Masochist Husband

kai

Masochist Husband

Author: MissCaramelizo a.k.a Suzy Choi

Cast:   -Kim Jong In EXO

-Kim Geulri (OC)

-Park Chanyeol (OC)

-Yoo Younghee (OC)

-other casts

Category: PG-17, Marriage life, hurt, angst, oneshoot.

Words: 5101 words

Disclaimer: Kalau liat FF ini di suatu situs, bukan maksud plagiat, memang author yg publish tapi dengan nama tokoh yg beda. Nama tokoh author cuma minjem, don’t copas, RCL, happy reading guys…

Story begin

~~~

Author POV

Suatu siang di musim panas, yang panas teriknya mampu menembus dinding yang terbuat dari kaca di sebuah kantor pusat penyiaran Seoul, seorang reporter muda nampak berlari tergopoh-gopoh keluar dari pintu tangga darurat. Kim Geulri, nama itu tertulis di name tag-nya.

“Tak apalah, naik tangga itu menyehatkan, fighting Geulri-ah!” gumamnya untuk dirinya sendiri.

Geulri, yeoja cantik dan ceria ini selalu memiliki pikiran positif. Apapun yang terjadi pada harinya, ia selalu mengambil makna positifnya saja. Be positive, girl.

Di satu sisi, seorang namja tampan dan tinggi sedang berdiri angkuh dengan salah satu kakinya menginjak punggung karyawannya. Namja yang namanya tertera di papan nama CEO itu, Kim Jong In. Generasi kedua keluarga Kim yang berbisnis di bidang penyiaran.

“Enak ya, lembur, kamu malah berduaan dengan yeoja itu. Neo… HYAAAK..!!” Jangan tanyakan bagaimana kabar pernak pernik kaca di ruangan dengan nuansa elegan itu, hancur. Benar-benar tinggal serpih.

Kha..!” teriak Kai masih dengan nafas tersengal.

Baru saja sekelebat karyawan yang di marahinya keluar, pintunya di ketuk lagi. Tak lama, yeoja berponi dengan rambut ponytail yang di kepang muncul di balik pintu jati yang nampak begitu kokoh itu.

Omo.. sajang-nim..” Geulri –yeoja itu kelabakan melihat darah pelan tapi pasti mengalir dari pergelangan menuju ujung jari tengah boss-nya. Tanpa babibu, Geulri segera membebat luka Kai dengan begitu telaten. Kai? Tanyakan saja pada pandangannya yang kosong itu. Tanpa raut sakit sama sekali, Kai membiarkan Geulri menyentuh tubuhnya –tangannya.

“Nah, sajang-nim, lukamu akan segera sembuh, sshh~~” ucap Geulri sembari meniup-niup luka yang sudah diperban itu.

Kai yang sudah tersadar dari lamunannya, mendorong Geulri hingga punggungnya sempurna menubruk tembok di ujung ruangan.

‘Prang’

Kai memecahkan satu lagi botol hiasan di ruangannya.  Masih dengan memegang leher botol yang ujungnya sangat runcing, Kai merapatkan tubuhnya mengintimidasi Geulri.

Neo…” bisik Kai sembari menempelkan ujung runcing botol itu pada pelipis Geulri.

“Jangan bermesraan di kantorku, ARRA..?!!!” kata terakhir diucapkannya penuh penekanan disertai bentakan dan goresan kilat pecahan botol.

Cairan anyir berwarna merah darah itu sukses menganak sungai di sepanJang pelipis hingga garis rahang Geulri. Geulri tak sempat berfikir, ia hanya termangu, dan baru di detik selanjutnya ia meringis membekap pelipisnya agar tak semakin banyak darah yang keluar.

“HAHAHA…! Kha..! Lari sana..” tawa Kai begitu menggelegar di ruangan yang kedap suara itu. Tawa yang mengisyaratkan kepuasan, kelegaan, kebahagiaan, dan rasa sakit? Mungkinkah…?

 

..

 

Geulri POV

Sakit, sumpah ini sangat sakit dan pedih. Tapi bukankah untuk bekerja dan mendapat uang kita harus rela berkorban seberapapun rasa sakitnya? Aku anggap ini salah satu pengorbananku bekerja di sini. Dengan membekap pelipisku –meski tak ku pungkiri darah masih bisa merembes melewati sela-sela jari tanganku, aku keluar dari ruangan Kai sajang-nim.

Annyeonghaseyo, oppa” kuberikan senyum dan sapaanku pada Chanyeol oppa –sekertaris Kim Jong In sajang-nim sekaligus samchonku. Tapi karena umur kami tak berbeda jauh, aku memanggilnya oppa, supaya lebih akrab.

Aigoo, Geulri-ah, musun iriya?” ucap Chanyeol oppa dengan sangat panik dan langsung menggelandangku keluar kantor.

Oppa, eoddie? Nan gwenchana, jinjja,” tanyaku memperbaiki perban di pelipisku yang ku pasang saat masuk ke dalam mobil.

Micheosseo? Kita ke rumah sakit sekarang. Kai benar-benar gila,” gerutunya masih dengan raut panik dan tak hentinya dia mengumpat Kai sajang-nim.

Aku sering miris melihat Chanyeol oppa. Dia begitu menyayangi keluarganya lebih dari dirinya menyayangi diri dan hidupnya. Seperti aku saat ini. Dia mengkhawatirkanku, padahal kita sama-sama dari ruangan Kai sajang-nim, berarti bukan cuma aku yang mengalami ini, dia pasti juga. Tapi apa? Aku bertaruh 1 juta won bisa di balik jas kebanggaannya itu tak ada luka di punggungnya.

