Dirty Breath [Chapter 2]

cover

DIRTY BREATH

a story by Alkindi, staring by Oh Sehun & Khanza Kim, AU Drama, Romance, Sad, Crime, Marriage life and PG-17 rated.

Previous : INTRO | CHAPTER 1

DIRTY BREATH DILANJUT DI WATTPAD : imbadgirl1402

(https://www.wattpad.com/story/93412940-dirty-breath)

Semua pengunjung rumah sakit Kanghae dikagetkan dengan kedatangan seseorang pagi ini. Pasalnya mereka datang dengan rombongan mobil dan para pria dengan pakaian serba hitam. Mereka langsung masuk ke dalam secara bersamaan. Hal itu pun menjadi perhatian bagi pengunjung dan penghuni rumah sakit jiwa Kanghae.

“Bisa aku bertemu dengan Khanza Kim ?” Tanya salah seorang pria, yang terlihat seperti pimpinan pria berbaju hitam tersebut.

Sementara pegawai rumah sakit yang bertugas enggan menjawab. Ia seperti sangat ketakutan dan berkeringat. Tatapan orang itu juga semakin membuat nyalinya ciut. Pria itu akhirnya menunduk, membuat pria yang bertanya tadi semakin muak.

Hey ! Aku bicara padamu, apakah kau tuli ?” Teriaknya sambil menggebrak meja.

“Bagaimana bisa Rumah Sakit sebesar ini memperkerjakan orang tuli sepertimu. Kau tidak pantas menjadi pegawai, kau pantasnya jadi penghuni atau pasien di sini.” Maki pria itu semakin menjadi. Sementara pria di belakangnya tertawa melecehkan. Tiba-tiba seseorang datang dari arah lain.

“Khanza tak ada di sini.” Ucap pria itu yang tak lain adalah salah satu dokter dan psikiater di Kanghae, Byun Baekhyun.

“Apa maksudmu ?”

“Ya, dia melarikan diri kemarin malam.”

Baekhyun tahu siapa pria itu, pasti adalah suruhan Seung Wook. Apapun itu Baekhyun tak perduli, yang jelas untuk saat ini dirinya merasa terendahkan karena pria itu menarik keras kerah sneli dokternya.

“Jangan main-main dengan kami, Psikiater Byun. Aku tahu pasti kau yang menyembunyikan Khanza.” Pria itu semakin mengeraskan tarikanya di kerah Baekhyun, hampir membuat Baekhyun tercekik dan kehabisan nafas.

“Geledah seluruh kota !” Teriak pria itu setelah melepaskan kerah Baekhyun.

Kau dimana Khanza ? Semoga kau tidak tertangkap. Lari, lari semampu kau bisa, jika kau ingin tetap hidup. Batin Baekhyun dalam hati setelah menatap kepergian pria suruhan Seung Wook

◄◄◄►►►

Sehun, pria berusia 27 tahun yang menjadi salah satu pengusaha muda sukses di Korea. Bisnisnya di bidang real estate terus merambah sukses sampai ke manca negara. Ditambah lagi Sehun yang notabenya adalah putra sulung presiden Korea. Jadi mustahil bila semua orang tak mengenalnya.

Ketenaran dan kesuksesanya membuat ia masuk dalam daftar pengusaha muda tersukses di dunia, versi majah forbes. Mungkin orang-orang bertanya, kenapa Sehun tak menjelajahi dunia politik seperti ayahnya. Jawabanya adalah, politik penuh dengan pertumpahan darah. Untuk itu Sehun memilih untuk membuat usahanya sendiri, yang berbeda dengan keluarganya yang lebih banyak berkecimpung di dunia politik.

Sehun menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya, membuka dua kancing teratas kemejanya, dan melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya sudah dimulai. Semua itu terhenti karena Sehun terus manghadiri meeting dengan para client dari dalam dan luar negara. Pria itu tampak kelelahan, tapi tetap tak mengurangi kadar ketampananya. Apalagi kalau mata elang itu menggunakan kacamata.

Sehun tak menyadari, pintu sudah diketuk beberapa kali dan menampilkan seorang gadis yang sekarang sudah berdiri di depanya. Callesa—sekretaris pribadinya, sekarang sudah terduduk di sofa.

