Chance to be Loved (Chapter 2)

cover

Tittle    : Chance to be Loved

Part  2 : “Someday….” 

Lenght : Chapter

Rating : PG 13+

Genre : Romance, Family, Hurt dan Love

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Twitter : @JiRa_deeFA

Main Cast : [EXO] ChanYeol as Park Chan Yeol

                     [EXO] Suho as Kim Joon Myun

                     Hwayoung as Ryu Hwayoung

                     [WSJN] Cheng Xiao as Kim Joo Na

                     Rena Nounen as Rena Nounen

                     [ASTRO] Cha Eun Woo as Ryu Eun Woo

(Introducing my new FF. Author amatiran ini berterima kasih kepada yang mau baca. Hehehe.  Mohon kritik dan sarannya ya *bow*. Hope You Like ^^)

Tak terasa sudah tiga bulan Hwayoung menjadi murid kelas dua SMP. Hari-harinya sama sekali tak berubah, tak ada teman selain Se Young dan teman-teman yang selalu mengerjainya, walaupun ia tidak tinggal diam jika diperlakukan demikian. Meskipun ia menjadi murid paling pintar di sekolah, tetapi tetap saja yang paling disegani di sekolah adalah Joo Na. Entah mengapa, setiap kali ia melihat Joo Na, amarahnya selalu memuncak. Lagi-lagi hal yang membuatnya sebal, Joo Na menyebarkan undangan ulang tahunnya.

Tahun lalu ia tidak hadir ke acara ulang tahunnya yang menurut teman-temannya sangat seru. Tak henti-hentinya mereka membicarakannya bahkan hampir sebulan sejak acara itu, mereka masih membicarakannya, hingga ia dan Se Young harus memasang telinga baja agar tak mendengarnya. Namun, kali ini ia berubah pikiran, kenapa tak ia nikmati saja pestanya, anggap saja ia sedang merayakan hari ulang tahunnya, lagi pula hari ulang tahunnya sama dengannya.

Wae?” tanya Se Young yang baru balik dari kamar mandi pada Hwayoung yang terus memandang undangan di tangannya.

“Kau berencana hadir?” Se Young seperti membaca pikirannya.

“Hadir saja. Sesekali menikmati hal yang dibenci aku rasa tidak masalah. Tapi, aku tidak bisa menemanimu. Aku harus membantu eommaku” sambung Se Young.

Se Young berbalik mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan bingkisan kecil yang terbungkus dengan kertas kado berwarna merah.

“Untukmu. Saengil Chukkae. Mian, tahun lalu, aku hanya bisa memberi surat. Mian juga terlalu cepat, soalnya takut lupa”

Baru kali ini ada orang yang memberinya kado. Hwayoung menerimanya dengan hati yang sangat senang. Se Young adalah orang yang benar-benar menganggapnya sebagai teman di kelas ini. Yang lain, bahkan mereka tak pernah peduli dengannya, bahkan sering menganggapnya tidak ada.  Ia tersenyum sambil meletakkan kado pertama dari seorang teman ke dalam tas.

***

Hwayoung sudah memutuskan untuk pergi ke acara ulang tahun Joo Na. Walaupun berkali-kali ibunya melarang dan memarahinya, ia tidak mempedulikannya. Ia ingin menikmati harinya walau hanya beberapa jam. Dengan bantuan Seon Mi yang sangat baik hati dan meminjamkan baju milik putrinya, walaupun agak kebesaran karena badan putrinya yang sedikit berisi, tapi baju ini lebih bagus dan layak dari pada baju usang miliknya. Dengan baik hati pula, Seon Mi mengantarnya ke tempat tujuan, walaupun Hwayoung bersikeras untuk naik bus, namun karena Seon Mi khawatir padanya yang harus naik angkutan umum apalagi pada malam hari, akrinya diterimanya tawarannya.

“Nanti dijemput lagi, sekitaran dua jam lagi” kata Seon Mi setibanya di depan rumah Joo Na.

“Rumah temenmu besar ya. Mianhae Young-ah, Ahjumma tidak punya baju lebih bagus dari ini…”

“Tidak masalah. Aku masuk dulu” ucap Hwayoung sambil membungkuk, lalu berbalik menuju rumah Joo Na.

“Young-ah…” panggil Seon Mi yang turun dari scooternya. Seon Mi mengeluarkan sisir dari dalam tas kecilnya.

Ahjumma rapikan dulu ya rambutnya…”

Dengan lembut Seon Mi merapikan rambut lurusnya yang panjang. Diambilnya pita kecil berwarna biru lalu dipasangkan di sebelah kiri. Ia juga menepuk-nepuk baju yang dipakai Hwayoung agar kelihatan rapi. Ada rasa aneh dalam dirinya. Ia memang sangat baik padanya. Saat ini, ia berharap Seon Mi bisa menjadi ibunya. Namun, ia menarik napas dalam-dalam dan menerima kenyataannya.

“Cantik sekali, tidak kalah dengan anak orang kaya. Selamat bersenang-senang ya…” Seon Mi berkata sambil mengelus pipinya dengan tangannya yang kasar karena terlalu banyak bekerja.

Hwayoung menatap punggungnya yang semakin menjauh. Ia heran kenapa orang lain terlihat seperti keluarga dan keluarga terlihat seperti orang lain. Kini kakinya telah menginjak di depan gerbang rumah Joo Na. Tatapannya tertuju pada rumahnya yang dipenuhi dengan mobil milik para tamu. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah masuk ke dalam.