 

..

 

Tepat seminggu sudah aku memakai perban di pelipisku, dan hari ini i must say good-bye padanya. Lukaku sepenuhnya mengering, belum dengan bekasnya.

Hari ini, hari libur kerjaku, ku putuskan untuk pulang menemui haraboji dan halmoni di Incheon setelah 2 bulan lamanya aku bekerja di Seoul. Sesampainya di rumah masa kecilku, aku terkejut. Bukan apanya, Boss besar yang memberiku bekas luka di pelipis –Kim Jong In, sekarang ada di dalam rumah sedang mengobrol hangat dengan haraboji.  Masih dengan baju sporty dan sepeda di luar rumah, pertanda beliau baru saja bersepeda.

Annyeonghaseyo sajang-nim, haraboji,” sapaku ramah.

Aigoo, Geulri-ah, kenapa masih memanggil calon suamimu sajang-nim, ini kan bukan di kantor,”

Nde, haraboji?” jawabku bingung.

“Jangan pura-pura tak tau, kau ingin memberi haraboji kejutan, ne? Kai ini datang kesini jauh-jauh dari Seoul naik sepeda untuk melamarmu pada haraboji,” terang haraboji dengan senyum hangat.

Mian, haraboji, sajangnim, khalke,” pungkasku tak ingin terlibat dalam hal ini, ku serahkan haraboji mengambil keputusan.

 

..

 

Author POV

..MI..CHEO..SSEO..

Mungkin kata itulah yang patut di sorakkan tepat di daun telinga Kai sekarang. Dengan gilanya, Kai membuat geger seluruh kantor dan relasi bisnisnya –tak luput pula jantung Geulri disaat bersamaan. Bagaimana tidak? Lihat saja sekarang, gereja tempat pemberkatan pernikahan mereka sudah berisi orang-orang yang disebut diatas.

Tepat sehari setelah lamarannya, Kai menggelar pemberkatan. Dengan resepsi kilat karya Wedding Organizer profesional, resepsi dan pemberkatan dilakukan pada hari yang sama.

Malam pertama? Geulri sepenuhnya diboyong ke apartemen mewah Kai. Tak sepenuhnya, hanya diri Geulri dan tas rajut motif Hello Kitty buatan halmoninya. Jangankan baju, seandainya Geulri tak mengamuk selepas resepsi, pasti kini ia memakai gaun pengantinnya hingga di apartemen.

Be positive, Geulri menganggap ini semua balasan atas doa-doanya yang meminta dijodohkan dengan jodoh terbaik. Geulri menganggap Kai jodoh terbaiknya. Termasuk saat ia ditinggal di apartemen yang masih asing ini sendirian, di malam pertamanya.

Karena merasa Kai tak memberinya izin menjelajah apartemennya, Geulri memilih tidur di karpet ruang tamu yang letaknya langsung berpelurus dengan pintu masuk. Geulri sudah cukup bersyukur dibukakan pintu oleh Kai.

 

..

 

Di bawah jembatan yang melintasi sungai Han, seorang namja sedang mendirikan tenda. Dibalik gemerlap lampu di sepanJang sungai itu, ada satu titik kegelapan –tenda tak berlampu itu. Di sampingnya ada sepeda, jenis sepeda gunung yang auranya manly sekali. Ya, namja itu Kai. Di saat orang lain bersembunyi di balik selimut dengan penghangat ruangan menyala, Kai malah lebih suka berkemah tengah malam, sendiri.

Kai menggigil, bibirnya sepucat wajahnya yang memang coklat pudar, tapi jiwanya menolak respon tubuhnya. Bibir pucat itu menorehkan segaris senyum, lagi-lagi senyum penuh kepuasaan yang sedikit berlebihan rasanya.

 

..

 

Dini hari, sebelum matahari menunjukkan sinarnya, gelap masih menyelimuti sepenuhnya kota Seoul, tapi roda sepeda itu sudah berputar dengan asap putih yang mengepul tiap pengendaranya menghembuskan nafas. Kai juga suka bersepeda, terutama dini hari, seperti saat ini.

Ketika Kai tiba di apartemennya, dia melihat seorang yeoja yang dinikahinya kemarin meringkuk di atas karpet ruang tamunya. Sejenak, ada tatapan iba. Tapi hanya sekejap, rasa itu menguap, tergantikan oleh pikiran negatifnya.

‘Buk..Buk..Buk’

Kaki jenjangnya, Kai gunakan untuk menendangi tubuh Geulri yang dianggap telah meniduri karpet mahalnya tanpa izin. Kaki itu terus menendang hingga tubuh Geulri sempurna memeluk lantai marmer yang dinginnya serupa salju. Kai lalu melengos menuju kamarnya.

 

..

 

Pagi itu temaram, tak secerah hari biasanya. Matahari seolah kalah oleh awan-awan yang memboyong air hujan itu. Geulri terbangun ketika merasakan hawa dingin yang teramat sangat pada tubuhnya. Ia bangun dari tidurnya, berjalan mencari Kai di kamar utama.

“Oh, kkamjjagiya.  Sajang-nim, anda sudah bangun?” tanya Geulri spontan saat baru tiba di ambang pintu ia melihat Kai sudah berdiri dengan menatap tajam padanya.

Oppa, panggil aku oppa,” suara serak Kai terdengar sangat mengintimidasi dan dingin –seperti biasa.

Nde..op..pa. Ah, ye, Kai oppa, apa.. em.. apa aku boleh memakai dapur?” ucap Geulri dengan penuh hati-hati dan hanya di balas anggukan dan gumaman “terserah..”.

