Unwell

unwell

Title : Unwell

 

Author : Marie Rose Jane (@janeew_)

Genre : Romance

Length : Oneshot

Rating : PG 15

Cast : Oh Sehun & Jang Surin (OC)

 

Hello! Kali ini saya bawakan ff berjudul Unwell! Semoga kalian suka ya!

Oh ya, jika kalian berminat membaca fanfic-fanfic saya yang belum dipublish dimanapun kecuali di wordpress pribadi saya, berkunjung saja ke : http://ohmarie99.wordpress.com jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian setelah kalian berkunjung ke wp saya!

 

Thanks and happy reading!

 

 

**

 

 

Satu minggu yang lalu.

 

“Bagaimana? Kau sudah mendapatkan baju renang yang bagus?” Taerin berujar ketika Surin masih sibuk memilih berbagai baju renang yang tergantung rapi dihadapannya bersama dengan Jimi dan Cheonsa. “Ah, sudahlah aku akan pakai baju renangku yang lama. Memangnya harus sekali kita pakai baju renang yang baru hanya untuk acara Sabtu minggu depan?” Cheonsa  berujar membuat Taerin, Jimi, dan Surin langsung mengalihkan perhatian mereka pada Cheonsa. “Aku hanya akan membeli kacamata renang mengingat milikku sudah hilang entah kemana.” Sambung Cheonsa membuat Taerin langsung menghela napas seraya memutar bola matanya.

 

“Tidak masalah kalau kau memakai baju renangmu yang lama kalau saja kau berenangnya bersama denganku, Surin, dan Jimi saja. Tapi Sabtu besok kau akan berenang bersama Minseok, kekasihmu dan teman-temannya. Yang perlu kau ingat, kita tetap harus terlihat cantik dimata kekasih kita juga semua temannya. Sekarang, cepat pilih baju renang yang paling bagus.” Ujar Taerin dan kini gadis berambut lurus sebahu itu sudah mulai mencari baju renang di deretan baju-baju renang yang tergantung bersama dengan Surin dan Jimi.

 

“Hm, haruskah aku pakai warna merah terang atau merah gelap?” Surin bergumam seraya memperhatikan dua baju renang yang kini sudah berada di masing-masing tangannya. “Oh ayolah, Jang Surin. Hampir semua bajumu bahkan sudah berwarna merah. Cobalah warna yang lain. Seperti corak macan ini.” Ujar Jimi membuat Surin, Taerin, dan Cheonsa tertawa terbahak ketika gadis bernama lengkap Park Jimi itu menyerahkan baju renang bercorak macan pada Surin yang langsung menaruhnya kembali.

 

“Aku akan pakai baju renang yang tertutup agar Byun Baekhyun tidak dapat macam-macam.” Ujar Jimi kemudian mengambil baju renang dengan lengan panjang. “Ah, betul apa kata Jimi. Kalau begitu aku juga akan mengambil baju renang yang itu.” Ujar Cheonsa membuat Taerin lagi-lagi menghela napas. “Baju renang itu kuno sekali. Lebih baik kita pakai yang ini saja.” Taerin menunjukan baju renang dengan lengan buntung membuat Jimi dan Cheonsa langsung bergidik, menolak mentah-mentah ide Taerin barusan. “Ya! Sesekali tampil seksi itu tidak ada salahnya!” Ujarnya membuat Jimi dan Cheonsa langsung terbahak sementara suara panggilan Surin langsung mengalihkan perhatian mereka bertiga.

 

“Bagaimana kalau yang ini? Tidak terlalu terbuka seperti pilihan Taerin, dan tidak terlalu tertutup seperti baju selam yang Jimi dan Cheonsa pilih. Tapi aku akan mengambil yang warna merah gelap. Terserah kalian mau yang warna apa.” Taerin, Jimi, dan Cheonsa langsung berseru setuju membuat Surin yang masih memegang baju renang dengan lengan pendek itu mengangguk sambil tersenyum senang.

 

“Ah, aku jadi benar-benar tidak sabar berenang bersama Junmyeon dan teman-temannya!”

 

“Haruskah kita beli bola voli untuk bermain voli air bersama? Minseok pasti akan menyukai ide bermain voli air ini!”

 

“Tidak perlu. Aku rasa Baekhyun akan membawa bola voli miliknya. Kemarin ia berkata bahwa ia baru saja menemukan bola voli di gudang rumahnya dan akan membawanya untuk acara berenang minggu depan. Astaga, bisakah kalian membayangkan betapa serunya acara berenang bersama itu nantinya?!”

 

“Bagaimana kalau kita beli makanan ringannya dari sekarang? Aku akan membelikan banyak makanan ringan kesukaanku dan Sehun untuk kalian!”

 

“Semua makanan ringan itu pasti akan habis bahkan sebelum Sabtu depan.”

 

“Habis oleh siapa?”

 

“Tentu saja olehmu dan Sehun!” Seru Taerin, Cheonsa, dan Jimi bersamaan membuat Surin hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa bahwa ucapan kompak Taerin, Cheonsa, dan Jimi barusan ada benarnya. Taerin, Cheonsa, dan Jimi tertawa membuat Surin berseru membela diri namun ketiga temannya itu malah mengejek Surin dan Sehun sebagai pasangan pecinta chiki. Tapi memang benar, makanan ringan itu pasti tidak akan tersisa satu bungkus pun mengingat Surin dan Sehun yang sangat menyukai makanan ringan.

 

Acara berenang bersama itu sebenarnya hanya ide asal dari Sehun, namun tidak disangka-sangka Junmyeon, Minseok, Baekhyun, Chanyeol, Jongdae, Jongin, Yixing, bahkan Kyungsoo langsung menyetujui ide Sehun mengingat mereka bersembilan yang dulunya sering berenang bersama sudah lama tidak melakukan kegiatan itu karena kesibukan kuliah mereka masing-masing. Akhirnya Sehun memutuskan untuk mengajak Surin, begitupula dengan Junmyeon, Baekhyun, dan Minseok yang mengajak pasangan mereka masing-masing, Taerin, Jimi, dan Cheonsa.