***

Halaman belakang rumah Joo Na telah berubah menjadi Wonderland. Tahun kemarin karena ia terobsesi dengan anime Sailor Moon, maka konsep ulang tahunnya yang berhubungan dengan anime tersebut. Untuk tahun ini, ia sangat suka dengan Alice in Wonderland, sebab itulah pesta ulang tahunnya kali ini bertemakan Wonderland. Ibunya bahkan telah menyuruh sahabatnya yang seorang designer untuk menjahit baju yang akan dikenakan putrinya nanti, tentu saja seperti permintaan Joo Na, harus persis sama dengan baju yang dikenakan Alice.

Joo Na telah siap dengan busana Alice. Wajahnya pun dirias seperti Alice. Saat ia melangkah menuju halaman belakang dengan menggandengan tangan Joon Myun, sontak saat itu semua tamu seperti terhipnotis, melihat kakak-beradik yang sangat tampan dan cantik. Ia melirik ke arah ibunya yang berpakaian seperti Ratu Putih, lalu ke arah Ayahnya yang memakai jas berwarna hitam seperti Joon Myun, padahal ia menyuruh Ayahnya untuk menjadi Mad Hatter.

“Sok cantik banget!” gumam Joon Myun sambil menggandeng adiknya menuju tempat duduk yang telah disiapkan seperti tempat duduk Mad Hatter yang sedang menikmati teh bersama Alice. Joo Na tidak menjawab, wajahnya cemberut.

“Jangan cemberut, ada Chanyeol tuh!” Wajahnya seketika memerah saat memandang ke arah laki-laki yang bernama Chanyeol.

Acara dimulai dengan persembahan lagu oleh Joon Myun. Ia memainkan lagu karangannya yang berjudul My Dear Sister dengan piano dan alunan biola yang dimainkan oleh Stephanie, sahabatnya. Kemudian duet piano antara ibunya dan kakaknya. Acara selanjutnya games, barulah acara puncak pemotongan kue dan ucapan dari orang tua dan kakaknya. Selanjutnya para tamu menikmati jamuan makan malam, sambil menikmati games yang khusus dibuat untuk teman-teman Joo Na.

“Tidak terasa Joo Na sudah 13 tahun. Tapi sifatnya masih saja kenak-kanakan” keluh Se Na pada sahabatnya Sae Byul. Mereka duduk di sebuah meja bundar yang telah disiapkannya khusus untuk keluarganya dan keluarga Sae Byul.

“Maklum saja, Joo Na kan tidak punya adik. Chanyeol saja yang sudah besar saja masih seperti anak kecil, iya kan yeobo?” Sae Byul meminta pendapat suaminya.

“Wajar, kan Chanyeol anak tunggal” jawab suaminya, Tae Shin.

“Sepertinya Joon Myun mengikuti bakatmu. Apa dia akan menjadi pianis juga sepertimu?” tanya Sae Byul pada Se Na.

“Sepertinya begitu, dia berencana untuk kuliah di Berklee College of Music. Aku tidak memaksanya, dia sendiri yang memilih ingin menjadi pianis”

“Kalau begitu bakat pebisnis pasti diturunkan ke Joo Na” tebak Tae Shin.

“Joo Na itu, senangnya olah raga. Dia kapten basket di sekolah. Dia juga senang renang. Kalau dilihat, dia sama sekali tidak tertarik dengan bisnis” sahut Hwan Eui, suami Se Na sekaligus ayah Joo Na.

Tae Shin tersenyum mendengar pernyataan Hwan Eui.

“Chanyeol juga, padahal aku ingin dia melanjutkan studi dalam bidang bisnis, tapi dia bersikeras untuk jadi dokter” kata Tae Shin.

Saat asik berbincang-bincang, mata mereka beralih pada Joo Na dan Chanyeol yang saling bercanda. Chanyeol memegang boneka kesayangan milik Joo Na di tangan kanannya. Diarahkannya tangannya ke atas, sehingga Joo Na tidak dapat mengambilnya. Ia berusaha loncat tapi tetap tak bisa meraihnya, membuat Chanyeol tertawa terbahak-bahak. Joo Na sampai rela mengambil kursi untuk dapat meraihnya, namun Chanyeol menggendong Joo Na dan membawanya ke arah kolam yang khusus dibuat untuk Joo Na. Kemudian, ia melemparnya, sontak kedua orang tua Joo Na tertawa. Tak mau kalah, Joo Na keluar dari kolam dan mendorong Chanyeol hingga bajunya juga basah seperti dirinya. Karena kesal Chanyeol kembali menggendong Joo Na dan membawanya masuk ke dalam kolam renang.

“Joo Na dan Chanyeol cocok ya…” celetuk Sae Byul.

“Aku rasa begitu” sahut Tae Shin sambil menatap istrinya penuh arti.

“Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka?” Hwan Eui memberi pendapat.

“Aku setuju, yeobo…” kata Se Na.

Sae Byul dan Tae Shin pun setuju.

“Saat putriku berumur 24 tahun, aku rasa dia sudah siap untuk menikah”

“Aku setuju” sahut Sae Byul.

“Jadi tidak sabar saat itu tiba” sambungnya lagi.

***

Hwayoung hanya duduk diam menikmati acara. Walaupun silih berganti teman-teman sekelasnya menghampirinya hanya untuk mengejeknya, ia tidak peduli. Ia duduk sambil memakan makanan yang telah disediakan. Tak peduli dengan ocehan-ocehan yang meremehkannya, baginya ini kesempatan untuk makan makanan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Mianhae…” tiba-tiba ada seorang laki-laki tak sengaja menyandung mejanya. Laki-laki yang tadi bermain di kolam bersama Joo Na.

Mianhaeyo…” katanya lagi.

Hwayoung menatapnya hingga matanya tak berkedip.

“Hai…Hello….” laki-laki itu melambaikan tangannya membuat lamunannya buyar.

Mianhae…” ucapnya lagi.

Ne, gwaenchanayo…” sahut Hwayoung salah tingkah di bawah tatapan dan senyuman laki-laki berparas tampan dan lesung pipi disebelah kirinya.

