Things I Hate About You

Things I Hate About You

Title: Things I Hate About You

Author: Jung Rae Mi

Cast: OC’s Asahina Yue, EXO’s Oh Se Hun, dst.

Genre: Romance, and… kinda angst? Hurt/comfort? I don’t know for sure.

Rating: T

Length: Oneshot.

A.N: so it’s called wb and it’s fcked you up. Saya stress dengan wb ini sehingga menuliskan oneshot lain bukannya melanjutkan A Longlast Happinnes.

Happy Reading~!!^^

.

 

.

 

.

 

Aku benci dengan cara bicaramu.

“Pagi, Sehun!”

“Pagi, Yue. Ada apa pagi-pagi begini ke kelasku?”

Yue segera duduk di bangku yang masih kosong di hadapan Sehun. “Begini, aku main osu selama seminggu ini.”

Sehun mengangguk. Tersenyum ketika topik pembicaraan kali ini adalah salah satu game favoritnya. “Lalu?”

“Sial! Aku gagal terus! AkuterusmendapatskorDdanbahkanseringgagalsebelumlagunyaselesai. Belumlagiinimasihmodepalingmudahdanakuterusgagal. AstagaSehun—“

“Yue stop! Kau bicara seperti kereta listrik kecepatan 100 km/jam, gunakan spasi saat berbicara dan dilambatkan, please. Aku tidak mengerti apapun yang kau bilang tadi!”

 

.::.

 

Aku benci dengan otak fujoshimu itu.

“ASTAGA SEHUN KAU HARUS TAHU!!”

Pintu kelas didobrak kasar, Sehun terperanjat di bangkunya. Harapannya di pagi hari adalah tidak mendengarkan ocehan Asahina Yue. Sepertinya Dewi Fortuna sedang meninggalkan Sehun hari ini.

“Ada apa, Yue?”

“Ini!” Yue menunjukkan layar ponselnya. Terpampang gambar dua orang laki-laki sedang… uh… sex?

Wajah Sehun seketika memerah lalu dia menutup kedua matanya. “ASTAGA YUE KAU MENODAI MATAKU!”

“Sehuuun! Ini komik YAOI yang sudah kutunggu selama setengah tahun dan akhirnya update! Omona! Kau lihat, adegan ini super sekali! Kyaaa~!”

“Jangan memperlihatkannya padaku!”

 

.::.

 

Aku benci tingkah sok tahumu.

Hanya siang hari biasa di sekolah ketika istirahat. Sehun duduk di koridor sekolah menatap lapangan, lalu sosok gadis dari kelas sebelah muncul, Asahina Yue. Gadis itu segera duduk disampingnya dengan sebuah komik. Sudah biasa. Keduanya memang sering menghabiskan waktu istirahat bersama, kadang dalam hening, kadang dalam pembicaraan seru yang hanya bisa dimengerti oleh mereka semenjak keduanya saling mengenal, sebulan yang lalu.

“Itu komik apa? YAOI lagi?”

Yue tertawa kecil. “Maafkan aku yang kemarin oke? Hahaha. Bukan, kali ini Gekkan Shoujo Nozaki-kun jilid ke-5. Disini muncul lagi Nozaki Mayu, adiknya Nozaki.”

Sehun segera meraih komik dari tangan Yue. “Serius? Wah, kau benar. Pfft, HAHAHA-“

“Sehun.”

Yue berjengit ketika merasakan aura kegelapan menguar dari tubuh Sehun. Jika orang lain, maka pasti segera menjauh dari aura Sehun yang siap membunuh. Yue menolehkan kepala dan melihat sosok gadis lain. Seketika Yue menggeser duduknya menjauh. Dia selalu takut pada gadis ini, seolah ada aura aneh disekitarnya.

Ahn Hyun Ah, teman sekelas Sehun.

“Kita mau kerja kelompok hari ini dirumahku jam 4.” Ujar Hyun Ah.

Sehun hanya membalas dengan gumaman lalu kembali membaca komik. Memberikan perintah tidak langsung menyuruh Hyun Ah pergi.

