My First Love Story

mfls

 

JUDUL FF: MY FIRST LOVE STORY

 

NAMA AUTHOR: AI HIKARI

 

GENRE: ROMANCE

 

RATING: PG-17

 

LENGTH: ONE SHOOT

 

MAIN CAST: LUHAN, SEOHYUN.

 

 

***

 

HAPPY READING!

 

 

 

“I like you, but I sometimes got scared when you get close to me. I think you might leave me” -ZX

***

Seohyun hanya menanggapi cerita teman-temannya itu dengan senyuman. Sementara temen-temannya yang lain begitu menggebu-gebu menceritakan kisah mereka masing-masing, kisah tentang cinta pertama yang konon begitu manis hingga sulit dilupakan. Yeoja mana yang tidak antusias dengan pembahasan itu. Seohyun terdiam, membawa dirinya pada kisah beberapa tahun silam. Kisahnya tentang seseorang. Seseorang yang sampai saat ini masih selalu diingatnya.

“Bagaimana denganmu Hyunnie? Siapa cinta pertamamamu?” tanya seorang yeoja berambut blonde yang baru saja menyadarkan Seohyun dari lamunannya.

“Aku tidak punya hal yang seperti itu,” jawab Seohyun, membuat yeoja yang bernama Nicole itu nyaris menganga. Seolah-olah Seohyun baru saja menemukan sebuah planet langka yang tidak pernah ada sebelumnya.

Jinjja?” tanyanya lagi memastikan. Seohyun hanya mengangguk, memangnya semua yeoja harus punya cinta pertama? batinnya.

Woah, daebak! Aku tidak percaya ada yeoja yang seperti dirimu,” timpal salah satu yeoja lainnya yang bernama Soyu.

“Tentu saja itu bukan hal yang luar biasa untuk yeoja seperti Seohyun. Aku bahkan tidak pernah melihatnya melirik namja mana pun. Entah karena memang dia tidak tertarik, atau dia menyukai salah seorang di antara kita,” tambah salah seorang yeoja yang paling cerewet di antara mereka, Hara. Seohyun hanya meliriknya dengan kesal seolah ingin mengatakan ‘hey, aku masih normal‘. Temannya yang lain hanya menimpali obrolan itu dengan tawa.

“Hyunnie, jangan terlalu mengambil hati perkataan mereka. Kau tahu sendiri, hanya aku temanmu yang masih waras,” kata yeoja lain sambil ber-high five dengan Seohyun. Teman yang paling dekat dengan Seohyun diantara sekumpulan yeoja-yeoja itu, Chorong.

Pembicaraan panjang mereka terpaksa berhenti melihat dosen yang baru saja masuk ke kelas. Kelas akan segera dimulai, jadi lebih baik mereka berhenti mengobrol sebelum dosen yang terbilang killer itu murka kepada mereka.

“Hyunnie, kau tidak terburu-buru kan? Aku harus ke perpustakaan dulu sebentar,” kata Chorong pada Seohyun setelah perkuliahan mereka hari ini berakhir.

“Baiklah, aku akan menunggumu di kantin,” kata Seohyun sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.

“Sangat bukan Seohyun, biasanya kau akan memilih untuk ikut ke perpustakaan. Apa kau sudah bosan bergaul dengan buku-buku kesukaanmu?” tanya Chorong dengan senyum yang seperti mengisyaratkan ‘wah, sahabatku sepertinya sudah berubah‘.

“Aku hanya sedikit haus, dan kautahu tidak mungkin aku membawa mojito lemon ke perpustakaan,” jawab Seohyun, menyebutkan nama minuman kesukaannya.

Ne, arasseoyo,” kata Chorong lagi sebelum berlalu meninggalkan Seohyun.

“Kami juga harus pergi duluan Hyunnie, aku dan Hara harus berburu tas gucci terbaru sebelum kami kehabisan. Kau tahu kan yang baru ini limited edition,” kata Nicole menjelaskan, diiringi dengan anggukan setuju dari Hara. Terlalu antusias, sampai Seohyun takut kepala temannya itu terlepas.

Ne, hati-hati kalian berdua,” kata Seohyun pada mereka. Dalam hati dia sangat bingung, mengapa kedua yeoja ini sangat takut tertinggal untuk urusan-urusan semacam itu.

“Aku juga harus pergi lebih dulu Hyunnie, Sunggyu Oppa sudah menjemputku,” katanya tersenyum. “Seharusnya kau juga punya namjachingu, supaya kau tidak harus selalu pulang dengan Chorong,” bisiknya kemudian tersenyum jail.

Cih, pastikan saja kau tidak terkejut jika aku memperkenalkan namjachingu-ku,” kata Seohyun tepat sebelum Soyu keluar dari pintu kelas.

 

Soyu kembali memunculkan kepalanya dari balik pintu sambil berkata, “Aku tidak yakin itu akan terjadi,” katanya tertawa sebelum betul-betul menghilang dari penglihatan Seohyun.

***

Seohyun berjalan menuju tempat duduk yang berada di ujung taman kecil pada kantin itu. Setelah posisi duduknya dianggap sudah nyaman, ia kemudian membuka tas dan mengambil iPod-nya. Sepertinya mendengarkan musik bisa membantunya menghilangkan rasa bosan sambil menunggu pesanan mojito lemonnya datang. Dibukanya playlist pada iPod itu, kemudian menyentuh button bertuliskan shuffle on. Lagu pertama yang terputar cukup mengagetkannya.

You tell me you’re in love with me

Like you can’t take your pretty eyes away from me

It’s not that i don’t want to stay

But every time you come too close i move away …

Suara Britney Spears mengalun lembut kembali membawanya pada satu masa. Lagu inilah yang selalu mengingatkannya pada seseorang pada masa itu. Seseorang yang memberinya perasaan aneh, entah itu apa namanya.

.
.
.
.
.

Flashback On

“Hai, aku menyukaimu. Tidak, mungkin aku jatuh cinta padamu. Maukah kau menjadi kekasihku?” kata namja itu sambil memasang senyum yang terlampau lebar. Sangat bahagia, seolah dia sangat optimis Seohyun akan menerima perasaannya.

Seohyun terdiam sejenak, masih mencerna perkataan orang yang ada di depannya. Ia terlalu terkejut, bahkan Ia tidak sadar mulutnya agak menganga saking terkejutnya. Dalam hati ia bergumam ‘apa-apaan orang ini, ia bahkan belum mengenalku. Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta?’. Dengan memberanikan diri, Seohyun akhirnya menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan orang itu. Berusaha merangkai kata yang tepat agar namja itu tidak terluka.

I like you, but I sometimes got scared when you get close to me. I think you might leave me,” kata Seohyun dengan bahasa Inggris yang fasih. Terus terang, dia masih sulit berbicara dengan menggunakan bahasa negara yang saat ini ia tinggali. Jadi, berbahasa Inggris mungkin lebih baik. Ia harap namja itu mengerti apa yang diucapkannya.

Really? Unbelieveable. If you wanna see me, just call me,” katanya menjawab dengan bahasa Inggris yang cukup berantakan. Kemudian dengan sigap ia mengambil kertas di tasnya dan menuliskan sesuatu kemudian memberikan lembaran itu pada Seohyun. Seohyun akhirnya kembali menganga setelah namja itu langsung pergi meninggalkannya tanpa rasa bersalah, bahkan senyumnya tadi terlihat semakin lebar dua kali lipat.

Ige mwoya?” kata Seohyun depresi setelah memperhatikan kertas yang ternyata bertuliskan sebuah nomor telepon, mungkin milik namja tadi. Sial baginya, sepertinya namja itu hanya mengerti kata ‘I like you‘ dari kalimat panjang yang tadi Seohyun ucapkan. Kalimat penolakan yang seharusnya membuat namja itu kecewa, bukan malah sebaliknya.

Nan ottokkhae? Apa yang harus kulakukan pada orang aneh itu?” batinnya.

Flashback Off

.
.
.
.
.

Agasshi, ini pesanan anda.” Suara ahjumma yang membawa mojito lemon menyadarkan Seohyun dari lamunannya.

Kamsahamnida,” jawab Seohyun sopan. Matanya masih lekat memandang punggung ahjumma yang berlalu itu. Ada apa denganku? Apa aku sudah mulai gila? Ini sama sekali bukan diriku, fokuslah pada kehidupanmu sekarang Seohyun. Lupakan orang aneh dari masa lalumu itu, nasehatnya pada dirinya sendiri.