“Chanyeol oppa…..” teriak seorang gadis yang Hwayoung tahu itu suara siapa.

Palli…..” teriak Joo Na lagi.

Tanpa pamit laki-laki yang ternyata bernama Chanyeol itu pergi dari hadapannya. Tangan putih miliknya meraba dadanya. Ia dapat merasakan sesuatu yang bergetar hingga membuatnya susah bernafas serta suhu tubuhnya jadi meningkat. Sulit untuk dimengerti apa yang ia rasakan. Ditambah lagi kekesalannya pada Joo Na yang berteriak pada laki-laki yang baru saja diketahui namanya. Andai saja ia tidak memanggilnya ia bisa saja melihat wajahnya lebih lama lagi.

“Sesekali senyum rasanya tidak masalah…” seorang laki-laki tiba-tiba duduk di sebelahnya yang duduk sendirian.

“Kau lagi!” Hwayoung memalingkan wajahnya. Ia baru menyadari, bahwa laki-laki yang membawanya ke rumah sakit adalah oppanya Joo Na, mereka punya nama keluarga yang sama yaitu Kim.

“Kenapa tidak gabung dengan temanmu? Aku tidak menyangka, kauu sekelas dengan adikku. Ka….”

“Boleh aku bertanya satu pertanyaan?” potong Hwayoung.

“Tentu saja…” jawab Joon Myun antusias.

“Pukul berapa sekarang?”

Putra sulung Hwan Eui terkejut, lantaran gadis di hadapannya bertanya hal yang dianggapnya aneh. Joon Myun lalu menunjukkan jam tangannya. Betapa terkejutnya Hwayoung saat melihatnya, ia sudah berjanji dengan Seon Mi hanya dua jam di acara ini. Dan sekarang Seon Mi pasti sudah menunggunya. Ia berlari meninggalkan acara, ia harus segera pulang. Dalam keadaan bingung, Joon Myun juga berlari mengikutinya.

“Mau kemana?” Joon Myun menarik tangannya.

“Lepaskan!” Pinta Hwayoung dengan keras. Tak ada yang mendengar karena mereka berada di parkiran mobil.

“Acaranya belum selesai…” jelas Joon Myun.

“Lalu? Aku harus menunggu hingga acaranya selesai? Aku datang kesini dengan harapan acaranya berantakan, ternyata tidak, buat apa aku berada lama-lama disini? Kenapa? Ingin mengantarkan aku pulang? Mau memamerkan mobilmu lagi? Terima kasih!”

Kata-kata gadis yang biasa dipanggil Young-ah ini membuat hati Joon Myun memanas. Ia kembali mencegatnya dengan menarik tangannya dengan sangat keras.

“Aku pernah dengar cerita dari adikku. Katanya ada seorang murid perempuan di kelasnya yang begitu membencinya, tanpa alasan yang jelas. Padahal adikku tidak pernah berbuat kesalahan apapun padanya” ucap Joon Myun dengan wajah serius.

“Dan aku tahu, yang dimaksud adikku adalah kau. Mengapa kau bersikap seperti ini? Apa salah adikku? Apa salahku? Aku sama sekali tidak mengerti dengan sikapmu”

Hwayoung menatap mata Joon Myun tanpa takut. Padahal terlihat jelas ekspresi lawan bicaranya yang murka.

“Aku mau pulang, ibuku, kau sudah lihat bagaimana ibuku, dia sudah menungguku”

Joon Myun lalu melepaskan tangan Hwayoung, ia menatapnya yang naik motor dengan seorang wanita. Entah mengapa ia seperti terbebani saat melihatnya. Rasanya ia ingin membantunya.

Ia kembali masuk ke dalam dengan wajah yang sedih. Stephanie, sahabatnya sekaligus teman sekelasnya datang menghampirinya, mengajaknya untuk duduk berdua jauh dari keramaian tamu.

“Kau kenapa?” tanya Stephanie.

“Tidak ada apa-apa. Kenapa kau mengajakku duduk di sini?” tanyanya.

“Di sana terlalu bising. Dan ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sama padamu”

Suasana hening membuat Stephanie tidak nyaman.

“Kau dengan Dasom sebenarnya ada apa?” tanya Steffi, panggilan Stephanie.

“Kau kan tahu Steff, aku tidak suka dengan perempuan ganjen seperti dia. Dia bahkan nekad hampir menciumku saat acara camping ke Haeundae waktu itu”

“Lalu Yerin?”

“Steffi, aku belum menemukan perempuan sesuai dengan keinginanku”

“Seperti apa memangnya yang sesuai dengan keinginanmu?”

Joon Myun menarik napas dan menatap Steffi.

“Seperti adikku, perempuan polos dan baik hati”

Steffi terkekeh mendengar pernyataannya.

“Kalau begitu seperti Rena…”

“Rena?”

“Rena Nounen, orang jepang di kelas kita. Gadis yang pendiam itu. Yang sering dikerjai oleh teman-teman sekelas. Kau tidak mengenalnya? Wajar saja, dia jarang bicara dan selalu pandangannya ke bawah”

“Oh, maksudmu gadis yang Jong In bilang jelmaan sadako?”

Steffi menggangguk sambil tertawa, diikuti Joon Myun yang mengingat Jong In sering berpakaian seperti hantu jepang sadako untuk mengejekknya. Dan teman-teman di kelasnya sering beracting seolah-olah gadis bernama Rena itu bisa muncul di mana saja dan dapat terbang alias kakinya tidak berpijak di lantai.

“Aku bisa menjadi perempuan sesuai dengan keinginanmu” kata Steffi membuat Joon Myun berhenti tertawa.

“Aku serius…” sambungnya.

“Tapi kita…” Joon Myun tak tahu harus menjawab apa.

