ImBRONDONGssible Love

ImBRONDONGssible Love

Author : MissCaramelizo a.k.a Suzy Choi

Casts :   Oh Sehun

                Choi Mira

                Oh Jong In as Sehun big brother

                Kim Haneul

                Choi Hana as Mira big sister

                Park Chanyeol as Sehun cousin

Genre : Married life, hurt, little comedy

PG : 15

Lenght : Oneshoot

Disclaimer: Alur cerita karangan author, dont copas, take out with full credits, happy reading guys.

..

.

Summary : Brondong memang begitu, pesonanya tiada akhir. Ingin diembat berasa ngga tega. Ingin dilepas berasa ngga rela.

 

Author POV

-2016-

Di malam hari yang purnamanya menyeruak menghiasi langit, nampak seorang yeoja masih dengan pakaian SMA dibonceng motor besar menuju kompleks perumahan elit. Rambutnya pendek, sengaja ia potong gaya laki-laki. Sepatu, tas, model baju, dan perawakannya benar-benar seperti laki-laki andai saja ia menggunakan celana bukan rok.

Yeoja itu akan pulang ke rumahnya, ralat –rumah orang tuanya. Setelah berpamitan dengan namchin backstreetnya, Oh Jong In, ia memasuki rumah orang tuanya. Dan sudah bisa ia tebak, appanya sudah stand by di depan pintu masuk.

“Sudah appa bilang, jangan pacaran, apalagi backstreet. Arraseo Choi Mira?” bentak Choi Sinbi, appa Mira, saat melihat Mira memasuki rumah dengan senyum gak jelas diikuti sekelabat suara motor besar berlalu dari depan rumahnya.

Ne, kamu itu masih SMA, malah pacar-pacaran, belajar dulu yang bener. Rangking kamu turun nih,” tambah Choi Hana, eonni-nya Mira.

“Tapi appa, namchin-ku baik kok. Dia yang menjagaku di sekolah, menggantikan appa,” sanggah Mira. Tak kan di biarkannya Oh Jong In lepas dari genggamannya. Bisa-bisa Kim Haneul jingkrak-jingkrak kegirangan mengetahui fakta itu.

“Tidak tetap tidak Mira. Kamu sudah appa jodohkan dengan cucu teman kakekmu. Jangan khawatirkan jodohmu, kamu tidak akan appa biarkan jadi perawan tua.” tegas Choi Sinbi.

“Lalu calon suamiku kabur di hari pernikahan kami? Oh, appa ingin kejadian Hana eonni menimpaku juga, eoh? Heran, kenapa keluarga itu tak berhenti ingin jadi keluarga kita, huh!” cerocos Mira dengan bibir ngedumel kesal.

‘PLAK..’

Tamparan keras itu diberikan oleh appanya sendiri. Sedang eonninya entah sudah sejak kapan tak lagi disitu.

Appa?” Mira menimpali dengan suara lemah. Detik berlalu, yeoja itu kini sudah ada di jalanan malam kota Seoul. Ledakan hormon pubertas menguasai dirinya kini, hingga berani kabur. Ia tak terima, benar tak bisa terima, appanya menentang hubungannya.

Apa yang salah dari ucapannya tadi? Memang benar kan calon suami eonninya kabur sebelum pemberkatan karena mempelai pria yang dijodohkan dengannya kabur entah kemana. Dan menyebalkannya lagi, keluarga itu masih saja terus ingin menjadi besan dari keluarga Mira. Karena janji kakek Mira dengan keluarga itu.

 

Mira POV

Sial, sungguh sial. Mungkin hari ini Dewi Fortuna sedang sibuk, hingga lupa memberi secercah keberuntungannya padaku. Siang tadi, aku baru saja mendapati fakta bahwa aku ada di urutan kedua nilai ujian kenaikan kelas di International Senior High School of Seoul Academy. Tebak nama siapa diatas namaku? Kim Haneul, musuh bebuyutanku.

Oh Jong In, dia coba menghiburku dengan mengajakku kencan di Lotte World, dan baru pulang saat matahari sudah bersembunyi di peraduannya. Appa jelas saja marah, dia menamparku karena lagi-lagi aku mengungkit masa lalu Hana eonni.

Berakhirlah aku disini, menyusuri trotoar jalan Seoul yang tak pernah sepi, entah mau kemana, ku biarkan kakiku ini melangkah dengan sendirinya.

‘BUK..’

Debum buku jatuh mengembalikanku pada kehidupan nyata. Itu jelas suara buku, buku apa bentuknya yang debumnya sekeras itu. Pasti orang yang kutabrak ini si cupu kutu buku yang baru saja pulang les belajar.

Hyak..! Neo? Kurang sial apa lagi aku hari ini coba, aish..” gerutuku sebal.

Noona, ambilkan bukuku, kau menjatuhkannya,” suara anak laki-laki menyahut.

