Sleeping Prince (Chapter 4)

Author             : Nikky-Chan

Tittle                : Sleeping Prince

Cast                 : Chanyeol, Minhyun (OC), Jong In, Lay and other (seiring chapter, cast muncul dan hilang sesuai kebutuhan)

Genre              : Humor (garing), School life, Romance

Lenght             : Chapter

Rating             : T

.

.

.

Dulu pernah diadakan tebak-tebakan konyol berakhir hukuman mengelilingi lapangan sampai 50 kali. Seluruh kelas pula. Salah mereka sih.. mempertanyakan hal-hal konyol, apalagi tentang guru seram macam Wu sonsaengnim yang setiap hari berwajah sangar. Bak pangeran kutub yang dingin, baik sikap maupun sifat.

 

“Berapa usia Wu sonsaengnim yang sebenarnya?”

Wu sonsaengnim adalah guru yang baru mengajar di sekolah mereka sejak tiga tahun ini. Tapi mereka baru bertemu di kelas tiga. Perawakannya tinggi, tatapan mata tajam, wajahnya tampan sih.. tapi sepertinya sudah kaku karena tidak pernah terlihat tersenyum. Maksimal senyum tipis, kadang malah terlihat menyeringai –meskipun Wu sonsaengnim tidak bermaksud demikian-. Karena itu murid di kelas Minhyun curiga bahwa dia sudah berumur dan berkeluarga.

 

“Pasti usianya 39 tahunan?” tebak salah seorang murid asal Cina, Yixing namanya. Gaulnya Lay.

 

“Kok nebaknya nanggung gitu? Umumnya orang bakalan nebak kan 40 tahunan” sahut murid lain, sebut saja si A –karena peran terlalu minor jadi malas kasih nama-.

 

“Soalnya wajahnya tidak terlihat seperti orang usia 40 tahun sih..”

 

Si A memasang wajah datar mendengar penjelasan Lay.

 

“Hey,hey.. kira-kira berapa anaknya yah? Ahh.. apa anak-anaknya juga dingin seperti Wu sonsaengnim? Pasti keren sekali..” sahut murid perempuan yang kemungkinan fans Wu sonsaengnim.

 

“Yah… padahal aku berharap dia masih muda agar aku bisa menjadi istrinya. Kyaa.. pasti kami akan menjadi keluarga paling bahagia sedunia.”Hoy,hoy… padahal tebakan Lay belum tentu benar.

 

Hmm.. Minhyun yang waktu itu duduk di pojokan bareng temannya –Hana- , hanya bisa memasang wajah datar mendengar berbagai pendapat konyol dari temannya. Padahal dalam hati juga ikut menyuarakan pendapatnya sendiri lho. Tapi karena gengsi, jadi tidak mau ngomong.

 

“Kalau menurutmu Minhyun-ah?” tanya Hana yang sepertinya mulai ikut tertarik dengan pembicaraan teman sekelasnya.

 

“Menurutku?”

 

“Iya. Teman-teman memiliki pendapat yang berbeda-beda. Ada yang bilang dia perjaka tua, maniak lukisan yang gak laku-laku, beristri dua, alien dari planet lain dan sebagainya. Minhyun juga pasti punya pendapat sendiri kan?”

 

Kalau Hana secara pribadi sih berpikir bahwa Wu sonsaengnim itu sebenarnya pribadi yang baik. Hanya saja ketutup muka kakunya, jadi ‘baiknya’ Wu sonsaengnim itu gak keliatan saking kakunya wajahnya. Semua pendapat selalu diujung-ujungkan pada betapa kakunya wajah Wu sonsaengnim yang tidak pernah tersenyum. Padahal mereka pikir, kalau saja dia tersenyum pasti sudah terlihat tamvan sekali.

 

“Hm.. dia pernah memujiku sekali –selebihnya caci makian-, kurasa–”

 

“Sedang membicarakan sesuatu?”

 

Kalimat Minhyun terpotong. Suasana kelas hening seketika, beku lebih tepatnya. Semua murid kelas tidak bergerak sama sekali setelah sebuah pertanyaan dari suara yang sangat mereka kenali terdengar.