 

Pada akhirnya yang sangat sibuk dan antusias menyambut acara berenang bersama itu adalah keempat gadis yang saat ini sampai pergi bersama ke sebuah toko yang menjual keperluan berenang untuk membeli barang-barang yang akan mereka butuhkan untuk berenang nanti. Bahkan saat ini mereka tengah memilih kacamata renang bersama-sama dan akhirnya setelah hampir setengah jam memilah-milih, mereka memutuskan untuk membeli kacamata renang dengan warna yang sama yaitu hitam.

 

**

 

Kejadian satu minggu yang lalu itu terputar diotak Surin, membuat gadis yang kini tengah memangku dagunya dengan kedua lututnya hanya memperhatikan pemandangan dihadapannya dengan tatapan kosong. Pemandangan dimana Sehun, kekasihnya, dan semua teman-temannya bermain bersama di kolam renang dalam ruangan berbentuk persegi dengan ukuran lumayan besar itu. Mereka tertawa heboh ketika Baekhyun tidak dapat menangkis serangan bola dari Chanyeol atau ketika bola yang dilempar Kyungsoo berujung mengenai kepala Junmyeon yang sedang asik menertawai Baekhyun. Permainan voli air itu benar-benar berlangsung dengan sangat seru sampai-sampai yang Surin dengar sedari tadi hanyalah gelak tawa dan seruan-seruan heboh dari Taerin, Jimi, dan Cheonsa ketika kekasih mereka masing-masing dapat mencetak skor dengan gayanya yang sangat keren.

 

Tapi bukannya bergabung dengan mereka, saat ini Surin hanya dapat terduduk disalah satu kursi sambil memeluk lututnya dengan handuk putih milik Sehun yang tersampir dibahunya. Surin yang sudah mengenakan baju renangnya dengan kacamata renang yang juga sudah tergantung dilehernya tiba-tiba merasa tidak enak badan sehingga sedari tadi ia terus menolak ajakan Sehun juga teman-temannya untuk bergabung didalam kolam renang tersebut.

 

Surin rasa ia tidak enak badan karena tiga hari terakhir ini ia disibukan oleh tugas kuliah yang sangat banyak, menyebabkan gadis itu harus terus-terusan bergadang untuk dapat menyelesaikan tugas dari dosennya yang galak itu. Surin bahkan baru tidur jam tujuh pagi hari ini karena ia berusaha untuk menyelesaikan semua tugasnya yang batas pengumpulannya adalah esok hari. Kalau saja Surin tidak sengaja tertidur, Surin yakin sekali ia tidak akan tidur sama sekali hari ini agar ia dapat menyelesaikan semua tugasnya. Dan kalau saja Sehun tidak datang ke apartmentnya untuk menjemput Surin, gadis itu yakin sekali bahwa ia tidak akan terbangun dan berakhir tidur seharian penuh diruang tamu apartmentnya.

 

Surin bahkan tidak ingat bahwa hari ini ada acara berenang bersama. Ia baru ingat ketika Sehun membangunkannya untuk menjemputnya. Saat itu Surin masih tertidur di ruang tamu dengan laptop yang masih menyala dan buku-buku yang berserakan dimana-mana. Kepalanya terasa begitu berat, tubuhnya sangat lemas, dan tampilannya benar-benar terlihat berantakan. Sehun sampai harus bertanya apakah Surin benar-benar bisa ikut ke acara berenang bersama itu atau tidak. Surin tetap memaksa ikut sementara Sehun terlihat khawatir akan keadaannya. Namun laki-laki itu akhirnya mengiyakan Surin yang berkata bahwa ia bisa tetap ikut dan ia tidak apa-apa.

 

Pada akhirnya Surin malah berakhir dengan hanya duduk sambil memperhatikan Sehun juga teman-temannya itu bersenang-senang bersama. Kepalanya benar-benar terasa berat, tubuhnya sangat lemas, dan suhu tubuhnya pun lebih tinggi dari biasanya. Surin merasa bahwa kalau ia tetap memaksa untuk bergabung, nantinya ia malah akan memperburuk kondisi tubuhnya sehingga saat ini Surin hanya dapat memandangi Sehun dan teman-temannya itu sambil sesekali menghela napas berat, merasa sangat menyesal karena tidak dapat turut bergabung dengan mereka.

 

“Ya, Oh Sehun! Mau kemana kau? Permainannya belum berakhir!” Seru Minseok ketika melihat Sehun berenang menuju tangga yang ada disudut kolam renang tersebut dan menaikinya. Sehun langsung menghampiri Surin yang menyerahkan handuk padanya kemudian semua teman-temannya yang masih memperhatikan Sehun langsung berdeham meledek. Surin membantu Sehun untuk mengeringkan rambutnya membuat seruan-seruan heboh dari teman-teman mereka mulai terdengar. Sehun buru-buru menarik lengan Surin untuk menjauh dari kolam renang berisi teman-teman mereka itu sementara Surin hanya mengikuti.

 

“Oh, rupanya ingin menghabiskan waktu berdua. Oh Sehun, Jang Surin! Carilah kolam renang yang sepi!” Seru Baekhyun dan seketika tawa teman-temannya yang lain mulai mengikuti sementara Sehun tidak begitu mempedulikan dan hanya menarik lengan Surin menjauh dari kolam renang tersebut.

 

Sehun berhenti ketika mereka sampai pada kolam air hangat yang sangat sepi. Surin segera duduk dipinggiran kolam tersebut dengan kedua kaki yang ia celupkan pada air hangat kolam itu membuat Sehun langsung melakukan hal yang sama. Sehun mempelajari tampak samping wajah Surin yang tampak lesu sementara Surin hanya menunduk. Surin benar-benar merasa tidak enak badan dan rasanya ia ingin memberitahu Sehun, meminta Sehun untuk mengantarnya pulang namun Surin harus mengurungkan niatnya karena ia tahu itu hanya akan merusak suasana.

