Nightmare [Part X] #Who Am I?

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Terimakasih telah mendekatiku selama ini. Sekarang, aku yang akan mulai mendekatimu.”

©2016.billhun94


Semilir angin menerbangkan seuntai rambut hitam Alice. Wajahnya yang pucat semakin pucat ketika dinginnya malam mulai terasa di balik mantel yang dikenakannya. Alice tetap bergeming, enggan untuk merespon. Masih banyak yang harus ia cerna di sini, semuanya terasa membingungkan dan tak kunjung menemukan jawaban.

Ketika Alice mencoba untuk mengingat apapun yang dikatakan Sehun tentang dirinya, disaat itu pula, rasa sakit yang teramat menyerang kepalanya. Memori yang seperti kaset rusak seakan mewakili bagaimana ingatan Alice; tidak jelas dan sulit untuk dipahami. Wanita itu meringis ketika rasa sakit yang mendera semakin menjadi, ia memegang kepalanya; berharap rasa sakit itu akan segera menghilang.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Sehun, khawatir.

Alice tidak menjawab, karena rasa sakit itu justru semakin bertambah. Ia mencoba untuk tidak mengingat apapun lagi, namun, satu bayangan seorang anak kecil sekitar berumur 5 tahun membuat Alice menghentikan untuk mencoba tidak mengingat. Alice semakin memejamkan matanya. Anak kecil itu sedang berdiri di depan sebuah audium, dan memperkenalkan dirinya sebagai ‘Shin Mikyung’. Kemudian, bayangan ingatan tersebut berhenti sampai disitu. Alice pun membuka matanya, napasnya tersengal.

Sehun yang sangat khawatir dengan keadaan Alice, menangkup wajah pucat wanita itu. “Alice, kau baik-baik saja?” Tanyanya.

Alice mengangguk, tapi, pikirannya masih tersemat di dalam bayangan ingatan tadi. Entah kapan itu terjadi, namun, Alice yakin jika anak kecil itu adalah dirinya.

Satu pertanyaan Alice lontarkan pelan, Sehun kebingungan untuk menjelaskan.

“Siapa itu Shin Mikyung?”

-oOo-

Semuanya butuh proses untuk dipilah, tidak mudah guna menemukan kenyataan yang sebenarnya. Sehun sudah tahu itu ketika kenyataan menghadapkan dirinya pada sesuatu yang sangat berat. Sehun tidak bisa hanya dengan berpatokan pada waktu, ia harus bisa menemukan jawabannya sendiri.

Di dunia ini ada dua hal yang tidak dapat dipaksakan, yaitu hati manusia dan takdir. Jika ini adalah takdir yang harus Sehun hadapi, ia akan melewatinya. Walaupun sulit.

Senyum tipis terpatri di wajah rupawan Sehun ketika menyaksikan berita di televisi tentang pamannya yang akan mencalonkan diri sebagai walikota Seoul. Akhir-akhir ini memang sang paman sedang fokus pada dunia politik. Sehun sudah menyangka rencara pamannya ini, beliau masih punya banyak kekuasaan kalau Sehun tidak mengambilnya. Pamannya yang licik memang sangat cerdik dalam memilih golden time.

Tidak lagi menetap di rumah keluarga Park, Sehun memilih untuk menyewa sebuah hotel yang tidak berjauhan dengan rumah keluarga Park. Dan besok, ia memutuskan untuk mengambil keputusan atas Alice. Sehun tidak bisa terus menerus membiarkan keadaan seperti ini, ia butuh kepastian.

-oOo-

Alice mengurung diri di kamar sejak kepulangannya bersama Sehun kemarin malam. Tuan dan Nyonya Park sangat khawatir dengan keadaan Alice, sampai siang menjelang wanita itu tidak kunjung membuka pintu kamarnya. Tuan dan Nyonya Park sudah berusaha untuk membujuk, namun, hasilnya nihil.

