Cross Walk (Misunderstand)-OneShoot

untitled-3

Cast : Oh Sehun// Nam Jiyoo (OC)
Other : Exo member
Genre : Sad, Romance
Laught : OneShoot
Rating : General
Disclaimer : cerita murni dari pemikiran saya. Maaf untuk typo .

“Do not make decisions that will make you regret it.”

*

*

Aku dengannya seperti lem dan kertas yang jika disatukan sulit terlepas. Seperti halnya bulan dan matahari yang sama-sma bersinar menerangi dunia.

Sudah tiga tahun lamanya kami bersama,saling mengucap kata cinta,saling berbagi dan juga saling memahami.

Ohh, itu hanya berlaku tiga tahun yang lalu.Sekarang hubungan kami sangatlah rapuh. Akan retak jika lalai satu sama lain.

Diiantara kebahagiaan yang kami miliki, tak jarang kami bertengkar. Entah itu masalah kecil maupun besar. Masalah yang seringkali mengancam hubungam kami. Tapi tentu saja kami selalu berfikir baik untuk menyelesaikan perkara itu.

‘Jangan membuat keputusan yang akan membuatmu menyesal. ‘

Aku sudah berkali-kali mengatakan itu padanya, tapi kali ini sesuatu yang kujalani membuat dia sangat marah dan membuat ego keras kepala menguasi otaknya. Apa yang kulakukan telah salah di matanya, bahkan untuk bekerja sekalipun.

Hari ini langit mendung menjadi saksi jatuhnya air mataku, sekarang aku berharap hujan turun agar bisa menutupi air kesakitan ini.

Aku menghadang jalannya, menahannya agar berhenti melangkah.

‘tuuuut’

Suara klakson itu seolah hanya nagin, aku menulikan telingaku saat ini.

Mungkin orang lain akan menganggap kami gila karena berdiri di tengah crosswalk. Garis teratur namun terpisah itu sama halnya dengan hubungan kami. Lurus namun terputus-putus.

Kembali kemasalah yang kualami, barusaja aku mendapat sebuah tuduhan menyakitkan dari kekasihku sendiri. Tuduhan yang tak terbukti kebenarannya sama sekali.

Kutatap mata elang yang menghunusku dengan  sejuta amarah itu. Sekali lagi aku mencoba untuk meraih lengannya, namun ia menepis dengan kasar. Ini benar-benar pertengkaran terburuk kami selama menjalin hubungan.

“Sehun-ah. Dengar penjelasanku!” pintaku dengan tatapan memohon. Oh Sehun, pria yang berstatus kekasihku ini menghembuskan nafas panjang. Aku tau, sangat tau hatinya sedang terluka.

“Sudahlah. Semuanya sudah jelas. Kau tak perlu repot  menciptakan sebuah alasan.” Ujarnya yang langsung membuat hatiku membeku.

“kukatakan sekali lagi. Kau hanya salah faham. Aku dan Chanyeol hanya sekedar berteman, kami –“

“teman? Kalian hanya berteman? Lalu kenapa kau diam saja saat dia akan menciummu?” serobotnya memotong ucapanku.

Slah faham, sungguh Sehun hanya salah faham. Park Chanyeol , dia adalah pria yang menjadi mitra bisnisku sejak 3 bulan yang lalu. Aku tak bermaksud selalu dekat dengannya, tapi pekerjaan lah yang membuat kami selalu bersama setiap hari. Dan tentang apa yang Sehun katakan tadi tidaklah benar. Chanyeol tidak pernah akan menciumku.

Kejadiannya begitu konyol,tadi Chanyeol hanya berusaha memasangkan kalungku yang terlepas. Dan Sehun langsung salah menafsirkan saat melihat dari belakang.

Aku sudah menjelaskannya seperti itu tadi, begitupun Chanyeol. Tetapi kemarahan membuat akal sehat Sehun hilang.

“Sehun-ah, kumohon percayalah! Yang kau lihat tidak seperti apa yang kau fikirkan saat ini.” terangku sekali lagi. Ia semakin maju, netranya menusukku sangat dingin dan menyakitkan.

“baiklah, lalu bagaimana dengan yang lalu? kau mengebaikanku karena sibuk dengannya,kau menolak kujemput karena pulang bersamanya,dan bahkan saat aku menelfonmu Chanyeol lah yang menerimanya. Aku sudah cukup bersabar, dan tadi itu membuatku sangat marah. Sakit ! Hatiku sangat sakit!” Tandasnya yang memang sebuah kenyataan. Ya , aku memang bersalah akan hal itu, tapi sungguh aku tak pernah ada niat untuk mengabaikannya.

