CAN YOU HEAR ME ? (Please fade chapter 1)

cs49_seueaeduau

 

Can You Hear Me ?

  1. please fade

Au || Sad-Romance || Angst || Teen/General || Series

Oh Sehun – Kim Jin hee

@Winnietrii 2016

© do not plagiarism my story, Copy paste not allowed, please respect.

I own this story, and Cast belong their parent and agency.

Sorry For Typos and I’m not using EYD gays.

“His smile, Nobody could wear the sun better”

 

 

 

Apa kamu pernah merasakan bagaimana ketulusan cinta ? bisakah jelaskan kepada diriku yang bodoh ini apa makna dari kata ketulusan itu sendir?

Aku meyakinkan bahwa diriku begitu tulus mencintai pria bernama Oh Sehun, dia adik laki – laki dari temanku, ya kalian dapat mengataiku apapun, aku tidak peduli toh cinta bisa datang kepada siapa saja bukan?

Singkat saja ceritaku, mau dengar atau tidak?

Terserahlah, kalian bisa skip bagian ini.

Tanpa basa – basi aku akan memulainya.

 

Ya sekarang, tapi tunggu.

Berjanjilah kalian tidak mengataiku dengan kata ‘murahan’ ya meskipun aku memang murah sekali sih, bahkan tidak ada harganya sama sekali. Ha.

 

Jadi singkat saja, seperti perjalanan cintaku dengan pemuda itu yang begitu singkat , sampai aku merasa bahwa semua yang terjadi hanya sebuah mimpi indah dan selesai ketika aku terbangun.

 

Aku dan Sehun berpacaran selama satu tahun, dan terima kasih kepadaNya sang maha kuasa telah membuatku percaya bahwa di dunia yang kejam ini masih ada pemuda sebaik dirinya, dia membuatku lupa akan pahitnya luka di masalalu, semua yang ku lewati bersamanya terasa manis, lebih manis dari semua coklat yang pernah aku rasakan selama 22 tahun umurku ini.

 

Tapi satu kesalahan yang sengaja aku lupakan, fakta yang terus tersembunyi yang pada akhirnya menamparku juga.

 

Terlalu manis juga tidak terlalu baik, karena ketika aku sakit aku bisa sekarat lalu mati.

 

Itu yang ku rasakan, tepatnya 38 hari yang lalu Sehun memutuskanku, dengan satu alasan yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.

 

 

Lelakiku pergi.

 

Dia pergi dengan sebuah alasan yang membuatku mempertahankannya, membuatku membuka hati dan benar – benar mencintainya.

 

Awalnya

 

Sehun, aku ini wanita dewasa, usiaku 22 tahun berada dua tahun diatasmu, kau tidak mungkin mengencani wanita yang lebih tua darimu”

“apa tolak ukur kedewasaan selalu berlandasan bilangan usia? Apa hanya aku berada dibawahmu jadi aku tidak bisa melindungimu serta memimpinmu dimasa depan? Aku tidak pernah seserius ini dengan semua wanitaku, kau tahu aku lelah, aku hanya ingin satu cinta sampai akhir nanti, cinta terakhirku dan itu, kamu”

 

Lalu setelahnya adegan yang kami lakukan seperti cerita cerita dongeng yang aku sukai, dia menekuk lututnya, memohonku untuk terus bersamanya.

 

Tetapi tidak ada yang menjamin kan bagaimana kelanjutan kisahku? Aku sakit, dan sekarat saat ini.

 

aku telah memikirkan semuanya baik – baik, sebaiknya kita akhiri semua ini.”

“Sehun, aku mencintaimu”

“aku juga, bahkan sangat tetapi lebih baik kita akhiri sebelum semua lebih parah dari ini”

“kenapa”

“Alasannya karena usia, aku belum siap menikah, maksudku aku masih 20 tahun, kau tahu kan aku hanya karyawan biasa, hidupku masih jauh dari kata layak, aku takut, aku takut kau tidak bisa menungguku dan berpaling pada sosok pria yang punya segalanya, lalu aku? Baiknya seperti ini, sebelum aku terlalu jatuh semakin dalam, aku harus menyelamatkan diriku, dan mengertilah”

“Sehun, kau egois. Kau membuatku tenggelam bersamamu dan kau menyelamatkan dirimu sendiri tanpa menolongku”

“tidak, aku menolongmu, menolong  kita. Percayalah semua akan baik – baik saja, kita hanya butuh waktu”

“Sehun aku mencintaimu, ku mohon’

“maaf Jinhee, dan terimakasih”

 

 

Lalu setelah semua adegan konyol yang diiringi hujan air mata dariku kami berakhir.

 

Persetan dengan kata – kata kita hanya butuh waktu

Bukan kita, tapi aku.

Aku butuh waktu untuk melupakannya, dan dia butuh wanita lain untuk melupakanku.

 

 

Tentu saja aku lah yang paling bodoh dalam kisah ini, ini kisah paling jahat yang pernah aku alami selama hidupku, setidaknya sampai detik ini.

 

Aku pernah mencintai sebelum aku jatuh kepada pesona Sehun, aku pernah sakit hati sebelum aku berdiri dan bangkit bersamanya.

 

Tetapi ini semua terlalu cepat, Sehun berlalu terlalu dini sampai aku tidak sempat mengunkapkan bahwa begitu berharganya dia.

 

Seminggu setelah putus aku masih bisa melihatnya baik – baik saja, bahkan jauh lebih baik.