Di dalam, Alice terduduk di sisi ranjangnya dengan kaki yang ia tekuk dan menyembunyikan wajahnya di lekukan kakinya. Sejak ia membuka mata pagi tadi, ia tidak bisa berhenti untuk memikirkan tentang mimpi yang akhir-akhir ini sering sekali menyambangi. Bukan. Ini bukan mimpi tentang Oh Sehun. Ini adalah mimpi masa lalunya.

Alice mengangkat kepala, wajahnya sendu dan pucat dengan rambut yang berantakan, namun, tidak mengurangi kecantikan alaminya. Tanpa mengubah posisi, Alice memperhatikan bingkai foto yang terpasang apik di tembok kamarnya. Foto itu berisi ia, Tuan dan Nyonya Park yang sedang tersenyum bahagia.

Kembali lagi, mimpi yang Alice mimpikan kembali datang. Mimpi itu tentang sebuah kecelakan besar. Ada dirinya di dalam, dan sepasang suami istri setengah baya yang sudah tidak berdaya di kemudi mobil. Sebelum sebuah truk besar menghadang mobil yang ia tumpangi, ia sudah menutup matanya lebih dulu, dan mobil itupun jatuh ke dalam sungai yang sangat luas. Mimpi itu berakhir sampai di sana.

Alice tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi padanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Semua ini bagai labirin yang tak berujung. Alice semakin kalut dibuatnya.

“Alice, apa kau di dalam?”

Suara itu membuat Alice menoleh kearah pintu. Suara itu sudah terasa tidak asing lagi di telinga, seperti ia mengenalnya dalam jangka waktu yang tidak sebentar.

“Boleh aku masuk?”

Oh Sehun. Suara itu milik Sehun. Alice mengernyit bingung, kapan pria itu berada di sini?

“Aku anggap ‘iya’.”

BRAK

Pintu bercat putih tersebut kini sudah berhasil didobrak oleh Sehun. Terdapat Tuan dan Nyonya Park di belakang Sehun yang menatap Alice penuh kekhawatiran. Sehun masuk ke dalam kamar Alice dengan tergesa-gesa, lalu menghampiri wanita itu dan mensejajarkan tubuhnya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Sehun.

Entah mengapa, ketika Sehun menanyakan dirinya ‘baik-baik saja’, membuat Alice merasa tenang.

“Aku baik-baik saja,” balas Alice.

Sehun mendengus kasar, “Aku tahu kau tidak baik-baik saja, jangan mencoba untuk berbohong. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Sejak awal, Alice berusaha untuk menghindar dari tatapan Sehun yang mengintimidasinya. Namun, kini ia mencoba untuk tidak menghindar lagi. Perlahan, Alice menatap balik Sehun.

“Siapa sebenarnya aku?”

Mencoba untuk tidak menghindar kali ini, Sehun menatap lembut Alice dalam. Sekian kali, Sehun merasakan jika dirinya tidak dapat dikontrol jika sudah berada di dekat Alice, ingin sekali ia mendekap hangat wanita itu dang mengatakan semuanya. Tapi, Sehun harus menahan diri untuk tidak semakin membuat Alice bingung.

“Kau ingin tahu siapa sebenarnya dirimu? Kalau begitu, kau harus ikut denganku.”

“Kemana?”

“Ke tempat seharusnya kau berada.”

-oOo-

Jongin memandang lurus kearah objek yang begitu memikat baginya. Wanita itu seperti matahari di tengah-tengah badai. Dan bagai kehangatan di salju yang sangat dingin. Jongin tanpa bosan memandang objek itu dengan tatapan yang mengagumi. Di lihat dari sisi manapun, tidak ada yang kurang sedikit saja.

Jung Soojung. Wanita yang membuat Jongin terpesona dalam pesona wanita itu yang sangat memikat. Ia rela harus menunggu bertahun-tahun demi wanita seperti Soojung tanpa memperdulikan usianya yang sudah mantap untuk membangun bahtera rumah tangga.

Soojung adalah cinta pertama Jongin. Wanita pertama yang membuat Jongin tergila-gila. Soojung mengajarkan banyak hal padanya. Jongin sangat mencintai wanita itu sampai sekarang sejak kandasnya hubungan mereka 5 tahun yang lalu.

