Chance to be Loved (Chapter 1)

cover

Tittle    : Chance to be Loved

Part  1 : “Past….” 

Lenght : Chapter

Rating : PG 13+

Genre : Romance, Family, Hurt dan Love

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Twitter : @JiRa_deeFA

Main Cast : [EXO] ChanYeol as Park Chan Yeol

                     [EXO] Suho as Kim Joon Myun

                     Hwayoung as Ryu Hwayoung

                     [WSJN] Cheng Xiao as Kim Joo Na

                     Rena Nounen as Rena Nounen

                     [ASTRO] Cha Eun Woo as Ryu Eun Woo

(Introducing my new FF. Author amatiran ini berterima kasih kepada yang mau baca. Hehehe.  Mohon kritik dan sarannya ya *bow*. Hope You Like ^^)

Cahaya lampu memenuhi suasana malam kota Seoul. Jalanan yang macet dan gemerlapnya malam terlihat jelas dari meja berbentuk segiempat yang diisi oleh lima orang yang sedang tertawa sambil menikmati wine berharga fantastis di restaurant hotel bintang lima. Mereka memilih tempat yang berdekatan dengan jendela. Wangi bunga lavender yang berasal dari dua lilin berwarna putih yang ditaruh di dalam sebuah gelas yang dihiasi bunga mawar, mengelili mereka. Wanita paruh baya yang terlihat anggun memakai dress berwarna red velvet dan kalung berlian di lehernya terus saja memuji wanita di hadapannya, umurnya kira-kira hampir seumuran dengannya. Ternyata dress yang dipakainya adalah rancangan wanita tersebut. Tampak sekali mereka bukan dari kalangan sembarangan.

Memang benar, mereka bukan orang sembarangan.  Wanita yang memakai dress Red Velvet itu adalah istri seorang CEO dari stasiun TV bergengsi di Korea Selatan, dia adalah Choi Se Na, seorang pianist terkenal yang dulunya bersekolah di Julliard School dan pemilik Hyatt Grand Hotel, suaminya adalah Kim Hwan Eui. Mereka sedang menikmati makan malam dengan Park Tae Shin, seorang laki-laki campuran Korea-Bulgaria yang telah menetap di Seoul, bersama dengan istrinya Hwang Sae Byul, seorang designer.

Pertemuan mereka bukan untuk membahas soal bisnis hotel yang dijalankan Park Tae Shin, hotel yang bekerja sama dengan hotel milik Choi Se Na, tetapi, pertemuan ini demi Hwayoung dan Chanyeol. Hwayoung, putri kedua dari pasangan Kim Hwan Eui dan Choi Se Na, dan Chanyeol anak tunggal dari Park Tae Shin dan Hwang Sae Byul.

Disela-sela tengah menikmati beef panggang medium rare mereka, pintu tiba-tiba terbuka. Muncul sosok laki-laki tinggi berlesung pipi di sebelah kirinya dengan memakai jas rapi berwarna abu-abu.

Annyeonghaseyo…” sapanya sambil melempar senyuman ke semuanya. Ia langsung  mencium pipi ibunya, kemudian membungkuk hormat pada Hwan Eui dan Se Na.

“Kamu telat setengah jam tahu gak sih?” gerutu Sae Byul mengungkapkan kekesalannya pada putra semata wayangnya.

Mianhae eomma, tapi tadi ada breafing tiba-tiba” ungkapnya dengan sesekali memandang Hwayoung yang duduk tepat di hadapannya.

“Baru resident aja sudah sibuk begini, gimana kalau beneran jadi dokter” keluh Sae Byul, takut kehilangan waktu bersama putranya.

Eomma, aku cuma jadi dokter bukan mau perang…”

Hwan Eui dan Se Na tersenyum saat melihat tingkah putra sahabatnya yang masih seperti anak kecil, padahal usianya sudah masuk 28 tahun. Putra tampan milik Tae Shin dan Sae Byul yang bernama Chanyeol tidak mempedulikan lagi ocehan orang tuanya. Matanya tertuju pada smoke beef di hadapannya,  tanpa pikir panjang ia langsung melahapnya. Kehidupannya menjadi resident bedah di Seoul Mediccal Centre Hospital membuatnya jarang sekali bisa keluar walau hanya sekedar untuk menghirup udara segar, apalagi menikmati makan malam seperti ini. Ditambah lagi ini masuk tahun ke limanya sebagai resident, membuatnya menghabiskan seluruh waktunya di Rumah Sakit.

“Tahun depan Chanyeol sudah menyelesaikan masa residentnya, usianya pun sudah matang, jadi menurut saya alangkah baiknya pernikahan dipersiapkan sedikit demi sedikit, agar nanti acaranya bisa lancar tanpa halangan apapun” ayah Chanyeol, Tae Shin, angkat bicara.

Mendengar kata pernikahan membuat tangan Chanyeol yang sedang memotong beef berhenti sejenak. Ia menghela napas kecil, sehingga tidak ada orang yang bisa melihatnya kecuali Hwayoung yang menyadarinya. Dengan matanya yang tajam ia mengendus napasnya seraya memiringkan senyumnya pada Chanyeol.

Orang tua mereka sibuk mendiskusikan kedua pernikahan mereka, mulai dari tempat, konsep acara, memilih designer untuk baju pengantin, sampai bulan madu yang membuat Chanyeol tersenyum palsu saat mendengarnya. Namun, saat musik klasik untuk dansa dimainkan, Hwan Eui memecah suasana dengan mengajak istrinya untuk berdansa. Tidak mau kalah mesra, Tae Shin juga mengajak Sae Byul untuk berdansa bersama alunan musik yang mengingatkan mereka pada masa-masa pacaran.

Suasana dingin terasa begitu menusuk, hanya ada Chanyeol yang sibuk menikmati beef dan salad, serta Hwayoung yang dari tadi tidak memakan apapun. Tiba-tiba, Hwayoung menyilangkan kakinya dan tangannya di dada serta menyandarkan punggungnya di kursi.

“Kecewa saat tahu bukan Joo Na yang menikah denganmu? Hmm?” tanyanya dengan wajah sinis.

Mendengar pertanyaan Hwayoung membuat Chanyeol menghentikan kegiatan makannya lalu mengambil napkin untuk mengelap ujung bibirnya.

“Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu. Dan bukankah seharusnya sekarang saatnya untuk kita lebih mengenal satu sama lain?” Chanyeol berkata dengan wajah penuh senyuman yang dipaksakan.

“Kau mau aku berakting di depan mereka? Berpura-pura tidak tahu bahwa sebenarnya kau masih dan akan selamanya mencintai Joo Na? Baik, kalau begitu, sesuai permintaanmun akan aku tunjukkan pada Joo Na dan semuanya bahwa kau hanya akan menjadi milikku!”

Chanyeol menatapnya dengan menahan emosi, lalu menghembuskan napas kasar sebelum mulai berbicara.

“Tidak bisakah kau bersikap manis?”

Nanenun Joo Na Anieyo!”

Chanyeol tersenyum mendengar pernyataan Hwayoung, senyuman sinis dan mengejek ia tujunjukkan padanya.

