma dan Appa mu akhir-akhir ini memang sedang sibuk. Aku bisa merasakan perasaan adik-adik mu.” Mr. Cassidy membenarkan perkataan Kris. “Baiklah, ajak mereka berlibur. Jaga mereka baik-baik. Pastikan mereka sehat dan menikmati liburan ini. Jangan lost contact dengan ku selama kau berlibur. Karena aku akan tetap meminta pendapat mu untuk beberapa meeting yang akan ada,” lanjut Mr. Cassidy.

“Kau mengizinkanku? Benarkah? Kau tidak bercanda kan?” Tanya Kris yang tampak tidak percaya.

“Ya, Kris. Aku mengizinkanmu. Aku tidak akan memberitahukan rencana ini kepada Appa mu. Karena sampai saat ini pun dia tidak ada contact denganku. Mungkin dia terlalu asik dengan ‘honeymoon’ nya hahaha,” kata Mr. Cassidy.

“Thank you so much, Sir! Aku akan memenuhi janji mu untuk selalu berkontak dengan mu.” Kris meyakinkan Mr. Cassidy akan janjinya.

“Andai Sven masih ada. Mungkin dia akan menjadi sahabat terbaik mu. Atau mungkin dia akan berada disini menggantikan aku,” kata Mr. Cassidy. Sven adalah anak dari Mr. Cassidy. Dia meninggal ketika berusia 15 tahun. Sven dan Kris adalah teman dari mereka masih kecil. Sven merupakan salah seorang sahabat terbaik Kris. Kris banyak menceritakan rahasia yang ia punya seperti gadis yang ia sukai semasa SD dan SMP. Bahkan Lao Ma dan Appa pun tidak tahu siapa gadis-gadis itu. Dari banyaknya teman-teman Kris, hanya Sven yang menyadari bakat Kris dibidang fashion. Sven membawa semua itu pergi dari dunia ini ketika dia di diagnosa mengindap penyakit yang tidak biasa, Ataxia. Penyakit yang menyebabkan saraf nya tidak berfungsi dengan baik, yang menyebabkan Sven kehilangan keseimbangan tubuhnya. Sven meninggal tepat sehari setelah Kris menepati janjinya untuk memenangkan pertandingan basket SMA tingkat nasional. Kris berhasil memenuhi janji sahabatnya. Mr dan Mrs. Cassidy sangat kehilangan Sven. Sven adalah putra mereka satu-satunya. Begitupun Kris dan keluarganya. Karena Lao Ma dan Appa sudah menganggap Sven seperti anaknya sendiri.

Keheningan melanda Kris dan Mr. Cassidy.

“Tentu, Sir. Dia selalu menjadi sahabat terbaik yang aku punya. Sudahlah Sir, aku tidak ingin melihat mu seperti ini. Aku, aku.. Maafkan aku Sir, telah membuatmu sedih,” kata Kris dengan suara yang lirih. Dia merindukan sahabatnya. Sangat merindukannya.

“Ayolah Kris, aku tidak apa-apa. Cepat pergi makan siang. Adik-adik mu pasti sedang menunggumu diruangan,” kata Mr. Cassidy yang berusaha untuk tegar. Kris pun keluar dari ruangan meeting untuk menemui ketiga gummies nya.

***

Alice, Ailee dan Anne masih tidak bisa percaya dengan pendengaran nya tentang liburan ke Korea.

“Ge, ini bukan mimpi kan?” Kata Alice.

“Katakan ini bukan mimpi, Ge!” Sambung Ailee.

“Ge, kau membuat jantungku hampir copot.” Anne, pikirannya yang selalu berbeda dari kedua Jiejie nya.

“Aku serius! Aku sudah memberitahu kalian tadi dikantor, Gummies. Bagaimana bisa kabar gembira ini kalian lupakan begitu saja?!” Jelas Kris dengan nada yang terdengar frustasi.

“Ge! Asal kau tahu, kau tidak mengatakan apa-apa dikantor tadi!” Bentak Alice yang memang berani. Jangan kan Gege nya, Alice berani membentak Appa nya jika Appa nya melakukan kesalahan. Disiplin dan tegas memang mereka terapkan didalam keluarga.