“Apa aku bisa? Hanya perlu jawab ya atau tidak”

Joon Myun benar-benar bingung, bagaimana bisa, perempuan yang telah menjadi sahabatnya sejak SMP secara tiba-tiba menyatakan cinta padanya. Memang Chanyeol pernah berkata kalau sebenarnya Steffi jatuh hati padanya, namun ia tak pernah percaya.

“Steff, kau sakit? Kita kan-”

“Cukup! Sepertinya aku tahu jawabannya. Setidaknya, aku sudah lega. Aku lelah terus menyimpannya selama lima tahun. Kalau begitu selamat malam”

Steffi pergi meninggalkannya yang bingung. Joon Myun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malam ini malam terburuk baginya.

Setelah Steffi meninggalkannya, ia kembali ke dalam dan mendapati keluarganya dan keluarga Chanyeol sedang duduk bersama. Ia mencoba memasang wajah tersenyum pada mereka semua.

“Dari mana? Steffi sudah mengatakannya?” tanya Chanyeol di hadapan semuanya. Chanyeol memang sahabat yang kurang ajar. Bagaimana ia bisa tahu tentang Steffi.

“Ada apa dengan Steffi?” tanya Se Na, ibu Joon Myun.

“Itu…” belum sempat habis kalimat Joon Myun terucap, Chanyeol lebih dulu angkat bicara.

Ahjumma tahu kan? Steffi, Stephanie, teman kita, dia jatuh cinta pada Joon Myun. Malam ini dia akan menyatakan cintanya. Tapi kalau dilihat-lihat, sepertinya Joon Myun menolaknya…”

“Kau menolak Stephanie? Wae? Dia cantik, pintar dan baik. Kenapa kau malah menolaknya?”

“Chanyeol!” Joon Myun geram, ia ingin melayangkan tinju padanya.

Eomma, oppa udah punya pacar. Mana bisa terima Steffi eonni” Joo Na ikutan.

“Siapa?” tanya Sae Byul, ibunya Chanyeol.

“Namanya Yerin…”

Mendengar nama Yerin membuat Chanyeol tertawa keras. Ia tahu, sahabatnya itu sangat membenci Yerin. Ia bahkan menceritakan kelucuan Joon Myun menghindari gadis bernama Yerin. Semuanya ikut tertawa, mendengar ceritnya, termasuk si objek pembicaraan. Joon Myun yang tadinya kesal, jadi terkekeh saat mengingatnya kembali tingkahnya yang sangat aneh dan lucu.

***

Baru saja Seon Mi memarkirkan motornya di depan rumah Hwayoung. Ibunya Hwayoung langsung keluar dengan sapu lidi di tangannya. Tanpa menunggunya turun dari motor, ibunya langsung menariknya, lalu memukulnya tepat di kaki. Tak ada raungan, ia berusaha menahan sakitnya, serta tak ingin Eun Woo yang sedang menatapnya di balik jendela tambah sedih, meskipun ia dapat melihat dengan jelas, adik kesayangan menangis. Seon Mi berusaha melerainya, dibantu dengan Man Sik, tetangga Hwayoung, yang langsung keluar saat mendengar keributan.

Beruntung, kejadian tadi tak diketahui banyak orang. Dari arah dapur terlihat Eun Woo membawa seember air dan handuk kecil. Ia membawanya ke kamar, tempat ia dan noonanya tidur. Saat tiba, ia melihat punggung noonanya dan mengira ia telah tidur. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya, agar tak membangunkannya. Diambilnya haduk kecil, lalu dicelupkannya ke dalam air. Namun, saat ingin menaruh handuk basah tersebut di kaki kakaknya, ia berfikir, pasti akan terasa pedih jika terkena air. Untuk itu, ia menggunakan cara lain, ia meniup-niup kaki kakaknya sambil menangis tanpa suara. Sesekali terdengar suaranya memanjatkan doa.

Tiada yang membuat Hwayoung bahagia, selain Eun Woo, adik laki-lakinya. Ia padahal belum tidur. Ia hanya pura-pura tidur. Tak ingin menampakkan tetesan bening dari matanya. Ia juga harus membekap mulutnya, menahan isakan yang setiap kali memaksanya untuk menangis lepas. Baginya, tak perlu mati untuk merasakan neraka. Hidupnya sekarang sudah seperti neraka. Entah mengapa malam ini ia berharap agar ibunya mati, ia tahu hal itu sangatlah jahat, tetapi mengingatnya lagi, semakin ingin ia berharap demikian. Hanya berdua dengan Eun Woo menurutnya lebih baik.

***

Guru olahraga telah bersiap di lapangan dengan peluit di tangan kanannya. Hari ini pengambilan nilai untuk lari 100 m. Satu per satu para siswa berbaris di line mereka masing-masing, termasuk Joo Na. Olahraga adalah pelajaran favoritnya. Tak ada satupun olahraga yang ia tak mampu. Lari 100 m baginya seperti jalan santai. Beberapa laki-laki, kakak kelas, berdiri di samping lapangan untuk melihatnya berlari. Saat peluit ditiup, Joo Na menunjukkan kemampuannya. Seperti biasa, ia menjadi siswa pertama yang mencapai garis finish.

Selesai olahraga Da Hyun mengajak Joo Na, Shin Bi dan Seul Gi untuk menemaninya memberi hadiah ulang tahun untuk Hanbin, kakak kelasnya. Saat berjalan menuju kelas Hanbin, Joo Na dan ketiga sahabatnya berpapasan dengan Hwayoung. Shin Bi memberikan tatapan sinis padanya, diikuti oleh Seul Gi dan Da Hyun. Tapi tidak dengan Joo Na. Ia malah menoleh kebelakang untuk melihat Hwayoung. Ia merasa ada yang aneh dengan kaki teman sekelasnya itu.

