[Author Tetap] Unexpected Love – prolog

1482318500099

Unexpected Love

Story by: blank.

Park Chanyeol, Oh Sehun, OC, and others | chaptered | school life, romance | general

a.n yang italic tengah itu narasinya tokoh. yang biasa, narasinya author.

PROLOG

Pertemuan pertamanya dengan gadis itu berhasil membuat Sehun mengenal kembali apa arti kata bahagia. Apa arti kata cinta. Dan apa arti air mata.

Chae Yoon tak pernah membayangkan jikasekarang, setiap ia membuka matanya di pagi hari, atap luas dengan lampu gantung mewah menghiasi netranya yang coklat. Dan itu semua berkat satu orang yang sangat ia sayangi. Yang paling berarti di hidupnya.

Baru kali ini Chanyeol merasakanapa yang sering orang lain katakan; jatuh cinta. Ketika jantungmu berdegup kencang hanya karena senyumannya. Dan ketika hatimu hancur hanya karena ia meninggalkanmu dengan senyuman.

Minsoo tahu betul siapa wanita yang dimaksud pria itu. Siapa sosok cantik yang dipuja pria itu. Siapa sosok sempurna yang dicintai pria itu. Pria yang amat sangat ia cintai. Ia tahu jika cintanya selalu bertepuk sebelah tangan. Dan ia tahu bahwa hatinya sudah terlalu sering hancur karena satu orang yang sama.

Ini adalah cinta pertama mereka. Apa akan berakhir bahagia? Atau hanya menyisakan air mata?

__

Seorang gadis kecil dengan kaus lusuh dan celana pendek seadanya berjalan limblung di pinggiran jalanan ibu kota. Tangannya mengepal erat, menggenggam beberapa lembar uang untuk membeli obat. Satunya lagi memegangi keningnya yang pusing bukan main.

Malam itu, aku sendirian. Di tengah padatnya orang-orang. Di bawah guyuran rintik hujan.

Ia berjalan tanpa alas kaki, tanpa payung, tanpa jaket tipis sekalipun.

Dingin. Hanya itu yang kuingat malam itu.

Bibirnya membiru dan badannya mulai menggigil. Tapi ia memantapkan hatinya, terus berjalan sampai apotek terdekat, dan membeli obat dari hasilnya mengais sampah tadi pagi.

Malam itu aku benar-benar pusing, sampai rasanya semua orang sedang berputar.

Ia berbelok ke sebuah gang kecil di kelokan jalan. Gang kecil itu gelap, hanya dihiasi dengan lampu temaram kecil dari satu-dua rumah.

Setidaknya lewat jalan itu jadi lebih dekat. Pikirku waktu itu. Jadi aku hanya berjalan, menahan tubuhku yang rasanya ingin tumbang.

“Wah, ada anak manis datang kesini. Hei, Nak. Ada apa?” Seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian menyeramkan–lengkap dengan kumis tebalnya–menghampiri gadis kecil itu. Ia menyeringai, membayangkan pikiran mesum yang mulai bersarang di otaknya.

Aku tahu jika paman itu akan berbuat jahat padaku. Tapi perasaanku bilang; aku akan baik-baik saja.

“Maafkan aku, Paman. Tapi aku ingin lewat. Permisi.”

Paman itu mencengkeram bahu si gadis kecil. “Ayolah~ jangan pergi dulu. Keringkan dulu bajumu. Gantung saja di tiang itu, dan aku akan membantumu untuk mengeringkan badanmu.”

Gadis kecil itu menggeleng. “Tidak Paman. Terimakasih.”

“Ck,” paman tua itu berkacang pinggang. “Menjengkelkan.”

Lalu paman itu melihat genggaman tangan si gadis kecil. Lantas kembali menyeringai–kali ini lebih menyeramkan.

Saat melihat senyum itu, yang lebih mirip seorang psikopat haus darah ketimbang seorang Paman tua, tubuhku gemetar hebat. Jantungku berdegup cepat.

“Berikan padaku uangnya.”

Gadis kecil itu menggeleng. “Tidak. Aku membutuhkan uang ini.”

Sang Paman melotot. “Kurang ajar! Anak kecil miskin sepertimu berani menolakku dua kali?!”