“Ternyata yang aku dengar dari kebanyakan orang semuanya benar. Ryu Hwayoung, Ah, ani…maksudku Kim Hwayoung, seorang perempuan sombong, ambisius, ketus, kasar, tidak punya hati, sepertinya tidak perlu aku menyebutkannya satu per satu. Seharusnya kau merasa beruntung, aku menyetujui pernikahan ini”

“Beruntung? Huh, benar juga! Aku bisa menjadikanmu mainanku untuk menghancurkannya”

Chanyeol mengikuti postur Hwayoung dengan menyandarkan punggungnya di kursi dan menyilangkan kaki dan tangannya, seolah dia ingin merendahkan dan menyatakan dirinya tidak takut padanya. Ia berubah menjadi laki-laki yang mengerikan, senyuman palsu hilang dari wajahnya.

“Mainanmu? Huh! Bagaimana rasanya mencintai tanpa dicintai? Tidakkah kau ingin tahu bagaimana rasanya? Kupastikan segera kau akan merasakannya. Ah…benar, mungkin aku memang bisa menjadi mainanmu. Tetapi, kau hanya akan memiliki tubuhku, tidak dengan hatiku. Selamanya!” Ada nada sedikit membentak di ujung perkataannya. Akan tetapi ia masih menggunakan nada datar, agar kedua orang tua mereka yang sedang berdansa tidak jauh dari mereka tidak mendengar.

Tanpa diduga, bukannya malah takut atau kesal, Hwayoung malah tertawa kecil. Ia merasa geli dengan perkataan Chanyeol yang menurutnya omong kosong.

“Bagaimana rasanya mencintai tanpa dicintai?” Hwayoung meniru Chanyeol sengaja untuk mengejeknya.

“Bukankah kau lebih tahu Park Chanyeol? Ternyata kau tidak sepintar yang aku kira. Lalu teman baikmu, Joon Myun? Kau kira dia akan melepaskan Joo Na? Kau benar-benar sangat lucu! Kau bahkan tidak bisa menemukan keberadaan Joo Na, lalu kau berlagak seolah-olah kau malaikat pelindunginya selama ini”

“Pantas saja tidak ada yang bisa menerimamu di dunia ini, bahkan mereka” ucap Chanyeol sambil menunjuk ke arah Hwan Eui dan Se Na dengan matanya. Ia lalu bangkit meninggalkan Hwayoung yang mencengkeram napkin sampai urat-urat di tangannya muncul.

***

Kedua tangan Chanyeol digunakan untuk menyetir mobil ford hitam miliknya, sementara matanya fokus pada jalanan yang macet. Sesekali tangan kirinya mengetuk bagian tengah stir sebagai ungkapan kekesalannya. Saat jalanan telah lempang, ia mematikan AC mobilnya dan menekan tombol agar jendelanya turun. Ia menikmati udara malam yang dapat meredakan sedikit hatinya sebelum kembali ke Rumah Sakit.

Kecepatan mobilnya pun hanya 40 km/h, ia ingin menikmati pemandangan di luar. Hingga, secara tiba-tiba ia melihat sosok yang sangat dirindukannya, sosok yang selalu berputar-putar di kepalanya dan selalu berada di hatinya. Sontak ia menginjak rem dan menepikan mobilnya.

“Joo Na!” teriaknya yang baru saja keluar dari mobil pada seorang gadis berambut hitam lurus sebahu yang memakai jeans dan sweater pink panjang yang berdiri di halte bus. Ia berlari ke arahnya, seakan-akan takut kehilangannya.

Sadar ada yang memanggil namanya, gadis itu menoleh, lalu segera melebarkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang dilihat. Tak lama bus pun datang, seperti takut dikejar, ia segera berlari masuk ke dalam bus.

“Joo Na-ya! Joo Na-ya! Joo Na-ya!” Chanyeol terus-terusan meneriaki namanya sambil mengejar bus tersebut. Tetapi, terlambat, bus melaju dengan kecepatan tinggi membuat kaki Chanyeol tak mampu mengejarnya. Kini ia berdiri menatap bus yang hilang di hadapannya. Ia mengatur napasnya yang berat. Sudah dua kali hari ini ia dibuat kesal, pertama karena sikap Hwayoung, kedua karena ia tak mampu mencegah Joo Na untuk tidak menaiki bus. Ia berjalan menuju mobilnya, lalu duduk di hadapan stir dengan wajah yang berkeringat.

“Sial!” umpatnya.

“Sial!” umpatnya lagi sambil memegang stir.

“Sial! Sial! Sial!” kali ini ia meninggikan suaranya sambil memukul-mukul stir dengan kedua tangannya.

***

Makan malam keluarga Hwayoung dan Chanyeol, berjalan lancar, menurut kedua orang tua mereka, namun tidak untuk Hwayoung dan Chanyeol. Sae Byul, ibu Chanyeol, terkejut saat mendapati putranya tidak ada di sana. Terpaksa, Hwayoung berbohong dengan berkata bahwa Chanyeol menerima telpon dari Rumah Sakit dan harus segera balik.

Di dalam mobil menuju perjalanan pulang Se Na membahas soal pernikahan Hwayoung dan Chanyeol pada Hwan Eui yang sedang menyetir.

Yeobo, tidak tahu kenapa, sepertinya aku rasa Chanyeol terpaksa menerima Hwayoung” ungkap Se Na dengan raut khawatir.

“Kalau Chanyeol terpaksa kenapa wajahnya senang sekali tadi? Kau lihat sendiri kan? Laki-laki mana sih yang mau menolak menikah dengan putri kita?” sahut Hwan Eui santai.

“Bagaimana kalau Joo Na tahu? Aku takut dia sedih”

Mendengar nama Joo Na, membuat Hwan Eui memberhentikan mobilnya. Ia menatap Se Na yang sedih.

“Jangan bahas Joo Na sekarang” perintah Hwan Eui tegas.

Yeobo, menurutku kita salah, dulu, kita tahu kalau Chanyeol jatuh cinta pada Joo Na, oleh sebab itu perjodohan ini ada. Aku yakin, Chanyeol masih mencintai Joo Na, begitu juga sebaliknya. Aku tidak bisa lihat Joo Na sedih. Dia anak kesayangan kita”

“Dia bukan anak kita, yeobo” ucap Hwan Eui menyadarkan Se Na.

“Tapi, rasanya…”

“Sudah, kita sudah janji tidak akan membahas ini lagi”

Se Na hanya dapat mengangguk, walau di pikirannya ia terus memikirkan Joo Na dengan rasa bersalah dan juga rindu yang tak berujung padanya.

***

Laki-laki yang memakai tuxedo hitam itu menekan tombol keamanan apartemennya. Badannya sangat pegal sehabis pertemuan di acara gathering musisi Korea Selatan. Ia membuka jasnya dan menyangkutnya lalu menuju dapur untuk meneguk segelas air dari dalam kulkas. Kemudian, ia menuju kamarnya dan membuka jendela kamarnya, lalu duduk di veranda. Ia merogoh handphone dalam saku celananya. Layar pada handphonenya menunjukkan waktu 22.15. Ia lalu mengecek beberapa pesan yang masuk, salah satunya dari ibunya yang berisi balasan atas permintaan maafnya yang tidak dapat hadir di acara makan malam. Setelah beberapa saat ia duduk sambil bermain game, akhirnya ia masuk kembali. Pilihannya bukan kasur, tetapi duduk di depan piano yang di atasnya berjajar foto-foto masa kecilnya.

