UNMASKED (Chapter 2)

1476252980189

UNMASKED

A story by Aerinim

Chanyeol x Kyungsoo (Chansoo) // 1395 words

*

Kyungsoo adalah anak yang pendiam. Chanyeol berusaha mendekatinya.

*

Chapter 1

*

Do not copy. Do not plagiarize. This story is made by aerinim and any similarities are pure coincidence.

***

“Pulpenmu.”

Kyungsoo tetap melanjutkan menulis catatan tanpa mendongak untuk melihat siapa yang bicara padanya. Tanpa melakukan itu, ia sudah tahu siapa si pemilik suara tersebut. Orang itu menaruh pulpen yang kemarin ia pinjam dari Kyungsoo. “Terima kasih,” lanjutnya.

Kyungsoo tidak menghiraukan Chanyeol yang masih terdiam dihadapannya sambil menatap dirinya yang sedang mencatat. Namun lama kelamaan, tingkah Chanyeol membuatnya risih. “Bisa kau pergi? Kau menggangguku.”

Mendengar Kyungsoo bicara, Chanyeol langsung berjongkok agar mereka saling bertatapan. Chanyeol melipat tangannya diatas meja Kyungsoo, membuat wajah Kyungsoo memerah.

“Soal kemarin…”

“Aku tidak ingin membicarakan tentang kemarin,” potong Kyungsoo tanpa melihat Chanyeol.

Karena kesal, Chanyeol merebut pensil yang sedang digunakan Kyungsoo untuk mengambil perhatiannya. “Dengar dulu!”

“Fine!” seru Kyungsoo yang akhirnya menyerah dan melihat Chanyeol dengan kesal. “Cepat bicara.”

“Kemarin aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Aku ada urusan mendadak…“ Chanyeol terdiam.

Kyungsoo menatap Chanyeol dengan bingung karena ia tiba-tiba berhenti bicara. Lalu Chanyeol mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan beranjak pergi untuk menerima telepon. Kyungsoo pun memakluminya dan pandangannya tidak lepas dari laki-laki jangkung yang sedang berbicara di telepon di pojok kelas.

Beberapa menit kemudian, Chanyeol kembali ke Kyungsoo dengan tampang khawatir. Kyungsoo masih terdiam menunggu ia bicara. “Maaf aku harus pergi sekarang.”

Kyungsoo menghela napas berat lalu melanjutkan menulis catatannya. Di saat yang bersamaan, Chanyeol mengambil tasnya dan langsung berjalan keluar kelas. Seperti itu, Chanyeol meninggalkan Kyungsoo lagi. Sedangkan Kyungsoo sendiri tahu hal itu akan terjadi sehingga ia sudah mempersiapkan diri agar tidak kesal.

Setelah jam sekolah selesai, Kyungsoo pulang tidak melewati jalan biasa. Ia melewati jalan yang lebih jauh karena ia malas cepat sampai ke rumah. Dengan sekaleng kopi yang ia beli tadi, ia berjalan tanpa buru-buru.

Saat akan melewati sebuah rumah sakit, ia melihat Chanyeol sedang mengendarai sepeda dari arah yang berlawanan, bersama seorang gadis di belakangnya yang memeluk erat tubuh Chanyeol. Kyungsoo terdiam selama beberapa saat untuk memastikan apakah orang itu benar-benar Chanyeol. Pengeliatannya ternyata tidak salah, lalu Chanyeol bersama gadis itu masuk ke dalam area rumah sakit.

Jadi ini alasannya ia selalu pergi? Apakah orang terdekatnya sedang sakit? tanya Kyungsoo dalam hati. Ia merasa bersalah karena telah marah dengan Chanyeol sejak kemarin. Dan siapa gadis itu?

Pikiran Kyungsoo dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang Chanyeol. Kemudian ia pun memutuskan untuk melalukan hal yang gila.

Sementara itu dirumah sakit, Chanyeol membuka pintu sebuah kamar. “Apa dia disini?” tanya gadis yang datang bersamanya. Chanyeol hanya mengangguk.

Di dalam tidak hanya ada satu pasien saja, melainkan tiga dalam satu ruangan. Ia berjalan ke pasien paling ujung di dekat jendela. Terlihat wanita dewasa yang terbaring lemah, namun senyumnya langsung terlihat setelah Chanyeol muncul.

“Eomma, Seulgi disini,” ucap Chanyeol pelan karena takut mengganggu pasien lain.

Gadis yang daritadi bersamanya langsung memeluk ibunya. “Maaf aku baru datang,” ucapnya, hampir menangis.