Aku melihat saat Paman itu mengangkat tangannya, hendak memukulku dan membuatku pingsan, merampas uangku, dan mungkin saja memperkosaku.

Dan aku memohon pada Tuhan, jangan biarkan hidupku berakhir malam itu.

Buuk!

Dan aku sangat bersyukur, Tuhan dengan cepat mengabulkan doaku.

“Jangan lukai dia!” Suara cempreng seorang anak laki-laki dengan jas hujan kuning yang ia pakai menguar disela-sela derasnya hujan. Batu yang tadi ia pakai untuk memukul Paman itu, mendarat mulus di kepala bagian belakang pria paruh baya itu.

Sang Paman menoleh. “Siapa kau, anak kecil? Pergi sana! Jangan ganggu urusan orang tua.”

“Dia juga anak kecil sepertiku! Mau apa kau dengannya?!”

“Aaah, sial!” Paman itu melangkah maju, bersiap meninju anak lelaki yang ia tak tahu siapa, datang dari mana. Yang sudah mengganggu acara malamnya.

Saat itu aku benar-benar takut. Tapi aku sama sekali tak menemukan rasa itu dalam matanya. Mata anak lelaki yang tingginya tak seberapa. Yang waktu itu sudah mengepalkan tangannya erat, membuatkuda-kuda dan posisi siap bertarung.

Dan seketika itu juga, kakiku maju tanpa kusadari. Rasa takutku hilang begitu saja, saat mata kami tak sengaja bertemu dan ia seperti bilang; jangan takut. Ada aku di depanmu!

Gadis itu mengambil balok kayu yang kebetulan berada di dekatnya, ia berlari, meloncat setinggi yang ia bisa, lalu menghantamkan balok kayu itu tepat ke arah kepala si Paman Tua.

Aku memukulnya berulang kali, mengabaikan rasa pening yang makin lama menghinggapi kepalaku. Aku marah pada paman itu. Karena ia hendak menyentuh pahlawanku dengan tangan kotornya.

Paman itu tak bisa berkutik, ia jatuhterjerembap ke tanah dengan kepalanya yang terbentur balok kayu. Si anak lelaki hanya diam, mulutnya terbuka separuh dan kuda-kudanya sudah hilang.

Setahu yang kuingat sejak itu, ia berteriak saat pandanganku mulai menghitam.

Dan saat aku membuka mataku, atap kayu warna ungu segera masuk menyelinap lewat mataku. Aku meringis, merasakan pening di kepala.

“Ibu, dia sudah bangun!” Anak lelaki itu berteriak nyaring kearah luar kamarnya. Bibirnya tersenyum, memperhatikan gadis kecil itu yang masih memegangi kepalanya.

Tak lama, aku seperti melihat malaikat baik hati yang dikirim Tuhan karena aku telah bekerja keras selama ini. Ia berwujud wanita, dengan baju panjang berwarna putih dan celana abu-abu. Rambutnya yang satu-dua sudah putih seperti bersinar, dan senyumnya yang damai seketika menentramkan jiwa.

Ia bertanya namaku, dimana aku tinggal, dan siapa orang tuaku.

“Namaku Song Chae Yoon. Aku tak tahu dimana ayah dan ibu, dan aku tak punya rumah.”

Lalu ia diam sejenak, anak lelaki yang tadi menolongku juga terdiam. Lalu mereka tersenyum, merentangkan tangannya dan berkata;

“Tinggallah bersama kami. Dan mulai sekarang, panggil aku ‘ibu’.”

Ibu tersenyum, lebih hangat dari matahari pagi yang setiap pagi kusaksikan dari bawah atap emperan toko. Dan tanpa kusadari, tangan anak lelaki itu menggenggamku erat, tersenyum.

Dan sejak saat itu, tak ada lagi tangis di setiap hariku. Yang ada hanya tawa, bahagia, dan suka. Bersama ibu, ayah, dan teman-teman panti asuhan yang lain.

Terutama karena dia. Pahlawan kecil yang telah menyelamatkan hidupku.

___

Dulu, aku hanya seorang bocah yang tinggal di pinggiran pantai. Sehari-hari hanya makan dengan ikan, bekerja menangkap ikan, dan memelihara sedikit ikan di rumah.

Orang tuaku hanya seorang nelayan amatir yang terlalu menggantungkan hidupnya pada laut. Menebarkan jala ikan setiap hari, setiap malam. Dan pulang saat pagi hari, dengan penghasilan tak menentu.