Kedua ujung bibirnya terangkat ke atas saat melihat foto seorang gadis kecil dengan pakaian nenek sihir sambil menangis.

“Anak bodoh” gumamnya dengan nada sedikit tertawa.

Lalu ia memegang foto keluarganya. Foto dirinya bersama orang tuanya dan adik kecilnya. Wajahnya seperti ingin menangis, namun sebelum air matanya jatuh membasahi pipinya ia segera menghapusnya, lalu merebahkan dirinya di kasur.

***

24 tahun yang lalu

Lee Jae Hoon, supir keluarga Kim Hwan Eui, melajukan mobil dengan kecepatan penuh, lantaran ia membawa majikannya yang akan melahirkan anak kedua. Hwan Eui berusaha menenangkan istrinya yang terus berteriak kesakitan, sementara putra pertama mereka bernama Joon Myun masih berumur empat tahun juga ikut menangis. Keadaan membuat Hwan Eui bingung, melihat istrinya yang tiba-tiba mengeluarkan banyak darah di selangkangan pahanya, akhirnya ia meminta pada Jae Hoon untuk berhenti dimana saja, karena sepertinya mereka tidak mungkin dapat sampai ke Rumah Sakit. Jae Hoon yang juga panik memberhentikan mobilnya di sebuah klinik kecil.

Empat orang suster membawa Se Na, istri Hwan Eui, ke dalam ruangan. Kata dokter istrinya mengalami pendarahan yang hebat. Dokter langsung melakukan penanganan pada Se Na. Hwan Eui sambil menggendong Joon Myun menunggu dengan harap-harap cemas. Tak lama, datang seorang laki-laki dengan taksi yang berteriak memanggil suster. Hwan Eui melihat wanita itu hamil dan banyak darah di selangkangan kakinya, sama seperti istrinya.

Sayangnya, dokter di klinik kecil ini hanya ada satu. Wanita yang baru tiba itu harus menunggu hingga dokter selesai menangani istrinya. Hwan Eui iba melihat laki-laki itu yang memohon-mohon hingga berlutut di hadapan seorang suster. Laki-laki itu berkata bahwa itu adalah anak pertamanya. Tidak tahan melihatnya, Hwan Eui menitipkan Joon Myun pada Jae Hoon dan masuk ke dalam ruangan meminta dokter menangani satu pasien lagi secara bersamaan. Ia berjanji pada sang dokter untuk membangun klinik ini lebih besar dan melengkapkan fasilitasnya. Dokter yang seperti terhipnotis dengan perkataan Hwan Eui langsung menyetujui, lalu menyuruh suster untuk membawa satu pasien lagi.

Hwan Eui keluar dengan hati yang lega, serta berharap semoga istrinya dan wanita itu dapat melahirkan dengan selamat.

“Terima kasih banyak pak” ucap laki-laki itu pada Hwan Eui sambil berlutut.

“Sudah, pak, sekarang kita sama-sama berdoa, semoga istri dan anak kita baik-baik saja”

Hampir satu jam akhirnya dokter keluar dan mengumumkan bahwa mereka dan bayinya selamat dan sehat. Hwan Eui dan laki-laki itu tersenyum bahagia, apalagi saat dokter mengatakan bahwa anak mereka sama-sama perempuan.

***

Dua orang suster membersihkan bayi-bayi mungil itu. Setelah membersihkannya, mereka lalu membalutnya dengan kain lembut. Saat ingin meletakkan bayi ke dalam box yang telah diisi nama, seorang suster bertanya.

“Ini bayi milik yang mana? Milik ibu Se Na atau ibu Soo Jung?”

Suster di hadapannya terlihat bingung.

“Kamu tadi ambil bayinya yang sebelah kiri atau kanan?”

“Aku lupa, soalnya langsung diserahin sama suster Ahn Hee”

Mereka berdua tampak bimbang.

“Yang kamu pegang taruh di sini. Seingat aku suster Ahn Hee tadi membantu menangani ibu Se Na”

“Baik”

Mereka lalu membawa box bayi itu ke dalam ke dalam kamar Se Na dan Soo Jung.

***

Suasana hangat tergambar jelas saat suster memasuki ruangan milik Se Na. Hwan Eui, suaminya, serta Joon Myun yang terlelap dipelukannya menyambut kedatangan putri kecil mereka. Tak henti-hentinya Se Na menyium bayi perempuannya. Sekarang ia merasa hidupnya sangat sempurna. Memiliki suami sebaik Hwan Eui, putra yang tampan dan putri mungil yang menggemaskan yang diberi nama Joo Na.

Disaat bersamaan, ruang sebelah miliknya, seorang bayi perempuan berkulit putih seperti salju berada di dalam dekapan perempuan berwajah bulat dan rambut sebahu. Ia sesekali menyium bayinya sambil memandangi wajah suaminya yang sedari tadi tak henti-hentinya tersenyum.

Oppa…” panggil Soo Jung, istrinya, pada suaminya yang duduk di sebelahnya.

Hmmm?” Bae Won menjawab dengan menaikkan alisnya.

“Aku kira bayinya laki-laki, jadi nama yang aku persiapkan nama laki-laki. Tidak lucu kalau dia diberi nama Ryu Eun Woo” keluh Soo Jung bingung memikirkan nama yang tepat untuk anak pertamanya.

Bae Won menatap lama wajah istrinya.

“Bagaimana kalau Hwayoung? Ryu Hwayoung?”

“Sebenarnya aku sudah menyiapkan nama bayi perempuan. Soalnya dengar-dengar kata orang, kalau istrinya cantik saat hamil, anaknya perempuan. Benarkan ternyata?” sambungnya lagi dengan nada sedikit menggoda.

Senyuman lebar terpancar di wajah Soo Jung. Ia mengangguk setuju.

***

Years Later

Joo Na tumbuh menjadi gadis periang dan enerjik. Ia juga murah senyum kepada siapa saja. Temannya pun sangat banyak. Semua ingin berteman dengan gadis baik hati sepertinya. Ia menjadi siswa paling favorit di kalangan teman-temannya saat masih sekolah dasar, karena kebaikannya. Siapa saja yang meminta bantuannya pasti akan dibantunya.

Suatu hari saat Joo Na masih kelas 4 SD, sekolah mereka mengadakan pentas drama musikal OZ. Salah seorang murid di kelasnya berperan sebagai penyihir, dia adalah Luna, namun saat Luna mengetahui dirinya terpilih untuk memerankan peran penyihir, dia menangis sekencang-kencangnya. Karena kasihan melihat temannya, Joo Na lalu meminta pada guru untuk menukar peran Luna dengan miliknya, padahal saat itu Joo Na berperan sebagai tinker bell untuk pentas drama Peter Pan. Peran yang sangat diinginkan setiap siswa.