Mwo? Neo.. Aish jinjja, arraseo,” aku tak ingin memperpanjang masalah, ku putuskan menunduk mengambil buku anak itu.

“Buku apa ini? Berat sekali, seribu halaman, eoh?” keluhku sambil memberi tepat pada telapak tangan anak itu.

Ige, puas? Aigoo, kamu murid SMP, eoh? Ku kira kamu masih SD,” ledekku saat ternyata di buku itu tertulis kata SMP, sedangkan tinggi anak lelaki itu tak lebih dari ketiakku. Padahal aku di kelas sudah di sebut cebol, karena tinggiku tak lebih dari 156cm.

Gomawo, noona. Ah ye, buku ini 1234 halaman, kalau kau ingin tau,” ucap anak lelaki itu sambil berlalu. Dia tampak sangat mungil menerobos kerumuan orang-orang yang jauh lebih tinggi darinya.

 

..

 

Setelah berkeliling kota Seoul hingga tengah malam, aku memutuskan pulang. Tak tau ingin kabur ke mana. Jika aku ke rumah sahabatku, jangankan untuk menampung diriku, keluarganya saja harus bergiliran tidur di kamar. Ke rumah Jong In, aku masih punya harga diri. Selama 3 bulan pacaran, aku tak pernah membiarkan Jong In macam-macam. Padahal aku tau, kalau Jong In itu badboy kelas kakap, dengan sekali kedip, yeoja di depannya dapat di pastikan sudah dalam keadaan naked. Tapi itu tak berlaku selama Jong In pacaran denganku.

Dengan wajah tertunduk, aku berjalan terus tanpa memperdulikan sekitar, menuju kamarku. Dan tebak apa yang terjadi dengan kamarku. Kardus-kardus sudah berjajar rapi dengan lemari bajuku yang terbuka.

Eoh, wasseo? Appa kira kamu tidak akan pulang lagi, baru saja baju-bajumu akan appa sumbangkan ke panti asuhan,” tanya appa sarkatis padaku.

Appaaaaa~~…??” rengekku manja, dengan menampilkan aegyoku.

Aigoo, anak appa masih suka manja ya? Appa kira, Mira-ku sudah dewasa, sampai-sampai berani kabur dari rumah,” ucap appa sembari memelukku.

“Walau akhirnya balik lagi, aigoo. Kamu butuh pelajaran kabur, Mira-ya,” tambah Hana eonni.

Dan kami bertiga pun ketawa lepas bersama. Adakah yang lebih hangat dari sinar mentari di padi hari yang melelehkan embun? Ada. ‘Keluarga’ jawabku lantang, bila saja ada yang bertanya begitu.

 

..

 

Author POV

Choi Mira sudah duduk di bangkunya tepat sebelum bel masuk berbunyi. Semalam, ia mendapat kabar bahwa satu-satunya sahabat yang dia punya pindah sekolah. Karena keluarganya tak mampu menyekolahkannya di sekolah yang sama dengan Mira itu lagi. Masalah ekonomi pemicunya. Jadi mulai hari ini hingga ia lulus nanti, sangsi kiranya bakal ada yang menjadi sahabatnya, ah setidaknya teman.

Terbukti sekarang, sejak dia memasuki ruang kelas, sorot mata tak suka sudah ia dapat dari teman sekelasnya. Orang-orang di kelasnya sudah ada di bawah pengaruh Haneul sejak kelas 1 SMA sehingga mulai memusuhinya dan berlanjut hingga mereka menginjak tahun kedua di sekolah ini. Tak ada alasan lain, selain peringkat pertama se-sekolahan, dan akhir-akhir ini bertambah karena lelaki yang di sukai Haneul malah pacaran dengan  Mira.

“Hei, kau tau tidak, Mira itu sok jual mahal, bahkan sama pacarnya sendiri,”

“Oh ya? Kasihan Jong In, dia dulunya badboy kelas kakap, dan sekarang, jangankan menyentuh yeoja lain, pacarnya sendiri pun tak bisa ia sentuh,”

“Auh, betapa malang nasib Jong In, poor him,”

“Dia pasti tersiksa mental,”

“Bagaimana kalau kita yang menyentuhnya duluan? Hahaha..” celetuk salah satu dari gerombolan lelaki penggosip itu. Tak tahan dengan gunjingan itu, Mira melangkah menuju meja kumpulan lelaki itu, dan…

‘BAAAM’

Suara punggung yang mendarat pada lantai keramik itu begitu keras terdengar. Membuat yeoja itu menjadi pusat perhatian sekawanan orang-orang dikelasnya yang kini sudah mengerumuninya membentuk lingkaran.

“Kau ingin menyentuhku, eoh?” tanya Mira sakartis sambil meraba pelipis namja  itu dengan ujung telunjuknya.