“Hei, yeoja aneh! Kau tidak jatuh cinta pada ahjumma itu, kan? Kau sama sekali tidak berkedip melihatnya.” Suara sahabatnya mengagetkan Seohyun, Chorong sudah duduk tepat di hadapan Seohyun sekarang.

“Apa maksudmu Chorong-ah? Berhenti menggangguku seperti mereka,” kata Seohyun tidak terima. Chorong tahu pasti ‘mereka‘ yang di maksud Seohyun adalah teman mereka yang tidak lain adalah Nicole, Hara dan Soyu. Mereka bertiga memang selalu menggoda Seohyun yang minim akan pengalaman cinta.

Arasseo, mian,” kata Chorong masih dengan senyum manis yang menghias bibirnya.

“Pesanlah sesuatu, kita makan siang di sini saja. Kau tidak masalah, kan?” kata Seohyun.

“Tidak sama sekali,” jawab Chorong kemudian memanggil salah satu ahjumma penjaga kantin, berniat memesan makanan.

“Kau tidak makan, Hyunnie?” tanya Chorong yang baru sadar melihat Seohyun hanya memesan minuman sejak tadi.

“Aku tidak lapar,” jawab Seohyun sekenanya. Sejujurnya pikirannya masih melayang-layang pada kejadian beberapa tahun yang lalu, membuatnya seketika tidak berselera untuk makan.

“Kau ingin bercerita tentang sesuatu? Kau terlihat gelisah,” tanya Chorong pada Seohyun. Sejak tadi sahabatnya itu terlihat tidak bersemangat, tidak seperti Seohyun yang biasanya. Meskipun cenderung jarang berbicara, wajahnya jarang mengeluarkan ekspresi seorang yang tertekan atau mempunyai masalah.

Ani, gwaenchana,” jawab Seohyun.

“Jangan bilang kau kepikiran ocehan-ocehan mereka tentang pengalaman cintamu,” kata Chorong tepat sasaran, melihat perubahan wajah Seohyun yang kaget sepertinya tebakannya benar. “Kautahu, tidak seharusnya kau menanggapi ucapan mereka dengan serius. Atau mungkin kau sekarang sudah mulai tertarik tentang hal seperti itu? Ke mana Seohyun yang selalu mengatakan hubungan cinta hanya membuang-buang waktu saja?” lanjutnya. Sedikit menyindir sahabatnya itu. Seohyun lupa Chorong bisa jadi yeoja cerewet yang sangat menyebalkan.

“Bukan begitu Chorong-ah, aku hanya berpikir. Apa aku normal? Melihat mereka yang selalu antusias dengan hal seperti itu, kupikir sepertinya aku adalah yeoja yang aneh karena hanya aku yang tidak tertarik dengan hal semacam itu,” jawabnya polos. Chorong hanya mendesah pelan mendengar jawaban Seohyun.

“Menurutku tidak ada yang aneh, perasaan seperti itu bukan hal yang bisa kita tentukan kapan dan bagaimana datangnya. Anggap saja mereka memang selangkah lebih unggul darimu. Mungkin saja kau terlalu sering bergaul dengan buku, jadi perasaanmu sedikit tumpul terhadap hal yang disebut cinta,” jawab Chorong. Sebenarnya dia juga tidak yakin dengan yang diucapkannya, dirinya tidak jauh berbeda dengan Seohyun. Bukan tipikal yeoja yang antusias dengan hal yang dinamakan cinta. Meski tak ia pungkiri, dia sudah pernah mengalami masa yang disebut pacaran pada saat masih sekolah dulu.

“Kurasa kau benar, Chorong-ah. Mungkin memang belum saatnya aku merasakan hal semacam itu. Sebaliknya dengan dirimu, sepertinya aku merasakan aura-aura yeoja yang kasmaran belakangan ini. Apa kau sedang berkencan dengan seseorang?” kata Seohyun. Mulai semangat menyinggung tentang kehidupan pribadi sahabatnya, hal yang sangat jarang terjadi.

“Kau mulai berkelakuan seperti mereka, Hyunnie. Hahahaha. Apa aku sedang diinterogasi sekarang?” kata Chorong. Tidak dapat menyembunyikan semburat merah dari wajahnya. Belakangan ini memang dia tertarik dengan seseorang.

“Ceritakan padaku, mungkin aku bisa membantumu,” katanya berusaha meyakinkan Chorong agar sahabatnya mau bercerita. Meskipun Seohyun tidak yakin dengan yang baru saja diucapkannya, sejujurnya dia hanya penasaran melihat gelagat mencurigakan dari sahabatnya. Dan dia benci dengan rasa penasaran itu.

“Baiklah, karena ini denganmu, kurasa aku tidak akan menyembunyikan perasaanku. Tapi kauharus janji untuk tidak memberitahu mereka, aku tidak ingin mereka menggodaku. Selain itu aku tidak mau jika mereka merebut namja yang aku sukai saat ini,” kata Chorong sambil tertawa. Meskipun apa yang dikatakannya itu jujur adanya.

Jika teman mereka yang lain tahu apalagi melihat namja yang ia maksud, bukan tidak mungkin yeoja-yeoja genit itu menyukai namja itu juga. Menurut Chorong, tidak ada seorang pun yang dapat menolak pesona namja yang saat ini dia sukai.

Arasseoyo, agasshi,” jawab Seohyun meyakinkan Chorong dengan wajah seriusnya.

***

“Hyunnie, ottokkhae? Besok aku akan bertemu dengan namja itu. Aku sangat gugup, aku bahkan tidak bisa tidur,” kata yeoja itu panik. Chorong, sahabatnya.

Seohyun masih sulit percaya, bagaimana mungkin sahabatnya itu tega meneleponnya pukul 11.00 malam. Sementara Seohyun dengan nyenyaknya tengah bermimpi indah. Hal yang baru saja disesali Seohyun adalah keputusannya menanyakan tentang kehidupan cinta sahabatnya.

Sudah dua minggu berlalu semenjak Chorong bercerita tentang namja yang disukainya, dan semenjak saat itu juga Chorong terus saja bercerita setiap detail perkembangan hubungannya dengan namja itu. Tidak jarang sahabatnya itu meneleponnya tengah malam hanya untuk bercerita hal yang menurut Seohyun tidak begitu penting, seperti halnya yang terjadi saat ini. Kenapa Chorong tidak bisa bersabar menunggu mereka bertemu di kampus kemudian baru menceritakannya. Seohyun mulai depresi dengan kelakuan sahabatnya itu.

Neo, jinjja! Ini sudah ketiga kalinya kau meneleponku hanya untuk bercerita tentang namja itu. Kautahu aku sedang tidur sekarang. Kaubaru saja merusak mimpi indahku,” jawab Seohyun setengah berteriak.

Kesabarannya sudah mulai habis menghadapi temannya yang satu ini. Tiba-tiba terlintas di benaknya ‘Chorong saja bisa seperti ini, apa kabar ketiga temannya yang lain itu jika sedang membahas tentang namjachingu mereka padanya‘, Seohyun bergidik ngeri memikirkan hal itu. Cukup Chorong yang seperti ini, dia tidak akan mau jika ketiga sahabatnya itu juga ikut membagi cerita hubungan cintanya pada Seohyun.

Ya! Seo Joo Hyun, tega sekali kau padaku,” kata yeoja itu. Sontak Seohyun menjauhkan handphone-nya dari telinga, dia bisa tuli mendengar teriakan sahabatnya itu.

“Kecilkan suaramu, Chorong-ah. Baiklah aku akan mendengarkanmu, tapi jangan berteriak lagi, aku bisa tuli,” kata Seohyun berusaha mendengarkan sahabatnya dengan sabar.

“Kautahu besok aku akan berkencan dengannya, bukan? Dan aku sangat gugup. Jadi aku butuh bantuanmu,” kata Chorong lagi.

“Jadi, bantuan apa yang bisa aku lakukan agar kau bisa lebih baik?” kata Seohyun lagi.

“Aku ingin kau menemaniku bertemu dengannya, aku sungguh tidak sanggup jika harus berdua saja dengannya. Aku takut aku mempermalukan diriku sendiri,” kata Chorong dengan Suara memelas.