Geulri dengan penuh semangat, memasak. Masakan pertamanya untuk Kai. Berhubung cuaca di luar sedang mendung, Geulri ingin membuat sup sawi dengan daging asap. Sekitar 15 menit berkutat dengan dapur, masakan Geulri selesai, dan siap dihidangkan.

“Kai oppa, sarapan sudah siap, mari makan bersama,” panggil Geulri di ambang pintu kamar Kai.

“Kamu, pasangkan dasi ini untukku, cepat,” perintah Kai pada Geulri.

Ne,oppa,” Geulri menjawab sembari memasuki kamar mewah Kai. Ia merasa bagai sekor ayam yang masuk mobil Lamborghini. Miris.

Dengan telaten, Geulri memakaikan dasi pada leher Kai. Jika dipikir ulang, selama di kantor, Geulri tak pernah melihat CEOnya memakai dasi, Kai hanya biasa memakai kemeja dan jas.

Setelah selesai, Kai langsung nyelonong ke meja makan, duduk, lalu mengambil daging asap mentah dan sekepal nasi. Membungkus nasi itu dengan daging asap lalu menelannya bulat-bulat. Hal itu dilakukannya berulang-ulang hingga cukup 5 suapan.

Geulri dibuat ternganga olehnya. Kai sama sekali tak menyentuh supnya, memandangnya pun tidak.

Ketika Kai berdiri dari meja makan, Geulri dengan sigap membawa 1 gelas air putih di tangan kanan dan 1 gelas susu di tangan kiri. Dengan langkah super lebarnya, ia coba mengejar langkah lebar Kai.

Oppa, minum?” tawar Geulri pada Kai.

Kai mengambil air putih, meminumnya 1 teguk, dan memberi kembali pada Geulri.

Oppa, hari ini aku ingin ke flat-ku mengambil baju harian dan baju kantorku. Oh ya, aku juga ingin ke flat-nya Chanyeol oppa, laptopku ketinggalan di sana. Boleh?”

“Tidak.” Singkat, padat, dan sudah sangat jelas. Tak bisa di bantah, tak bisa ditolak, dan tak mungkin bisa di tawar.

 

..

 

Geulri dibuat uring-uringan oleh Kai. Dia tak boleh mengambil bajunya, tak boleh mengambil laptopnya, dan lebih kampretnya, dia dikunci di apartemen ini tanpa tau sandinya. Ia ingin menangkap kecoa seperti saat dia tinggal di flatnya dulu, tapi boro-boro kecoa, nyamuk pun tak ada di sini.

Dia ingin mencuci baju kotor yang dipakai Kai semalam, tapi pakaian itu lenyap entah pergi kemana, tak ada.

Televisi pun sama mirisnya, Kai tak punya CD drama atau film apapun. Geulri sangsi, kalau Kai pernah menonton TVnya.

Frustasi dengan keadaannya, Geulri tidur. Baru sedetik yang lalu ia memejamkan mata, pintu apartemen Kai terbuka. Ia bergegas keluar. Nampak seorang ahjumma membawa banyak paperbag.

“Oh, annyeonghasimnida, samunim,” sapa ahjumma itu sambil membungkuk 90 derajat.

“Ah, ye, annyeonghasimnida ahjumma,” balas Geulri dengan membungkukkan badan 90 derajat lebih. Situasi ini dinilainya sangat canggung dan awkward. Geulri kikuk, mau membalas apa. Ahjumma ini bersikap seolah bila salah 1 kedipan matanya saja, hidupnya akan hancur.

Samunim, Kai sajang-nim memberi anda ini. Beliau bilang agar anda memakainya,” ucapnya.

Aigoo, ahjumma, santai saja. Panggil aku Geulri, Jangan samunim, oke?” tawar Geulri sambil membuka paperbag.

“Tapi, samunim, Kai sajang-nim pasti akan memecat saya, jika saya tidak sopan memanggil anda dengan nama saja,” jelas ahjumma itu sambil menunduk.

Geulri mengangguk-angguk tanda paham. Dia bersuamikan seorang disaster rupanya. Daebak..! Dengan antusian Geulri membuka paperbag yang jumlahnya 10 buah itu.

  • Paperbag pertama, Geulri buka, berisi 4 setel gaun non-formal.
  • Paperbag kedua berisi 6 setel pakaian harian yang sangat feminim.
  • Paperbag ke-3,4,5,6 berisi masing-masing 1 gaun yang sangat cantik luar biasa.
  • Paper ketujuh berisi seperangat alat make-up
  • Paperbag ke delapan berisi handphone supercanggih yang baru dirilis beberapa jam yang lalu. Geulri memandang kembali handphonenya yang hanya punya fitur telpon dan sms saja itu. Minder. Pasti.
  • Paperbag kesembilan, adalah paperbag terbesar, dan berisi sebuah laptop dengan lambang apel digigit sedikit itu.
  • Paperbag ke-sepuluh, paperbag terakhir dengan bentuk yang super unyu bermotiif Hello Kitty, berisi kai.an.da.lam. Wah, daebak, Kai memperhatikannya hingga ke detail-detailnya.

 

 

Ketika waktu makan malam tiba, Geulri sudah siap dengan makanan yang tersaji di meja makan, dia memakai dress motif bunga kecil-kecil berwarna putih, rambut sepunggungnya ia kepang bentuk ponytail sederhana –gaya rambut favoritnya.

Saat melihat Kai menuju meja makan, ia tersenyum semanis mungkin, walau tak dilirik sama sekali. Geulri menyimpulkan Kai suka daging asap, sehingga malam ini dia memasak daging asap asam manis. Kai mencicipinya.