 

Jangan kira sedari tadi Sehun tidak memperhatikan kekasihnya itu. Meskipun Sehun sedari tadi hanya bermain seru dengan teman-temannya, Sehun merasa ada yang tidak lengkap dan Sehun tahu hal itu disebabkan karena rasa khawatir dalam dirinya karena melihat Surin yang sedari tadi diam saja dan tidak mau bergabung. Sebenarnya dari awal Sehun sudah berniat untuk tidak datang dan ia sempat memutuskan untuk menemani Surin mengerjakan tugas-tugas yang sepertinya sangat banyak itu sampai gadis itu selesai. Namun Surin menolak dan malah tetap memaksa untuk datang.

 

Sehun juga dari awal sebenarnya merasa khawatir dengan keadaan Surin yang tampak tidak baik-baik saja itu. Saat melihat Surin yang sangat lemas hari ini, Sehun sudah yakin bahwa gadis itu tidaklah baik-baik saja. Pasti ia memaksa diri untuk bergadang demi menyelesaikan semua tugasnya. Tapi karena Surin berkata bahwa tidak ada yang salah dengannya, Sehun mau tidak mau mempercayai hal tersebut.

 

Sehun menghela napas kemudian memutuskan untuk mencelupkan diri ke kolam renang air hangat tersebut. Sehun langsung berdiri dihadapan Surin dengan kedua tangan yang ia letakan ditembok yang ada di sebelah kedua belah paha gadis itu sehingga kini Surin seolah terkurung oleh kedua lengan Sehun. Surin langsung memperhatikan Sehun yang sudah lebih dulu memperhatikannya. “Ada apa denganmu? Bukankah kau sudah sangat antusias menyambut acara berenang bersama ini? Apa ada sesuatu yang tidak kau beritahukan padaku?” Tanya Sehun membuat Surin hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu. “Tidak ada apa-apa.”

 

“Kalau tidak ada apa-apa, berarti kau tidak keberatan untuk bergabung bersamaku didalam sini.” Sehun langsung menarik kedua tangan Surin membuat gadis itu menjerit dan seketika Surin sudah berada di kolam renang itu bersama dengan Sehun. Sehun membawa Surin ke tengah kolam dan seketika kaki gadis itu sudah tidak menapak pada lantai kolam tersebut membuat Surin seketika langsung panik dan dengan spontan ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Sehun, menjadikan leher laki-laki itu bertubuh tinggi itu sebagai tiang yang menahan tubuhnya agar tidak tenggelam. Sehun hanya tertawa ketika melihat Surin yang kini tampak panik.

 

“Dasar gadis pendek.” Ledeknya membuat Surin hanya mengercutkan bibirnya. “Cepat bawa aku ke pinggir kolam atau aku akan menyentil dahimu dengan sangat keras, Oh Sehun.” Ancam Surin sementara Sehun hanya terkekeh mendengarnya. Sehun malah dengan jahil membawa Surin yang kini masih memeluk lehernya itu semakin ke tengah membuat gadis itu memekik seraya mengeratkan pelukannya pada leher Sehun.

 

“Aku tidak akan membawamu ke pinggir sampai kau memberitahu aku ada apa denganmu hari ini.” Ujar Sehun sementara Surin yang kini merasa lidahnya kelu karena posisi wajahnya yang sangat dekat dengan Sehun hanya berdeham. Surin merasa otaknya berhenti bekerja ketika kedua matanya saat ini malah seolah merekam pemandangan yang berada didepannya dengan sangat baik. Rambut hitam Sehun yang basah, kedua alis mata Sehun yang tampak sangat tegas, kedua bola mata berwarna cokelat pekatnya yang begitu menarik hati, hidungnya yang mancung, dan sepasang bibir berwarna merah muda natural dengan bentuk sempurna itu benar-benar membuat jantung Surin seolah akan keluar dari tempatnya karena debaran keras yang dirasakannya dari dalam sana.

 

Surin merasa pelukannya dari leher Sehun mengendur sampai-sampai ia hampir saja tenggelam, namun dengan cepat Sehun memeluk pinggangnya seiringan dengan gerakan Surin yang kembali memeluk leher Sehun dengan jauh lebih erat dari tadi. Karena pelukannya pada leher Sehun barusan, ujung hidung Surin tidak sengaja bersentuhan dengan ujung hidung Sehun membuat keheningan sempat tercipta diantara kedua sejoli tersebut. Hanya rasa canggung dan pelukan tangan Sehun pada pinggang Surin, juga pelukan Surin pada leher Sehun yang masih betah bertahan diantara mereka.

 

Surin langsung berdeham ketika ia merasa kepalanya berputar, merasa pusing. Entah karena tubuhnya yang sedang dalam kondisi yang tidak baik, atau karena wajah Sehun yang begitu dekat dengan wajahnya sehingga Surin dapat melihat jelas ketampanan yang Tuhan berikan pada seorang laki-laki bernama lengkap Oh Sehun itu.

 

“O-Oh Sehun, aku rasa aku mulai kedinginan.” Ujar Surin tiba-tiba membuat Sehun yang tengah menatap lurus-lurus kedua manik mata milik Surin tersenyum tipis. “Ini kolam air hangat. Bagaimana bisa kau kedinginan disini? Bilang saja kalau kau merasa gugup karena harus berpelukan dengan laki-laki tampan seperti aku ditengah kolam renang seperti ini.” Sehun tertawa kecil ketika ia merasakan sentilan Surin pada dahinya.

 

“Aku rasa kondisi tubuhku hari ini tidak—”

 

“Surin-a, bagaimana kalau kita bermain game?” Sehun memotong pembicaraan Surin barusan membuat gadis itu hanya menghela napasnya. “Kali ini apalagi?!” Ujar Surin seolah dari nada suaranya barusan ia ingin benar-benar menolak saran permainan dari Sehun padahal laki-laki itu belum sama sekali memberitahukan pada Surin permainan macam apa yang ingin dimainkannya. “Kita main tahan napas. Siapa yang muncul dipermukaan air lebih dulu, maka dialah yang kalah.” Ujar Sehun dengan senyuman jahilnya sementara Surin hanya memutar bola matanya malas membuat Sehun tertawa melihatnya.