MWO? MALDO ANDWAE!!! BAGAIMANA MUNGKIN AKU HARUS MENEMANI KALIAN BERKENCAN, HAH?” kata Seohyun. Suaranya sudah naik beberapa oktaf. Membuat sang appa meneriakinya untuk diam dari kamar bawah. “Kau tidak ingin mempermalukan dirimu sendiri, tapi kau malah mengajakku. Apa kau pikir aku tidak malu jika berada di antara pasangan yang sedang berkencan?” lanjut Seohyun, kali ini dengan suara yang normal tidak seperti sebelumnya.

“Bukan begitu maksudku. Kau boleh mengajak siapapun yang kau mau. Lagi pula ini bukan kencan, kami hanya mencoba saling mengenal lebih baik,” kata Chorong lagi, berusaha meyakinkan Seohyun agar bersedia membantunya.

“Siapa yang bisa kuajak? Kau tahu aku tidak mempunyai namjachingu. Kenapa kau tidak mengajak Nicole, Hara atau Soyu? Aku yakin mereka pasti tidak keberatan,” kata Seohyun masih berusaha protes.

“Mana mungkin aku mau mengajak yeojayeoja genit itu! Bisa bisa mereka malah merebut namja yang aku sukai.” Chorong beralasan. “Oh ya, kenapa tidak kau ajak Jinwoon? Bukannya dia sangat menyukaimu, dia bahkan sudah mengejar-ngejarmu sejak tahun pertama kita kuliah,” lanjut Chorong memberikan solusi yang langsung ditolak dengan tegas oleh Seohyun.

“Aku sama sekali tidak mempunyai perasaan spesial pada Jinwoon, aku hanya menganggapnya teman. Dan aku tidak mau membuat dia semakin menaruh harapan kepadaku,” kata Seohyun.

Ottokkhae? Lalu apa yang harus kulakukan, Hyunnie?” kata Chorong dari ujung sana.

Sepertinya dia menangis sekarang, yeoja itu memang cengeng. Jika ia sudah merasa kehabisan ide, maka hal itulah yang akan terjadi. Seohyun yang mendengar suara sesenggukan di ujung telepon itu, lantas semakin tidak tega. Salahkanlah dirinya yang tidak tegaan pada orang lain, apalagi jika sahabatnya sudah menangis seperti itu.

Arasseo, Chorong-ah. Uljima. Aku akan menemanimu,” kata Seohyun pada akhirnya. Pasrah adalah jalan satu-satunya agar sahabatnya itu bisa kembali seperti sedia kala.

Jinjja? Ah, Hyunnie. Kau memang dewi penyelamatku, saranghae. Bagaimana jika aku menyuruh oppa untuk mengajak temannya juga, apa kau keberatan?” kata Chorong. Berusaha mencari solusi lain untuk sahabatnya yang baik itu.

“Tidak perlu, akan lebih canggung lagi jika muncul seseorang yang tidak aku kenal,” kata Seohyun.

Ne, arasseoyo. Besok aku akan menjemputmu pukul 10.00 pagi. Pastikan kau tidak kesiangan, ne!” kata Chorong ceria sebelum akhirnya menutup telepon.

Seohyun hanya mendesah panjang. Tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti. Dirinya saja belum pernah berkencan dengan namja mana pun. Demi apa, saat ini ia malah harus jadi orang ketiga di antara sahabatnya yang kasmaran. Bodoh, tentu saja demi sahabatnya. Seohyun kembali berbaring di ranjang empuknya, menyembunyikan wajahnya di balik boneka Keroro kesayangannya. Dia memutuskan kembali melanjutkan tidurnya, memasrahkan diri terhadap apa pun yang terjadi padanya besok.

***

“Ah, itu dia Hyunnie.  Namja yang sedang menelepon itu,” kata Chorong antusias sambil menunjuk seorang namja yang sedang berdiri membelakang. Seohyun hanya mengangguk malas. Sesungguhnya dia tidak tertarik seperti apa pun tampak namja yang membuat sahabatnya nyaris gila itu.

“Kita hampiri saja dia, aku takut dia sudah lama menunggu,” kata Chorong lagi. Mereka sedikit berlari menuju namja yang masih menelepon itu.

Annyeong, Oppa,” kata Chorong sumringah sambil menepuk bahu namja itu. Namja itu memberikan kode seperti ingin mengatakan ‘tunggu sebentar‘.

“Aku tutup teleponnya, aku akan menghubungimu lagi nanti,” kata namja itu kemudian berbalik menghadap Chorong. Sepertinya dia belum menyadari kehadiran Seohyun yang berdiri agak di belakang Chorong.

DEG!

Seohyun nyaris menganga melihat namja yang ada di depannya. Seketika ia ingat cerita Chorong tentang namja itu, mata namja itu yang indah. Kulitnya yang putih, dan fakta bahwa namja itu berasal dari Cina. Namun tak pernah terbesit sebelumnya, jika namja yang diceritakan Chorong itu adalah seseorang yang dulu ada di masa lalunya. Seseorang yang ternyata sangat disukai oleh sahabatnya

Oppa, kenalkan ini temanku, Seohyun. Hyunnie, ini Luhan Oppa,” kata Chorong menyadarkan Seohyun dari lamunannya. Seohyun sontak terkaget, sedetik kemudian dia membungkukkan badannya sambil mengucapkan ‘annyonghaseyo, Seohyun imnida‘. Namja di depannya itu tampak sama terkejutnya dengan Seohyun, ia bahkan masih terdiam memandang Seohyun lekat tanpa berkedip sedikit pun. Seperti terhipnotis oleh yeoja di depannya, yeoja yang sampai saat ini masih disukainya, bahkan meski beberapa tahun telah berlalu.

Oppa, Luhan Oppa!” kata Chorong sambil berdadah-dadah di depan wajah Luhan. Berusaha menyadarkan namja yang tampak tak bergeming itu.

“Xiannie,” kata Luhan nyaris berbisik. Membuat Chorong sedikit terkejut dengan kelakuan aneh namja di depannya. Chorong memperhatikan kedua orang itu bergantian, ada aura yang aneh diantara mereka.

“Apa kalian saling kenal?” tanyanya kemudian. Memecah keheningan yang ada.

Ne?” kata Seohyun agak terkejut. Entah bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Otaknya sibuk merangkai kata, sementara Chorong terus menatapnya, menunggu jawaban dari bibir mungilnya itu. Demi Tuhan, ada perasaan senang di hatinya mendengar namja itu memanggil nama Cina-nya lagi, tapi jika ia mempertahankan perasaan itu, tentu saja tak akan baik bagi persahabatannya dengan Chorong.

“Dulu dia adalah hoobae-ku saat SMP. Mungkin Xiannie tidak mengingatnya. Ah, maksudku Seohyun. Aku rasa bukan hal yang penting untuk mengingatku, tentu saja dia sudah lupa.” Pada akhirnya Luhanlah yang menjawab pertanyaan Chorong. Sementara Seohyun hanya membalasnya dengan senyum kikuk.

Jinjja? Berarti aku tidak salah kan mengajak temanku ini? Lihat, kalian bahkan reunian sekarang,” kata Chorong memamerkan senyum manisnya pada Luhan. Seohyun masih saja terdiam. Selama hidupnya, ini adalah situasi yang paling kikuk yang pernah ia alami.

“Sebaiknya kita masuk sekarang, kajja,” kata Chorong setelah membeli tiga tiket untuk mereka. Tiket masuk ke taman bermain itu.

Mereka bertiga berjalan masuk, Chorong berdiri di antara Seohyun dan Luhan. Mereka memutuskan untuk makan di sebuah cafe sebelum berkeliling memilih wahana yang ingin dimainkan.

Saat ini mereka sudah memilih tempat yang ada di sudut ruangan. Tidak banyak percakapan di antara mereka. Seohyun memilih diam karena tidak tahu harus berkata apa. Sementara Luhan hanya menanggapi sesekali ucapan Chorong. Sejak tadi, memang Choronglah yang mendominasi percakapan di antara mereka.

Mulai dari membahas tentang kegiatan Luhan di kampusnya, hingga membicarakan tentang seseorang bernama Minseok. Sepupu Chorong sekaligus sahabat Luhan semenjak dia pindah ke Korea beberapa tahun yang lalu. Orang yang berjasa yang telah mempertemukan Chorong dan Luhan. Bahkan orang itulah yang terus membujuk Luhan untuk bertemu dengan Chorong. Luhan yang lelah terus dibujuk oleh sahabatnya itu akhirnya mengiyakan. Tidak menyangka pertemuan hari ini akan seperti ini. Setidaknya dia tidak menyesal karena bisa bertemu dengan Xiannie. Yeoja yang sejak dulu selalu disukainya.