“Aku sudah bilang, Alice Wu!” Balas Kris tak kalah keras.

“Ge! Kau hanya bilang kita akan berlibur selama 2 minggu. Kau tidak memberitahu kami tujuannya.” Ailee membela Alice.

“Ayolah Ge, percuma saja kau punya wajah tampan kalau terkadang kau melupakan otak mu yang cerdas itu,” kata Anne polos. Seketika itu juga Kris membulatkan mata dan mulut nya. Sedangkan Alice dan Ailee terkekeh mendengar celotehan adik bungsu nya.

“Benarkah? Aku belum mengatakannya?” Kata Kris sambil menunjuk diri nya dan dibalas anggukan dari gummies nya. “Okay, I’m sorry Gummies. Kalian menang kali ini. Jadi? Kalian tidak ingin beres-beres? Kita akan berangkat lusa malam,” kata Kris.

“Bye, Ge! Aku harus kembali ke kamar ku,” Kata Alice dan Ailee bersamaan. Dasar anak kembar! Tinggalah Anne didalam kamar Kris. Kris masih memberikan perhatian penuh kepada Anne, karena dia masih ingat kalau Anne sedang feeling blue.

“Ge. Bolehkah aku meminta satu hal lagi?” Tanya Anne yang duduk dipinggir ranjang Kris. Kris pun menarik kursi yang ada didekat meja kerja nya dan duduk dihadapan Anne.

“Kau mau meminta apa Anne?” Tanya Kris.

“Aku lapar, bolehkah kita pergi makan malam di Chinatown?” Kata Anne dengan hati-hati.

“Hhh.. Baiklah. Berhubung seharian ini Gege sudah membuatmu kesal, permintaan dikabulkan. Hehehe,” kata Kris sambil mengacak rambut panjang Anne. “Jiao Li, bolehkan Gege meminta satu permintaan juga?” Tanya Kris. Anne mengangguk antusias.

“Bisakah kau kembali ceria seperti biasa? Kau membuat Gege tersiksa dan frustasi dengan sikapmu yang seperti ini,” pinta Kris.

“Permintaanmu diterima Wu Yi Fan! Hahaha. Maafkan aku, Ge. Aku tidak bermaksud membuatmu frustasi,” jawab Anne.

“Yasudah. Bersiaplah. Sebentar lagi kita pergi makan malam. Ajak Alice dan Ailee untuk bersiap juga,” kata Kris. Tanpa menjawab, Anne melesat keluar dari kamar Kris dan langsung memberitahu kepada kedua Jiejie nya tentang acara makan malam mereka.

***

Di Chinatown, mereka benar-benar hanya makan malam. Setelah makan malam selesai, si kembar ingin langsung pulang dengan alasan sudah sangat lelah. Berbeda dengan Anne yang sudah terisi kembali mood battery nya.

Sesampainya dirumah, Kris langsung menyiapkan berkas-berkas yang harus ia kerjakan selama sisa harinya di Kanada dan mengerjakan tugas-tugas perusahaan yang akan dia tinggalkan selama 10 hari. Kris juga sudah menelepon Ms. Watson untuk izin datang lebih siang besok.

Kris meregangkan ototnya yang terasa kaku setelah 3 jam duduk menghadapi laptop dan kertas-kertas di meja nya. Ia ingin keluar sebentar untuk mengambil minum. Langkahnya terhenti ketika ia baru saja memegang gagang pintu, tetapi pintu sudah terbuka.

“Astaga Anne Wu! Kenapa kau belum tidur?” Tanya Kris yang masih terkaget-kaget melihat Anne dihadapannya dengan menggunakan piyama kelinci dari Lao Ma.

“Aku tidak bisa tidur. Bolehkah aku menemani Gege mengerjakan pekerjaan mu?” Kata Anne yang tanpa persetujuan dari Kris langsung duduk di kasur empuk Kris dan memainkan handphone nya. Anne tidak hanya membawa dirinya sendiri, tapi dia membawa boneka teddy bear kesayangannya, handphone dan iPad nya. Kris hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia pun kembali ke tujuan awalnya untuk mengambil minum. Ketika Kris kembali dari dapur, ia mendapati Anne belum tidur.