 

“Apa hukumannya? Awas saja kalau macam-macam.” Surin menatap Sehun dengan garang. “Seperti biasa, yang kalah harus menuruti apapun keinginan sang pemenang.” Lagi-lagi Surin memutar bola matanya malas membuat tawa Sehun kembali terdengar. Sehun segera memakaikan Surin kacamata renang yang tergantung dileher gadis itu kemudian ia juga memakai kacamata renangnya sambil terus tersenyum.

 

“Sudah siap?” Sehun mengambil napas sebanyak-banyaknya begitu pula dengan Surin. “Mulai!” Sehun langsung menenggelamkan diri membuat Surin yang masih memeluk leher laki-laki itu ikut tenggelam bersama dengan Sehun. Mereka berdua kini hanya bertatapan satu sama lain sambil terus berusaha untuk menahan napas lebih lama di dalam air. Surin masih memeluk leher Sehun sementara Sehun pun masih memeluk pinggang gadis itu.

 

Sehun merasa tidak dapat lebih lama menahan napasnya sementara Surin masih dengan tenang menatapnya. Surin tersenyum ketika melihat ekspresi Sehun yang mulai tidak tahan. Tiba-tiba Sehun mengecup bibir Surin membuat kedua mata gadis itu membelak seketika. Kini gantian Sehun yang tersenyum sementara Surin masih belum sadar dari rasa terkejutnya. Seketika napasnya terasa habis begitu saja ketika lagi-lagi Sehun kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Surin, bahkan kali ini bukanlah sebuah kecupan singkat. Sehun tetap bertahan pada posisinya sementara Surin langsung melepas pelukannya dari leher Sehun dan segera berenang menuju ke permukaan air.

 

Sehun langsung menyusul sementara Surin yang hampir tenggelam langsung memeluk leher Sehun kembali. “Oh Sehun! Kau benar-benar keterlaluan!” Ujar Surin lalu gadis itu langsung terbatuk berkali-kali bahkan kini tubuhnya sudah gemetar karena tiba-tiba rasa dingin kembali menyerbunya. Sehun tertawa terbahak membuat Surin yang masih terbatuk itu hanya memuku-mukul sebelah bahu Sehun. Seketika Surin merasa tubuhnya benar-benar lemas sampai-sampai ia meletakan dagunya pada bahu kanan Sehun yang lebar. Tawa Sehun langsung berhenti dan seketika ia merasa khawatir melihat Surin yang kini sangat lemas. Bahkan Sehun dapat melihat punggung Surin yang kecil itu bergetar seperti tengah kedinginan.

 

“Ada apa denganmu?” Tanya Sehun namun Surin kembali terbatuk membuat rasa khawatir yang dirasakan Sehun seolah tumbuh membesar dalam sekejap. “Sehun-a.” Ujar Surin sambil terbatuk berkali-kali. “Aku tidak enak badan.” Ujar Surin dan tanpa pikir panjang Sehun langsung memeluk pinggang gadis itu, membawa Surin menuju tangga untuk sesegera mungkin mengeluarkan gadis itu dari kolam renang tersebut.

 

Seharusnya dari awal Sehun tahu bahwa sedari tadi Surin diam saja dan tidak mau ikut bergabung dengannya juga teman-temannya karena kondisi tubuh gadis itu yang sedang tidak baik. Bahkan seharusnya Sehun sudah mengetahui hal tersebut sejak ia membangunkan Surin yang tertidur di ruang tamu. Gadis itu tampak lemas dan lesu.

 

“Berbilaslah dulu. Aku akan langsung mengantarmu pulang setelah kita selesai berbilas.” Ujar Sehun membuat Surin mengangguk pelan. Saat ini yang Surin rasakan adalah tubuhnya benar-benar kedinginan dan kepalanya berdenyut, membuat tubuhnya hampir saja oleng kalau saja Sehun tidak menahannya. Ia yakin seratus persen bahwa kali ini ia benar-benar akan jatuh sakit.

 

Entah karena memang dari awal ia sudah tidak enak badan, atau karena kejadian didalam air tadi.

 

Yang masuk akalnya memang karena Surin sudah tidak enak badan sedari tadi. Tapi kalau menurut hatinya, kondisinya sekarang ini pasti karena saat ini Surin masih dapat merasakan bibir indah itu menempel pada bibirnya, membuat kepala Surin seolah benar-benar terputar setiap kali ia mengulang kembali kejadian tersebut dalam otaknya.

 

**

 

“Kami pulang duluan. Surin sedang tidak enak badan. Kalian jangan terlalu lama nanti masuk angin.” Ujar Sehun seraya menuntun Surin pergi menjauh ketika teman-temannya mengiyakan perkataan Sehun barusan. Sehun melepas jaket baseball berwarna hitam yang tengah dipakainya dan menyampirkannya pada bahu Surin yang kecil membuat teman-teman Sehun dan Surin yang melihat kejadian itu langsung meledek mereka dengan seruan-seruan heboh.

 

“Oh Sehun! Jaga Surin sampai ia sembuh!” Seru Kyungsoo membuat Sehun hanya mengacungkan jempolnya tanpa menghadap teman-temannya itu. “Aku akan mengirimkan bubur untuk Surin besok pagi!” Seru Kyungsoo lagi dan setelah itu teman-temannya langsung berusaha untuk menghentikan ucapan Kyungsoo sementara Sehun hanya kembali mengacungkan jempolnya sebelum akhirnya mereka berdua benar-benar keluar dari tempat tersebut.