“Biarkan kepalan tanganku duluan yang menyentuhmu, ba-bo,” tepat pada kata terakhir, kepalan tangan itu sudah meninju rahang kiri namja itu. Dengan kesal, namja itu coba mendorong kebelakang Mira, alhasil, Mira terjengkang dengan salah satu kakinya hampir terkilir, andai ia tak sigap.

“Oh, kamu ingin kakiku juga menyentuh tubuhmu, eoh? Arraseo,” dan kaki Mira pun menendang tulang kering, di lanjut dengan hantaman keras pada selangkangan namja itu. Tanpa Mira sadari, ada salah seorang yang mengabadikan momen itu dalam video amatir.

 

..

 

..2018 (Hari Kelulusan)..

 

..

 

Ada yang hilang dari derap langkah di sepanjang koridor dari aula itu, hampa. Langkah itu tanpa rasa, tidak pula dengan nada yang mengalun seirama. Mira, yeoja itu keluar dari ruang aula, bahkan sebelum acara penamatan anak kelas 3 selesai. Ya, waktu berjalan cepat, menggulirkan kisah-kisah yang kian berlalu. Tapi tidak pada kondisi Mira yang di drop out dari 10 besar peringkat tertinggi di sekolahnya, peraturan itu masih berlanjut bahkan sampai saat pengumuman peringkat di ujung tahun masa SMAnya.

Bullshit, dengan membanggakan orang tuanya. Hanya gara-gara tindakannya yang gegabah dan sering lost control, dia di cap sebagai siswi tak bermoral yang bertindak ala brandalan. Ditambah video sialan itu, kepala sekolah setuju untuk tak memasukkan namanya dalam peringkat 10 besar selama dia masih berstatus sebagai pelajar di sekolah itu.

Nilainya? Tak berpengaruh, meski brandal, tak pernah belajar, tapi dia tak pernah tidak mendapat nilai sempurna di semua mata pelajaran. IQ yeoja itu 158, sudah cukup menjadi alasan otaknya begitu encer.

Untuk apa nilai tinggi, kalau justru di depan banyak relasi bisnis appanya sekaligus orangtua murid di sini, dia tak kelihatan naik ke atas panggung sebagai 10 besar?

Di belakangya ada kaki lain yang melangkah lebar-lebar, mengikutinya. Oh Jong In, namja dengan peringkat ke-3 dari belakang itu nampak santai, sama sekali tak terganggu dengan urusan peringkatnya. Melihat Mira sudah terduduk dengan menyandar pada tembok di dekat taman, langkahnya pun di perpendek. Berhenti tepat di depan Mira.

Gwenchana, chagi-ya~, uljima..” ucapnya sambil mengelus rambut pendek Mira.

Appa, mianhae, hiks~~” Mira tetap terisak. Jong In coba menarik tangan Mira, meletakkannya di punggungnya, menuntun kepala Mira untuk bersandar tepat di dadanya. Tak ada penolakan dari Mira, yang dianggap Jong In sebagai lampu hijau setelah lebih 2 tahun bersamanya, baru kali ini Mira melakukan skinship dengannya.

Uljima, Mira-ya. Ah, ya, 320 dikurang 3 itu berapa ya?” tanya Jong In masih menepuk nepuk pelan punggung Mira.

“tiga..satu..tujuh,” jawab Mira dengan kepala masih di dada Jong In membuat suaranya tertahan.

“Hahaha, itu peringkatku,” tawa renyah Jong In membuatnya menampilkan gummy smilenya yang begitu cute. Jong In menangkupkan telapak tangannya pada kedua pipi Mira, mencoba mendekatkan wajahnya pada Mira. Hingga napas keduanya berbenturan pada pipi masing-masing, Jong In memiringkan kepalanya.

‘CUP’

Tak ada lagi jarak antara keduanya, bibir Jong In sukses menempel pada bibir pulm Mira. Belum sempat melakukan pergerakan apapun, Mira tersadar akan posisinya. Dengan refleks ia langsung berdiri dan memalingkan wajahnya dari Jong In.

Gomawo, aku sudah tidak sedih lagi. Keurigo, annyeong Jong In-ah, ppai..ppai..” ucap Mira yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Jong In. Setelah punggung Mira sudah tak nampak dari pandangannya, bibir itu menorehkan smirk, yang kelihatan sangat licik dan misterius.

 

..

 

Sedang di belahan dunia yang jauh dari Korea Selatan, Jerman, seorang anak laki-laki –yang masih terlalu belia untuk duduk di bangku 3 SMP, melakukan presentasi atas penemuannya di bidang matematika. Bahasa yang digunakannya sangat sulit dimengerti oleh orang awam, tapi justru itulah yang mendapat stand applause seperti sekarang, sesaat setelah salam penutup di ucapkannya.

“Sehun Oh, you’re awesome, I hope you become a winner on this competitin. Congratulation..” kata salah satu dewan juri.