“Anne, tidurlah. Ini sudah larut. Bukannya kau tidak bisa tidur larut?” Kata Kris. Anne hanya menggeleng keras di tempatnya.

Kris melanjutkan pekerjaannya walaupun jam sudah menunjukan pukul 02.00 pagi. Ditemani dengan Anne yang sedari tadi sudah berganti posisi, dari duduk, tiduran, terlungkup, kaki naik ke kepala ranjang sampai dia tertidur ditengah-tengah ranjang.

Dengan kesadaran yang tak lagi penuh Kris me-rechek pekerjaannya dan akhirnya tertidur dimeja kerjanya. Waktu berjalan begitu cepat. Kris masih hanyut dalam mimpinya saat handphonenya berkali-kali bergetar tanda adanya telepon. Merasa terganggu, akhirnya Kris bangun dan mengangkat telepon itu.

“Hello, good morning,” sapa Kris dengan suara khas bangun tidur.

“Sorry for waking you up, Sir. Ini sudah jam 11.30. Pukul 13.00 nanti akan ada rapat dengan para GM dari Scorpion Corporation baik Canada, China dan Paris,” kata seseorang diujung telepon.

“Ya. Saya akan bersiap. Katakan pada Mr. Cassidy untuk memulai bagiannya terlebih dahulu sebelum aku datang,” jawab Kris yang telah sukses membuka kedua matanya. Setelah pembicaraan selesai, Kris langsung bergegas mandi dan berniat menemui adik-adiknya terlebih dahulu.

Kris meraih jas dan dasinya yang ada dilemari pakaian, lalu ia berlari kebawah untuk mengisi perutnya dengan beberapa helai roti ataupun sekedar air mineral. Dia menemukan ketiga adiknya sedang asik menyantap pizza yang mereka pesan untuk sarapan.

“Hai, Ge. Kau telat bangun? Atau memang sengaja ingin berangkat siang?” Sapa Ailee.

“Aku berniat berangkat siang. Tapi aku bangun terlalu siang. Jam 1 ini Gege ada meeting. Kalian mau ikut atau stay dirumah? Hari ini hanya ada 1 meeting saja,” kata Kris sambil menyantap pizza yang ia ambil dari tangan Alice.

“Ya! Gege! Aku memesan 2 kotak, jangan merebut yang ada ditanganku!” Teriak Alice. Tapi dia tidak ambil pusing karena sekarang tangannya sudah memegang potongan pizza baru.

“Aku tidak mau ikut! Kalau Alice Jie dan Ailee Jie mau ikut, silahkan saja. Aku tidak mau ikut!” Jawab Anne.

“Aku mau ikut!” Jawab Alice dan Ailee serempak.

“Anne, Gege tidak akan mengizinkan kau sendirian dirumah. Nanny Jullie sudah mengambil libur. Jadi keputusannya kau tetap ikut ke kantor. Jangan lupa bawa semua peralatan yang kau butuh. 10 menit lagi kita berangkat,” kata Kris tanpa butuh penolakan dari Anne.

 

***

A day later.

 

Kris POV

 

Hari ini adalah hari keberangkatan ku dan para Gummies ke Korea. Kami diantar oleh Mr. Dan Mrs. Cassidy. Kami sampai dibandara dengan waktu yang mepet, karena aku benar-benar baru selesai meeting jam 9 malam. Pesawat akan take off jam 11 malam. Saat ini aku masih menggunakan pakaian kantorku. Aku tidak punya waktu untuk ganti baju. Benar-benar hari yang melelahkan.

“Anne, kau tidak melupakan perlengkapanmu satupun kan?” Tanyaku pada Anne karena biasanya Anne sering melupakan sesuatu yang wajib dia bawa seperti jaket, krim alerginya ataupun vitaminnya. Semua passport adik-adikku aku yang membawa. Aku tidak ingin ada yang tertinggal sehingga ku pastikan buku itu aman ditanganku.

