(Author Tetap) Marry Me? (sequel of You and I)

6kn2nsutoy

story by: blank.

Park Chanyeol, OC | oneshot | general | romance

–sequel of You and I–

\(^o^)/

Wanita itu menghembuskan napasnya untuk yang kesekian kali, beruasaha untuk tetap tenang bahkan pada saat ponselnya memberitahu jika manusia yang sedang ia telpon dalam keadaan tidak aktif.

Dia merebahkan punggungnya pada senderan kursi di kafe itu, memandang jenuh pada jendela di sampingnya, memperhatikan banyak mobil berlalu-lalang, lalu netranya melirik barang sebentar ke arah jam di pergelangan tangannya.

Sudah jam lima sore dan manusia yang ia tunggu belum juga datang, tak mungkin bahwa manusia itu lupa. Bahkan wanita itu baru mengiriminya pesan singkat lima menit lalu. Dan sudah enam kali pelayan wanita itu menghampiri mejanya, menanyakan apa yang ingin ia pesan dengan wajah yang lama-kelamaan tampak jengkel. Ia hanya tersenyum, bilang jika yang ia tunggu belum juga datang.

Jadi ia putuskan, ia akan menunggu tiga menit lagi. Sebelum benar-benar tepat jam lima sore.

Rasanya, tiga menit berlalu dengan sangat lama, wanita itu menarik napas jengah, bersiap meninggalkan kafe dengan tatapan jengkel dari sang pelayang wanita.

Dia berjalan pelan menyusuri jalanan ibu kota yang mulai di selimuti salju dengan wajah tertekuk, tak bersemangat untuk menghabiskan malam dingin seorang diri. Ia butuh seseorang.

Ia butuh pria-nya.

Tapi mana? Bahkan laki-laki sialan itu mematikan ponselnya, tak menggubris panggilan rindu darinya.

Ia rindu, ingin sekali rasanya menyesap pelan bibir lelaki itu.

Ia mengerutkan keningnya begitu kakinya terantuk sesuatu di depan pintu apartemennya. Ia menunduk, memperhatikan benda apa yang sudah menghalangi jalannya.

Kotan besar dengan pita berwarna biru.

Ia ambil kotak itu, memperhatikan bentuknya, dan mencari kertas kecil yang biasanya memberitahu siapa si pengirim kotak.

Tak ada, isinya hanya baju musim dingin cantik berwarna merah.

Wanita itu memperhatikan sekitar, lehernya bergerak ke kanan dan kiri, mencari seseorang yang kemungkinan masih di sana, mengintip dari balik tembok besar di ujung lorong. Atau orang yang sedang mencari kotak besar di depan pintu apartemennya (karena mungkin saja si pengirim salah alamat). Tapi tak ada, lorong apartemen itu sepi.

Sampai di dalam, wanita itu segera membongkar isi kotak besar di hadapannya, dan alisnya semakin bertaut saat terselip kertas kecil kusam dengan tulisan tangan yang ia tak ketahui siapa;

Untuk Song Chae Yoon. Pakai baju ini dan keluarlah pukul 7. Lihat betapa berkilaunya langit malam ini. Lihat betapa cantiknya dirimu.

Sungguh, ini bukan lelucon yang lucu.

Ia bolak-balik kertas kecil itu, berharap ada penjelasan yang lebih masuk akal mengenai baju yang harus ia kenakan tepat pukul 7. Tapi nihil, kertas itu kosong kecuali isi yang ia baca tadi.

Ya ampun, apa-apaan ini.

Tepat pukul tujuh kurang lima belas, Chae Yoon sudah rapi dengan setelan yang ada di dalam kotak besar itu.

Ia mengenakan sweater putih dengan mantel panjang merah. Lengkap dengan syal dan topi rajut warna senada. Ia poleskan sedikit riasan pada wajah cantiknya, dan membiarkan rambutnya tergerai dengan jepit kecil hitam yang ia beli bersama kekasihnya saat natal tahun lalu.

Ah, ia jadi merindukan pria-nya lagi.

Park Chanyeol. Sedang apa ia sekarang? Apa lelaki itu juga merindukannya seperti ia merindukan Chanyeol?

Chae Yoon menghela napas, memejamkan mata, lalu melihat ke arah jam dinding di belakangnya. Sudah tepat pukul tujuh.

Saat ia mendorong pintu putih apartemennya, hal pertama yang ia lihat adalah balon merah muda dengan tali yang di ikat dengan batu dan secarik kertas (mungkin agar tidak terbang dan berdiri tegak). Tapi apa kertas itu? Apa gunanya?

Maka, ia ambil kertas itu, sekali lagi mengerutkan alis saat kertas itu bertuliskan;

Pergi ke luar sekarang, temukan kejutanmu malam ini.

Chae Yoon mati-matian menahan umpatan kotor di otaknya, bersiap memaki siapa saja yang dengan kurang ajarnya membuat lelucon tak lucu seperti ini.

Eh, tapi salahkan ia juga karena dengan bodohnya mengikuti permainan sialan ini.

