SHINE ON ME (VIGNETTE)

1479561957926

Title: SHINE ON ME

 

Author: CHANDRA

Length: Vignette (1400+ words)

Genre: Fluff, School Life

Rating: PG-15

Cast: Luhan, Lisa Lee (OC)

Summary: Xi Luhan yang bahagia bertemu dengan Lisa Lee yang selalu membenci. Jadi, apalagi yang kau harapkan?

Disclaimer: Hargai karya sesama penulis, caiyo!

Author’s Note: FF pertama sebagai freelancer. Penulis membutuhkan kritik dan saran yang membangun, jadi tolong tinggalkan komentar ya, akan di bales kok^^/

SHINE ON ME

Lisa Lee disebut Putri Salju. Bukan, bukan karena kulitnya yang seputih salju. Tapi karena sifatnya yang seperti salju. Dingin.

Lebih-lebih karena sifatnya ini, orang-orang menjadi segan untuk mendekatinya. Bahkan hanya untuk sekedar menyapanya. Bukannya membalas sapaan, Lisa malah akan mendengus lalu melengos pergi begitu saja. Karena hal ini pula banyak yang tidak suka dengan Lisa. Bahkan cenderung membenci.

Bagi Lisa, hal itu tidak terlalu menganggunya. Toh ia sudah terbiasa. Lagi pula hal itu juga tidak merugikannya. Menurutnya, ia tak butuh itu semua. Teman, sahabat, atau bahkan pacar. Untuknya, dirinya sendiri sudah cukup.

*

Namanya Luhan. Xi Luhan. Namanya seindah orangnya. Baik, supel, dan selalu tersenyum. Baginya, bahagia adalah yang terpenting. Karena kalau bahagia, apapun akan terasa lebih indah.

Saat kelas 2 SMA, keluarga Luhan memutuskan untuk resign dan pindah dari Seoul ke Busan. Pada awalnya, terasa berat meninggalkan lingkungan tempat ia dilahirkan. Namun Luhan mencoba memandang hal itu dari sudut pandang yang lain. Why not? Ia akan mencoba untuk menerima lingkungan barunya. Lagi pula, adaptasi tidak selamanya buruk.

Ia yakin, ia akan melakukannya dengan baik.

*

“Nama saya Xi Luhan. Pindahan dari SMA Kwang Hee.”

Lisa memandang laki-laki yang sedang tersenyum lebar di sebelah Pak Chan, wali kelas 2.1. Menurut Lisa, hal ini hanya akan membuang-buang waktu. Mata tajamnya tidak berhenti menusuk laki-laki bernama Luhan itu. Lebih lagi, banyak siswi perempuan yang terlihat langsung mencari perhatian. Uuh, masih awal saja sudah begini! Lisa mendengus lalu memutar mata.

“Sudah sudah.” Pak Chan menenangkan kegaduhan kelas. “Sudah waktunya belajar. Untuk kau, Luhan, kau bisa duduk disana.” Pak Chan menunjuk ke sebuah tempat. Lisa tidak peduli.

Tapi hal itu berubah saat Lisa teringat bahwa tidak ada satu murid pun yang ingin berbagi meja dengannya dan ia pun tersadar bahwa satu-satunya kursi kosong yang tersisa di kelas 2.1 adalah kursi di sebelahnya.

*

Lisa mulai tidak suka Luhan.

Oh, tidak. Lisa memang tidak suka Luhan dari awal Lisa melihatnya. Bagaimana tidak, Luhan benar-benar tidak bisa diam barang sedetik pun di kursinya. Sedikit-sedikit berceloteh tentang Real Madrid, lalu tiba-tiba mengganggu Jisoo yang duduk di depan kursi Lisa. Diam sebentar, lalu mulai bergerak-gerak di bangkunya, entah itu membuat pesawat kertas, atau hanya bernyanyi lagu-lagu milik Maroon 5 dan Goo Goo Dolls. Yang pasti, sepengetahuan Lisa, Luhan tidak pernah bisa diam dimanapun Lisa melihatnya. Sampai pada hari itu.

“Bisa diem nggak, sih?” refleks Lisa membentak Luhan. Menurut Lisa kelakuan Luhan sudah tidak bisa ditolerir lagi. Hari ini, Lisa bermaksud untuk belajar serius karena akan ada tes di tempat les. Tapi Luhan menghancurkan angan-angannya. Bagaimana tidak, Luhan tidak bisa berhenti mengganggu Sana sejak tadi jam pelajaran, membuat suara-suara aneh dan bergerak-gerak seakan ada paku yang menancap di kursinya hingga ia tidak bisa diam. Meskipun Luhan tahu kalau Pak Chan akan segera kembali dari toilet.