Thankyou,” jawab Sehun –anak laki-laki itu terkesan dingin. Tapi bagaimana lagi, memang itu wataknya. Ia menganut prinsip, speak less do more.

Dan benar saja, Sehun berhasil membawa pulang piala yang tingginya melebihi tinggi badannya sendiri. Ketika Sehun tiba di rumahnya, seorang namja yang baru saja merayakan kelulusan SMAnya sedang duduk santai di depan televisi.

Hyung, long time no see, how are you?” tanya Sehun ceria.

I prefer not see you,” jawab Jong In sinis.

 

Sehun POV

Lagi-lagi Jong In hyung sinis padaku, padahal kami saudara. Ya, meski hanya saudara tiri. Eomma kami beda. Eomma Jong In hyung lahir di keluarga yang terpandang, sederajat lah dengan appa. Tidak dengan eommaku, yang hanya menajdi selir appa, lalu dibuang setelah lahir aku.

Kami satu appa, tapi terlalu banyak perbedaan diantara kami. Jong In hyung tinggi –sangat sedangkan aku lebih sering disebut cebol olehnya. Jong In hyung selalu peringkat terakhir di sekolahnya sedangkan aku selalu peringkat pertama. Jong In hyung pintar sekali olahraga, sedangkan aku tidak.

Kalau masalah tinggi aku masih bisa mengelak dengan alasan aku belum puber padahal aku di bangku SMP. Tidak, bukan karena aku tidak normal. I’m totally normal. Tapi, aku lulus SD pada usia 10 tahun, SMP mengambil aksel, jadi di usiaku yang baru 12 tahun, aku sudah akan masuk SMA saat Jong In hyung memasuki dunia perkuliahan.

Yeobseyo, Haneul-ah..”

“—“

Chukkaeyo, kamu peringkat satu lagi,”

“—“

“hahaha, kamu memang kreatif, dengan satu langkah brilian, titel sebagai peringkat satumu terjamin hingga akhir”

“—“

Aniya, untuk yeoja secantik dirimu, apa yang tidak? Mari ketemu di cafe Remix jam 7 malam nanti ya,”

“—“

Aku mendengar seluruh percakapan Jong In hyung dengan yeoja bernama Haneul itu. Jong In hyung benar-benar bahagia kelihatannya. Tak berselang lama, layar intercomm kami menampilkan wajah yeoja yang pernah ku lihat 2 tahun silam. Aku hendak membukakan pintu untuknya. Ku dengar Jong In hyung bergumam, “Sudah banting harga, eoh? Ciih..”

Annyeong chagiya, wasseo? Baru pertama kali kamu ke sini, musun iriya?” tanya Jong In hyung pada noona itu dengan ekspresi sok bersahabat, padahal sebelumnya dia mengumpat.

Ani. Jong In-ah, aku sempat berpikir bagaimana kalau aku tarik saham appaku di perusahannya appa Haneul, apa kira-kira dia akan jera?” tanya noona itu yang kini sudah duduk bersandar di rangkulan Jong In.

“Jangan gegabah, chagi. Ini hanya masalah peringkat, arraseo? Jangan sangkut pautkan dengan urusan bisnis, besar dampaknya loh,” sanggah Jong In.

Geunyang, aku kesal sekali dengan Haneul, sejak kelas 2 SMA aku tidak pernah lagi merasakan peringkat 1, huh!” gerutu noona itu lagi.

Samchiman, Mira-ya, ku rasa kau harus pulang, ini sudah malam, nanti appamu marah lagi,” tawar Jong In hyung yang langsung disetujui oleh Mira noona –nama itu yang ku dengar tadi. Ba..bo noona. Poor you..!

 

 

-2020-

 

Hingga aku lulus SMA via akselerasi lagi –yang berarti Jong In hyung semester 4 di universitas, Jong In hyung masih terus saja bertemu dengan Haneul noona, dengan frekuensi yang lebih ekstrim. Sehari mereka bisa bertemu 3-4 kali. Sedangkan Mira noona entah, sudah lama aku tak melihatnya. Tapi kabarnya, Jong In tetap menjalin hubungan dengan Mira noona, meski LDR.

Masih segar di ingatanku yang super canggih ini, Mira noona menahan tawanya melihatku yang bertubuh mungil ternyata murid SMP. Andai kami di pertemukan lagi, mungkin dia akan tercengang melihatku yang kini mulai memasuki dunia perkuliahan jurusan matematika bisnis tahun ini.

Aku tak sependek dulu, hormon pubertas memang luar biasa. Kini tinggiku 187 cm, dengan bahu lebar, dada bidang, suara bass, dan otot yang menonjol di beberapa bagian tubuhku. Aku sangsi dia tak kan tercengang melihatku saat ini. Jong In hyung, kalah jauh, tubuhku kini lebih tinggi darinya dan lebih tegap pula.

