Nuestro Amor – Chapter 1

nuestro-amor-req

Nuestro Amor Chapter 1

©2016 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim || EXO’s Sehun as Oh Sehun

Genre : Romance, School Life, Friendship, Sad, slight! Yaoi ||  Lenght : Mini Chapter || Rating : PG-15

Poster By : Kyoung @ Poster Channel

Summary :

Luhan, Si Anak berandalan di sekolah menyukai dewi sekolah yang lahir dengan nama Kim Hyerim. Namun ketika Luhan tahu akan titik terang cintanya terbalaskan oleh Sang Gadis, Hyerim memilih menjauhinya entah mengapa. Namun yang Luhan pasti ketahui, Hyerim menjauhinya karena sosok Oh Sehun yang rupawan. Dan yang lebih mengejutkannya, Sehun bukanlah menyukai Hyerim tapi menyukai dirinya.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


When love play between us


HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Bunga serta pohon sakura yang bermekaran menandakan akan hidupnya musim semi ditengah hiruk pikuk kota Seoul yang sedang menyambut pagi hari yang indah. Jalan masih agak lenggang lantaran waktu masih sedikit pagi walaupun bukanlah sebuah pagi buta. Para pelajar tampak ada yang berjalan kaki dengan wajah segar habis terguyur air mandi untuk menuju sekolahnya. Salah satu diantara pelajar tersebut ialah seorang lelaki dengan penampilan semerautan; dasi sekolah tidak dipakai, baju dikeluarkan, dan rambut acak-acakan.

Sebut saja dia Luhan. Well, namanya tertera jelas diname tag seragam sekolah berwarna putihnya. Luhan pun tampak berjalan menuju perkarangan sekolah sambil memasukan tangan ke saku celananya. Beberapa siswa sekolahnya hanya melirik sekilas dengan tatapan menjijikan lalu berbisik, lebih tepatnya mengunjing tentang Luhan. Sementara Si Bahan Bicara tersebut, malahan asyik bersenandung sembari mengiring tungkainya menuju kelasnya.

“Heh, Luhan datang. Cepat minggir, nanti kita terinfeksi virus tak benar darinya,” bisik salah satu siswa lelaki dengan kacamata bulat besar layaknya Harry Potter dan berbadan pendek.

Bisikannya itu disahut oleh seorang kawannya, “Ck! Gangster jadi-jadian itu datang, mengusik ketenanganku saja,” setelah itu sekumpulan siswa kelas 11-C yang berada di dekat pintu masuk kelas pun langsung membuka jalan tatkala Luhan menampakan batang hidungnya di daun pintu.

Layaknya seorang presiden yang disambut di red carpet, Luhan bersiul pelan masih dengan tangan yang ia masukan ke saku celana serta air wajah terlewat santai, tak menghiraukan tatapan takut orang yang ia lewati dan sedang menunduk. Walau Luhan tidak melakukan apapun, mereka semua merasa takut dengan pria tersebut. Luhan terkenal siswa semena-mena yang tidak suka ketenangannya diusik, bila ada yang berani mengusiknya maka akan berakhir pincang atau lebih parahnya masuk UGD.

Gerakan kaki Luhan terhenti ketika sampai di depan meja yang ditempati seorang siswi yang terlihat lugu dan sedang membaca buku pelajaran. Mata Luhan menatap sinis siswi tersebut yang akhirnya balik menatapnya dengan bola mata berkilat ketakutan.

Ya! Yoon Cheonsa! Sudah kubilang berapa kali, ini tempat dudukku, idiot! Menyingkir sekarang juga!” bentakan Luhan pagi ini cukup menarik seluruh antensi para siswa kelas untuk melirik ke jajaran bangku paling belakang sebelum jendela.

Sementara Yoon Cheonsa dengan tubuh gemetar berdiri dan melirik Luhan takut-takut dengan kepala menunduk. “Em… Luhan, tapi Guru Yoon sudah merolling tempat duduk dan kau duduk di jajaran paling depan dekat dengan Haneul.” gerakan kepala Cheonsa pun lihatkan guna menunjuk tempat duduk yang dimaksudnya.

Namun reaksi Luhan ialah melipat tangan didepan dada sambil mendecih pelan. “Aku tidak mau duduk di paling depan apalagi dengan murid terpintar ketiga di kelas. Kalian sungguh ingin mengintimidasiku. Jadi sekarang, angkat kaki sebelum kakimu kupatahkan!”

Ancaman Luhan mutlak menyuruh tubuh Cheonsa bergerak buru-buru untuk angkat kaki dibanding nanti kakinya tak bisa digunakan sebaik mungkin kedepannya. Luhan menyunggingkan senyum miring lalu membanting bokongnya ke kursi dingin yang baru ia rebut dari Cheonsa―Si Gadis Lugu barusan. Lalu Luhan menggantungkan tasnya asal di kursinya kemudian melipat tangan di atas meja lantas menenggelamkan wajahnya di dalam sana serta mengabaikan seluruh aktifitas yang terjalin di kelasnya.

“Sungguh, kali-kali ingin sekali kutampar bolak-balik wajah tengilnya,” bisikan Park Seohyun kepada teman-temannya terdengar sambil melirik Luhan kelewat jengkel.

“Benar, beraninya menindas wanita lugu. Dasar gangster hello kitty,” sahut Jung Chungha lalu sekumpulan siswi itu mulai mengunjing hal lain tentang siswa berandalan yang sialnya harus berada di satu kelas yang sama dengan mereka.