“Yaah, Lisa. Bosen nih!” jawab Luhan lalu mengalihkan pandangan dari kepala Sana yang ada di depannya ke wajah merengut Lisa. “Mending kamu ikutan nyanyi. Suka Maroon 5? Lagunya enak-enak, loh.”

Lalu Luhan mulai bernanyi lagu Payphone. Lisa memandang Luhan dan bagian jauh—paling jauh—dari diri Lisa mengakui kalau suara Luhan memang bagus. Sangat. Dan fakta kecil itu membuat Lisa kesal. Pada akhirnya Lisa menyerah dan kembali memandang buku Biologi-nya. Well, belajar biologi dengan latar lagu Payphone. Tidak buruk, juga.

*

Lisa memandang pagar besar di depannya. Ia terlambat.

Lisa tahu kalau ia harus menunggu sampai bel istirahat kalau mau masuk ke sekolah. Namun itu tiga jam lagi dari sekarang. Lisa bingung sampai Lisa melihat seorang laki-laki di kejauhan yang berlari-lari ke arahnya. Ternyata itu Luhan. Lisa langsung membuang muka.

Phew! Gila! Bisa-bisanya aku ketinggalan bis.” terdengar keluhan dari Luhan. Bahkan napas Luhan masih memburu karena dari halte Luhan berlari. “Kita udah telat, ya?”

Lisa mengangkat alis. Tidak yakin kepada siapa Luhan berbicara. Namun karena disitu hanya ada dirinya dan Luhan, Lisa hanya mengangkat bahu. “Liat aja sekarang jam berapa.” Lisa menjawab ketus dengan wajah yang tidak kalah ketus. Lisa duduk pada sebuah bangku di sudut jalan dan memilih untuk menunggu Pak Satpam membukakan pintu. Meskipun itu artinya tiga jam lagi. Lisa meraih buku matematika tebalnya dari dalam tas dan mulai membaca.

Luhan mengangkat alis memandang Lisa lalu menghela napas. Luhan memilih untuk merebahkan dirinya di samping Lisa. “Lisa-ya,” Luhan memanggil. “Nggak bosen apa, disini? Itu kan buku matematika, Lis. Masa buku matematika dibaca.”

Tidak ada jawaban.

“Lisa-ya,” Luhan memanggil lagi. “Masa iya mau nunggu disini sampe jam istirahat? Tiga jam lagi lho, Lisaaaaa.”

Lisa mengangkat bahu tanpa mengalihkan wajahnya dari buku yang sedang dibacanya. “Aku bakalan nunggu. Kalo kamu mau pergi, silahkan.”

“Nggak seru kalo cuma sendiri.” Ujar Luhan mengalihkan pandangannya pada Lisa. “Ikut aku, yuk!”

Tidak ada jawaban. Merasa gerah, Luhan malah meraih buku Lisa secara paksa dan memandang Lisa yang sedang memandang Luhan dengan wajah terkejut.

“Balikin, nggak?!” Lisa memandang Luhan, jelas kesal setengah mati. Tapi Luhan malah menggoyangkan jari telunjuknya ke samping kanan dan kiri, pertanda tidak.

“Temani aku dulu, yuk! Aku janji, kita nggak bakalan telat dateng kesini lagi.” Luhan memandang Lisa, tersenyum.

Dan sebelum Lisa sempat menolak, Luhan sudah meraih kedua tangan Lisa dan menyeretnya untuk ikut bersamanya.

*

Lisa tidak pernah naik bus, tidak pernah makan sate ikan, tidak pernah ke pasar, dan tidak pernah benar-benar pergi dengan seseorang. Karena selama ini, kemanapun Lisa pergi tidak pernah ada orang yang menemaninya, kecuali mungkin Pak Hwang supir pribadinya yang setia. Berbeda dengan sekarang.

Sejak pagi tadi, Luhan sudah mengajak Lisa berkeliling kota Busan dengan naik bis dan menilik dari ekspresi takjubnya, Luhan yakin ini kali pertama Lisa naik angkutan yang sudah sangat umum itu. Mereka juga sudah memberi makan burung-burung yang ada di pantai. Setelah itu, Luhan membelikan Lisa sate ikan, makanan yang menurutnya terenak di dunia yang belum pernah dimakan Lisa, hal ini tentu saja membuat Luhan sangat prihatin. Padahal siapa yang tidak suka sate ikan di dunia ini? Tapi pada akhirnya Lisa berkata bahwa menurut Ayahnya sate ikan yang dijual di pinggir jalan itu kotor sehingga ia tidak diperbolehkan memakannya. Lalu, Luhan mengajak Lisa ke sebuah toko kelontong, dimana Luhan menemukan sebuah jam tangan tua yang langsung ia hadiahkan kepada Lisa. Awalnya, Lisa hanya menatap jam antik yang cantik itu namun Luhan segera meraih jemari Lisa tanpa ragu dan menyarungkannya pada tangan Lisa. Dan sekarang, mereka sedang duduk di sebuah bangku di pinggir pasar. Melihat orang-orang yang berlalu-lalang.

