Did You See? ( Chapter 5 )

DYS POSTER

DID YOU SEE?

Author : Bitebyeol – Main Cast : Park Chanyeol & Ahn Alessa – Other cast will find by yourself – Genre : Romance, Family – Length :  Chaptered – Rating : PG

I own the plot

Sorry for Typos!

.

PROLOGPART 1 PART 2PART 3

Untuk PART 4, silahkan baca di SINI

Hujan masih setia melingkupi kota Seoul. Langit masih terlampau pagi dan matahari enggan menampakkan sinarnya akibat mendung beriring rintik air. Tampaknya aktivitas pagi ini akan diawali dengan menghirup udara sejuk nan lembab. Namun, diluar sana geliat kesibukan warga Seoul mulai berjalan seperti biasa meskipun cuaca sangat mendukung untuk bermalas-malasan dalam gelungan selimut hangat. Tak terkecuali bagi pria bermarga Park yang masih berbaring di ranjang apartemennya. Ia mulai membuka mata dengan kepala yang terasa berat.

Chanyeol mengerjap pelan hingga matanya terbuka sempurna. Tidur normalnya hanya sekitar 45 menit karena ia lebih banyak menghabiskannya untuk berendam pada bathup berisi air hangat. Chanyeol menyingkirkan selimutnya, kedua kaki jenjangnya menapak pada lantai dan mulai melangkah menuju kamar mandi. Seperti kebiasaan Chanyeol setiap harinya, setelah terbangun dari tidur ia menyempatkan waktu untuk mencuci wajahnya pada air keran wastafel., Chanyeol menghela nafas, masih berdiri dengan memandang cermin di hadapannya. Ia memperhatikan penampilannya sendiri melalui pantulan kaca cermin, mengelus sebelah pipinya. Bagaimana Alessa menampar pipi Chanyeol hingga meninggalkan sedikit rasa nyeri menjalar disana.

Dini hari tadi, gurat kekesalan Alessa tampak teramat jelas .Meski melihat Chanyeol memohon maaf di balik pintu gerbang mewahnya, Alessa tak peduli. Sekalipun mata kepalanya melihat Chanyeol menggigil melawan hawa dingin di bawah guyuran hujan. Alessa membiarkan Chanyeol bertekuk lutut di sana, tak memperbolehkan kaki Chanyeol bergerak barang seinchi pun ke pelataran rumahnya. Hingga para penjaga merasa lelah menasehati Chanyeol untuk segera pergi.

Dua jam Chanyeol bertahan dengan sia-sia. Akhirnya ia menyerah dan mengangkat kaki dari kediaman Alessa. Perasaan bersalah meliputi hati kecil Park Chanyeol akibat tindakannya kepada Alessa yang memasuki kamar hotel bak aparat menggrebek pasangan mesum. Mengetahui Luhan yang telah bertunangan, membuat otak Park Chanyeol berasumsi suatu hal. Entahlah, ada perasaan bahwa Chanyeol tak ingin Alessa terluka dan kecewa. Terlebih lagi Alessa memilih jalan dengan cara seperti itu. Chanyeol tak bisa tinggal diam. Tetapi, jelas tindakannya salah. Sekalipun Alessa melakukan hal serendah itu, Chanyeol tak seharusnya melangkah pada hal privatnya secara mendalam. Benar apa yang telah dikatakan oleh Alessa bahwa Chanyeol hanyalah seorang privat bodyguard untuk gadis itu, tidak lebih. Chanyeol hanya bertugas untuk menjaga hal-hal yang mengancam keselamatan Alessa, bukannya mencegah hal seperti tadi malam. Chanyeol tidak memiliki hak samasekali untuk itu.

“Apa kau menyesal Park Chanyeol?”

Chanyeol bergumam pada diri sendiri, lalu kembali mendesah merutuki perbuatannya yang kini dirasanya sangatlah tidak tepat. Chanyeol meraup wajahnya dengan kasar. Kemudian sesaat setelah lengan sebelahnya turun, ia beralih meraba pelipisnya secara perlahan. Tadi malam, perban kapas yang menutupi jahitan lukanya telah basah sempurna oleh air hujan. Chanyeol sudah membuangnya ke tempat sampah dan kini memperlihatkan jahitan yang telah tertutup menyatu dengan daging dan hanya meninggalkan bekas memanjang.Tidak terlalu kentara, namun Dokter Kang telah memberikan obat salep demi mempercepat penyembuhan luka itu. Obat salep tersebut ada di salah satu rak di samping wastafel. Chanyeol lebih suka menaruh obat-obatan untuk luka luarnya disana. Chanyeol mengambilnya dan menekan tube obat tersebut hingga krimnya sedikit mencuat keluar. Jemari telunjuknya mengoleskan diatas pelipis. Kegiatan sederhana itu sedikit mempengaruhi suasana hati Chanyeol. Setidaknya bibirnya terangkat, meskipun samar dan tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah senyuman.