“Kenapa kau memanggilku ? ” Tanyanya pada Sehun.

Sementara pria itu tak langsung menjawab, ia malah terfokus pada berkas-berkas di meja yang dirasanya lebih penting dibandingkan Callesa. Gadis itu pun menggeram kesal karena tak di anggap oleh Sehun. Omong-omong Callesa dan Sehun sudah lama saling mengenal. Mereka sudah saling mengenal saat mereka masih duduk di bangku SMA, maka jangan salahkan bila sikap Callesa yang terlihat santai pada atasannya itu.

“Ya sudah, aku pergi saja.” Ungkap Callesa. Tapi Sehun terlebih dulu mengeluarkan suara.

“Tunggu.” Ucapnya dingin.

“Apa kau sedang memohon padaku sekarang ?” Tanya Callesa.

“Ya, karena aku sangat butuh bantuanmu.” Ucap pria itu masih dingin tak berperasaan. Namun Callesa dapat dilihat dari mata pria itu, kalau sekarang ia sedang serius.

“Baiklah.”

“Jadi, bisakah kau menghandle pekerjaanku hari ini ? Kau hanya melanjutkan pekerjaan yang sudah kumulai dan menemui beberapa client yang sudah dijadwalkan. Hanya rapat kecil.”

“Tidak mau. Aku tidak bisa.”

“Please ?”

“Memangnya kau mau kemana ?”

“Ada urusan mendesak. Tolong aku, ya ?

Callesa mendengus kesal, teman prianya itu selalu saja begitu. Memanggil jika ada keperluan saja. Ia tak heran dengan sikap Sehun yang seperti ini, karena Callesa sudah terbiasa jadi korban Sehun bila pria itu ada urusan mendesak atau jika pria itu sedang malas bekerja. Wajah bisa dikatakan cool dan terlihat bijaksana, tapi tak bisa di pungkiri kalau pria seperti Sehun suka meminta bantuan orang lain, atau lebih tepatnya menyerahkanya.

   ◄◄◄►►►

“Sudah lama menunggu ?” Sehun menarik saru kursinya. Ia sekarang ada di cafe dekat perusahaanya yang cukup ramai hari ini.

“Lumayan.” Jawab gadis di depanya seadanya. Setelah itu, mereka memilih untuk berdiam diri, tak ada pembicaraan, gadis itu terlihat sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Sehun tak tahu harus berbicara apa lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk menelusuri seluruh penjuru cafe dengan sepasang matanya. Memang sangat ramai sekali, membuat Sehun semakin gugup saja. Setelah itu pandangan Sehun beralih pada gadis di depannya yang hingga sekarang masih asyik memainkan ponselnya.

Gadis itu berpenampilan elegant, menggunakan span dan kemeja bunga-bunga, mengikuti trend yang ada. Tidak heran jika gadis itu selalu menarik setiap kali Sehun melihatnya. Dan gadis itulah kelemahan Sehun, ia bisa menjadi sangat gugup karena gadis itu.

Long time no see. Bagaimana perjalananmu ke Korea ?”

“Baik—” Jawab gadis itu. Memandang Sehun sebentar, lalu melanjutkan untuk berkutat dengan ponsel di tanganya. Setelah itu tidak ada topik pembicaraan lagi.

“Kenapa menyuruhku ke sini ?” Si gadis akhirnya membuka suara.

“Ya, aku ingin bicara padamu. Ayahku, kau tau lah ? Dia terus mendesakku agar cepat menikah.” Sehun terlihat gugup setengah mati. Jari telunjuknya ia ketuk-ketukkan di meja, dan otaknya sedang berfikir keras. Memilih kata yang akan diungkapkan, dan yang pantas diungkapkan.

“So ?”

Sehun sedikit tegang, ia berhenti sejenak. Menetrakan kerja jantungnya untuk mengungkapkan kalimat berikutnya. Sesedikit matanya menelisik sekitar, berharap tak ada yang mengetahui dan mempermalukanya nanti. Pria itu menarik nafasnya dalam.

“Jadi, will you marry me ?” Ucap Sehun akhirnya,

Sambil mengeluarkan kotak kecil merah yang begitu terbuka menampakkan cincin berlian yang cantik dan berkilauan. Orang-orang di sekitarnya juga melihat mereka dengan iri. Pria setampan Sehun melamar gadis di depan umum. Tak heran jika diantara mereka terus memandangi Sehun dan gadis itu. Sehun gugup bukan main. Apa yang harus Sehun lakukan untuk menunggu jawaban sang gadis.

