Memories And Miracle (Chapter 3)

memories and miracle

Title                       : Memories and Miracle

Author                  : Putri Dini

Length                  : Chaptered

Genre                   : Angst, Romance, Life

Main Cast           : Bae Suzy, Oh Sehun

Other Cast          : Park Jiyeon, Park Chanyeol, etc.

Author’s Note   : ff ini adalah ff sequel dari ff author sebelumnya ‘Story Of The First Love And Endless Love’ yang couplenya Suzy-Baekhyun yang juga pernah di post disini tahun 2014 kalo gak salah. Semoga yang ingin membacanya dapat membaca dengan senang. Jika ada kesamaan kejadian hanya kebetulan semata. Thank’s.. Sorry for typo(s), Happy Reading…

 

 

 

–Memories and Miracle [Chapter 3]—

(Before Chapter 2)

Suzy terlihat sangat lemas. Ia bahkan terlihat sulit bernafas. Berkali-kali ia mengambil nafas dengan susah payah. Air matanya pun kembali mengalir. Mengingat apa yang terjadi pada Sehun membuatnya kembali teringat dengan Baekhyun. Air matanya mulai mengalir deras. Ia mulai menangis dalam diamnya. Menjatuhkan tubuhnya kesamping kanan akibat tak kuasa menahan air matanya. Wajahnya pun ia tenggelamkan dalam kasurnya, berusaha agar terdengar suara tangisannya.

***

“aku pergi dulu, ayah..” ucap Suzy memberi salam.

“aku juga, terima kasih telah memberiku tumpangan semalam..” ikut Sehun memberi salam.

“tidak apa, itu lebih baik daripada kau pulang tengah malam. Itu tidak baik..” ucap sang ayah tersenyum.

ne..” Sehun membalas dengan senyumnya.

***

Suzy terlihat termenung di kantornya. Ia duduk di meja kerjanya dengan tatapan kosongnya.

“wartawan Bae..” panggil ketua timnya.

“..ne..” Suzy yang sedikit telat menjawabnya.

“ada apa? Tak biasanya kau termenung, karyawan terfokus ternyata bisa termenung juga..” ejek ketua timnya tersebut.

Suzy terdiam.

“ah.. ketua tim.. bisakah aku keluar sebentar?” Suzy meminta izin keluar.

“kemana?”

“ada yang ingin ku kunjungi..” ucap Suzy.

“baiklah.. hati-hati…”

***

Suzy ternyata mengunjungi makam Baekhyun. Matanya menatap nisa yang bertuliskan nama Baekhyun tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kemudian meletakkan bunga yang sengaja ia beli untuk Baekhyun.

“kenapa kau lakukan ini padaku?” ucap Suzy yang terdengar sangat putus asa.

Nafas panjang pun mengiringi rasa putus asa yang dirasakan.

“kenapa kau mengirimkan orang yang sama sepertimu?”

“….kenapa kau membuatku merasakan ini untuk kedua kalinya?!” nada Suzy yang mulai meninggi.

Air mata kemudian mengalir kembali membasahi pipi Suzy. Ia kemudian terduduk lemas dengan air mata yang terus mengalir.

“apa yang harus aku lakukan? Rasa sakitmu belum hilang, apa aku harus merasakan sakit ini lagi..?” Suzy semakin terisak.

Tiba-tiba, ponsel yang sedari tadi ia pegang berbunyi. Ia melihat panggilan tersebut dari ketua timnya. Ia mencoba untuk menetralkan perasaannya dulu sebelum ia mengangkat panggilan tersebut.

“ini aku, ketua tim..”

“kau dimana? Masih lama?”

“kenapa? Ada apa?”

“kalau sudah selesai, jangan datang ke kantor. Datanglah ke rumah sakit, Oh Sehun pingsan di toilet, kami sedang menuju ke rumah sakit sekarang..” ucap ke tua tim tersebut dengan nada khawatir yang terdengar jelas.

ne? Sehun? Rumah sakit mana?” Suzy yang kaget dibuatnya.

***

Suzy berlari menyusuri koridor rumah sakit mencari seseorang yag ia kenal. Ia kemudian melihat ketua timnya sedang menunggu di depan IGD.

“ketua tim..”

eo, Suzy-ah..”