Hari pentas drama musikal tiba. Penampilan pertama dari kumpulan siswa kelas 6, mereka memainkan drama musikal beauty and the beast dengan sangat memukau, kemudian penampilan drama musikal peter pan kolaborasi dari siswa kelas 4 dan kelas 3. Penampilan selanjutnya adalah drama musikal OZ. Hwan Eui dan Se Na sudah siap dengan handycam masing-masing, sementara Joon Myun bersorak saat tirai panggung terbuka. Ia tak sabar melihat adiknya bermain peran.

Beberapa scene dilalui, akhirnya si cantik Joo Na keluar dengan baju penyihirnya.

“Kalian anak nakal! Aku akan membuat kalian menjadi kue-kue yang enak. Kemudian aku akan memakan kalian semuanya, gigitan demi gigitan, bahkan sampai kakimu!” ucap Joo Na dengan lantang pada pemeran Dorothy.

Joo Na dengan baik memerankan penyihir, semua kalimat yang keluar dari mulutnya sangat lancar, membuat para penonton yang merupakan orang tua dan keluarga dari Chuneung Chodeunghagkyo kagum. Bahkan pada saat akhir acara, ada beberapa orang yang ingin berfoto dengan Joo Na. Hwan Eui dan Se Na sangat bangga pada putrinya. Bahkan Hwan Eui berkali-kali mencium pipi merah milik Joo Na.

“Penampilanmu sangat jelek!” ejek Joon Myun pada adiknya yang tengah asik difoto oleh ibunya.

“Memangnya oppa bisa? Kata eomma dulu ketika oppa ikut pentas, banyak salahnya, terus oppa takut, sampai menangis” balas Joo Na.

“Itu dulu, waktu oppa kelas 2 SD. Kamu tidak tahu kan? Saat oppa kelas 4 SD, oppa dapat peran sebagai pangeran. Nah, kamu malah jadi penyihir. Memang cocok sih” Joon Myun terkekeh.

Eomma, lihat tuh oppa…”

“Ah, selalu ngadu pada eomma, dikit-dikit eomma. Pantes saja masih ngompol!”

Eomma….” Joo Na menangis saat dikatai oleh oppanya yang sudah duduk di kelas 2 SMP.

Seru melihat adiknya menangis, Joon Myun merebut kamera di tangan ayahnya lalu mengambil foto Joo Na.

***

Di lain tempat di saat yang bersamaan, seorang gadis kecil sibuk mencuci piring-piring yang kotor, lalu mengelapnya dengan kain dan menyusunnya satu persatu di rak tempat ibunya berjualan. Siang hari seperti ini banyak yang datang, terutama para tukang bangunan yang sedang membangun perkantoran yang tinggi yang lokasinya tak jauh dari tempat itu dan orang-orang yang biasanya makan di tempat ibunya berjualan.

“Kamu nyuci piring aja lama! Sekarang kasih makan tuh adik kamu, lalu ambil pakaian di jemuran jangan lupa disetrika. Setelah itu, kembali ke sini, bantu eomma! Jangan belajar saja kerjanya! Memangnya belajar bisa menghasilkan uang apa? Udah sana pergi!” bentak seorang wanita yang memakai sweater usang berwarna abu-abu dengan rambut diikat pada seorang gadis kecil.

Gadis kecil itu tidak menyahut apapun, ia memegang tangan adik laki-lakinya untuk pulang ke rumah yang tidak jauh dari kedai milik ibunya. Tak lama berjalan sampailah mereka di rumah yang berdesign tradisional dengan kayu yang sudah mulai lapuk. Ia masuk ke dalam lalu menuju dapur, menghidupkan kompor dengan cara menaikkan sumbunya lalu menghidupkan api yang berasal dari korek api.

“Eun Woo, dari pada kamu lihatin noona, mending sekarang kamu baca buku. Setelah selesai noona masak, noona mau kamu menceritakan kembali apa yang sudah kamu baca” perintahnya pada adiknya yang duduk di kelas 2 SD.

“Baik noona…” sahut Eun Woo patuh.

Gadis kecil beramput sepinggang itu mulai memasak di dapur. Jangan remehkan umurnya yang masih 9 tahun. Ia sudah biasa memasak untuk membantu ibunya berjualan. Gadis kecil bernama Hwayoung itu mulai merebus dua buah telur. Menunya hari ini yaitu doenjang tteokbokki. Sambil memasak ia juga memantau Eun Woo membaca. Ketika makannnya tengah dimasak, ia berlari menuju belakang rumah untuk mengambil jemuran.

Hwayoung keluar dari dapur menuju ruang tengah yang hanya dihiasi oleh meja dan TV yang sudah rusak sambil membawa makanan. Wajah Eun Woo berbinar-binar, ia sangat suka masakan sang noona yang sangat lezat.

“Sudah cuci tangan?” tanya Hwayoung.

Eun Woo menjawab dengan anggukan.

“Kalau begitu sebelum makan, noona mau Eun Woo cerita apa yang sudah Eun Woo baca”

Ne…”

Eun Woo mulai bercerita antusias tentang tentang pahlawan Lee Sun Shin yang berada di buku IPS kelas 4 milik Hwayoung. Ya, Eun Woo memang masih kelas 2 SD, tapi karena selalu bersama dengan Hwayoung, ia diajari noonanya banyak hal, hingga sekarang buku yang dipelajarinya bukan buku untuk anak seusianya melainkan buku-buku untuk anak seusia noonanya. Tidak heran jika di sekolah Eun Woo menjadi murid yang paling pintar, diikuti noonanya. Walau mereka harus belajar sambil curi-curi waktu di sela-sela Hwayoung membantu ibunya.

Noona, biar Eun Woo saja yang cuci piringnya. Noona langsung nyetrika saja, biar cepat selesai. Terus kita bisa baca buku yang noona pinjam di pustaka sekolah”

“Tapi, Eun Woo harus janji, cuci piringnya pelan-pelan. Setelah itu, Eun Woo lanjut lagi baca bukunya”

Ne…”

Hwayoung berpacu dengan waktu, jika ia terlalu lama menyetrika, ia bisa telat ke kedai milik ibunya. Ia takut akan dimarahi ibunya. Lebih dari sejam ia masih menyetrika.

Young-a…, Young-a…” suara seseorang mengetuk pintu. Suara yang sangat dikenalnya. Hwayoung tidak menjawab, ia malah mempercepat kerjanya. Ia tahu, jika Seon Mi memanggil, berarti ibunya memanggilnya. Setelah menyimpan setrika rapi, ia berlari dengan Eun Woo di tangan kirinya menuju kedai ibunya.

“Ngapain saja di rumah? Hanya memberi makan Eun Woo dan nyetrika saja sampai dua jam. Kamu memang tidak berniat ingin membantu eomma. Sekarang pergi ke rumah Kang Mal Soon minta utang sama dia 170ribu, kalau dia tidak mau bayar, katakan ke istrinya, eomma liat suaminya bawa istri orang. Setelah itu langsung ke rumah Choi Halmeoni bantu-bantu buat jeon di sana, ajak Eun Woo juga, jangan lupa minta upah langsung. Jam 5 sore harus ada di sini lagi, bantuin eomma

Ne…” jawab Hwayoung dengan menatap ibunya sinis.