“Ah, kalian duluan saja. Nanti aku susul ke kelas Hanbin sunbae” kata Joo Na. Belum sempat Da Hyun bertanya, Joo Na sudah berlari jauh dari hadapannya.

Ia berlari mencari Hwayoung yang ternyata berada di kelas.

“Kalian sembunyikan di mana seragam dan tasku?” suara Hwayoung membuat teman-teman sekelasnya menoleh padanya. Hanya sebentar, kemudian mereka melanjutkan lagi apa yang mereka lakukan tanpa peduli terhadapnya. Seakan ia hanyalah angin lalu.

“Aku tanya siapa yang menyembunyikan seragam dan tasku?” kini suaranya meninggi.

“Heh! Jangan sok blagu di sini!” Nayeon berdiri di atas bangku dengan kedua tangannya dilipat di depan dadanya. Tidak ketinggalan anggota gengnya yang meniru gayanya.

“Aku tidak sudi menyentuh milik orang yang miskin dan sombong sepertimu” sambungnya lagi.

Baru saja Hwayoung ingin membalasnya, Joo Na duluan membalasnya.

“Jangan bicara sembarangan!”

“Kau tidak perlu sok jadi pahlawan Joo Na. Aku tidak takut padamu, walaupun kau anak paling kaya di sekolah”

Bel sekolah berbunyi, tanda pelajaran selanjutnya telah dimulai. Pertengkaran antara Nayeon dan Joo Na terhenti. Semua murid bersiap untuk mengikuti pelajaran bahasa Perancis. Baru saja gurunya memasuki kelas, Hwayoung malah berlari keluar kelas, tepat dibelakangnya, Joo Na juga meninggalkan pelajaran.

Kaki kurus milik Joo Na mengejar Hwayoung yang jauh berada di depan. Namun instingnya memutuskan untuk berbalik arah, berlawanan dengan gadis terpintar di kelasnya yang kini telah menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Ia memutuskan untuk menuju kelas IX, menghampiri seluruh kakak kelas yang sering mengerjainya, siapa tahu mereka dalang dibaliknya. Ia berlari menuju kelas Verin, kakak kelas yang selalu mengusik kehidupan sekolah Hwayoung. Jantungnya terapacu cepat, secepat tangan yang tiba-tiba saja menarik lengan kanannya hingga membuatnya terkejut dan hampir saja jatuh, jika sang pemilik tangan tak segera menangkapnya.

“Ada apa Joo Na? Menapa buru-buru?” tanya Sung Yeol, subaenya sekaligu pelatih basketnya.

“Hei, ada yang mengejarmu?” Sung Yeol khwatir, ia melempar pandangan ke sekeliling untuk memastikan tak ada orang yang ingin menyakitinya.

Mianhaeyo sunbae, tapi aku sedang buru-buru” Joo Na melepaskan tangannya dari lengannya. Baru saja ia melangkah Sung Yeol kembali menariknya.

“Ada yang bisa ku bantu?”

“Aku sedang mencari orang yang menghilangkan tas dan seragam milik Hwayoung” jawabnya yang berharap lawan bicaranya mengetahui atau setidaknya bisa memberinya petunjuk.

“Hwayoung? Si Jenius anak narapidana itu maksudmu?”

Memang benar, satu sekolah mengetahui kepintaran Hwayoung dan satu sekolah juga mengetahui latar belakangnya. Joo Na tahu, Sung Yeol tak bermaksud untuk menghinanya, ia hanya memastikan apakah subjek pembicaraan mereka sama atau tidak. Sifat pemurah dan rendah hati, adalah pilihan kata-kata yang cocok menggambarkan Sung Yeol.

“Ayo ikut aku…”

Mereka melewati kelas Verin, tujuan Joo Na sebenarnya. Sung Yeol memanggil empat orang laki-laki yang tidak dikenal Joo Na. Mereka bukan teman akrab Sung Yeol, tapi bisa diandalkan untuk menggali infromasi apapun.

“Ada hal yang mencurigakan hari ini?” Sung Yeol bertanya dengan serius. Ia menatap mereka berempat dengan intens.

“Seperti?” salah satu di antara mereka berbalik bertanya.

“Seperti seseorang yang membawa tas dan baju seragam di tangannya lalu berjalan dengan wajah yang mencurigakan menuju suatu tempat tersembunyi. Ada?”

Kedua mata sipit milik Sung Yeol bergantian menatap mereka. Angin berbisik ke telinganya, menandakan ada sesuatu yang diketahui mereka. Ia dapat merasakannya melalui gerak-gerik mereka.

“Apa ada Hong Bin?” tanya Sung Yeol.

“Hmm, aku juga kurang jelas, tapi aku melihat Dong Woo mambawa tas berwarna merah ke arah belakang sekolah. Tapi, aku yakin itu bukan tas miliknya. Ada apa?”

“Seseorang menghilangkan seragam dan tas milik Hwayoung, saat kelas mereka sedang P.E”

“Hwayoung? Siapa?” tanya Chanwoo yang berdiri di sebelah Hong Bin.

“Hmm….” Sung Yeol menatap Joo Na, ragu menjelaskannya.

“Si Jenius anak narapidana” lagi-lagi Sung Yeol terpaksa.

“Apa mungkin ini ada kaitannya dengan Bora?” Chanwoo bertanya dengan nada berbisik pada Hongbin, tapi dapat didengar oleh Sungyeol.

“Bora? Yoon Bora maksudmu?” tanya Sung Yeol.

“Jadi, dua hari yang lalu Bora menelpon dan dia menanyakan soal si anak narapi…” kata-kata Chanwoo terhenti, matanya tak sengaja mentapa ke Joo Na yang kesal.