“Jangan terlalu manis,” komentar Kai dingin tapi sangat diapresiasi Geulri.

Nde, oppa. Bagaimana kalau tambah sayur, enak loh.” tawar Geulri sumringah, malah dibalas delikan mata tajam oleh Kai.

~Kai tak suka makan sayur. Kai suka daging asap. Kai tak suka manis~

Geulri mengetik memo itu pada smartphone barunya. Saat Kai lewat di depannya, ia menghentikannya, “Oppa, sini, liat deh,”

Sebut hari ini adalah hari dimana Dewi Fortuna berpihak padanya, Kai berbalik dan duduk di sofa, sedangkan Geulri di lantai –as we expected.

Oppa, sebelumnya, jeongmal gamsahamnida semuanya. Tapi, aku ingin laptopku yang dulu, bukan yang baru oppa. Bolehkah aku ke Chanyeol oppa mengambil laptopku?” Geulri coba menampilkan aegyo-nya pada Kai tapi malah muncul kilatan amarah di matanya.

‘SRAK..’

Dengan kasar, Kai menyeret Geulri pada rambutnya yang terkepang panJang. Kai terus berjalan tanpa memperdulikan rintihan Geulri yang semakin keras terutama saat kaki atau bagian tubuhnya yang lain terbentur meja dan pintu. Bila sebelumnya Geulri sangat membanggakan rambut panJangnya, untuk saat ini, dia menyesal. Menyesal, andai saja rambutnya tak sepanJang itu, mungkin saja rasanya tak kan sangat menyakitkan.

Suara bedebum pintu terdengar begitu memekakkan telinga. Mereka tiba di kamar Kai. Kai masih terus menyeretnya menuju kamar mandi. Tak cukup sampai disitu, Kai menyalakan kran wastafel dan kran shower. Dia mengguyur tubuh Geulri pada shower dengan air panas. Air yang benar-benar panas.

Dengan menggeret Geulri pada tali spagetti dress-nya, Kai mengangkat tubuh Geulri yang sudah tak berdaya itu lalu mencelup wajah Geulri pada wastafel yang berisi air dingin. Air yang bahkan tanpa di bekukan di lemari es, memang sudah dingin. Lagi, Kai menariknya ke bawah shower lagi, tapi dengan posisi wajah menengadah ke atas tepat pada air panas itu meluncur.

Merasa sudah puas, Kai menarik tubuh yang sudah lunglai itu berdiri, membantingnya agar bersandar pada tembok, menghimpitnya, lalu mengecup bibir yang sudah merah setengah melepuh itu. Berawal dari kecupan, kini bibir Kai dengan kasar melumat bibir Geulri dengan ganas dan menuntut.

Berawal dari menyesap bibir bawah Geulri yang sangat menggoda itu, manis pikir Kai berkomentar. Terlalu gemas, Kai menggigit bibir itu kasar, dan otomatis Geulri membuka mulutnya. Tanpa aba-aba lagi, lidah Kai sudah menerobos masuk bergulat dengan lidah Geulri, tak lupa pula mengabsen satu per satu gigi Geulri.

Saliva mereka lumer di sudut bibir Geulri. Geulri, bila tak ada tembok tempatnya bersandar, kini ia pasti sudah tergeletak tak berdaya di lantai  kamar mandi. Ini ciuman pertamanya, dan tak ia sangka firstkissnya akan se-dahsyat  ini.

Kai tak berhenti sampai disitu, kini ciumannya beralih menuju ke leher Geulri, menghirup dalam feromonnya, menyecapnya, lalu membuat kissmark sebanyak-banyaknya disana, dan Kai pun mulai merobek dress Geulri. Geulri sudah seperti robot sekarang, jiwanya, raganya, mati rasa sejak Kai mulai mengecup bibirnya.

Inilah resikonya berani-berani menikah dengan Kai –Boss yang dijuluki ‘gila’ oleh samchonnya. Tapi demi halmoni dan harabojinya yang meginginkan Kai menjadi menantu, Geulri rela.

Sembari kembali menciumi Geulri, Kai mulai melucuti bra dan meremas kedua bukit kembar itu. Kedua bukit kembar ituseolah sangat pasdi tangan Kai. Tanpa Geulri sadari, kini mereka berdua sudah ada di atas ranJang Kai. Geulri ingin menangis pun tak bisa, sudah dibilangkan, jiwanya sudah mati, setidaknya untuk saat ini.

“Uh, jalang, pelacur, neo..!!” umpatan kasar itu keluar dari bibir Kai. Kai tak segan mencakar dan menyakiti Geulri demi kepuasan dirinya.

“Engh..” gumam bibir tipis Geulri lirih, seperti bisikan.

“Mendesahlah jalang, bukankah ini kerjaanmu?”

Oppa.. Chanyeol oppa, jebal,” salah, Geulri malah menyebut nama samchonnya tepat di saat bersama Kai. Percuma Geulri memanggil Chanyeol, dia tak disini sekarang. Yang ada bersamanya hanya iblis berwajah malaikat tampan bernama Kai

Dengan sangat kesetanan, Kai yang mendengar istrinya  menyebut nama namja lain saat bercinta dengannya, murka. Masih meremas kasar payudara Geulri, Kai menghujamkan kejantanannya pada kewanitaan Geulri tanpa aba-aba.

