Dirty Breath [Chapter 1]

cover

DIRTY BREATH

a story by Alkindi, staring by Oh Sehun & Khanza Kim, AU Drama, Romance, Sad, Crime, Marriage life and PG-17 rated.

Previous : INTRO

DIRTY BREATH DILANJUT DI WATTPAD : imbadgirl1402

(https://www.wattpad.com/story/93412940-dirty-breath)

 

Prank

Seorang gadis terbangun dari tidurnya begitu mendengar suara pecahan beling yang nyaring di telinganya. Gadis itu langsung bangkit dari tidurnya dan berlari menuruni anak satu-persatu tangga di rumahnya. Begitu sampai di lantai dasar, mulut gadis itu terbuka lebar-lebar.

“Mom !” Teriaknya histeris sambil berlari menghampiri wanita paruh baya yang sudah tergeletak lemas dan berlumuran darah.

Mom, kau kenapa ?” Tanya gadis itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibunya.

Sementara di sisi lain terdapat 3 orang pria bertopeng hitam yang masih berdiri memandang pemandangan dramatis di depan mereka. Ketiganya memegang pistol yang sudah di tujukan pada gadis kecil yang masih menangis di samping ibunya itu.

“Kita bunuh atau tidak ?” Tanya salah seorang pria bertopeng pada rekanya.

“Bunuh saja, boss pasti setuju.” Ucap yang lainya.

Ketiga pria tadi pun mengangguk bersamaan dan hendak menarik pelatuk pistol yang tertuju pada gadis itu, tapi suara gebrakan pintu membuat mereka berpaling dan menatap seseorang yang baru saja datang.

B-boss” ucap mereka bersamaan.

“Dasar bodoh.” Pria yang di panggil boss itu langsung memukuli satu-persatu anak buahnya.

“Aku tidak memerintahkanmu untuk membunuh putriku juga.” Ucapnya dengan volume keras, membuat gadis yang menangis itu berpaling dan menatap ke arahnya.

Dad,” ucap gadis itu sambil berlari menuju pria yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Ayah dari gadis itu langsung membuka tangan lebar-lebar dan gadis kecil itu langsung berhamburan di pelukanya.

Dad, mom kenapa ?” Tanyanya tersendu-sendu.

Mom sedang tidur, sayang” ucap pria itu sambil mengelus halus pundak gadis kecilnya.

“Bohong, Ahjussi jahat itu sudah melukai Mom, aku melihatnya sendiri, Dad !” Ucap gadis itu sambil menunjuk pada ketiga pria yang sudah membunuh ibunya tadi.

“Khanza, sudah berhenti menangis. Ibumu hanya tertidur sebentar, dia pasti bangun lagi nanti.” Pria itu menaikan volume suaranya.

“Tangkap pria itu, Dad. Dia pria jahat, cepat tangkap dia.” Teriak gadis itu tapi masih tak diperdulikan oleh ayahnya. Pria itu menggendong putri semata wayangnya keluar dari rumah yang sangat besar itu. Meninggalkan wanita yang tertidur dengan lumuran darah di sekujur tubuhnya.

“Turunkan aku, aku ingin temani mom tidur “

“Turunkan aku !”

Mom !”

                                                           ◄◄◄►►►

20 years later

“Kau harus makan, kau kan gadis pintar.” Ucap seorang perawat pada gadis di depanya. Gadis itu tak bergeming, tatapanya kosong, wajahnya pucat pasih, seperti mayat hidup.

Khanza.

Ia tak memperdulikan wanita yang sedari tadi membujuknya untuk makan, fokusnya malah tertuju pada hal lain di tempat itu. Seorang pria dan wanita, serta anak kecil di tengah-tengah mereka. Khanza jadi ingat masa kecilnya dahulu sebelum keluarganya hancur gara-gara kejahatan korupsi besar-besaran yang dilakukan ayahnya sehingga ayahnya malah memilih untuk membunuh ibunya yang sudah lelah menutupi  semua kebajikan ayahnya.

Begitulah alasan mengapa Khanza ada di sini, ayahnya yang mengantarkan gadis itu untuk masuk ke tempat yang menyesakkan sekaligus menyedihkan sekali untuk Khanza.