Sekon kedepannya, sekumpulan siswi pegunjing itu menghentikan celotehannya dan menatap tepat ke arah daun pintu kelas dengan tatapan takjub serta mulut sedikit terbuka. Bila Luhan adalah murid yang membuat pagi hari saat kedatangannya disambut dengan gunjingan dan umpatan kesal. Maka ada juga murid yang kedatangannya akan disambut dengan pujian dan decakan iri akan paras kecantikannya yang menyerupai seorang bidadari. Ya, Kim Hyerim lah yang baru saja datang dan memasuki kelasnya sambil melempar senyum.

Kemudian salah satu siswi yang bergunjing tadi merapatkan diri kembali kepada teman-temannya, lantas berucap. “Ada tidak sih sehari saja Kim Hyerim tidak cantik begitu? Ugh! Aku iri dengannya.” berbeda saat mencelotehkan Luhan dengan nada pelan, mereka pasti akan mengeluarkan suara sedikit lebih terdengar saat mecelotehkan Si Dewi Sekolah bahkan dewi kelas 11-C, Kim Hyerim.

“Iya, aku iri padanya. Sudah cantik, baik, ramah, pintar pula.” sahut Seohyun sambil menatap Hyerim dengan bibir mengerucut dan binar mata irinya. Terlihat Hyerim sedang menaruh tasnya di tempat duduknya sambil melempar senyum dan menyapa singkat orang yang melihatinya.

Celotehan tersebut nyatanya mengundang seorang Luhan yang sok pura-pura tidur dibalik lipatan tangannya. Luhan pun sedikit mengangkat kepalanya dan melirik bangku Hyerim. Terlihat gadis tersebut sedang tersenyum pada anak perempuan di kelasnya yang menanyakan satu materi pembelajaran.

“Hyerim-ah, aku tidak mengerti pekerjaan rumah kemarin yang dikumpulkan besok. Bisa jelaskan?” pinta anak perempuan tersebut. Tentu saja dengan kemurahan hatinya yang bak air di samudra yang tak pernah ada habisnya, Hyerim mengangguk dengan senyumnya yang kelewat manis dimata para lelaki dan well tak terkecuali Luhan.

“Tentu, soal yang mana?”

Lalu detik kedepannya kegiatan menjelaskan pelajaran yang terlontar dari mulut Hyerim dengan pita suara merdu khas penyanyi top pun terdengar serta memenuhi runggu Luhan hingga menyisakan sebuah kehangatan sendiri. Luhan diam-diam memperhatikan Hyerim. Senyumnya, kelakuannya, gerak-geriknya. Dalam diam dirinya mengamati dan dalam diam pula ia tersenyum karenanya. Terlalu larut akan memperhatikan Hyerim sampai akhirnya kelas singkat gadis itu selesai, Luhan pun tiba-tiba salah tingkah tatkala gadis tersebut menolehkan kepala dan memandang ke bangkunya. Tubuh Luhan mengaku seketika dan sialannya makin membeku ketika Hyerim menyunggingkan senyum kelewat cantiknya itu.

“Luhan-ssi, jangan tidur. Kelas akan dimulai lima belas menit lagi,” intrupsi Hyerim dengan nada lembut dan diakhiri senyumannya.

Darah Luhan seketika terpompa menuju jantungnya yang langsung mengumandangkan irama layaknya lagu penghantar tidur. Tubuhnya pun secara reflek langsung bangun dan dirinya langsung membetulkan posisi duduk agar lebih benar. Luhan menggerakan tubuhnya dengan canggung menyebabkan Hyerim lagi-lagi tersenyum. Sialan, bisa tidak senyumnya tidak secantik itu? Umpat Luhan dalam hati.

“Hyerim-ah…” adalah sebuah panggilan akbrab yang khas dari seorang Oh Sehun―Si Pangeran Sekolah. Lelaki rupawan itu baru datang dan langsung menebar senyum menyebakan kaum hawa memekik tertahan sembari membekap mulutnya. Tujuan Sehun ialah bangku Hyerim yang sudah berdiri dengan senyum hangatnya menyambut Sehun.

“Kukira kamu tidak sekolah ketika pagi ini kamu tidak menjemputku.” ucap Hyerim dengan bibir masih setia dengan senyumannya.

Sehun mengangkat bahu dan balas tersenyum pada emmm… mungkin bisa disebut gadisnya? Ya, seluruh siswa Hanlim SHS mengetahui hubungan yang terjalin dengan Sehun dan Hyerim. Bisa dibilang sih hubungan tanpa status atau sahabat tapi sangat mesra. Keduanya murid terpintar di Hanlim juga merupakan dewi dan pangeran sekolah. Banyak yang menyukai mereka sebagai pasangan ideal di Hanlim. Dan sialannya, hepotisis keduanya yang berpacaran membuat Luhan terkadang jengkel dengan Oh Sehun.

“Ada sesuatu yang kubeli di toko biasaku, sayang. Jadi ya, aku berangkat lebih awal. Maafkan aku.” Sehun memasang wajah sedikit memelas namun dengan mimik lucu membuat Hyerim terkekeh dan mengangguk kemudian momen manis yang mungkin berlanjut itu terhenti lantaran bell masuk.

