Babo a.k.a Stupid (Chapter 1)

part-1

Tittle    : Babo a.k.a Stupid

Part  1 : “Unlucky-Lucky Day” 

Lenght : Chapter

Rating : 13+

Genre : Comedy Drama, Humor, Romance

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Twitter : @JiRa_deeFA

Main Cast : [EXO] Baek Hyun as Byun Baek Hyun

                     [EXO] Chanyeol as Park Chanyeol   

                     Z.Hera as Ji Hye Ra

                     [Girls Day] Mina as

                     [EXO] Chen as Kim Jong Dae

                     [EXO] Sehun as Oh Sehun

                     [AOA] Choa as Park Cho Ah

(Introducing my new FF. Author amatiran ini berterima kasih kepada yang mau baca. Hehehe.  Mohon kritik dan sarannya ya *bow*. Hope You Like ^^ No Silent Readers Please…)

Gegara nonton drama Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo, jadi suka sama pasangan Wang Eun (Baek Hyun) dan Soon Deok (Z.Hera). Semoga kalian suka dengan pasangan ini. 

Happy Reading….

My First Kiss…” gumam seorang gadis yang mengenakan white wedding dress rancangan designer ternama Korea sambil memegang bibirnya. Wajahnya tampak sedih dan kecewa. Berkali-kali ia menghela napas berat.

“Padahal senang! Sok jual mahal!” sindir laki-laki yang mengenakan tuxedo berwarna serasi dengan gadis yang berdiri bersamanya di depan altar sebuah gereja sambil membenarkan dasi pitanya.

Gadis di sampingnya menoleh ke arahnya dan memberi tatapan tajam.

“Bukankah dari SMA ini yang kau inginkan?” ucap laki-laki itu dalam frekuensi kecil serta menatapnya malas.

Mereka saling menatap tajam satu sama lain. Seperti ada aliran listrik dari tatapan mereka. Pendeta di hadapan mereka hanya geleng-geleng kepala. Sementara orang-orang di ruangan bertepuk tangan. Semua orang merasa haru dan suka-cita, apalagi saat kelopak-kelopak bunga mawar berjatuhan di dalam ruangan yang megah itu.

“Pegang lenganku, labu!” ejek laki-laki itu.

***

Kaki pendek milik gadis yang memakai hot pants dan t-shirt berlengan panjang melangkah sangat lebar. Tidak peduli dengan lalu lintas Seoul yang macet saat sore hari, walaupun orang-orang menyumpahinya karena memotong jalan raya sembarangan. Bukannya tidak takut akan kecelakaan yang bisa terjadi padanya, tetapi sekarang hidupnya berada di ujung tanduk. Kekuatan laki-laki berkepala botak licin dengan tubuh berisi yang mengejarnya tidak bisa diremehkan. Selama satu jam tenaganya belum habis untuk mengejarnya, sementara dirinya sudah kehabisan napas dan lututnya mulai bergetar, padahal dulu saat SMA ia adalah kapten basket dan pelari jarak jauh yang handal.

“Amerika! Ayo kita bicara!” teriak si botak dengan aksen Busannya.

“Amerika!!” teriaknya lagi.

Tentu saja namanya bukan Amerika, si botak memanggilnya demikian jika amarahnya memuncak. Gadis yang sedang dikejarnya tersebut bernama Ji Hye Ra. Mahasiswi yang ‘mengaku’ dirinya half-blood Amerika-Korsel ini lahir di Chun Cheon, provinsi Gangwon tahun 1994. Dia mahasiswi jurusan seni peran di Korea National University of Arts. Laki-laki yang mengejarnya bukanlah dosennya, dia adalah rentenir bernama Kwang Kyu.

Matanya tertuju pada sebuah pusat perbelanjaan tersebesar di Seoul yang berada diseberang jalan. Hye Ra memutuskan untuk menyeberang dan menghilang di tengah keramaian orang. Ia berkeyakinan, Kwang Kyu tak akan bisa menemukannya di sana.

Saat dirinya memasuki mall, sayup-sayup suara Kwang Kyu terdengar semakin mengecil. Ia membuka t-shirtnya lalu membuangnya asal di trash can. Kini penampilannya berubah, ia mengenakan hot pants putih dan tank top berwarna hitam serta kacamata yang diambil dari clucthnya.

Kwang Kyu yang mempercepat larinya secara tiba-tiba berpapasan dengannya. Namun, ia malah melewatinya. Ia berhasil mengelabui musuhnya. Aksi terakhir adalah segera keluar dari tempat ini dan memilih jalur yang paling aman, yaitu melewati basement.

Tak hentinya ia tertawa saat mengingat si botak yang berhasil dibodohinya. Tanpa terasa dia sudah sampai di basement. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Saatnya kesempatan untuk beraksi. Seperti biasa, kebiasaan buruknya adalah berpose di depan mobil mewah milik orang lain, yang nantinya akan diupload di instagram dengan akun palsunya.

Sebuah porshe berwarna biru membuat matanya berbinar-binar. Ia mengeluarkan selca stick (tongsis) dan mulai berpose bak racing model. Dibusngkannya dadanya yang menurutnya sexy serta mencari angle yang pas agar ia terlihat lebih ramping. Tubuhnya memang tak terlalu kurus, namun dia punya aplikasi android yang dapat membuatnya terlihat kurus. Tak lupa camera 360 agar wajahnya terlihat seperti gadis-gadis di manga.

Sedang asik-asiknya berpose, mobil di seberangnya berbunyi. Tanda yang punya datang. Ia bersembunyi di balik porshe sambil mengintip siapa yang datang. Ternyata dua orang laki-laki berwajah pangeran asik berbincang sambil berjalan.

Wow! They’re freaking hot!” gumamnya dengan suara kecil menggunakan Bahasa Inggris yang fasih. Wajar saja, ia tinggal di Los Angeles sejak usia 3 tahun hingga usianya belum genap memasuki 15 tahun.