“Tidak apa-apa, aku senang bisa melihat kalian sekarang,” balas Eomma. Ia pun melepas pelukan untuk menatap putrinya. “Sudah makan?”

Seulgi mengangguk. “Oppa membawakanku mandu sebelum pergi kesini.”

Eomma mengangguk sambil tersenyum. “Ayo duduk! Kalian harus menceritakan banyak hal,” kata Eomma sambil berusaha duduk. Chanyeol yang melihat hal tersebut langsung membantu dan menaikan sandaran kasur agar Eomma duduk dengan nyaman. Eomma mengelus rambut Chanyeol lalu menatap Seulgi, “terutama kau, Seulgi.”

Satu jam kemudian, Chanyeol keluar dari ruangan, meninggalkan Seulgi dan Eomma yang sudah terlelap. Saat berjalan di lobby, ia melihat Kyungsoo yang sedang duduk sendirian. “Kyungsoo!”

Laki-laki itu menoleh dan mendapati Chanyeol sedang berlari kearahnya. Ia pun segera beranjak dari kursi.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Chanyeol.

“Uh, bisa kita bicara?” Kyungsoo tidak menjawab Chanyeol dan malah balik bertanya. “Diluar saja.”

Keduanya pun berjalan keluar. Kyungsoo yang berjalan lebih dulu sedang berusaha merangkai kata-kata yang bagus di dalam hati untuk diucapkan ke Chanyeol setelah ini. Ia sudah menunggu selama satu jam lebih dan masih belum menemukan kalimat yang tepat untuk disampaikan ke Chanyeol. Ia masih merasa malu dan bersalah kepada Chanyeol.

Langkah Kyungsoo berhenti setelah menyadari bahwa mereka sudah berada di luar gedung. Dengan wajah yang memerah karena malu, ia langsung berbalik badan, membuat Chanyeol sedikit terkejut.

“MAAF!” seru Kyungsoo, membuat orang-orang disekitar mereka menoleh.

Chanyeol menatap Kyungsoo dengan bingung dan ia juga merasa malu karena semua orang sedang menatap mereka sekarang. Tidak membalas Kyungsoo, ia malah menarik tangan Kyungsoo dan berjalan menjauhi orang-orang. Hal itu membuat wajah Kyungsoo makin memerah, kali ini karena ia tidak percaya seseorang sedang menggenggam tangannya sekarang.

“Tanganmu dingin sekali,” ucap Chanyeol setelah berbalik badan dan menghadap Kyungsoo. Perkataannya membuat Kyungsoo terkejut dan langsung memasukan tangannya ke dalam saku celana. “Apa yang mau kau katakan?” Chanyeol berbalik badan setelah mereka berada di parkiran mobil yang lumayan sepi. Melihat Kyungsoo yang diam mematung di depannya, ia pun membungkukan badannya untuk menatap wajah Kyungsoo.

Kyungsoo yang pikirannya sudah tidak jelas kemana akhirnya kembali ke realita setelah melihat wajah Chanyeol yang berjarak sangat dekat dengannya. Tanpa berpikir panjang ia segera mundur sedikit kebelakang. Chanyeol menghela napas sambil kembali berdiri tegak. “Apa?”

“A-apanya yang apa?” tanya Kyungsoo sambil tersenyum grogi. Ia bahkan tidak berani melihat mata Chanyeol.

Karena tak kunjung mendapat jawaban, Chanyeol mulai kesal lalu melipat tangannya sambil terus menatap Kyungsoo. “Kau ini aneh sekali,” katanya. “Kau tadi mau mengatakan apa?”

Rasanya bibir Kyungsoo tertutup rapat. Keberaniannya untuk meminta maaf kepada Chanyeol sudah hilang. Seharusnya dia tidak menyentuh tanganku, ucap Kyungsoo dalam hati dan wajahnya mulai memerah lagi.

“Sudah, ya, kalau begitu,” ucap Chanyeol. Saat baru akan berbalik, Kyungsoo menarik lengan baju Chanyeol dan membuatnya berhenti melangkah. Laki-laki jangkung itu menoleh perlahan. Ia tidak dapat melihat wajah Kyungsoo karena ia menunduk. “Kenapa-“

“Maaf,” ucap Kyungsoo dengan pelan.

Chanyeol terdiam sesaat. “Kenapa?” tanya Chanyeol, pelan.

“Aku marah padamu karena kau meninggalkanku saat di toko buku dan tadi pagi aku tidak mau mendengarkan alasanmu tentang itu,” jawab Kyungsoo. Ia mendongak untuk menatap Chanyeol. “Aku tidak tahu orang yang dekat denganmu sedang sakit. Aku minta maaf.”

