Fall

fall

FALL

by ANee (@affectionee)

Oneshoot . PG17

Kim Jongin . Im Joy (OC)

 

Ialah Jongin, malaikat tak bersayap yang tanpa ragu membuatku bangkit setiap kali aku terjatuh.

 

Di luar sana hujan salju. Angin dari Siberia memberi kesan beku dan kering pada udara malam. Dinginnya menggigit, namun ada butiran peluh yang merembes lewat pori-pori kulit.  Ya, aku berkeringat namun badanku menggigil.

Sambil berbaring, kubungkus tubuhku dengan selimut tebal sebatas leher. Dilingkupi kamar berantakan dengan penerangan yang sengaja kubuat remang, aku sendirian. Detik selanjutnya runguku mendengar suara samar engsel pintu yang bergesekan. Ah, tampaknya malaikatku datang.

Benar, ia kini menghampiriku dengan senyum yang selalu sama—teduh dan tulus—hingga terkadang aku merasa iri padanya. Bibir kami memiliki bentuk yang sama—bahkan keseluruhan yang tampak pada diri kami tak ada yang berbeda—tapi aku tidak bisa menghadirkan senyum seelok miliknya.

Malaikat pemilik senyum indah itu adalah Kim Jongin. Ia tidak pernah absen mengunjungi kamar tidak keruan ini di setiap waktu senggangnya. Sebenarnya pria jangkung itu selalu merapikan barang-barang yang berserakan, tapi kerap aku membuatnya kembali berantakan. Aku yang sulit mengendalikan emosi tak jarang membalikkan meja dengan buku-buku yang suka Jongin baca di atasanya, bahkan melempar radio usang pemberian ayah ke arah cermin hingga benda refleksi itu pecah berkeping-keping.

Tangannya membenahi selimutku, lantas bergerak lagi merapikan surai kelamku yang agak basah oleh keringat. “Bagaimana? Merasa baikan?” Suara beratnya memecah hening. Itu pertanyaan pertama yang sering ia lontarkan.

“Tidak akan pernah sebaik dulu.” Aku tersenyum kecut menanggapi pertanyaannya. Dengan menilik tulang rahang yang menonjol begitu jelas serta pipi yang tak lagi berisi, aku yakin ia tahu bagaimana kondisiku yang kian hari kian memburuk.

“Kuharap kau melanjutkan terapi itu, Kai.” Dan aku harap dia jengah dengan obsesinya yang menginginkanku untuk sembuh.

“Perawatan HAART tidak bisa menyembuhkanku, Jongin!” kilahku lirih namun dengan penekanan.

Selama hampir satu tahun menjalani terapi antiretrovirus, tapi tetap saja virus ini tidak mau lenyap dari tubuhku yang semakin menirus. Jongin memang sudah memberitahuku sejak awal bahwa HAART hanya akan menstabilkan gejala yang timbul, dan aku tidak habis pikir mengapa dulu mau-mau saja menurutinya. Ini sudah minggu keempat aku berhenti melakukan terapi dan Jongin mulai cerewet lagi. Ya, karena dia memang terlampau tahu bagaimana kondisiku sekarang.

 

“Setidaknya dengan terapi, pertambahan jumlah virus di dalam darahmu bisa diperlambat!” Mungkin yang dia maksud adalah memperlambat waktu kematianku. Ia mengatakannya tidak satu kali, tapi berkali-kali. Jongin memang malaikatku, tangan lain yang kupunya untuk menuntunku. Tapi aku tahu, ini hanya akan menghabiskan uangnya lantas mengurangi jatah hidup anak serta istrinya.

Begitulah. Jongin melangsungkan pernikahannya tiga tahun yang lalu, beberapa bulan sebelum kami tahu jika aku terjangkit virus mematikan ini. Wanita yang ia pinang adalah pujaan hatiku, yang pernah menolakku mentah-mentah dan memilih Jongin. “Aku tidak menyukai perangaimu, Kai. Dan aku mencintai Jongin, maafkan aku.” Berengsek! Ingin rasanya kusumpal mulut mungilnya ketika mengatakan hal semacam itu di hadapanku.

 

Jongin ada di sana ketika aku menyatakan perasaan pada Joy—gadis yang kami sukai. Aku sungguh merasa sial kala itu. Well, setelah tahu akhirnya begini, sungguh kulantunkan rasa terima kasih pada Tuhan atas penolakan yang kuterima.

 

Joy tak mau bersitatap denganku, bahkan melarang buah hati kembarnya mendekatiku—padahal kami tinggal di bawah atap yang sama. Aku ingin memaki, tapi apa dayaku yang hanya seorang pesakitan ini? Rela adalah jalan satu-satunya yang harus kutempuh demi kebahagiaan Joy. Aku tak pernah keluar dari kamarku jika Jongin tak mengajak dan memastikan istrinya tidak berada di rumah.