Pandangannya masih tertuju pada mereka. Tiba-tiba terlintas ide di dalam pikirannya. Dirogohnya handphone yang berada di dalam clutch lalu merekam interaksi mereka berdua yang berjalan bak model.

“Bisa meleleh kalau dilihat Mina” kekehnya yang sengaja merekam untuk roommate sekaligus teman dekatnya yang memang seorang fujoshi yaitu pecinta manga bergenre Yaoi (Cerita cinta boyXboy). Salah satu favoritnya adalah Sakuraga Mei.

“Makan malam yang sangat menyenangkan. Apa mulai sekarang aku harus memanggilmu Sajangnim?” ucap laki-laki memakai kemeja biru soft dan celana silver yang menyandarkan  badannya di mobil berwarna putih.

“Berlebihan! Bahasa Koreamu tambah baik saja” balas laki-laki memakai jas abu-abu yang ikutan bersandar di samping laki-laki tadi.

“Bisa saja!”

“Jangan jadikan beban, hingga stress akibat khawatir yang berlebihan. Semua akan baik-baik saja. Kabari aku segera!” ucap laki-laki yang memakai jas berwarna abu-abu sambil memegang pundaknya. Laki-laki berkemeja biru soft tersenyum simpul padanya.

“Seluruh pemegang saham baru saja melantikku menjadi CEO. Appaku telah mempercayakannya padaku. Hidupku sekarang penuh dengan beban dan jadwal yang padat. Jadi, aku tidak bisa sering-sering ke Thailand” sambungnya lagi.

“Kau memang bisa diandalkan. Tidak masalah. Kita masih bisa Skype. Hmm, bagaimana soal gadis yang kau ceritakan dua hari yang lalu. Apa sudah kau habisi dia?”

“Dia lebih cerdik dari yang kukira. Nyalinya sangat kuat, membuatnya mati kehabisan darah sangat sulit” ucap laki-laki yang memakai jas abu-abu seraya mengubah posisi menjadi berdiri di hadapan lawan bicaranya.

Tangan Hye Ra menjadi gemetar saat mendengar penyataan mengerikan dari mulut laki-laki yang memakai jas abu-abu. Ia semula ingin mematikan rekamannya, namun melihat ekspresi laki-laki berkemeja menunjukkan wajah menyeringai membuatnya melanjutkan rekamannya. Walaupun hatinya berdegup tak karuan dan sekujur tubuhnya berkeringat karena ketakutan.

Oh come on dude! Kau bisa mengandalkanku. Mengahabisi darahnya? Seperti menuangkan bir dalam gelas. Akan aku tunjukkan keahlian head shot-ku. Shoot! She will be dead in no time

“Ingat Nick, rahasia ini jangan sampai tersebar kemanapun” laki-laki memakai jas memberikan nada peringatan pada lawan bicaranya sambil memegang kedua pundaknya.

You have my words!

“Dan juga alasan kenapa kita bisa berhubungan aku harap jangan sampai kau bocorkan. Atau mulutmu akan menerima akibatnya”

“Akibat apa? You wanna hit my lips with your kiss? So sweet baby” ucap laki-laki yang memakai kemeja dengan nada imut yang dibuat-buat.

Hye Ra bergidik ngeri dan ingin muntah mendengarnya.

Yes, with this Nick” balas laki-laki berpakaian jas yang Hye Ra tak tahu apa yang mereka lakukan. Terdengar suara laki-laki berkemeja tertawa girang.

Tiba-tiba, tanda peringatan baterai hampir habis berbunyi, membuat dua laki-laki yang tengah berbicara menoleh, mencari asal suara. Hye Ra segera menyimpan videonya, ia tidak bisa melanjutkan lagi. Terpaksa ia harus berjalan jongkok agar mereka tak dapat melihatnya. Baru saja ia melewati kematian gara-gara si botak, kini kematian datang lagi. Lebih parah lagi, ia akan benar-benar mati di tangan pembunuh dengan wajah tampan mematikan.

Dengan susah payah ia berhasil menyelinap keluar dari basement. Hatinya tak tenang akibat mendengar perbincangan tadi. Sepanjang perjalan pulang, ia tak henti-hentinya menghela napas berat di bus. Gelisah menyelimuti dirinya. Bimbang antara apakah ia hanya diam saja membiarkan gadis yang dibicarakan tadi mati dengan head shot seperti yang direncakan atau ia melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya. Namun, ia takut akan menjadi buronan mereka bila berusaha menyelamatkan gadis tersebut. Akan tetapi hati nuraninya tak dapat dibohongi. Tekadnya sudah bulat. Rencana sudah tersusun di kepalanya. Bis berhenti ditujuannya. Ia berlari kencang, berpacu dengan waktu dan nyawa gadis itu.

Mina, teman sekamarnya, yang baru saja selesai makan malam, aneh melihatnya yang pulang tanpa sapaan apapun, langsung duduk di depan laptopnya.

“Ada apa?” tanyanya yang duduk di sampingnya.

“Aku sedang melakukan hal besar. Aku harap kau banyak berdoa atas keselamatanku”  balas Hye Ra dengan wajah yang serius.

Temannya itu hanya menggaruk-garuk kepalanya. Ia bingung dengan sikapnya dan juga pakaian yang dikenakan Hye Ra.

“Apa dia baru saja membaca manga?” pikirnya yang biasa melihat temannya yang seorang otaku bertingkah aneh bila membaca manga. Temannya itu bisa berubah menjadi karakter utama di manga yang sedang dibacanya.

Sambil menikmati secangkir coklat panas, Mina duduk di sampingnya. Ia membaca manga dalam posisi tidur, kepalanya di letakkany di atas paha Hye Ra. Ia tak peduli dengan Hye Ra yang sangat serius berkutat dengan laptopnya. “Mungkin skripsinya…” batinnya.

“Jadi!” teriak Hye Ra yang spontan berdiri, membuat kepala Mina terbentur di lantai.