“Oh ya, Sehun, dan jangan lupa-“

“Pergilah. Sekarang.”

Hyun Ah terdiam lalu segera pergi. Meninggalkan Yue dan Sehun kembali berdua. Sehun menghembuskan nafas berat. “Uuh, aku benci gadis itu.”

“Jangan tanya. Aku juga.” Balas Yue singkat. “Tapi Sehun, kau satu sekolah dengannya saat sekolah menengah pertama, ‘kan?”

Sepintas memori menyusup ke kepala Sehun. “…Ya.”

“Yang kudengar, kau dulu satu kelas dengannya juga. Kau membencinya karena dia yang suka mengatakan padamu bahwa ada gadis ini atau gadis itu yang suka padamu. Tapi sebenarnya dia sendiri yang menyukaimu.”

Hentikan.

“Lalu ketika masuk sekolah menengah atas, kau satu kelas dengannya lagi di kelas satu. Di awal masuk, kau sering curhat padanya.”

Berhenti bicara Yue.

“Kau hampir mencurahkan seluruh masalahmu dengannya. Lalu kenapa kau tiba-tiba lagi menjauh? Apa karena kau tahu bahwa dia menyukaimu? Atau karena-“

Bel sekolah berbunyi. Sehun segera mengembalikan komik Yue. “Aku ke kelas dulu.” Ia berdiri dan memasuki kelasnya. Meninggalkan Yue yang juga segera masuk ke kelasnya.

Sehun meletakkan kepalanya diatas meja. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi. Segala memori ketika penindasan yang terjadi semasa di sekolah menengah pertama kembali berputar di kepala. Membuat lelaki itu merasa sesak. Ia tidak mau mengingatnya lagi. Terlebih Hyun Ah sendiri satu kelas dengannya.

Lalu apa-apaan gadis yang baru dikenalnya sebulan yang lalu itu menjadi sok tahu dengan masalah ini?!

 

.::.

 

Aku benci caramu meminta maaf.

Sehun menghela nafas melihat sepucuk surat berwarna kekuningan berada di laci bangkunya diantara tumpukan surat lain. Ini sudah satu minggu semenjak ia berhenti berbicara dengan Yue. Ia meminta gadis itu menjauhinya. Kenangan satu minggu yang lalu saat Yue seenaknya berbicara mengenai masa lalunya tanpa tahu apapun itu selalu membuatnya sakit kepala.

Dan gadis itu berusaha meminta maaf. Sehun tidak pernah mendengarkan gadis itu lagi. Yue mencari cara lain. Ia menuliskan surat permintaan maaf yang diletakkannya di laci Sehun tiap pagi sebelum lelaki itu datang. Sehun tidak pernah membuka satupun surat dari Yue. Ada nama Asahina Yue di amplop surat dan Sehun segera membuangnya.

Sekalipun Yue tidak menuliskan namanya di amplop surat, Sehun tetap tahu bahwa surat itu dari Yue. Tiap pagi lacinya selalu penuh dengan tumpukan surat dari para gadis yang menyukainya. Dan amplopnya pasti berwarna putih, pink, ataupun biru. Dan sejauh yang dia ketahui, Asahina Yue memiliki amplop surat berwarna kekuningan seolah amplop itu disimpan selama ribuan tahun dan sudah tua. Yue menyukai benda yang berwujud vintage. Disaat semua orang menggunakan DVD player ataupun tape, Yue menggunkan vinyl dengan piringan hitam. Disaat semua orang mencari kertas berwarna putih, Yue mencari kertas berwarna kekuningan.  Gadis itu tetap memiliki sisi modern dengan barang-barang tertentu yang bersifat oldies.

Sehun meremukkan amplop itu dan akan menaruhnya ke tempat sampah seperti hari-hari kemarin.

“Maafkan aku, Sehun.”

Lelaki itu menoleh, melihat Yue yang berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. “Sehun, maafkan aku!” Gadis itu segera membungkukkan badan.

“Yue, apa kubilang?”