 

Sehun memakaikan Surin sabuk pengaman ketika ia sudah memakai sabuk pengamannya sendiri. Sehun kemudian meletakan telapak tangannya pada dahi Surin dan seketika rasa khawatirnya semakin bertambah. “Kau demam tinggi. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.” Ujar Sehun seraya menyalakan mesin mobilnya.

 

“Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat. Aku yakin setelah minum obat aku sudah akan jauh lebih baik.” Sehun langsung menggenggam satu tangan Surin seraya menganggukan kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Tapi biarkan aku merawatmu malam ini.” Ujar Sehun kemudian ia segera melajukan mobil sedannya.

 

Sehun bahkan sempat berhenti pada sebuah apotek besar dalam perjalanannya menuju apartment Surin untuk membelikan gadis itu obat. Melihat Surin yang tertidur dikursi sebelahnya membuat Sehun semakin merasa khawatir. Sehun langsung mempercepat laju mobilnya agar ia dapat segera sampai pada apartment Surin.

 

Sehun hanya terlalu khawatir. Ia akan memastikan gadis kesayangannya itu berada pada kondisi yang lebih baik malam ini juga.

 

Sehun langsung memarkirkan mobil sedannya setibanya mereka diparkiran apartment gadis itu. Saat hendak membangunkannya, Sehun merasa tidak tega sehingga akhirnya ia memutuskan untuk turun dari mobilnya dan menggendong Surin. Sehun dapat merasakan suhu tubuh Surin yang tinggi ketika gadis itu menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Sehun. Sehun berdecak, ketika rasa khawatir seolah memenuhi dirinya.

 

Sehun belum pernah melihat Surin selemas ini sebelumnya. Mungkin menurut Sehun, selama empat tahun ia berkencan dengan Surin, Sehun tidak pernah sama sekali melihat gadis yang menurutnya kelewat aktif itu sakit. Paling-paling hanya flu biasa yang esok harinya sembuh atau radang tenggorokan biasa karena gadis itu terlalu banyak mengkonsumsi makanan ringan. Sehun benar-benar tidak pernah melihat Surin sakit sampai seperti sekarang ini jadi menurutnya wajar saja kalau ia benar-benar khawatir.

 

Sehun segera membaringkan tubuh Surin di kasur gadis itu lalu memakaikannya selimut. Sehun terduduk dipinggir kasur tersebut, memperhatikan Surin yang saat ini tampak tengah tertidur. “Ah, kau benar-benar membuatku khawatir.” Ujar Sehun kemudian ia menempelkan plester penurun demam yang ia beli di apotek saat dalam perjalanannya menuju apartment Surin tadi pada dahi gadis itu. Setelah itu Sehun langsung keluar dari kamar Surin dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan sesuatu yang dapat Surin makan sebelum akhirnya ia meminum obat.

 

“Aku harus masak apa? Tidak mungkin aku membuatkannya pasta. Tapi hanya pasta yang dapat aku masak.” Sehun berdecak seraya membuka lemari pendingin dan melihat bahan-bahan makanan yang ada disana. Sehun mengeluarkan daging cincang dan beberapa sayuran kemudian meletakannya diatas meja dapur. Sehun mulai mencari resep cara membuat bubur dengan daging cincang di internet kemudian ia tersenyum ketika menemukan salah satu resep yang mudah untuk diikuti.

 

Sehun mulai memasak dengan hati-hati, membaca resep dengan sangat teliti dan memasukan berbagai macam bumbu dengan takaran yang pas, takut-takut masakannya tidak enak. Sehun tidak tahu bahwa memasak harus serepot ini. Seketika ia merasa berterima kasih pada ibunya yang selalu membuatkan Sehun berbagai macam makanan enak kesukaannya. Ia juga merasa berterima kasih pada Surin yang berusaha untuk belajar memasak demi Sehun dan tidak pernah absen membuatkan Sehun bekal makan siang setiap paginya.

 

Sehun memotong kecil beberapa sayuran seperti wortel dan memasukannya kedalam bubur yang hampir jadi itu. Ia mencicipi bubur tersebut lalu menambahkan sedikit bumbu ketika ia merasa buburnya terlalu hambar. Sehun mengaduk pelan bubur tersebut kemudian kembali mencicipi. Alisnya bertaut ketika merasa buburnya masih begitu hambar. Sehun kembali memasukan sedikit bumbu dan mengaduknya kembali. Ia melakukan itu berulang-ulang karena belum menemukan rasa yang pas untuk buburnya.

 

Sehun yang sudah frustasi akhirnya memutuskan untuk menelepon ibunya. Sehun mengikuti semua saran yang diberikan ibunya dan barulah ia menemukan rasa yang ia inginkan. “Eomma, eomma memang yang terhebat.” Puji Sehun sambil kembali mencicipi bubur yang sudah benar-benar siap untuk disajikan itu.

 

“Apa eomma harus kesana sekarang? Bagaimana keadaan Surin? Apa ia baik-baik saja? Cepat beri dia obat!” Ujar ibunya dengan nada suara yang khawatir membuat Sehun langsung menenangkannya. “Tidak perlu kemari. Aku akan merawatnya sampai ia sembuh. Eomma, aku harus segera memberikan bubur ini pada Surin. Tenang saja, aku akan pastikan ia meminum obatnya sebelum tidur.” Ujar Sehun kemudian ia segera mematikan sambungan teleponnya ketika ibunya selesai memberikannya ceramah mengenai bagaimana cara merawat orang sakit yang benar. Ibunya memang sangat menyayangi Surin, mengingat ibunya yang memiliki tiga orang putera itu mengidam-idamkan anak perempuan sedari dulu. Jadi Sehun sudah memaklumi rasa khawatir ibunya itu akan kondisi Surin saat ini sampai-sampai ia berkata panjang lebar agar Sehun dapat merawat Surin yang sedang sakit dengan sebaik mungkin. Sehun sampai harus berkata ia harus segera memberikan bubur itu pada Surin sebelum buburnya mendingin barulah ibunya mau memutus sambungan telepon mereka.

