Oppa And Saem (Chapter 1)

cats

Tittle : Oppa and Saem

Author : Cero_Annisa

Leight : Chaptered

Genre : Family, School life, Romance

Main cast : Park Chanyeol, Park Chanyee, Kim Joonmyeon, Kang Hae Goo

Summary : Chanyee menyukai gurunya, sedangkan sahabatnya menyukai kakaknya. Namun Park Chnayeol, kakak Chanyee menentang hubungan Chanyee dan juga Joonmyeon. Wae?. Baca aja!!!

Disclaimer : plagiat itu dosa loh…no plagiat. MERDEKA!.

……………………………………………………………………………………………………………………………………

“eomma, memangnya Chanyeol oppa tinggal di apartemen?” aku berusaha bertanya kepada ibuku, berharap dia menjawab dengan benar dan tidak bohong padaku.

“iya, besok kamu sudah harus pindah, Chanyeol juga sudah meng-iyakan” sambil melipat pakaian, ibu menjawab yang aku pastikan jawabanya tidak bohong. Aku berharap seperti itu.

Besok adalah hari pertamaku pindah di kota, Seoul. Kata eomma, aku harus mencari pengalaman di kota seperti oppaku, Park Chanyeol. Chanyeol sudah berada di tingkat kedua sekolah menengah atasnya, ia juga tinggal sendiri di sebuah apartemen yang sebelunnya tidak pernah aku datangi.

Aku menghabiskan seluruh masa kanak-kanakku sampai sekarang di sini, Incheon. Sebuah desa yang juga lumayan terkenal. Namun tidak melebihi terkenalnya boyband EXO yang beranggotakan 9 orang.?

“pergi tidur, besok kita harus berangkat pagi-pagi” eomma mendorong lembut pundakku, mataku kemudian melirik jam yang baru menunjjukan jam 20.30 malam.

“baiklah. Selamat malam” kakikku melangkah menuju sebuah kamar yang bercat putih, sungguh polos. Karna memang penghuninya tidak menyukai warna apapun kecuali putih dan hitam. Ya, aku memang tidak suka warna-warna cerah, seprti biru dan kuning, terlalu menor. Itu menurutku.

Mataku menatap seluruh penjuru ruangan ini, seolah aku mentransfers seluruh gambaranya ke otakku. Karna ini adalah malam terahirku di kamar yang sudah menjadi tempat perlinduganku, aku berusaha mengingat semuanya dengan jelas.

 

Besoknya

“Selamat tinggal” sebelum mengunci kamar, aku mnegucapkan selamat tinggal pada ranjangku, dengan mata ynag berlinang air mata, tanganku kupaksa untuk menutup pintu dengan cepat, sebelum aku tidak bisa pergi meningggalkan kamar ini.

Rasanya sangat cepat sampai di Seoul. Di Seoul banyak sekali kendaraan, banyak gedung pencakar langit dan juga agensi-agensi idol. Tadi aku sempat melewti agensi JYP. Tapi tidak ada artis yang kulihat, melainkan kerumunan fans yang berada di depan gedung tersebut.

“eomma, Chanyeol oppa eodiga?” tenyaku saat kami semua sampai di apartemen Chanyeol yang masih tertutup.

“dia kan masih sekolah” oh iya, ini masih jam 12 siang, seharusnya Chanyeol memang masih ada di sekolahnya.

“lalu…eomma kapan pulang ke Incheon?” semoga saja ibu pulang besok, karna suasana di apartemen Chanyeol pasti aneh, bisa saja aku canggung bertemu Chanyeol.

“eomma akan pulang kalau Chanyeol sudah datang”.

……………………………………………………………………………………………………………………………………

“Chanyeol-ah” eomma berteriak melihat anak tertuanya di ambang pintu. Tidak ku sangka, eomma akan berteriak seperti itu, jelas sekali bahwa dia sangat memanjakan Chanyeol dari pada aku.

“eomma” Chanyeol balas berteriak, langsung berhambur kepelukan eommanya. Cih, drama anak dan ibu. Bangaiman kalau ku putarkan saja lagu ‘destiny’ ost my love from the star. Hem, sepertinya aku di cuekin.

Karna mereka berdua sibuk berbincang, aku memutuskan untuk kembali menata kamarku. Kamarku bercat warna abu-abu, masih tampak sangat kosong hanya di tempati oleh sebuah ranjang king size dan sebuah meja belajar.

Laptop hitam milikku ku letakkan di meja belajar, lalu buku-buku yang akan ku pakai sekolah juga ku letakkan di meja belajar. Meja belajarnya lumayan bagus, jadi aku memutuskan untuk menatanya dengan sangat baik.

“eomma pulang sekarang” tiba-tiba eomma muncul di ambang pintu kamar milikku, mendengar ucapan eomma, aku memutuskan untuk mengantarnya samapi keluar apartemen. Melihat tidak ada Chanyeol, membuatku bingung. Kemana dia?

“eomma, Chanyeo oppa kemana?” tanyaku.

“oh, dia ada jadwal pemotretan. Jadi dia tidak bisa menemani ibu lebih lama” begitu kata eomma.

Chanyeol memang hebat, dia bisa membiayai hidupnya dengan kerja sebagai model, dan pastinya dia masih sangat muda. Ada lagi kelebihanya, Chanyeol oppa sangat lah tinggi, berbeda denganku yang tidak terlalu tinggi.