Gadis itu tak langsung menjawab, ia malah bangkit dan menarik tangan Sehun keluar dari Sana. Begitu sampai, gadis langsung menarik kerah Sehun, mencium bibirnya, membuat Sehun tersentak. Apakah artinya, ya ? Tanyanya dalam hati. Seakan ingin bertanya tentang hal itu, tapi nyatanya mulut mereka belum berhenti bertaut mesra. Sehun juga semakin memperdalam ciumannya tatkala tangan selembut sutera itu dikalungkan di leher kekar Sehun.

Shit

Batin Sehun serasa ingin menghabisi gadis itu sekarang juga. Bahkan tangan gadis itu sudah meraba-raba paha Sehun sekarang. Lama mereka bertaut, akhirnya gadis itu melepaskan ciumanya secara sepihak dengan ekspresinya yang gemas.

“Sudah ingat sekarang ?” Tanya gadis itu. Sehun mengeryitkan dahi. Ia tak mengerti maksud dari gadis itu.

We just Friend Sex, no more.” Lanjut gadis itu.

Sehun terdiam, tepatnya tak tahu harus berbuat apa. Mereka memang sering bercinta sebelumnya. Dan selama ini Sehun menganggap bahwa mereka adalah partner yang sebenarnya, bukan partner in crime. Tapi ternyata gadis itu tidak.

“Jadi hubungi aku jika kau ingin bermain denganku. Ah, coba pikirkan, jika aku menikah denganmu, maka aku tidak akan bisa mendapatkan uang lagi. Aku tidak bisa melayani pelangganku yang sudah membayarku mahal-mahal. Oh Sehun, aku sebenarnya juga mencintaimu, tapi kau tahu lah, di dunia yang seperti ini siapa yang tidak butuh uang ?”

“Aku bisa memberimu semua itu. Kumohon, jadilah dirimu yang dulu. Kita mulai lagi dari awal.” Sehun menggenggam tangan gadis itu.

Bullshit,  jangan usik tentang hidupku, ini hidupku bukan hidupmu. Lagipula masih banyak wanita di dunia ini yang bisa kau nikahi, punk !” Tegas gadis itu, setelahnya ia pergi meninggalkan Sehun yang masih mematung di tempatnya.

Sehun masih terdiam, kedua tanganya bahkan mengepal sekarang. Ia tersadar, selama ini ia sudah menyimpan perasaan yang salah pada gadis jalang yang telah lama membodohinya. Sehun menatap kepergian gadis itu yang mulai menyetop taxi di depanya. Sehun sakit, tubuhnya seakan ingin terhuyung kebelakang.

Apakah begini rasanya ditolak ? Tanya pria itu dalam hati.

◄◄◄►►►

Hari sudah menjelang malam. Jalanan kota di Seoul malah semakin ramai. Kendaraan-kendaraan yang berbeda melaju di jalan raya. Sementara di sisi lain jalan itu, Baekhyun tak henti-hentinya menyusuri jalanan di kota Seoul, berharap jika ia menemukan Khanza. Tapi nihil, hingga sekarang Khanza tak kunjung ia temukan. Sampai sekarang anak buah Seung Wook masih berusaha melacak keberadaan Khanza. Baekhyun juga tak mau kalah, ia juga menyewa seseorang untuk menemukan dan menyelamatkan gadis yang ia cintai itu.

Sampai di tengah-tengah kota, tepatnya saat ia berhenti melajukan mobilnya di depan Bar. Baekhyun menemukan pemandangan tak asing di matanya. Bukankah itu Suzy ? Tanya Baekhyun dalam hati. Ia pun segera keluar dari mobilnya ketika mengetahui keadaan Suzy benar-benar sangat tidak baik.

“Sedang apa kau di sini ?” Tanya Baekhyun menginterupsi. Ia menatap iba gadisnya yang terlihat sangat berantakan itu.