“Aww….” ringis Mina yang kini duduk.

Wae? Skripsimu sudah selesai?” tanyanya.

Hye Ra tak menjawab. Ia malah menyuruh Mina duduk di depan laptopnya. Kemudian ia memutar sebuah video yang telah dieditnya. Baru beberapa detik video dimainkan, mata Mina langsung memancarkan cahaya. Bahkan berkali-kali ia menelan ludah dan mengelap ilernya.

“Tampannya…” gumamnya sambil memajukan bibirnya ke arah laptop.

 “Akibat apa? You wanna hit my lips with your kiss? So sweet baby” ucap laki-laki dari dalam video yang membuat Mina ‘jingkrak-jingkrak’ tidak jelas.

“Ya ampun….ternyata di dunia nyata ada yang seperti ini” gumamnya lagi.

Videopun habis terputar dan Hye Ra menanyakan pendapatnya mengenai video tersebut.

“Aku jamin, para fujoshi sepertiku di luar sana akan melted saat lihat video ini” ia mengutarakan pendapatnya.

Ya! Baboya! Perhatikan ini baik-baik” kata Hye Ra yang mengulang kembali video tersebut.

“Dia lebih cerdik dari yang kukira. Nyalinya sangat kuat, membuatnya mati kehabisan darah sangat sulit”suara laki-laki di video.

“Oh come on dude! Kau bisa mengandalkanku. Mengahabisi darahnya? Seperti menuangkan bir dalam gelas. Akan aku tunjukkan keahlian head shot-ku. Shoot! She will be dead in no time” balas lelaki di dalam video.

Mina masih tidak mengerti mengapa temannya itu memutar kembali di bagian tersebut. Padahal seharusnya ia memutar kembali di bagian yang ada kata-kata ‘kiss’nya. Namun, Hye Ra memintanya untuk fokus dan mendengar baik-baik apa yang sedang mereka bicarakan. Setelah memutar dua kali agar Mina yang gagal fokus karena melihat ketampanan dua laki-laki di dalam video, akhirnya tersadar dan membekap kedua mulutnya dengan tangan.

Omooigeo ottokhe? Ya! Dari mana kau mendapatkan video ini?” tanya Mina mulai panik.

“Ini bukan film kan?” tanyanya memastikan lagi yang kemudian di balas oleh Hye Ra dengan mengucapkan bahwa dialah yang merekam video tersebut.

Omomaksudmu ini pembunuhan berencana? Ottokhe? Uri ottokhe? Ya! Ya! Ayo segera kita pindah dari rumah ini. Kalau ketahuan kita punya video ini, mereka bisa membunuh kita”

“Tenang! Aku tidak akan melibatkanmu dalam masalah ini. Aku tidak bisa membiarkan wanita itu mati. Kau berdoa saja untukku. Aku akan menyelamatkannya!” kata Hye Ra.

Ia sudah siap dengan segala konsekuensinya. Bahkan berkali-kali telah dilarang oleh Mina untuk tidak pergi dan segera menghapus video itu, ia tetap bersikeras untuk pergi. Kini ia telah siap berpakaian serba hitam. Celana hitam, jaket hitam, sepatu hitam, topi hitam serta masker berwarna hitam. Penampilannya seperti seorang mata-mata dari kepolisian di drama-drama action-romance.

“Kau mau kemana? Aku mohon. Kau hapus saja video itu. Lalu kita bersama-sama ke gereja untuk berdoa di sana. Jebal!” pinta Mina.

“Tenang saja! Aku pergi dulu. Jangan lupa kunci pintu”

Sekarang hanya punggung Hye Ra dengan tas ranselnya yang dapat dilihat Mina. Sekujur tubuhnya lemas dan terhempas ke lantai. Di dalam kepalanya penuh dengan tebakan-tebakan yang akan terjadi dengan sahabatnya. Khawatir sekaligus bangga dengan sikap pahlawannya yang menurutnya bodoh.

Babo! Kalau kau mati, hutang-hutangmu bagaimana? Aku tidak mampu melunasinya” gumamnya sambil mengapus air mata.

***

Tak ingin mengambil resiko dengan menaiki bus, Hye Ra memilih untuk berjalan kaki. Tempat yang ia tuju sekarang adalah salah satu spot wifi yang paling kencang di Seoul. Banyak orang-orang yang telah duduk di bangku-bangku yang telah disediakan. Semuanya sibuk dengan laptop mereka masing-masing. Tepat seperti dugaannya, tempat ini padat, sehingga membuat dirinya yang kecil tidak akan kelihatan jika ia duduk paling sudut.

Dikeluarkannya laptop berwarna putih berukuran 11 inch. Pekerjaan mulia nan berbahaya telah dimulai. Dengan bantuan temannya bernama Kyung Soo yang juga rekan kerja part-timenya dulu, ia mengikuti instruksi seperti yang telah dijelaskannya via telepon. Jangan ragukan kemampuan Kyung Soo, ia pernah bekerja sebagai hacker untuk sebuah entertaiment untuk menaikkan chart lagu online artis-artis mereka. Namun, ia memilih berhenti setelah lulus dari universitas dan kini bekerja sebagai pegawai sistem keamanan bank. Alasannya berhenti di entertaiment tadi, tentu saja karena tawaran pekerjaan yang sekarang gajinya lebih menggiurkan.

“Sekarang, kau hanya perlu menunggu beberapa menit lagi. Dan lihat sekelilingmu, video itu akan masuk ke dalam handphone dan laptop mereka” ucap suara di seberang.

Di bawah kacamata hitamnya, Hye Ra melirik ke kanan dan ke kiri. Ternyata benar yang dikatakan Kyung Soo. Seseorang yang duduk di sebelahnya membuka handphonenya, di layarnya tertulis ‘Tebak-tebak berhadiah’. Benar, Kyung Soo memberinya instruksi untuk menyebarkan video tersebut seperti sebuah virus dengan judul yang menarik, saat mereka meng-klik tulisan tersebut, video tersebut akan berjalan tanpa bisa di pause atau di stop.