 

..

 

-2023-

Selama kuliah, pesonaku tak pernah luntur, malah semakin bersinar, berkat kefasihanku memimpin organisasi kemahasiswaan. Terlebih, IP-ku yang tak pernah lari dari 4,00, dan tidak adanya huruf selain A dan A+ di raporku. Tak heran hanya dengan 3 tahun, aku menyelesaikan skripsiku dan langsung wisuda kelulusan S1.

Jong In hyung 1 tahun lebih dulu dariku untuk memasuki dunia kerja, walau hanya di kantor appa. Tak ingin kalah, setelah lulus, aku juga mengikuti jejak hyung di kantor appa. Bedanya, Jong In hyung langsung menempati posisi asisten manajer, aku memilih menjadi OB dan tukang fotokopi.

 

Author POV

Seorang yeoja memakai dress berwarna pastel memasuki kantor pusat PT.Oh Adversiting. Kulitnya begitu bersinar apalagi saat sinar matahari yang berhasil menembus kaca jendela pagi itu mengenai kulitnya, siap-siaplah kaca mata hitam.

Langkah anggunnya memasuki ruangan Jong In, disana ada Jong In dan Haneul yang menurut penglihatan Mira sedang ngobrol berdua, it’s okay. Tanpa tau bahwa mereka baru saja menyudahi ciuman panasnya.

“Mira-ya, long time no see,” sapa Haneul dan diangguki Mira.

“Selamat datang di Korea Selatan bu dokter muda,” sapa Jong In sambil memeluk Mira.

Tak berlama-lama, Mira langsung saja memberikan pilihan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan, mulai dari gaun, tempat, konsep, dll. Jong In yang awalnya ceria, mendadak jadi murung. Haneul juga, pertama kalinya dia merasa iba pada musuhnya yang sedang menjelasakan buku ditangannya dengan sangat excited.

Eotthe?” tanya Mira sebagai pemungkas.

“Em.. Mira-ya,” ucap Jong In ragu.

“Begini. Ige otteokhae? Emm..Kami, aku dan Haneul, akan  menikah 1 bulan lagi,” lanjutnya.

Mira mundur beberapa langkah hingga ia menemukan tembok untuk bersandar. Entah petir dari mana di pagi hari yang sangat cerah ini, yang mampu menyedot energi pada kedua kakinya menjadi jeli untuk sekejap.

“Kalian.. Kau.. Haneul.. menikah? Jangan bercanda, huh, tidak lucu tau,” sangkal Mira dengan tertawa sumbang.

“Aku sudah megandung anak kami, sudah 1 bulan,” ucap Haneul tanpa babibu.

Tak ada pilihan lagi selain keluar dari ruangan mereka segera. Mira tak ingin mempermalukan dirinya dengan mengamuk di tempat kerja orang. Takdirnya begitu malang, pacarnya selingkuh dengan musuhnya. Tanpa meninggalkan tamparan atau bentakan apapun, Mira pergi.

 

Di sepanjang jalan menuju pintu keluar, mata itu sudah berkaca-kaca. Seorang namja mendekatinya, dia memakai seragam OB di kantor itu. Oh Sehun, nama itu tertulis pada seragamnya, tapi sayang, Mira tak melihat itu.

Ige,” ucapnya mengulurkan tisu.

Nugu?” tanya Mira sambil meneliti wajah namja itu.

Ah molla, gomawo ne,” pungkasnya sambil berjalan keluar.

 

..

 

Sehun yang tiba di rumah terlebih dahulu, sudah siap dengan bogemannya untuk Jong In. Dan benar saja, Jong In tiba dengan muka yang berseri-seri, seperti tidak sadar akan kesalahannya.

‘BUGH’

Satu tinjunya mengenai rahang kiri Jong In.

‘BUGH’

Satunya lagi mengenai perut Jong In.

Tak terima atas perlakuan adiknya, Jong In terlarut dalam permainan tinju-meninju ini. Hingga datanglah Oh Seunghan melerai anak-anaknya. Keduanya digelandang menuju ruang keluarga.

“Kalian ingat Park Chanyeol, sepupu kalian, yang kabur di hari pernikahannya dengan Choi Hana?” tanya appa mereka. Keduanya mengangguk.

“Kakek kalian dengan kakeknya Hana pernah terikat perjanjian untuk menjadi besan. Berhubung beliau hanya punya 2 cucu yeoja, dan salah satunya sudah menikah, maka tinggal satu yeoja lagi,”

Appa, aku tak bisa, aku sudah akan menikah dengan Haneul,”

“Sehun eotthe? Dia hampir seumuranmu, meskipun dia noona, tapi kamu yang menyelesaikan sarjanamu lebih dulu. Choi Mira namanya,”

“Mira? Hyung, Mira mantan pacarmu?” tanya Sehun buru-buru.