Sementara hingga saat itu Suzy tak menghiraukan keberadaan Baekhyun, malah salah satu tanganya mencoba untuk meraih botol bir yang masih tersisa setengah itu. Baekhyun mendesah kesal. Suzy selalu saja begini, tak ada bedanya dengan sahabatnya Sehun. Omong-omong, Sehun dan Suzy adalah teman lama Baekhyun.

“Ikut aku.” Baekhyun menarik lengan Suzy

“Lepaskan. Siapa kau ? Berani-beraninya menyentuhku !” Maki gadis itu tak terima.

“Apa kau gila ? Aku kan suamimu !”

“Suami ?—” Suzy tertawa meremehkan.

“—aku seorang janda asal kau tahu !” Lanjutnya.

Baekhyun tak membalas lagi ucapan Suzy, tak ada gunanya bicara dengan orang yang dalam keadaan setengah sadar, ia pun langsung menggendong tubuh istrinya itu ala bridal style. Membaringkan Suzy di jok mobilnya, membenarkan seat belt gadis itu, dan kembali lagi ke Bar untul mengambil ponsel Suzy yang ketinggalan.

Tuan !” Suara seorang pria menghentikan langkahnya. Dan pria itu adalah orang suruhan Baekhyun untuk mencari Khanza.

“Ada apa ?”

“Apakah gadis itu masih menggunakan pakaian rumah sakit saat kabur ?” Tanya pria itu.

“Benar. Bagaimana ? Kau menemukanya?” Tanya Baekhyun antusias.

“Gadis itu tertabrak mobil saat dia di perempatan gang, aku mengetahuinya dari penduduk sekitar. Setelah itu ada seorang pria yang mengaku sebagai suaminya, dan membawa gadis itu pergi.” Ucap pria itu, sebelah alis Baekhyun terangkat.

“Suami ?” Baekhyun tersentak.

“Kau tahu siapa pria itu ?” Tanya Baekhyun, sementara pria di depanya hanya menggelengkan kepala.

“Lanjutkan pencarian. Aku akan membawa istriku pulang.” Ungkap Baekhyun, setelah itu mereka berpisah.

 ◄◄◄►►►

“Kemana kakak ?” Tanya Hayoung begitu menyadari di ruang kerja Sehun hanya terdapat Callesa, asisten Sehun.

“Entahlah, dia sudah pergi sejak siang tadi .” Ungkap Callesa sambil membolak-balikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.

“Dia tidak memberitahumu kalau dia akan pergi kemana ? ”

“Memangnya Sehun pernah melakukan itu ? Dia datang dan pergi sesukanya dan tak memperdulikan keberadaanku sebagai asistennya.” Ungkap Callesa, gadis berwajah blesteran itu menghentikan pekerjaanya sejenak dan menghampiri Hayoung yang masih berdiri mematung di ambang pintu.

“Memangnya ada apa ?” Tanya Callesa.

“Itu, ayah mencari Kakak. Ayah sudah berkali-kali menghubungi Kakak, tapi sampai sekarang tak ada balasan.” Jawab Hayoung sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kau tahu Mansion terpencil yang di beli Sehun beberapa bulan lalu?” Tanya Callesa sambil membisikannya di telinga Hayoung. Sementara Hayoung hanya menggelengkan kepala sebagai balasan.

“Dua hari terakhir Sehun sering mendatangi tempat itu, aku tak tahu kenapa. Bahkan sesekali Sehun tidur di sana.” Lanjut Callesa, Hayoung semakin tak mengerti.

“Kenapa kakak di sana ? Tidak aku tidak mau kesana. Tempatnya sangat sulit di jangkau. Di daerah dekat tempat itu juga banyak preman dan penjahat.”

“Bagaimana aku bisa tahu ? Iya, lebih baik jangan kesana. Nanti Sehun juga akan kembali sebentar lagi. Tunggulah dan duduk di kursi.” Callesa mempersilahkan.         ◄◄◄►►►

Khanza berusaha membuka matanya walau berat, dirinya berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Sangat berat sekali untuk sekedar membuka sebelah mata, apalagi dua. Ditambah lagi kepalanya yang terasa pusing bukan main, kepala Khanza terasa seperti memakai helm yang berukuran sangat sempit.

Ia dapat mencium aroma ruangan yang di tempatinya sekarang, dan gadis itu dapat memastikan kalau dirinya tidak sedang di rumah sakit. Kenapa Khanza bisa mengetahuinya ? Karena gadis itu di besarkan di rumah sakit Jiwa, dan sering juga keluar masuk rumah sakit umum karena ulah hatersnya di rumah sakit Jiwa.