Chanyeol tersenyum lalu mengacak-acak rambut Kyungsoo. “Syukurlah kau sadar.”

“Hei!” seru Kyungsoo sambil merapikan rambutnya. Ia mendengus kesal karena ulah Chanyeol. Sedangkan si laki-laki jangkung hanya tertawa melihatnya.

Tiba-tiba, Chanyeol menyentuh tangan Kyungsoo yang baru selesai merapikan rambut, lalu menggenggam erat tangannya itu. “Tanganmu itu dingin sekali,” kata Chanyeol sambil merogoh saku jaketnya.

Kyungsoo hanya terdiam, namun hatinya berdetak cepat. Lalu, Chanyeol mengeluarkan sarung tangan berwarna putih dengan bahan yang sangat lembut. Ia pun memakaikan sarung tangan itu ke tangan kanan Kyungsoo. Kemudian Chanyeol mengeluarkan pasangannya dan menaruh di tangan kiri Kyungsoo. “Ini, pakai sendiri,” katanya lalu tertawa.

Kyungsoo pun memakai sarung tangan itu. “Terima kasih,” ucapnya. Chanyeol tersenyum lalu menarik tangan Kyungsoo sebelum berjalan. “Kita mau kemana?”

“Minum kopi,” jawab Chanyeol. “Kemarin ‘kan tidak jadi.”

“Kau akan mentraktirku, kan?”

Chanyeol tertawa. “Tentu saja!”

Mereka pun berjalan menuju café terdekat. Mereka sama-sama memesan kopi panas lalu duduk berhadapan di tempat dekat jendela.

“Omong-omong, siapa yang sedang sakit?” tanya Kyungsoo.

“Ibuku. Bukan penyakit serius kok,” jawab Chanyeol sambil memainkan buzzer yang akan bergetar jika minuman mereka sudah siap diambil. Kyungsoo hanya mengangguk-angguk. “Sekarang ia sedang bersama adikku.”

Oh, jadi itu adiknya, kata Kyungsoo dalam hati. “Kau punya adik?”

“Iya, adik perempuan,” jawab Chanyeol. “Sebenarnya adik tiri.”

“Apa?” Kyungsoo terkejut.

“Ayahku meninggal saat aku masih kecil, lalu Ibuku menikah dengan laki-laki lain. Setelah Ibu melahirkan adikku, Ayah tiriku kabur meninggalkan kami,” ucap Chanyeol. “Sekarang adikku, Seulgi, memilih untuk tinggal bersama Pamannya di Daegu karena tidak mau menyusahkan Eomma.”

“Ke…kenapa?”

“Perekonomian keluarga kami sangat pas-pasan. Tidak seburuk yang kau kira, tapi tetap saja. Seulgi bersekolah dengan gratis disana dan ia juga membantu Paman di restorannya. Ia selalu mengirimkan uang yang ia hasilkan setiap bulan. Awalnya Eomma tidak setuju saat ia mengatakan ia mau bekerja, tapi kami tidak punya pilihan lain,” jawab Chanyeol dengan senyuman yang dipaksa. “Setelah Seulgi pindah, Eomma melarangku untuk bekerja dan fokus untuk belajar. Lalu aku mendapat beasiswa ke sekolah kita yang sekarang.”

Kyungsoo mengangguk-angguk. Ia tidak menyangka kehidupan Chanyeol berat, beda sekali dengan dirinya. Ia bisa saja memiliki ponsel keluaran terbaru yang harganya sangat mahal jika ia meminta ke orang tuanya, tapi ia bukan anak yang seperti itu.

“Maaf aku bertanya soal keluargamu,” ucap Kyungsoo. Ia benar-benar merasa bersalah. Ia tidak bermaksud untuk bertanya tentang kehidupan Chanyeol.

“Tidak apa-apa!” kata Chanyeol dengan nada bersemangat. Lalu buzzer mereka bergetar dan Chanyeol segera bangkit untuk mengambil kopi mereka.

Saat itu, Kyungsoo merasa ia tidak boleh kehilangan Chanyeol, karena mereka sama-sama membutuhkan teman. Ia percaya bahwa Chanyeol tidak akan berubah seperti anak-anak lain yang tidak menganggap dirinya ada.

Dan ia tahu pasti bahwa sedikit demi sedikit perasaannya terhadap Chanyeol mulai muncul.

***

to be continued

klise banget but i really wanna write a story like this xD

Iklan

2 thoughts on “UNMASKED (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s