 

Setelah itu kelanjutannya bisa di tebak. Mendengar cerita itu, Chanyeol bersyukur dia belum pindah sekolah saat itu. Beberapa dari temannya saja ada yang pingsan dan tidak bisa bangun dari tempatnya karena tepar. Kalau sampai dia yang tukang tidur itu mendapatkan hukuman seperti itu juga. Mungkin dia akan benar-benar tidur dan tidak bangun selamanya.

 

Sesekali menguping obrolan teman sekelas sambil tidur-tiduran di kelas memang ada gunanya. Chanyeol jadi tidak perlu repot-repot bertanya tentang suasana kelas sebelum dia pindah dulu.

 

“Ehh?? Jadi kau sudah tahu berapa usia Wu sonsaengnim yang sebenarnya?” tanya si A pada Lay yang kini tengah tersenyum bangga. Chanyeol berharap di situasi yang seperti sekarang ini, Wu sonsaengnim tidak tiba-tiba datang di tengah mereka. Karena Chanyeol masih ingin curi dengar obrolan mereka.

 

“Iya, ternyata usianya 25 tahun. Lulus kuliah usia 22 tahun dan langsung mengajar di sekolah kita.”

 

“EEHHHH? LEBIH MUDA DARI CHEN SONSAENGNIM YANG DUDA BERANAK DUA???”

 

Sekarang dalam kepala Chanyeol bertanya-tanya, berapa usia Chen sonsaengnim? Ini Wu sonsaengnim yang punya wajah ketuaan, atau memang Chen sonsaengnim ternyata babyface –padahal menurutnya tidak-? Kok bisa Chen sonsaengnim jadi duda? Anaknya dua pula, kok bisa? Kapan nikahnya? Memang wajah kotak begitu bisa laku ya?

 

Yeol.. kalau kepo harusnya tanya.

.

.

.

Entah bagaimana cara Jong In menjelaskan –lebih tepatnya berbohong- dengan sangat meyakinkan –bak sales- bahwa dirinya adalah teman sekamar Chanyeol. Dengan alasan Chanyeol sedang keluar asrama dan sepertinya akan lama, ibu Chanyeolpun akhirnya menurut untuk pulang. Dengan saran untuk menemui Chanyeol bulan depan saja karena sedang sibuk-sibuknya belajar. Si ibu gak inget kalau anaknya punya ponsel agar bisa di hubungi dan tanya langsung. Kalau Jong In sih, bersyukur sekali dia tidak mendapat tambahan masalah.

 

Yah, dengan begitu Jong In mendapatkan ucapan terima kasih dari Chanyeol, begitupula Minhyun atas bantuannya. Tapi rupa-rupanya tidak gratis. Karena Jong In penasaran seperti apa hubungan Minhyun dan Chanyeol sebenarnya. Diapun mengajak mereka keluar asrama pada hari minggu dengan alasan belajar bersama.

 

“Tapi hari minggu adalah hari tidurku seharian penuh. Minta yang lain saja.” tolak Chanyeol.

 

Pikiran Jong In sudah kemana-mana. Jadi, setiap hari minggu mereka hanya berdua-duaan di kamar, begitu. Padahal Chanyeol baru pindah dua minggu ini, dan minggu ini baru minggu kedua.

 

“Setiap hari juga kau selalu tidur kan Chanyeol! Oke,nanti kita bertemu di perpustakaan kota saja. bagaimana?”

 

“Eh? kenapa tidak di kafe dekat lapangan basket saja?” Soalnya Jong In sekalian mau minta traktir.

 

Chanyeol menggeleng sambil menguap, “Di perpustakaan saja, aku bisha sehalihan hihur”

 

Jong In menatap Chanyeol dengan tatapan seolah berkata “oh ya ampun orang ini”. Ada rasa greget juga di hatinya. Kemudian terpikir olehnya, jangan-jangan selama ini Chanyeol selalu seperti ini ketika mereka berdua di kamar.

 

“Itu artinya dia mempermainkan perasaan Minhyun. Chanyeol sialan…!!”  batinnya.

 

Lho, Jong In. Maumu itu sebenarnya apa sih. Kesalahpahaman itu kok tambah kemana-mana.

.

.

.

Pada akhirnya, minggu pagi itu Jong In hanya bisa menatap datar Chanyeol yang tertidur di sampingnya. Minhyun memberinya beberapa soal untuk latihan, karena memang tujuannya ada dua. Pertama, mencari tahu hubungan dua orang teman sekamar itu. Kedua, mereka sudah lama –sebenarnya cuma dua minggu- tidak belajar bersama. Jadi sekalian saja deh.