Seluruh orang yang berada di tempat itu kini sibuk dengan video yang ada di handphone dan laptop mereka. Hye Ra tersenyum puas sambil melihat akun Youtubenya yang penuh dengan komentar orang dalam waktu sekejab. Rasanya ia ingin sekali menghampiri Kyung Soo lalu memeluknya sekuat tenaga. Teman yang sering diremehkannya, ternyata berguna juga. Hatinya telah lega. Ia berharap gadis yang dimaksud dua orang tadi melihat video tersebut.

***

Pria muda serta tampan yang mengenakan jas rapi dengan seksama menyimak presentasi salah seorang karyawannya. Ia duduk sambil membaca hand out dari presentasi tersebut dengan serius, padahal hari sudah malam dan tampak ada karyawannya yang menguap walaupun menutup dengan tangannya. Dengan pulpen mahal di tangannya ia mulai menuliskan sesuatu di hand out tadi. Sesekali kepalanya menggangguk. Namun, terkadang ia menggelengkan kepalanya saat tidak setuju dengan pernyataannya.

“Demikian presentasi saya. Terima kasih” kata laki-laki tersebut yang kemudian membungkuk hormat pada semua petinggi yang menghadiri rapat.

Lampu pun kini dihidupkan kembali, pria muda dan tampan yang duduk di depan plakat CEO pun bangkit dari duduknya. Ia mengambil alih posisi laki-laki yang mempresentasikan masalah project terbaru dari perusahaannya tadi.

“Terima kasih pada Yang Yoseob dan Kim Doojon yang telah  mempresentasikan hasil project dari tim kalian masing-masing. Kedua tim kalian punya ide yang cemerlang, tapi, kalian punya kesalahan yang sama. Handphone yang saya inginkan punya kualitas baik dan akan dipasarkan di kalangan menengah. Saingan kita dari perusahaan lain, dengan harga yang terjangkau handphone mereka telah dilengkapi dengan semua sensor termasuk sidik jari. Perusahaan kita, yang notabenenya salah satu produsen android berkelas, belum bisa memproduksikan sama seperti mereka” jelasnya panjang lebar.

“Tetapi, mereka masih menggunakan body full plastic” sanggah Dojoon.

“Kau tahu tim yang dimpin oleh Sung Joon kan? Mereka berhasil membuat handphone mereka yang dibandrol murah laku keras di pasaran. Murah tapi bukan murahan. Mereka menggabungkan antara plastic dan metal. Dan bahkan tim mereka juga yang berhasil menciptakan fast charging yang kini ditiru di semua model handphone di perusahaan lain. Aku merekrut orang untuk membuat inovasi bukan mengharapkan inovasi”

Dojoon dan Yoseob selaku ketua tim merasa kecewa dengan hasil pekerjaan mereka. Diikuti dengan anggota tim mereka, mereka juga ikut kecewa dengan hasilnya. Mereka merasa hasil kerja hingga berbulan-bulan bahkan hampir setahun, sia-sia begitu saja.

“Tapi, saya suka dengan desain milik Dojoon. Sangat stylist dan handy. Bagi mereka yang memerlukan handphone sebagai gaya, handphone ini sangat cocok. Saya mengkoreksi untuk mengurangi biaya produksi sehingga bisa dipasarkan untuk kalangan menengah. Dan untuk Yoseob, saran masih sama seperti tim Dojoon. Ikon menu kalian saya suka. Bagaimana pendapat yang lain?”

Beberapa petinggi lainnya mulai mengomentari soal desain mereka, serta memberi masukan-masukan. Walaupun terjadi pro-kontra, namun, semuanya masih bisa terkendali. Rapat masih berjalan dengan semestinya.

“Bukan sepeti itu. Tu-…” ucapannya terhenti akibat suara handphone yang secara bersamaan di dalam ruangan.

“Apa kalian anak kecil yang harus aku sampaikan tolong matikan handphone saat sedang rapat?” murkanya.

“Cepat matikan hanphone kalian!” bentaknya.

Laki-laki yang bernama Byun Baek Hyun di name tag besi yang melekat di dada sebelah kanan jasnya menatap semua yang ada di ruangan seperti ingin menerkam mereka.

“Tolong! Hal-hal memalukan seperti ini jangan pernah terjadi lagi. Kali ini aku maafkan kalian”

Rapatpun selesai walaupun ada sedikit masalah tadi. Baek Hyun selaku CEO meninggalkan ruangan terlebih dahulu dengan dua orang asisten, satu sekretaris dan tiga orang bodyguardnya. Yang masih berada di ruangan mereka berbincang masalah yang tadi sambil menghidupkan kembali handphone yang tadi telah dimatikan.

“Lihat ini…” salah seorang wanita berkata sambil menjukkan video yang tidak bisa dihentikan.

“Bukankah ini CEO baru kita?” kata seorang wanita di sebelahnya.

“Benar! Ini CEO kita!” Pekik Dojoon yang menonton video itu di handphonenya.

“Dia seorang gay? Aku tidak percaya!”

“Kau dengar ini, mereka berencana membunuh seseorang”

“Dia gay dan pembunuh?”

“Oh Tuhan! Dia gay!”

Seluruh ruangan ribut dengan video tersebut. Sebagaian dari mereka tidak percaya dengan video tersebut, tetapi sebagian yang lain membenarkan bahwa yang ada di video itu benar.

“Bukankah kalian bisa mengecek keaslian video ini?” kata Pak Rae Won, seorang manager, yang juga ikut bergabung dengan lainnya.

“Coba kau saja Hyun Joon yang mengeceknya” pinta Ye Eun, salah seorang petinggi di perusahaan ini yang menjabat sebagai penanggung jawab tim Dojoon.

“Siapa yang kurang ajar menyebarkan video ini?” tanya Joo Won, seorang supervisor, pada Rae Won dan Ye Eun.