_

_

_

“Apakah dia masih berdiri di sana?”

Suara feminim Alessa memecah keheningan di ruang makan. Ia baru memulai sarapan pagi dengan menu sederhana saja, roti bakar dan segelas susu cokelat hangat. Rambutnya terurai lembut, dan Alessa sengaja memakai sebuah jepit kecil untuk merapikan poninya. Kedua pelayan yang berdiri tak jauh dari Alessa saling melirik satu sama lain. Alessa memperhatikan keduanya atas kediaman mereka tak menjawab pertanyaannya.

“Pria itu, kalian mengerti kan yang kumaksud? Park Chanyeol. Apakah dia masih berdiri atau sudah pergi dari depan gerbang sana?”

Tidak sabaran Alessa menanyakan kembali hal yang sama. Pelayan yang terlihat lebih tua baru saja hendak membuka mulut untuk bersuara jika Jinyeong, seorang driver yang bekerja untuk keluarga Alessa tak lebih dulu menjawab.

“Maaf Nona, Tuan Park Chanyeol sudah pergi dari jam 4 tadi.” Jinyeong entah sejak kapan sudah berada di samping Alessa. Pemuda berusia 35 tahunan itu menundukkan sedikit kepalanya.

“Tuan Park .. dia.. dia terlihat menggigil kedinginan dan saya pikir jika tidak di bujuk untuk pulang, Tuan Park bisa jatuh tak sadarkan diri.”

Apa yang dikatakan Jinyeong adalah kebenaran. Siapapun tidak akan tega melihat Chanyeol yang seluruh tubuhnya basah di terpa hujan deras. Setelah memarkirkan mobil Alessa di pelataran khusus, Jinyeong menaungi tubuh tinggi pria bermarga Park itu dengan sebuah payung lebar. Sekaligus menawarkan untuk mengantar Chanyeol pulang. Meski Chanyeol menolak dengan sangat keras, namun pada akhirnya ia memutuskan meninggalkan kediaman Alessa tanpa ditemani oleh siapapun.

Mendengar apa yang telah di sampaikan oleh Jinyeong, ada sedikit perasaan iba tertoreh dalam hati Alessa. Sedikit menyesal telah berlaku kejam pada Chanyeol. Biar bagaimanapun pria itu hanya melaksanakan tugasnya. Tugas yang malah menghancurkan rencana Alessa.

Tetapi, bagaimana keadaan Luhan sekarang? Apakah Luhan menyadari perbuatan mereka tadi malam?

Alessa menyelesaikan kunyahan roti bakarnya. Ia kemudian meneguk susu cokelatnya sekilas, namun tanpa minat untuk menghabiskan sisanya. Jarum jam bergulir menuju pukul 9 pagi, pikir Alessa masih sempat untuk berjalan-jalan sebentar. Rintik hujan dan embun di dinding kaca mobil mungkin tak seindah butiran salju, tapi mungkin hal itu bisa membuatnya sedikit terhibur nantinya.

“Jinyeong, antarkan aku berjalan-jalan.”

__

__

__

Alessa mengeratkan kedua sisi mantelnya akibat hawa dingin yang merayap seusai hujan. Sinar matahari mulai mengintip di sela-sela awan mendung, pun rintik-rintik kecil masih enggan menyudahi iramanya. Gadis itu sudah berada di dalam mobil. Duduk sambil menatap tetesan air yang menuruni kaca mobil. Jinyeong menyimpan seulas tersenyum kecil melihat nona mudanya. Gadis remaja yang baru menginjak usia 19 tahun itu sesekali menyesap kopi mocca yang tadi sempat dibelinya di salah satu cafe.