“Kyaaa…!” Geulri berteriak kesakitan, dan Kai melanjutkan aksinya tanpa membiarkan liang kewanitaan Geulri beradaptasi dengan miliknya. Di titik ini, Geulri merasa dirinya tak lebih dari seonggok sampah tak berharga, saat ini keperawanannya telah di rebut secara tak berkemanusiaan, mirisnya oleh suaminya sendiri.

“Uh, oppa, ppali, akh..akh..” desahanitu lolosdari bibir Geulri.

“Yak, disitu oppa, fucking me, harder, faster, shh~~” racau Geulri saat kejantanan Kai mencapai G-Spotnya.

“Kau..!” ucap Kai masih gencar menggenjot kejantanannya dengan irama yang cepat, tak berniat menyudahi sama sekali.

“Ugh, michesseo, kau sangat nikmat Geulri-AAAKH…!!” Kai menyemburkan cairan spermanya tepat pada rahim Geulri. Cairan hangat itu merembes keluar ketika Kaihyn masih menggenjot kejantanannya dengan tempo lambat.

Setelah mencapai puncak kepuasan nafsunya, masih dengan nafas tersengal, Kai mencabut kejantanannya, dan tampaklah sperma itu tak sepenuhnya putih, ada darah disana.

“Kau, virgin?” tanya Kai heran. Geulri tak menjawab, matanya terpejam, tapi air matanya deras mengalir.

Mian,” ucap Kai sembari merapatkan selimut pada tubuh mereka, menyandarkan kepala Geulri di dadanya, memeluknya dengan erat.

 

 

Kai tak bisa tidur, sama sekali tidak. Ia memilih bangkit, mengambil krim luka bakar dilaci nakas. Dia menyibakkan rambut Geulri yang menutupi wajah, mengoleskan dengan hati-hati pada wajah istrinya itu. Di sudut bibirnya, Kai dapati darah yang mengering, ia menyekanya lalu memberinya krim.

Tangan Geulri digenggamnya erat, mengoleskan krim pada setiap luka yang dilihatnya. Hatinya miris.

 

Kai POV

Babo, aku memang layak disebut babo. Hanya karena kecemburuanku pada Chanyeol –yang notabenenya sekertarisku sendiri, aku malah melukai wanita yang kucintai sejak belajar membaca.

Kim Geulri, yeoja yang ku kenal sejak bangku kelas 1 hingga 2 SD. Yeoja yang selalu meminjamiku payung saat dia hanya memakai jas hujan yang robek bagian punggungnya.

Yeoja yang dengan polosnya, rela menjadi objek kejahilanku tanpa melapor pada halmoni dan harabojinya. Satu-satunya yeoja yang sudah paham pada kondisiku saat itu, saat trauma psikologis itu menyerangku, saat kilas bayangan Appa yang menyakiti Eomma terus menghantui masa awal SD-ku.

Masochist, kondisi dimana aku mendapatkan kepuasan saat orang lain menganggapnya ketidaknyamanan. Waktu itu, aku sangat suka dipukuli, makanya aku tumbuh menjadi anak yang nakal, pengganggu, pembuat onar, dan lain-lain. Anak yeoja jaman itu sangat suka mengadu, dan kalau sudah mengadu, maka Appa anak itu akan datang memukuliku. Aku senang. Senang sekali, sampai tertawa terbahak aku saat dipukuli.

Tapi ada 1 yeoja yang tak akan pernah mengadu, Kim Geulri. Yeoja yang terlalu terobsesi pada matematika. Aku pernah menyembunyikan sempoanya, mengambil pensilnya, bahkan memfoto rok yeoja itu dari bawah dengan kamera polaroid sudah pernah ku lakukan. Dia tak marahdan menangis pun tidak. Saat ku tanya kenapa, dia menjawab “kau melakukan ini karena kamu suka aku kan? Ayo menikah.”

Yeoja yang selalu berfikir positif itu, sampai kapan pun tak kan ku lepas dia.

Dan itu terpenuhi sekarang, aku menikahi yeoja itu dengan restu haraboji dan halmoninya. Tapi apalah guna pernikahan, jika hatinya masih pada satu nama, Chanyeol. Park Chanyeol.

Park Chanyeol, aku mengenalnya saat kuliah, dan kini dia ku perkerjakan menjadi sekertarisku. Dia mengenal Kim Geulri. Ku yakin, aku bisa bertemu dengannya jika dekat dengan Chanyeol. Chanyeol adalah orang yang pekerja keras, mengutamakan keluarga, dan selalu berpikir positif –sama seperti Geulri.

Tapi apa yang ku tahu di akhir begitu menyakitkan. Chanyeol dan Geulri lebih dari sekedar kenal, mereka dekat. “Kami pernah sedekat nadi, kau tau?”cerocos Chanyeol masih terekam jelas di otakku.

‘Prang..’

Entah sudah berapa lama aku melamun hingga tau-tau aku sudah ada di depan TV dengan tangan menggenggam serpihan-serpihan vas bunga. Vas putih ini sudah berubah warnanya menjadi kemerahan, karena bercampur darahku.

Rasa sakit ini, rasa ini sudah lama tak ku rasakan. Rasanya lebih nikmat ternyata. Daripada hanya melihat raut kesakitan orang lain, merasainya langsung lebih memberi kepuasan padaku.

Di pintu kamarku, berdirilah Geulri dengan memakai dress motif garis vertikal kali ini. Oh cantiknya, lebih cantik bila tak memakai rangkaian benang yang dijadikan baju laknat itu. Ku berikan senyum mengejekku padanya sambil mengajungkan jari tengahku padanya.

“Kai oppa, wae geurae? Ige mwoya, gwenchana?