“Aku rasa mereka ingin merusak nama baiknya” jawab Rae Won.

“Atau bisa saja maksud si penyebar baik, ingin mengungkapkan kejahatan yang akan dilakukan oleh Baek Hyun-ssi” tambah Ye Eun.

“Baek Hyun tidak mungkin seperti itu. Aku telah mengenalnya sejak kecil. Ada yang bermaksud jahat padanya” bela Rae Won.

“Aku setuju dengan anda pak, CEO baru kita bukan orang yang seperti itu” tambah Joo Won.

“Asli! Video ini direkam oleh video berkamera dengan resolusi 25 mp” ucap Hyun Joon membuat semua orang terkejut.

“Ada yang tidak beres…” gumam Rae Won dalam hatinya. Sementara yang lainnya, mereka sibuk bergosip perihal tersebut. Banyak dari mereka kini percaya dengan isi video yang tak jelas asal usulnya. Namun tidak untuk Rae Won yang sangat akrab dengan orang tua Baek Hyun dan telah mengenalnya dan bahkan menganggapnya sebagai putranya sendiri.

***

Seharian bekerja membuat seluruh sendi-sendi Baek Hyun terasa sakit. Pikiran yang terus diforsir sudah saatnya untuk di istirahatkan. Walau hanya sekedar berendam di jacuzzi yang jauh-jauh di pesannya dari Italia, baginya itu sudah dapat menenangkannya sebelum kembali berkutat dengan banyaknya laporan yang tadi belum sempat dibacanya.

Sesampainya di rumah, ia disambut oleh asisten rumahnya yang membungkuk hormat padanya. Kemudian asisten yang lain membukakan pintu untuknya. Ada sekitar 20 asisten di rumahnya. Mulai dari asisten juru masak, juru bersih-bersih rumah dan taman sampai asisten yang mengatur pakaiannya. Belum lagi bodyguard yang berjaga di rumahnya. Wajar saja, ia adalah CEO perusahaan no. 1 di Korea Selatan sekarang, dan resmi tinggal terpisah dengan orang tuanya sejak dilantik dua minggu yang lalu.

Asistennya telah menyiapkan susu hangat di Jacuzzinya. Tanpa ragu ia pun berendam di sana sambil memutar lagu-lagu milik Bobby Brown. Mungkin banyak yang mengira orang-orang hebat biasanya memiliki selera musik seperti Beethoven atau musik klasik lainnya, tetapi tidak untuk Baek Hyun, mendengar musik klasik membuatnya seperti hidup di jaman tahun 70an.

Ia mengambil telepon berdesign klasik di samping jacuzzinya. Ia pun mulai menekan tombol lalu memutarnya satu per satu.  Ia menunggu jawaban sambil mengurut leher bagian belakangnya.

Yeobseyo…” jawab suara berat laki-laki di ujung telepon.

Yeobseyo…” Baek Hyun meniru suaranya, lalu tertawa.

Ya ima! Kau sudah lupa Korea?” bentaknya pada sahabat sejak kelas 2 SMP bernama Park Chanyeol.

Sekkiya! Berapa lama lagi kau di Manhattan? Dulu kau pernah bilang, setelah lulus akan langsung pulang. Setelah itu kau bilang akan pulang saat kau berhasil mendapatkan pekerjaan di sini. Jangan berbohong padaku kalau kau belum mendapat pekerjaan di sini. Aku tahu dari ibumu, kau telah berhasil memenangkan proyek design sebuah hotel di Jeju. Jadi tunggu apalagi? Atau jangan-jangan, kau diam-diam sudah menikah di sana. Ah, bisa jadi!”

Ya! Dari tadi aku belum sempat bicara apapun. Akhir tahun ini aku pulang. Masih ada beberapa urusan di sini. Dan itu penting!” jelas Chanyeol sambil menekan kata ‘penting’.

“Dan aku belum menikah! Jangan-jangan kau yang sudah menikah diam-diam” sambungnya.

Shit!! Menikah? Memikirkan untuk jatuh cinta saja aku tidak punya waktu. Semua waktuku tersita untuk perusahaan”

“Iya, aku mengerti, kau sudah menjadi CEO sekarang. Sepertinya walaupun aku berada di Seoul, kita akan susah berjumpa”

“Jangan jadikan itu sabagai alasan kau tidak akan balik ke sini! Kau sahabatku, pasti akan aku luangkan waktu. Dan kau masih ingatkan pesan guru kita. Jika pintar jadilah orang yang berguna bagi negri kita, bukan bagi negri orang lain…” Nasehat Baek Hyun yang membuat Chanyeol terkekeh, namun dia kembali berdehem untuk mentralkan suaranya.

“Karena kau sudah menjadi CEO kau berani menasehatiku? Lihat saja! Saat aku pulang, akan aku ceritakan bagaimana kekonyolanmu saat kau sekolah dulu” Chanyeol mencoba mengancamnya.

“Coba saja! Kau kira aku tidak bisa? Perlu aku ingatkan tentang kertas ulangan itu?”

“Perlu aku ingatkan soal permen karet yang berujung maut, Byun Baek Hyun?”

“Mengingat saat-saat dulu, aku ingin berada di SMA lagi” ucap Chanyeol dengan nada lirih.

“Aku juga. Saat itu, kita bisa melakukan apapun bersama” Baek Hyun kembali mengingat saat-saat ia bebas melakukan hal gila tidak seperti sekarang.

“Sudahlah, aku malas mendengar suaramu. Aku tutup dulu!”

Ya! Aku yang menelpon seharus-”

Tut…tut…tut…Chanyeol sudah memutuskan telponnya sebelum kalimatnya habis terucap.

“Aish, kebiasaan!” gerutunya.

Otot-otot yang menegang kini telah longgar kembali. Baek Hyun merasa tubuhnya lebih fresh sekarang. Saatnya ia menikmati makan malam. Kakinya melangkah turun di anak tangga berwarna hitam sambil mengingatkan tali piyama kimononya. Asisten wanita yang masih muda terlihat tersipu melihatnya yang memperlihatkan sedikit dadanya. Ia tersenyum pada mereka, lalu duduk di kursi di depan meja panjang yang bisa diisi oleh 14 orang.