“Molla. Mantanku Choi Mira juga, anaknya PT. Hyunbi Tech, majayo, appa?”

Ne, kamu pernah pacaran dengannya, kenapa tidak bilang, eoh?”

“Mereka backstreet appa, lalu LDR, dan baru tadi pagi, Jong In hyung memutuskan secara sepihak hubungan mereka. Arraseo appa, aku bersedia menikah dengan Choi Mira noona. Tapi izinkan aku ikut pendidikan kepolisian appa, aku ingin menjadi polisi.”

Keduanya kaget akan keputusan Sehun, tapi tak bisa berbuat banyak, akhirnya mereka setuju. Setelah pernikahan Jong In dan Haneul, Sehun akan berangkat mengikuti pendidikan kepolisian selama 1 tahun.

 

..

 

Mira POV

Di saat teman-teman SMA kami mengirim rangkaian bunga ke pernikahan Jong In, aku membawa kado spesial. Sebuah box, tempat tidur bayi super gede, hanya dibungkus plastik transparan bertuliskan “Hi, Mom and Dad, I’ll come to the world soon. Wait me less than 7 months”. Box bayi itu sengaja ku sejajarkan dengan rangkaian bunga-bunga ucapan selamat.

Dengan tersenyum puas, aku memasuki hotel tempat resepsi. Saat aku melenggang sendirian, tiba-tiba tanganku dirangkul oleh seorang namja tinggi.

Kajja,” ucapnya tak membiarkanku mengajukan penolakan.

Sesampainya antrianku untuk menyalami kedua mempelai, ku lantangkan kata-kata pedasku, “eonni, dapat kado tuh, box bayi. Oh ya, box bayinya tadi bilang kalau bayinya akan cepet brojol. Hamil tuh kan 9 bulan ya, tapi kok box-nya tadi bilang, suruh nunggu kurang dari 7 bulan ya? UDAH TEK DUNG YA.??!!”

Dan tak mau berlama-lama lagi, ku salami keduanya dengan kilat, karena Haneul sudah kelihatan pucat menahan malu. Saat tiba di bawah panggung, benar saja, Haneul pingsan.

Ku keluarkan smirk ku, “Makanya ibu hamil gak usah berdiri lama-lama, kan—pfst…” belum selesai kalimatku, mulutku dibekap oleh namja tadi.

“HYAAAK… Dangsin nuguseyo? Khabayo..!

Shirreo,” jawab namja itu singkat. Sial, ngajak berantem nih.

Belum sempat mengeluarkan jurus-jurus pamungkasku, tanganku di gelandang ke tempat remang yang terpencil dari keramaian orang. Aku baru tau ada tempat seperti ini.

“Sepertinya bibirmu ini perlu diberi pelajaran, NOO..NA..!!”

Dan sepersekian detik bibir namja itu sudah menempel tepat di atas bibirku. Tanpa memberiku kesempatan untuk berpikir dimana aku pernah mendengar kata ‘Noona’ ini, bibirnya mulai melumat bibirku. Baru mulai menggerakkan bibirnya, aku tersedak.

Ya, amat memalukan. Ini ciuman pertamaku yang dengan lumatan. Aku noona-nya, dia dongsaeng alias brondongku, tapi malah aku yang keliatan amatir begini. Namja itu memberiku satu kecupan lagi.

Ige, puas? Aigoo, kamu noona, eoh? Ku kira kamu yeoja perawan amatir,” kata-kata namja itu seperti deja vu bagiku. Otakku bekerja keras mengingat dimana pernah mengalami kejadian yang serupa. Nihil. Otakku yang cerdas ini penuh dengan istilah-istilah medis yang terlalu banyak ku hapal.

Nuguya? Nappeun neo,” ucapku lalu pergi meninggalkan pesta itu.

 

..

 

Sejak kissing di pesta itu, namja yang tak ku ketahui namanya ini, terus saja mengikutiku seperti anak ayam. Pergi ke bioskop, ke mall, bahkan meeting antar sesama dokter, dia ada di sampingku.

“Mira-ya, namchinmu?” tanya salah satu rekan dokterku.

Aniya, dia dongsaengku. Aigoo, uri dongsaeng kyeowo~~” ucapku sambil mencubit pipinya. Ini pipi apa bisep temannya trisep ya, keras dan alot sekali.

Satu lagi saat  di game zone, dia menembak dengan sempurna dan mendapat boneka Hello Kitty super gede. Sang pemilik sangat kagum, dan meminta kami berfoto bersama.

Agasshi, mitosnya kalau ada pasagan berfoto disini dengan boneka hadiahnya, hubungan mereka  akan langgeng loh. Ah ya, namchinnya siapa namanya?” kata ahjusshi itu mengambil pulpen ingin menulis di sebuah kertas.