Mata gadis itu sudah terbuka sempurna sekarang, ia menatap sekeliling ruangan yang sangat besar dengan replika Eropa itu. Sampai akhirnya sepasang matanya tak sengaja menangkap sosok pria sedang terduduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidurnya. Khanza pun menutup paksa matanya.

“Jangan pura-pura tidur.” Suara bariton pria itu masuk ke pendengaran Khanza dan menggema di seluruh ruangan berplafon itu. Mendengar itu, Khanza semakin mengatupkan matanya.

“Sampai kapan kau akan melakukan itu.” Suara pria itu terdengar sekali lagi, diiringi suara langkah pantofel yang mendekat. Sepertinya pria itu sudah berada di sampingnya, bisa dirasakan Khanza dari aroma parfum yang maskulin milik pria itu. Mau tak mau Khanza membuka matanya.

Bingo.

Itu adalah pria yang di kejar-kejar oleh Khanza, dan pria yang kemarin terakhir kali dilihatnya sebelum semuanya menjadi gelap. Pria itu, batin Khanza.

Sehun

Sehun menatap tajam Khanza, sementara gadis itu malah membuang tatapan kearah lain.

“Kau bisa duduk ? ” tanya Sehun dingin. Khanza hanya menggeleng sebagai balasan.

“Jangan berbohong, kuminta kau duduk sekarang juga.” Perintah Sehun dengan suara bariton yang menggema, membuat nyali Khanza ciut untuk tak menuruti kemauan pria itu.

“A-aku tidak bisa.” Ucap Khanza sambil berusaha mendudukan dirinya. Sehun hanya menonton Khanza dan tak berniat untuk menolongnya. Sehun tahu, gadis itu pasti sedang beralibi sekarang. He has no mercy.

Khanza masih berusaha mendudukan dirinya, sampai Sehun tersadar jika gadis itu mulai memucat dan berkeringat. Tak lama setelahnya, keluar darah dari perban di kepalanya. Dan Khanza pun terhuyung ke samping ranjang. Hampir terjatuh, untung Sehun sudah menangkapnya. Ternyata gadis itu tidak bercanda, batin Sehun sambil menelfon seseorang dengan ponselnya.

  ◄◄◄►►►

“Jahitan di kepalanya belum kering, dan dia tidak boleh banyak bergerak .” Ucap dokter pribadi Sehun setelah memeriksa keadaan Khanza dan mengganti perbanya.

“Apa ada orang lain di tempat ini, selain kau dan gadis ini ?” Tanya dokter pribadi Sehun.

“Tidak. Memangnya kenapa ?”

“Bukan apa-apa, hanya saja harus ada orang yang bisa mengganti perban gadis itu setiap hari. Lantas kenapa anda tidak menyewa pembantu atau suster saja untuk membantu gadis ini ?”

“Jangan. Tidak usah. Aku saja yang menggantikannya. Ini tempat privasiku.” Jelas Sehun sambil sesedikit berusaha menarik senyum.

“B-baiklah, sepertinya gadis itu spesial ya ? Kalau begitu, aku pamit pergi.” Ucap Dokter pribadi Sehun sebelum pergi melangkahkan kakinya meniggalkan ruangan itu.

“Tunggu.” Ucap Sehun, membuat langkah kaki sang dokter terhenti.

“Kenapa ?”

“Kuharap kau tidak memberitahukan apapun tentang gadis ini pada orang lain. Aku sangat mempercayaimu.”

“Baiklah.” Ungkap dokter itu sambil menarik senyum simpul, Sehun sedikit lega.

Sehun berbalik menatap Khanza yang masih menutup mata. Sehun menatap Khanza iba, pasalnya gadis itu sangat lemah dan terdapat banyak sekali memar ditubuhnya.

“Apa yang kau lakukan ?” Tanya Sehun begitu sadar Khanza tengah berusaha mendudukan dirinya.

“K-kau tadi memintaku untuk du—”

“Dasar bodoh.” Sehun memotong ucapan Khanza. Pria itu melangkah kearah Khanza, mendudukan dirinya di sisi ranjang dan menidurkan kembali tubuh gadis itu.