“Iya, tidak apa, Hun. Aku mengerti. Duduklah di bangkumu, bell sudah berkumandang.” Sehun mengangguk lalu setelahnya mendaratkan ciuman sekilas dipipi Hyerim membuat sekelas bersorak-sorak heboh akan tingkah Sehun―yang sebenarnya sering kali mereka saksikan, setelahnya Sehun pun berjalan ke bangkunya yang berada di paling belakang dekat jendela.

Luhan yang tampak buang muka setelah kejadian ciuman pipi yang hampir bahkan setiap pagi ia lihat depan matanya itu terlaksana, tak menyadari bahwa sosok Oh Sehun memandangnya sambil tersenyum tipis ketika melewati mejanya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Setelah melewati hari yang sangat membosankan di sekolah, Luhan akhirnya menginjakan kaki di rumah minimalis yang menjadi tempat tinggalnya. Dengan gerakan malas Luhan membuka sepatunya kemudian memasuki rumah setelah melempar asal tas sekolahnya. Ketika dirinya menginjaki langkah keempatnya, Luhan mendapati sosok pria paruh baya tengah menatapnya dalam dan timbal balik Luhan hanyalah satu ujung garis tertarik tipis―pertanda meremehkan, sama halnya dengan air wajah Luhan yang meremehkan sosok di hadapannya seakan status ayah pria tersebut sudah ia buang jauh-jauh.

“Kenapa menatapiku? Apa sekarang dirimu jatuh cinta padaku bukannya kepada lelaki bermuka tebal itu?” ucap Luhan hasrat akan kesinisannya.

Si Lelaki yang tak lain ayahnya melebarkan kornea matanya, lebih tepatnya bukan terkejut lantaran Luhan sudah sering berkata kurang ajar seperti itu. Namun dirinya marah akan perkataan putra tunggalnya tersebut.

“Jaga bicaramu Lu,” peringat ayahnya namun Luhan malah membuang muka ke arah samping kanan disertai desisan pelan.

“Terserah anda Tuan Kevin. Tapi sungguh perilakumu yang meninggalkan wanita sebaik Shin Ahyoung hanya untuk lelaki bernama Kim Jae, benar-benar sesuatu yang menjijikan yang pernah kuketahui.” itulah kata-kata terakhir Luhan sebelum mengambil langkah lebar menuju kamarnya di lantai atas kemudian membanting pintu kamarnya keras.

Sang Ayah, yang tadi Luhan panggil sebagai Kevin, hanya memandang pintu kamar putranya menahan gejolak amarah dengan tangan tergepal kuat. Lantas dirinya memejamkan mata sesaat dan menghela napas perlahan.

“Sabarlah, Kevin. Memang itukan yang kamu lakukan dahulu kala?” gumam ayah dari Luhan itu.

Beda halnya ketika berhadapan dengan orang asing, Luhan yang mengurung diri di dalam kamar pun tampak duduk di pojok ruangan sambil menekuk lututnya dan melipat tangannya diatas lutut tersebut. Dirinya menumpahkan air mata kembali sekon ini, air mata atas pengambaran rasa rindu pada ibundanya tercinta. Ibu yang akhirnya memilih mengakhiri hidupnya lantaran ayahnya berselingkuh dan lebih parahnya berselingkuh dengan sesama lelaki lagi.

“Arghhh!!” Luhan mengerang sambil mengusap wajah dan rambut gusar namun air mata masih tampak diujung matanya. Dirinya lelah menangis dan dirinya muak harus menjalani hidup bersama ayahnya. “Ibu…” lirihnya pelan dengan bola mata bergetar serta bergenang air mata.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Pritt!!” suara peluit itu terdengar menyebabkan siswa yang sedang berolahraga yakni bermain bola sepak pun berhenti. Guru yang meniupkan peliut barusan mendesah lelah lantaran terjadi kericuhan di lapangan yang terjadi karena satu pelanggaran yang dilakukan seorang pemain.

Ya! Luhan! Kau ini memang bisanya main kasar, ya?” seruan seorang anak lelaki terdengar diiringi dorongan cukup kuatnya dibahu Luhan dan membuat tubuh Luhan sedikit terdorong ke belakang.

Luhan yang merupakan siswa yang mengalami pelanggaran itu pun tampak menatap nyalang anak lelaki yang berani-beraninya menyentak bahkan mendorongnya begini. Dan anak lelaki tersebut tampak tak takut dan balas menatap Luhan menantang sambil mengangkat dagu angkuh.

Sambil melayangkan jari telunjuknya pada satu orang lelaki yang sekarang terduduk lemah di pinggir lapangan, Luhan pun menyerukan isi pikirannya. “Heh! Suruh siapa dia bermain payah? Jadi tak ada salahnya aku merebut bola sampai menyebabkan dirinya jatuh berguling kan? Dia itu pemain yang payah.”

Mendengar lontaran frasa dari bibir Luhan sukses menyulut emosi lelaki yang sedang berdebat dengannya, tampak lelaki tersebut memasang wajah tambah geram sambil menatap tajam Luhan yang melipat tangan didepan dada dengan senyum remeh. Namun pertengkaran yang mungkin menjadi tontonan gratis murid-murid 11-C tidak terlanjutkan lantaran suara guru olahraga yang mengintrupsi kedua remaja lelaki itu.