“Tidak! Maafkan aku! Aku salah, aku seenaknya berbicara! Maafkan aku!”

Sehun membuang surat itu. “Sudah kubilang jauhi aku, ‘kan? Pergilah!”

“Maafkan aku, Sehun!”

Tubuh Sehun membantu melihat gadis itu telah bertumpu di kedua lutut. Lelaki itu bersyukur ini masih sangat pagi sehingga orang-orang tidak perlu melihat mereka. “Yue, bangun!”

“Tidak! Tidak sebelum kau memaafkanku!”

Sehun mendengus kesal. “Bangun, Yue!”

“Sudah kubilang tidak!” Yue mengangkat kepalanya, menatap Sehun tepat ke kedua matanya. Sehun berjengit melihat mata itu berkaca-kaca. “Jaebal, maafkan aku, Sehun…”

Lelaki itu menghela nafas pelan. “Baiklah.” Ia mengulurkan tangannya pada Yue. “Aku memaafkanmu.”

Dasar merepotkan.

 

.::.

 

Aku benci kedekatan kita.

Istirahat makan siang. Sehun duduk di koridor menatap lapangan, lalu ada tepukan lembut di pundaknya. Yue tersenyum lembut dan segera duduk di sebelahnya seperti biasa.

“Jadi bagaimana? Kau sudah menonton Shiki[1]?” Sehun bertanya.

Seketika Yue mengerucutkan bibir. Tampak kesal. “Satu episode, Sehun. Satu episode dan aku sudah mengalami mimpi buruk! Kau tahu, ‘kan, aku benci genre horor! Dan Shiki berhasil membuatku ketakutan!”

Lelaki disebelahnya hanya terbahak puas. Ia tahu jelas bahwa Yue membenci apapun dengan genre horor, dan gadis itu dengan polosnya menerima anime Shiki yang diberikannya, dimana anime itu jelas menakutkan untuk tipikal orang seperti Yue.

“Lalu? Kau langsung berhenti?” Tanya Sehun lagi, mengusap air mata yang nyaris mengalir di pipi akibat terlalu banyak tertawa.

Yue menunduk. “Ceritanya seru. Aku menangis di episode 10.”

“Itu sama saja!” Sehun tertawa lagi. “Tapi aku yakin kau pasti menonton dengan lampu kamar yang menyala terang dan bergelung dalam selimut.”

“Tentu saja! Aku tetap ketakutan! Terlebih saat Megumi[2] muncul dari bawah tempat tidur- jangan bahas ini lagi!”

Sehun tertawa puas. Ia menepuk-nepuk punggung Yue dengan perutnya yang perih karena terlalu banyak tertawa. Sehun berhenti menertawakan Yue ketika mendengar suara siulan atau sorakan-sorakan aneh di belakang mereka.

Ini terjadi lagi.

Ketika ia hanya berbicara berdua dengan Yue sebagai sesama otaku, orang lain yang melihat akan salah paham dan berpikir bahwa mereka berpacaran, menyoraki mereka seolah tidak tahu batas privasi.

Sehun benci itu.

 

.::.

 

Aku benci kemampuan memasakmu.

“Apa ini?”

Macaroon! Aku membuatnya kemarin, dan hasilnya bagus. Coba!”

Sehun menatap kue berwarna itu. Dipilihnya satu yang berwarna coklat. Lelaki itu memasukkannya perlahan ke mulutnya, lalu hanya mampu terdiam merasakan nikmat di mulutnya. Rasa coklat menyebar di mulutnya dengan sempurna. Enak, dan Sehun mengambil satu lagi dengan warna biru. Kembali merasakan rasa blueberry yang memuaskan. “Luar biasa, Yue!”

Yue tersenyum. “Terima kasih, senang kau menyukainya.”

“Boleh minta lagi?”

“Silahkan.”

Senyuman Yue tampak lembut. Senyuman yang disukai Sehun.

Sehun benci mengapa jantungnya sempat melewati satu detakan ketika melihat senyuman itu.

“Buatkan lagi besok, ya.”