“aku sangat minta maaf jika kau berfikir begitu. Tapi sungguh Sehun-ah, aku tak pernah ada niat menyakitimu. Aku hanya khawatir padamu! Aku-.. hah.. aku hanya tak ingin merepotkanmu.”  Ucapku lalu terisak. Ini benar, aku memang tak ingin mengganggu waktu berharganya. Aku hanya ingin memberi waktu agar dia fokus pada trainingnya. Oh Sehun, adalah rookie disebuah agensi baru. Aku tau dia memiliki waktu yang begitu sibuk. Aku hanya tak mau membuat mimpi yang sebentar lagi hendak dicapainya itu hancur karenaku. Waktu emas baginya, dan tidak seharusnya ia membuang waktu untuk  mengurusiku. Aku bukan tipe wanita yang harus selalu berada disisi kekasihku, aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Melihatnya berhasil jauh lebih membuatku bahagia.

“Nam Jiyoo, kau tau?. Aku merasa menjadi orang lain sekarang.” . Lirihnya.

Kudapati senyum miris di wajahnya, Sehun semakin menatapku dengan sorot kecewa

“Sehun-ah”

“sepertinya aku tak berarti lagi untukmu. Ha ha menurutmu kau bebanku? Aku tak pernah merasa direpotkan sama sekali. Tapi kau malah berfikir lain”

Aku hanya menunduk, kurasa apa yang kuucapkan tadi salah. Tanganku semakin erat mencengkram ujung bajunya. Apa yang harus kujelaskan? Tuhan tolong aku.

“Jiyoo-ya, jika terus seperti ini sebaiknya kita berhenti.” tuturnya dengan aksen dingin. Aku mendongak, menatapnya dengan penuh tanya.

“a-apa maksudmu? Berhenti apa?” pintaku agar dia menjelaskannya.

“hubungan kacau ini. Lebih baik kita hentikan saja!.”

‘Deg’

Jantungku rasanya berhenti berdetak,darahku berhenti mengalir dan nafasku terputus. Perlahan kulepas cengramanku pada bajunya, kutatap serius mata yang memancarkan kebenaran itu. Aku harap kata-katanya hanya lelucon belaka.

Tidak, Sehun bukanlah pria yang senang bercanda.

“Jangan membuat keputusan yang akan membuatmu menyesal.Fikirkan apa yang selama ini sudah kita jalani. Aku tau kau sangat mencintaiku Sehun-ah. Jebal!”.

“cukup”

Kajima! Sehun-ah!”

Sehun kini berbalik, mengabaikan aku yang terus memohon dan menyerukan namanya. Kakiku sangat kaku untuk sekedar bergerak. Kata-katanya tadi membuat semua sendiku mati. Disini akulah yang paling mencintainya, bagiku Sehun sudah menjadi bagian nafasku. Aku tidak bisa, tidak pernah bisa membayangkan hidup tanpa sosoknya. Aku harus bagaimana? Mengejarnya?.

“andwe” lirihku,  aku tidak menyangka perjuangan cintanya hanya sampai disini. Hanya karena kesalah famahan ia begitu lalai membuat keputusan. Aku mundur, duduk di pinggir trotoar dan menangis.

SEHUN POV

Dua meter,empat meter, kini semakin jauh langkahku meninggalkannya yang mungkin masih berdiri di crosswalk. Aku tak ingin menoleh kebelakang, takut jika hati ini tak bisa tersangga dan jatuh semakin dalam. Nafasku memburu karena menyimpan amarah, bahkan rasanya mataku sangat panas. Haruskan aku menangis karena sakit hati ini?.

Apa yang sudah terjadi hari ini? Bagaimana bisa aku membuat keputusan bodoh yang pastinya akan kusesali nantinya?  . Aku memang sangat mencintainya, sampai aku seperti kehilangan separuh jiwaku detik ini.

Niat awalku bertemu dengannya untuk mengajaknya berkencan, sekian lama kesibukanku hanya hari ini aku memiliki waktu. Aku sangat merindukannya, sampai rasanya ingin mati. Tapi saat kuhampiri Jiyoo di kantornya, ia sedang bermesraan dengan Park Chanyeol.