“Ini pesanan anda, selamat menikmati,” kata waiter itu menyadarkan orang-orang yang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Kamsahamnida,” kata Chorong tidak lupa memberikan senyuman kecil pada waiter itu.

Sebuah nada dering memecah keheningan orang-orang yang tengah menikmati makanannya itu. Membuat semua mata menoleh ke arah asal suara.

“Ah, itu handphone-ku,” kata Chorong kemudian mengeluarkan handphone dari tasnya. Matanya membulat melihat tulisan ‘Appa‘ yang ada di layar telepon.

Yoboseyo, Appa. Ne? Ani, haruskah aku? Ne, arasseoyo. Nanti aku hubungi Appa lagi,” kata Chorong, terlihat raut kecewa sekaligus rasa bersalah pada wajahnya.

Mianhae, aku harus pergi. Appa-ku baru saja tiba di Korea dan aku harus menjemputnya sekarang. Maafkan aku harus meninggalkan kalian,” kata Chorong. Jika bisa memilih, dia tidak ingin pergi melewatkan kesempatannya dengan Luhan. Tapi perintah sang appa adalah mutlak. Dia tidak bisa menolaknya.

Mwo? Chorong-ah ….” Kali ini Seohyun betul-betul terlihat depresi. Bagaimana mungkin Chorong tiba-tiba harus pergi, meninggalkannya dengan orang yang paling tidak siap untuk ia temui sekarang ini.

Mianhae, Hyunnie. Aku akan menjelaskannya nanti,” kata Chorong memotong perkataan Seohyun.

Oppa, nanti aku akan meneleponmu,” katanya pada Luhan sebelum meninggalkan tempat itu. Luhan hanya membalasnya dengan anggukan.

Seohyun nyaris sudah tidak dapat menelan makanan yang ada di mulutnya. Tangannya kini tengah sibuk meremas-remas bajunya di bawah meja. Ingin rasanya ia menghilang di telan bumi, saat ini juga.

“Aku tidak menyangka dunia begitu kecil Xiannie. Aku tidak tahu saat ini kau sudah ada di Korea lagi,” kata namja itu mulai memecah keheningan. Bohong. Tentu saja Luhan tahu Seohyun berada di Korea. Itulah alasan mengapa dirinya juga berada di negara ini.

“Semenjak lulus SMP aku memang sudah kembali ke sini,” jawabnya sekenanya.

“Apa kau benar-benar sudah melupakanku, Xiannie?” tanya Luhan.

DEG!

Seohyun terdiam. Jika boleh jujur, ia sama sekali tidak pernah melupakan namja itu. Tidak sekali pun. Meski mereka sudah tidak pernah bertemu bertahun-tahun. Seohyun bahkan sesekali memimpikan namja itu.

“Lu-Ge …,” kata Seohyun terbata. Selalu saja sulit merangkai kata untuk berbicara dengan orang ini.

“Sudah lama sekali aku tidak mendengar panggilan itu darimu,” kata Luhan tersenyum. Seperti ada rasa lega di hatinya meski hanya mendengar kata itu. Dia pikir dia tak akan pernah mendengarnya lagi dari bibir mungil yeoja itu.

Ya, Tuhan! Senyum itu lagi. Senyum yang selalu bisa membuat hatinya tak menentu sejak dulu bahkan sampai saat ini. Seohyun berdeham mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menatap namja yang ada di depannya itu.

“Bisa aku minta tolong padamu?” kata Seohyun. Membuat namja di depannya menaikkan satu alisnya.

“Katakan saja,” kata Luhan.

“Tolong jangan ceritakan tentang kita pada Chorong. Mungkin dia akan terluka,” kata Seohyun.

“Memangnya apa yang terjadi di antara kita?” tanya namja itu tersenyum sinis.

DEG!

Lagi-lagi Seohyun terdiam, tak tahu harus berkata apa. Namja itu masih namja yang sama dengan seseorang yang dulu dikenalnya. Hanya saja mereka terlihat seperti orang yang berbeda. Namja ini terlihat dingin. Sementara namja yang dulu dikenalnya itu sehangat sinar mentari pagi.

Mungkin Seohyun terlalu banyak berpikir, tentu saja orang bisa berubah. Apa yang dia harapkan dari namja yang hanya dikenalnya beberapa tahun yang lalu. Mungkin Luhan bahkan sudah tidak mengingat apa yang terjadi di antara mereka dulu.

Ani, maksudku eh … Ehm … Eh ….”

Bodoh! Seohyun merutuki dirinya. Apa-apaan kalimat tidak jelas yang baru diucapkannya. Otaknya sibuk merangkai kata, lagi. Berharap apapun yang keluar dari mulutnya kali ini tidak terdengar bodoh sama sekali.

“Kau adalah cinta pertamaku, yang dulu terus menerus kukejar-kejar seperti orang bodoh, hingga aku menolak semua yeoja-yeoja cantik yang berusaha menggodaku, dan selama ini aku masih menyukaimu, mencari-cari kabarmu yang seperti ditelan bumi, berusaha mengalihkan pikiranku dengan mengencani wanita mana pun agar bisa melupakanmu, dan asal kau tahu satu-satunya alasan kenapa aku mau bertemu dan mengenal yeoja bernama Chorong adalah karena sejak pertama kali melihatnya, dia mengingatkanku padamu. Kalau semua hal itu yang kau maksud agar tidak diketahui Chorong, maka aku akan diam. Apa kau puas?”

Seohyun yakin mulutnya sudah menganga selebar-lebarnya. Bahkan mungkin tinjunya muat dimasukkan ke mulutnya sendiri. Jangan lupakan wajahnya yang sudah memerah seperti albino yang tersengat matahari. Tidak, bukan hanya wajahnya. Tapi seluruh tubuhnya. Seohyun berharap ini hanya mimpi. Atau setidaknya, ia salah dengar. Tapi gagal, suara Luhan yang tertawa terbahak-bahak kembali menyadarkannya ke realita. Bahwa ini semua benar adanya. Bukan mimpi sama sekali.

Ya! Berhenti menganga. Atau haruskah kusumpal mulutmu dengan mulutku?” Luhan berusaha meredakan tawanya. Namun melihat Seohyun yang seketika membekap mulutnya dengan kedua tangannya, semakin membuat tawa namja itu lepas.

Aah … hanya Seohyun yang dapat membuatnya seperti ini. Sudah lama sejak ia dapat tertawa selepas sekarang. Seketika muncul ide cemerlang yang terlintas di pikirannya.

“Habiskan makananmu, kita harus bergegas,” katanya membuat Seohyun melotot. Dia tahu, dibalik tangan yang membekap mulutnya Seohyun pasti kembali menganga. “Menurut saja, atau aku akan menculikmu,” lanjutnya lagi yang sontak membuat Seohyun melanjutkan makannya seperti anak yang penurut. Yeoja ini memang sangat lucu, batinnya.

Dan disinilah mereka berada. Membaur bersama orang-orang yang sedang mengantre untuk menaiki wahana roller coaster itu. Semenjak tadi Seohyun hanya menurut, membiarkan tangannya terus digenggam oleh Luhan ke mana pun namja itu pergi. Mungkin Seohyun benar-benar takut jika Ia tidak menurut dan membuat Luhan akhirnya menculiknya. Hal itu pasti lebih fatal, mengingat namja yang sekarang bersamanya tidak semanis namja yang dulu dikenalnya.

“Berikan handphone-mu,” perintah Luhan pada Seohyun. Seohyun hanya menurut dan memberikan handphone itu padanya. “Aku sudah memasukkan nomor teleponku, jika aku telepon kau harus mengangkatnya. Karena kalau tidak, aku akan menceritakan semuanya pada yeoja itu. Arasseo?” kata Luhan yang hanya dijawab anggukan oleh Seohyun.

Kenapa jadi seperti ini? batin Seohyun. Untuk yang kedua kalinya namja itu kembali hadir di hidupnya. Membuat perasaan-perasaan aneh yang meledak seperti kembang api. Dan seperti sebelumnya, Seohyun hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan ini.