Sial, dia dengan polosnya mengabaikan ancamanku sebelumnya dan malah memberiku pertanyaan basi itu. Gelap mata, ku goreskan pecahan vas yang di genggamanku melintang membentuk garis horizontal di sepanJang payudaranya. Dia meringis, yeah..!

Ku condongkan tubuhku pada dadanya, ku miringkan kepalaku hendak menghisap darah yang keluar merembes dress baru itu.

“Sshh.. Oppa, apayo, manhi apa, hiks..hiks..”

Ku alihkan cumbuanku pada bibirnya, mengulum bibir atas bawah itu seirama dengan tanganku yang terus menekan-nekan payudara itu, membuatnya makin berdarah-darah.

Dia tetap menangis eoh? Ku keluarkan smirk, dan lalu melanjutkan menjilat dan menghisap payudara rasa darah itu.

Pukul 8, jam itu memberiku peringatan bahwa aku harus segera ke kantor. Ku sudahi ‘acara sarapan pagi’ku kali ini dengan membiarkannya terduduk di depan TV. Dapat ku simpulkan sumber kenikmatan baruku mulai pagi ini adalah ‘wajah kesakitan orang yang ku cintai, istriku’.

 

 

Author POV

Tiap pagi, ahjumma yang membersihkan apartemen Kai rutin membawa paperbag berisi baju-baju cantik luar biasa. Bila orang lain memandangnya, pasti semua menatap iri pada Geulri, tanpa tau maksud dibaliknya.

Baju-baju cantik itu hanya bisa di pakainya satu kali. Sebab, yakin saja, gaun itu tinggal seonggok kain yang sobek dimana-mana setelah dipakai. Gaun formal? Bullshit, dari 20 gaun formal yang pernah dipakai Geulri, baru 1 yang benar-benar dipakainya untuk pesta, yaitu ketika pesta pernikahan salah satu kolega Kai.

Yang lainnya hanya sekedar dipakai kalau mereka menginap di hotel, atau saat Kai menyewa infinity swimming pool semalaman sebagai tempatnya memuaskan nafsu birahi dan nafsu masochist-nya.

Jangan tanya seberapa banyak luka lebam, bekas jahitan, lecet, sendi tergeser, tulang retak dan kulit terbakar pada tubuh Geulri. Sangat banyak, kalau kalian ingin mengetahuinya.

 

..

 

Pagi yang sangat cerah hari ini, Kai sudah berangkat ke kantor, sedangkan Geulri berkutat dengan proses penyembuhan lukanya sendiri. Dia tak berani kerumah sakit, Kai orang yang tersohor di negeri ini, jika sampai dokter bertanya dari mana luka-luka ini berasal, Geulri takut ia tak bisa berakting.

Ia mempercayakan pengobatannya pada anak ahjumma yang bekerja di apartemen Kai, sekaligus calon imo ipar karena tahun ini samchon paling kecenya –Chanyeol akan menikahi Younghee.

Imo, aku kangen sama samchon,” rengek Geulri.

“Kamu panggil aku imo sekali lagi, aku getok kepalamu pakai tiang infus, mau? Pangil aku eonni, arraseo? Kamu mau liat samchonmu ya? Gimana kalau hari ini kita ke apartemen baru samchonmu, kau belum pernah kesana kan?”

Ne, ne, aku mau, kajja,”

~~Oppa, aku ke rumah samchonku dengan Younghee ya? ~~

Geulri mengirim sms pada Kai, meski tau, itu tak kan di balas. Setidaknya Geulri sudah pamit pada Kai.

 

..

 

Pukul 5, dua cewek super rempong itu tiba di apartemen Chanyeol, beruntung dia sudah ada di rumah. Setelah acara temu kangen dan peluk-pelukan, tak terasa jam makan malam akan segera tiba. Younghee ada janji dengan seorang pasien sehingga harus ke RS saat itu juga, sehingga Geulri dan Chanyeol pergi ke kedai makanan berdua.

Oppa, aku mau ttebokki, jebal” rengek Geulri. Akhir-akhir ini Geulri emang suka meregek pada siapapun, meski hanya hal-hal kecil.

“Lama-lama kau pasti minta sate ikan, bulgogi, ramyeon, sup kimchi, daging asap, nas-“

Oppa, kajja, ini sudah mau malam, Kai  harus makan malam. Eomoni, ttebokki 1, daging asap 2, juseyo~~”

“Setelah hampir 1 bulan cuti, keponakan samchon udah pinter jadi istri yang baik  ya? Oh ya, Geulri-ah, apa di apartemen Kai banyak serangga? Leher dan seluruh tubuhmu tampak merah, sebagian malah biru,”

“Terserah, apa kata lu lah, bang. Eomoni, ige, gamsahamnida” ucap Geulri memberi 3000 won pada Antae ahjumma.

 

 

“Geulri-ah, kamu tinggal di lantai berapa?”

“Lantai 15 oppa, apartemen ekskluif nomor 71, geure, annyeong oppa, pai..pai..” Geulri masih bisa melengkungkan bibirnya –tersenyum saat itu, entah nanti.

Dengan menenteng kantong plastik dan tas selempang di pundaknya, Geulri membuka pintu apartemen, dan kaget karena tak terkunci, berarti Kai sudah ada di dalam.

“Hai.. annyeong oppa, ige, aku bawakan daging asap dari Antae ahjumma yang terkenal itu loh. Oppa sudah makan?”

Ajik,” Kai masih berdiri menatap Geulri dengan sorot mata penuh amarah dan dendam.