Tidak ada yang istimewa dengan pemandangan Seoul hari ini. Pepohonan di pinggir jalan terlihat sama seperti biasa. Diam-diam Alessa menyimpan pemikirannya sendiri di dalam hati. Sesungguhnya ia merindukan musim salju, dimana hamparan putih terlihat bak kapas empuk yang amat menarik di matanya. Musim salju bertahun-tahun yang lalu terasa amat cepat ia lewati. Alessa merindukan saat-saat ketika kedua tangannya menyentuh gumpalan dingin yang memenuhi sepanjang bahu jalanan. Namun,bermain dengan salju es itu akan membuat pipi Alessa memerah menahan dingin, begitu juga dengan hidung dan jangan lupakan kedua belah bibirnya yang memucat . Tetapi semua tetap terasa hangat bagi Alessa, karena setiap kali musim dingin, akan selalu ada Luhan bersamanya.

Dan sekarang setelah Luhan memiliki ikatan dengan Irene, apakah semuanya akan sama? Apakah Alessa masih bisa menikmati salju akhir tahun ini bersama Luhan lagi?

Tanpa sadar kepala Alessa menggeleng pelan. Sangat pelan hingga Jinyeong bahkan tidak mengetahuinya. Gadis itu memalingkan wajahnya menatap lurus ke arah depan. Menyesap kopinya sedikit demi sedikit. Tidak terasa Jinyeong membawanya kemana-mana, hingga sekarang mereka melewati jalan tol yang cukup lebar dengan lalu lalang kendaraan tidak begitu padat.

“Apakah sudah cukup Nona? Haruskah kita menuju ke kampus sekarang?” tanya Jinyeong.

Alessa menjawabnya dengan sebuah anggukan yang ia rasa Jinyeong akan mengerti. Jalanan terlihat lengang di kanan kiri. Jinyeong menginjak pedal gas dengan penuh. Tetapi Alessa kelihatannya menyadari sesuatu. Gadis itu melirik kaca spion dan kemudian memalingkan wajahnya ke belakang. Tak jauh dari mereka, mobil dengan kecepatan nyaris berimbang mengekor di mobil mereka.

“Bukankah itu Chanyeol?” Tanyanya sedikit keras dan kemudian menatap Jinyeong untuk melayangkan pandangan menuntut. Mobil Maserati putih itu… Siapa lagi pemilik mobil yang berani mengikuti Alessa jika bukan Chanyeol?

Jinyeong sedikit gugup, dengan terpatah ia mengangguk. “ Benar Nona, sepertinya pengemudi mobil itu adalah Tuan Park.”

Alessa berdecak menghenyakkan tubuh pada sandaran jok kulit mobilnya. Apanya yang memprihatinkan? Deskripsi yang telah dikatakan Jinyeong mengenai keadaan Chanyeol tadi benar-benar berbeda dari yang Alessa bayangkan. Berlebihan sekali Jinyeong ini. Alessa membatin. Tetapi, terlintas sebuah kelegaan di dalam benak Alessa mengetahui Chanyeol masih menjalani tugasnya sebagai privat bodyguard.

_

_

_

Kau sudah terlambat memasuki kelasmu Nona Ahn.

Kalimat itu adalah kalimat yang sudah di prediksi oleh Alessa begitu ia menginjakkan kakinya menuruni mobil. 10 detik, 15 detik, Alessa menunggu. Namun, tak ada tanda-tanda bahwa pria tinggi itu akan mengucapkan sesuatu. Sebaliknya pria itu – Park Chanyeol tetap bergeming dalam diam dengan sebelah tangan menggenggam payung terbuka untuk melindungi tubuh Alessa dari rintik hujan.

Apa Park Chanyeol menderita bisu secara tiba-tiba? Kenapa dia tidak berkata apa-apa?

Wajah pria jangkung itu tampak memasang ekspresi datar ketika Alessa diam-diam melirik untuk membaca air mukanya. Tiba-tiba Alessa merasa jengkel. Dilihat dari ujung kepala hingga kakinya, Park Chanyeol semakin terlihat seperti bodyguard sesungguhnya saja! Setelan jas hitam lengkap dengan sepasang sepatu mengkilap yang ia kenakan. Sementara Alessa terlindungi dari gerimis, justru rintik air itu jatuh bebas mengenai tubuh Chanyeol.

“Chanyeol-ssi.”

Pemuda yang disebut namanya itu akhirnya menoleh. Bukannya bertanya tetapi malah tetap diam menunggu perkataan Alessa selanjutnya. Gadis itu menjadi sedikit geram.