“Dasar tidak tau diri! Sudah aku besarkan dan kuberi makan bahkan kusekolahkan, tapi malah melihat orang tua dengan ujung mata. Anak kurang ajar! Dasar…” saat ibunya ingin mendaratkan pukulan, Seon Mi, wanita yang bekerja di kedai ibunya, datang mencegatnya.

“Sudah Soo Jung. Cepat pergi, bawa Eun Woo juga” pintanya pada Hwayoung.

Hwayoung menarik tangan adiknya. Ia kesal dengan ibunya yang tidak pernah berbicara baik pada dirinya semenjak ayahnya masuk penjara setahun yang lalu. Mulai saat itu juga ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Hwayoung mendapatkan uang jajan dari hasil kerjanya di rumah Choi Halmoeni, ia juga sering memberikan uang jajan pada Eun Woo dari hasil tersebut.

***

Waktu Hwayoung yang banyak dihabiskan di kedai, menjaga Eun Woo dan bekerja di rumah Choi Halmoeni membuat waktu belajarnya sedikit sekali. Tetapi prestasi Hwayoung sangat cemerlang. Seperti saat ini, Hwayoung pulang ke rumah dengan membawa dua piala, satu milik dirinya dan satu lagi milik Eun Woo. Sebelum sampai ke rumah ia mampir ke kedai, lalu mendapati kedainya hancur berantakan.

EommaEomma…” panggil Hwayoung.

Soo Jung melihat anaknya dengan wajahnya yang babak belur. Ia lalu mengambil dua piala di tangan Hwayoung dan menghempaskan ke lantai, membuat Eun Woo bersembunyi di balik Hwayoung, karena takut.

“Lihat sekarang! Semuanya hancur! Kamu kira dengan piala ini hutang kita bisa lunas? Yang kamu tahu belajar saja! Eomma tidak ingin melihatmu membawa pulang piala apapun lagi mulai dari sekarang! Eomma muak! Eomma mau kamu mulai sekarang bawa pulang uang supaya hidup kita tidak hidup seperti ini!”

“Tapi appa berpesan untuk belajar yang rajin, selalu jadi yang terbaik, supaya nanti bisa jadi orang hebat!” balas Hwayoung tidak kalah tinggi nadanya.

“Kamu mendengar laki-laki yang tidak berguna itu? Laki-laki yang buat kita menderita dengan hutang-hutangnya?”

Appa tidak salah! Appa ditipu!”

Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Hwayoung yang saat itu berusia 11 tahun.

“Yang lahirin kamu itu aku! Berani kamu melawanku? Mau aku tampar sekali lagi hah?” teriak Soo Jung. Saat ingin menampar lagi beberapa tetangganya datang dan menenangkannya, yang lalu berteriak sambil menangis.

“Bae Won brengsek! Dia meninggalkanku! Dan sekarang anaknya kurang ajar, tidak berpikir bagaimana lelahnya aku menafkahi mereka. Dia laki-laki brengsek! Tuhan tidak adil! Tidak Adil!”

Hwayoung menatap ibunya yang meraung-raung, sebelum dibawa pergi. Ia berdiri mematung, matanya memerah, air mata mulai membasahi pipinya.

Noona…” panggil Eun Woo yang menghapus air matanya, ia juga ikutan menangis.

“Ayo kita bereskan…..” ajak Hwayoung yang segera menghapus air matanya.

Ia dan Eun Woo mulai membersihkan satu per satu piring-piring yang pecah. Menaruhnya di dalam sebuah plastik besar. Dan merapikan kembali meja-meja dan kursi, kemudian ia melihat makanan yang masih dapat diselamatkan.

Noona, Appa jahat atau tidak?” tanya Eun Woo pada Hwayoung yang sedang menyapu lantai.

“Tidak! Appa ditipu! Appa tidak pernah salah!”  jawab Hwayoung menatap Eun Woo yang sedang mengelap meja.

“Kalau begitu bagaimana caranya supaya Eun Woo bisa mengeluarkan Appa dari penjara?”

“Kamu harus belajar yang rajin, masuk ke universitas terbaik, dan jadi pengacara yang hebat. Harus yang hebat, supaya kamu bisa mengeluarkan Appa

“Kalau begitu Eun Woo mau jadi pengacara. Eun Woo harus baca buku apa noona?”

“Buku tentang hukum. Noona akan meminjamnya di pustaka untuk kamu. Tapi, kamu janji, apapun rintangannya, kamu tidak boleh lemah, tidak boleh cengeng, harus kuat, supaya kamu bisa jadi pengacara hebat”

“Eun Woo janji noona…

***

Tidak ada spesialnya bagi Hwayoung bisa bersekolah di Seoul Intenational (S.I) Junghagkyo (SMP). Sekolah bertaraf internasional dan ia berhasil mendapat beasiswa di sana. S.I Junghagkyo adalah sekolah elit di Seoul, bukan sembarang orang yang bersekolah di sana. Rata-rata siswanya adalah anak-anak pejabat. Namun, dimanapun ia bersekolah, seberapapun pintarnya, yang dipedulikan ibunya adalah saat ia membawa pulang uang hasil kerjanya. Hwayoung masih bekerja di rumah Choi Halmeoni, ia juga bekerja di rumah Jung In Ahjumma, orang kaya di daerah ia tinggal, ia mengajari dua anaknya yang masih SD, tidak hanya itu ia juga menyetrika baju milik beberapa tetangganya. Membantu ibunya di kedai  juga merupakan kewajibannya sehari-hari.

Hidup dengan keras membuat Hwayoung tumbuh menjadi gadis yang pendiam dan bicaranya kasar. Baru hari pertama di Junghagkyo, hampir satu kelas tidak ada yang mau berteman dengannya, bahkan ia duduk sendirian. Teman sebangkunya memilih pindah. Ejekan tetang dirinya yang merupakan anak dari seorang narapidana sudah biasa ia dengar, ia memilih untuk diam sambil menatap buku.

Murid-murid di kelasnya bersorak saat seorang gadis cantik rambut panjang digerai dengan bando tiara menghiasi kepalanya masuk ke dalam kelas, tampak sekali ia anak orang kaya.

“Kita sekelas lagi….” teriak seorang murid perempuan yang langsung memeluknya.

“Tahu gak? Karena hari ini hari pertama sekolah, eommaku membuat banyak makanan”

Masuklah tiga orang membawa kotak yang berisi bento yang dihias dengan berbagai bentuk. Lalu dibagi satu persatu pada setiap siswa.

“Dia Kim Joo Na, dulu bersekolah di Seoul Int. Chodeunghagkyo. Terkenal karena ibunya seorang pianis dan ayahnya pemilik stasiun TV SBS” jelas seseorang yang secara tiba-tiba duduk di samping Hwayoung.

Annyeong, naneun Lee Se Young. Kita sama, ayahku penjual omuk dan tteokbokki. Ibuku tukang cuci. Maksudku tadi, kita di level yang sama” sambung Se Young yang memiliki mata coklat.

“Aku juga mendapat beasiswa di sini. Semoga kita bisa menunjukkan bahwa mereka hanya mengandalkan uang saja” ucap Se Young lagi.

Pembicaraan Se Young terganggu saat seorang wanita masuk.