“Siapa tadi namanya? Hwayoung kan? Hwayoung maksudku. Si Hwayoung itu bisa menyelesaikan soal olimpiade apa gitu, aku juga lupa olimpiade apa. Yang jelas, Bora tidak bisa menyelesaikannya. Lalu Pak Han iseng dengan memanggil si- maksudku Hwayoung untuk menyelesaikannya. Dan percaya atau tidak dia menyelesaikan soal yang tidak bisa diselesaikan Bora selama seminggu hanya dalam hitungan menit”

“Kemudian?” Sung Yeol meminta kelanjutannya.

“Kemudian, aku juga kurang tahu. Perlu bantuan? Aku akan bertanya pada Pak Han. Oh ya, setelah dia bertanya soal anak itu, aku menyuruhnya bertanya pada Verin dan teman-temannya. Karena menurutku mereka yang lebih tahu” kata Chanwoo yang lalu pergi dengan Hongbin untuk bertanya pada Pak Han.

Hati kecil Sung Yeol masih merasa kurang yakin Bora adalah pelakunya. Bagaimana bisa teman seangkatannya yang baik dan pintar melakukannya. Bora tak pernah mencari masalah dengan orang lain. Ia sama sekali tidak pernah masuk dalam catatan hitam sekolah, bahkan ia menjadi panutan bagi siswa-siswa yang lain.

Sung Yeol dan Joo Na memutuskan bertemu Verin yang sedang belajar pelajaran biologi. Bertemu dengan Verin bukan malah menemukan titik terang mengenai pelakunya. Ia bersikeras mengatakan bahwa bukan dirinya yang melakukannya, walaupun ia senang saat mengetahui ada seseorang yang berani bertindak seperti dirinya pada Hwayoung.

Setelah tak ada hasil dengan Verin dan teman-temannya. Mereka menemui Bora. Namun, yang ingin ditemui tak mau keluar dari kelas, dengan asalan ia tak mau melewatkan pelajaran dan menyuruh mereka untuk berbicara saat waktu pulang tiba. Sung Yeol mengajak Joo Na untuk masuk kelas terlebih dahulu, namun Joo Na bersikeras untuk menunggu. Sosok laki-laki tadi, Chanwoo dan Hongbin, berlari ke arah mereka, dan seorang laki-laki yang belum pernah dilihat Joo Na.

Chanwoo mengajak mereka ke taman belakang sekolah. Tempat yang aman dan jauh dari pengawasan guru. Laki-laki yang tidak dikenal oleh Joo Na tadi adalah Dong Woo. Chanwoo dan Hongbin baru saja mengetahui bahwa Bora dan Dong Woo adalah sepupuan. Hongbin berhasil membuat Dong Woo membuka suaranya dengan ancaman, ia akan melaporkan semuanya pada guru bahwa Dong Woo adalah suruhan Bora. Dong Woo ketakutan, ia bahkan ingin berlutut  pada mereka jika Chanwoo tidak mencegahnya. Ia menjelaskan jika Bora dilaporkan, habislah dia. Ayahnya Bora sangat mengerikan, hingga menuntut putri bungsunya untuk selalu perfect dalam hal apapun, begitu yang disampaikan Dong Woo.

“Dan penyebabnya karena Pak Han memintanya untuk belajar lebih giat lagi. Harga diri Bora terluka. Bagaimana bisa junior seperti Hwayoung yang tidak menerima bantuan bimbingan belajar dari manapun bisa mengalahkannya yang mengikuti bimbingan belajar ternama. Ia takut, guru akan mengadu ke ayahnya. Ini hanya permulaan…” jelas Hongbin.

“Permulaan?” tanya Joo Na.

“Jelaskan!” bentak Hongbin pada Dong Woo.

“Bora tidak akan berhenti, tapi aku tidak tahu apa rencanya selanjutnya” kata Dong Woo dengan nada ketakutan.

“Jadi dimana kau membuangnya?” tanya Sung Yeol.

Tangan Dong Woo menunjukkan ke arah luar kawasan sekolah. Ia membuangnya ke kolam di belakang sekolah. Secara tiba-tiba firasat buruk datang menghampiri Joo Na. Entah mengapa ia sangat takut, sangat takut Hwayoung membuat kesalahan dengan menuduh orang yang salah. Dengan bantuan Sung Yeol, Chanwoo dan Hongbin, mereka mencari keberadaan Hwayoung. Hongbin melirik ke arah jam tangannya. Waktu pelajaran berakhir hanya beberapa menit lagi. Akan sangat susat mencari seseorang saat semua siswa bergegas untuk pulang.

Teeeeet………..teeeeeeet………….teeeeeeeet………..

Bel telah dipencet sebanyak tiga kali. Hal yang ditakutkan telah terjadi, mereka semakin berburu dengan siswa-siswa lainnya. Mustahil mencari satu orang siswa di sekolah tiga lantai dan lebih dari 40 ruangan dalam waktu singkat.

“Ayo ikut aku…” ajak Hongbin. Ia mengajak mereka ke ruang radio sekolah. Setibanya ia mengaktifkan microphone.

“Siapa namanya?” tanya Hongbin pada Joo Na.

“Ryu Hwayoung…”

“Pengumuman. Pengumuman. Diharapkan bagi siswi bernama Ryu Hwayoung segera menuju ruang radio sekolah. Diulangi, bagi siswi bernama Ryu Hwayoung segera menuju ruang radio sekolah. Segera. Terima kasih” Hongbin menaikkan alisnya pada Sung Yeol.

“Seperti ini gampangkan?” Hongbin membanggakan dirinya di depan Sung Yeol.

Sung Yeol memperhatikan kenop pintu yang bergerak. Joo Na dan yang lainnya berdiri berharap yang datang adalah Hwayoung.

“Ada apa?” tanya Hwayoung, wajahnya sangat pucat.

“Aku tau dimana tas dan seragammu” ucap Joo Na.