“apa tang terjadi?” tanya Suzy.

“aku juga tidak tahu, seorang karyawan melihatnya pingsan di toilet dan mereka langsung menelpon 119 setelah itu. Aku juga masih belum tahu..”

Suzy mencoba mengatur nafasnya yang ngos-ngosan sehabis berlari.

“bagaimana dengan kantor? Lebih baik ketua tim kembali ke kantor, aku akan disini mengawasi Oh Sehun..” ucap Suzy.

“begitu? Baiklah, nanti hubungi aku jika dia sudah sadar. Oh ya, walinya juga sedang menuju kesini..”

ne..

***

“perkembangan tumornya semakin cepat, penglihatannya juga sudah semakin berkurang. Kalau seperti ini terus hal yang terburuk bisa terjadi..” ucap sang dokter.

“lalu bagaimana?” tanya Suzy.

“sekarang operasi jalan satu-satunya. Namun, aku juga tidak bisa menyarankannya begitu saja..” ucap sang dokter.

Suzy terlihat sangat frustasi mendengar ucapan sang dokter.

***

Suzy duduk disamping ranjang Sehun. Suzy terlihat bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Tak lama, Sehun pun mulai membuka matanya.

“apa itu Suzy..?” Sehun yang masih setengah sadar.

eo.. kau sudah sadar?” Suzy yang langsung bangkit.

Sehun langsung ingin merubah posisinya menjadi duduk.

“kenapa aku disini?” tanya Sehun.

“Oh Sehun, kau harus dioperasi..” Suzy yang tampak tak ingin basa-basi.

Sehun terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Suzy.

“apa yang kau katakan?” Sehun yang terlihat bingung.

“tumormu kembali, dan sudah berkembang. Kau harus segera dioperasi..” ucap Suzy tegas.

Sehun lalu terdiam.

“ternyata ia kembali..”gumam Sehun sebari tersenyum tipis.

“kau tersenyum? Kau bisa tersenyum sekarang?” Suzy yang tak habis fikir dengan Sehun.

“kenapa jadi begitu agresif, aku sudah tahu bahwa ia akan kembali. Hanya saja waktunya aku tidak tahu. Sebaiknya, aku harus mempersiapkannya..” Sehun yang berbicara kepada dirinya sendiri di akhir kalimatnya.

“mempersiapkan apa?!” Suzy yang mulai meninggikan suaranya.

“Suzy-ah..”

“Sehun-ah..Sehun-ah..” seorang wanita paruh baya langsung menghampiri Sehun sembari menanyakan kondisinya.

“aku tidak apa-apa, bi..” Sehun tersenyum.

eomeoni..” Suzy yang mengenal wanita tersebut pun sedikit terkejut, ia adalah ibu Baekhyun.

***

“selama ini Sehun tinggal bersamamu?” tanya Suzy yang sedang duduk berhadapan dengan ibu dari Baekhyun di kantin rumah sakit.

“kalau ia di Korea, ia tinggal bersamaku. Ia sudah seperti anakku juga, orang tuanya berada di Jepang. Aku tidak tahu kalau kau rekannya Sehun..” ucapnya.

Suzy terlihat ingin mengatakan sesuatu. Namun, ia terlihat ragu untuk mengatakannya.

“ada apa? Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya ibu Baekhyun.

“ahh.. begini, aku berfikir untuk tidak mengatakannya agar tidak membuatmu khawatir. Namun, kita tidak boleh terlambat untuk yang kedua kalinya, pikirku..”

“apa yang kau katakan?” ibu Baekhyun tampak tidak mengerti sama sekali dengan apa yang Suzy katakan.

“…Sehun.. tumornya kembali..” ucap Suzy mengakhiri penjelasannya.

Ibu Baekhyun pun tampak terkejut mendengar itu dari Suzy. Kalau saja, tidak dalam posisi duduk mungkin ia sudah terduduk lemas di lantai.

“ap,..apa yang baru saja kau katakan? Tu..tumornya kembali?” ibu Baekhyun yang sangat berharap ucapan Suzy adalah bohong.

ne, kita harus membujuknya untuk operasi. Kalau tidak….”

Suzy menatap ibu Baekhyun dengan tatapan putus asa.

“…kita bisa kehilangan Sehun seperti Baekhyun..” sambung Suzy.