Di atas meja telah di isi dengan makanan yang terbuat dari sayuran hijau. Sesuai dengan permintaannya, ia ingin makan malam yang sehat dan tidak berminyak. Di sisi sebelah kanannya, asisten pribadinya duduk dan ikut makan malam dengannya.

“Apa gadis itu masih memaksa hyung untuk melamarnya?” tanya Baek Hyun pada asistennya dengan bahasa informal.

Ne…” jawabnya yang membuatnya jengkel.

“Aku kan sudah bilang, kalau di rumah biasa saja! Jadi gadis tidak tahu malu itu masih memaksa hyung? Putuskan saja hyung!”

“Putus? Dia yang mengejarku, kami tidak punya hubungan apapun” jelasnya masih dengan bahasa formal.

“Tidak ada hubungan apapun? Ani, keurom, perempuan itu gila?”

“Saya akan segera menanganinya”

“Cewek matre seperti itu, hanya peduli pada uang hyung saja. Aku cuma mengingatkan saja”

Asisten pribadi bernama Jung Jin Woon itupun mengangguk, tanpa membalas perkataan Baek Hyun.

“Besok apa saja jadwalku?” tanyanya.

“Pagi ada meeting hingga jam 11. Setelah itu ada pertemuan dari perusahaan cloud saving serta jamuan makan siang di Grand Hyat Hotel. Kemudian anda akan ke pabrik di Ansan. Malamnya akan ada makan malam bersama Menteri Komunikasi”

“Hmm…”

“Orang tua anda juga meminta waktu untuk makan malam bersama”

“Orang tuaku?” Baek Hyun terkejut saat mendengarnya.

“Benar. Mereka minta waktu untuk makan malam bersama. Dan anda punya jadwal kosong di hari Kamis, untuk makan malam dengan keluarga anda”

“Apa eommaku ada bilang seluruh keluarga? Atau hanya keluarga?” tanyanya lagi dengan nada gelisah.

“Sepertinya maksud ibu anda seluruh keluarga. Karena nenek dan kakek….”

Mendengar kata-kata nenek dan kakek membuat selera makannya hilang begitu saja. Ia sangat takut pada mereka, apalagi kata-kata pedas yang bisa kapan saja terlontar dari mulut mereka. Ibarat kata, jika bertemu dengan seluruh keluarganya ia sepeti masuk ke dalam lubang buaya.

“Tidak, aku tidak bisa. Katakan aku tidak punya waktu”

“Baiklah. Saya akan katakan pada mereka. Tapi, kalau anda menghindar, anda tahu kan sifat ibu anda seperti apa?”

“Ah, Hyung…araseo…araseo… Tapi aku belum siap untuk jumpa dengan mereka”

“Kalau begitu saya akan atur minggu depan”

Hajima! Hyung atur kalau aku sudah siap…”

Ne. Algeseumnida…”

“Sebenarnya, ada yang ingin saya sampaikan” kata Jin Woon serius.

Baek Hyun tak ingin mendengarnya. Ia sudah malas untuk melakukan sesuatu, bahkan untuk makanpun ia malas. Ia memilih bangkit dari kursinya untuk menuju kamar.

“Nanti saja hyung, aku mengantuk”

“Sebenarnya…” Jin Woon menglangi jalannya.

“Aku mengantuk” Ia tidak menghiraukannya lagi.

Setibanya di kamar dengan menaiki lift, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Kepalanya masih memikirkan kata-kata Jin Woon tadi. Kata-kata tadi membuat seluruh pikirannya kacau. Ia lalu mengambil handphonenya di meja nakas. Ia membuka handphonenya yang memiliki password sidik jari sambil membenarkan tidurnya. Tertera banyak pesan dan telpon yang tidak terjawab. Ada sebuah notifikasi menarik yang tertulis di layarnya ‘tebak-tebak berhadiah’.

“Siapa yang mengirim virus bodoh seperti ini. Akan aku hack akunnya. Odiboja….”

Ia menyentuh tulisan tersebut untuk mencari akun si pengirim dan mengerjainya dengan kemampuan IT nya yang tidak usah diragukan lagi. Tiba-tiba sebuah video terputar di layar handphonenya. Video yang berisi percakapan dua orang laki.

“Makan malam yang sangat menyenangkan. Apa mulai sekarang aku harus memanggilmu Sajangnim”

“Berlebihan! Bahasa Koreamu tambah baik saja”

“Bisa saja!”

            “Ini bukannya aku dan Nichkhun?” gumamnya yang kini dalam posisi duduk.

“Jangan jadikan beban, hingga stress akibat khawatir yang berlebihan. Semua akan baik-baik saja. Kabari aku segera!”

“Seluruh pemegang saham baru saja melantikku menjadi CEO. Appaku telah mempercayakannya padaku. Hidupku sekarang penuh dengan beban dan jadwal yang padat. Jadi, aku tidak bisa sering-sering ke Thailand”

“Kau memang bisa diandalkan. Tidak masalah. Kita masih bisa Skype. Hmm, bagaimana soal gadis yang kau ceritakan dua hari yang lalu. Apa sudah kau habisi dia?”

Tiba-tiba muncul sebuah tulisan yang berisi ‘Mereka adalah Gay!’ yang kemudian memutar kembali di bagian ini.

            “Jadi, aku tidak bisa sering-sering ke Thailand”

Tidak masalah. Kita masih bisa Skype”

Kemudian sebuah tulisan kembali keluar, ‘Target Pembunuhan!’ lalu terputar kembali di bagian ini.

Apa sudah kau habisi dia?”

Tulisan kembali keluar, ‘Dengarkan baik-baik nada bicaranya. Silahkan putar kembali!’.