 

Sehun tersenyum sambil memandangi mangkuk berisi bubur buatannya itu dengan tatapan bangga lalu segera meletakannya pada sebuah nampan. Tidak lupa ia meletakan jus apel buatannya disebelah mangkuk bubur tersebut kemudian ia segera membawa nampan itu kedalam kamar Surin.

 

Sehun menempelkan punggung tangannya pada sebelah pipi Surin kemudian ia menghela napas lega ketika mengetahui bahwa demam Surin sudah menurun karena bantuan plester penurun demam yang tadi dipakaikan Sehun pada dahi gadis itu. Sehun tersenyum ketika gadisnya itu menggeliat didalam selimut tebalnya dan membuka matanya dengan perlahan. “Makanlah dan minum obat terlebih dahulu sebelum kau melanjutkan tidurmu.” Sehun mengelus rambut Surin membuat gadis itu mengangguk sambil merubah posisinya menjadi duduk bersandar pada sandaran kasur tersebut.

 

“Kau membuat ini sendiri?” Surin berujar dengan suaranya yang serak sementara Sehun langsung mengangguk senang. “Meskipun sambil dibantu ibuku dari telepon dan ia selalu meneriakiku karena aku terus saja bertanya tentang bumbu yang dimaksudkannya, tapi ini adalah buatanku sendiri. Sekarang, ayo buka mulutmu.” Sehun mengarahkan sendok yang dipegangnya pada Surin dan gadis itu segera menurut. “Bagaimana?” Tanya Sehun sementara Surin sudah lebih dulu mengacungkan kedua jempolnya membuat Sehun tertawa kecil.

 

Sehun terus menyuapi Surin dengan perlahan sementara Surin hanya memperhatikan kekasihnya itu dengan senyuman yang tidak berhenti mengembang diwajahnya yang masih terlihat pucat. “Terima kasih. Aku merasa aku sudah jauh lebih baik dengan hanya memakan bubur buatanmu ini. Padahal aku belum meminum obat sama sekali.” Ujar Surin membuat Sehun langsung mengacak rambutnya dengan gemas. “Bicara apa ini? Kau sudah jauh lebih baik pasti karena plester penurun demam itu dan juga karena kau sudah tidur selama dua jam.” Surin melirik jam dinding kamarnya yang saat ini menunjukan pukul sembilan malam.

 

“Jadi kau memasak bubur sampai dua jam?” Surin tertawa sementara Sehun hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Begitulah. Kalau bukan karena kepanikanku melihatmu terbaring lemas dikasur, aku tidak akan mau memasak sampai dua jam.” Surin hanya memandangi Sehun dengan tatapan harunya membuat Sehun lagi-lagi hanya mengacak rambut gadis itu. “Lain kali, kalau kau sakit langsung katakan saja padaku. Pantas saja sedari tadi kau tidak bergabung dengan yang lain. Coba kalau kau mengatakan bahwa kau tidak enak badan sejak awal, aku tidak akan mengajakmu ke acara berenang bersama itu. Aku juga tidak akan memaksamu untuk masuk ke kolam renang dan bermain permainan yang tidak masuk diakal, yang berakhir dengan adegan—”

 

“Ya! Oh Sehun! Jangan berani-berani melanjutkan kalimatmu itu.” Surin langsung dapat merasakan bahwa kedua belah pipinya kini memanas, mengingat kejadian di kolam renang tadi. “Memangnya kenapa?” Sehun menatap Surin dengan tatapan jahilnya sementara Surin langsung memukul lengannya berkali-kali membuat Sehun hanya tertawa. “Astaga, aku rasa aku harus sering-sering melakukan hal itu. Reaksimu setelahnya pasti akan benar-benar lucu. Contohnya seperti sekarang ini. Surin-a, haruskah aku melakukan hal itu lagi sekarang?” Surin langsung kembali memukuli lengan Sehun sementara tawa jahil laki-laki itu sudah menggema memenuhi kamar Surin.

 

Sehun kembali menyuapi Surin ketika tawanya sudah berhenti. Sesekali Surin harus memukul lengan Sehun ketika laki-laki itu dengan jahilnya menatap Surin dengan senyuman penuh arti. Sehun menyerahkan gelas berisi jus apel buatannya pada Surin ketika gadis itu sudah menghabiskan buburnya. Setelah Surin sudah menghabiskan jus apel tersebut, dengan telaten Sehun segera mempersiapkan obat yang harus diminum oleh Surin sementara gadis itu langsung menerima pil obat juga gelas berisi air putih yang diberikan Sehun. “Bisa dibilang ini yang pertama kalinya aku melihatmu sakit sampai selemas ini. Biar aku tebak, kau pasti kurang istirahat karena tugasmu yang banyak itu, kan?”

 

Surin langsung tersedak mendengar ucapan Sehun barusan. “Astaga! Tugasku belum selesai padahal batas pengiriman tugas ke e-mail dosen galak itu adalah besok pagi! Aish, bodohnya aku!” Surin langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan tergesa-gesa menuju ruang tamu sementara Sehun hanya membuntuti gadis itu dengan alis yang bertaut. Sehun melihat kini Surin sudah duduk dilantai ruang tamu sambil berkutat pada laptop juga buku catatannya yang berada diatas meja kaca. Sehun melipat kedua tangannya di depan dada seraya mendudukan dirinya tepat disebelah Surin. Pandangan tidak sukanya masih mengarah pada gadis yang kini tengah sibuk mengetik itu.

 

“Oh Sehun, jangan tatap aku dengan tatapan mengerikanmu itu. Kali ini kau tidak bisa melarangku karena ini adalah tugas penting dan aku sudah tidak punya waktu lagi. Aku harus menyelesaikannya sekarang juga.” Surin berujar tanpa memandang Sehun yang kini langsung merebut buku catatan gadis itu juga laptopnya.