“Tentu, Sehun!”

 

.::.

 

Aku benci dengan senyumanmu.

“Kau dengar? Hari ini katanya 4 siswa pingsan lagi saat upacara.”

“Malang sekali untuk tim medis, pasti kerepotan menjaga semuanya.”

Sehun menghela nafas lalu memutuskan untuk keluar, malas mendengarkan ocehan tidak penting di kelasnya. Ia duduk di depan koridor, sembari menunggu guru yang akan masuk mengisi jam belajar pagi ini. Ia menoleh ke arah kelas sebelah. Suasanya masih ramai, masih menunggu guru untuk masuk mengajar.

Mana Yue?

Biasanya gadis itu akan keluar dari kelas, duduk di sebelahnya, dan mereka akan membahas anime terbaru yang keluar di musim ini. Lantas kemana gadis itu?

“Lee Ji Seok!”

Sehun menoleh kembali ke kelas sebelah. Ia melihat Jung Sooyung, anak kelas lain, yang memanggil Ji Seok, ketua kelas di kelas Yue.

Ji Seok keluar dari kelas, berdiri di hadapan Sooyung. “Ada apa, Sooyung? Jarang melihatmu datang ke kelas. Kau mencari Yue? Dia sama sekali belum kembali.”

“Justru itu kenapa aku disini. Tolong berikan izin pada Yue, dia tidak bisa masuk kelas hari ini.”

“Eh? Apa dia harus menjaga orang sakit di ruang kesehatan?”

Sooyung menggeleng. “Bukan. Yue juga sakit.”

“Hah?!” Ji Seok membelalak. Ia mengorek telinganya memastikan tidak salah dengar. “Kau tidak salah, ‘kan? Ini Yue, lho. Asahina Yue! Anggota terbaik tim medis! Kenapa dia bisa sakit?”

“Itu juga membuat kita bertanya-tanya. Ketika selesai upacara, dia kembali ke ruang kesehatan untuk melepaskan atribut tim medis. Hanya saja Soojung menyadari kalau dia terlihat pucat. Dan dia langsung memegang perutnya setelah itu. Hanyoung Sunbae bilang, mungkin Yue kena maagh. Tapi bahkan setelah minum obat dia belum baikan, jadi kita putuskan agar dia istirahat dulu.”

“Oke, aku akan masukkan di absen nanti!”

“Baik, terima kasih, Ji Seok-ah!”

Sehun masuk ke kelasnya, duduk di bangku dengan diam. Menunggu guru masuk dan segera memulai pelajaran.

 

.

 

Koridor penuh saat istirahat. Kantin sedang ramai. Sehun berjalan melewati koridor dengan sapaan para gadis yang segera dia acuhkan. Tangannya segera meraih kenop pintu ruang kesehatan ketika tiba.

Ada empat buah ranjang disana. Semuanya terisi penuh. Disisi lain ada lemari, dispenser yang berada di atas meja, tiga buah kursi, pintu menuju kamar mandi, dan wastafel. Juga sebuah pendingin ruangan.

Dan disanalah Asahina Yue. Membawakan air hangat pada salah satu pasien. Gadis itu menoleh dan menatap Sehun terkejut. “Sehun, waeyo? Kenapa kau berada disini? Apa kau juga sakit? Oke, duduklah dulu, lalu katakan apa keluhanmu.”

“Bukan. Aku mencarimu.”

“Eh?”

Yue segera berjalan mendekati lelaki itu. Lelaki itu melihat kearah pasien yang ada di ranjang. Semuanya perempuan. “Kenapa banyak sekali pasien hari ini?” Tanyanya.

Gadis itu tersenyum tipis. “Yah, yang diujung sana pingsan. Kemudian tiga lainnya mengalami sakit perut akibat datang bulan.”

Aku melihat salah satunya sedang selfie, Yue! Sadari itu!

Sehun menatap Yue. “Lalu? Kau sendiri bagaimana?”

“Aku?”

“Hum.” Sehun megangguk. “Kudengar kau sakit sehabis upacara tadi.”