“Kau pikir kenapa aku ada di sini ? Aku tak seharusnya ada di sini.” sepasang mata itu kelabus, berbalik menatap perawat yang sedari tadi sudah ada di depannya.

“Karena Nona masih sakit.” Ucap perawat itu sambil menarik senyum simpulnya, berusaha meyakinkan Khanza. Tapi gadis itu malah merasakan sebaliknya.

Di tempat seperti ini tak ada yang bisa mendengarkan curahan hatinya kecuali para suster dan psikiater yang menanganinya. Khanza tak punya siapa-siapa di sini. Akhirnya ia pun sadar, untuk apa ia berlama-lama disini. Tak mungkin ia menghabiskan seluruh sisa hidupnya di rumah sakit Jiwa padahal gadis itu masih seratus persen waras.

“Sudah berapa lama aku di sini ? ” tanya Khanza sekali lagi.

“Lama sekali, sejak umurmu masih 5 tahun.” Jawab perawat itu apa adanya. Perawat itu meletakkan nampan makanan di samping Khanza dan berjalan meninggalkan Khanza yang masih terduduk sendiri di bangku taman.

“Begitukah ? Artinya aku tak perlu menunggu lebih lama lagi. ” ucapnya pada diri sendiri atas jawaban dari perawat tadi.

                                                                 ◄◄◄►►►

Berita mengenai pelantikan para menteri-menteri di Korea Selatan sedang ramai di perbincangkan. Pasalnya pembantu presiden itu baru saja dilantik secara serentak di gedung negara di Korea. Baru saja di lantik beberapa menit yang lalu.

Suasana di gedung itu sangat padat, di penuhi para pejabat-pejabat tinggi yang datang untuk sekedar melihat dan bertutur sapa antar sesama pejabat lainnya. Mereka orang-orang yang datang dengan latar belakang yang berbeda, dengan gaya high class mereka tersendiri.

Pelantikan memang sudah selesai, para tamu undangan sedang menikmati makanan yang telah di sajikan, dan beberapa lainya duduk di meja bundar. Di sisi lain tempat itu Presiden sudah duduk di sana bersama sang istri dan dua anaknya.

“Presiden Oh” sapa seorang pria yang tiba-tiba langsung menyalami sang presiden.

Wah, Kim Seung Wook. Selamat ya atas pelantikanmu.” Tutur presiden sambil menarik senyum simpul di bibirnya.

“Terima kasih, pak. Aku akan berusaha semaksimal mungkin, untuk memperjuangkan negara kita yang tercinta ini.” Ucap Kim Seung Wook.

Ah, baiklah. Aku pegang kata-katamu—” Ucap Presiden Oh diiringi tawanya.

“—Oh ya, perkenalkan, istriku dan anak-anakku. Mereka Oh Sehun dan Oh Hayoung” Lanjutnya.

“Baiklah-baiklah, aku Kim Seung Wook.” Ucapnya sambil menyalami mereka satu persatu.

Sepeninggal Kim Seung Wook, Sehun jadi merasakan hal aneh tentang pria itu. Sehun mencurigainya dari gerak-geriknya yang menurutnya sangat dibuat-buat. Banyak para politikus yang bermuka dua di negara ini. Tak ayal jika Sehun menaruh kecurigaanya pada Kim Seung Wook.

Sehun akan terus mengamati gerak-geriknya mulai sekarang.

Hun, lihatlah ! pria itu tampan sekali.” Ucap Oh Hayoung sambil menarik-narik lengan Sehun.

“Mintakan nomor ponselnya, yah ?

Pletak

Satu sentilan berhasil mendarat di dahi Hayoung.

Aw, kenapa kau memukulku ?” Protes Hayoung, tak terima dengan perlakuan kasar Sehun padanya.

“Kau harus jaga sikapmu, bodoh. Hayoung, kau itu anak presiden.” Bisik Sehun di telinga Hayoung.

“Kau yang harusnya jaga sikapmu, Hun. Kenapa malah memukulku ? Lihatlah pria tampan itu jadi menertawaiku.” Ujar Hayoung sambil mengerucutkan bibir.