“Anak-anak, nikmatin bento buatan ahjumma ya. Yang baik ya dengan Joo Na. Minggu depan kami mengundang kalian semua ke rumah Joo Na untuk merayakan berhasilnya kalian semua masuk ke sekolah ini. Sampai jumpa minggu depan anak-anak”

Siswa kelas 1-2 bersorak-sorai, Joo Na langsung menjadi pusat perhatian pada hari pertamanya.

“Berlebihan!” ucap Hwayoung yang merasa jijik dengan sikap ibunya Joo Na.

Ia lalu berdiri sambil membawa bento yang diberi oleh pengawalnya Joo Na. Tanpa ragu ia menghempaskan kotak berwarna pink tersebut ke dalam tong sampah yang berada di depan kelas. Joo Na yang masih berdiri di depan kelas terkejut melihat Hwayoung membuang pemberiannya.

“Kamu gak tahu berapa harganya?” kata Shin Bi, sahabat Joo Na dari SD, emosi.

“Wajar saja, appanya saja penjahat, anaknyapun sama sifatnya” tambah Seul Gi yang juga teman SD Joo Na.

“Oh… jadi dia anak yang dapat beasiswa yang bapaknya masuk penjara. Ayo teman-teman pukul dia…” perintah siswa laki-laki yang bernama Vernon, siswa campuran Korea-Amerika.

Siswa 1-2 siap menyerang Hwayoung, namun Joo Na menghadang mereka semua.

“Dia mungkin gak suka dengan makanannya. Kalian gak boleh gitu” bela Joo Na.

“Dia gak pantas di sini Joo Na. Dia anak penjahat”

“Iya Joo Na…”

“Kalian lihat saja! Siapa yang terpintar di kelas ini, ah…di sekolah ini. Kalian cuma bisa mengandalkan uang orang tua kalian saja. Mau mukulin aku karena makanan itu? Ayo pukul aku? Kalian kira aku takut?”

Mata Hwayoung beralih pada Joo Na, “Kamu gak usah sok-sok belain aku. Minggir!”

Hwayoung lalu berjalan mengambil salah satu bento murid yang duduk paling depan, kemudian membuka tutupnya. Ia menatap Vernon lalu menumpahkan isi makanan tepat di atas kepalanya.

Appaku penjahat, wajarkan?” sindirnya.

***

Semenjak kejadian itu, nama Hwayoung menjadi terkenal di sekolah. Tidak ada yang mau berbicara dengannya. Hampir setiap hari ada saja sunbae yang datang ke kelasnya untuk memberinya pelajaran. Ia sering ditolak kepalanya oleh sunabenya, bahkan sering kepalanya di tumpahi makanan. Namun, bukan Hwayoung namanya kalau tidak melawan. Ia tidak takut, bahkan dengan ancaman kepala sekolah sekalipun.

“Itu anak pengedar lagi serius ya bacanya…” panggil salah satu sunbae yang mengusik Hwayoung yang sedang serius membaca dengan Se Young.

“Lihat tuh, matanya. Sombong!”

“Heh! Di sekolah aku memang gak bisa ngapai-ngapain kamu. Tapi liat aja! Aku tunggu kamu pulang sekolah!”

Mereka berempat pergi dari hadapan Hwayoung dan Se Young. Hwayoung tidak ambil pusing dengan perkataan mereka. Sudah biasa ia diancam macam-macam oleh sunbaenya.

Waktu pulang sekolah tiba, saatnya Hwayoung bergegas untuk pulang ke rumah mengganti baju dan menuju rumah Choi Halmeoni. Namun, di tengah jalan ia dicegat oleh sunbae yang mengancamnya tadi. Mereka menarik kedua tangan Hwayoung. Ia berusaha membebaskan dirinya, tetapi tak mampu, lawannya adalah empat orang gadis kelas 3 dengan tubuh yang tinggi.

Babo! Kamu bisa diam gak sih? Makanya tahu diri kalau miskin! Coba kamu gak numpahin makanan di kepala adikku, selamat hidupmu. Seret dia!” kata gadis bernama Verin. Ketiga temannya menarik Hwayoung untuk masuk mobil milik Verin.

“Lepasin! Kalau kalian mau hidup tenang!” ucap Hwayoung lantang.

“Seret!!!” perintah Verin lagi.

“Beraninya main keroyokan. Satu lawan satu berani tidak?” tantang Hwayoung.

“Aku gak akan pernah takut sama kalian. Kalau perlu aku bunuh kalian semua!” timpalnya lagi.

“Berani kamu sama aku? Hajar aja nih anak! Cepat!”

Mereka lalu memukul Hwayoung dengan menampar dan menendangnya. Hwayoung yang tak mau kalah menggigit salah satu tangan dari mereka berempat. Si gadis yang tangannya digigit lalu melayangkan tonjokan ke arah Hwayoung, tapi sayang Hwayoung lebih dulu menarik rambutnya, kali ini ia menarik rambut dua orang sekaligus. Tenaganya sangat luar biasa, mungkin karena sudah biasa membantu Sun Hwa Ahjumma mencuci bed cover dengan tangan, sehingga tangannya dapat sangat kuat menarik rambut mereka.

Verin berusaha keluar dari kerumunan. Ia lalu menendang kaki Hwayoung dari belakang dengan sangat keras, membuat pertahanan Hwayoung roboh, tetapi kedua tangannya masih menarik rambut mereka. Kesal membuat tenaga Hwayoung terisi dua kali lipat. Bak di film-film ia mengantuk dua kepala mereka, hingga membuat mereka terjatuh. Kemudian ia menghampiri Verin yang wajahnya ketakutan, lalu menarik rambutnya. Disaat pertarungan sengit antara Verin dan Hwayoung, ketiga temannya kembali bangkit dan menendang betis Hwayoung, lalu menarik kerah belakang bajunya hingga ia terhempas ke tanah. Mereka dapat dengan mudah menendang setiap bagian tubuh Hwayoung yang berusaha untuk bangkit.

“Ada polisi! Ada polisi!” teriak suara bass laki-laki dari seberang, membuat Verin dan kawan-kawan lari terbirit-birit menuju mobilnya dan langsung bergegas.

Laki-laki berseragam SMA itu berjongkok untuk melihat keadaan Hwayoung.

“Ayo ke Rumah Sakit!” kata laki-laki itu sambil berusaha membangkitkan Hwayoung yang penuh luka di bagian wajahnya dan lebam-lebam di kakinya.

Hwayoung malah menolak, ia berusaha bangkit sendiri dan mengambil tasnya untuk pulang.

“Ayo ke rumah sakit!” ajak laki-laki itu.

Hwayoung sama sekali tidak menggubrisnya, ia malah berjalan dengan pincang melewatinya. Terpaksa laki-laki itu menarik lengan Hwayoung secara paksa. Ia lalu menggendongnya dan memberhentikan sebuah taksi untuk langsung menuju rumah sakit terdekat.

Setibanya di Rumah Sakit, Hwayoung langsung di periksa oleh dokter. Untungnya dari hasil pemeriksaan, hanya luka luar saja, tidak ada tulang yang patah, dan kakinya hanya terkilir saja. Dokter menyarankan Hwayoung untuk dirawat beberapa hari di sini.