Ibu Baekhyun tampak memegangi dadanya. Ia mulai kesulitan bernafas.

“kau tidak apa-apa?” tanya Suzy.

“pertama, kita harus hubungi orang tua Sehun terlebih dahulu..”

***

Suzy dan Sehun sedang duduk di bangku di atap rumah sakit.

“ini..” Sehun memberikan sesuatu kepada Suzy.

Suzy lalu melihat tangan Sehun yang mengarah kepadanya dan ternyata sebuah es krim. Sebelum menerimanya, Suzy sempat menolehkan pandangannya kepada Sehun.

“memakannya, apakah membuatmu teringat kepada hyung?” tanya Sehun sembari membuka bungkus es krim miliknya.

Suzy lalu menoleh kearah Sehun. Ia menatap Sehun seakan bertanya apa maksud dari pertanyaannya barusan.

“sebenarnya, aku melihat kau saat disekolah hari itu. Saat kau menyuruhku untuk pulang, aku tidak langsung pulang. Aku melihatmu, dari perpustakaan sampai ke bangku sekolah..”

“ternyata kau memang stalker..” ucap Suzy.

“saat itu aku melihatmu makan es krim sendiri dan menangis. Saat itu… aku berfikir aku sangat beruntung, aku sangat bersyukur..” Sehun yang kali ini menoleh kearah Suzy dan menatapnya.

“…aku bersyukur memiliki waktu yang telah kuhabiskan dengan orang yang kusayangi. Saat aku melihatmu, aku kasihan. Melihatmu tak memiliki banyak kenangan dengan orang yang kau sayangi, aku menyadari bahwa itu sangat sakit sampai membuat seseorang tak bisa hidup… sepertimu..” ucap Sehun dengan lembut yang tetap menatap Suzy.

Suzy pun sedari tadi menatap Sehun mendengar apa yang Sehun katakan.

“apa tujuanmu mengatakan ini?” tanya Suzy.

“aku sudah cukup bahagia, kenangan yang kumiliki juga sudah banyak. Pergi sekarang juga tidak buruk..” ucap Sehun.

“Oh Sehun..” Suzy yang mengetahui arah bicara Sehun.

“aku ingin berhenti, aku tidak ingin berada di ruang operasi lagi. Aku ingin pergi dengan damai, aku tidak ingin pergi selagi terbaring di meja operasi..” Sehun yang menjelaskan tujuannya sedari tadi bicara.

“kau tidak mati. Kenapa kau harus mati?” Suzy yang benar-benar tidak mau menyerah.

“Suzy-ah..”

“kau saja yang sudah cukup? Aku? Bagaimana denganku? Kenangan apa yang kumiliki?”

Sehun terdiam mendengar ucapan Suzy yang tak diduga olehnya.

“jadi..tak bisakah kau tetap disisiku? Kau bisa membuat kenangan untukku. Nanti kalau sudah cukup kenangan yang kau buat, kau boleh pergi..” Suzy yang mulai terdengar emosional.

“…kalau kau pergi sekarang… aku harus bagaimana?” Suzy mulai meneteskan air matanya.

“…aku harus menangis lagi? Hidup seperti mayat hidup selama 5 tahun lagi?” air mata Suzy yang semakin deras.

Sehun yang melihat Suzy pun dibuat terdiam. Ia tidak menyangka Suzy akan menjadi se-emosional berbicara dengannya. Ia hanya bisa menatap Suzy tanpa mengularkan sepatah katapun. Ia hanya bisa melihat Suzy yang berusaha mengontrol kembali emosinya dengan air mata yang terus mengalir.

***

“Suzy-ya..” panggil ibu Baekhyun.

ne..” Suzy langsung menghampirinya.

“Sehun dimana?”

“ia baru saja masuk kemar, mungkin sedang istirahat..” jelas Suzy.

“ini.. mereka adalah orang tua Sehun yang baru saja sampai dari Jepang..” ibu Baekhyun memperkenalkan seorang wanita dan lelaki yang datang bersamanya tadi.

ah ne.. annyeonghaseyo..” Suzy memberikan salamnya.

“bagaimana dengan kondisi Sehun?” tanya ibu Sehun yang sangat terlihat khawatir.