Iya, itulah perlakuan Joy di awal tahun aku mendapat vonis ini. Aku tahu, Jongin pasti berbuat sesuatu dengan memberikan segenap pengertian pada Joy. Buktinya sekarang wanita itu tak seculas dulu, bahkan sesekali ia menyambangi kamarku untuk sekadar mengantar makanan atau memastikan bahwa aku meminum semua pil yang diberikan dokter.

“Kai, kumohon. Jangan membuatku semakin menyesal.” Dengan kabut yang membayang di matanya, ia melontarkan sebuah permohonan padaku. Hah, seharusnya Jongin tak perlu menyesal, toh ini semua salahku.

Salahku memilih bergaul dengan mereka yang kutahu akan membawaku ke dalam jurang terjal lagi kelam. Salahku yang dulu tak pernah mendengarnya untuk berhati-hati dalam memilih teman, untuk hanya bersamanya saja, untuk tidak berkeliaran di tempat-tempat remang bersama para wanita pemuas nafsu.

“Jongin, kau—”

“Itu tetap salahku! Seharusnya aku lebih keras lagi padamu. Aku terlalu lembek untuk ukuran seorang kakak.” Kami memang lahir di hari, tanggal, serta tahun yang sama, namun secara biologis ia adalah kakakku. Dan ia salah jika berkata demikian, toh aku saja yang terlalu tuli hingga mengacuhkan petuahnya. Lihatlah, bahkan Tuhan telah sampai pada tahap menghukumku.

“Uangmu tidak hanya untukku, Jong. Kumohon pikirkan saja keluarga kecilmu. Joy, Kevin dan Kelvin lebih membutuhkanmu, biarkan saja aku mati membusuk di sini.” Jongin mendongak lantas menatapku tajam, matanya berkilat marah mendengar ujung kalimatku.

“Jangan bicara bodoh! Kau anggap apa aku selama ini, huh? Sebegitu bencikah kau padaku sampai-sampai ingin membuatku menderita, Kai?” Di awal suaranya menghentak emosi, tapi selanjutnya ia berucap lirih membuat hatiku perlahan teriris. Menyadari bahwa aku memang selama ini membuatnya menderita tanpa jeda.

“Maaf—” ujarku singkat penuh perasaan sesal. Hanya kata itu yang aku punya, sungguh nyaliku tiba-tiba menciut sekarang.

Perlahan ia mengusap wajahnya sembari menghela napas kasar. Setelahnya, ia bangkit dari ranjangku lalu meniti langkah menuju barang-barang yang berserakan di lantai. Jongin mulai merapikan kamarku tanpa membalas kata terakhir yang aku lontarkan.

Tanpa aba, terputar lagi ingatan kelamku di masa dulu. Masa remaja tanpa kehadiran orang tua, masa remaja yang kulalui bersama saudara kembarku; Jongin. Masa dimana aku menjadikan diriku sebagai hamba obat-obatan terlarang, tanpa menghiraukan betapa bahayanya pesta putaw dengan jasa jarum suntik. Memang, aku mengabaikan ancaman syringe yang mungkin sudah terkontaminasi patogen entah apa.

 

Kala itu kami dihadapkan pada persimpangan jalan—kiri dan kanan—seakan tak ingin dikatai ikut-ikutan, kami memilih jalan yang berbeda, Jongin melangkah ke kanan dan aku melangkah ke kiri. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa pilihanku tidaklah buruk, bahwa orang-orang yang berada di jalanku mampu memberikan kesenangan. Terjawablah, mereka memang memberiku limpahan kesenangan—sesaat―setelahnya aku lenyap tertelan sengsara bertopeng girang.

Fakta itu terkuak setelah Jongin memintaku untuk melakukan tes VCT. Aku didiagnosa terinfeksi HIV. Sungguh dunia seakan runtuh tepat di depan mataku, gelap seakan menyergap pandanganku. Hidup ini tidak adil dan itulah yang alasanku pernah mencoba mengakhiri kepayahan ini.

Namun, Jongin dengan sabar mengurusku, memberi semangat serta dorongan agar adiknya tak lekas patah arang; meski kami sama-sama tahu kemungkinan untuk pulih hanyalah sebesar biji jagung. Dan tatkala aku merasa jatuh—berpikir untuk bunuh diri—selalu kuingat kata-kata ajaibnya, “Kai, selain Joy, kau juga adalah belahan jiwaku. Jangan pernah berpikir untuk mati cepat, karena kau tahu apa yang akan terjadi padaku jika kehilangan dirimu.” Aku menyebutnya ajaib karena memang kata-kata itu teramat membuatku tenggelam, terperosok pada kebimbangan antara berjuang untuk hidup atau melepaskan segalanya. Nyatanya, Jongin-lah alasan utamaku memilih berjuang, setidaknya dia menginginkan aku bertahan lebih lama hingga Tuhan sendiri yang turun tangan memerintah malaikat maut untuk menjemputku kelak.