“Kau tidak boleh bergerak, bodoh !” Ucap dingin pria itu. Khanza hanya menunduk dan tidak berani menatap Sehun.

“Memangnya kau itu siapa ? Kenapa aku harus peduli, dan membawamu kesini ?” Lanjut pria itu masih dingin.

Seperti biasa, gadis itu membisu. Atau lebih tepatnya tidak berani membalas Sehun. “Kau punya waktu tiga hari, setelah itu kau harus meninggalkan tempat ini.” Sehun menghilang dari balik pintu setelah itu.

Bagaimanapun juga Khanza harus berterima kasih pada Sehun, karena kalau tidak ada Sehun mungkin ia akan mati di tangan ayahnya sendiri. Yah, walaupun pada akhirnya ia harus di usir, tapi tetap saja, setidaknya Khanza masih memiliki harapan untuk hidup dan menunda kematianya.

    ◄◄◄►►►

“Kau mencariku ?” Tanya Sehun begitu sudah memasuki ruang kerja ayahnya.

“Ya.”

“Ada apa ? ”

“Kau harus menikah. Atau ayah tidak akan membiarkanmu bermain di real estate. Sebenarnya kau harus melanjutkan ayah untuk terjun di dunia politik” Ancam ayah Sehun.

“Aku tidak membutuhkan itu semua. Kenapa kau terus mengusikku tentang hal itu ? Aku sudah dewasa, aku bisa mengurus hidupku sendiri. Tentang caraku bertahan hidup sampai sekarang, dan caraku mencari pendamping hidup, aku bisa melakukanya sendiri. Jadi kumohon kau untuk diam, dan beri aku waktu.” Ungkap Sehun, setelahnya ia pergi meninggalkan ruangan ayahnya dan membanting keras pintunya.

Saat kaki Sehun sedang menuruti anak tangga, ia tak sengaja bersimpangan dengan salah satu perdana menteri, Seung Wook. Untuk apa pria itu datang kemari ? Tanya Sehun dalam hati. Ingin sekali rasanya Sehun mencari tahu apa yanng sedang dilakukan Seung Wook di rumahnya. Tapi sayangnya hal itu tidak menarik lagi bagi Sehun, mungkin ia terlalu berfikir negatif tentang Seung Wook dan kehadiranya. Yang terpenting sekarang adalah, bagaimana cara Sehun kabur dari tekanan yang terus diberikan ayahnya.

Jika sedang stress dan tertekan seperti ini, Sehun tak perlu berfikir dua kali untuk mencari tempat pelampiasanya. Ia pun menelfon seseorang di seberang sana dan berlalu meninggalkan rumah keluarganya. Sehun butuh hiburan saat ini, biarkan pria itu bebas walau hanya sebentar.

     ◄◄◄►►►

“Cukup, kau sudah keterlaluan.” Baekhyun menahan tangan Suzy yang hendak melemparkan barang-barang lain kearahnya. Gadis itu sudah melemperkan beberapa vas bunga dan gelas-gelas yang ada di rumah mereka. Baekhyun tak mengerti jalan fikiran gadis itu. Padahal semuanya bisa diselesaikan dengan baik baik.

“AKU BENCI PADAMU BAEKHYUN ! SIALAN ! ENYAH DARI HIDUPKU.” Teriak Suzy sambil meraih vas bunga lain di tanganya hendak melemparkanya ke arah Baekhyun.

“Sudah. Kumohon berhenti, aku bisa jelaskan semuanya. ” ungkap Baekhyun sambil menahan kedua tangan Suzy. Sementara gadis itu tak bisa lagi menahan isak tangisnya. Baekhyun pun menarik gadis itu dalam pelukanya, mencoba untuk sedikit menenangkan .

“Sudah berapa lama ?” Tanya Suzy. Mereka sekarang sudah terduduk bersama di tempat tidur mereka. Baekhyun mencoba menjelaskan saat Suzy sudah lebih tenang, tidak seperti tadi.

“Sebelum aku menikah denganmu. Dia adalah pasienku sejak lama.” Jelas Baekhyun terus terang. Ia bisa melihat Suzy yang terlihat menyeka sendiri air matanya.