***

Sudah seminggu berlalu semenjak dirinya kembali bertemu dengan Luhan. Dan selama itu pula seorang Luhan kembali terus mengusik hidupnya. Mulai dengan selalu mengirimkan pesan singkat yang aneh seperti ‘kau harus rajin makan, aku tidak mau pipi tembammu mengecil‘, ‘semalam aku bermimpi, kita punya anak kembar‘, ‘aku sangat pusing, aku rasa memelukmu dapat menyembuhkanku‘. Hingga kelakuan-kelakuan aneh dari namja itu. Seperti ketika jam 10.00 malam dia tiba-tiba menelepon Seohyun memberitahukan bahwa ada yang mencarinya di depan rumah, dan ternyata tidak ada siapa-siapa melainkan sebuah boneka Keroro besar yang diikat dengan pita. Belum lagi selama seminggu berturut-turut ini dia terus mengirimi Seohyun setangkai mawar putih.

Seohyun benar-benar tidak habis pikir dengan namja itu, dalam hati kecilnya ia sangat merasa bersalah pada Chorong, sahabatnya. Seperti ia menghianati sahabatnya itu dengan tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi di sisi lain, Seohyun tahu Chorong akan terluka jika ia mengatakannya.

Yoboseyo, Lu-Ge,” katanya pada saat telepon yang ia hubungi tersambung. Hari ini ia membulatkan tekadnya untuk menelepon Luhan, menyuruhnya untuk menghentikan semua kelakuan anehnya.

Wei, Xiannie. Apa kau merindukanku?” katanya membuat orang yang ada diujung telepon mendesah kasar.

“Lu-Ge, bisa kau berhenti melakukan hal-hal aneh padaku?” kata Seohyun to the point.

“Memangnya apa yang aku lakukan?” kata Luhan pura-pura tidak mengerti.

Jinjja, orang ini. Apa sebenarnya maumu, eoh?” Kesabaran Seohyun mulai habis

“Jangan berpura-pura bodoh, Xiannie. Kautahu aku menginginkanmu sejak dulu,” kata Luhan dengan raut wajah serius. Meskipun Seohyun sudah pasti tak dapat melihatnya

DEG!

Seohyun terdiam. Lalu mendesah panjang.

“Lu-Ge, kautahu Chorong sahabatku. Dan kau juga tahu dia menyukaimu. Aku tidak mau membuatnya bersedih karena ini,” kata Seohyun. Hening. Hingga dia pikir telepon itu sudah terputus.

Wei, wei. Yoboseyo, yoboseyo! Lu-Ge …,”

“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau tidak menyukaiku? Apa kau tidak peduli sedikit pun pada perasaanku? Kau hanya terus mengatakan tentang Chorong, Chorong dan Chorong,” kata Luhan. Suaranya naik beberapa oktaf.

DEG!

Seohyun kembali terdiam. Sebenarnya, dia juga tidak mengerti tentang perasaannya. Jika disuruh jujur, dia sama sekali tidak merasa terganggu akan kehadiran Luhan lagi dalam kehidupannya. Bahkan dia merasa terhibur dengan kelakuan-kelakuan aneh namja itu. Tapi, bagaimanapun ia tidak mau menghianati sahabatnya. Ia tidak ingin Chorong terluka.

“Xiannie, jawab. Jawabanmulah yang akan menentukan perlakuanku selanjutnya,” tanya Luhan menyadarkan Seohyun dari pergelutan yang terjadi di dalam hatinya.

Mian, Lu-Ge. Aku memang senang kita kembali bertemu. Tapi, sepertinya aku tidak menyukaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai sunbae yang aku hormati,” kata Seohyun pada akhirnya. Sakit rasanya mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya. Apa yang terjadi padanya?

Ne, arasseo,” jawab Luhan kemudian memutus sambungan telepon itu.

Seohyun tahu namja itu terluka, tapi apa yang bisa ia lakukan? Seohyun yakin Chorong bisa bahagia dengan Luhan. Ia sudah memutuskan untuk mendukung hubungan sahabat dan sunbae-nya itu. Seohyun menangis, menenggelamkan wajahnya pada bantal tidurnya. Dia terus saja menangis, meski tak tahu apa yang ditangisinya.

***

Annyeong, Hyunnie,” sapa Chorong pagi itu. Tidak dapat menyembunyikan raut bahagia dari wajahnya.

Annyeong, Chorong-ah,” balas Seohyun.

Ia sibuk mencatat tugas-tugas yang diberikan dosen. Meski sebenarnya tugas itu masih dikumpulkan minggu depan. Seohyun memang termasuk mahasiswi yang rajin. Tidak pernah menunda tugas yang ada. Lebih cepat lebih baik. Kalau bisa dikerjakan sekarang, kenapa harus ditunda? Begitulah prinsipnya.

Matanya sibuk mencatat namun sesekali memperhatikan handphone yang tergeletak di sebelah bukunya, menanti pesan singkat dari seseorang. Ah, bodohnya! Siapa yang ia harapkan? Sudah seminggu sejak Ia menelepon Luhan saat itu, dan sejak itu Luhan sama sekali tidak pernah menghubunginya. Bahkan sekadar mengirim pesan. Seperti yang Seohyun harapkan, semua kelakuan aneh Luhan pun sudah tidak pernah dilihatnya. Memang begitu seharusnya kan? Bukannya ia yang meminta Luhan seperti itu?

***

“Hyunnie, aku harus ke perpustakaan nanti. Jadi aku tidak bisa pulang bersamamu,” kata Chorong pada Seohyun.

Gwaenchana, aku akan menunggumu di kantin,” jawab Seohyun lagi.

“Hmm … sebenarnya Luhan Oppa akan menjemputku siang ini. Mian,” kata Chorong lagi, sedikit menyesal.

Arasseo, aku lupa kau sudah punya namjachingu,” kata Seohyun tersenyum kecut.

Anieyo, kami tidak berkencan. Setidaknya belum,” kata Chorong malu-malu. “Bodohnya diriku yang terlalu mengkhawatirkan yang tidak-tidak. Kupikir Luhan oppa menyukaimu, karena semenjak kita bertemu di taman bermain itu dia seperti menghindariku. Tapi, kurasa aku hanya terlalu banyak berpikir, seminggu belakangan ini dia terus menghubungiku dan sesekali mengajakku ke tempat yang romantis. Aku tidak sabar menjadi yeojachingu-nya,” lanjut Chorong menjelaskan panjang lebar. Mengabaikan dosen yang terus menerangkan di depan.

“Jangan mengajakku berbicara. Aku takut dosen akan mengeluarkan kita dari kelas,” jawab Seohyun. Sebenarnya bukan itu alasan yang sesungguhnya. Dia hanya tidak suka mendengar cerita Chorong yang terus membahas perkembangan hubungannya dengan Luhan. Meski ia pun sebenarnya penasaran. Tapi lebih baik jika ia tak mengetahuinya.

Ne, arasseoyo agasshi,” bisik Chorong.

***

Siang itu Seohyun memutuskan untuk makan siang di kantin. Ia tidak bisa pulang dengan Chorong dan makan siang bersama sahabatnya. Jangan tanyakan sahabatnya yang lain, tentu saja mereka pulang dengan namjachingu masing-masing.

Dan ia sedang malas makan di rumahnya. Seohyun beranjak menuju meja kantin kesukaannya. Di sudut tepat di sebelah taman. Mengambil posisi yang nyaman, memutar playlist sambil membaca buku. Satu per satu lagu terputar, hingga akhirnya suara itu lagi. Britney Spears dengan lagu ‘sometimes‘. Lagu yang selalu berhasil membawanya kembali ke masa lalu.

.
.
.
.
.

Flashback On

“Xiannie, awas bola!”

Terlambat. Seohyun tidak sempat menghindari bola yang berhasil meluncur bebas hingga mengenai kepalanya. Gelap. Hanya itu yang Seohyun ingat sebelum kesadarannya benar-benar lenyap.

“Kau sudah sadar?” Senyum sehangat mentari pagi itu menyambutnya dengan bahagia.

“Apa yang terjadi padaku?” tanyanya dengan menggunakan bahasa mandarin yang terbata-bata.

“Kau terkena bola tadi, kauingat?” kata namja itu.

Ah, ya benar. Dia tadi terlalu serius membaca buku hingga tidak melihat bola yang mendarat sempurna tepat di kepalanya. Pasti dia pingsan setelah kejadian itu, menyadari saat ini ia sedang berada di UKS sekolah.