 

“Wow, kemampuan belajarmu semakin meningkat.” Setelah mengoreksi, Minhyun memberi nilai 88 pada Jong In. Hahh.. lega rasanya. Rupanya, usaha mengajari Jong In hampir setiap hari itu tidak sia-sia dan membuahkan hasil.

 

Jong In melirik Chanyeol yang masih tertidur dengan posisi kepala membelakanginya. Dia kembali memasang wajah datar dan teringat dengan tujuan pertamanya.

 

“Ada apa memperhatikan Chanyeol? naksir ya?” goda Minhyun.

 

Sontak Jong In langsung menoleh dengan mata mendelik horor dan dengan mulut membentuk huruf ‘o’, maksudnya mungkin ‘o em ji’. Merinding rasanya membayangkan dirinya jatuh cinta pada orang yang suka molor seperti pemuda di sampingnya. Dia masih suka gadis seksi yang menggodanya di pinggir jalan ya, hmpf. Seleramu mas.

 

“Tak ada. Aku hanya penasaran, apa di kamar dia juga seperti ini? Tidur seharian penuh, dan tidak melakukan apa-apa. Berarti dia tidak membersihkan kamar ataupun pekerjaan rumah yang di berikan sekolah. Apa jangan-jangan kau yang mengerjakan semua itu? Berarti dia menyiksamu dong”

 

Minhyun terkekeh. Kekhawatiran Jong In menurutnya tidak beralasan. Chanyeol sama sekali tidak pernah bersikap mencurigakan. Malahan dia bersikap sangat sopan pada penghuni asrama putri yang lain. Yah.. menurutnya, Chanyeol itu orang yang sadar diri lah.

 

“Hmm.. Chanyeol hanya tidur seharian penuh ketika hari minggu saja kok. Sepulang sekolah, kami juga bersih-bersih terlebih dahulu baru kemudian belajar bersama. Waktu makan juga kami pergi ke kantin dengan cara yang normal. Meskipun reaksi para siswi di sana tidak bisa dianggap normal. Sebagian kan memang penggemar Chanyeol.”

 

Jong In mendengus mendengar kata penggemar. Diakui olehnya, bahwa Chanyeol itu tampan meskipun dia masih lebih tampan, tapi tampannya itu tidak kelihatan gara-gara kulitnya yang agak kehitaman. Berbeda dengan Chanyeol yang sudah tinggi, punya kulit putih, tampan pula. Dan jangan lupa, otaknya juga encer. Cuma memang kekurangannya adalah terlalu suka molor. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan pemuda itu sangat suka tidur. Atau memang dia sudah suka tidur dari lahir, Jong In tidak terlalu mempedulikan yang itu. Dia juga suka tidur kok, buktinya dia sering terlambat datang ke sekolah gara-gara kesiangan bareng Luhan.

 

“Lalu… apa kau punya hubungan khusus dengannya?” tanya Jong In sedikit blak-blakan.

 

“Eh? Hubungan khusus? Maksudmu.. seperti sepasang kekasih begitu?”

 

“Yah.. kau tahulah, hubungan khusus seperti apa lagi. Masa iya suami-istri.”

 

Minhyun kembali terkekeh sambil merapikan buku yang dibacanya sambil menunggu Jong In mengerjakan soal tadi. “Siapa tahu kan, kami tidur sekamar, sekelas, pulang sekolah bareng, masuk asrama gandengan tangan lalu–”

 

“Ahh.. itu-itu, gandengan tangan. Kenapa kalian berdua bergandengan tangan?” ditambah lagi Chanyeol sok ganteng dengan kacamata hitamnya pula.

 

Jong In dan kesalahpahamannya, hanya bisa membuat Minhyun geleng-geleng kepala. Dia bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Jong In selaku orang awam. Maklum saja deh.

 

“Hmm.. itu, takutnya Chanyeol melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh seorang laki-laki di sana.”

 

“Seperti?”

 

Minhyun jadi teringat jemurannya yang dilihat oleh Chanyeol di hari pertama dia pindah. Dan hal itu membuat darahnya mendidih dan pipinya memanas. Ughh.. memerah seperti tomat mungkin.