“Masih lama?” tanya laki-laki penyelamat Hwayoung pada perawat yang tengah membalut kakinya dengan perban berwarna coklat.

“Ini sudah siap. Sebentar ya, saya tinggal dulu. Suruh temannya istirahat jangan banyak bergerak” ucap sang suster

“Baik…” jawabnya sambil tersenyum.

Bukan malah beristirahat, Hwayoung malah bangun.

“Kamu mau kemana? Kamu disuruh istirahat”

“Aku gak pernah menyuruhmu untuk membawaku ke sini. Apa kamu yang akan membayar biayanya?”

“Ah, biaya? Tenang saja, tadi aku sudah urus semuanya. Kamu istirahat yang tenang saja ya, Ryu Hwayoung” kata laki-laki itu sambil membaca nama di baju seragam milik Hwayoung. Ia tersenyum sangat manis padanya.

Mendengar perkataan laki-laki itu membuat dirinya semakin benci dengannya, terutama dengan dirinya yang sok berkata kalau biaya rumah sakit telah diurusnya. Ia benci dengan orang kaya yang sombong dengan uangnya. Membuatnya seolah-olah menjadi orang yang tak berdaya dan mengemis-ngemis uang mereka.

“Mau memamerkan uangmu padaku? Kim Joon Myun?” balasnya membaca nama di baju seragam milik Joon Myun.

“Ah, aku tahu, kamu berlagak menjadi orang baik dengan uangmu. Lalu kamu mau aku punya hutang budi padamu. Setelah itu kamu akan memperalatku karena kamu tahu aku tidak akan mampu membayarnya. Permainan lama! Hanya karena aku memakai seragam SMP kamu mau menipuku? Orang kaya sepertimu benar-benar picik!”

Joon Myun melihat ekspresi Hwayoung yang mengungkapkan kemarahannya, ia hanya diam dan tenang saja. Ia seperti dapat membaca pikiran gadis di hadapannya itu. Sama sekali ia tidak sakit hati sudah dikatai oleh Hwayoung, ia malah tersenyum padanya, senyuman yang tulus.

“Ada lagi yang ingin kamu katakan? Aku siap mendengarnya” Joon Myun lalu duduk di bangku di hadapan Hwayoung yang duduk di atas kasur.

“Bicaramu sangat keren. Mengingatkanku pada peran perempuan antagonis di mellow drama Korea. Maksudku bukan menyindir, tapi, untuk anak SMP, aku acungi kamu hebat. Mungkin aku tidak tahu alasan mengapa kamu membenci orang sepertiku, akan tetapi, hidup seperti itu akan menyakitkanmu. Lihat dan kenali dulu, baru kamu menyimpulkan. Aku tidak mengatakan kalau aku orang yang baik. Namun, memamerkan uang bukan maksudku. Aku hanya ingin membantumu”

Hwayoung terkesima untuk sesaat pada Joon Myun, tetapi hatinya masih tertuju pada pekerjaan di rumahnya.

“Aku harus pulang!” ucap Hwayoung.

“Baik aku akan mengantarmu. Tidak pakai tapi…”

Joon Myun lalu menelpon supir keluarganya meminta untuk menjemputnya di Rumah sakit. Tak berapa lama Jae Hoon tiba dan membantu Joon Myun untuk menaikkan Hwayoung ke mobilnya. Hwayoung sesekali melihat ke arah jam tangan milik Joon Myun yang menunjukkan pukul 4 sore.

***

Soo Jung melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan kedainya. Tidak ada orang kaya yang tinggal di gang ini. Ia bingung begitu juga Seon Mi yang sedang menyiapkan kopi untuk salah satu pelanggang.

Seorang gadis dengan jalan pincang dan perban di tangan dan luka-luka di wajahnya mendekat ke arahnya. Soo Jungpun mendekat ke arah sosok tersebut.

“Hwayoung?” serunya.

“Kenapa kamu? Berkelahi?” Soo Jung naik darah melihat keadaan putrinya.

“Kamu cari masalah di sekolah? Sudah eomma katakan. Buat apa sekolah di tempat orang kaya, yang ada kamu diinjak-injak sama mereka, hutang belum lunas, sekarang eomma harus memikirkan biaya kamu berobat? Kamu dari lahir memang pembawa masalah. Kamu memang bawa sial! Sekarang pulang ke rumah urus Eun Woo dan jangan lupa nyetrika pakaian milik Joo Ri, jam 7 mau diambil. Gak usah ngeles!”

Hwayoung berbalik ternyata Joon Myun masih ada di sana. Ia menatapnya sinis lalu menuju rumahnya. Merasa ada yang mengikut ia berbalik, benar saja, Joon Myun masih mengikutinya.

“Gara-gara kamu membawaku ke Rumah Sakit!”

“Kenapa kamu memasang wajah kasihan? Aku gak perlu dikasihanin. Lebih baik sekarang kamu pulang. Nikmati hidupmu selagi bisa. Pergi!”

“Setidaknya sebelum aku pergi, aku ingin memperbaiki kesalahanku. Aku akan membantumu” ucap Joon Myun.

“Membantu?” tanya Hwayoung dengan wajah mengejek.

“Orang sepertimu?” timpalnya.

“Pergi! Lebih baik kamu pergi sebelum aku berteriak lalu orang-orang akan menghajarmu”

“Baik…” jawab Joon Myun dengan berat hati.

“Semoga cepat sembuh” ucapnya yang sungguh-sungguh berharap agar Hwayoung cepat pulih.

***

Dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya ia memikirkan Hwayoung. Sibuk memikirkan gadis ketus tadi membuatnya tak sadar kalau ia telah tiba di rumah dan Jae Hoon dari tadi sudah membuka pintunya. Beberapa asisten rumah tangga berseragam menyambut kedatangannya sambil membungkuk hormat. Ia bergegas ke kamar untuk ganti baju. Matanya tertuju pada baju ganti yang telah disiapkan serta segelas fruit punch untuk melepas dahaganya. Dari luar kamar salah satu asistennya memanggil namanya. Sore seperti ini adalah saatnya tea time.

Joon Myun turun ke bawah sambil memegang sesuatu di tangan kanannya. Ia langsung menuju taman belakang lalu secara otomatis tersenyum saat melihat kedua orang tuanya bertepuk tangan melihat Joo Na, adik perempuannya, sedang memamerkan kemampuan baletnya.

“Itu tarian Balet atau tarian orang kelaparan?” ejeknya yang duduk di sebelah ibunya.

“Joon, kamu kemana saja?”

“Ada urusan tadi…”

Joo Na tiba-tiba senyum-senyum sendiri melihat Joon Myun.

“Kenapa tukang ngompol?” tanya Joon Myun pada adiknya yang seketika wajahnya jadi cemberut.

Eomma…” Joo Na langsung duduk di atas pangkuan ayahnya.

“Joo Na, baca surat di kamarnya oppa. Isinya ada i love you i love you nya…, eomma, appa, jangan-jangan oppa pulang telat karena pacaran …”

“Seharusnya kamu bangga punya oppa kayak oppa, banyak yang naksir. Lagian ya, kamu masuk kamar oppa tanpa izin, pakai baca-baca rahasia oppa lagi. Mau oppa bilangin rahasia kamu sama eomma?”