“Kau membuatku takut, aku pikir kau mati. Kau pingsan selama dua jam. Kautahu?” kata namja itu.

Namja itu bodoh atau apa? Mana mungkin ia mati hanya karena terkena bola. Bagaimanapun sepertinya namja inilah yang membawanya ke UKS. Dia harus berterima kasih.

Tunggu sebentar, namja ini? Ah, ya. Namja ini yang saat itu menyatakan perasaannya. Yang memberinya sebuah nomor telepon. Meski Seohyun sama sekali tidak pernah menghubungi namja itu. Wajahnya seketika memerah, entah karena apa. Mungkin karena malu, tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap namja yang baru saja ditolaknya.

Xie xie, Gege. Terima kasih karena sudah menolongku.” Meski malu, tetapi ia harus berterimakasih bukan?

Bu xie. Aku senang menggendongmu. Dan maaf, tadi aku mencium bibirmu saat kau masih pingsan. Hehe,” katanya tanpa rasa bersalah.

Apa dia bilang? Gendong? Cium? Seketika Seohyun memeriksa seluruh badannya. Kalau-kalau saja namja ini melakukan hal lainnya. Dasar orang aneh! Berani-beraninya dia mengambil first kiss-ku.

“Mengapa kau melakukannya?” tanya Seohyun kesal. Sungguh dia tidak habis pikir dengan seniornya itu, bagaimana bisa dia mengambil kesempatan dalam kesempitan.

“Jangan salah paham, aku takut kau mati. Jadi aku memberimu napas buatan,” jawabnya lagi masih dengan wajah innocent itu.

Ingin sekali Seohyun menonjok wajah yang seperti maneqin itu. Apa tadi katanya? Napas buatan? Heol. Dasar namja tampan bodoh dan yadong. Ah, tidak seharusnya Seohyun menganggap namja itu tampan. Meski itulah kenyataannya.

“Lupakan saja, aku tidak ingin mengingatnya,” kata Seohyun lagi.

“Hei, kau sangat tidak sopan. Kau tahu aku setahun di atasmu, aku senior. Jadi kau harus sopan padaku,” kata namja itu pura-pura cemberut. Imut sekali. Ah, tidak. Apa yang Seohyun pikirkan. “Dan namaku Luhan. Kau harus mengingat namaku,” lanjut namja itu sambil terus tersenyum. Luhan.

Tentu saja ia tahu orang itu meski ia tak memperkenalkan diri. Kapten sepak bola yang sangat berbakat. Bukan hanya itu, wajahnya sungguh tampan dan imut pada saat yang bersamaan. Membuat ia sangat terkenal di kalangan anak perempuan. Bahkan ia punya fanclub di sekolah ini. Dan jangan lupakan kelakuan anak-anak perempuan yang ganjen selalu menyorakinya jika ia sedang bermain bola di lapangan. Tidak terkecuali teman-teman kelas Seohyun.

Siapa yang tidak mengenal idola yang dijuluki flower boy itu? Bahkan Seohyun yang baru saja resmi sebagai murid pindahan di sekolah ini langsung mengenalinya. Seohyun memang baru pindah ke Cina karena ayahnya harus mengurus perusahaan mereka yang sedang berkembang di negara ini. Ibunya? Yah, meski tak mau mengingat kejadian itu. Ia harus menerima kenyataan bahwa ayah dan ibunya sudah bercerai satu tahun yang lalu. Seohyun ikut ayahnya, sementara ibunya bersama adiknya di London. Ibunya memang seorang designer ternama yang lebih sibuk bekerja di London dan sekitarnya.

Arasseoyo,” kata Seohyun spontan menggunakan bahasa negaranya, Korea.

“Kau orang Korea, ya?” tanya Luhan. Seohyun menganggukkan kepala.

“Bagaimana kautahu?” tanya Seohyun.

“Aku sering mendengar kata itu di drama Korea yang kutonton,” jawabnya lagi membuat Seohyun menganga. Apa? Drama Korea? Namja macam apa yang suka dengan drama Korea yang penuh dengan romansa cinta? Seohyun saja lebih memilih menonton berita. “Kurasa aku akan lebih sering menonton drama itu agar aku bisa mengerti bahasamu. Hehe,” katanya lagi. Jjinjja daebak, batin Seohyun. Namja ini benar-benar namja teraneh yang pernah dia temui.

Flashback Off
.
.

.
.
.

“Xiannie, Xiannie, hei, Xiannieeeee.” Namja itu mengguncang-guncang tubuh yeoja di depannya. Ia sudah memanggil namanya sejak tadi, tapi yeoja itu tak bergeming sama sekali.

Omo! Apa yang kau lakukan padaku Lu-Ge?” kata Seohyun nyaris berteriak.

“Seharusnya aku yang bertanya ada apa. Kau seperti kesetanan,” kata Luhan.

Seohyun hanya mendesah. Ya, benar. Ia baru saja terhanyut dalam lamunannya. Dan betapa terkejutnya ia setelah menyadari orang yang dipikirkannya berada di depannya. Ada apa dengannya? Lagi-lagi dia mengingat masa lalu. Seohyun memerhatikan sepiring deokbukki dan segelas mojito lemon yang ada di depannya. Dia bahkan tak sadar saat pesanannya diantarkan. Bodoh sekali!

“Jadi, kenapa kau ada disini? Aku sudah bilang untuk tak melakukan hal aneh lagi,” kata Seohyun. Namja di depannya tersenyum sinis.

“Tampaknya kau terlalu percaya diri, Agasshi. Aku tidak punya kepentingan denganmu. Satu-satunya alasan aku di depanmu saat ini adalah karena aku menunggu Chorong. Dan bisa kau lihat di sekelilingmu, tak ada bangku kosong. Jadi, aku duduk disini. Apa aku harus pergi agar kau tidak terganggu?” kata Luhan sinis.

Namja itu kini bersikap dingin padanya. Ya, memang sebaiknya begitu kan? Seohyun merutuki kebodohannya yang berbicara tanpa berpikir dulu. Tentu saja Luhan kesini untuk Chorong. Dia bahkan sudah tahu itu. Babo Seohyun!

Mian, arasseoyo. Tidak perlu ke mana-mana, sebentar lagi aku akan pulang,” jawab Seohyun sekenanya.

“Kau bahkan belum menyentuh makananmu. Dan lihat, sekarang sedang hujan. Bagaimana caramu pulang, apa kaubawa kendaraan?” kata Luhan lagi.

Seohyun sontak menoleh ke sekeliling. Hujan? Sejak kapan mulai hujan? Ia bahkan tak menyadarinya. Pantas saja kantin begitu ramai, mungkin orang-orang tak pulang karena hujan yang sangat deras.

“Jangan pikirkan aku, aku bisa meminta seseorang menjemputku,” jawab Seohyun lagi kemudian melahap makanan yang ada di depannya.

Oppa, annyeong! Maaf aku membuatmu menunggu. Tadi penjaga perpustakaan sedang istirahat, jadi aku menunggunya kembali.” Suara Chorong memecah keheningan di antara mereka berdua. “Ah, Hyunnie aku pikir kau sudah pulang. Aaah … pasti karena hujan,” lanjut Chorong lagi kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Luhan.

“Kau tampak lelah, apa kau baik-baik saja?” kata Luhan mesra sambil menyampirkan rambut yang sedikit menutupi wajah Chorong ke belakang telinganya. Chorong memerah mendapat perlakuan manis yang tiba-tiba itu. Sedangkan Seohyun nyaris menganga melihat pemandangan di depannya. Hatinya terbakar, matanya panas seolah air yang ada di dalamnya berontak untuk segera terjun bebas membasahi pipi tembamnya. Tanpa sadar Seohyun menusukkan garpu terlalu keras hingga suara nyaring pertemuan garpu dan piring terdengar bahkan di antara derasnya hujan.

Waeyo Hyunnie? Apa yang kaulakukan pada piringmu? Neon gwaenchana?” kata Chorong mengembalikan kewarasan Seohyun sepenuhnya.

Diperhatikannya piring yang kini sudah kosong. Kapan deokbukki-nya habis? Ia bahkan tak ingat. Seohyun menoleh ke sekeliling mendapati pandangan aneh orang-orang terhadapnya. Apakah sebegitu kerasnya suara garpu dan piring yang diciptakan Seohyun hingga orang-orang itu seperti melayangkan tatapan ‘ada apa denganmu? Dasar yeoja aneh‘. Malu dan kesal kini membaur menjadi satu. Babo! Babo! Babo! Apa yang dilakukannnya sekarang? Membuat dirinya tampak seperti orang bodoh. Ya, Tuhan. Kumohon bunuh aku sekarang, batinnya.