“Aku mau makan kamu, se..ka..rang,” suara Kai mulai serak, dan ada kilatan nafsu berkobar di matanya. Bibir Kai mulaimelumat bibir Geulri. Kantong yang dibawa Geulri sudah teronggok miris di lantai, disusul baju-baju yang bergeletakan selanjutnya.

Geulri sudah hapal betul bagaimana Kai akan memperlakukannya saat sedang bercinta, tubuhnya sudah kebal.

“Apa berkunjung ke rumah samchonmu semenyenangkan itu?” tanya Kai disela-sela kegiatannya mengendus leher Geulri.

“Engh..ah.. em..” Geulri kepayahan menjawab pertanyaan Kai.

“Apa lebih menyenangkan dari ini?” tanya Kai sarkartis sambil memilin puting Geulri dan memutarnya 360 derajat.

“Akh..oppa.. aniyo, jebal…” teriak Geulri  saat itu juga.

Masih di ruang tamu, Kai ingin mendisiplinkan istrinya saat ini juga. Kai menyeret tubuh Geulri dan langsung membantingnya hingga Geulri berada pada posisi tengkurap. Kai menghujamkan kejantanannya pada tubuh Geulri tanpa aba-aba. Tapi Geulri tetap diam, tak peduli, Kai melanjutkan aksinya lagi, menggenjot tubuh Geulri kasar.

Geulri sama sekali tidak merubah posisinya, dan tak mendesah pula. Hngga titik kepuasan surga dunia itu didapatkan Kai, Geulri diam. Tepat setelah kejantanannya tercabut dari tubuh Geulri, Kai merasa ada yang Janggal.

“Geulri-ah, ireona,” Kai menepuk punggung rapuh itu beberapa kali. Merasa tak dapat jawaban, Kai menyibakkan rambut panJang Geulri yang tergerai di lantai menutupi wajahnya.

Betapa kagetnya Kai ketika mendapati segelegak darah di lantai, dengan leher Geulri yang tertancap salah satu pecahan vas bunga yang dihancurkannya beberapa hari lalu.

Bukan ekspresi kesakitan yang divisualkan oleh wajah Geulri. Yang nampak hanya wajah pucat dengan garis-garis wajah yang begitu halus dan terkesan sangat damai meneduhkan. Justru ekspresi seperti itulah yang mampu mengerat-ngerat kewarasan Kai menjadi serpihan yang siap menjadi debu kapan saja.

Kai kalap, rasa kecewa dan penyesalan atas dirinya terlalu mendalam, tanpa sadar bahwa yang dibutuhkan yeoja itu saat ini adalah pertolongan dokter.

 

..

 

 

Ruangan berpintu kaca buram itu belum terbuka, dokter masih mencoba menolong istrinya. Kai tak henti menjedukkan kepalanya pada tembok, hingga Chanyeol tiba.

“Kau apakan keponkanku, HAH?” teriakan frustasi Chanyeol diiringi hantaman tepat pada rahang kiri Kai. Persetan dengan rasa hormat pada boss-nya. Sudut bibir Kai berdarah.

Samchon?” Kai berbisik pada hatinya sendiri, tentang kenyataan yang baru diketahuinya. Dia cemburu pada samchon istrinya. GI..LA..

Tak sempat berhenti dari keterkejutannya, dokter yang menangani Geulri keluar. Kaki Kai sudah tak sanggup menopang berat badannya sendiri, ia luruh, duduk lesehan di lantai dingin rumah sakit. Sesal..sakit.. itu yang dirasa Kai saat ini. Lidahnya kelu, ribuan kosakata dalam berbagai bahasa yang diketahuinya lenyap, tak ada yang bisa di keluarkan dari bibirnya saat dokter wanita itu berekspresi murung.

“Younghee-ya, bagaimana Geulri?” desak Chanyeol pada Younghee –yeojachingunya.

Mian chagi, ku rasa kau harus menyeret Kai ke ruanganku sekarang, kajja” ucapnya mendelik pada Kai.

Sesampainya di ruangan Younghee, 2 namja dewasa itu tampak begitu panik, yang satu panik kelihatan, satunya lagi kepanikan yang terpendam oleh rasa penyesalan.

Eotthe?” hanya 1 kata itu yang bisa diucapkan oleh bibir yang tiap harinya berkata kalimat pedas.

“Operasi pengangkatan pecahan kaca itu berhasil. Pendarahannya juga sudah diatasi, kandungan Geulri juga masih bisa selamat meski kondisinya lemah, tapi…”

“Anak kami?” tanya Kai lemah.

“Ya, usianya baru 2 minggu, sebelumnya selamat kau akan jadi ayah,” Younghee tak hentinya bersikap sinis pada Kai.

“Lalu kenapa, apa ada sesuatu yang buruk?” Chanyeol tak bisa menahan rasa penasarannya lagi.

“Tenang chagi. Geulri sekarang sedang koma, semuanya sudah berjalan baik, tapi sepertinya justru jiwa Geulri yang menolak membuka matanya. Bukan karena luka pecahan kaca dilehernya, tapi ini terkait dengan semua luka yang ‘belum-sembuh-datang-lagi’ di seluruh tubuhnya ditambah tekanan psikis trimester awal kehamilan yang tidak bisa dia salurkan. Kamu kira, luka istrimu itu sembuh karena siapa, hah..!! Aku yang mengobatinya, babo..!”

“Jadi, Geulri, ya ampun Geulri-ah. Younghee-ya kenapa kau tak bercerita padaku kondisi Geulri?” ucap Chanyeol mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Geulri tak kan membiarkanmu mengetahuinya, katanya dia wajib menjaga nama baik suaminya. Dan biarkan ku tebak, pasti sekarang dalam komanya, dia ketar-ketir takut Kai akan menyiksanya ketika dia membuka mata,” delikan mata Younghee sangat tajam pada Kai.