“Park Jaehyun, Luhan. Hentikan perkelahian kalian.” Guru Ahn yang merupakan guru olahraga langsung saja melerai sebelum terjadi pertengkaran lanjut kemudian beliau menatap Luhan dengan raut yang agak terlihat frustasi. “Luhan, sudah kubilang berapa kali untuk tidak bermain kasarkan?” lalu tatapan Guru Ahn tertuju pada murid yang cedera dan sudah dipapah oleh salah satu temannya menuju UKS.

Park Jaehyun yang barusan mendebat Luhan pun melihatkan senyum miring berlatar kemenangan sebab ucapan Guru Ahn yang membelanya diperdebatannya barusan. Terlihat Luhan mendecih dengan tatapan sinis tak mau kalahnya.

“Ya, ya, terserah saem saja. Aku memang selalu disalahkan.”

“Ini memang kau salah, Luhan. Maka dari itu, lari sebanyak dua puluh keliling sebagai hukuman. Tidak ada negoisasi.” ujaran cepat Guru Ahn direspon dengan tatapan kemenangan Jaehyun dan bibir Luhan yang bergetar menahan amarahnya. Namun karena tak ada opsi lainnya, Luhan pun menuruti perintah Guru Ahn dan mulai berlari mengelilingi lapangan olahraga yang luas dan lebar tersebut.

Tungkai Luhan pun berlari dengan gerakan santai karena dirinya tak mau buang-buang tenaga yang banyak hanya karena tindakan konyol yang berupa hukuman ini. Para murid kelas 11-C pun mulai menyapu bersih lapangan karena jam olahraga sudah usai dan selanjutnya adalah jam istirahat tetapi Luhan harus merelakan waktu istirahatnya dengan hukuman lari tersebut. Dirinya tak bisa kabur karena Guru Ahn akan mengawasinya, well ini bukan kali pertamanya Luhan dihukum seperti ini. Lari Luhan pun melewati deretan anak perempuan kelasnya yang sibuk bercengkrama.

“Hyerim-ah, rambutmu halus sekali,” adalah frasa yang Luhan dengar tatkala dirinya berlari melewati gerombolan anak perempuan kelasnya. Hyerim, nama yang sukses membuat Luhan melirik kumpulan perempuan kelasnya.

Ya, tepat di sebelah Luhan dan sedikit lebih depan, Hyerim berdiri sambil tersenyum mendengar ucapan demi ucapan anak lain. Hyerim tertawa lebar membuat Luhan tanpa sadar mempelankan laju larinya. Gadis yang dikacamatanya adalah gadis yang menawan dan sempurna. Tanpa sadar, Hyerim menoleh ke arahnya membuat Luhan gugup dan kegugupan tersebut bertambah parah karena salah tingkah, bagaimana tidak? Hyerim menampilkan senyum indahnya kepada Luhan membuat lelaki tersebut tidak fokus sampai….

“Luhan, hati-hati,” briton dari belakang Luhan terdengar ketika tubuh Luhan hilang keseimbangan dan nyaris jatuh. Ya nyaris sekali bila saja pemilik briton yang menyuaran kepada Luhan untuk hati-hati, tidak menahan bobot tubuh Luhan dengan mencekal bahu Luhan cukup kuat.

Rasa kaget yang dialami Luhan mulai mereda, dirinya membuang napas melalui mulut cukup keras lalu perlahan menegakan tubuhnya kembali. Setelahnya dirinya menengokan kepala ke belakang dan langsung dihujani oleh tatapan serta senyum lembut milik Oh Sehun—orang yang Luhan yakini memperingatinya untuk hati-hati dan langsung sigap menahannya agar tidak jatuh. Disertai senyum kaku, Luhan menyingkirkan tangan Sehun dari bahunya.

“Eo? Oh Sehun?” hanya itu kata yang Luhan keluarkan lalu dengan kikuknya membalikan badan dan lanjut berlari mentutaskan hukuman yang Guru Ahn berikan.

Tanpa Luhan ketahui, Sehun menatapi punggungnya dengan binar mata kecewa dan desahan napas yang juga kecewa. “Apa dirinya tidak berniat mengucapan terimakasih?” gumam Sehun masih dengan gerakan mata mengikuti arah gerak Luhan.

“Sehun.” panggilan suara khas Kim Hyerim pun menyentil telinga Sehun yang langgsung tersadar akan fantasinya pada Luhan lantas dirinya menengok ke sumber suara Hyerim berasal juga tak lupa menunjukan senyumannya. “Ayo ganti pakaianmu. Jangan melamun.” diakhiri kekehan merdulah ucapan Hyerim tersebut dan Sehun hanya tersenyum menahan tawanya.

Dengusan keras tercipta pada Luhan saat menyaksikan adegan Hyerim dirangkul dengan Sehun dengan akrabnya, keduanya saling pandang dan melontarkan frasa untuk saling menyahuti. Juga kadang kala Hyerim tertawa karena apa yang diucapkan Sehun. Dengan perasaan kesalnya, Luhan pun meningkatkan laju larinya hingga menimbulkan keringat keluar dari tubuhnya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Kim Hyerim, kau dipanggil Jinwoo saem.”

Hyerim yang dengan nyamannya sedang membaca buku pun mengangkat kepala serta menyarangkan tatapan bingung kepada Seolhyun yang mengucapkan kata-kata tadi ditambahi alis berkerutnya. Akhirnya pun, Hyerim bertanya karena tak dapat membendung rasa penasarannya.

“Ada apa aku dipanggil?”