Anieyo, sebaiknya aku pulang. Aku merasa tidak enak badan,” kata Seohyun kemudian beranjak meninggalkan Chorong dan Luhan.

Luhan menatap punggung Seohyun hingga menghilang dari pandangannya. Dia tahu, Seohyun pasti kesal padanya. Dan jika dia tidak salah mengartikan, dia melihat kilatan cemburu di mata yeoja itu. Bahkan matanya berkaca-kaca. Luhan tersenyum kecil, berharap ia tidak salah paham. Rencananya sukses membuat yeoja itu cemburu.

***

Seohyun tidak peduli hujan terus membasahinya. Bahkan ia tak peduli tatapan aneh orang yang melihatnya. Ia menangis sejadi-jadinya membayangkan Chorong dan Luhan yang bermesraan. Hatinya begitu sakit mengingat kejadian itu. Sepertinya Luhan sudah betul-betul melupakannya. Dan ia yakin namja itu sudah jatuh cinta pada sahabatnya. Mengingat perlakuan Luhan yang dingin padanya.

Oppa, sini masuk ke payungku. Aku tidak ingin kau sakit,” kata anak SMA yang berjalan di depan Seohyun.

Seohyun baru sadar ternyata tidak hanya dirinya yang nekat berjalan menerobos di antara derasnya hujan. Yang membedakan hanya orang di depannya itu tidak berjalan sendiri, tidak semenyedihkan dirinya.

“Payungmu kecil, jika aku ikut pasti kau kebasahan. Aku tidak ingin yeojachingu-ku sakit,” kata anak laki-laki itu. Ah jadi mereka itu sepasang kekasih, pikir Seohyun.

.
.
.
.
.

Flashback On

“Xiannie, kau tidak dijemput hari ini?” kata namja itu pada yeoja di sebelahnya.

“Ayahku sibuk,” jawab Seohyun sekenanya.

Lagi-lagi namja ini. Seohyun sudah berulang kali menghindarinya, bahkan setiap ia berada dengan namja itu dalam jarak yang dekat, Seohyun berlari atau bersembunyi. Apa pun caranya agar namja ini tidak mengganggunya. Namja ini terlalu aneh. Ia takut tertular keanehannya. Tapi, seperti tak tahu diri atau mungkin tak tahu malu, namja ini pantang menyerah mendekatinya. Benar-benar namja babo!

“Hujannya tidak begitu deras, apa kau tidak bawa payung?” tanya namja itu lagi.

Seohyun hanya meliriknya dengan tatapan aneh. “Kalau aku bawa payung, aku tidak akan berdiri di sini. Aku pasti sudah pulang sejak tadi,” kata Seohyun lagi.

Sebenarnya ia malas meladeni orang aneh ini. Tapi, semakin didiami kelakuannya pasti lebih aneh lagi. Seperti pada saat Seohyun terus mengabaikan panggilannya. Namja ini terus mengiriminya surat dengan kalimat-kalimat aneh, seperti:

Halo malaikatku, Xiannie …

Kenapa kau terus mengabaikanku?

Apa aku tidak terlihat tampan di matamu?

Atau, haruskah aku datang ke rumahmu dan melamarmu di depan ayahmu agar kau menerima hatiku?

Atau, haruskah aku jadi boyband agar kau tertarik padaku?

Jangan mengabaikanku, Saranghae 💙

Seohyun bergidik ngeri mengingatnya. Bagaimana mungkin ada anak SMP yang memikirkan kata-kata seperti itu. Melamar? Pasti hanya namja ini namja yang paling aneh di dunia. Belum lagi kelakuannya yang mempermalukan Seohyun di depan murid sekolah mereka dengan menuliskan tulisan ‘wo ai ni, Xiannie‘ di tengah lapangan basket sekolah mereka dengan pilox. Tidak peduli hukuman dari para guru padanya.

Belum lagi ketika ia menuliskan ‘Xiannie, menikahlah denganku‘ di papan tulis kelas Seohyun. Abnormal! Namja itu harusnya masuk rumah sakit jiwa.

“Ah, kau benar juga,” kata namja aneh itu masih dengan senyumnya yang menawan. Ah tidak, lupakan kata menawan itu! “Bisa kau pegang bolaku sebentar?” tanyanya pada Seohyun. Seohyun hanya menerima bola yang diberikan padanya. Kelakuan aneh macam apa lagi sekarang? Namja itu membuka baju sekolahnya. Menampakkan badan kurus tanpa atasan sehelai benang pun. “Kajja, aku akan melindungimu.” Namja itu memosisikan tangannya yang sudah memegang baju sekolah di atas kepala Seohyun. Dan mendorong badan Seohyun dengan badannya. Seohyun hanya menurut dan berlari kecil di antara hujan yang menari-nari.

Orang-orang yang melihat mereka hanya tertawa. ‘Kelakuan anak SMP yang aneh, berniat melindungi kekasihnya agar tak basah meski dirinya sendiri kehujanan tanpa menggunakan baju dalam sekali pun‘, mungkin begitulah pikir orang-orang yang melihat mereka.

Flashback Off
.
.
.
.
.

Seohyun terkejut merasakan badannya yang tiba-tiba dibalik menghadap namja itu. Belum cukup ia tersadar melihat namja yang baru saja dipikirkannya, ia dikagetkan dengan bibir namja itu yang sudah menempel dengan bibirnya. Bibir namja itu melumat bibirnya dengan lembut. Seohyun masih terdiam, belum sadar sepenuhnya. Namja itu perlahan melepas ciumannya. Kemudian memeluk Seohyun seerat mungkin. Hujan masih lebat, dingin yang menusuk badan Seohyun tanpa ampun. Tapi anehnya, hatinya begitu hangat dalam pelukan namja itu.

“Apa kau bodoh? Apa yang kaulakukan di tengah hujan lebat seperti ini?” kata namja itu setelah melepas pelukannya. Ah, ya … Seohyun memang bodoh. Bagaimana mungkin ia melamun di tengah derasnya hujan. Melamunkan bagian dari masa lalunya bersama namja yang ada dihadapannya. Lagi dan lagi. Satu hal yang Seohyun sadari, ia sudah jatuh cinta pada namja yang ada di depannya itu.

***

“Apa kau sudah merasa baikan?” kata namja itu pada yeoja di depannya yang tidak lain adalah Seohyun. Yeoja itu kini tengah membungkus diri dengan selimut yang tebal, kedua tangannya memegang secangkir cappucinno. Ia mengesapnya perlahan, menghangatkan tubuhnya yang tadi sempat nyaris beku di tengah derasnya hujan.

Ne, gomawo,” kata Seohyun pelan.

Ia yakin wajahnya memerah sekarang, sejak tadi ia terus mengingat kejadian di tengah hujan itu. Ciuman dan pelukan yang membuatnya hangat. Dan hatinya sudah mengakui bahwa ia sudah benar-benar jatuh cinta pada namja aneh ini. Dan lihat sekarang? Ia bahkan berada di apartemen namja itu, menggunakan kemeja dan celana pendek namja itu. Jantungnya memompa dua kali lipat lebih cepat. Tidak bisa dipungkirinya, kini ia gugup berada di dekat namja tersebut

“Tidurlah jika kau lelah, aku akan mengantarmu pulang malam nanti,” kata Luhan lembut sambil mengusap rambut Seohyun.

“Aku tidak ingin tidur,” kata Seohyun nyaris berbisik. Sepertinya suaranya serak karena kehujanan tadi.

Waeyo? Apa kau ingin kutemani? Mungkin aku harus memelukmu agar kau lebih hangat,” kata Luhan yang membuat mata Seohyun membulat seketika. “Hahahahhaha. Kau ini mudah sekali ditipu. Tenang saja, aku tidak akan melakukannya. Kecuali jika kau memang menginginkannya,” kata Luhan menggoda Seohyun. Seohyun memerah. Kontras dengan bibirnya yang sangat pucat.