Penghianatan yang tak pernah kuduga sama sekali. Park Chanyeol, pria yang sebenarnya sangat tidak kusukai karena selalu bersama Jiyoo. Ia merebut semuanya perhatian Jiyoo padaku.

“Sehun-ssi”

Aku mengehentikan langkah saat mendengar seseorang memanggil. Aku tak perlu menioeh karena kini orang itu sudah berdiri di hadapanku. Aku bertambah murka sekarang, beraninya dia muncul dihadapanku.

“Park Chanyeol, kau-“

“Kau pria paling bodoh Sehun-ssi.”

Aku mengepalkan tanganku, jika saja aku bebas sudah kupukul dia. Sayangnya image’ku tidak boleh buruk karena statusku seorang trainee. Aku berusaha menagabaikan Park Chanyeol dan melanjutkan langkah tapi sialnya ia mencengkram bahuku.

“lepaskan, brengsek.”

Chanyeol mendorongku cukup kasar. Membuatku bertambah emosi.

“Kau mengikuti kami hah?” tanyaku pada pria ini.

“ya benar. Aku bahkan melihat pertengkaran kalian tadi.”

“sekarang kau senang? Aku sudah melepasnya. Kau bisa menjadikan Jiyoo kekasihmu sekarang.” Ujarku dengan penuh penekanan.

“jadi inilah Oh Sehun yang katanya berhati malaikat?”

“apa?”

“maafkan aku sebelumnya. Aku tak pernah berniat merusak hubungan kalian.Dan tadi kami jelaskan jika yang kau lihat itu hanya salah faham Sehun-ssi. Otakkmu terlalu dangkal karena berfikirir seburuk tadi.Dengar!, aku hanya berniat membantunya memasang kalung . Aku tak ada niat untuk menciumnya. Tidak pernah.”

Sehun diam mengamati wajah serius Chanyeol. saat ia akan menyela Chanyeol sudah bicara lagi.

“tentang ia yang tak memberimu kabar, tentang ia yang tak ingin kau jemput, dan tantang ia yang tak pernah mengangkat telephon, itu semua memang niatnya. Dia hanya tak ingin mengganggu waktumu. Jiyoo ingin kau fokus untuk debut. Jiyoo selalu berdoa dihadapanku, berharap kau berhasil. Lalu apa yang didapatinya sekarang? Sebuah perpisahan? Kau keterlaluan Oh Sehun.” Jelas Chanyeol. Dia bahkan memahami bagaimana Jiyoo.

Aku diam, merasa tidak ada kata yang bisa kujelaskan. Aku membuat keputusan yang memang kusesali sekarang.

“berbalik dan jelaskan padanya. Aku tau sebenarnya kau tidak bisa berpisah dengan Nam Jiyoo. Ah iya, asal kau tau! aku juga sudah memiliki kekasih,bulan depan kami akan menikah. Mungkin aku akan keluar dari pekerjaan itu karena harus pindah. Kau tidak usah cemas.”

Aku menatap Park Chanyeol yang kini menatapku dengan senyum tipis. Ia menepuk bahuku sebelum berlalu. Aku tertawa hambar, ternyata aku memang salah. Park Chanyeol tidak seburuk yang kufikirkan.Aku mengacak rambutku menjadi lebih berantakan lagi. Sekarang aku merasa bodoh karena membuat Jiyoo menangis.

Dengan sedikit ragu aku berjalan mundur,berbalik dan berlari secepat mungkin. Pandanganku hanya lurus , menatap jalan besar di depan sana.

Nafasku terputus-putus karena lelah. Sekarang aku sudah berada di pertengahan crosswalk yang kebetulan sepi, menyapukan pandanganku keseluruh jalan untuk menemukan sosoknya. Gadis itu ada disana, duduk di pinggir trotoar dengan menangkup wajahnya.

Langkahku sangat lirih, seolah tak ingin ia tau kehadianku. Saat tepat berada di hadapannya, aku bersimpuh untuk menyamakan posisi kami. Tanganku terulur untuk mengangkat wajahnya yang penuh air mata itu.

Jiyoo semakin terisak saat melihatku. Tanpa ijin aku memeluknya, menciumi puncak kelapalanya.

“Mianhae, Yoo-ya. Jeongmal mian.” Lirihku disamping telinganya. Jiyoo tak menjawabnya, ia masih terus terisak diiringi segukan. Apa yang kulakukan pasti sangat menyakiti perasaannya.

Jiyoo mendorong tubuhku, membuat pelukan kami terlepas. Rasanya aku juga ingin menangis.