“Seharusnya kau tahu, rintik hujan seperti ini bukan apa-apa bagiku. Jadi singkirkan payung ini dari atas kepalaku.”

Tanpa bicara apa-apa, Chanyeol mengangguk dan melipat payungnya yang membuat Alessa menjadi semakin tertegun heran. Biasanya Chanyeol akan berlaku kasar, tapi sekarang, tidak?

_

_

_

Suasana berbeda dirasakan oleh keduanya. Semenjak kejadian itu, tembok selayaknya gunung es milik Alessa semakin menjulang dengan angkuh. Sementara Chanyeol, pria bermarga Park tersebut semakin menjaga jarak dan menjadi irit bicara. Berkata seperlunya, hanya kata ‘ya’ atau ‘tidak’ selebihnya ia hanya mengangguk singkat atau menuruti perintah tanpa berkata apapun. Sejak awal pertemuan, sikap Park Chanyeol memanglah dingin dan seringkali berlaku kasar, tetapi sekarang Alessa mengakui pria itu terasa berbeda.

Setelah hari ketiga, Chanyeol masih melakukan pekerjaannya untuk mengawasi kemana pun Alessa pergi, seperti yang telah ia lakukan dua hari yang lalu. Gadis itu belum juga mengizinkan Chanyeol memasuki pelataran rumahnya. Jadilah Chanyeol selalu bersiap siaga di depan pintu gerbang di tengah pagi-pagi buta sebelum Alessa berangkat kuliah. Tentunya mengawasi Alessa dalam jarak tertentu.

Sekarang ini, Alessa mengakui bahwa hubungannya dengan Luhan semakin merenggang. Tak hanya itu, hubungannya dengan Harin dan Kai juga semakin menjauh membuat keduanya berasumsi jika Alessa memang memiliki suatu masalah yang tidak ingin di baginya dengan orang lain. Entah permasalahan dan juga kesalahpahaman apa , yang jelas Harin kini tidak dapat menyentuh sisi kepribadian Alessa yang biasanya cerah.

Alessa memejamkan kedua matanya sejenak. Bayangan tubuh jangkung Park Chanyeol tepat mengekor di belakangnya. Tadi ketika Alessa baru saja menyelesaikan kelas perkuliahan, Luhan berada di lorong yang sama seolah tengah menungguinya sambil bercakap dengan seorang teman. Hal itu membuat Alessa hampir saja berbalik, tak ingin berpapasan dengan Luhan. Tetapi semuanya tidak terjadi akibat sentuhan hangat sebuah tangan besar di tangan Alessa. Kelima jari-jemari Park Chanyeol-lah yang saling menaut pada jemari kiri Alessa. Seolah memberi Alessa kekuatan, Chanyeol menggandeng tangannya berjalan melewati Luhan yang hanya dapat terdiam menyaksikan keduanya.

Mereka berjalan berdampingan. Tautan Chanyeol terasa begitu lembut, kontras dengan pandangan kakunya yang lurus kedepan. Seolah Chanyeol menganggap hal biasa saja. Diam-diam tercipta senyuman kecil di bibir Alessa atas tindakan Chanyeol. Merasa nyaman dibalik perlindungan yang Chanyeol berikan. Bodyguard itu terus menemani nona-nya seharian. Hingga saat ini mereka dalam langkah perjalanan ke mobil setelah Alessa menyelesaikan perawatan kulit di sebuah rumah spa terbaik di kota Seoul. Perawatan kulit tersebut berlangsung hampir 3 jam lamanya, yang tentunya membuat Park Chanyeol turut menunggu selama apapun waktu yang telah berlangsung. Tetapi pria itu tidak mengeluh dan malah terlihat sangat sabar serta menikmati tugasnya. Akibat pemikiran tersebut, Alessa menghentikan langkahnya tepat di samping pintu mobil. Ia membalikkan tubuh , menatap lekat wajah pria bernama Park Chanyeol itu.

“Chanyeol-ssi?”

Kedua manik mereka saling bertemu satu sama lain, bedanya tatapan mata Alessa terlihat memandang Chanyeol dengan sedikit cemas.

“Ya, Nona. Ada apa?”

Alessa sengaja memperlambat waktu demi menelusuri rahang tirus Chanyeol. Sedikit poni menjuntai menutupi dahi pria itu. Namun, Alessa dapat mengetahui dengan jelas bahwa dibalik pelipis Chanyeol sudah tidak terpasang lagi plester lukanya.