“Terserah.” Satu kata yang selalu di ucapkan Sehun bila berhadapan dengan Hayoung. Sikap adiknya itu memang suka kekanak-kanakan kadang-kadang. Padahal usianya bisa dikatakan sudah dewasa. Mahasiswa tingkat dua di Universitas Nasional Korea, Sehun juga merupakan alumni dari Universitas bergengsi di Korea itu.

“Hayoung bagaimana dengan ujian akhir semestermu itu ?” Tanya Oh Dae Young pada putrinya.

“Baik tentu saja. Ayolah Dad, jangan bicarakan masalah itu disini. Aku jadi malas membicarakan tentang kuliah setelah kau menolakku untuk melanjutkan kuliahku di Harvard.” Ucap Hayoung sambil menyilangkan tangan di dada. Mereka semua tertawa mendengar penuturan Hayoung.

“Dan kau Sehun. Bagaimana dengan kehidupanmu ?” Tanya Dae Young pada putra sulungnya itu. Sehun terlihat sibuk memainkan ponselnya.

“Baik.” Jawab Sehun singkat, padat.

“Baik bagaimana ? Umurmu sudah 27 tahun, kau harus mencari pendamping hidup dan berikan kami cucu.” Ungkap Dae Young sambil menepuk-nepuk pundak putranya.

Sehun berdecak, “Ayah, aku tidak merencanakan untuk melakukan hal itu, bahkan sekali pun aku tak memikirknya. Aku sedang fokus pada karirku.” balas Sehun tak niat.

“Jadi semuanya karena karir ya ? Bagaimana jika aku menurunkan posisimu ?”

“Ayolah ayah, jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda, Oh Sehun.” Ungkap Dae Young memberi penekanan pada nama Sehun.

“Baiklah, baiklah. Apa maumu ayah ?”

“Seperti kataku tadi, nak.” Ungkap Dae Young, Sehun berdecak sebal.

                                                         ◄◄◄►►►

“Apa kau akan terus membiarkan putrimu membusuk di rumah sakit jiwa itu ?” Tanya seorang pria pada Kim Seung Wook.

“Tentu saja. Kenapa kau membahas itu ? Aku bahkan sekarang sudah bukan walinya lagi.” Ungkap Kim Seung Wook sambil tertawa hambar. Tanganya mencoba menyalakan rokok yang sudah ada di bibirnya.

“Perdana mentri, apa maksudmu ?” Tanya pria itu.

“Ya, aku melepaskan dia. Aku sudah membuang gadis itu. Kalau saja ia tak seperti ibunya, mungkin sekarang sudah kumanjakan. Tapi sialnya gadis itu adalah duplikat dari ibunya.” Ungkap Seung Wook, sembari membanting koreknya.

“Tapi dia sudah dewasa. Kenapa tidak kita pindahkan saja ?”

“Apa maksudmu ?”

“Aku bertemu putrimu beberapa hari lalu, dia berkata ingin bertemu denganmu. Bahkan sekarang gadis itu sudah berani mengancamu.” Ucap pria itu pada Seung Wook .

Sementara Seung Wook sangat tersentak mendengar ucapan pengacaranya itu. “Kenapa baru bilang sekarang ?—” Tanyanya sambil memukul pengacaranya.

“—kita harus membawanya keluar dari tempat itu secepatnya.”

“Bagaimana bisa ? Katamu tadi kau bukan walinya “

“Harus, harus bisa. Sebelum mulut busuk miliknya membeberkan semuanya.” Ucap Seung Wook sambil mengepalkan tanganya.

                                                             ◄◄◄►►►

Angin semilir menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di taman. Kupu-kupu berterbangan hinggap ke satu bunga ke bunga lainya. Di bangku taman, Khanza sudah terduduk di sana sambil menatap pemandangan sekitar. Kegiatanya sehari-hari.

Khanza sudah menyelesaikan konsultasi dengan Psikiaternya. Dan inilah kebiasaanya jika sudah tidak ada hal lain untuk di lakukan. Dari bangku taman itu ia dapat melihat beberapa gadis sedang berjalan kearahnya.

Mereka berpakaian sama seperti Khanza, menatap tajam Khanza dan beberapa di antara mereka sudah melipat lengan baju mereka. Khanza mengeryitkan dahi, tak tahu apa-apa sampai satu pukulan keras mendarat di pipinya .