“Berhenti menggodaku,” kata Seohyun lagi. “Lu-Ge, aku tidak tahu sejak kapan, tapi kurasa aku jatuh cinta padamu,” kata Seohyun setelah mengumpulkan keberaniannya. Luhan yang mendengarnya sontak tersenyum. Hal ini adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

“Aku tahu,” kata Luhan tersenyum, ia lalu mengambil mug yang dipegang Seohyun kemudian meletakkannya di meja. Ia lalu menarik yeoja itu ke dalam pelukannya. “Wo ai ni, Xiannie. Aku mencintaimu sejak dulu hingga sekarang,” katanya berbisik di telinga Seohyun.

***

Pagi ini Seohyun sudah membulatkan tekadnya. Dia akan jujur sejujur-jujurnya pada Chorong. Dia bersedia menerima segala akibatnya. Dia tak ingin membohongi perasaannya lagi, juga tak ingin membohongi sahabatnya.

“Chorong-ah, bisa kita berbicara sebentar,” katanya ketika melihat Chorong yang berjalan menuju kelas. Nicole, Hara dan Soyu hanya saling tatap-menatap penasaran.

Dan disinilah mereka sekarang. Di kantin.

“Aku ingin mengakui sesuatu, sebenarnya …,” kata Seohyun menggigit bibirnya. Takut membayangkan bagaimana ekspresi Chorong setelah ia menjelaskan semuanya.

“Aku memaafkanmu,” kata Chorong memotong ucapan Seohyun yang belum selesai. “Aku tahu apa yang ingin kaukatakan. Aku sudah mendengar semuanya dari Luhan Oppa kemarin. Tentang kau yang ternyata adalah cinta pertamanya, dan bagaimana dia mengejar-ngejarmu sejak dulu. Dan dia mengatakan bahwa kaulah yang menyuruhnya untuk lebih memilihku karena takut aku terluka. Dia berkata sampai sekarang dia selalu mencintaimu. Dan aku juga sudah mendengar cerita tentang Luhan dari Minseok sepupuku, bagaimana Luhan memilih ke Korea untuk mencarimu. Dan Luhan yang ingin mengenalku karena kita terlihat mirip. Aku juga melihat adegan kemarin saat kalian berciuman dan berpelukan di tengah hujan …”

 

“… Jujur aku sakit hati, aku sedih. Oleh karena itu aku mengikuti mobilnya kemarin. Dan aku sadar, aku sama sekali tidak mempunyai kesempatan mendapatkan hatinya. Dia hanya mencintaimu. Satu hal yang paling membuatku kecewa adalah kenyataan bahwa kau tidak jujur padaku sejak awal. Apa kau tidak memercayaiku? Aku memang menyukainya, tapi aku lebih menyayangimu. Mana mungkin aku mau berbahagia di atas penderitaan sahabatku,” kata Chorong panjang lebar seperti kereta yang tak henti-hentinya berjalan. Ia mendesah. Matanya berkaca-kaca.

Seohyun tahu saat ini Chorong sangat terluka. Seohyun memeluk sahabatnya itu. Tangisnya pecah, menyadari betapa beruntungnya mempunyai sahabat yang ada di depannya ini. Mereka berpelukan dalam tangis. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Jinjja mianhae, Chorong-ah. Jinjja jinjja mianhaeyo,” kata Seohyun di sela tangisnya. Chorong hanya membalasnya dengan anggukan.

Woah, daebak! Apa kalian sedang bermain drama? Apa-apaan adegan sedih ini?” kata Nicole yang tiba-tiba muncul. Sontak Seohyun dan Chorong melepas pelukannya.

“Apa yang kalian sembunyikan dari kami?” lanjut Soyu.

“Kalian tidak sedang berkencan kan?” kata Hara yang langsung dibalas dengan tatapan membunuh keempat temannya. “Aku hanya takut mereka depresi karena tidak mempunyai namjachingu. Hingga menjadi seperti itu,” lanjutnya beralasan.

“Sebaiknya kita ke kelas sekarang, dosennya sudah masuk sejak tadi. Tapi, kalian berdua harus berjanji untuk menjelaskan semuanya nanti. Arasseoyo?” kata Soyu lagi. Seohyun dan Chorong hanya mengangguk setuju, tidak ada gunanya menyembunyikan hal itu lagi.

***

Kelas baru saja usai, dosen baru saja keluar. Tapi sesisi kelas itu hanya terdiam melongo melihat seorang namja tampan memasuki ruangan dan berdiri di depan. Semua mata tertuju padanya, terutama mata para yeoja-yeoja itu yang tidak menyembunyikan ketertarikannya pada namja tersebut. Seohyun masih fokus pada catatan yang dilengkapinya sampai suara itu mengagetkannya.

“Apa yeojachingu-ku di sini? Seo Joo Hyun, di mana kau? Aku merindukanmu.” Seohyun sontak melihat ke depan. Mulutnya menganga sempurna melihat kelakuan namja aneh itu. Jangan bilang dia mencariku ke setiap kelas? “Ah, itu dia,” katanya ketika melihat wajah Seohyun di antara kerumunan orang. Bisik-bisik membuat kelas itu ramai. Yang pasti mereka sedang membicarakan keanehan namja yang kini tengah menghampiri Seohyun dengan membawa sebuket mawar putih.

“Apa yang kaulakukan di kelasku, babo!” Seohyun mencubit namja itu sambil menatap matanya dengan tatapan membunuh. Keempat sahabatnya masih mematung. Melihat adegan live di depannya antara percaya dan tidak. Chorong menepuk kepalanya takjub dengan keanehan namja itu, ya namja yang sempat disukainya. Minseok memang sudah bercerita tentang keanehan yang dilakukan Luhan saat mengejar Seohyun, tapi melihatnya secara live itu jauh luar biasa rasanya. Dia tidak menyangka seorang Luhan yang terlihat dingin, dapat berubah menjadi namja super aneh bila dihadapkan dengan sahabatnya, Seohyun. Dia saja malu setengah mati sebagai sahabat Seohyun, apalagi sahabatnya yang jelas-jelas pemeran utama dalam adegan itu. Sementara Soyu hanya bergumam sendiri tampan sekali namjachingu-nya, sayang dia sangat aneh, Nicole dan Hara tidak sanggup berkata-kata lagi, mereka meninggalkan kelas seolah tidak mengenal Seohyun.

Waeyo Xiannie? Kaubilang kau mencintaiku, kenapa kau mengataiku babo?” kata Luhan membuat Seohyun kembali menganga. Luhan hanya tersenyum dengan wajah innocent-nya kemudian mendekati Seohyun dan menciumnya tepat di dahi. Belum sadar Seohyun dari keterkejutannya, namja itu kembali berteriak, “Hei, kalian semua yang ada disini, jangan berani mengganggunya. Dia adalah yeojachingu-ku,” kata Luhan masih dengan senyumnya yang lebar, sangat lebar hingga orang-orang yang melihatnya takut bibir namja itu sobek.

Ya, Tuhan. Bunuh aku sekarang, batin Seohyun.

***

Seohyun harus mengucapkan selamat tinggal pada hari-hari damainya. Mempunyai namjachingu seperti Luhan adalah sesuatu yang sangat langka. Mungkin Seohyun harus bersyukur, setidaknya namjachingu-nya bukanlah orang yang membosankan. Satu hal yang dapat dia simpulkan dari semua hal yang dialaminya dengan Luhan.

Luhan, namja aneh itu adalah cinta pertama Seohyun. Hanya namja itu yang memberinya perasaan aneh sejak dulu, sejak ia belum mengerti arti cinta hingga mengakui keberadaan cinta itu sendiri di dalam hatinya. Hanya namja itu yang membuatnya memahami arti pertemuan yang tidak bisa kau hindari. Benar kata Chorong, sahabatnya. Perasaan seperti ini bukan hal yang bisa kita tentukan kapan dan bagaimana datangnya. Hal itu terbukti padanya. Siapa sangka Seohyun bertemu lagi dengan Luhan melalui Chorong. Dan siapa sangka Seohyun menyadari perasaan cintanya ketika melihat Chorong dan Luhan bermesraan. Tuhan menuliskan takdirnya seperti ini. Takdir dengan namjachingu yang merupakan cinta pertamanya.

Namja aneh yang selalu ia hindari dulu, pada akhirnya adalah orang yang paling ia harapkan untuk berada disisinya.
 

 
FIN

Note:
Thankyou for reading this amateur fanfiction. Fyi, this story is already been published in wattpad named “AiV____”

Iklan

One thought on “My First Love Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s