“ehmm, mungkin lebih baik dokter yang menjelaskannya..” jelas Suzy.

***

Suzy pun membawa kedua orang tua Sehun beserta ibu Baekhyun untuk menemui dokter yang bertanggung jawab untuk Sehun. Kedua orang tuanya pun terlihat sangat shock mendengar kondisi Sehun yang sebenarnya dalam kondisi yang tidak baik. Reaksi ibu Baekhyun pun tak berbeda, Suzy yang berada disampingnya pun mencoba menenangkan walaupun ia sendiri masih belum bisa mengontrol perasaannya.

“lalu apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya?” tanya sang ayah.

“sebenarnya, ia bisa melalui operasi pengangkatan tumor. Namun, dari CT Scan terakhir menunjukkan operasi pun tidak bisa menjaminnya. Kemungkinan operasinya akan gagal diatas 90%” jelas sang dokter.

Mendengar itu orang tuanya semakin terpukul.

“Sekarang penglihatannya juga sudah mulai berkurang, jika ia melakukan operasi maka efek sampingnya akan menjadi buta permanen” tambah sang dokter.

“kalau kami tetap ingin dioperasi, bagaimana dokter?” Suzy buka suara.

“kalau kalian tetap berusaha ingin dioperasi, maka tugas kami sebagai dokter akan melakukan yang terbaik. Itu sudah pasti. Semua dokter tidak ada yang mau melihat pasiennya mengalami table death. Namun, melihat kemungkinan yang sangat kecil kami tidak menyarankannya” jawab sang dokter.

“lalu, apa yang sebaiknya kami lakukan?” tanya ibu Baekhyun.

“lebih baik lakukan apa yang ingin dilakukan pasien, lakukan sesegera mungkin. Itu akan membuatnya lebih nyaman”

***

Suzy meletakkan segelas kopi instan dihadapan ibu Sehun.

“Sehun… ia harus tetap dioperasi..” Suzy yang tetap berusaha.

“tapi… dokter bahkan tidak menyarankannya..” ibu Sehun yang mulai tampak menyerah.

“kalau begitu, apakah bibi akan menyerah begitu saja?”

“bukan menyerah, tapi membuatnya lebih nyaman. Membuatnya meninggal dalam kedamaian bukan membuatnya meninggal dalam ruang operasi..” jelas ibu Sehun.

“kenapa ia harus meninggal? Ia tidak akan meninggal.. tolong bujuk dia untuk melakukan operasi..” pinta Suzy dengan putus asa.

***

Suzy semalaman berada di rumah sakit. Ia bahkan tidak tidur. Orang tua Sehun beserta ibu Baekhyun disuruh pulang oleh Suzy agar dia saja yang menjaga Sehun.

“Suzy-ya..” panggil Jiyeon yang datang bersama Chanyeol.

Suzy langsung bangkit dari kursi tunggu yang berada di luar kamar Sehun.

“Sehun bagaimana?” tanya Jiyeon begitu ia berhadapan dengan Suzy.

“ya..begitu…”

“ini kamarnya?” tanya Chanyeol.

“iya, masuklah..” Suzy mengangguk.

Chanyeol pun langsung masuk mendahului mereka.

“kau bawa baju gantiku?” tanya Suzy kepada Jiyeon.

“ini.. ayo ke toilet..” Jiyeon yang hendak menemani Suzy.

***

“sudah sebegitu parahnya? Bagaimana bisa ini terjadi lagi?” gumam Jiyeon setelah mendengar cerita Suzy.

“jadi, apa rencanamu?” tanya Jiyeon.

“akan kupastikan ia dioperasi..” Suzy yang tetap pada pendiriannya.

***

“terima kasih kalian sudah datang..” ucap Sehun yang masih terbaring di ranjang pasien.

“sama teman tak berlu berterima kasih seperti itu..” ucap Chanyeol yang sudah hendak pergi.

“semoga kau baik-baik saja..” ucap Jiyeon sembari tersenyum.

“makasih..” Sehun balas tersenyum.

“kau akan tetap disini?” tanya Jiyeon kepada Suzy.

Suzy mengangguk.

“kalau begitu, kami pergi dulu..” ucap Chanyeol.

“baiklah, hati-hati..” ucap Suzy sembari menutup pintu kamar Sehun.