Ketika hubungan Jongin dan Soojung berakhir, Jongin tahu jika Soojung mencintai Sehun yang lelaki itu ketahui adalah teman seperguruan sewaktu kuliah dulu. Sayang sekali, cinta Jongin bertepuk sebelah tangan.

“Cinta bertepuk sebelah tangan memang menyedihkan,” gumam Jongin seorang diri.

Sewaktu Jongin akan melirik kearah Soojung yang berada di ujung Cafè, ia tidak berhasil menemukan wanita itu.

“Masih terus memperhatikanku diam-diam?”

Jongin hafal betul suara tersebut, ia pun menoleh ke belakang dan menemukan Soojung tengah berjalan kearahnya. Sejak kapan wanita itu berada di sana?

“Tidak. Atau mungkin iya,” timpal Jongin ragu.

Soojung mendudukan dirinya di hadapan Jongin yang tengah menyesap coffee lattenya. Soojung memperhatikan Jongin dari ujung rambut sampai bagian akhir lelaki itu. Lalu, Soojung tersenyum tipis.

“Kau semakin tua saja,” ujar Soojung santai.

Jongin terkejut, “Kita hanya berjarak satu tahun. Seharusnya aku yang bilang seperti itu padamu,” balasnya sinis.

Soojung hampir saja menyemburkan tawanya jika tidak melihat keadaan Cafè yang ramai akan pengunjung.

“Lupakan itu. Bagaimana kabarmu?”

Jongin mengerjap pelan, “Baik. Dan kau?”

“Aku juga baik.”

Soojung mengulum senyum; senyum yang selalu berhasil membuat Jongin menahan degupan jantungnya agar tidak menggila di dalam sana.

-oOo-

Pemberitahuan pesawat dari Melbourne berkumandang di bandara Incheon Internasional Airport. Terminal bandara sudah di buka beberapa menit sebelumnya.

Sehun menginjakkan kakinya dengan koper yang ia dorong di tangan kirinya, sedangkan tangan yang lain menggenggam erat tangan seorang wanita yang tidak lain adalah Alice.

Tidak semudah yang dipikirkan Sehun sebelumnya jika Alice akan begitu saja ikut dengannya ke Korea, karena wanita itu yang menolak sebelumnya. Namun, ketika Alice makin penasaran siapa dirinya yang sebenarnya dan apa yang terjadi selama ini, dia pun mau mengikuti Sehun.

Orang suruhan Sehun sudah sampai di depan pintu keluar bandara, dan langsung menghampiri Sehun setelah memberi salam sebelumnya.

Tak ada satu omongan yang keluar dari Sehun maupun Alice sejak mereka memasuki pesawat beberapa jam yang lalu. Mereka tampak asing, dan Alice yang merasa tidak terlalu nyaman dengan keberadaan Sehun di sampingnya.

Mobil yang membawa Sehun dan Mikyung kini sudah memasuki sebuah pelataran luas sebuah rumah mewah. Alice mengerutkan kening, bingung rumah siapa yang saat ini terus dipandanginya.

“Silakan turun, Nona.” Orang suruhan Sehun berkata setelah sebelumnya membukakan pintu mobil.

Alice turun dari dalam mobil dengan Sehun yang lebih dulu. Sinar matahari sore menyengat kulitnya. Udara memang dingin, namun, matahari tetap menampilkan wujudnya.

“Ini rumahku, kau pernah tinggal di sini sebelumnya.” Ujar Sehun, mengitari balik mobil untuk menghampiri Alice. “Ayo kita masuk,” Sehun menggenggam tangan wanita itu, namun ditolak.

“Aku bisa sendiri.”

-oOo-

Sejak menginjakkan kakinya di sini, Alice terus memperhatikan seisi rumah besar itu. Dan satu hal yang terus menjadi tanda tanya besar baginya ketika ia melihat bingkai foto yang tidak terlalu besar itu tergantung di dinding kamarnya adalah; apa sebelumnya ia sudah pernah menikah? Sehun tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya.