“mengapa kau berbalik?” –bahkan nada bicaranya bergetar-

“karena aku sadar. Apa yang kulakukan tadi sangatlah salah.”.

Jiyoo diam untuk beberapa saat, mengamamatiku masih dengan wajah resah. Sama seperti 20 menit yang lalu.

“k-kau tidak benar-benar meninggalkanku kan? Sehun-ah?” tanyanya polos. Tuhan, kini hatiku semakin sakit melihatnya tak marah sedikitpun. Hati gadis ini memang bak malaikat. Aku tersenyum dan mengangguk.

“Mian, aku sangat bodoh tadi. Aku seperti itu karena terlalu-“

“kau hanya terlalu mencintaiku. Benar kan?. Aku sudah menduga, kau akan berbalik dan menyesali semuanya.”  Ucapnya memotong perkataanku. Kuhapus sisa airmata dipipinya. Wajah ini, selalu saja tersenyum dalam keadaan apapun.

“Jiyoo-ya, aku menarik kata-kataku. Aku tak bisa berpisah denganmu. Maafkan aku karena sudah salah faham. Ternyata apa yang kufikirkan tidak benar sama sekali. Kau memang hanya mencintaiku bukan? Aku salah karena mengikuti amarah. Emm, aku juga akan minta maaf dengan park Chanyeol karena sudah-”

Cup

Otomatis mulutku mengatup saat Jiyoo mengecupku, hanya sekilas namun mampu mengerjakan otot mulutku. Sekali lagi kulirik sekitar, banyak yang berlalu lalang menatap kami dengan tatapan… entahlah.

“kuterima. Sekarang jangan pernah mengatakan kata perpisahan. Kau janji akan menjagaku sampai mati.”

Aku terkekeh dan mengacak rambutnya. Kami berdiri dan berpelukan lagi, saling menikmati sensasi jantung yang berdebar diluar batas normal.

“Sehun-ah!”

“eumm?”

“kau plin-plan”

“apa?”

“kau tadi meninggalkanku tapi sekarang kau kembali padaku. Sejak dulu selalu seperti itu haha… kau memang tak bisa hidup tanpaku.”

Aku mendengus, kata-kata Jiyoo terdengar bagai sindiran untukku. Oh tapi aku juga perlu menyalahkan otakku yang tak sejalan dengan hatiku.

“sehun-ah?”

“apa lagi?” tanyaku dengan nada sebal. Jiyoo melepas pelukan dan menatapku dengan wajah merah.

“sedari tadi orang-orang memprhatikan kita.”

“oh? Benarkah?”

Aku menoleh, dan benar saja banyak pasang mata yang sedang menonton kami. Ku genggam tangannya, berjalan meninggalkan tempat itu. Sungguh selama menyelesaikan masalah tadi kami tak memikirkan suasana sekitar. Sepertinya urat maluku mulai berfungsi sekarang.

“emm kita lanjutkan di tempat lain saja.”

“di apartementmu?.”

“kenapa harus apartement?”

“jangan belagak polos.”

“ya!”

Aku memelototinya, tapi tak lama kemudian kami tertawa bersama.

Kebahagiaan inilah yang selalu kami dapat, tertawa satu sama lain. Hampir saja aku menghapus tawa itu juga nyaris menghilangkan keceriaan yang selalu menghiasi wajahnya. Kugenggam semakin erat tangan mungil ini. Aku janji tak akan pernah melepaskannya lagi. Tak akan berfikir dangkal untuk meninggalkannya..

‘terimakasih karena tetap mempertahankan hubungan ini, Sehun-ah.’

END

anyeongg…

gimana nih ceritanya? uhh ane3h kah?

author bikinnya semalam dan dengan ide yang gak meluas jadi gini dah. haha itung itung buat isi waktu laung jadi bikin ff gaje ini. juga buat ngisi library Exo fanfiction. ^^

mian kalau kurang memuaskan/aneh ceritanya. semoga kedepannya lebih baik lagi.

bye… see you later..

Iklan

5 thoughts on “Cross Walk (Misunderstand)-OneShoot

  1. Hahahah…..keren bnget..
    Feel ny dpet ….
    Awalny ngira mrka bklan psah fan gk bklan blik lagi…
    Tpi ternyata mreka blikan lgi…hahahah

  2. kadang karna terlalu mencintai, orang akan berpikir berdasarkan sudut pandang buruknya. *sokbijak*
    ff nya bagus thor
    ditunggu ff selanjutnya~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s