 

“Biar aku yang menyelesaikan tugasmu. Kau hanya perlu mengetik apa yang sudah kau tuliskan di buku catatan ini, kan?” Sehun bangkit berdiri seraya menempatkan dirinya di sofa dengan laptop yang sudah berada dipangkuannya juga buku catatan Surin yang ia letakan tepat disampingnya. “Percayakan saja padaku. Aku akan menambahkan kalau saja ada yang kurang. Walaupun berkuliah di jurusan arsitektur, sastra inggrisku tidaklah buruk jadi kau tenang saja. Duduk saja disampingku dan jangan banyak cerewet.” Ujar Sehun membuat Surin menghela napas berat. Baru saja gadis itu hendak merebut buku catatan dan laptopnya, Sehun langsung menghindar dan malah menepuk sofa yang tengah di dudukinya, menyuruh Surin untuk duduk disampingnya.

 

Surin mau tidak mau menurut sambil mengercutkan bibirnya. Surin hanya memperhatikan jari-jari Sehun yang tampak sibuk dengan keyboard laptopnya. Pandangan Surin teralihkan ketika ekspresi serius laki-laki itu tampak sangat lucu baginya. Surin terus memandangi tampak samping Sehun yang sangat menarik itu. Mulai dari rambut hitamnya, kedua alisnya yang tampak tegas, mata cokelat gelapnya yang selalu berhasil membuat Surin semakin jatuh hati ketika menatapnya, hidungnya yang mancung, bibir merah mudanya yang begitu menarik, juga dagunya yang lancip. Jangan lupakan juga tahi lalat yang berada di leher Sehun. Surin sampai harus menahan rasa gemasnya didalam hati setiap kali ia melihat titik cokelat itu. Sehun sangat tampan, hanya itu yang dapat Surin simpulkan setiap kali ia memperhatikan Sehun dengan benar-benar jeli seperti sekarang ini.

 

Tiba-tiba Surin tersadar dari lamunan panjangnya ketika ia menyadari Sehun yang sedari tadi belum makan malam sementara jam dinding ruang tamu tersebut sudah menunjuk angka sepuluh lebih lima belas menit. “Oh Sehun, kau pasti belum makan ya?” Surin bertanya namun Sehun tidak menjawabnya dan terus memfokuskan diri pada laptop yang berada dipangkuannya. “Kau harus makan sesuatu sebelum kau juga berujung sakit.” Baru saja Surin hendak berdiri dari tempatnya dan pergi menuju dapur untuk membuatkan Sehun makan malam, namun tangannya sudah tertahan oleh tangan kekar milik Sehun. “Mau kemana? Kau sedang sakit jadi duduk saja dan jangan banyak cerewet.” Ujar Sehun namun Surin melepas tangan laki-laki itu dari pergelangan tangannya dan berjalan menuju dapur.

 

“Ya! Memangnya kau tidak kasihan melihatku khawatir?”

 

“Memangnya kau tidak lihat kalau aku sudah baikan?”

 

“Jang Surin, cepat duduk kembali ke tempatmu semula.”

 

“Tapi kau harus makan sesuatu.”

 

“Cepat duduk atau aku yang akan menggendongmu dan membuatmu duduk kembali.”

 

“Aish! Aku hanya akan membuat salad buah!” Surin berseru membuat Sehun langsung menghela napasnya. Ia tahu ia tidak dapat menghentikan gadis yang kini sudah memotong buah semangka juga buah-buah yang lainnya. Sehun berdecak ketika mendengar suara mengerikan dari pisau yang Surin kenakan. “Hati-hati dengan pisaunya.” Ujar Sehun tanpa menoleh ke arah Surin yang kini sudah tersenyum mendengar ucapan Sehun barusan.

 

Surin baru benar-benar menyadari bahwa Sehun adalah laki-laki yang penuh perhatian setelah melihat apa yang dilakukannya untuk Surin hari ini. Mulai dari adegan tidak mau membangunkan Surin dan memilih untuk menggendong Surin sampai pada apartmentnya, memasak untuk Surin, menyiapkan obat untuk Surin, membantu Surin membuat tugasnya karena ia tidak mau Surin melakukan apapun mengingat gadis itu sedang sakit, adegan melarang Surin untuk membuatkannya makan malam, sampai pada hal kecil seperti mengingatkan Surin untuk lebih berhati-hati pada pisau yang tengah digunakannya. Dengan hanya mengurutkan semua perlakuan Sehun hari ini padanya saja sudah berhasil membuat Surin senyam-senyum sendiri.

 

Setelah selesai membuat salad buah, Surin mengambil minuman bervitamin di lemari pendinginnya lalu berjalan menuju Sehun. “Minumlah. Aku tidak mau kau sakit juga.” Ia menyerahkan minuman bervitamin itu pada Sehun seraya duduk disamping laki-laki itu dengan mangkok berukuran lumayan besar yang berisi buah-buahan. Sehun hanya memandangi minuman bervitamin itu sambil tersenyum. Meskipun Surin tengah sakit, gadis itu masih saja mengkhawatirkan kondisi tubuh Sehun yang jelas-jelas sangat sehat membuat Sehun semakin jatuh hati pada sosoknya yang penuh perhatian.

 

Sehun jadi ingat ucapan Baekhyun padanya beberapa hari yang lalu. Baekhyun semakin mencintai Jimi karena gadis itu selalu membawakan Baekhyun yoghurt rasa strawberry setiap kali mereka makan siang bersama di kantin kampus. Meskipun itu adalah hal kecil, namun bagi Baekhyun justru hal-hal berbentuk perhatian itulah yang membuat Baekhyun semakin jatuh hati pada Jimi. Baekhyun berkata pada Sehun bahwa rasa perhatian adalah salah satu cara orang untuk menunjukan bahwa ia sangat mencintai pasangannya. Dan Sehun rasa ia juga merasakan hal itu sekarang ini meskipun hanya melalui hal kecil seperti minuman bervitamin yang diberikan Surin, juga salad buah yang dibuatkan gadis itu hanya untuknya.