Suzy kemudian duduk di kursi yang terletak disamping ranjang Sehun.

“apa ada yang ingin kau makan?” tanya Suzy.

“tidak ada..” jawab Sehun sembari menggelengkan kepalanya.

Suasana kemudian menjadi agak canggung. Tak ada seorangpun yang berbicara lagi sampai Sehun yang akhirnya kembali buka suara.

“kau semalaman disini?” tanya Sehun.

eo? Iya..”

“tapi, kenapa kau tidak berada di kamarku?” tanya Sehun lagi.

Suzy terdiam. Suzy memang semalaman di rumah sakit. Namun, ia hanya duduk di kursi tunggu di depan kamar. Bahkan Sehun saja tidak tahu kalau ia beradi di rumah sakit.

“hanya saja…” jawaban Suzy yang terdengar tidak meyakinkan.

“aku akan keluar rumah sakit besok..” ucap Sehun.

“hei, Oh Sehun!” Suzy yang langsung bangkit dari duduknya dan menatap Sehun.

“ah..kau membuatku terkejut..” Sehun memegangi dada kirinya.

“kau harus dioperasi..”

“operasi apa yang kemungkinan gagalnya 90%?” Sehun yang mulai membela dirinya.

“kan masih ada 10% untuk berhasil..” Suzy yang sangat memohon dan putus asa.

“kalaupun berhasil, aku akan menjadi buta permanen..”

“kau takut menjadi buta? Aku akan menjadi matamu, jadi tolong terima operasinya..”

Sehun terdiam ketika mendengar Suzy akan menjadi matanya.

“tetap saja, aku tidak mau. Aku tidak mau menyia-nyiakan hidupku di dalam ruang operasi yang belum tentu berhasil..” Sehun yang tetap kukuh pada pendiriannya untuk menolak operasi.

“lalu, sebenarnya kau siapa berhak menyuruhku seperti ini? Setelah kupikir-pikir kita tidak memiliki hubungan tertentu. Sejujurnya, terakhir kali juga kau mengatakan kau tidak akan melihatku. Apa alasanmu berbuat seperti ini?” Sehun seakan mencoba membuat Suzy sadar akan posisinya.

“Oh Sehun..” Suzy yang terkejut melihat Sehun berkata seperti itu kepadanya.

“kenapa? Kau teringat dengan Baekhyun? Sadarlah Bae Suzy, aku bukan Baekhyun..”

“kenapa Baekhyun jadi terungkit disini?” Suzy yang terlihat marah mendengar nama Baekhyun dibawa-bawa.

“Suzy-ya, dengarkan baik-baik. Kau sekarang hanya kasihan melihatku. Melihatku seperti ini mengingatkanmu kepada Baekhyun, dan kau tidak ingin kehilangan Baekhyun untuk kedua kalinya makanya kau berbuat seperti ini. Tapi….” Sehun yang mulai serius dengan pembicaraannya.

“…aku bukan Baekhyun…”

Suzy seakan ditusuk dari belakang mendengar Sehun berbicara seperti itu.

“aku berbicara seperti ini bukan karena aku ingin mengusirmu atau membuatmu menjauh dariku. Aku berbicara seperti ini untuk diriku sendiri. Aku tidak mau menerima belas kasihan seseorang yang menganggapku sebagai orang lain..”

“kau benar-benar jahat…” hanya kalimat itu yang bisa dikatakan oleh Suzy setelah mendengar semua itu dari Sehun.

“kau benar, kenapa aku harus peduli padamu? Maafkan aku, aku tidak tahu kau berfikir seperti itu tentangku.. baiklah, lakukan apa yang kau mau.. aku berharap ini pertemuan terakhir kita.. aku pergi..” Suzy langsung berbalik dan meninggalkan Sehun.

Sesaat setelah pintu kamar Sehun tertutup, air mata Suzy langsung jatuh membasahi pipinya. Ia berjalan di koridor dengan menagis berat. Isakannya pun dapat didengar dengan jelas. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia kemudian menyenderkan tubuhnya di dinding. Kakinya terlalu lemas untuk berjalan sehingga ia pun berjongkok disitu. Suara tangisannya semakin terdengar. Isakan tangisnya terdengar sangat menyakitkan bagi yang mendengarnya.