Dan bahu diangkat acuh dengan raut tak tahulah yang Hyerim dapatkan. Melihatnya pun membuat Si Dewi Sekolah pun membuang napas dengan pipi mengembung serta menutup buku bacaannya dan menaruhnya di rak seharusnya. Dimulailah rajutan langkahnya menuju ruang guru dan langsung menelisik untuk mencari meja Jinwoo saem yang pindah lantaran membanting stir menjadi guru konseling setelah sebelumnya menjadi guru kesenian karena guru konseling yang dulu sudah keluar. Hyerim pun perlahan mendekati meja guru pria tersebut yang sibuk mengecek beberapa lembar jawaban siswa kelas 12 akan penentuan universitas mereka, dengan badan sedikit membungkuk dan senyum santun pun Hyerim mulai mengeluarkan suara.

“Permisi, saem. Apakah anda memanggilku?” ujar Hyerim seraya menggaruk belakang kepalanya pertanda bingung.

Antensi Jinwoo saem pun beralih kepada Hyerim yang masih setia dengan senyum santun juga badan sedikit membungkuk. Hal selanjutnya yang dilakukan Jinwoo saem adalah meletakan penanya dan menyingkirkan kertas-kertas universitas siswa kelas 12 ke samping agar mejanya tidak terlalu penuh. Kemudian beliau mengulum senyum dan menggerakan tangan kanan mempersilahkan Hyerim duduk di kursi yang tersedia di depannya.

“Duduklah, Hyerim.” ucap beliau dengan nada halus nan menenangkannya. Pantas saja beliau dipilih jadi guru konseling, para murid pun pasti langsung bersedia datang padanya dengan sukarela karena perilaku Jinwoo saem yang ramah.

Singkat waktu pun, Hyerim sudah duduk di kursi yang dimaksudkan Jinwoo saem dengan tubuh kaku dan perasaan was-was. Tak lupa juga jari-jari Hyerim bergerak liar diatas pahanya juga bola matanya bergerak-gerak liar ke sana-ke sini. Sementara di hadapannya, Jinwoo saem bersikap tenang dengan bibir membentuk senyuman yang kontras dengan Hyerim yang menggigit bibir bawah resah.

“Hyerim…”

Kepala Hyerim terangkat cepat dengan wajah was-was juga mata melebar, lantas dirinya menyahut secepat kilat. “Y…a.” tangannya pun mencengkram erat bagian roknya yang berada diatas paha.

Jinwoo saem melihatkan raut agak ragu dengan ujung telunjuk mengetuk meja kerjanya, kepalanya ia gerakan ke samping kanan sambil menggaruk-garuk tenguknya dengan tangan yang tidak ada di atas mejanya. Aksinya membuat Hyerim jadi berpikir, apakah dirinya dapat skorsing atau semacamnya. Namun perasaan gugup kembali hinggap sampai tak berujung ketika guru di hadapannya ini kembali menatapnya.

“Emmm… begini Hyerim, aku ingin meminta bantuanmu…” Jinwoo saem membetulkan posisi duduknya agar lebih tegak, Hyerim diam-diam menghela napas lega lantaran dirinya dipanggil bukan untuk mendapat hukuman atau peringatan. “… Luhan,” kerutan bingung tercipta langsung diparas ayu Hyerim tatkala mendengar nama tersebut. “Aku ingin kamu menjadi turtornya dalam hal pelajaran dan memperbaiki sikapnya. Dewan guru sudah patah arang akan siswa yang satu itu.”

Tentu saja ekspresi Hyerim adalah wajah cengonya mendengar penuturan Jinwoo saem. Menjadi turtor Luhan? Anak paling bermasalah seantreo sekolah? Bukan Hyerim tidak mau. Namun apakah dengannya Luhan akan berhasil berubah atau malah makin menjadi. Ekspresi Hyerim yang bengong dengan mulut melihatkan sedikit celah membuat Jinwoo saem menggigit bibir bawahnya dan menggaruk belakang kepala agak gusar.

“Aku tahu kamu keberatan Hyerim, tapi—“

“Kenapa harus aku?” air wajah Hyerim mulai agak tenang walau masih tercetak jelas kekagetan didalamnya.

Jinwoo saem tampak melihatkan wajah serta tatapan memohon, mengira Hyerim menolak mentah-mentah permintaannya. Namun bukan itu maksud Hyerim, maka dari itu dirinya mengulum senyum menenangkan dan menggeleng membuat Jinwoo saem menampilkan wajah super bingungnya.

“Aku tidak masalah menjadi turtornya atau dipaksa menjadi temannya agar sikapnya bisa diperbaiki. Hanya… kenapa aku yang dipilih? Aku takut gagal melaksanakannya. Bukannya ada Oh Sehun? Luhan kan laki-laki, mungkin lebih mudah bila sesama lelaki mengakrabkan diri. Bukannya begitu?” Hyerim menatap penasaran Jinwoo saem, lalu dirinya menambahkan juga. “Ini bukan karena aku tidak mau membimbingnya, aku hanya takut Luhan menolakku mentah-mentah.”