 

Sehun menghabiskan minuman bervitamin itu dengan satu tegakan lalu memakan buah dari garpu yang Surin sodorkan ke arahnya sementara jari-jari tangannya sudah kembali sibuk dengan keyboard laptop milik Surin. Sesekali Sehun merebut garpu yang diarahkan Surin padanya, lalu berbalik mengarahkan garpu tersebut pada Surin agar gadis itu juga dapat memakan buah tersebut.

 

Setelah sudah selesai menyuapi Sehun, Surin kembali memperhatikan sosok Sehun dari tempatnya. Surin meletakan dagunya pada bahu kanan Sehun kemudian menekan tahi lalat yang berada di leher Sehun berkali-kali seolah tahi lalat itu adalah sebuah tombol sementara Sehun hanya melirik Surin dari ujung matanya seraya tersenyum ketika melihat mata gadis itu yang sudah mulai terlihat berat. Pasti efek kantuk dari obat yang tadi diminumnya baru bekerja sekarang. “Tidur saja dikamar kalau kau mengantuk. Aku akan menyelesaikan tugasmu ini sebelum jam dua belas.” Ujar Sehun namun Surin malah mengubah posisi duduknya, mencari posisi paling nyaman seraya meletakan kepalanya pada bahu lebar milik Sehun.

 

Surin mengalungkan tangannya pada lengan laki-laki itu, berusaha mencari kehangatan dari tubuh laki-laki itu. “Tidak. Aku sudah menemukan posisiku yang paling nyaman. Ah, memeluk lenganmu bahkan terasa lebih nyaman dibanding memeluk gulingku.” Sehun tersenyum mendengar ucapan Surin barusan. Senyumannya semakin melebar ketika merasakan suhu tubuh Surin yang sudah tidak terlalu tinggi. “Oh Sehun, terima kasih.” Sehun langsung memandang Surin yang kini sudah memejamkan kedua matanya.

 

“Terima kasih karena sudah mau meminjamkan lenganmu yang hangat ini. Aku benar-benar merasa kondisi tubuhku sudah jauh lebih baik sekarang dan itu pasti karena lenganmu ini.” Surin mengeratkan pelukannya pada lengan Sehun. “Aku yang harusnya berterima kasih. Pelukanmu pada lenganku benar-benar membuatku seolah terserang suatu sengatan penuh sensasi yang dapat membuat jantungku seolah berolah raga.”

 

“Berhenti menggombal, Oh Sehun.” Surin mencubit lengan Sehun membuat Sehun harus mengaduh kesakitan setelahnya sambil tertawa kecil.

 

Padahal kenyataannya memang seperti itu. Setiap kali Surin memeluk lengannya seperti sekarang ini ataupun saat mereka berjalan berdampingan, Sehun harus mati-matian menahan debaran jantungnya yang seolah ingin lepas dari tempatnya. Meskipun hal tersebut sudah terlalu sering Surin lakukan, Sehun tetap tidak tahu bagaimana cara mengontrol debaran jantungnya ketika Surin melakukan hal tersebut. Tapi Sehun menikmatinya. Ia menikmati sengatan penuh sensasi itu setiap kali Surin memeluk lengannya dengan erat.

 

“Sudah selesai.” Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas dan Sehun sudah selesai dengan tugasnya membantu Surin. Sehun segera mengirimkan tugas tersebut pada e-mail dosen yang tertulis di buku catatan Surin kemudian mematikan laptop tersebut ketika tugas tersebut sudah berhasil dikirimkannya. Sehun meletakan laptop tersebut pada sisi kirinya lalu memperhatikan Surin yang sudah tertidur nyenyak, masih dalam posisi memeluk lengan Sehun dan kepala yang masih bersandar nyaman di bahu Sehun.

 

Sehun langsung menggendong Surin dan membawa gadis itu menuju kamarnya. Sehun menempatkannya dikasur lalu menyelimuti gadis itu. Ia terduduk pinggir kasur Surin seraya memperhatikan wajah kekasihnya itu. “Aku pulang dulu.” Ujarnya kemudian mengelus rambut Surin. Baru saja Sehun hendak bangun dari tempatnya, tiba-tiba Surin menahan pergelangan tangannya seraya menyebut namanya.

 

“Oh Sehun.”

 

“Ya?” Jawab Sehun sementara Surin yang masih memejamkan matanya itu terdiam untuk sebentar. “Tidak bisakah kau meminjamkan lenganmu itu lebih lama?” Ujar Surin membuat Sehun tertawa. Sehun segera berjalan menuju sisi kiri kasur tersebut dan menaikinya. Sehun langsung memeluk Surin membuat Surin tersenyum kecil seraya menyandarkan dahinya pada dada bidang milik Sehun dan mengalungkan tangannya pada pinggang laki-laki itu.

 

“Syukurlah demam-mu sudah tidak tinggi lagi.” Sehun mengelus rambut Surin dengan rasa sayang. “Cepatlah sembuh. Jangan buat aku khawatir lagi.” Sehun mengecup puncak kepala Surin lambat-lambat membuat Surin tersenyum senang di dalam pelukan laki-laki penuh rasa perhatian dan sayang itu.

 

Bagi Surin, Sehun baru saja mengatakan bahwa laki-laki itu sangat menyayanginya dan Surin tidak tahu lagi bagaimana cara menyembunyikan rasa senangnya.

 

Karena baik Surin maupun Sehun sama-sama sudah membuktikan bahwa rasa perhatian yang mereka tunjukan kepada satu sama lain adalah kalimat lain dari ‘aku sangat menyayangimu’, bahkan mungkin lebih kuat dari itu.

 

-FIN.

 

Simple sekaliiii tapi semoga manisnya dapet dan kalian gak bosen bacanya ya! Semoga juga ffnya gak ngebosenin ya. Terima kasih sudah mau sempetin baca bahkan sampe kata-kata terakhir ini! Please send your thoughts about this ff on the comment box!

Don’t forget to visit my own wp -> http://ohmarie99.wordpress.com there’s so many Sehun’s ff that you can read only on my wordpress! >< See you on the next ff!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s