Kenyataan membawa Alice tahu jika ia mengalami amnesia yang cukup parah sampai membuat memori otaknya hancur, alhasil ia tidak mampu untuk mengingat apapun ketika ia sadar dari koma panjangnya. Kala itu, Alice sangat mengasihani dirinya sendiri. Dan, Alice baru tahu jika nama aslinya bukanlah ‘Alice Park’ melainkan ‘Shin Mikyung’. Ia harus terbiasa dengan namanya yang asli setelah ia memutuskan untuk kembali hidup di tempat seharusnya ia tinggal.

“Nona Mikyung, Presdir sudah menunggu Anda untuk makan malam.”

Mikyung menoleh kearah pintu saat suara seorang perempuan terdengar dari balik pintu tersebut. Ia pun melangkah mendekat guna membuka pintu itu, dan sesosok pelayan perempuan sedang tersenyum manis kearahnya. Mikyung tidak menimpali apapun, ia langsung melengos begitu saja. Pelayan perempuan itupun terheran-heran dibuatnya. Ini bukan seperti Shin Mikyung yang ia kenal dulu.

Di meja makan, Sehun sudah menduduki kursinya dengan satu piring steak beserta pelengkapnya dan anggur merah sebagai minuman penutup. Alice datang tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan langsung duduk di kursi yang tidak jauh dari kursi Sehun berada. Beberapa pelayan langsung menyiapkan sajian untuk Mikyung yang bergeming dalam tempat.

Satu potong steak masuk ke dalam mulut Mikyung tanpa hambatan, lalu ia mengunyahnya perlahan. Pemandangan itu tidak kunjung terlepas dari Sehun yang memperhatikan lewat ekor matanya.

Sehun membuka pembicaraan. “Mulai besok, aku akan mengenalkanmu pada orang-orang yang seharusnya kau kenal.”

Mikyung melirik Sehun sekilas dengan bingung, “Maksudmu?”

“Aku tidak akan menjelaskannya sekarang,” jawab Sehun tenang dengan raut dingin yang tercipta di wajah tampannya.

-oOo-

Layar proyektor itu kini sudah menampilkan slide yang kesekian kalinya. Slidenya selalu berisi tentang orang-orang yang selama ini dekat dengan Mikyung, orang-orang yang harus dihindari wanita itu, dan orang-orang yang sudah membuat Mikyung seperti ini.

Detik selanjutnya, ketika Sehun mengucapkan nama seseorang, Mikyung mengerang saat merasakan sakit mendera kepalanya. Sekelebat bayangan abstrak merasuk ke dalam memorinya. Berisi seorang pria setengah baya yang sedang menyeringai kearahnya dengan gaya angkuh. Dan orang itu adalah salah satu dari orang yang harus Mikyung hindari.

“Kau baik-baik saja?” Sehun bertanya khawatir.

Mikyung tidak menjawab karena perlahan, memori yang merasuk ke dalam otaknya semakin gencar untuk menemukan jawaban sebenarnya tentang apa yang ia alami saat ini. Kejadiannya sangat cepat. Mikyung melihat dirinya sendiri memasuki sungai yang sangat dalam, tertembak dengan bahu yang berlumuran darah, dan menangis pilu di atas sebuah gedung sebelum akhirnya meloncat karena tidak tahan dengan semua yang ia terima.

Kenapa selalu memori tentang kekelamaman hidup yang harus Mikyung ingat? Kemana memori kebahagiaan yang Mikyung alami?

Sehun yang berdiri tidak jauh dari Mikyung kala itu langsung menghampiri wanita itu dan mendekapnya erat dalam rengkuhannya. Melihat bagaimana Mikyung ketakutan dan rasa sakit itu membuat Sehun tidak sanggup untuk melihatnya. Seketika rasa bersalah yang selama ini mendera kembali datang. Ya, Sehun terus menerus menyalahkan dirinya atas kehilangan Mikyung.

Everything is gonna be fine,” gumam Sehun lembut di rungu Mikyung.