Ahjusshi, mian…” ucapku coba menyanggah ucapan ahjusshi itu, tapi terpotong oleh namja tadi.

“Oh Sehun dan Choi Mira, juseyo ahjusshi,” tambah Sehun sambil tersenyum ramah.

 

..

 

Aku cengo melihat namja satu ini yang katanya bernama Sehun. Setiap aku memandang suatu benda lebih dari 5 detik, maka ensiklopedia di otaknya akan mengirim signal pada bibirnya untuk menjelaskan. Seperti tadi, saat dengan kagum aku memandang boneka Mickey Mouse. Sehun menjelaskan kalau pembuat Mickey Mouse ini sebenarnya takut tikus, dan blablabla.

Andai ku tatap langit-lagit taman bermain ini, pasti dia juga akan menjelaskan komposisi baja ringan yang menopang atap. Apalagi kalau aku jalan menunduk, Sehun akan berubah menjadi ahli filsuf, yang akan menjelaskan filosofi-filosofi terkait lantai.

Aku heran, apa di dalam otaknya ada search engine semacam Google gitu ya? Tokcer sekali otaknya. Udah, kapok aku jalan sama dia.

“Sebentar sore, dandan yang cantik ya Mira,” ujarnya tanpa embe-embel noona.

 

..

 

Author POV

Tak ingin seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Mira justru dandan ala brandalan seperti saat ia masih SMA. Hot pants model rip jeans, dan kaus denim warna hitam, ditambah rambut panjang yang terikat asal-asalan dan kacamata berbingkai besar dia pakai.

Hana yang tak biasanya datang, kini datang dengan anak dan suaminya. Mira sudah berprasangka yang buruk-buruk. Dan tepat sekali, sesaat kemudian, mantan pacarnya, mantan musuh SMAnya, teman ayahnya, dan Sehun turun dari mobil. Mira yang sedang memasukkan kucingnya dalam kandang, cengo.

Tak tanggung-tanggung, Hana menarik Mira tepat pada kerah belakang bajunya ke kamar. Hana adalah tipe feminim dengan koleksi gaun se-abreg, dan tukang make up kilat. Buktinya sekarang Mira sudah menggunakan dress soft-pink sederhana, dan make up tipis.

“Oh Sehun..Oh Jong In.. eonni apa mereka kakak beradik?”

“Kamu gadaikan dimana otakmu, eoh? Iya, Sehun adiknya Jong In,” bibir Mira membentuk huruf O.

Hana yang tadi ada bersama Mira lenyap turut berbaur ke keramaian di ruang tamu. Yang ada bersama Mira sekarang hanya brondong kece bernama Sehun.

“Apa harus degan bibirku ku tutup mulutmu supaya tidak kemasukan nyamuk, eoh?” tanya Sehun.

Ralat, bukan brondong kece. Meski.. yah, Sehun memang kece –dalam artian keren cetar. Lebih rinciya Sehun ini brondong mesum yang kece. Brondong memang begitu, pesonanya tiada akhir, mau diembat berasa ngga tega, mau ditinggal berasa ngga rela.

Kajja, keluarga kita sudah menunggu,” ajaknya.

..

Ahjussi, noona, hyung, aku ingin menikahi Choi Mira, izinkan aku meminangnya,” suasana tampak tegang.

“Kalau kami setuju-setuju saja, kami serahkan langsung pada Mira, silahkan di jawab,” kata Sinbi santai.

Appa, anaknya mau dipinang sama orang ngga jelas gini kok langsung main setuju-setuju saja. Kenapa kamu ingin menikah dengan saya?” Mira menggerutu sebal dengan bibir mengerucut.

“Karena titah dari kakek saya. Selebihnya tidak ada.” Sehun tetap tenang, seperti air tak beriak.

“Hanya itu?”

“Iya sebab mencintai tidak butuh alasan. Kalaupun ada, alasan itu akan bersifat dinamis. Mungkin saat ini saya mencintaimu demi menjalankan titah kakek saya, suatu saat nanti, bisa jadi karena adanya buah hati kita,”

“Umur saya jauh lebih tua dari kamu, apa tidak masalah?”

“Tidak, asalkan rahimmu masih mampu melahirkan banyak anak untuk saya, tidak ada kata tua untukmu,”

“Saya lulusan kedokteran di universitas Tokyo, dan sekarang bekerja sebagai dokter gigi di RS pusat Seoul,”

“Saya lulusan termuda jurusan matematika bisnis di Seoul university. IQ saya 178. Bekerja di PT Oh Otomotif.”

“Sebagai OB?” Mira coba meng-skakmatt Sehun. Sehun tersenyum segaris, lalu mulai bicara.

“Ya, saya bekerja sebagai OB. Selepas lamaran ini saya akan mengikuti pendidikan kepolisisan selama 1 tahun untuk menjadi polisi abdi negara,”

“Huh..! Terserah appa, aku nurut appa,”

 

..