“Dasar wanita jalang !” Gadis itu meneriaki Khanza tepat di depan wajahnya.

“Apa maksudmu ?” Tanya Khanza sambil mengusap pipinya yang mulai memar. Ia bahkan tak sadar kalau hidungnya sudah mengeluarkan darah segar.

“Jangan pura pura tidak tahu, jalang ! Wanita jalang sepertimu pantas di beri pelajaran. Telanjangi dia !” Dua wanita itu memegangi tangan Khanza, sementara satunya lagi memukul Khanza habis-habisan. Kejadian itu berlangsung lama sampai Khanza pingsan dan tak sadarkan diri.

                                                              ◄◄◄►►►

Suara dentuman musik yang sangat memekik telinga membuat Sehun pusing bukan main. Selain karena kadar alcohol yang diminumnya cukup tinggi, beban pikiran di otaknya pun tak henti-hentinya menghantui pria itu. Membuat rasa pusing di kepalanya mulai menjadi.

Sebenarnya mabuk dan pergi ke Bar bukanlah kebiasaan Sehun, apalagi sampai tak sadarkan diri seperti ini. Bukankah semua orang juga tahu kalau dia anak presiden ? Maka dari itu sebagian orang disana memandangi Sehun tanpa habis, tak sedikit juga dari mereka yang mengambil gambar Sehun.

“Hentikan, hentikan” seorang pria keluar dari gerombolan orang-orang yang menyerbu Sehun. Pria itu membanting salah satu ponsel yang digunakan orang itu untuk mengambil gambar Sehun.

Haish, dasar ” Pria itu langsung menopang tubuh Sehun dan membawanya pergi keluar Bar.

“Hey, Oh Sehun !” Panggil seorang Pria begitu Sehun sudah setengah sadar, pria itu memberikan segelas air putih pada Sehun untuk memudahkan pria itu menetrakan kadar alcohol dalam tubuhnya. Sehun terbatuk-batuk lalu membuka mata.

“Dasar, untuk apa kau pergi ke bar ?” Tanyanya mulai menginterupsi Sehun.

Sehun mengkedip-kedipkan matanya menyesuaikan cahaya lampu yang sangat terang di ruangan itu. “Dimana aku ?” Tanyanya pada pria di sampingnya itu.

“Kau ada di tempat kerjaku.” Ungkap pria itu pada Sehun.

“Baiklah. Terima kasih, Baekhyun.” Ujar Sehun sambil meregangkan otot-ototnya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, punk !” Baekhyun kembali pada topik awalnya, tapi Sehun sepertinya enggan membahas hal itu.

“Sudah lupakan.” Lanjut Baekhyun.

Sebenarnya Baekhyun sangat penasaran, pasalnya teman semasa kuliahnya itu jarang sekali keluar malam, apalagi sampai mabuk-mabukan seperti ini. Pasti ada hal yang terjadi dengan Sehun, yang membuat pria itu menggunakan alcohol sebagai pelarian.

Baekhyun adalah seorang Psikiater sekaligus Dokter yang bekerja di dua tempat. Di rumah sakit Seoul dan di Rumah sakit Jiwa Kanghae. Dan saat ini Sehun ada di rumah sakit Jiwa itu. Mau bagaimana lagi ? Baekhyun yang membawanya ke sini saat ia tak sadarkan diri.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Baekhyun mulai mengeluarkan suara. Sehun mengeryitkan dahi, karena kali ini Baekhyun serius.

“Apa ? silahkan, tapi jangan lama-lama.” Kata Sehun.

“Yah, aku bertengkar dengan istriku lagi.” Ucap Baekhyun sambil menghembuskan nafasnya kasar.

“Lalu ?”

“Seharusnya kau tahu apa yang akan kutanyakan selanjutnya, apa yang harus kulakukaan sebagai seorang pria ?” Tanya Baekhyun pasrah.

Sehun hanya terdiam, matanya terfokus pada hal lain di ruangan itu. Tepat di ranjang sampingnya yang dibatasi oleh gorden terdapat wanita dengan selang pernapasan di hidungnya dan plester yang menyebar di seluruh wajahnya.