Masih dengan tangan menggenggam kertas kecil yang ia dapat dari balon di depan pintu apartemennya, Chae Yoon berjalan ke arah lift, memencet tombol lobby, dan berdiri di sana dengan canggung.

Pasalnya, ada seorang pria paruh baya dengan pakaian mencurigan yang memegang sebuah tongkat panjang. Pakaiannya agak kumal, dengan topi besar di kepalanya. Perawakannya juga tinggi, tidak terlalu besar, tapi rahangnya tegas.

Tunggu. Sepertinya ia mengenali laki-laki paruh baya di sampingnya.

“Hei, Nak. Bisa kau ambil ini?”

Chae Yoon terkejut, hampir saja terjengkak bila tak ada tembok besar di belakangnya. Bapak tua ini tiba-tiba menyodorkan kotak kecil abu-abu dengan secarik kartu putih di atasnya.

“Ambil, Nak.” Bapak tua itu mengulangi, sedikit menggoyang tangannya.

Canggung, Chae Yoon ambil kotak itu, “Terimakasih,” lalu berharap agar lift yang ia naiki segera sampai ke tempat tujuan.

Lobby itu masih sama, tak ada yang mencurigakan. Dan Chae Yoon mengucap syukur karena itu.

Netranya menyapu seluruh isi ruangan, orang-orang, dan banyak benda di tempat itu. Semuanya sama. Jadi, apa maksudnya ia datang ke sini?

Ya ampun, Song Chae Yoon. Kamu ini idiot sekali.

Oh!

Chae Yoon melupakan kotak pemberian si Bapak Tua. Ia merogoh saku mantelnya, tersenyum saat menyadari betapa cantiknya kotak abu-abu yang ada di genggamannya. Wanita itu menarik kartu yang terselip di kotak kecil, lalu membacanya dalam hati.

Jangan berani untuk membukanya. Datanglah ke taman. Sekarang.

Apa lagi ini? Oke, Chae Yoon mulai panik di sini. Lagipula, apa maksudnya dengan “pergi ke taman”? Lalu, apa isi kotak ini? Dan, siapa Bapak Tua yang ia temui di lift?

Baiklah, Song Chae Yoon. Jangan takut. Lagipula, dulu kau pernah ikut ekskul taekwondo.

Chae Yoon berjalan menuju taman yang entah kenapa malam ini terasa begitu sepi dan–gelap?

Bulu kuduk Chae Yoon meremang, di susul oleh semilir angin yang menusuk kulit mulusnya, Chae Yoon bersiap menelpon polisi dan berteriak sekencang yang ia bisa bila sesuatu yang buruk terjadi padanya.

Semakin dekat dengan taman itu, semakin terasa jika lampu-lampu jalan di pinggir taman semakin remang cahayanya. Dan banyak orang yang meninggalkan tempat itu.

Ini perasaannya saja atau memang taman ini mendadak menyeramkan?

Song Chae Yoon bodoh. Ini karena kamu kebanyakan menonton drama. Aih, bodohnya aku.

Sesampainya di sana, Chae Yoon melongo ke arah dalam taman (lebih tepatnya mengintip dari balik pohon), dan setelah di rasa cukup aman dan dia sudah bersiap dengan ponsel di tangannya (berjaga-jaga untuk menelpon polisi sambil berlari dan berteriak kencang), Chae Yoon melangkah ragu-ragu ke dalam taman.

Satu langkah, satu lampu di taman itu menyala. Kecil, membuat pijaran lampunya menerangi jalan walau hanya selangkah.

Chae Yoon terperanjat, hampir saja memaki jika ia tak sadar bahwa yang menyala hanya lampu kecil yang sengaja di tanam seseorang di rumput.

Tunggu, sejak kapan ada lampu kecil seperti ini di rumput? Kalau terinjak bagaimana?

Masih dengan alis bertaut dan kebingungan, Chae Yoon melangkah lagi ke depan dengan perasaan tak enak. Dan, seperti yang ia duga, satu lampu lagi menyala.

“Memang ini hari apa, sih?” Gumamnya sembari terus melangkah takut-takut, masih menggenggam ponsel, omong-omong.

Tiga lampu menyala saat Chae Yoon melangkah maju tiga langkah. Masih dalam keadaan was-was, Chae Yoon mencoba untuk membuka suaranya. “Siapapun kamu,  ayolah, ini benar-benar tidak lucu.”

Hening, hanya angin malam yang menusuk tulang yang berembus pelan, menerbangkan beberapa helai anak rambutnya.

“Aku bisa telpon polisi kapan pun aku mau. Jadi kamu percuma saja berbuat hal semacam ini.”

Susah payah, Chae Yoon telan salivanya, mencoba berjalan lebih jauh untuk melihat ke depan sana. Karena ia tak bisa bohong, satu bagian hatinya menginginkan pergi ke sana, entah ada hal apa yang menunggu, tapi bagian itu punya firasat baik. Dan Chae Yoon percaya apa kata hati kecilnya.