“Nothing, Sir!” Jawab Anne. Haaaah, aku kelewat panik, kami baru sampai di Bandara International Vancouver jam 10.30. Tiga puluh menit lagi pesawat kami take off. Tanpa basa-basi lagi, kami langsung check-in. Sebelumnya aku berpamitan kepada Mr. dan Mrs. Cassidy.

“Sir, kami berangkat. Terima kasih atas izinnya. Hehehe. Aku akan selalu mengaktifkan handphone dan selalu men-check email ku. Kalau ada perlu apa-apa, kau bisa video call dengan ku,” kata ku.

“Ya, Kris. Aku percaya padamu. Hati-hati disana. Jaga dirimu dan jaga adik-adikmu,” Mr. Cassidy menasehatiku dan kemudian memelukku. Detik itu juga aku kangen pelukan Appa, padahal 3 hari lalu aku merasakannya sambil menggodanya. Mungkin sekarang Appa dan Lao Ma sudah ada di Swiss.

“Take care kids. Kris, kau harus menjaga adik-adikmu. Aunty percaya kau bisa menjaga mereka. Titip salam ku untuk paman mu yang konyol itu. Hahaha,” kata Mrs. Cassidy. Lee Kwang Soo, dia adalah paman terkonyol yang pernah aku miliki. Walaupun konyol, dia sangat pintar dan dalam situasi tertentu, dia bisa menjadi sosok yang sangat berwibawa. Sayang, diusianya yang hampir berkepala tiga ini -29 tahun, tepatnya- dia belum memiliki pendamping. Well, walaupun aku belum memiliki pendamping tapi umurku masih bisa dibilang cukup muda.

“Akan ku sampaikan, Aunty.” Jawabku.

“Girls, kalian harus patuh sama Kris. Jangan buat dia repot, okay?” Kata Mrs. Cassidy kepada gummies.

“Sip aunty! Kita akan patuh,” Kata Alice dan Ailee. Kemana Anne? Dia tidak sanggup membuka matanya lagi. Anne terduduk dikursi tunggu sambil tertidur. Dia sudah sangat mengantuk, mengingat akhir-akhir ini dia kurang tidur. Alasannya ingin menemaniku menyelesaikan pekerjaanku, tapi akhirnya dia menggangguku dengan mengajakku bermain TapTap Revolution di iPadnya. Sial nya aku tergiur dan pekerjaanku tidak semua terselesaikan pada saat itu.

“Baiklah, kami berangkat. Thank you Sir and Aunty. See you soon. Byeee~” Kataku yang diikuti oleh Alice dan Ailee.

Sebenarnya aku tidak tega membangunkan Anne, tapi apa boleh buat. Tidak mungkin aku menggendongnya, aku harus terlihat cool dimanapun aku berada. Lagipula, akupun tidak cukup kuat untuk menggendongnya saat ini. Aku sangat lelah. Anne berjalan disebelahku, aku pun merangkulnya untuk memastikan dia tidak berjalan sambil tidur dan menyebabkan hal-hal aneh terjadi.

Tadinya aku ingin memesan tiket Korean Air, tapi ternyata aku harus ke Los Angeles terlebih dahulu karena penerbangan Korean Air tidak ada rute dari dan ke Kanada. Untung saja aku ingat kalau Canadian Air ada rute ke Korea. Aku dilanda kebimbangan ketika ingin memesan tiket. Sebenarnya aku ingin berangkat secepatnya, tapi penerbangan pagi hari hanya ada di Montreal International Airport. Itu yang membuatku tidak jadi berangkat dipagi hari dan berangkat larut malam ini. Jarak dari Vancouver ke Montreal itu tidak dekat.

Tanpa basa-basi lagi, setelah check ini kami langsung menuju seat kami. Aku memilih International Business Class, mengingat ini perjalanan yang lumayan jauh aku mengambil kelas ternyaman.

“Anne, jangan tidur sebelum pesawat benar-benar take off. Arra?” Aku menegaskan ini kepada Anne. “Alice, pakai headphone mu. Jangan sampai telinga mu sakit lagi.” Kataku kepada Alice yang duduk di belakangku. Aku duduk bersebelahan dengan Anne sedangkan si kembar di belakangku. Sebenarnya Alice tidak memiliki gangguan pendengaran, hanya terkadang telinga nya berdengung ketika naik pesawat.