Sehun tertegun, ia merasakan hal lain saat melihat gadis itu. Gadis rupawan yang masih terlelap di bawah alam sadarnya. Sehun seperti sangat tertarik dengan gadis itu, entah apa yang membuatnya begitu menrik di mata Sehun. Gadis yang penuh dengan sejuta rahasia. Siapa wanita itu ? Batin Sehun.

Hey, sebenarnya kau mendengarkanku tidak ?” Baekhyun membuyarkan lamunan Sehun. Baekhuyun tahu kalau sedari tadi Sehun menatap gadis di samping mereka itu.

“T-tentu saja.” jawab Sehun terbata-bata.

“Aku bertanya padamu sebagai sesama pria, kira-kira apa yang harus kulakukan agar kami tidak bertengkar terus menerus. Aku lelah ketika pulang harus mendengar istriku mengomel tak ada habisnya. Itu alasan kenapa aku lebih betah tinggal di sini dari pada di rumah.” Jelas Baekhyun panjang lebar, kali ini Sehun mendengarkan.

“Kau harus minta maaf.”

“Minta maaf ? Tentu saja aku sudah melakukanya, tapi tetap saja dia marah. Lagipula percuma saja aku minta maaf kalau dia yang salah.” Ujar Baekhyun

“Tidak mungkin. Wanita tidak mungkin salah. Percaya atau tidak tapi itu adalah fakta. Ini berarti kau yang jelas-jelas bersalah. Boleh aku bertanya sesuatu ?” Tanya Sehun, kali ini serius.

Baekhyun mengangguk sebagai balasan.

“Mungkinkah kau menyukai wanita lain ?” Tanya Sehun sambil menatap tajam mata Baekhyun. Baekhyun pun langsung terdiam setelah mendengar perkataan Sehun. Lama terdiam, Baekhyun membuka suara.

“Benar—”

“—aku menyukai wanita itu.”

Tunjuk Baekhyun menggunakan dagunya ke arah wanita di samping mereka. Wanita yang sedari tadi di pandang oleh Sehun. “Dia adalah pasienku, aku menyukainya sejak dulu. Tepatnya sebelum aku menikah dengan Suzy.” Ujar Baekhyun apa adanya.

“Lalu apakah dia tahu perasaanmu ?”

“Tidak. Aku tidak memberi tahunya. Dia jadi seperti itu juga karena aku. Maka dari itu, kupikir bisa membahayakanya jika aku menyatakan perasaanku padanya.”

Sehun terdiam sebentar. Ikut larut memandangi gadis itu. “Kenapa tak langsung kau nikahi saja dari dulu ?” Tanya Sehun pada Baekhyun.

“Sebenarnya aku sudah mengatakan itu pada orangtuaku, tapi mereka menolak keras permintaanku.”

“Pasti gara-gara dia gila, kan ?” Sehun menebak-nebak.

“Bukan. Sebenarnya gadis itu tidak gila. Aku adalah Psikiaternya, bukan kau”

“Sudah lupakan saja. Aku mau pulang” ucap Sehun mengambil jasnya yang tertanggal di sisi ranjang. Ia bangkit dari ranjang kecil itu, meninggalkan Baekhyun yang masih bertopang dagu di sana.

“Jangan terlalu banyak melamun, minta maaf saja dan langsung hamili dia. Hahaha” Ucap Sehun terkekeh lalu pergi meninggalkan ruangan Baekhyun.

Shit, ayah pasti marah padaku.” Ucap Sehun pada diri sendiri. Kemeja kusut, mata berkantung, rambut acak-acakan. Sungguh berantakan sekali. Tapi dengan keadaan seperti itu sama sekali tak mengurangi kadar ketampanan pria jangkung bertubuh atletis itu.

Buktinya para gadis di tempat itu memandanginya dengan tatapan kagum sambil sesekali mengerlingkan mata. Ketika Sehun membalasnya dengan senyuman simpul, beberapa dari mereka langsung kegirangan bukan main. Ketampanan Sehun memang tidak bisa diragukan lagi. Tapi aneh rasanya jika pria setampan Sehun dengan umur yang cukup matang belum memiliki pasangan. Bukankah begitu ?

                                                           ◄◄◄►►►

“Kau sudah sadar ?” Suara pertama yang di dengar Khanza begitu matanya terbuka. Gadis itu taķ langsung menjawab, melainkan menatap pria di depanya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Lumayan. Terimakasih.” Jawabnya walau singkat.