“Dia lebih cerdik dari yang kukira. Nyalinya sangat kuat, membuatnya mati kehabisan darah sangat sulit”

‘Dia ingin membuatnya mati kehabisan darah!’ sebuah tulisan kembali muncul dan mutar kembali di bagian sebelumnya.

“Oh come on dude! Kau bisa mengandalkanku. Mengahabisi darahnya? Seperti menuangkan bir dalam gelas. Akan aku tunjukkan keahlian head shot-ku. Shoot! She will be dead in no time”

Tulisan berwarna merah muncul dengan isi ‘Perencanaan pembunuhan dengan menembak kepala gadis tersebut’.

“Ingat Nick, rahasia ini jangan sampai tersebar kemanapun”

You have my words!

“Dan juga alasan kenapa kita bisa berhubungan aku harap jangan sampai kau bocorkan. Atau mulutmu akan menerima akibatnya”

“Akibat apa? You wanna hit my lips with your kiss? So sweet baby”

Yes, with this Nick

‘Lihat! Mereka adalah gay!’ tulisan berwarna pink muncul dan kembali memutar bagian sebelumnya.

            “Atau mulutmu akan menerima akibatnya”

“Akibat apa? You wanna hit my lips with your kiss? So sweet baby”

Setelah video berhenti kemudian muncul tulisan peringatan yang isinya, ‘Berhati-hatilah dengan dua laki-laki tersebut. Mereka pelaku pembunuhan berencana kalangan atas. Bantu saya selamatkan gadis yang mereka maksud. Sebar video ini ke 10 teman anda. Saya mohon. Terima Kasih!’

Tak dapat digambarkan lagi bagaimana murkanya Baek Hyun. Ia berteriak-teriak memanggil Jin Woon. Suaranya bahkan kalah dengan speaker untuk konser. Seluruh isi rumahnya terkejut dan menuju ruang tengah.

Ya! Jin Woon! Ya! Kalian kenapa lihat saja? Panggilkan Jin Woon!” bentaknya yang membuat semua asistennya kocar-kacir mencari Jin Woon.

“Ada apa?” tanya Jin Woon yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Ya! Kau tahu? Videoku telah tersebar di dunia maya dan sekarang jadi trending. Aku mau kau mencari siapa dalang di balik semua itu!” perintahnya.

“Sebenarnya, hal itu yang ingin saya sampaikan tadi” ucap Jin Woon dengan nada takut.

“Penting seperti itu kenapa kau tidak langsung menyampaikannya?!” Lagi-lagi Baek Hyun membentaknya dan mengeluarkan sumpah serapah yang harus di sensor.

“Kerahkan semua orang untuk mendapat bajingan penyebar video tersebut! Seret dia kehadapanku! Dan hapus semua video yang sudah tersebar! Sekarang! Sekaraaaaaang!”

“Dan jangan sampai hal ini terdengar oleh keluargaku” Ia memperingatkan Jin Woon.

Malam itu juga Jin Woon mengerahkan seluruh karyawan untuk datang ke kantor dengan ancaman akan dipecat jika tidak datang. Tanpa diduga sudah banyak karyawaan perusahaan yang berada di sana saat Baek Hyun dan Jin Woon tiba.

Gwaenchanayo?” tanya Rae Won yang ternyata tak pulang setelah rapat tadi.

Ne! Samchon sedang apa di sini?” Tanya Baek Hyun.

“Kami tidak pulang selesai rapat tadi. Kami melacak orang yang menyebarkan video tersebut”

Saat mereka berdua berbicara, tiba-tiba banyak karyawan Baek Hyun yang tiba. Bahkan ada yang menggunakan piyama sambil menggendong anaknya.

“Kalian semua pasti sudah melihat video dengan judul tebak-tebakan berhadiah. Tugas kalian yang baru tida adalah menghapus semua video yang telah tersebar di internet” perintah Ye Eun.

“Dan pastikan, tidak ada satupun dari video tersebut tersisa!” sambungnya dengan nada tegas.

Sedangkan tim Dojoon dan tim Yoseob mereka tengah mencari asal dari video dibantu dengan Hyun Joon. Sedangkan karyawan yang baru saja tiba selesai Ye Eun memberi perintah ikut membantu mengapus video tersebut. Dan Joo Won mengajak divisi marketing untuk berkumpul di ruangan yang lain untuk menjawab seluruh telepon yang mulai masuk dengan jumlah yang banyak. Ternyata reporter di luar sana telah melacak orang-orang yang berada di video tersebut.

“Kita harus segera menjemput teman bicara anda di video itu sekarang juga” pinta Taecyeon, sekretaris Rae Won, pada Baek Hyun.

“Untuk apa?” tanya Baek Hyun bingung.

“Kami takutkan para pencari berita terlebih dahulu menemuinya” jelas Taecyeon.

“Kalau begitu jemput dia dengan pesawat pribadi milik perusahaan” perintah Rae Won.

“Baik Pak!”

Baek Hyun terharu melihat seluruh karyawannya yang setia padanya. Padahal ia baru saja menjabat selama dua minggu. Ia tersadar, jika ini semua berkat pimpinan sang ayahnya dalam memimpin perusahaan sangat pemurah. Bahkan sebagian dari mereka yang wanita yang memiliki bayi, rela membawa bayinya walaupun harus terkena udara malam.

“Jin Woon, perintahkan orang untuk membeli cappucino panas dan makanan untuk mereka semua. Dan belikan selimut untuk wanita yang membawa bayinya. Cepat! Aku beri waktu 15 menit paling lama!”

Ia duduk di samping Rae Won yang juga sedang ikut melacak penyebar video tersebut. Hati kecilnya ingin ikut membantu, tetapi karena kepanikan yang melanda ia hanya dapat duduk bengong tanpa berbuat apapun.

“Tenang saja! Ini pasti ulah dari pesaing. Ayahmu dulu sering mengalaminya” ujar Rae Won memberi semangat.