Pesawat kami take off tepat waktu. Aku pun merebahkan diriku dikursi pesawat yang memang bisa dijadikan tempat tidur. Anne yang duduk disebelahku sudah tertidur dengan seat belt dan boneka teddynya. Akupun tak lupa membawa anakku, Ace Wu – boneka Alapaca ku. It’s gonna be a long journey! Wo de mei mei, let’s become normally insane this summer! Flight Mode sudah ku aktifkan. Entah apa yang membuatku tidak bisa memejamkan mataku walaupun aku lelah. Apa aku terlalu senang untuk liburan ini? Apa aku senang melihat adik-adikku tidak akan menghabiskan liburan yang membosankan di Kanada? Yang pasti aku hanya ingin membuat adik-adikku senang, itu saja sudah cukup. Aku kemudian memasang headset dan menshuffle lagu.

*…himkkeot dallyeo meomchujima nae soneul japgo ije cheoncheonhi nun tteobwa.

Neomu nollajima, u ready?

Nal ttara ttwieobwa run, cheoeummbuteo hello hello, e-yo

Idaero neowa na run, I soneul nochi marayo, e-yo…*

 

Run as fast as you can, don’t stop

Hold my hand and slowly open your eyes

Don’t be too shocked, U ready?

 

Follow me and run, from the beginning

Hello Hello, e-yo

Just like this you and me run,

Don’t let go of this hand, e-yo

 

Kepalaku mengangguk-anggguk mengikuti alunan lagu. Aku tersenyum. Ahh.. Lagu yang sangat sesuai.

 

***

 

… Welcome to Korea…

 

They are here! Keempat kakak beradik itu akhirnya menginjakkan kaki di Korea Selatan, tanah kelahiran Appa. Mereka terburu-buru keluar dari terminal kedatangan sambil menyeret (?) Koper masing-masing, juga Kris dan Anne yang membawa boneka masing-masing. Alice masih menenteng novel yang dibacanya selama berada di dalam pesawat- sebelum akhirnya jatuh tertidur dan tahu-tahu terbangun karena perutnya lapar – dan Ailee yang masih menenteng iPadnya.

10 jam perjalanan Canada – Korea cukup membuat mereka lelah, sebenarnya. Hanya saja, semangat mereka mengalahkan rasa lelah itu. Kecuali Alice yang pegal-pegal. Tubuhnya memang gampang pegal.

“Ah, aduh punggungku. Geez, leherku…” Gumam Alice.

Kris yang berjalan di sebelahnya langsung menghentikan langkah dan menoleh kearah adiknya. “Kau sudah minum vitaminmu, belum?”

Anne yang sedari tadi sibuk memperhatikan sekelilingnya tak tahu Kris berhenti dan berakhir dengan mendaratkan hidungnya di punggung Kris. “Ya! Ge!” Teriaknya. “Kenapa, sih?”

“Sudah minum, belum Al?” Tanya Kris lagi dengan matanya yang tajam. Yang di tanya justru mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau melihat mata tajam Gegenya yang sekarang sepertinya semakin tajam saja.

Kris yakin 200% kalau adik nya pasti belum meminum vitamin saraf nya. Alice harus mengkonsumsi vitamin tersebut apabila ia berpergian jauh agar tubuhnya tidak pegal. “Alice Wu, kutanya sekali lagi, sudah belum?”

“Oke oke!” Kata Alice tidak tahan. “Belum beluuuummmm!!” Jawabnya merana. Sudahlah, menyerah saja. Ujung-ujungnya ketahuan juga, pikir Alice.

Kris memutar kedua bola matanya. Diikuti Anne dan Ailee yang menghela napas. Mau diapakan lagi. Alice selalu begitu. Tunggu pegal dulu, baru minum obat.

“Sudahlah, Ge. Kita cari tempat duduk saja dulu. Supaya Alice bisa minum obat. Kita juga bisa menunggu Kwangsoo Samchon disana kan,” usul Ailee.