 

“Pokoknya sesuatu.” Gadis SMA tahun ketiga itupun berdiri dan mengembalikan buku yang di ambilnya ke tempat semula, sebelum Jong In bertanya lebih lanjut dan berakhir membuatnya malu sendiri.

 

“Jong In-ah, mau mampir ke kafe dekat lapangan basket sebentar?” inilah yang di tunggu-tunggu.

.

.

.

Jong In itu penggila Chocolate shake, mau dibelikan selusinpun kalau diberikan padanya pasti langsung habis dalam hitungan menit. Levelnya sudah maniak. Kalau mentraktir Jong In cairan cokelat itu, paling tidak harus siap mental dulu. Tapi sayang, hari itu Chocolate shake sedang habis. Jadi diapun terpaksa memesan vanila shake hari itu.

 

“Uwahh.. aku tidak tahu kalau Chanyeol itu sangat dewasa.” Ujar Jong In ketika pelayan meletakkan secangkir kopi hitam di depan Chanyeol.

 

“Saran dari nona yang tidur di kamar yang sama denganku. Agar tidak terlalu sering mengantuk, aku harus banyak-banyak minum kopi setiap hari.” Katanya sambil mulai mencicipi kopi pesanannya.

 

“Tapi terlalu banyak minum kopi kan juga tidak baik.”

 

Dengan gaya yang cukup elegan dan membuat mata beberapa gadis yang menjadi pengunjung disana berbinar-binar, Chanyeol meletakkan kembali cangkir kopinya di atas meja.

 

“Yah.. paling tidak, aku minum sekali setiap sore.”

 

“Minhyun yang buat?”

 

Gadis yang sejak tadi menikmati es krimnya pun akhirnya buka suara. “Ya, paling tidak aku jadi bisa ikut minum kopi gratis darinya.”

 

Jong In melotot, “Secangkir berdua?”

 

“Hah? Tentu saja tidak, aku buat di cangkirku sendiri. Kau ini ada-ada saja.” Minhyun berdiri untuk memesan es krim lagi. Meninggalkan dua pemuda duduk berdua dalam diam. Hanya satu menit, karena setelah itu Jong In memulai ke-kepoannya pada Chanyeol.

 

“Jadi… apa kau mempunyai perasaan khusus padanya?” tanya Jong In sambil menyedot vanila shakenya.

 

“Hmm… entahlah.”

 

Pemuda berkulit tan itu lalu memasang wajah serius, “Kalau sampai kau mempermainkan perasaannya, kau harus bersiap untuk mendapat ‘perhatian khusus’ dariku.”

 

“Bagaimana ya?” Chanyeol sedikit menyeringai, dan baru pertama kalinya Jong In melihat itu. “Kau tenang saja. Aku berjanji tidak akan melakukan apa yang kau takutkan itu.”

 

Jadi, siang itu Jong In pulang sambil menatap dua punggung berjalan di depannya. Minhyun terlihat santai mengobrol bersama Chanyeol. Padahal, jarang sekali ada orang yang bisa membuat gadis itu berbicara sesantai dan seakrab itu. Kalau mengingat dirinya dulu, usahanya keras sekali. Ada perasaan lega setelah obrolannya bersama Chanyeol tadi. Rasa penasarannya hilang, dan kini berganti dengan rasa haru.

 

Ughh.. Minhyun benar-benar sudah dewasa sekarang.” batinnya.

 

Tolong ingatkan Jong In kalau Minhyun itu bukan anaknya ya.

.

.

.

Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang seharian mengikuti mereka dari belakang.

.

.

.

TBC

 

Ada yang tanya kenapa chapter sebelumnya kok pendek ya? hehehe.. soalnya saya lagi sibuk ngerjain skripsi menggunakan sistem kebut seminggu. Dosennya  muter-muter. Maunya sehari selesai udah, langsung ujian. Ternyata diluar dugaan, ngerjainnya seminggu, tapi minta tanda tangannya dua minggu gak dapet-dapet. Pasca terbengkalai gara-gara jadi petugas sensus selama sebulan. Ya terima resiko deh. Mian buat keterlambatannya ya… /ini sesi curhat kah?

 

Ngomong-ngomong tentang ibunya Chanyeol nih.. karena gak tega nulis tentang Jong In yang gugup gelagapan cari alesan. Akhirnya di skip saja deh/alesan!/di tendang.

2 thoughts on “Sleeping Prince (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s