Ternyata Sehun melihat itu semua. Ia berdiri menatap punggung Suzy yang bergetar akibat isak tangis yang hebat. Sehun terlihat ingin menghampirinya, namun ia mengurungkan niatnya. Tatapan Sehun mulai terlihat sedih. Perlahan air mata pun mengalir di pipi Sehun. Ia seakan tak sanggup melihat Suzy seperti itu. Rasanya ia ingin menghampirinya dan langsung memeluknya, membiarkannya menangis di dalam pelukannya.

Seakan tak sanggup melihatnya, ia langsung masuk kembali ke kamarnya dan kembali menutup pintunya. Bukannya beranjak untuk naik ke ranjangnya, ia malah terduduk leas dibalik pintu. Ia masih mendengar jelas suara isakan tangis Suzy. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya dibalik kedua lututnya.

***

Sudah 3 hari sejak kejadian di rumah sakit itu. Sejak saat itu pula, Suzy tak masuk kerja. Ia hanya berbaring di tempat tidurnya karena dalam kondisi sakit. Ia bahkan tak memakan makanannya. Selain ke kamar mandi, ia tidak pernah bangkit dari tempat tidurnya. Ibunya sudah berusaha membawanya ke dokter, tapi ia tidak menjawabnya dan tetap larut dalam diamnya. Saat seseorang berbicara ia hanya bisa menatap kosong. Saat malam tiba, ia hanya bisa menangis dalam selimutnya.

***

Keesokan harinya, Suzy akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia menuju meja makan untuk sarapan.

“Suzy-ya..” sang ayah yang terkejut melihat Suzy.

“kau mau pergi?” tanya sang ibu.

eo..” jawabnya tanpa menatap wajah sang ibu.

Bukannya melahap nasi yang telah disediakan, ia hanya duduk untuk minum air dan langsung bangkit.

“kemana kau? Kenapa tidak makan?”

“aku mau mandi..”

“Suzy-ya..” panggil sang ibu yang tak direspon olehnya yang langsung naik tangga.

***

“maaf merepotkanmu, Jiyeon. Ia bilang mau pergi, tapi ia masih kelihatan sakit jadi aku menelponmu untuk menemaninya..” jelas sang ibu.

“iya, bagus ibu menelponku..”ucap Jiyeon.

Tak lama, Suzy terlihat menuruni tangga dengan dandanan yang sudah rapi namun tetap terlihat bahwa ia masih sakit karena wajah pucatnya.

“kenapa kau disini?” tanya Suzy yang melihat Jiyeon.

“menemanimu..” jawab Jiyeon singkat.

***

“mau kemana?” tanya Jiyeon yang menyetir mobil.

“makam Baekhyun..” jawabnya dengan lemas tanpa menatap kearah Jiyeon.

“Suzy-ya…” ucapan Jiyeon yang langsung dipotong oleh Suzy.

“kumohon jangan katakan apapun, aku tidak punya kekuatan untuk berbicara..” ucap Suzy sembari menatap tatapan kosong keluar jendela.

Jiyeon pun dibuat bungkam olehnya.

***

Suzy menatap makam Baekhyun. Sudah sekitar 10 menit ia berdiri disitu tanpa mengatakan sepatah katapun. Yang ia lakukan hanyalah menatap makam tersebut.

Tak lama, seseorang berjalan mendekati kearah Suzy. Ia adalah Sehun. Sambil membawa satu buket bunga ia berjalan menuju makam Baekhyun. Namun, setelah mendongakkan kepalanya ia melihat sesosok gadis yang ia kenali. Langkahnya pun sontak terhenti melihat gadis tersebut. Ia langsung berbalik dan berdiri diantara makam lainnya. Ia hendak menunggu saat Suzy pergi.

“aku harus melakukan apa sekarang?” Suzy yang akhirnya buka suara.

Suara Suzy terdengar sangat parau.

“selama 5 tahun terakhir pertama kali aku merasakan hal ini..” sambungnya.

“…pertama kali aku merasakan ini saat bersamamu..memikirkanmu setiap malam dan itu membuatku menangis..tapi..perasaan itu kembali muncul.. kenapa bisa seperti itu?” gumamnya.

Mata Suzy sudah tampak berkaca-kaca.