***

Alunan lagu milik Linkin’ Park menemani perjalan dua laki-laki berseragam SMA Goojong. Kepala mereka juga dihentakkan mengikuti musik bergenre keras tersebut. Suara mereka bercampur menjadi satu dengan lagu. Mobil merk Amerika yang dikendarai oleh laki-laki berlesung pipi itu terparkir di depan Seoul Intenational Junghagkyo.

“Mana Joo Na?” tanya laki-laki bernama Park Chanyeol di baju seragamnya.

“Sudah hampir sepuluh kali aku menghubunginya, namun tak ada jawaban. Apa jangan-jangan handphone low battery? Sebaiknya aku mencarinya ke kelas” ucap Joon Myun.

“Kalau begitu aku ikut!”

Tak ada seorang siswapun di dalam kelas Joo Na. Joon Myun hanya mendapati tas milik adik perempuannya. Ia mencari ke sana-sini, bahkan bertanya pada teman akrab Joo Na, Seul Gi, Da Hyun dan Shin Bi, namun tak satupun dari mereka tahu keberadaannya. Terlebih lagi, dari tiga sahabat Joo Na, ia mengetahui bahwa sang adik tidak masuk dalam pelajaran selepas pelajaran olahraga. Bingung, cemas dan sedikit panik, itulah yang dirasakannya. Melihat Joon Myun yang demikian, Chanyeol mengajaknya untuk mencari disekitaran sekolah, ia berusaha tidak sepanik Joon Myun, walaupun sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama dengan sahabatnya. Kurang dari 15 menit mengelilingi sekitaran sekolah. Mata Joon Myun tertuju pada beberapa orang siswa berada di dalam kolam. Ia berhenti untuk memastikan apa Joo Na ada di antara mereka.

“Joo Na….” teriak Joon Myun yang berdiri di samping kolam yang berwarna kecoklatan.

“Joo Na….” Chanyeol ikut-ikutan memanggilnya dengan berdiri tepat di samping Joon Myun.

Salah seorang di antara mereka melihat ke arah Joon Myun dan Chanyeol. Sosok itu berbicara sesuatu pada laki-laki yang tak jauh dari dirinya. Kemudian, ia berbalik arah dan mendekati Joon Myun dan Chanyeol. Semakin dekat, mereka semakin mengenali sosok yang sedang berjalan menuju arah mereka.

“Opp-…” belum sempat kalimat habis terucap di mulut Joo Na, sang kakak terlebih dulu mengomelinya.

“Aku sedang membantu temanku, Hwayoung” jelas Joo Na. Mendengar nama Hwayoung, hatinya tiba-tiba bergetar. Ia tahu tentang Hwayoung yang membenci adiknya, tapi kenapa malah adiknya membantunya. Apalagi ada tiga orang laki-laki yang membantunya. Yang diketahui Joon Myun, tak ada seorangpun di sekolah yang mau berteman bahkan berbicara dengannya. Dan setiap mendengar nama Hwayoung, entah mengapa, ada suatu perasaan aneh yang tak bisa dijelaskannya.

“Joo Na tidak akan pulang sebelum mendapatkan tas dan seragam milik Hwayoung” Joo Na menegaskan kembali.

Oppa bantu…” ucap Joon Myun yang melepaskan tasnya lalu melemparnya asal di atas tanah dan tanpa ragu memasuki kolam.  Melihat tindakan Joon Myun, Chanyeol juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama.

Mereka membantu Joo Na dan yang lainnya. Dengan serius Joon Myun ikut mencari barang milik gadis bermulut ketus itu. Beda dengan Chanyeol, yang tujuannnya adalah hanya untuk mencari perhatian adik temannya. Walaupun tangannya mencari sesuatu di dalam keruhnya air, akan tetapi matanya tetap melirik Joo Na.

Chanwoo dan Hongbin sudah terlihat lelah. Dasar kolam yang berupa lumpur, membuat mereka terasa berat ketika berjalan. Awan-awan hitam pun berkumpul, suasana terasa gelap. Tiba-tiba, tetesan air membasahi pipi mulus milik Chanyeol. Ia mengadahkan kepalanya ke atas, dan hujanpun turun dengan intensitas yang cukup deras. Ia mulai khawatir volume air akan naik serta ia takut Joo Na yang sakit jika terkena hujan. Ia berjalan mendekat ke arah Joon Myun.

“Hujan semakin deras. Sebaiknya Joo Na tunggu di mobil saja. Nanti dia bisa sakit”

“Benar. Aku akan menyuruhnya menunggu di mobil”

Joon Myun mendekati sang adik dan menyuruhnya menunggu di mobil. Ia bersekiras tak mau  menunggu. Berkali-kali ia menolak, tetapi, melihat air yang hampir sebahunya serta Joon Myun yang berjanji akan menemukan barang milik Hwayoung, akhirnya ia memutuskan untuk menunggu di mobil. Joon Myun mengantar adiknya ke mobil. Diikuti Chanwoo, Hongbin dan Sung Yeol di belakang mereka. Mereka sudah menyerah. Berlama-lama di dalam air serta hujan yang deras membuat mereka lelah. Hanya ada Hwayoung di sana yang tetap kekeh mencarinya, serta Chanyeol yang membantunya.

“Sedang apa kalian?” teriak seorang bapak-bapak yang menaiki sepeda mengenakan mantel.

“Cepat naik! Bahaya! Jika hujan, ular akan keluar di sana! Cepat naik!” perintahnya yang di dengar oleh Chanyeol.

Menurut penjelasan sang bapak, saat hujan ular yang berembunyi di rawa-rawa akan keluar untuk mencari mangsa di dalam kolam. Dan yang lebih ditakutkannya lagi, pernah ada kejadian buruk di kolam tersebut. Mendengar penjelasan dari sang bapak, Joon Myun memanggil Chanyeol dan Hwayoung untuk segera keluar dari kolam.