Aku yang sama sekali tidak baik, menjadi stalker itu tidak menyenangkan.

Dua meninggu setelahnya bahkan dia telah beberapa kali kencan dengan wanita.

Dan sialnya aku selalu tahu, sialnya aku selalu ingin tahu, dan paling sialnya selalu berakhir tragis dimana aku harus menangis.

Minggu ketiga, hidupnya begitu sempurna, ya sangat sempurna sampai semua pesan bodohku dia abaikan.

Sebenarnya sih wajar saja dia mengabaikannya, aku bukan siapa – siapanya.

Minggu keempat, semua telah menjadi biasa untukku, memang masih ada rasa aneh ketika aku tidak sengaja melihatnya atau sekedar berpapasan dengannya. Tetapi waktu memang mengijinkanku untuk lebih tenang, untuk lebih berlapang dada, dan telah ku bangun tembok pertahananku lagi, sedikit demi sedikit.

Minggu kelima, aku bahkan telah kembali seperti diriku sebelumnya, meskipun tidak seutuhnya, setidaknya bayangan dirinya telah memudar.

Tetapi semua hancur.

 

 

Hanya dengan satu kata yang ia kirimkan melalui pesan teks singat

 

“Rindu”

 

 

Semua tembok ku hancur, semuanya bahkan hanya sisa – sisa debu, tertiup angin pula, pokoknya habis.

 

Ternyata bayangannya belum menghilang sepenuhnya, aku masih mengingat bagaimana bentuk wajahnya.

 

Memori yang berusaha aku pendam menyeruak kembali, mengirimkan segala gambar juga emosi yang selama ini susah payah aku kubur,

Matanya

Hidungnya

Bibirnya

Aku tidak percaya, aku bahkan masih bisa mengingat pancaran cahaya matanya, merasakan sentuhan deru nafasnya, dan menganggumi indah senyumnya, aku bersumpah his smile, nobody could wear the sun better.

 

Dia masih menjadi pusat dimana duniaku berputar rupanya, masuk akal tentunya aku tidak bisa bermimpi tanpa tidur kan?

 

 

Dan semenjak saat itu, kegilaanku makin menjadi. Aku semakin giat menerornya dengan pesan pesan sampahku, aku yakin bahwa dia juga menginginkanku sebanyak aku menginginkannya, tapi nyatanya aku salah.

Dia bersikap dingin kepadaku, seolah dia menegaskan bahwa dia telah membuangku dan aku bukan lagi barang yang dia butuhkan.

 

Lalu untuk apa kata rindu?

Untuk memastikan bahwa aku memang masih tolol mencintainya sampai detik ini?

Jika ini adalah drama – drama favoritku mungkin kisah ini akan menjadi dimana dia menyadari tulusnya aku dan kembali kepadaku.

Tapi semua cerita manis hanya ada dalam drama bukan?

Yang ku hadapi adalah seorang pria yang mengatas namakan gengsi juga harga dirinya setinggi langit.

Atau memang dia tidak lagi peduli?

Tentu saja, wanita yang lebih cantik banyak yang rela menunggunya, menawarkan kebahagiaan yang lebih dari apa yang aku beri, jadi apa alasan untuknya memilihku, lagi?

 

Lagi.

Logika ku kalah fungsi dengan hati, dan bisakah hatiku bekerja dengan semestinya saja? Tidak usah mengontrol logikaku agar berbuat bodoh seperti ini.

Karena tidak ada artinya ketika aku mengungkapkan bagaimana rindunya diriku terhadapnya, aku menjelaskan bagaimana setiap inci juga sekon tentangnya yang tidak bisa lepas dari hidupku, aku menuliskan sebuah cerita indah dan manis untuknya, berharap setidaknya dia paham atau mengerti.

Tetapi yang aku dapatkan adalah jawab “Oh seperti itu”

 

Hanya itu?

 

Lalu apa yang seharusnya aku harapkan?  Mendapatkan sikap manisnya seperti dulu?

Bukankah aku mengenalnya?

Bukankah aku tahu bahwa tidak ada yang dia pedulikan didunia ini kecuali orang yang dia cintai, dan aku bukan lagi terdaftar sebagai orang yang ida cintai kan?

 

Jadi siapa yang jahat disini?

Dia yang tidak tahu diri karena telah kucintai sampai rasanya ingin mati.

Atau aku?

Sudah tahu dia telah bahagia tetapi tetap menjadi parasit yang menganggunya?

 

Sumpah inginku menghapusnya segera dari hidupku, inginku memberontak dengan keadaan ini. Ingin ku salahkan semua yang telah terjadi, tetapi dengan siapa aku harus lampiaskan semuanya?

 

Aku meneguhkan hatiku malam ini, aku memberanikan diri mengganti semua yang berkaitan dengannya, menghapus semua foto – foto kami dimasa lalu, berusaha mengenyahkan bahwa pernah ada bahagia diantara gambaran itu.

 

 

“Tuhan, aku pasrah, jaga dia, aku tahu tanganku tak akan sampai menggapainya apalagi memeluknya, aku titipkan semua rinduku kepadaMu,”

 

 

Semuanya akan kembali kepadaNya bukan? Semua yang memang milikNya, termasuk hatiku.

Mungkin esok akan menjadi hari baru, semoga saja Tuhan mengasihaniku dengan menghapus semua tentangnya, membuatku lupa memori indah nan menyakitkan itu.

Tiada yang tidak mungkin bukan ?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s