Kedua matanya menatap tepat kearah mata Sehun, Yue tersenyum. Senyuman khasnya yang disukai Sehun. Senyuman yang selalu membuat jantung Sehun tidak bekerja dengan baik. “Aku baik-baik saja, Sehun.”

Senyuman yang sangat dibenci Sehun.

Pendingin ruangan bekerja dengan baik. Keringat menghias wajah Yue, menetes turun dari wajah yang tampak ceria. Tapi dari jumlah keringat yang menghias itu, Sehun tahu bahwa Yue tengah menahan sakit.

Sehun semakin benci senyuman ini.

Senyuman Yue penuh dengan kebohongan.

 

.::.

 

Aku benci ketika kau sedang sakit.

Esok harinya, Yue tidak datang ke sekolah. Ia harus diopname setelah menjalani operasi usus buntu, itulah kabar yang ia dengar. Sehun tidak tahu sesakit apa rasanya. Tapi Sehun jelas tahu, betapa kuatnya gadis itu. Ia pernah melihat bagaimana ibunya yang kesakitan sebelum dioperasi, hingga menangis tak bisa menahan rasa sakitnya.

Yue masih sanggup untuk menjaga orang lain dalam keadaan sakit seperti itu.

Satu minggu kemudian, sebuket Agapanthus pun berada di genggaman, dan Sehun berjalan di koridor rumah sakit, menjenguk Yue. Gadis itu sudah lama tidak masuk, Sehun merindukannya. Ia menatap kearah nama Yue yang terpampang di bawah nomor pintu, memastikan bahwa ruangan ini memang milik Yue.

Sehun masuk kedalam. Suasana kamar tampak nyaman sekalipun aroma medis mengganggu indra penciuman Sehun. Tapi sosok yang berada di bangsal itu lebih mengganggunya.

Sehun ingat jelas, Yue itu gadis yang tubuhnya lumayan berisi, bukan kurus seperti ini. Terbaring lemah dengan infus di tangan. Tersenyum dengan tatapan mata kosong.

Ini bukan Yue yang ia kenal.

Yue memiliki wajah yang ceria, pipinya bulat dan menggemaskan. Bukan pipi  nyaris tirus dengan kantong mata mengerikan.

Ia tampak menderita.

Sehun benci. Sehun benci ini.

Sehun benci melihatnya tampak menderita seperti ini.

Sehun benci, karena orang secantik itu seharusnya tidak terlihat seperti ini.

 

.::.

 

Aku benci tangisanmu.

“Kudengar kau operasi usus buntu. Aku tidak menyangka kau sampai ingin merawat orang-orang dalam keadaan sakit seperti itu.” Sehun berujar seraya duduk disamping bangsal Yue.

Yue terdiam. Ia menatap Sehun dengan raut keheranan. “Operasi… usus buntu?”

Sehun mengangguk. “Aku mendengarnya dari kelasmu. Kakakmu datang dan memberikan surat sakitmu. Ia mengatakan kau sedang operasi usus buntu. Apa salah?”

Dan tatapan mata Yue tampak semakin terluka. “Bukan, Sehun. Bukan operasi usus buntu.” Gadis itu tertawa. Sehun tahu tawa itu dipaksakan.

“Lalu apa?”

“Agapanthus yang kau berikan ini cantik sekali.” Yue menatap kearah buket Agapanthus di genggamannya.

Sehun menggigit bibir. Jangan mengalihkan pembicaraan bodoh.

“Sehun, bisakah kau mengisi air di vas ini? Aku ingin memajang bunga ini.”

Sehun memilih untuk menurut. Ia meraih vas di meja samping bangsal, keluar dari kamar Yue dan mencari wastafel terdekat, mengisi setengah vas akrilik itu dengan air lalu membawanya kembali ke kamar Yue.

Hanya untuk melihat Yue yang sedang memeluk bunga itu sambil menangis.

Sehun meletakkan vas itu kembali di meja, mengusap pelan kepala Yue. “Yue ada apa? Apa ada yang sakit? Apa aku harus panggilkan dokter?” Sehun bertanya khawatir.