“Iya benar! Aku masih mengantuk, nih,” timpal Anne. Sebenarnya sih tidak. Bagaimana bisa masih mengantuk sementara dia sudah on fire untuk menjelajah Korea bersama Gege dan kedua Jiejie nya?

“Baiklah.” Kris akhirnya memutuskan.

Mereka kemudian menemukan bangku yang cukup panjang sehingga mereka berempat bisa duduk beriringan. Untunglah karena hari sudah pagi, pukul 9 pagi sehingga bandara sudah ramai.

Alice mengeluarkan vitaminnya dari dalam tas ransel berwarna hitam dengan aksen studded miliknya. “Ge, kita kan tidak punya air.. Bagaimana mau minum?” Tanya Alice pada Kris yang sekarang sedang sibuk mengirim email kepada pamannya. Mereka memang sudah membuat janji agar dijemput di Bandara Internasional Incheon oleh Kwang Soo.

“Tunggu. Biar kubelikan,” kata Kris. Diantara mereka semua, Kris yang paling baik bahasa Korea nya karena Kris pernah tinggal di Korea untuk kuliah. Sedangkan adik-adiknya hanya berbahasa Korea -itupun terkadang- dengan sang Appa juga beberapa kerabat apabila mereka datang ke Canada. “Tolong jaga adik kalian, ya.” Kris menambahkan sambil menudingkan jarinya kepada Anne. “Oh, jaga anakku juga.”

Ketiga adiknya pun membalas dengan anggukan.

 

***

 

Kris POV

 

“Ajeossi, igo eolmaeyo?” Kris bertanya kepada paman penjual berbagai minuman dingin. Ditangannya sudah ada 4 botol air mineral.

“2000 won,” jawabnya.

Aku pun mengeluarkan dompetku. Ketika sedang mengeluarkan dompet, aku merasakan “gejolak” di perutku. Sial.

Dengan terburu-buru aku menyerahkan 2 lembar uang 1000 won. “Ah ye. Kamsahamnida.” Aku langsung berjalan cepat begitu Ajeossi menerima uang. Semakin lama rasa sakit itu semakin menjadi. OH NO! This is bad!

Akhirnya aku berlari menghampiri ketiga adikku yang sibuk mengobrol. “Nih air minumnya. Aku pergi sebentar ke toilet. Kalian tunggu disini. Jangan kemana-mana.” Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung pergi lagi mencari toilet.

Demi Tuhan, toiletnya dimanaaa?!

Samar-samar aku mendengar teriakkan Anne, “Ge, do you want to pooing?”

Astaga Anne!

 

***

 

“Eh, ayo kita coba berbahasa Korea,” usul Ailee yang kemudian mengeluarkan kamus dari dalam tas milik Anne.

“Jie!” Bentak Anne tiba-tiba. “Jadi itu alasan mengapa tasku beratnya setengah mati?!” Sambil mebelalakkan matanya, Anne menunjuk-nunjuk bergantian kamus-tas-kamus-tas.

Ailee dan Alice tertawa. “Mian,” kata mereka kemudian mencubit pipi Anne.

“Bilang apa kalau mau berterima kasih?” Langsung saja Ailee bertanya, padahal tidak satupun dari Alice dan Anne yang setuju dengan usul konyol Ailee. Mereka sudah bisa berbahasa Korea kok.

…..

“Oy! Bilang apaaa?” Kata Ailee.

“Kamsahamnida, gomawo,” jawab Alice dan Anne malas-malasan. Astaga, mereka sudah tahu kata itu disaat pertama mereka dilahirkan!

“Kalau bilang halo?”

“Annyeonghaseyoooo!” Jawab Alice dan Anne masih dengan nada malas.

“Bilang permisi-”

“Oke, Ailee, ini bodoh dan konyol! Twins, kita sudah bisa bahasa Korea, oke? Tolong jangan aneh-aneh. Anne saja hari ini bertingkah normal.” Alice menginterupsi. Dia sudah jengah dengan kelakuan konyol saudara kembarnya.

Ailee cemberut, tidak terima dikatakan “tidak normal”.

Tiba-tiba Kris datang sambil berlari. Wajahnya… Seperti menahan sesuatu. Kenapa, ya?