Jin Woon telah kembali bersama beberapa asisten di rumahnya dan bodyguardnya. Mereka mulai membagikan makanan serta selimut sesuai dengan perintahnya.

“DAPAT!!!!” teriak seseorang dari sudut.

Mereka lalu mendekati seorang laki-laki yang duduk di sudut, dan dia ternyata Dojoon.

“Ini IP nya pak. Dan ini rekaman CCTV nya” kata Dojoon memperlihatkan.

“Kerja bagus!” puji Rae Won.

“Sekarang cari identitasnya” perintah Rae Won.

Tanpa mengenal lelah mereka terus bekerja. Namun Baek Hyun memerintah yang membawa bayi untuk segera pulang. Bahkan dia menyuruh Jin Woon untuk menyiapkan bis untuk mengantar mereka pulang.

Ruangan yang tadinya gelap dan dipenuhi cahaya lampu, kini dipenuhi cahaya dari luar. Matahari sudah mulai muncul, walaupun masih terlihat malu-malu. Semalaman Baek Hyun dan lainnya tidak tidur.

“Kami mendapatkan identitasnya” Lapor Joo Won yang tiba dari lantai atas pada Rae Won.

“Anak buahku mendapatkannya. Laptop yang menyebarkan video tersebut masih terhubung dengan internet dan kami mendapatkan IP nya. Setelah pemiliknya berpindah-pindah tempat. Namun, saat sekitar jam 3 pagi tadi hingga sekarang IP nya tidak berpindah sama sekali. Ini alamatnya, sebaiknya segera kirim orang ke sana” kata Joo Won.

Ye Eun yang mendengarnya lalu menelpon bodyguard perusahaan dan meminta mereka untuk mengamankan rumah tersebut.

“Mereka sedang menuju rumah tersebut. Dan Nichkhun telah dalam perjalanan. Ia akan tiba satu jam lagi” ucap Ye Eun.

“Kerja bagus!” kata Rae Won sambil menepuk pundak Ye Eun dan Joo Won.

“Tenang saja! Akan segera teratasi” ucapnya pada Baek Hyun yang berdiri di samping Joo Won.

***

“Siapa sih yang datang pagi-pagi seperti ini!” gerutu Mina dari dapur yang sedang menyiapkan sarapan.

Ia menuju ke depan dan mendapati empat orang memakai jas hitam dan seorang laki-laki yang memakai kemeja biru laut.

Annyeonghaseyo. Perkenalkan saya Kim Dojoon. Bisa bicara di dalam?”

Mina terlanjur terpana padanya dan membiarkan mereka masuk. Padahal Hye Ra sering memperingatinya untuk tidak membiarkan orang asing masuk ke dalam jika dirinya hanya sendirian di rumah.

Dojoon mengelilingi apartemen yang hanya ada satu kamar dan satu kamar mandi di sana. Ia lalu mendapati sebuah laptop berwarna putih di atas meja di dekat kasur. Ia lalu mengambil laptop tersebut dan memeriksanya. Mina tak peduli dengan beberapa orang jas hitam yang juga ikut masuk. Seperti ada magnet yang membuatnya mengikuti Dojoon.

“Kau kenapa memegang laptop itu?” tanya Mina yang memegang gunting di sebelah kanannya. Bukan maksudnya untuk mengancam, tapi dia sedang membuka bungkusan ramyeon dengan gunting yang ada di tangannya.

“Ini milikmu?” tanya Dojoon yang ragu kalau perempuan di hadapannya ini yang menyebarkan video tersebut. Walaupun kini telah ada bukti di tangannya.

“Oh, bukan…itu punya temanku. Kami tinggal berdua di sini”

Dojoon lega, entah kenapa ia merasa lega, ia juga bingung.

“Dimana temanmu sekarang?” tanya Dojoon yang sedang meng-copy semua data di dalam laptop tersebut.

“Dia sedang mengantar koran. Lalu dia bilang dia tidak akan pulang selama tiga hari. Ada urusan penting” ucap Mina yang Dojoon bisa melihat bahwa ia tidak berbohong.

“Bisa beri tahu nomor handphonenya?”

“Itu handphonenya. Dia tidak membawanya”

Dojoon mengambil handphone yang terletak di samping laptop yang sedang dipegangnya.

“Kalau perlu dengannya balik saja tiga hari lagi. Dia tidak akan pergi lebih dari tiga hari, dia tidak punya uang. Jadi jangan khawatir. Hmmm…mungkin dia tidak akan balik ke sini, kalian bisa menghampirinya di Aple Seed Cafe hari Sabtu. Dia pasti pulang, karena hari itu gaji kami akan dibayar” jelas Mina dengan polosnya.

“Boleh tahu namanya?”

“Ji Hye Ra”

Dojoon diam-diam mengambil handphone milik Hye Ra saat Mina kembali ke dapur untuk memasak. Dengan hormat ia pun berpamitan pada Mina sambil terlebih dulu menanyakan namanya. Sekarang, semua informasi tentang gadis bernama Hye Ra telah ada di tangannya. Saatnya menuju perusahaan.

***

Di lain tenpat di waktu yang bersamaan. Hye Ra tengah menikmati waktunya di dalam bus menuju Busan. Saat pemberhentian di halte ada seorang nenek-nenek yang membawa banyak telur rebus di dalam kantong plastik berwarna bening di tangan kirinya.

“Mau?” tawar nenek yang tadi naik dan sekarang duduk di sebelahnya.

Ne, gamsahamnida” sahutnya sambil mengambil satu telur rebus.

“Kau akan balik hari sabtu kan? Pastikan kau balik tepat waktu! Atau kau akan kehilangan kesempatanmu” ucap Halmeoni di sampingnya secara tiba-tiba.

“Apa maksud halmeoni?” tanyanya bingung.

Aigoo, bilang apa ya aku tadi. Aku mengantuk…” jawab nenek itu, kemudian langsung membalikkan badannya.

To Bo Continue…     

One thought on “Babo a.k.a Stupid (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s