-oOo-

Seminggu berlalu, Sehun berencana untuk membuat Lee Sanwook kalap dengan kedatangan Mikyung di tengah-tengah pelantikannya sebagai seorang Presdir dari group Taesan yang seharusnya diduduki oleh Mikyung. Dan hari itu telah tiba. Sehun membantu Mikyung untuk merebut kembali posisinya dengan mengajari dasar-dasar bisnis terlebih dulu.

Mobil milik Sehun berhenti di sebuah gedung pencakar langit yang bertempat di pusat kota. Sudah banyak media masa yang bergumul untuk mengabadikan momentum dari pelantikan calon Presdir yang baru.

Sanwook tidak dapat menguasi kekuasaan Tuan Shin hanya dengan menyingkirkan Mikyung. Karena group Taesan yang selama ini berjalan bukanlah berada di tangannya, melainkan orang bawahan Tuan Shin. Setelah berhasil menyingkirkan orang-orang bawahan Tuan Shin tersebut, Sanwook baru bisa menguasi group para konglomerat di Korea itu.

Tanpa sadar, Mikyung mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Sehun. Rasa gugup menyerang dirinya, dan itu membuat ia ragu untuk menampilkan dirinya di depan khalayak umum untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menghilang bagai ditelan bumi tanpa kabar.

Pintu besar itu terbuka, menampilkan Sanwook yang sedang berbicara di atas podium. Pidato yang Sanwook berikan terpaksa berhenti ketika sosok Mikyung bersama Sehun datang bersamaan. Bukan hanya Sanwook yang keheranan, tapi seluruh isi ballroom. Yang selama ini orang tahu adalah ‘Shin Mikyung telah hilang’ dan kini wanita itu kembali.

“Lama tidak bertemu, Samchon.” Sapa Mikyung, lalu membungkuk hormat di hadapan Sanwook dengan senyum tipis di wajah cantiknya.

Sehun yang tidak berbuat apapun di samping Mikyung, hanya dapat tersenyum dalam hati melihat raut terkejut Sanwook.

“Shin Mikyung, kau masih hidup?” Tanya Sanwook dengan raut wajah yang seakan-akan bahagia akan kedatangan Mikyung. Pria itu menghampiri Mikyung dan Sehun.

Samchon kira aku sudah mati? Tidak, aku masih hidup.” Jawab Mikyung sedikit sinis.

Mikyung menghadap ratusan pasang mata yang memperhatikannya. Orang-orang itu adalah orang-orang yang haus akan kekuasaan, dan yang Mikyung tahu mereka semua adalah para petinggi perusahaan jasa, dagang, maupun manufaktur yang terlibat dalam group Taesan.

Annyeong hasaeyo, saya Shin Mikyung. Maaf jika saya baru datang sekarang, karena saya harus memulihkan kesehatan saya yang sempat menurun tiga tahun lalu. Sekali lagi maaf,” akhir dari perkataan itu adalah Mikyung yang membungkuk pada para petinggi tersebut.

-oOo-

Mikyung sedang melamun di halaman belakang rumah Sehun dengan pandangan lurus ke arah bunga-bunga yang tertanam cantik di tanah dengan rumput-rumput di sekitarnya. Entah sejak kapan, Mikyung merasa tidak asing dengan bunga-bungai itu.

“Apa dulu aku menyukai bunga?” Tanya Mikyung pada dirinya sendiri.

“Iya, Anda sangat menyukainya.”

Mikyung sempat terkejut ketika menemukan seorang pelayan perempuan yang beberapa waktu lalu sempat berpapasan dengannya.

“Darimana kau tahu?” Tanya Mikyung.

Pelayan perempuan bernama Jieun itu menghampiri Mikyung, “Aku tahu karena pernah menemanimu menanam bunga di sana,” tunjuknya pada bunga-bunga yang berjejer rapih itu.

Mikyung terhentak, benarkah demikan? Kalau begitu ia dapat satu informasi tentang dirinya kali ini, bahwasanya; Shin Mikyung menyukai bunga.