Chanyeol sedikit memiringkan kepalanya, terlalu lama menunggu gadis itu bicara membuat Chanyeol menjadi tidak sabar. Yang ada sekarang malah putri Ahn Jaehyun itu asyik mengamati lekuk wajahnya.

“Ada apa Nona Alessa?” Reflek Chanyeol menekan tubuh Alessa hingga membentur sisi badan mobil. Beruntungnya hal itu dilakukan Chanyeol dengan sepelan mungkin.

Kedua bola mata Alessa melebar terkejut seakan terkesiap dari kegiatan mengamati Chanyeol. Beberapa detik tadi ia seakan tersihir oleh paras rupawan yang dimiliki privat bodyguard-nya. Alessa mengakui, Chanyeol sempurna, tampan dan tubuh jangkungnya merupakan daya tarik tersendiri.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” Alessa menyingkirkan lengan Chanyeol dari tubuhnya. Gerakan yang membuat Chanyeol tersadar dari apa yang telah ia lakukan pada Alessa. Cepat-cepat Chanyeol menundukkan kepala.

“Maaf.” Chanyeol berucap pelan.

_

_

A week later….

Alessa mempercepat langkahnya memasuki ruangan lorong lobi perusahaan milik sang ayah. Kekesalan sudah menggunung di puncak kepalanya. Ia tak habis pikir apakah Chanyeol sudah berniat berhenti sebelum masa perjanjiannya sebagai pengawal pribadi usai ?

Sejak kemarin sore, Alessa benar-benar menjalani aktivitas tanpa pengawalan apapun dan oleh siapapun. Khususnya tanpa pengawalan dari Park Chanyeol. Pria jangkung itu tidak terlihat berjaga sepanjang jarak pandangan mata Alessa. Ini adalah yang pertama kali Alessa terbebas dari pengawasan Chanyeol. Dimana pria itu tidak mengekor di belakang Alessa, tidak berdiri mendampinginya ataupun mengawasi Alessa dari jarak tertentu.

Ini tidak bisa dibiarkan. Alessa juga berprasangka bahwa Chanyeol telah melakukan laporan palsu mengenai keadaannya terhadap Ahn Jaehyun. Sebab, tak pernah sekalipun Ahn Jaehyun menyinggung persoalan Alessa dan Luhan beberapa waktu lalu. Itu pasti di karenakan hanya ada hal-hal baik yang sampai ke telinga sang ayah. Alessa sangat bersyukur mengenai hal itu. Tetapi bukan berarti setelah melakukan kebaikan untuk diri Alessa serta tidak membocorkan perilaku buruknya, lantas Chanyeol dengan seenaknya melarikan diri dari tugasnya sebagai pengawal pribadi.

Alessa bersiap memuntahkan segala amukannya di depan muka Park Chanyeol.Alessa memiliki akses penuh untuk memasuki seluruh ruangan di perusahaan ini. Ia memasuki ruangan Chanyeol dengan segera. Tetapi apa yang dilihat oleh Alessa di ruangan pria itu membuatnya kembali menelan kata-kata. Kursi di balik meja kerja berpelitur hitam itu kosong tanpa diduduki oleh si empunya ruangan. Berkas-berkas juga tertata rapi disisi sebelah meja tanpa terlihat tanda-tanda sudah tersentuh oleh tangan.

Kemana Park Chanyeol?

“Anyeonghaseyo Ahgassi.” Sebuah suara seorang pria mengenterupsi di sebelah Alessa. Pria itu mengenakan setelan jas lengkap, baru saja tiba di ruangan Chanyeol. Alessa pernah melihatnya bercakap dengan Chanyeol saat mengunjungi ruangan ini beberapa waktu lalu.

“Maaf Nona, jika kedatangan Anda kemari untuk menemui Park Sajangnim, beliau sedang berhalangan untuk bekerja hari ini.”

“Apa maksudnya? Jika Chanyeol tidak bekerja, lantas kemana dia sekarang?”

Pria itu tersenyum kecil sebelum kembali berbicara. Terlihat bahwa ia adalah seseorang yang penyabar.