 

 

Kai melumat dengan penuh kehti-hatian bibir Geulri. Bibir itu pucat, bagai tak ada darah mengalir melaluinya. Bibir yang rasanya manis itu, kini dingin dan hambar.

Jebal, Geulri, buka matamu. Ini sudah 14 hari kamu jadi putri tidur. Oh ya, bayi kita, disini, sudah ulang tahun yang ke-1 bulan,tidakkah kau ingin merayakannya bersamaku,” ucap Kai sambil mengelus dan mengecup perut yang masih rata itu.

“Bangunlah, yeobo, dan aku akan menjagamu selama hidupku, saranghae Geulri-ah,” Kai masih terus cerewet di samping ranJang istrinya.

“Makanlah Kai, ini sudah sore, sejak pagi kau belum makan. Bercukurlah, aku takut saat Geulri bangun nanti, dia pangling dengan suaminya sendiri,” suruh Chanyeol sambl meletakkan bekal makan.

Hyung, apa hanya sampai besok aku bisa melihat istriku?” tanya Kai dengan pandangan kosong.

“Kalau Geulri bangun sekarang, kau masih bisa melihatnya sepanJang sisa hidupmu. Tapi bila takdir mengatakkan dia belum bisa bangun besok atau lusa, pertama, kau akan kehilangan bayi kalian. Bayi kalian tak bisa hidup dalam kondisi seperti ini lebih dari 15 hari Kai. Saat operasi pengeluaran bayi kalian, bisa saja, Geulri yang memang masih tak mau membuka mata, berpeluang akan menutup mata dan catatan hidupnya,” jelas Chanyeol dengan pasrah, seluruh keluarganya memang sudah pasrah apapun yang akan terjadi.

“Tidak, Geulri akan membuka matanya, aku akan menunggunya di sini,”

“Tapi kau sudah meunggunya 2 minggu, hasilya nihil”

 

 

~Kai tak suka makan sayur. Kai suka daging asap. Kai tak suka manis~

~Resep Olahan Daging Asap~

~Aku ingin memperbaiki vas bunga yang pecah~

~Itu pasti karena Kai mencintaiku, dia akan membahagiakanku~

Sederet memo yang ditulis gadis itu benar-benar melukai rasa penyesalan yang memang sudah koyak berdarah-darah di hati Kai. Kai menyesal, tak membiarkan yeoja itu mengambil laptopnya, dan hari dimana gadis itu memperoleh laptopnya, malah jadi hari malapetakanya.

Laptop itu Geulri beli sendiri saat kuliah dengan uang hasil kerjanya menjadi pramuniaga supermarket –itu yang dikatakan Chanyeol. Isinya penuh dengan drama-drama korea dan film kartun. Childish, pikir Kai. Kai terkaget saat ia mendapati foto hasil bidikannya dengan kamera polaroid menampilkan bawahan rok Geulri tersimpan di salah satu foldernya.

Cukup, Kai sudah tak tahan lagi, ia ingin membangunkan Geulri sekarang. Bila perlu ia akan menopang kedua kelopak mata itu dengan korek api.

Ireona, Geulri-ah, ppali ireona. Jebal,” mirip kesetanan, Kai mengguncang tubuh Geulri. Tapi nihil, mata itu masih terpejam. Tak ada jawaban, semangat Kai mulai meredup, hatinya mencoba tegar, tapi egonya mengatakan bahwa cinta tak lebih dari sekedar angan hampa.

Kai mengecup kening Geulri penuh rasa sayang, lalu turun menuju dua kelopk mata yang enggan terbuka itu –mengecupnya. Hidung tak seberapa mancung itu di gesekkan dengan ujung hidungnya. Kemudian Kai mencium pipi, membaui feromon yeoja itu dengan mengendus garis rahang Geulri menuju dagu, dan bermuara di bibir pucat itu.

Melumatnya penuh hasrat yang menggebu, seolah tidak akan ada hari esok bila tak mencumbunya sekarang ini.

 

..

 

Sore hari selanjutnya, Kai pulang ke apartemennya setelah rapat direksi di kantor. Ketika membuka pintu utama, aroma daging asap yang menyambutnya. Di meja makan sudah tersaji daging asap asam manis. Kai kelimpungan mencari siapa yang memasakkannya. Dengan serampangan, satu per satu pintu di rumahnya ia buka.

Hingga diujung pintu kamarnya, dia melihat siluet orang duduk mengarah pada balkon. Dengan langkah pelan, Kai mendekatinya. Rambut panJang yeoja itu berkibar-kibar ditiup angin.  Tanpa babibu, Kai berlari lalu memeluknya. Di tenggelamkan wajahnya pada ceruk leher yeoja ini, Geulri, istrinya. Menghirup dalam feromon Geulri yang sudah seperti candu baginya.

Geulri tersenyum hangat, “bogoshipda oppa, saranghanda,” ucapnya lirih.

Nado, saranghae Geulri. Kim Geulri, uri aegi do. Appa minta maaf, ne, saranghae uri aegi,” ucap Kai bahagia.

Dan senja sore itu tak lagi sendu. Senja terakhir di musim panas. Adakah yang lebih merah muda ketimbang sebuah cinta yang tumbuh di awal musim gugur ini?

..

~~END~~

..

Salam-salam dari author..

Mian, typo bertebaran kaya ranjau. Gomawo sudah mau berkunjung dan membaca sampe akhir. Need sequel?

 

One thought on “Masochist Husband

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s