“Kamu udah berapa lama sih di Busan?” Lisa bertanya, nadanya sedikit menuduh—tipikal Lisa sekali. “Kok kayaknya kamu lebih tahu banyak daripada aku.”

Luhan terkekeh ringan sebelum kembali menyesap jus melonnya yang sudah setengah mencair. “Aku itu petualang sejati. Sukanya cari-cari.”

Lisa tidak merespon setelah itu namun ia menunduk untuk melihat jam tangannya, jam sembilan.

“Mending begini dari pada nunggu di depan gerbang. Iya, kan?” Luhan menyandarkan punggungnya ke sandaran dan memandang Lisa. Menghela napas untuk melepas lelah.

Lisa tidak menjawab. Lisa masih bingung dengan dirinya dan apa yang sudah ia lakukan sejak Luhan “menculik”nya pagi tadi. Yang jelas, ia senang.

“Aku nggak pernah ke tempat-tempat kayak tadi.” Ujar Lisa tiba-tiba. Membuat Luhan mengangkat alis. “Sejak Mama meninggal, Papa takut kehilangan aku juga. Jadilah hidupku selalu diatur Papa. Kemana-mana selalu harus minta izin. Itu pun harus jelas mau kemana. Aku jadi seperti robot.”

Lisa melanjutkan. “Hidupku cuma sebatas berangkat sekolah, pulang sekolah, les bimbel, les piano, pulang ke rumah, dan tidur. Hidupku cuma berputar di situ-situ aja.”

Luhan memandang Lisa, tertegun. Lisa mengalihkan pandangan pada Luhan dan memandangnya. Ekspresi Lisa tidak bisa ditebak. Lisa bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba ia menceritakan masalahnya kepada anak kemarin sore di hidupnya.  Tapi Lisa tahu, ia senang berada di dekat Luhan sekarang.

“Bahkan, teman pun aku nggak punya.” Lisa tertawa getir. “Nggak heran kalo semua orang nyebut aku Putri Salju. Kehangatan aku udah mati. Sekarang, yang ada cuma es, es, dan es.” Lisa mengangkat bahu. “Well, manusia-manusia itu benar. Aku pantas dipanggil Putri Salju.”

Luhan memandang Lisa sambil mengangkat alis. Ekspresi sok tegar Lisa membuat Luhan mendapat sebuah gagasan baru di otaknya.

“Lisa-ya,” Luhan memanggil. Suaranya tegas dan jernih. “Aku tahu kita baru kenal beberapa minggu yang lalu.”

“Lalu…?” Lisa mengalihkan pandangan pada Luhan sepenuhnya.

“Ayo kita berteman.” Lisa menggeleng perlahan sambil menyipitkan mata, seakan Luhan berbicara menggunakan bahasa asing yang tak ia mengerti. Namun, Luhan tetap melanjutkan. “Teman yang sesungguhnya. Aku sadar kok, sebulan ini kamu sama sekali nggak menganggapku teman. Iya, kan?”

“Hah?”

“Aku akan membantu kamu mencairkan seluruh es yang ada di diri kamu. Aku janji.” Luhan memandang Lisa yakin, lalu mengulurkan telapak tangannya pada Lisa. Seolah ingin meminta sesuatu dari Lisa. “Jadi, izinkan aku jadi matahari kamu, ya?

Lisa memandang Luhan. Takjub dan tidak percaya sama sekali. Ia memandang Luhan dan merasakan pandangan Luhan yang menghangatkan sekaligus menenteramkan. Lisa sadar kalau ia harus membuat keputusan. Tetap menjadi si Putri Salju… atau berubah bersama Luhan. Ia harus memilih.

Dan pada akhirnya, Lisa memilih untuk menghampiri Pangeran Mataharinya. And that feels so great.

END

Iklan

One thought on “SHINE ON ME (VIGNETTE)

  1. Manis sekali ceritanya nggak kebayang liat senyumnya Luhan pada Lisa, keputusan Lisa benar untuk mencoba mendekatkan dan menghampiri pangeran matahari, yeah walaupun aku juga berfikir sama seperti Lisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s