“Park Sajangnim sedang sakit Nona . Tadi , saya baru saja menjenguknya di apartemen. Beliau menderita panas demam dan memang sudah mengeluh tidak enak badan sejak kemarin”

Semua kata-kata yang hendak di layangkan kepada Chanyeol, seolah menyusut dan lenyap dari pemikiran Alessa. Persiapan untuk menekankan mengenai perjanjian itu, kini berganti menjadi setitik perasaan bersalah dan khawatir. Sekilas kata-kata Jinyeong yang memberitahukan Chanyeol berdiri dibawah guyuran hujan hingga pagi, terngiang di telinga Alessa. Mungkinkah hal itu berdampak sekarang?

“Baiklah kalau begitu. Terimakasih atas informasinya Tuan …..” Alessa menghentikan ujung kalimatnya karena tidak mengetahui nama pria yang berhadapan dengannya saat ini.

“Kim Minseok, atau Minseok saja.” Pria itu memasang senyuman ramahnya.

“Ah,ya. Minseok, bisakah aku meminta bantuanmu?”

_

_

_

Alessa menatap pintu apartemen bercat abu-abu gelap didepannya dengan datar seolah tak pernah terlintas kecemasan dalam kepalanya. Tetapi gurat perasaan tersebut tetap tersirat melalui cara Alessa mengambil nafas. Jari-jemarinya juga saling terkepal menunjukkan keraguan. Alessa mengambil nafas sekali lagi.

“Baiklah. Ini tidak apa-apa.”

Alessa menekan bel serta mengarahkan wajahnya pada kamera pengawas. Tidak ada respon apa-apa dari sana. Alessa menekan bel berkali-kali hingga ia bosan. Akhirnya Alessa menekan tombol dengan kombinasi angka-angka sesuai yang telah dikatakan oleh Minseok. Cara ini pada ujungnya menjadi alternatif satu-satunya untuk memasuki apartemen Chanyeol. Tak ada orang selain Minseok yang mengetahui password apartemen Chanyeol. Maka dari itu, sangat tepat meminta bantuan kepada Minseok sebelumnya.

Terdengar suara klik yang menandakan pintu dapat dibuka. Alessa meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukanlah sebuah kejahatan. Meski kenyataannya hati kecil Alessa sedikit tak nyaman bertamu dengan cara tidak lazim seperti ini.

Hening adalah kata pertama yang tergambar untuk mendiskripsikan keaadaan saat berada di ruang apartemen Chanyeol. Cat putih mewarnai hampir seluruh dinding ruangan. Sementara warna abu-abu terlihat terpoles di beberapa bagian sisinya. Lantainya menggunakan kayu dengan susunan pola satu arah. Corak cokelat bronze mahoni tiap lapisan kayunya memberikan kesan hangat sekaligus nyaman. Sofa kulit panjang berwarna hitam mengisi salah satu sudut dengan sebuah meja rendah. Sementara di hadapannya, diatas sebuah konsol tinggi dengan desain minimalis charcoal , terpasang satu set televisi berukuran besar.

Alessa menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu sebuah ruangan lainnya. Ia meyakini bahwa inilah kamar pribadi Park Chanyeol. Gadis itu mengarahkan tangannya untuk membuka kenop yang ternyata langsung terdorong kedepan. Entah apa ini sebuah keberuntungan sebab pintu kamar itu samasekali tidak terkunci. Lantai kayu yang mendominasi ruangan ini, yang saat ini dipijak kaki Alessa berwarna sedikit lebih pucat dari ruang luar. Alessa hampir saja mengerang kecewa saat kedua matanya bersirobok dengan sebuah ruangan kerja yang cukup luas. Terdapat lampu baca serta seperangkat komputer di atas meja sana. Namun ternyata, ruang kerja ini terhubung menjadi satu dengan kamar tidur Chanyeol. Ada ruangan lain yang menjorok ke dalam dengan dua undakan berlapis hitam.

Warna abu-abu mendominasi keseluruhannya. Tidak hanya dinding pada tiap sisi-sisinya, namun tirai panjangnya juga berwarna abu-abu. Begitu juga dengan bedcover yang melapisi sebuah tempat tidur besar lengkap dengan selimut tebal yang kini membalut tubuh seseorang. Pria itu tengah terbaring ,dengan bantal menopang kepala, matanya tampak terpejam lemah.

“Park Chanyeol…” Gumam Alessa tanpa sadar. Digenggamnya jemari pemuda itu, hangat menjalar begitu Alessa menyentuhnya. Jari-jemari kokoh yang tempo hari lalu menggenggam tangan Alessa tersebut, kini terasa lunglai seolah kehilangan tenaga. Jika begini, bagaimana bisa Alessa memarahinya?