Tidak jarang juga Jongin bersitegang dengan Joy karena meributkan perihal diriku. Wanita itu tampaknya tidak tahan dengan olokan para tetangga yang menghardik keberadaanku. Hebatnya, Jongin selalu bilang “Kau tahu bagaimana Joy, jangan terlalu dipikirkan.” Jelas saja aku tidak percaya bualannya. Aku bahkan tahu, banyak orang yang menatapku dengan ekspresi aneh di wajah mereka. Jijik, penuh tanya, hingga mungkin iba. Seolah aku adalah makhluk paling kotor yang tidak ada gunanya sedikit pun.

 

Biarlah, toh aku memang tidak suci.

Lain orang di luar sana, lain juga dengan Jongin, ia berbeda. Lelaki tan itu menerimaku dengan tangan terbuka dan bersedia merangkulku bersama sejuta kasihnya. Ia yang menemaniku melakukan segala upaya untuk tidak begitu saja menyerah pada penyakit, membuatku tetap memiliki harapan di tengah situasi yang mengerikan ini.

 

Pun karenanya aku selalu gagal memaki Tuhan. Nyatanya Sang Maha Adil masih memberiku kesempatan di antara kesulitan hayatku, menghadirkan seseorang setulus dirinya yang dulu bahkan tak pernah kulirik dengan ujung mataku. Ialah Jongin, malaikat tak sayap yang tanpa ragu membuatku bangkit setiap kali aku terjatuh.

“Jong—” Dengan posisi masih berjongkok ia sontak mendongak, tanpa ekspresi yang bisa kubaca, menatap ke arah di mana aku terduduk. Lantas kukedipkan mataku dan ia tahu jika aku menginginkannya mendekat menuju ranjang. Sesegera mungkin ia berdiri sembari tangannya meletakkan lembaran kertas yang dipungutnya ke atas meja.

“Kau yakin?” Dua kata itulah yang terlontar dari mulutku ketika ia sudah meletakkan tulang duduknya di atas kasur.

“Aku tak pernah ragu jika itu menyangkut kebaikanmu, Kai.” Senyumnya tersungging kala memberikan jawaban itu.

“Kalau begitu,” aku menjeda kalimatku, meraup oksigen yang sekiranya bisa melegakan paru-paruku yang entah kenapa tiba-tiba terasa sesak, “aku juga tidak akan menolaknya.” Akhirnya aku bisa melanjutkan kata-kata yang sempat tertunda. Dan detik itu juga Jongin memelukku. Merengkuh tubuh yang tak lagi sama besarnya dengan dia. Aku hanya bisa membalas kaku, tak menyangka ia akan menyuguhkan reaksi seperti ini. Sejurus kemudian indra pendengaranku menangkap suara isakan, dan dapat kupastikan jika air matanya pun tengah terurai saat ini.

Itulah satu lagi perbedaanku dengan Jongin. Ia tidak sulit untuk mengeluarkan kristal bening dari hazel–nya. Sedangkan aku, sungguh hatiku terkoyak ketika mendengar Jongin terisak tadi, tapi aku tidak bisa dengan gampangnya menumpahkan perasaan itu.

Kami terpekur beberapa waktu.

Jongin tampak begitu senang mendengar kalimatku yang membuatnya kembali berekspektasi, hingga ia melantunkan kata “terima kasih” berulang kali. Ada perasaan sesak yang menjalar dalam sanubariku, namun lagi-lagi air mataku urung merembes hingga pipi.

Di belakang punggungnya, pandanganku terhenti pada satu titik. Ada seorang wanita yang berdiri di ambang pintu, menyaksikan adegan sendu antara aku dan saudara kembarku. Ia melihatku yang kini tengah memandanginya, namun ia tak bereaksi apa-apa malah semakin tergoncang tubuhnya, membekap mulutnya; menahan isakan mati-matian.

Kueratkan pelukanku di tubuh Jongin, tanpa instruksi kelopak mataku terpejam. Dan tepat saat itulah—akhirnya—cairan bening itu lolos; ada semacam perasaan lega yang menguar dari hatiku. Entah bisikan itu berasal dari mana, namun aku dapat mendengarnya. Ya, aku seolah-olah sedang diberi suntikan tambahan berwujud semangat melalui tangis diamnya. Tangis bisu wanita yang pernah aku cintai, Joy, dan juga tak akan kulupakan ujung-ujung bibirnya yang melengkung. Senyum pertama Joy yang kusaksikan luar biasa tulus ia sunggingkan disertai anggukan pasti.