Jinwoo saem melihatkan senyum geli tanda menahan tawa, sambil melipat kedua tangan di atas meja, beliau menatap Hyerim penuh rahasia lalu berkata. “Kamu ingin tahu kenapa? Jawabannya tentu bukan karena dirimu murid teladan.” anggukan Hyerim pun ia lihatkan, dengan raut penuh rahasianya Jinwoo saem melanjutkan. “Ini dikarenakan dirimu….”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Ini dikarenakan dirimu berbeda dimata Luhan, Hyerim-ah. Menurut apa yang aku dapatkan, Luhan pasti cenderung diam bila berhadapan denganmu bahkan langsung melaksanakan ucapan yang kamu ucapkan. Maka dirimulah yang dipilih menjadi turtor Luhan.”

Kepala Hyerim tergerak ke kiri dan kanan dengan wajah bingung tatkala sedang berjalan di koridor. Dirinya bingung setengah mati akan perkataan Jinwoo saem. Luhan menatapnya dengan berbeda? Memangnya kenapa? Hyerim saja tidak pernah mengobrol dengan lelaki itu. Bahkan ketika dirinya sekelompok dengan Luhan, lelaki itu cenderung pasif dan melakukan hal fatal dengan memecahkan satu alat pratikum membuat Seokjin—satu rekan kelompoknya kala itu, menyemprot Luhan hingga menimbulkan petikaian panjang. Petikaian itu berhenti hanya karena satu kata dari mulut Hyerim, ‘Luhan, hentikan,’

Tungkai milik Hyerim pun memberhentikan kegiatannya, kepala yang semula sedikit menunduk pun terangkat. Obsidian yang melihatkan kebingungan langsung berkilat kala otaknya menemukan sebuah jawaban pasti. Ya, benar, Luhan selalu menuruti kata-katanya entah kenapa. Lelaki itu juga jadi diam dengan tingkah kakunya ketika matanya bersibobrok dengan mata Hyerim. Entah mengapa.

“Aih, sungguh mejengkelkan. Kenapa jadi pusing memikirkannya sih? Kalau jadi turtornya ya jadi turtornya saja tanpa harus memikirkan hal tidak penting.” kata Hyerim dengan tangan kanan menggepal dan memukul-mukulkannya kekepalanya seraya mengacak-acak pelan surai hitamnya.

Sebelum Hyerim jadi gila karena alasan tidak jelas, otaknya memutar ucapan Jinwoo saem terakhir kali. Karena dihukum berlari di lapangan, Luhan pun merasa lelah dan memilih tidur di jam terakhir tadi membuatnya harus terjebak di kelas sampai setengah jam. Hanya duduk saja sih namun Jinwoo saem tadi mencegat Hyerim yang melewati ruang guru dengan tas sekolahnya dan bersiap pulang, alasan guru berkacamata itu mencegat Hyerim adalah menyuruh gadis itu menemani Luhan di jam hukumannya. Itu dijadikan juga langkah pertama Hyerim mendekatkan diri pada Luhan.

Napas Hyerim terbuang lalu dirinya merapikan kemeja sekolah dan rambutnya yang acak-acakan. Kemudian mengangguk untuk memantapkan diri serta kembali berjalan menuju kelas dan berusaha fokus untuk tidak memikirkan kata-kata Jinwoo saem saat istirahat perihal Luhan yang menatapnya berbeda. Rajutan langkah Hyerim menyampai final kala dirinya kembali berada di depan pintu, dengan gerakan agak ragu Hyerim mengangkat tangan dan mulai membuka pintu kelasnya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Umpatan demi umpatan terus-menerus Luhan lontarkan entah untuk siapa. Entah Guru Ahn yang menghukumnya berlari atau Guru Su yang menunda jam pulang Luhan. Tapi tak apa sih bila hanya duduk diam di kelasnya dibanding harus berlari lagi dan membuang-buang tenaga. Bosan mulai menghampiri Luhan yang kemudian menguap namun berusaha tetap terjaga, karena tak lucu bila nanti dirinya ketiduran dan terbangun ketika hari sudah gelap. Ketika sedang bosan dengan masa hukumannya, gagang pintu pun terdengar ditarik mengundang Luhan menoleh ke sumber suara.

Hingga akhirnya suara ‘kriet’ yang agak pelan itu memekikan telinga Luhan apalagi keadaan kelas sepi dimana hanya ada dirinya dan mungkin beberapa detik kedepan juga oknum yang membuka pintu kelasnya. Pintu kelas sedikit demi sedikit terbuka lalu sosok gadis manis tampak melihatkan wajah tenangnya dengan senyum manis sambil mulai menampakan diri. Demi Tuhan, Luhan langsung melebarkan mata kaget mengetahui siapa sosok yang membuka pintu kelasnya.

“Hallo,” adalah sapaan Hyerim diiringi sahnya gadis itu memasuki kelas. Dirinya melempar senyum pada Luhan menyebabkan gemuruh didada kiri lelaki itu menggila dengan dentumannya yang sangat keras. Hyerim membalikan badan untuk menutup pintu lalu kembali mengulum senyum pada Luhan diiringi langkah kaki mendekati pria yang mulai menggerak-gerakan jarinya resah di atas meja. “Luhan-ah.”

Panggilan Hyerim membuat Luhan mengangkat kepala dengan mata membola. Kaget akan panggilan akrab yang terlontar dari gadis yang mulai menarik kursi duduk di hadapannya dan masih setia dengan senyum bak bidadarinya. Luhan memejamkan mata sebentar dan mengumpat dalam hati akan tubuhnya yang mulai salah tingkah. Diam-diam Hyerim tersenyum gemas akan tingkah Luhan.