Alessa menyisir pandangan, menelaah wajah Chanyeol seperti yang saat itu ia lakukan. Sirat terpejam lelahnya terlihat dengan jelas.

Jari-jemari yang digenggam Alessa itu sedikit bergerak kecil. Kedua mata Chanyeol berkedut dan mulai terbuka. Ia mengerjap sejenak kemudian berekspresi terkejut ketika mengetahui seseorang yang juga sedang berada di kamarnya sekarang.

“Nona Alessa?” Ucapnya serak. Chanyeol bangkit mendadak, membuat Alessa mengerjap sedikit gugup.

“Chanyeol.. aku tidak bermaksud buruk. Jangan salahkan Minseok-ssi yang telah memberitahukan password apartemenmu. Itu tadi, akulah yang memintanya.”

“Untuk menjengukmu…” Ucap Alessa lagi dengan suara lirih.

Chanyeol masih mengumpulkan kesadarannya. Ia diam terpana melihat Alessa di hadapannya, gadis itu kenapa terlihat begitu jujur? Tetapi Chanyeol samasekali tidak mempermasahkan alasan Alessa . Justru Chanyeol merasa bersalah sudah berjam-jam tidak melakukan tugasnya. Istirahatnya nyaris tidak terprediksi, tubuh Chanyeol benar-benar tak mampu untuk bekerja tadinya.

“Nona kenapa kemari? Bukankah Nona harus kuliah?”

Alessa tersenyum kecut mendengar Chanyeol malah mengalihkan perkataannya. Gadis itu menggeleng.

“Tidak ada kuliah hari ini Chanyeol-ssi.”

Chanyeol mengangguk kecil, tidak tahu harus berkata apa lagi. Perasaan sedikit canggung merayapi keduanya.

“Nona,…” Chanyeol menelan salivanya, ucapannya terputus lantaran tenggorokannya terasa kering. Ia mengarahkan satu tangannya ke meja nakas di samping ranjang. Menjangkau gelas berisi air putih dan meminumnya sampai habis. Ketika hendak mengembalikannya, Alessa lebih dulu menerima gelas kosong itu kemudian menempatkan semula di atas nakas. Sejenak, Alessa terdiam. Terdapat sekeranjang buah apel juga di atasnya dengan sebilah pisau. Plastik steril bening yang membungkus apelnya sudah terbuka, yang menandakan bahwa ada apel yang sudah di makan.

“Minseok-hyung tadi pagi datang kemari membawakan buah apel.” Chanyeol menjelaskan seolah tahu pemikiran Alessa. Gadis yang duduk di pinggir ranjangnya itu kemudian menoleh kembali pada Chanyeol, sedetik terpukau menyaksikan sebuah senyuman kecil terulas dari bibir pucat Chanyeol yang sensual .. Alessa membatin.

“Minseok..hyung?” Alessa mengulang. Maksudnya sekretaris Chanyeol tadi? Chanyeol mengangguk.

“Ya, Nona. Hyung itu..wajahnya terlihat lebih muda dariku, ya? Padahal justru usia Minseok Hyung-lah yang berada diatasku.” Chanyeol hampir-hampir saja tergelak setelah mengatakan itu pada Alessa. Tetapi tertelan akibat kebingungan yang tiba-tiba menyergap. Chanyeol hampir tidak percaya dengan kata-katanya sendiri yang begitu terbuka. Terlebih lagi kepada seorang wanita. Ada apa?

“Begitukah? Aku rasa aku harus meralat pemikiranku sebelumnya.” Alessa memasang senyuman manis. Namun tidak bertahan lama . Ekspresi wajah keduanya pun kembali datar.

Suatu hal membuat Alessa teringat. Kenapa ia menjenguk seseorang yang sedang sakit tanpa membawakan apa-apa? Tidak seperti Minseok yang membawakan sekeranjang apel. Bagaimana bisa seperti ini. Karena terburu-buru Alessa bahkan tidak sempat untuk sekedar membeli sesuatu yang menyehatkan untuk Chanyeol.

“Hmm, Chanyeol-ssi. Kurasa aku harus keluar sebentar. Aku akan kembali beberapa menit lagi.”