Sudah hampir sampai di tengah bukit taman, dan terlihatlah siluet seorang pria di ujung sana. Ah, benar, kan!

“Permisi. Anda siapa, ya?” Langkah Chae Yoon terhenti, menunggu respon dari siluet hitam di depannya.

Siluet itu melambai, menyuruh Chae Yoon untuk mendekat. Chae Yoon tahu jika orang itu bukan orang jahat. Maksudnya, mana ada seorang jahat yang melambaikan tangannya ke arah seorang gadis? Lagi pula, kenapa pula dia dengan repotnya membelikan Chae Yoon mantel mahal dan buket bunga segala. Repot-repot memasang lampu macam begini pula.

Eh, tunggu. Kenapa Chae Yoon jadi kepikiran sesuatu?

Dengan cepat, Chae Yoon melangkahkan kakinya menuju tempat dimana siluet itu berada. Kali ini lebih lebar dan cepat. Karena ia tahu, meski ini hanya perasaannya, tapi ia yakin, orang itu yang selama ini ia tunggu.

Orang itu adalah Park Chanyeol-nya.

Sepuluh langkah lagi, dan Chae Yoon bisa melihat jelas wajah Chanyeol yang sedang tersenyum dibawah sinar bulan, mengenakan mantel hitam dan sweater abu-abu. Rambut laki-laki itu masih saja acak-acakan, dan matanya bersinar terang.

“Chanyeol…” Chae Yoon melangkah terbata, sedang Chanyeol hanya tersenyum sambil merentangkan tangannya.

“Iya, ini aku. Aku sudah pulang, Song Chae Yoon.”

Chae Yoon berlari, menghampiri Chanyeol dan memukuli pria itu dengan emosi meletup-letup. “Kurang ajar kau Park Chanyeol! Apa-apaan maksudnya semua ini?! Kenapa kamu tidak bilang saja jika kamu sudah pulang?! Aku hampir mati kedinginan menunggumu tahu?!” Chae Yoon menangis sejadi-jadinya di pelukan Chanyeol, laki-laki itu hanya diam, membiarkan punggungnya sakit karena di pukul oleh Chae Yoon. Hanya diam sambil mengelus rambut hitam Chae Yoon.

“Kamu jahat… hiks… kamu jahat…” lama-lama, pukulan keras di punggung Chanyeol terhenti, diganti dengan pelukan hangat yang dilakukan wanita itu.

“Aku rindu kamu… Chanyeol… sangat rindu.. hiks…”

Chanyeol tersenyum, mempererat pelukannya. “Aku juga rindu kamu. Bahkan bisa dipastikan, besar rinduku jauh lebih besar dibanding kamu.”

Lama mereka berpelukan, melepas rindu, akhirnya Chanyeol membuka percakapan. “Kamu masih ingat mimpimu?”

Chae Yoon terkekeh. “Aku punya banyak mimpi, Chan.”

Chanyeol tersenyum, melupakan fakta jika wanita-nya mempunyai banyak sekali mimpi. “Maksudku mimpi ketika kau akan dinikahi oleh seorang pria yang kamu cintai.”

Chae Yoon mengangguk. “Aku ingin dia mengatakannya di bawah sinar bulan, dengan lilin-lilin kecil di sekelilingnya, udara dingin karena musim salju, dan aku mengenakan mantel cantik berwarna merah. Aku juga ingin memakai jepit rambut yang aku beli dengan pria-ku. Ju–,” Chae Yoon menggantung kalimatnya, mendongak menatap Chanyeol. “Tunggu, ini–,”

“Iya,” Chanyeol tersenyum. “Aku ingin membuat mimpimu jadi kenyataan, Chae Yoon-ah.”

Chae Yoon diam, matanya berkaca-kaca, dan mulutnya sedikit terbuka.

Chanyeol mundur sedikit, mengambil sesuatu di dalam kantong mantel Chae Yoon, lalu mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam. Membukanya, dan menatap lurus mata hitam Chae Yoon yang membulat.

“Aku mencintaimu, Song Chae Yoon. Dan aku ingin menikahimu.”

Chae Yoon balas menatap Chanyeol, yang sekarang sedang mantap meluruskan maksudunya.

Would you like to be my wife, Song Chae Yoon?”

Chae Yoon menitikkan air matanya detik itu juga, tersenyum senang.

Of course i would, Mr. Park.”

Iya haha ~^w^~ akhirnya fanfic ini selesai juga. Walaupun ceritanya makin gak jelas ya /nyengir/ ini adalah sequel untuk fanfic You And I v: terimakasih untuk yang sudah merelakan lima menit waktu hidupnga untuk membaca ff-ku dan sepuluh detik untuk membaca kalimat gak berfaedah ini~~

Sampai ketemu di karyaku selanjutnyaa~~!

punya wattpad? mampir ke work aku, yuk!  @chocory

kutunggu vomment-nya, lho. follow juga ya~~! >.< terimakasiiih~~

2 thoughts on “(Author Tetap) Marry Me? (sequel of You and I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s