Ketika Jieun menemuka sosok Sehun yang sedang berjalan kearah dirinya dan Mikyung, ia langsung mengundurkan diri tanpa memberitahu lebih dulu pada Mikyung. Saat akan mengajukan pertanyaan lagi, Mikyung sudah tidak menemukan Jieun, melainkan Sehun. Sejak kapan Jieun bisa berubah bentuk menjadi Sehun? Atau ini hanya khayalannya saja?

“Sedang mencari siapa?”

Sehun yang melihat gerak-gerik Mikyung, bertanya. Namun, wanita itu sepeti tidak menganggap terlalu penting.

“Tidak ada.”

Sehun mendudukkan diri di samping Mikyung, “Di sini dingin. Lebih baik masuk ke dalam,” ujarnya. Malam memang semakin membuat udara tidak terkirakan.

“Aku memakai mantel,” timpal Mikyung santai. Sehun terkekeh, Mikyung terpanah akan itu.

“Baiklah, terserah kau saja,” balas Sehun.

Keadaan hening menyelimuti Sehun dan Mikyung yang sama-sama terdiam. Mikyung mencuri pandang kearah Sehun. Pria seperti apakah Sehun itu? Pertanyaan tersebut datang begitu saja tanpa diundang. Sosok Sehun yang selalu menjadi sosok misterius baginya itu adalah sebuah teka-teki yang terkadang membawanya ikut bersama Sehun dengan arus yang disebut pesona.

“Mikyung-ssi?” Panggil Sehun, yang dipanggil menoleh.

Tanpa menatap lawan bicara, Sehun berucap pelan. “Terimakasih telah mendekatiku selama ini. Sekarang, aku yang akan mulai mendekatimu,” Sehun menatap iris teduh milik Mikyung.

Sehun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Mikyung yang masih terheran dengan kata-kata Sehun. Pria Oh itu menghembuskan napasnya yang menerpa kulit halus Mikyung. Kemudian, bibir keduanya bertemu. Sehun hanya memberikan kecupan biasa, setelah itu melepaskannya.

Mikyung tidak berkutik sedikitpun sebab rasa terkejutnya yang masih ada. Jantungnya berdegup kencang, dan geleyar aneh mengaliri seluruh tubuhnya. Mikyung rasa ini bukanlah kali pertama ia merasakan sapuan lembut Sehun di bibirnya.

Sehun merangkum paras cantik Mikyung dengan kedua tangannya. Lalu mengelus lembut kedua pipi Mikyung menggunakan ibu jarinya. Tanpa sepatah kapanpun yang keluar, Sehun kembali mencium Mikyung. Namun, kali ini terasa lebih intens dari sebelumnya.

Lumatan demi lumatan membawa Mikyung untuk menutup kedua matanya mengikuti Sehun. Entah setan apa yang merasuk, ia sama sekali tidak menolak segala perlakuan Sehun ini. Seperti ia juga menginginkan sentuhan Sehun kembali setelah sekian lama.

Keadaan semakin memanas ketika Sehun mengigit bibir bawah Mikyung yang mana membuat wanita itu mengerang. Mikyung lantas melingkarkan tangannya di leher Sehun dan menarik lebih dalam ciuman mereka.

Jika memilih untuk awal dari semua kisah ini, mungkin sekarang adalah saatnya. Sehun berharap jika ini akan menjadi awal yang baik untuk ke depannya bersama Mikyung yang sudah berhasil mengubah diri Sehun menjadi sosok pria yang lemah dan tidak berdaya karena rasa kehilangan yang dulu sempat pria itu rasakan. Dan, ia tidak akan pernah mau merasakan hal macam itu lagi dengan menjaga Mikyung.

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

P.s :

Mudah2an gk absurd yoyo😂😂

11 thoughts on “Nightmare [Part X] #Who Am I?

  1. Waw bagus banget sehun akhirnya kalah dengan rasa cintanya mungkin. Tapi apa minkyung mau memaafkan sehun jika dia udah tau semuanya. Huh..geregetan ditunggu next chap nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s