“Maafkan aku.” Ungkap pria itu, ia benar-benar merasa bersalah dengan Suzy. Apalagi kalau orang tua mereka sampai tahu masalah keretakkan hubungan mereka ini.

“Tidak masalah. Cinta bukanlah sebuah kesalahan.” Ungkap Suzy, Baekhyun tak menyangka akan jawaban dewasa yang keluar dari mukut gadis itu, sekarang dirinya jadi makin bersalah lagi.

“Tapi tolong ceraikan aku.” Baekhyun tersentak, tentu saja. Perkataan Suzy satu ini sungguh membuat detak jantungnya berhenti. Cerai ? Tak pernah sekalipun terfikir di benak Baekhyun.

   ◄◄◄►►►

Jarum pendek jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Khanza lelah jika seharian harus berbaring di ranjang tanpa melakukan apa-apa. Ia pun akhirnya bangkit dari tempat tidur untuk sekedar berjalan-jalan mengelilingi Mansion yang sangat luas itu. Tak ada siapapun di dalam Mansion itu kecuali Khanza sendiri.

Ia berjalan di sekitar balkon, setelah itu memandang pemandangan di sekitar Mansion. Terlihat sebuat taman kecil dan Khanza baru sadar jika Mansion ini di kelilingi hutan. Akhirnya Khanza memutuskan untuk keluar dari ruangan yang sekarang ia tempati. Berjalan mencoba mencari letak dapur. Karena gadis itu sangat haus sekarang.

Ruangan yang gelap gulita membuat Khanza sangat kesulitan untuk menggapai dapur di Mansion itu. Untuk ukuran normal, Mansion ini terbilang sangat besar. Tanganya meraba-raba dinding, mencari saklar untuk menghidupkan lampu. Tapi hingga sekarang Khanza tak menemukanya. Ia bahkan tak menyadari kalau tubuhnya menabrak meja dan menjatuhkan vas yang ukuranya sangat besar.

Prank

Khanza pusing. Tubuhnya seakan ingin melayang kemana-mana. Suara pecahan Vas itu mengigatkanya pada kejadian lama. Ia pun teringat saat terakhir kali ia bangun dari tidur karena mendengar pecahan vas, dan setelahmya ia menemukan ibunya tergeletak lemas di lantai. Khanza merasa sangat sesak, merasakan seakan-akan kejadian itu terulang kembali.

Tubuhnya telah limbuh di lantai. Tangan gadis itu memegangi kepalanya yang sangat pusing. Sementara tubuhnya bergetar hebat, dan ingatan lama itu terus tergiang di kepalanya.
“Tidak, mom !” Teriaknya sambil menangis tersedu-sedu. Rasanya sama persis ketika ia menangis di samping tubuh ibunya yang tak lagi bernyawa, ini seperti De Javu .

“Mom !” Teriak gadis itu.

Ia jadi mengingat lagi cerita ibunya tentang seorang peri yang memiliki dua sayap. Salah satu sayapnya menunjukkan ibunya, dan satunya lagi menunjukkan ayahnya. Jika Khanza diibaratkan menjadi peri itu, maka ia telah kehilangam salah satu sayapnya. Dan ia masih memiliki satu sayap yang tersisa, sayap yang sangat terluka dan rapuh.

Semuanya berlangsung sangat cepat, Khanza tak menyadari jika lampu di Mansion itu telah menyala sempurna. Semuanya sudah terang, tapi gadis itu terlampaui hilang dari kesadaranya. Untuk terakhir kalinya, Ia hanya bisa melihat samar-samar seorang pria yang berlari dan menangkup erat tubuhnya. Setelah itu semuanya menjadi gelap. Dan Khanza akan memulai mimpi buruknya lagi sekarang.

 

tbc.

A/N : Jangan jadi Silent reader, karena aku juga bisa jadi silent author saat kamu minta Password Fanfiction yang kugembok nanti. Dan makasih ya untuk yang selalu ninggalin jejak ❤ aku udah buat listnya kok, nanti biar mudah kalau dapat password :’v sampai jumpa di chapter selanjutnya !

Iklan

158 thoughts on “Dirty Breath [Chapter 2]

  1. Sehun dingin bgt, semoga bisa lebih baik ke khanza siapa tau jodoh. Baek yg sbar yah kalu udah cerai aku bisa ko gantiin suzy nya wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s