“Jinwoo saem menyuruhku mengawasimu.” Hyerim pun berkata dan respon Luhan hanyalah anggukan kepalanya.

Kemudian Hyerim menyenderkan punggung ke sandaran kursi sambil memperhatikan Luhan yang menggerak-gerakan mata liar dengan bibir tergigit resah juga jari-jari tangan yang bergerak resah. Ketika dirinya tak sengaja menatap Hyerim, Luhan pun menunduk salah tingkah. Hyerim yang melihatnya jadi tertawa tanpa suara dengan menutupi mulut menggunakan tangan kanannya. Tak menyangka siswa paling beringas di sekolahnya yang bernama Luhan ini bisa salah tingkah dan malu-malu seperti sekarang.

“Hye… Hye… Hye….rim-ssi,” seketika Luhan memanggil dengan intonasi gugup dan memandang Hyerim dengan ragu.

Hyerim pun menegakan tubuh lalu meraih tangan Luhan dan megenggamnya membuat Luhan menatapnya kaget sambil bergantian menatap wajah Hyerim dan tangannya yang digenggam gadis itu. Desiran hebat kembali terjadi didada Luhan. Hyerim lagi-lagi tersenyum lembut sembari mengelus tangan Luhan.

“Hyerim-ah, Hyerim-ah,” ujar Hyerim dengan kepala bergerak mengangguk-angguk lalu gerakan tersebut ia hentikan dan mulai berucap lagi, “Panggil aku seperti itu.”

Mata Luhan dengan binar bingung itupun menatap kornea mata Hyerim yang masih setia melihatkan seuntas senyuman dan memberikan elusan lembut ditangannya. Ludah yang susah payah ia tegukpun akhirnya menelusuri kerongkongannya serta berusaha meminalisir rasa gugup yang menyarang dihati Luhan.

“Ekhm, Hyerim-ah,” diawali lebih dahulu dengan dehemannya, Luhan memanggil Hyerim dengan sapaan akrab membuat Hyerim makin menyunggingkan senyum manisnya. Setelahnya, gadis tersebut menarik tangan yang mengelus tangan Luhan kemudian menyenderkan punggung ke kursi.

Akhirnya Luhan kembali menunduk sambil berkomat-kamit dalam hati dengan mulut bergerak-gerak. Dirinya sungguh tak bisa mengontrol rasa terpesona juga debaran hebat dijantungnya. Sementara Hyerim sendiri sedang membuka buku antaloginya dan serius menyusuri isinya. Diam-diam Luhan mencuri pandang ke arah gadis tersebut, namun ketika ada ancang-ancang Hyerim akan menatapnya balik, sesegera mungkin Luhan mengalihkan tatapan ke bawah dengan kikuk. Tangan lelaki itu yang teramit satu di atas meja pun digerak-gerakan resah.

“Hah, sudah selesai rupanya,” gumam Hyerim ketika mengecek arlojinya kemudian menutup buku antaloginya serta menaruhnya ke tas berwarna putih miliknya. Terlihat Luhan memperhatikan gerak-gerik Hyerim seakan orang lugu. Tatkala Hyerim balik menatapnya, Luhan pun salah tingkah. “Luhan-ah,”

“Yyy….aaaa?” respon Luhan cepat dengan gagapnya membuat Hyerim tersenyum menahan kekehan hingga gigi putih bersihnya nampak. Luhan yang merasa jatuh harga dirinya hanya menerawang ke  arah bawah dengan tangan kanan menggaruk-garuk belakang kepalanya.

Hyerim pun mendorong kursinya lantas berdiri dengan tas putih yang sudah tersampirkan dikedua bahunya. “Ayo, kita pulang.” tangan lembut tersebut terulur ke  arah Luhan disertai senyum yang tak kalah lembutnya.

Dengan lagak lugunya, Luhan menatap bergantian tangan Hyerim serta wajah jelita gadis tersebut. Hingga akhirnya tangan Hyerim bergoyang pertanda Luhan harus segera menerima ulurannya. Dengan kikuknya, Luhan menerima uluran tersebut dan menyebabkan Hyerim memasang wajah riang dan menarik tangannya dengan diamit erat. Tungkai keduanya pun mulai menelusuri koridor sekolah yang sekarang lebih sepi dibanding waktu saat Hyerim terakhir menginjakan kaki untuk berbalik ke  arah kelasnya. Diam-diam senyum Luhan merekah ketika menatap profil samping Hyerim lalu dirinya pun menatap tangannya yang terpaut satu dengan tangan gadis manis tersebut.

Sampai akhirnya Luhan pun menghentikan langkah mengikuti Hyerim yang berhenti. Gadis bermarga Kim itu membalikan badan lalu menatap Luhan sebentar sembari menggumam. Luhan pun sedikit memajukan wajah penasaran kepada Hyerim yang seakan ingin mengatakan sesuatu. Keduanya pun sekarang sedang berada di halte bus yang kosong.

“Emm… Luhan-ah, aku ingin memberitahu,” ujar Hyerim memulai pembicaraan lalu dirinya menggigit bibir bawahnya kelihatan ragu lalu menundukan kepalanya. “Jinwoo saem menyuruhku menjadi turtormu.”