 

Selepas perdebatan selama prosesi lamaran, akhirnya kedua keluarga setuju, pernikahan mereka di laksanakan 1 tahun lagi, setelah pelantikan Sehun menjadi polisi. Sekarang Mira sedang melepas Sehun untuk pergi.

“Mira, aku akan merindukanmu,” ujar Sehun memble banget.

“Aku juga tidak akan merindukanmu,” jawab Mira tenang.

“Mira-ya~~” rengek Sehun manja.

“Panggil aku noona. Aku noona-mu, arra?” tegas Mira tak bisa di bantah.

“Untuk apa panggil noona, kalau nanti aku akan lebih sering memanggilmu chagi, yeobo, baby, honey. Atau Mommy aja deh, biar nanti anak-anak kita pada ngikut,”

“Mesum,”gumam Mira.

“Kalau aku ngga mesum, kita punya anaknya kapan?” tanya Sehun mulai menggoda.

“Kalau udah nikah lah. Sekarang sekolah dulu sana biar jadi polisi,” usir Mira dengan mendorong Sehun ke dalam mobil. Sehun justru ikut menarik Mira hingga tubuh mereka saling bertindihan di dalam mobil.

Kiss?” tanpa menunggu jawaban, Sehun sudah melumat bibir pulm rasa ceri itu. Lumatan itu sudah tak seperti pertama kalinya mereka ciuman. Bisa dibilang yang dulu itu masih amatiran, yang sekarang sudah profesional.

 

..

___1 tahun berlalu; 2024___

..

Ne, aku bersedia,” jawab Mira pada pendeta dia altar tempat mereka mengucapan janji pernikahan.

“Mempelai pria silahkan mencium mempelai wani–” belum sempat pendeta itu menyelesaikan kalimatnya. Bibir Sehun sudah tepat melumat bibir Mira tanpa rasa malu sama sekali. Sudah hampir 10 menit kedua bibir itu beradu, sepertinya tak akan ada kata berhenti.

“Ekhem..hem..hem..” Jong In berdehem keras-keras coba mengiterupsi kegiatan adik dan adik iparnya itu. Geli mengatakannya, mantan pacarnya itu sekarang berganti titel jadi adik ipar. Huh..

Dengan tak sabaran, Sehun menyelesaikan urusan pernikahannya di gereja. Resepsi? Sehun sengaja menunda resepsi dan segala macam tradisi di kepolisian untuk anggotanya yang menikah. Setelah selesai, langit itu masih menampakkan sinarnya, sangat menyilaukan. Tapi tak Sehun pedulikan, dia tetap menggelandang Mira memasuki mobilnya, menuju apartemennya.

Pintu apartemen itu mungkin saja akan protes andai bisa bicara, Sehun beberapa kali salah memasukkan sandi. Sekalinya terbuka, ia langsung membanting pintu masih dengan tangan Mira di genggamannya. Tak menunggu sampai di kamar, Sehun sudah menghimpit tubuh Mira dengan tubuhnya dan tembok.

Tak bisa berkutik, gaun pernikahan hasil rancangan designer tenar itu tinggal seonggok kain yang robek dimana-mana. Jangan bayangkan bagaimana kondisi Mira sekarang. Peluh menganak sungai di seluruh tubuhnya. Sehun benar-benar gila, Mira digarapnya selama 4 ronde sekaligus tanpa istirahat.

“Huh..hah.. jaljayo yeobo,” ucap Sehun sebelum memejamkan mata. Ruangan itu gelap, tentu saja sejak dipakai siang tadi sampai sekarang waktu menunjukkan pukul 9 malam, mereka tak beranjak dari tempat tidur. Tidak untuk sekedar menyalakan lampu.

Wajah Sehun terpancar oleh pantulan sinar rembulan. Mempesona. Mira tersenyum kecil, tak dia sangka, anak SMP yang dulu di kiranya masih SD, sekarang tumbuh semenakjubkan ini.

Saranghae, Sehun,”

“Emm..na..do.” jawab Sehun masih dengan mata tertutup.

“Kau belum tidur, eoh? Omo..” tanya Mira dengan semburat merah di kedua pipinya yang kini menjalar hingga hidungnya.

“Jangan buat aku mengarapmu untuk ke-lima kalinya malam ini, Mira-ya,”

Dan di saat inilah, Mira sadar. Ia tak punya alasan untuk mencintai Sehun. Dia tak butuh cinta yang besar, dia hanya butuh cinta yang tidak punya akhir. Karena mencintai yang membahagiakan hanyalah saat cinta itu tak ada ujungnya.

__END__

Suzy Choi hadir lagi, dengan ff yg masih bawa-bawa tema married life. Mian, kalu banyak typo. Visit my wattpad  on @MissCaramelizo kalau mau baca cerita dan ff chapter. Thankyouu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s