“aku harus apa?” setetes air mata mulai mengalir bersama rasa putus asanya yang ia keluarkan di hadapan makam Baekhyun.

“setelah 5 tahun…aku hidup seperti mayat hidup.. makan makanan tidak ada rasa, saat senang hanya tersenyum tanpa arti, setiap teringat padamu aku menangis…”

Suzy mencoba mengatur nafasnya. Ia hendak menahan air matanya yang keluar, namun hatinya tak sanggup menahannya.

“…tapi, pertama kali… aku memikirkan orang lain selain dirimu dan aku merasa hidup seperti orang normal..”

Sehun sedikit terhenyah mendengar kalimat itu.

“..untuk pertama kalinya.. aku ingin bersama orang tersebut walaupun ia memintaku untuk tidak memerlukannya..”

Sehun tetap berusaha mendengar apa yang Suzy katakan.

“..perasaan apa itu? Orang itu mengatakan perasaanku ini hanya kasihan.. orang yang kau kirimkan untukku itu… ia mengatakan aku hanya kasihan kepadanya.. ia mengatakan bahwa aku hanya teringat kepadamu.. ia mengatakan….” Suzy yang mulai terlihat sangat emosional.

Air matanya terus mengalir walaupun ia berusaha menahannya.

“…bahwa ia bukan dirimu..”

Perkataan Suzy barusan sukses membuat Sehun terbelalak. Perkataan Suzy sedari tadi ternyata ditujukan kepadanya.

“orang itu berfikir aku melakukan ini karena aku menganggapnya dirimu.. tapi sejujurnya, aku tidak pernah berfikir seperti itu…”

“…karena itu aku makin dibuat gila… kalau bukan karenamu, kenapa aku memikirkannya? Kenapa aku memperdulikannya? Kenapa… kenapa aku ingin bersamanya?”

Suzy memegangi dadanya akibat sesak. Ia tak sanggup menahan rasa sakit di dadanya. Sedangkan Sehun menitikkan air matanya saat mendengar kalimat terakhir dari Suzy barusan. Ia tidak menyangka ternyata Suzy tulus kepadanya. Ia berfikir Suzy hanya melampiasakan rasa penyesalannya terhadap Baekhyun kepadanya. Ternyata, sekarang Sehun-lah yang merasa menyesal dengan perkataannya kepada Suzy tempo hari di rumah sakit.

***

Suzy berjalan keluar dari pemakaman. Ia menunggu Jiyeon dari parkiran. Suzy berjalan dengan kepala tertunduk. Itu sudah menjadi kebiasaannya saat dalam keadaan sulit. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sepasang sepatu berhenti dihadapannya. Suzy mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang telah menghalangi langkah kakinya. Suzy bisa melihat orang itu adalah Sehun.

“ayo berbicara sebentar..” ucap Sehun.

“Jiyeon akan…”

“aku sudah minta izin kepada Jiyeon..” Sehun yang langsung memotong ucapan Suzy.

***

Suzy dan Sehun duduk berhadapan di sebuah cafe. Sehun yang memulai pertemuan ini pun belum memulai untuk buka suara. Ia terlihat menatap Suzy saja.

“Bae Suzy, apa kau tidak ada yang mau kau katakan?” tanya Sehun yang malah melimpahkannya kepada Suzy.

“tidak ada, yang kutahu pertemuan terakhir kita saat di rumah sakit. Aku tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu, jadi tidak ada yang ingin kukatakan” jawab Suzy yang masih  terkesan dingin dan arogan.

“kalau begitu, aku saja..”

“…sejujurnya, sampai sekarang aku masih belum berubah pikiran tentang operasi. Aku masih akan menolaknya..” ucap Sehun menatap Suzy.

Suzy yang sedari tadi tak menatap Sehun, ia hanya mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Namun, ketika mendengar itu Suzy sontak menatap kearah Sehun.

“kau memintaku untuk duduk disini hanya untuk mengatakan itu?” ucap Suzy dengan nada sinis kepada Sehun.

“kau benar-benar tidak ingin mengatakan apa-apa?” Sehun mencoba meyakinkan Suzy.

“sebenarnya, apa yang ingin kau dengar?” Suzy yang mulai marah melihat Sehun mengulang-ngulang kata-katanya.