Mulai saat ini, tidak hanya Jongin yang mendukungku, tapi juga Joy—yang kucintai dan belum terganti. Sungguh, biarkan aku berangan lebih dan lebih lagi untuk memusnahkan virus bengis ini. Izinkan aku yang teramat kotor memohon pada Tuhan untuk sebuah mukjizat  yang mungkin akan sulit didapat oleh manusia sepertiku. Aku ingin mencoba, berusaha untuk tidak menyia-nyiakan—lagi—kepercayaan Jongin, dan juga Joy.

“Jong, bantu aku untuk bertahan lebih lama lagi.” Setelahnya dapat kurasakan ia mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuhku. Serta dapat kulihat Joy menangis kesekian kali dengan sedu-sedan yang tidak ia tahan seperti sebelumnya.

 

∞ 6 bulan kemudian ∞

 

 

Hari ini matahari bersinar cerah, langit menampakkan birunya yang menawan. Suara burung gagak serta aroma cendana tak luput menghadirkan kesan mencekam pada tempat di mana sekarang aku berada. Beberapa waktu lalu hingga kini, aku kerap merasakan sepi yang teramat. Sendirian tanpa teman, sebab Jongin tidak lagi sesering dulu menengokku. Dan ada satu hal lain yang kurasakan berbeda sejak hari itu, tubuhku tak merasakan sakit lagi, ia kebas dengan musim apa pun. Mungkin aku memang sudah benar-benar ditinggalkan oleh virus mengerikan itu. Entahlah.

Dengan derap langkah pelan tapi pasti, sepasang suami-istri beserta anak kembar mereka tengah mendekat ke arahku yang saat ini dibalut pakaian serba putih, berbanding terbalik dengan mereka yang memakai pakaian serba hitam. Aku mengenalnya, mereka adalah Jongin dan Joy bersama kedua putranya; Kevin dan Kelvin.

Aku tersenyum pada mereka—jelas bahagia adalah hal pertama yang aku nikmati setelah sekian lama tidak menjumpai wajah-wajah mereka—namun justru tiada balasan yang serupa dari keempatnya. Kurentangkan tangan hendak memeluk Jongin, tapi seolah tanpa dosa ia melewatiku begitu saja. Aku melakukan hal yang sama pada Joy, begitu seterusnya kepada Kevin dan juga Kelvin yang berjalan berdampingan di belakang kedua orang tuanya. Lagi-lagi perlakuan yang sama aku dapatkan—tidak diindahkan. Lantas kedua tanganku pun kuturunkan, merasa sia-sia dengan apa yang telah kulakukan.

Aku menoleh memperhatikan mereka yang nyatanya sedang mendekati sebuah batu nisan. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah berada tepat di samping makam itu. Joy meletakkan sebuket bunga lili putih yang tadi ia pegang erat, dengan air muka sendu seperti hendak menangis. Jongin langsung  mengelus punggung istrinya itu dengan lembut, pun wajahnya tak kalah pilu.

Beberapa menit berlalu dengan mereka yang sibuk membersihkan makam dari rerumputan. Setelahnya, Jongin diikuti istri dan kedua anaknya menangkupkan kedua tangan. Nampaknya mereka mau berdo’a untuk orang yang dikebumikan di balik batu nisan itu. Aku yang merasa penasaran memutuskan untuk turut mendekat ke arah tempat di mana mereka berjongkok sekarang. Dan dapat kulihat, batu nisan itu bertulisankan—

.

 

“KIM KAI” namaku.

 

—END—

 

 

  • Thank you for reading, fellas!

 

Iklan

11 thoughts on “Fall

  1. ANEEEE KAMU NONGOL DI SINI JUGA KYAAAAA APA APAAN INI /giles ane

    Btw aku syuka sama eksekusimu e e tulisanmu selalu keceh kok ya jadi ga kaget sih akunya kalo baca ficmu haha terus itu jongin dan kai ah hubungan mereka kok unyu sekaleeee jongin malaikat lagi huhu terus kai juga versi berandalan githu yeah karakter mereka bertolak belakang tapi cocok banget hahaha terus aku gatau lagi mau ngomong apa yowislah tak sudahi sebelum komennya makin panjang ga berkah bahahaha

    Keep writing ane sayang muah♥️

    • AY KAMU JUGA NONGOL DI SINI DUH HAHAHA 😝

      thank ya ay bc selalu suka sama tulisanku yg apalahapalah ini. dan soal jongin-kai, dari dulu selalu kepikiran kalau sisi dua nama itu tuh ngga sama wkwkwk yeah, pokoknya gitulah /digiles

      iluvu ya 😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s