“Ehm, “ Baekhyun menggaruk bagian belakang kepalanya. Seperti seseorang yang sedang gugup dan mati gaya alias tak tahu harus berbuat apa.

“Boleh kutanya sesuatu ?” Tanya Khanza sambil berusaha mendudukan dirinya dan bersender di kepala ranjang. Baekhyun membantu Khanza melakukan hal itu.

Ehm, terima kasih lagi.” Ucap Khanza.

“Kembali lagi, aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Khanza menatap iris mata Baekhyun.

“Baiklàh, aku akan berusaha memberikan jawaban.”

“Apa benar yang dikatakan oleh para pasien gadis penggemarmu itu ?”

“Apa maksudmu ?”

“Kau menyukaiku ? ” tembak Khanza to the point.

Baekhyun tak langsung menjawab, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan satu kalimat kata sebagai jawaban atas pertanyaan Khanza.

“Ya.”

Jawab Baekhyun seadanya, pria itu menunduk dalam, tak berani menatap wanita di depanya. Khanza menanggapi jawaban Baekhyun dengan tawa hambar,

“Kau gila” Ungkap gadis itu.

“Ya aku memang gila. Tapi setidaknya aku sudah berusaha melupakanmu walau itu sangat sulit bagiku.” Ungkap pria itu masih menunduk.

“Maka jalan satu-satunya adalah aku harus pegi dari tempat ini. Aku tak ingin rasa itu tumbuh terlalu jauh. Aku tak ingin melukai Suzy eonni, dia gadis yang baik.” Jelas Khanza.

“Kau memang akan pergi dari sini, Khanza.”

“Benarkah ? Kenapa bisa ?” Tanya gadis itu antusias.

“Ayahmu, Kim Seung Wook.” Gadis itu tersentak bukan main saat nama itu di sebutkan oleh Baekhyun, apalagi dengan embel-embel ‘ayah’ di depanya.

“Tidak bisa. Pria itu pasti punya niat jahat.” Ucap Khanza panic.

“Apa maksudmu ?”

“Kau tidak mengerti, Baekhyun.”

Baekhyun semakin mengeryitkan dahi. Melihat wanita di depanya yang panic bukan main.

“Bisa kau bantu aku ? Kumohon !”

“Apa yang bisa kulakukan untukmu ?”

                                                          ◄◄◄►►►

Ini sudah larut malam, tapi Sehun masih saja nekad untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan di rumah sakit jiwa tempat kerja Baeķhyun. Di dalamnya terdapat nomor penting perusahaan, oleh karena itu ia melakukan àpapun untuk mengambilnya.

Sesampainya di gang Sehun memarkirkan mobilnya. Memang jarak rumah sakit jiwa itu masih jauh, tapi apa mungkin gang sesempit ini bisa dimasuki oleh Lamborghini hitam milik Sehun ? Salahkan rumah sakit itu yang tempatnya terpencil dari kota.

Sehun terlalu hanyut bermain saham di tabnya sampai tak sadar jika seseorang baru saja menabraknya dengan keras. Sehun hendak menghujani si pelaku dengan cacian, tapi semua itu ia urungkan begitu melihat wanita yang menabraknya.

“Tolong aku ! ” Ucap gadis itu memohon dibawah kaki Sehun. Sembari mengguncangkan kaki pria itu.

“Apa kau gila ?” Tanya Sehun tak terima. Ia menhentakkan kakinya.

“Kumohon selamatkan aku, bawa aku pergi dari tempat ini—” ucap gadis itu mulai mengeluarkann buliran bening dari matanya. Matanya berkaca-kaca.

“—aku akan lakukan apapun untukmu. Bawa aku pergi sekarang. Mereka akan membunuhku.” Ucap gadis itu sambil menangis histeris.

“Kumohon !” Teriaknya.

—to be continued

a/n : sekali lagi, ff ini hanya dikhususkan untuk good reader. Silent reader emang bisa baca, tapi nggak semua part. Wahahaha, pasti ada yang kugembok nanti :v. So, be nice reader ! Love you, guys ♥

Iklan

164 thoughts on “Dirty Breath [Chapter 1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s