“tidak ada, tidak ada yang ingin kudengar darimu..”jawab Sehun.

Suzy menatap tajam Sehun. Ia merasa seperti dipermainkan. Suzy lalu hendak bangkit dari tempat duduknya.

“aku takut…”

Pergerakan Suzy tehenti ketika Sehun mengatakan kata tersebut. ia kembali duduk.

“…aku takut tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari ruang operasi..” sambung Sehun yang mulai berbicara dengan nada yang cukup lembut.

“apa yang kau takutkan? Kau bahkan pernah dioperasi dulu? Bukankah pengalaman itu membuatmu lebih berani?” Suzy yang mulai kembali untuk membujuk Sehun.

“karena pengalaman itu aku lebih takut…” lirih Sehun menatap Suzy dalam.

Suzy terdiam, ia mencoba mendengarkan perkataan yang ingin dikatakan Sehun.

“aku… aku percaya setiap orang lahir dengan satu keajaiban.. dengan keajaiban itu kita bisa melewati masa tersulit kita..” Sehun yang semakin menatap Suzy penuh perasaan.

“kau memiliki keyakinan seperti itu, lalu kenapa harus takut?” tanya Suzy lembut.

“tapi.. aku sudah menggunakan keajaibanku pada saat operasi pertama. Pada saat itu, dokter juga mengatakan kemungkinan berhasil sangat kecil. Tapi, lihatlah aku masih hidup sampai sekarang hingga bertemu denganmu.. itu karena… keajaiban itu..”

Mata Sehun mulai berkaca-kaca saat mengingat masa-masa tersulitnya terdahulu.

“karena itu… aku tidak percaya diri untuk melakukan operasi ini..” Sehun seakan memberikan alasan mengapa ia bersikeras menolak operasi tersebut.

Suzy mendnegarkannya dengan baik dengan tetap menatap Sehun.

“kalau begitu, aku bisa memberikan keajaibanku, bukan?” respon Suzy.

Sehun mulai menatap aneh Suzy. Ia tidak menyangka itulah kalimat pertama yang dikeluarkan setelah mendnegar ceritanya tersebut.

“kau bilang setiap orang terlahir dengan satu keajaiban. Aku belum menggunakan keajaibanku. Jadi, aku akan memberikannya kepadamu..” sambung Suzy.

“Bae Suzy!” Sehun yang mencoba menyadarkan Suzy bahwa bukan itu maksud dari pembicaraannya.

“aku akan memberikannya.. jadi, tak bisakah kau tetap dioperasi?” Suzy yang kembali meminta dengan nada putus asanya.

“kau mengerti perkataanku sedari tadi atau tidak?”

“aku.. kalau aku kehilanganmu seperti ini mungkin aku akan hidup seperti mayat hidup lagi selama 6 tahun..atau bahkan 12 tahun… atau selamanya..” Suzy yang mulai kembali terlihat emosional.

“kau bisa melihatku seperti itu..?” lirih Suzy menatap Sehun.

Sehun menatap Suzy tanpa berkata apa-apa.

“aku duluan, aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan..” Sehun yang seakan tak bisa menjawab mencoba menghindari Suzy.

Suzy tampak tak ada niat untuk menghentikan Sehun. Ia tetap duduk ketika Sehun hendak bangkit dari tempat duduknya. Namun, saat ia sudah bangkit baru selangkah ia berjalan Sehun langsung jatuh tergeletak disamping Suzy. Suzy yang melihat itu pun sontak sangat terkejut.

“Sehun-ah..” Suzy langsung bangkit dari kursi dan menggeser kursi tersebut.

“Sehun-ah.. hei, Oh Sehun.. sadarlah..” Suzy memegang kepala Sehun mencoba untuk menyadarkannya.

“tolong panggil ambulan..” ucap Suzy kepada salah satu pengunjung kafe yang berada di dekatnya.

–TBC–

2 thoughts on “Memories And Miracle (Chapter 3)

  1. aku udh baca yg part 1, tp part 2-nya blm dicari gx ada…. part 2-nya dimana kak????

    ceritanya bener2 menyentuh, kasian banget suzy harus mengalami kejadian itu utk kedua kalinya, ditunggu kak kelanjutannya….(klw bisa jgn lama2, udh penasaran bgt)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s