“eomma anyyeong” tanganku terus melambai seiring dengan mobil yang menjauh dari pandanganku. Setelah mobilnya sudah menghilang, aku membalikkan tubuhku lalu kembali ke kamar. Astaga, aku tidak tau PW apartemen ini. Bagaimana ini?

Aha! Aku ingat, handphone ku. Tanganku dengan cepat mengambil sesuatu di saku rokku. Handphone, setelah mengambil itu, aku langsung menelpon Chanyeol, namun. Silanya, hanya suala layanan telpon yang berbicara. Bukan itu yang ku inginkan.

Kuputuskan untuk duduk di depan pintu, tidak peduli orang akan memandangiku aneh. Sembari menunggu Chanyeol aku terus memainkan heandphone, mencari sebuah kegiatan yang akan mengalahkan kebosanan.

……………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Chanyeol POV

            Bliz kamera terus mengenai wajahku, dan aku terus saja berpose sebaik yang aku bisa. Berharap sebuah pose yang tampilkan mendapatka decak kagum oleh sang fotograper. Sudah lumayan lama aku berada di sini, sudah sekitar tiga jam lebih. Tedi setelah berpamitan dengan ibu, aku langsung menuju di sini untuk bekerja.

Aku lelah, namun juga bahagia. Siapa yang tidak bahagia kalau orang-orang di sekitarmu terus saja mengagumimu dan memberikan sebuah pujian. Hal itu yang paling kusukai saat seperti ini. Bahkan aku juga sempat memunji diriku, bahwa aku, Park Chanyeol memang lumayan ganteng.

“terima kasih semuanya” aku beberapa kali membungkuk hormat pada kru-kru pemotretan dan juga sang fotograper. Saat ini sesi pemotretan sudah selesai dan itu artinya semuanya termasuk aku sudah boleh pulang. Yeah…

“Chanyeol oppa, ini untukmu” wanita muda  yang memanggilku barusan adalah anak dari sang fotograper, ia kartanya menyukaiku, dan nge-fans. Tangannya mengulurkan sebuah minuman yang berwarna merah muda, aku tidak tau minuman jenis apa itu.

“ige mwoya” tamyaku. Wajahnya tersipu, persis dengan minuman yang ia berikan padaku

“itu…minuman untukmu, aku tadi pagi membuatnya dengan penuh cinta” wajahnya bahkann tambah merah mengucapkan hal itu.

“oh…makasih” tanganku mengambil botol minuman itu lalu pergi dengan senyum tipis. Setelah merasa semuanya sudah beres aku memutuskan pulang.

Di perjalanan aku baru teringat, bahwa sekarang aku sudah tidak tinggal sendiri lagi. Sekarang Chanyee sudah tinggal denganku. Itu berarti aku harus beli makanan untuknya. Melihat sebuah minimarket, aku memberhentikan mobil. Namun saat hendak turun, aku mengambil samartphone di saku celana, keningku berkerut melihat ada beberapa panggilan dari Chanyee.

Tapa babibu aku menelponya, takut ada sesuatu. “yobeseo. Chanyee-ah, wae?” tidak butuh lama dia mengangkat telponya, sepertinya dia memenag menunggu sebuah telpon dariku.

“mwo? Mianhae, aku akan segera pulang” astaga, aku baru saja hampir membunuh adikku, dia tinggal di luar sudah cukup lama, dan ini jelas salahku, tidak memberi tahu PW apartemen sebelumnya.

Sekitar 30 menit aku sampai di lobi apartemen, dan tidak butuh waktu lama aku langsung berlari menuju kamar apartemen. Apakah Chanhee baik-baik saja? Mudah-mudahan seperti itu.

“Chanhee-ah, neo gwenchana?” tanyaku saat melihatnya menekuk lutut di depan pintu apartemen. Wajahnya terlihat pucat saat mendonggak menatapku.

“hah…akhirnya kau datang” dia segera berdiri lalu menunjuk pintu menyuruhku membukanya secapetnya. Hah, sepertinya dugaanku benar. Dia tidak apa-apa. Sia-sia sajaaku menghkwatirkanya. Seharusnya aku tidak harus cepat-cepat kembali dari kerjaanku.

“oppa, tadi ibu menelpon, katanya kau tidak harus mengirim uang banyak lagi, katanya lebih baik kau berikan saja uang kepadaku”. Keningku berkerut, berpikir sejenak. Memangnya dia pikir aku tidak akan memberikanya uang?

“memangnya kamu pikir aku tidak akan memberikanmu uang?” aku ynag tadinya ingin kekamar berhenti dan menoleh kepadanya yang sekarang sudah ada di depan kamarnya, tepatnya di saping kamarku.

“bisa saja kan?” anak ini benar-benar. Memangnya waktu dia sekolah di Inchen siapa ynag membiayainya, aku juga kan?. Jadi kalau dia sudah di sini pastilah aku yang akan memberinya uang.

“ah, sudalah. Kau tidur saja. Besok aku akan mengantarmu kesekolah” tuturku sebelum masuk kamar, tidak peduli Chanhee masih saja mematung di depan kamarnya.

TBC

………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

Oh iya…saya lebih mementingkan komentar dari pada like, tapi kalau mau di like nggak apa-apa.v

 

One thought on “Oppa And Saem (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s