Oppaaaaaa!!!” Joo Na berlari menutup mulut oppanya. Ia mengedip-ngedipkan matanya, memberi kode agar Joon Myun tidak mengatakannya.

Namun, Joon Myun tetap ingin memberi tahu orang tuanya, menurutnya hal ini patut untuk mereka dengarkan. Dengan bersusah payah ia melepaskan tangan Joo Na yang menutup mulutnya, akhirnya kedua tangan Joo Na dikunci olehnya hingga tak bisa bergerak.

Eomma, Joo Na lagi jatuh cinta. Sama temanku, Chanyeol!”

Kesal sudah pasti, tingkat kekesalannya sudah berada di level atas. Ia melancarkan aksi memukul-mukul oppanya. Tidak ada yang tahu soal itu, hanya buku diari bergambar sleeping beauty yang menjadi saksi bisu atas kebenaran tersebut. Anehnya, buku diarinya memiliki kunci yang ia simpan di tempat rahasia. Tapi, bukan Joon Myun namanya, kalau tidak ahli dalam hal itu. Ia memang senang menjahili adiknya dan juga penasaran dengan apa yang dipikirkannya. Untuk itu, setiap malam, saat Joo Na sudah tertidur lelap, ia masuk ke dalam kamarnya, demi mengetahui segalanya tentang adik satu-satunya.

“Anak eomma sudah besar ternyata. Kamu mau eomma bilang ke Chanyeol?” goda Se Na, ibu Joon Myun dan Joo Na.

“Ah, eomma…..” Joo Na merengek di dalam pelukan ayahnya. Kali ini ia benar-benar menangis. Eomma dan oppanya malah tertawa.

“Joon, itu punya Joo Na ya?” tanya ibunya tiba-tiba menghentikan tawanya.

Joon Myun menatap pin berlambang Seoul Intenational Junghagkyo di dalam genggamannya. Ingatannya kembali teringat pada gadis bernama Hwayoung. Pin tersebut terpasang di tasnya yang telah robek dan dijahit berkali-kali. Pin tersebut digunakan untuk menutupi tasnya yang sudah tidak bisa diresleting lagi. Entah kenapa, hatinya sangat sedih sangat mengingatnya.

“Joon?” panggil ibunya, memecah lamunannya.

Oppa ambil punya Joo Na?” tanya Joo Na saat melihat pin di tangan oppanya dengan suara serak.

“Bukan. Mau tau aja sih urusan orang lain…” sahutnya sambil memasukkan pin tersebut ke dalam sakunya.

***

Dalam keadaan sakit Hwayoung tetap bangun pagi-pagi buta untuk membantu ibunya dan menyiapkan sarapan pagi. Serta membantu Eun Woo, adiknya, untuk siap-siap berangkat sekolah.

“Gara-gara kamu begini, eomma pagi ini harus mengantar kue ke empat tempat. Kerjaan kamu tuh bikin eomma pusing saja” keluh Soo Jung pada Hwayoung yang tengah memasangkan dasi pada Eun Woo.

Hwayoung menahan amarahnya, ia lalu mengambil sepatu milik Eun Woo.

“Cepat pakai!” perintahnya pada Eun Woo.

“Kamu kalau bicara sama Eun Woo, jangan kasar! Eomma gak mau dia punya sifat kayak kamu” timpal ibunya dari dapur.

Tanpa menyisir rambut, Hwayoung menyambar tasnya yang tergeletak di lantai. Sebenarnya kakinya sakit, tetapi ia tidak memperlihatkannya, ia tetap berjalan tegak ke dapur. Ia mengambil kue-kue yang telah disusun ibunya, untuk diantar.

“Tidur aja lagi!” sindirnya pada ibunya sambil memegang empat tempat kue.

“Kamu semakin besar gak ada sopannya sama orang tua!” bentak Soo Jung.

“Benarkah?” cibirnya dengan memandang Soo Jung sebelah mata.

“Ayo Eun Woo….” ajaknya.

Hwayoung dan Eun Woo cepat-cepat keluar dari rumah, saat ibunya masih marah-marah pada Hwayoung.

“Kalau tahu besarnya seperti ini, menyesal aku melahirkanmu!” kata-kata ibunya dari dalam membuat langkah Hwayoung terhenti di pagar rumahnya. Ia menarik napas dalam-dalam. Betapa terkejutnya ia saat menatap ke depan.

“Hmmm….itu…hmmm…” laki-laki di hadapannya menjadi salah tingkah, tak tahu harus berbuat apa.

“Ingin menertawai kehidupanku? Tertawalah sepuasmu! Ayo Eun Woo!”

Laki-laki tersebut mencegat jalan mereka.

“Kakimu masih sakit, dokter bilang kamu harus istirahat. Aku akan mengantar adikmu sekolah dan mengantarmu kembali ke rumah sakit”

“Mengasihaniku? Aku tidak perlu dikasihani. Aku memang miskin, tapi aku punya harga diri yang tidak akan bisa dinilai meski kamu menjual seluruh kekayaan yang kamu punya”

Hwayoung bersikeras menarik Eun Woo yang juga ditarik oleh Joon Myun. Dengan terpaksa Joon Myun mengeluarkan tenaganya. Ia melepaskan pegangan tangan Hwayoung pada Eun Woo, lalu menggendongnya dengan paksa.

“Ayo ikut hyung Eun Woo…” ajaknya sambil membawa Hwayoung yang meronta-ronta ingin lepas.

Supirnya terkejut melihat Joon Myun membawa seorang perempuan seperti sedang menculiknya.

“Pak, tolong antarkan ke rumah sakit, setelah itu antarkan dia ke sekolah” uapnya seraya menunjuk Eun Woo.

***

Habis seluruh kekuatan Joon Myun untuk membawa Hwayoung ke rumah sakit. Tenaganya seperti bukan tenaga perempuan. Setelah Hwayoung mendapatkan perawatan lagi, ia mengharuskan membayar semua kue-kue miliknya yang tak sempat diantarnya. Alhasil kue-kue tersebut sekarang berada di atas meja makan malamnya.

“Kamu belinya banyak sekali Joon. Apa seenak itu?” tanya ibunya.

“Enak eomma…” katanya yang padahal belum mencicipi satupun.

Ibunya, diikuti oleh ayahnya serta adiknya mengambil kue tersebut. Saat gigitan pertama mereka langsung terkesima dengan rasanya.

“Beli di mana sih?” tanya ayahnya sambil mengambil kue yang lainnya lagi.

“Rahasia pa…”

***

Di rumah Hwayoung tak ada yang namanya makan malam bersama. Ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya karena tempat untuk menaruh kue-kuenya ikut dijual olehnya. Kepalanya cukup pusing mendengarkannya, tak ada hari tanpa mendengar ucapan ibunya yang membuatnya muak untuk hidup.

Tanpa terasa air matanya menetes saat ia membaca di dalam kamarnya. Sebelum Eun Woo yang ikut belajar di sampingnya melihat, ia buru-buru menghapusnya.

“Aku berjanji, akan membalas semua orang yang membuatku menderita. Suatu hari nanti. Saat aku punya banyak uang” batinnya.

Bersambung

One thought on “Chance to be Loved (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s