Aku tak apa dengan hidupku yang dulu. Aku masih bisa tersenyum, tertawa, dan merasakan hangatnya pelukan ibu di malam hari. Bisa berlari menyusuri bibir pantai setiap mentari hendak bertengger di angkasa, atau menatap indahnya senja dengan angin kecil yang membuat perih di mata.

Sampai suatu hari, di saat langit hitam dan angin kencang berhembus, ayahku nekat pergi ke laut bersama 2 temannya yang lain. Ia nekat mencari ikan saat badai akan menghampiri pesisir pantai. Dia hanya bilang; Tuhan akan selalu menjaga ciptaan-Nya yang selalu bertaqwa. Jadi kami–aku dan ibuku–merelakannya pergi, melihatnya berlayar sampai menghilang dibalik laut.

Aku tak tahu jika saat itu, Tuhan bukan menjaga ciptaan-Nya, tapi mengambilnya dari bumi.

Ayahku meninggal, bersama 2 temannya yang lain.

Ibuku menangis sampai wajahnya merah, sampai bibirnya kering. Aku tak menangis saat itu, buat apa? Ayah juga tak akan kembali meski air mataku mengalir sedemikian derasnya.

Jadi kuputuskan saja keluar dan mencari ikan, membantu Paman Kim yang kesusahan membetulkan jalanya yang bolong.

Dan saat itulah aku bertemu dengannya, dengan 2 malaikat yang Tuhan kirim sebagai pengganti ayah. Mereka baik, dengan senyum hangat dan tangan yang selalu terentang lebar. Mereka mengajakku pergi ke rumahnya, bermain bersama anak-anak asuhnya yang lain.

Aku sering berkunjung ke rumahnya, setiap selesai menangkap ikan di akhir pekan, mereka pasti menjemputku dan mengajakku bermain ke rumahnya. Aku senang jika berkunjung ke rumah kayu itu. Setiap kali kau masuk ke dalamnya, pasti aroma menenangkan menghinggapi hidungmu.

Dan berkat 2 malaikatku, aku bisa melupakan kematian ayah.

Apalagi saat aku melihatnya, gadis kecil dengan baju lusuh, rambut basah, dan sorot mata ketakutan. Ia menggenggam beberapa lembar uang. Bibirnya yang bergetar berteriak pada Paman tua yangberniat jahat padanya.

Jadi aku menolongnya, tanpa tahu kenapa aku harus melakukannya.

Dia memukul Paman itu bahkan sebelum sempat aku memukul wajah Paman itu dengan kepalan tanganku. Ia jatuh pingsan tepat setelah Paman itu tersungkur di tanah.

Ia demam. Tubuhnya benar-benar panas. Dan bibirnya terus saja bergetar.

Jadi aku membawanya, menggendongnya di punggung kecilku. Berjalan secepat yang aku bisa. Berharap ia belum mati kedinginan.

Dan saat ia membuka matanya, hal pertama yang aku lihat adalah; matanya yang bersinar terang, menandingi terangnya mata ibu.

Sejak saat itu, matanya yang bersinar terang selalu menatapku teduh. Bibirnya yang kecil selalu tersenyum senang untukku, karena aku.

Tapi bahagiaku harus kandas saat ibu bilang ‘ibu’ kandungku meninggal karena terbawa arus saat ombak sedang tinggi-tingginya di pantai.

Sebagian cahaya hatiku padam saat aku tak menemukan kebohongan di mata ibu.

Lalu gadis itu datang sambil menangis tersedu, mengucapkan bela sungkawa, dan memelukku erat, bilang jika masih ada dia di sampingku, berjanji jika ia akan selalu ada untukku, selalu bersamaku.

Dan ia menepati janjinya. Masih dengan senyuman yang tak pernah berubah.

Yang menjadi cahaya baru di hatiku, menjadi sosok sempurna yang selalu ku rindu.

TBC

ini aku juga gak yakin sama fanfic ini sebenernya. jadi kalau responnya sedikit ya nggak bakal ku lanjut, kalau banyak, (insyaallah) ku lanjut.

punya wattpad? add akun aku ya! @chocory

terimakasih banyak! 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “[Author Tetap] Unexpected Love – prolog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s