“Nih air minumnya. Aku pergi sebentar ke toilet. Kalian tunggu disini. Jangan kemana-mana,” kata Kris sambil menyerahkan kantong plastik berisi 4 botol air mineral begitu saja ketangan Alice.

Belum sempat mereka menjawab, Kris langsung melesat pergi. Langkahnya sudah aneh. Persis orang mau…

“Ge, do you want to pooing?” Anne berteriak, menyuarakan pertanyaan yang ada di benak si kembar juga. “Ge, aku ikut. Aku ingin beli ice cream disana.” Lanjut Anne sambil menunjuk ke arah booth ice cream.

“Kau beli saja sama jiejie saja ya Anne, nih uang nya.” Kata Kris sambil menyerahkan satu lembar uang 10000 won.

“Mungkin Gege mau “itu”.” Anne menyimpulkan sendiri karena tadi pertanyaannya tidak dijawab Kris. Ya iyalah, Anne! Siapa yang mau jawab kalau ditanya seperti itu? Dengan berteriak di depan umum, lagi!

“Jie, ayo kita beli ice cream disana.” Ajak Anne kepada kedua atau salah satu jiejie nya.

“Ailee, kau temani Anne sana. Aku masih ingin duduk. Punggung ku masih sakit.” Tolak Alice.

“Anne, kau bisa sendiri kan? Itu tidak terlalu jauh kan? Kau masih bisa melihat kami disini kan? Aku juga masih lelah. Eotthae?” Kata Ailee yang juga menolak.

“Hmmm, baiklahh. Aku tidak terima titipan! Hahaha,” kata Anne yang langsung melesat ke booth ice cream.

15 menit setelah Anne pergi membeli ice cream, tapi dia tidak menujukan batang hidung nya. Kwang Soo yang baru sampai langsung bertanya tentang Anne.

“Kemana Anne?”

“Tadi dia membeli ice cream disana. Mungkin masih mengantri,” kata Alice sambil menunjuk ke arah booth ice cream. Kris datang dengan wajah cerah nya setelah membuang “sampah” dari perutnya.

“Dimana Anne?” Tanya Kris.

“Beli ice cream. Mungkin masih mengantri.” Gantian Ailee yang menjelaskan.

“Ice cream? Tapi barusan aku lihat tidak ada antrian. Ice cream yang disana kan?” Tanya Kris kepada adik kembar nya sambil menunjuk booth ice cream yang ada didekat pintu keluar. Alice dan Ailee hanya mengangguk.

“YA! Anne!” Kris langsung panik dan berniat menelepon Anne. Mereka sudah membeli nomor Korea sejak tiba di Korea tadi.

“Ge, Anne tidak membawa handphonenya. Tadi aku melarang nya. Kau tau dia lalai kan?!” Kata Ailee sambil mengangkat handphone nya Anne.

“Kris, lebih baik kita langsung mencarinya. Kita berpencar. Dan kau Alice, Ailee, kalian tunggu disini saja biar samchoon dan gege mu yang mencarinya,” kata Kwang Soo. Well, dia cukup pintar saat ini.

Kris dan Kwang Soo pun berpencar. Kris dengan tergesa-gesa berlari ke arah booth ice cream dan bertanya kepada penjualnya sambil menunjukan foto Anne. Si penjual mengatakan bahwa Anne sudah pergi dari 15 menit yang lalu. Orang-orang melihat Kris dengan tatapan aneh. Berlari tanpa tujuan, masih memakai pakaian kantor nya dan muka yang terlihat sangat kebingungan.

“Anne, kau dimana?!!! Jangan buat Gege mu ini digantung oleh Appa hanya karena kau hilang saat membeli ice cream,” batin Kris. Disaat panik melanda, tak terbesit sedikitpun dikepala Kris untuk mendatangi pusat informasi.

Sementara itu, Kwang Soo masih sibuk menilik setiap sudut tempat dimana dia berada. Dia melupakan kacamatanya sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas. Tiba-tiba dia mendengar suara teriakan yang sangat dia kenal.

“Samchoooonn!!!”

……………….

 

 

*TBC*

 

Wait for the next Chapter! Their adventure is ready to begin! ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s