Hyerim pun mengangkat sedikit kepala juga pandangannya pada Luhan, raut ragu tercetak jelas diparasnya sementara Luhan melihatkan wajah terlihat kaget. Setelahnya Hyerim menarik tangan yang meggengam Luhan dan menaruhnya dibelakang punggung bersama tangan yang lainnya yang akhirnya mengamit menjadi satu dibelakang punggungnya. Luhan pun menatap Hyerim dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu mendecih dengan raut serta senyum remeh.

“Oh… jadi itu alasanmu bersifat baik padaku?” kata Luhan dengan dingin dan nada menusuk. Mendengar kata-kata tersebut membuat Hyerim dengan langsung menatap Luhan yang sekarang layaknya Luhan yang seperti biasanya—dingin tak berperasaan, dengan tangan terlipat didepan dada.

Kepala Hyerim menggeleng dengan bola mata bergerak-gerak, membantah asumsi Luhan. “Tidak, tidak. Memang aku berusaha mengakrabkan diri. Namun bukan begitu—“

“Kalau begitu jadilah turtorku.” secara tiba-tiba Luhan memotong membuat Hyerim membuka mulutnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun juga menatap Luhan bingung. Sementara Luhan sendiri tetap melipat tangan didepan dada serta menyarangkan tatapan dingin pada Hyerim.

Bibir Hyerim mengatup dan mengerjapkan matanya dua kali, lantas dirinya mulai bisa berkata dengan gugupnya. “Ma..ksud…mu?”

Aksi yang dilakukan Luhan selanjutnya adalah membungkuk sembari menjajarkan wajahnya dengan wajah jelita Hyerim membuat gadis itu menahan napas kelewat gugup dengan badan yang tegap. “Guru-guru itu pasti selalu mengerecokiku, maka dari itu jadilah turtorku untuk mengurangi konsekuensi diriku diganggu para guru.”

Sekon selanjutnya, Luhan pun menarik diri sambil berdiri dengan tegak dan tangan ia masukan ke saku celana sekolahnya. Sementara Hyerim yang sedaritadi menahan napaspun mulai menghembuskan napas juga menetralkannya, apalagi detak jantungnya yang mulai berirama tak karuan. Lalu dirinya menatap Luhan yang menatapnya dengan gaya cuek.

“Kalau begitu…” Hyerim menggantungkan kalimatnya membuat Luhan lagi-lagi menatapnya heran dengan kepala dimiringkan.  Hening beberapa saat pun terlewati ketika Hyerim mengulurkan tangan dan menatap Luhan dengan senyumannya. “… mari berteman.”

Saliva milik Luhan terteguk sembari melirik tangan tersebut, dengan senyum tipis yang seakan dipaksa-paksakan. Luhan mengangkat tangan kemudian menepis pelan tangan Hyerim dan menolehkan kepala ke  arah samping, tangan tersebut pun ia masukan kembali ke saku celana mengikuti tangannya yang satu lagi.

“Ya, mari berteman.”

Berbeda dengan aksinya yang sok cuek, hati Luhan merasa menghangat mendengar permintaan pertemanan dengan gadis yang selama ini ia sukai diam-diam. Di lain sisipun Hyerim menatap tangannya yang ditolak Luhan untuk berjabat, lantas tangan tersebut ia tarik kembali dan menangkupnya dengan tangan yang satunya dan ia taruh tepat di atas roknya. Badan Hyerim pun berbalik melihati jalanan luas di hadapannya. Dengan diamnya pun Luhan melirik gadis tersebut kemudian ikut memandang jalanan sembari menunggu bus.

Ya, hari keduanya yang sesungguhnya dimulai dari sekarang.

—To Be Continued—


Percayalah, bahwa FF Nuestro Amor yang berarti Our Love alias Cinta Kita dalam bahasa Spanyol ini adalah FF project iseng abal-abal. Berawal dengan ide yang menyarang diotak dan ingin terlelasasikan kebentuk tulisan makalah jadi begini. Serius ane gak niat project ini akan waw dan sepanjang FF lainnya kayak Beauty and The Beast, My Cinderella, Complicated Fate. Gak, ini hanya mini chapter yang Insya Allah gak nyampe 10 chapter.

Oh ya walau aku bilang ini slight! Yaoi. Tapi pairingnya BUKAN YAOI, gaes. Aku gak akan buat FF yang belok ke situ wkwkwk, jadi nantikan aja ya kisah cinta abnormal Hyerim-Luhan.

Di sini emang Luhan malu-malu ucing tapi gengsian kebangetan buat bilang ‘Ye gue suka sama lu’ atau bilang ‘Yedah kita temenan’ ya Luhan songong dan maafkan buat Sehun biased karena Sehun akan….

Okelah cus komen aja ya gaes. Ini FF tanpa Prolog/Teaser maen nongol ke permukaan tadinya mau ada Prolog tapi kelewat males.

Okee see u next chapter, aku usahakan gak lama soalnya ini proyek pengalihan aja.

CLICK PICTURE FOR VISIT MY BLOG!

CLICK PICTURE FOR VISIT MY BLOG!

3 thoughts on “Nuestro Amor – Chapter 1

  1. Aww so sweet! Ntah ya gimana kedepannya kalau Luhan tau kalau Sehun nanti …. aahh aku tak kuasa 😆
    Saranku, ketika ada penggunaan panggilan lain “…., idiot!” Itu jadi “blablabla, Idiot!” (Diberitahu oleh admin sebelah. Katanya sih begitu,)
    Tetap semangat ya! I’ll be wait next part 😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s