“Kita cari nanti lagi. Ayo kita balik” ajak Chanyeol. Namun, sama sekali tak dihiraukan oleh Hwayoung. Ia masih saja mencari-cari, padahal air sudah meninggi. Sesekali ia menoleh Joon Myun yang memanggilnya untuk cepat naik ke atas.

“Ayo kita balik…” ajak Chanyeol.

Hwayoung menoleh, ia tidak peduli walaupun laki-laki yang ada di hadapannya adalah laki-laki yang dijumpainya saat ulang tahun Joo Na.

“Hujan semakin deras. Kau dengarkan, bahaya di sini!”

“Kau saja yang naik! Aku tidak butuh bantuanmu!”

“Tapi bahaya…”

“Aku kan sudah bilang! Kalau mau naik, ya naik saja! Aku tidak butuh bantuan dari siapun! Pergi!”

Chanyeol ingin membalas kata-kata dari Hwayoung. Ia sakit hati dengan  nada dan cara bicaranya. Sama sekali tipe orang yang tidak tahu berterima kasih. Jika ia membiarkannya, Joo Na pasti akan kecewa melihatnya dan mengganggapnya jahat. Tak ada cara lain. Ia memeluk tubuh Hwayoung dari belakang dan menyeretnya keluar dari kolam.

“Lepaskan! Lepaskan!” Hwayoung meronta-ronta.

Chanyeol hampir kewalahan memegangnya. Ia tak menyangka tenaganya dapat sekuat ini, tak seperti gadis normal seusianya. Ia melepaskan Hwayoung yang tersungkur di atas tanah. Namun, ia kembali bangkit untuk masuk ke sana. Akan tetapi, Joon Myun mencegahnya dengan menarik tangannya. Kali ini ia berusaha melepaskan tangan Joon Myun dengan segala cara hingga ia menendang-nendang kakinya agar melepaskan gengganmannya. Saat Joon Myun melepaskan genggaman tangannya dari Hwayoung. Ia sudah tahu, bahwa gadis keras kepala itu akan mencoba untuk masuk lagi. Baru saja Hwayoung berbalik, Joon Myun kembali menarik tangannya kali ini dengan memberi tamparan kuat di pipi kirinya, hingga membuat Chanyeol dan Joo Na di dalam mobil terkejut tak mampu berkata-kata.

“Kau tuli atau bodoh?” ucap Joon Myun, lebih tepatnya membentak.

“Di sana bahaya kau tidak mendengarnya? Kau bisa mati di sana! Hanya demi mencari seragam dan tas usangmu kau rela mati? Jika saja kau mati, bagaimana dengan adikmu? Bahkan kau rela meninggalkannya hanya karena itu? Aku akan menggantikannya. Lengkap!”

Tak ada seorangpun pernah melihat sisi seperti ini dari seorang Joon Myun. Bahkan Chanyeol sekalipun tidak pernah melihatnya semarah itu. Ia lebih memilih sesuatu diselesaikan dengan damai dari pada memasang suara tinggi. Apa yang membuat Joon Myun hingga menamparnya, masih menjadi tanda tanya besar di benaknya.

Tamparan yang menurut Hwayoung keras tersebut membuatnya semakin sadar, bahwa orang-orang seperti Joo Na, Joon Myun dan Chanyeol dapat memperlakukan dirinya yang rendah dengan semena-mena. Padahal dalam hati kecilnya, ia mengira jika mereka adalah orang kaya yang baik dan rendah hati, hanya saja karena kecemburuannya membuatnya buta akan hal tersebut. Tapi sekarang, dirinya seperti tersentak dari kenaifannya.

“Apa tamparan itu sebagai bayaran kau akan membelikanku barang-barang itu?” tanya Hwayoung berusaha tampak tidak lemah dan menahan sakit di kakinya yang makin parah karena tadi tersungkur.

“Kalau begitu kau boleh menampar pipiku lagi. Siapa tahu kau bisa memberiku rumah, mobil dan uang. Silahkan!” sindirnya.

Kemudian ia berjalan mendekat ke arah Joon Myun dan mencengkeram kerah kemeja seragamnya sambil menatapnya dengan penuh kebencian.

“Seluruh hartamu dijualpun bahkan harga dirimu sekalipun, tidak akan pernah bisa membeli apa yang ada di dalam tasku. Rela mati? Mati adalah hal yang setiap hari aku rasakan. Dan aku tidak pernah takut!”

Ada rasa bersalah dan kasihan di benak Joon Myun. Bersalah karena dengan lancangnya ia berbicara kasar seperti tadi. Kasihan, karena dia tahu dan telah menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, bagaimana kejam hidupnya. Tangan gadis di hadapannya mulai mengendur. Ia berbalik lalu berjalan meninggalkannya yang menyenngol tangan Chanyeol dengan bahunya. Kakinya seperti tertancap di sana, ia tidak bisa bergerak sama sekali.

Dari dalam mobil Joo Na terus berteriak ingin keluar untuk mencari Hwayoung yang telah pergi. Namun, Chanyeol menyuruh mereka berdua untuk pulang, ia khawatir dengan kadaan Joo Na yang bisa sakit jika terkena hujan.

“Kau mau kemana?” tanya Joon Myun.

“Menyelesaikan masalah…” sahutnya yang kemudian berlari di dalam hujan lebat meninggalkan mereka.

Bersambung

2 thoughts on “Chance to be Loved (Chapter 2)

  1. Sumpah ka kasian banget hwayoung -__- sama kakanya sendiri ditampar -__- plus chanyeol nanti jadian sama hwayoung dong -__-
    Ditunggu chapter selanjutnya ya kaa
    Semangattt 💪💪💪💪💪💪

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s