Yue menggeleng. “Aku bukan operasi usus buntu, Sehun…” Yue berujar. Suaranya parau, isakan menyusul. “Aku melakukan… operasi—“ suaranya tercekat. Ia terisak kembali. Bunga dipeluknya semakin erat.

“Jika kau tidak bisa mengatakannya tidak apa-apa, tapi kumohon, berhentilah menangis.”

Air matamu membuat hatiku sakit, Yue.

“Ki—“ Yue menggigit bibir, “—kista…”

Sehun tidak ingin mendengar pernyataan itu.

“Aku… melakukan operasi pengangkatan rahim, agar… aku bisa menyelamatkan diriku nanti…”

“Aku bahkan tidak pantas untuk menjadi seorang istri lagi… aku tidak bisa lagi memiliki anak…”

Berhenti menangis.

“Aku benar-benar tidak berguna…”

 

.::.

 

Aku benci perasaanku padamu.

“Aku benar-benar tidak berguna…”

“Tapi aku mencintaimu.”

Hening. Sehun sendiri terdiam. Tidak menyangka tiga kalimat itu akan keluar dari mulutnya.

Yue menatap Sehun kaget, sebelum tertawa, “hahaha, kau pasti bercanda. Kau hanya kasihan padaku, ‘kan, karena aku tidak bisa memiliki anak lagi?”

“Kau pikir kenapa aku membawakanmu Agapanthus?” Sehun meletakkan tangannya di kedua pipi Yue, memaksa gadis itu menatap matanya. “Kau sendiri ahli dalam hal begini, kau tahu sendiri apa arti bunga Agapanthus, Yue…”

“Sehun, kurasa ini hanya kebetulan—“

“Bukan! Ini bukan kebetulan!” Sehun segera memotong. Ia memeluk Yue. “Jika ini kebetulan maka jantungku tidak akan berdetak secepat ini! Aku benci tangisanmu, aku benci air matamu, maka dari itu aku ingin menjadi senyumanmu, bodoh!”

“Se-Sehun…”

“Biarkan aku yang berada untukmu, dalam suka dan duka, sedih maupun senang, dalam susah, hingga maut memisahkan. Kumohon, Yue. Biarkan aku yang bersamamu.”

 

Agapanthus, dalam bahasa bunga artinya: cinta.

 

.::.

 

Aku benci semuanya.

Tapi aku lebih benci fakta bahwa aku tidak bisa membencimu.

Aku tidak bisa membenci dirimu, aku tidak bisa membenci senyummu, tawamu, cara bicaramu, caramu menatapku, aku tidak bisa membencinya.

Segala sesuatu dalam dirimu membuatku mencintaimu.

“Kenapa saat itu kau tetap menjaga orang sakit? Padahal kau sudah kesakitan begini.”

“Pernah mendengar Heinrich Heine? Ada potongan dari puisinya yang paling aku suka.”

Sehun mengerutkan kening.

Yue tersenyum lembut, membuka bibirnya,

“Wenn ich in deine Augen seh’,

So Schwindet all mein Leid und Weh.”

Sehun terdiam, otaknya mulai bekerja mengartikan puisi itu.

“Whenever I gaze into your eyes,

Then all my grief and sorrow flies.”

Karena tatapan mata Sehun di klinik saat itu, hazel-nya yang menatap Yue khawatir, membuat Yue bisa menahan segala rasa sakitnya, membuatnya tenang dan mampu bertahan. Seolah segala beban dan rasa sakitnya hilang begitu saja.

Sial kau, Yue. Aku membenci bibir dan otak puitismu. Bagaimana bisa kau mengutip potongan puisi sesederhana dan seindah itu?

 

Note:

[1] Shiki: salah satu anime bergenre horor

[2] Megumi: salah satu karakter dalam anime Shiki.

 

 

A.N: Thank you, Hibiki, for all the laughter we shared in the middle of the night just to keep me calm so I can keep writing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s