“Kemana?” Secara reflek Chanyeol mencekal lengan Alessa, menghentikan gadis itu yang bahkan belum sempat beranjak dari pinggir ranjang.

“Hmm, aku. Aku ingin membelikanmu sesuatu. Makanan, ya makanan. Karena aku tidak sempat membawa apa-apa saat kemari.” Memalukan, batin Alessa.

“Tidak apa-apa. Aku sudah makan dengan makanan yang dibawakan Minseok hyung sebelum aku meminum obat tadi.”

Cekalan tangan Chanyeol kian mengerat, seakan tidak rela Alessa meninggalkannya. Alessa meringis kaku melepaskan cekalan Chanyeol. Gadis itu mengambil ponsel, berniat menghubungi jasa makanan siap antar yang ia pikir akan lebih praktis. Chanyeol memperhatikannya.

Chanyeol memaksakan memajukan tubuh, melirik kegiatan Alessa yang tengah memilih-milih literatur menu makanan.

“Nona, tidak perlu memesankan makanan.“

Suara beratnya mengalun lembut di telinga Alessa. Tidak berkesan kaku samasekali. Seolah kata-kata Chanyeol bagai mantra sihir hingga mampu menghentikan kegiatan Alessa. Jarak mereka begitu dekat , aroma tubuh perpaduan keduanya, antara aroma tubuh feminim Alessa dan aroma maskulin khas Chanyeol menciptakan helaan yang menguar tenang. Terlebih lagi posisi mereka berada dalam satu ranjang yang sama.

Ranjang Chanyeol.                                                                                      

Alessa mengernyit menilai cara Chanyeol dalam memandang dirinya. Merasa ini bagai pertama kali diri mereka saling berhadapan seperti lelaki dan perempuan, bukan sebagai majikan dengan pengawal pribadi. Dan lagi Chanyeol mengenakan sweeter rumahan. Membuatnya dapat lebih tersentuh dan bersahabat dibanding mengenakan setelan jas hitam formal. Lekat-lekat Chanyeol menatap sepasang manik Alessa, seolah merindukan sesuatu dari dalamnya. Sejak awal bertemu, sepasang manik itulah yang berkesan bagi Chanyeol. Terasa teduh namun juga menyiratkan ketegasan.

“Chanyeol….”

Plukk

Tubuh Chanyeol meluruh seketika, mengikis jarak hingga tiada sisa. Kepalanya menghenyak di bahu Alessa yang sempit. Terjebak pada cekungan leher nona-nya dengan deru nafas tak beraturan.

“Chan… kau ..kenapa?”

Chanyeol diam terpejam, merasakan denyut yang semakin menusuk kepala. Tenaganya seakan menguap semakin banyak. Alessa membeku, beban di pundaknya terasa memberat, membuat ia kesulitan menopang kepala Chanyeol. Di usapnya punggung pria itu dengan sebelah tangan yang dengan cepat memindahkan respon terhadap sesuatu yang basah.

Chanyeol berkeringat dingin.

Alessa terkesiap, dicengkeramnya kedua lengan Chanyeol dengan sedikit dorongan hingga memberikan jarak. Gelenyar panas menyengat dari balik sweeternya.

“Alessa…” Chanyeol bergumam setengah sadar.

“Chanyeol.. Astaga, hidungmu berdarah!” Chanyeol mengernyit, disekanya tetesan darah itu oleh jemarinya sendiri. Namun, tetesannya seakan tidak berhenti. Kekhawatiran Alessa mendadak menyebar ke seluruh tubuh saat sepasang kelopak Chanyeol semakin sendu kemudian saling merapat. Tak lama, pria itu meluruh tidak sadarkan diri.

“Chanyeol! Chanyeol-ssi!’ Pria itu samasekali tidak bergerak.

“Bangunlah, Chanyeol. Kumohon , jangan membuatku takut seperti ini. Chanyeol!” Air mata mulai menggenangi di kelopak matanya. Ditopangnya tengkuk Chanyeol dengan sebelah tangan. Tetesan darah yang mengalir dari lubang hidungnya membuat Alessa takut. Wajah Chanyeol semakin pucat merata, kontras dengan noda darah yang keluar dari hidungnya. Bulir bening tidak dapat di tahan Alessa lagi.

Mengapa kau membuatku takut? Disaat kau sendiri menjadi satu-satunya sumber kekuatan untukku?

_

_

_

TBC.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s