[Author Tetap] Unexpected Love – Part 1

1482318500099

Unexpected Love

Story by: blank.

Park Chanyeol, Oh Sehun, OC, and others | chaptered | school life, romance | general

Chae Yoon terbangun tepat pukul 7 pagi. Alarmmerah jambu yang sejak 5 tahun lalu bertengger di atas nakasnya berdering, mengeluarkan suara cempreng yang membuat netra Chae Yoon mengerjap cepat.

Chae Yoon duduk, meregangkan otot-ototnya yangkaku, lantas menguap lebar. Ia meraih ponselnya yang terletak persis di samping alarm, mengeceknya barang sebentar, sebelum bibirnya naik membentuk lengkungan manis.

Ia bergumam, lantas dengan semangat menarik handuk putih di kursi kayu.

_

Chae Yoon siap 45 menit sebelum ia berangkat ke kampus. Dengan gesit dan senyum lebar, ia langkahkan kaki jenjangnya kearah dapur, mencari bahan-bahan untuk memasak, dan mulai membuat bekal makan siang.

Tangannya gesit memotong beberapa bawang, cabai, dan sayuran. Lantas mencucinya sampai bersih, dan memasukkannya ke kuali besar. Ia tersenyum, membayangkan seseorang yang sejak tadi hinggap di otaknya.

Tepat 15 menit lagi dan ia akan terlambat, bekalmakan siang itu telah siap. Ia tersenyum untuk yang kesekian kali, mengusap peluh di dahi, dan berjalan cepat keluar rumah.

“Sarapan dulu, Sayang.” Seorang wanita dengan rambut yang mulai memutih disana-sini, dengan pakaian santai seperti biasanya, tersenyum menatap Chae Yoon yang hendak berangkat ke kampusnya.

Chae Yoon tersenyum, menggeleng. “Tidak, Ibu. Aku harus bergegas. Besok saja aku sarapannya. Janji.” Lantas beranjak mencium pipi wanita itu.

“Nanti bisa ayah antar, Chae Yoon. Sarapan saja dulu.” Laki-laki paruh baya yang sekarang tetap terlihat gagah dengan setelan rapih yang melekat dibalik tubuh berototnya berucap sambil melipat koran paginya, diam saja saat Chae Yoon mencium pipinya, lantas meraih kopi di atas meja.

“Aku telat, Ayah.” Chae Yoon tersenyum lagi, kali ini langsung belari keluar rumah.

“Hati-hati!”

Chae Yoon mengangguk, tidak menoleh. “Oke!”

_

Chae Yoon berlari kecil saat orang yang ia rindu terlihat diujung sana, dengan mantel tebal dan syal hitam–pemberiannya tahun lalu.

Orang itu tersenyum menatap Chae Yoon. “Tumben kamu telat. Bangun siang, ya?”

Chae Yoon nyengir. “Maaf, Oppa.”

Laki-laki yang dipanggil ‘Oppa‘ itu rersenyum, mengacak pelan rambut Chae Yoon, lantas melirik kotak makan yang gadis itu bawa.

“Kamu bawa apa hari ini?”

“Aku bawa sup pedas.”

Laki-laki itu tersenyum lebar. “Ayo makan, aku sungguh lapar.”

Alis Chae yoon berkerut. “Oppa belum sarapan?”

Laki-laki itu tersenyum, menggeleng. “Aku baru selesai bekerja. Kamu juga belum makan, kan?”

_

“Astaga! Dia tampan sekali!”

“Ya Tuhan, siapa dia? Mahasiswa baru, ya?”

Chae Yoon mengernyit bingung. Kenapa semua orang–maksudnya perempuan–berteriak aneh seperti itu?

“Permisi,” pria jangkung dengan kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya yang mancung, menyapa Chae Yoon. Laki-laki itu harus sedikit menunduk untuk menyesuaikan ukuran tubuhnya dengan gadis itu. “Apa kamu tahu dimana letak gedung fakultas bisnis? Aku kesulitan mencarinya.”

Bisnis? Itu sama saja sepertinya.

Chae Yoon mengangguk. Jelas ia tahu gedung itu, bahkan jumlah ventilasi di gedung itu saja ia hapal.

Laki-laki itu mengangguk, tersenyum puas. “Bisa antar aku kesana?”

Chae Yoon diam sebentar. Ya ampun, sekarang ia tahu kenapa banyak gadis yang berteriak tentang laki-laki ini; senyumnya benar-benar tampan.

_

“Bekal makanmu?” Gadis cantik dengan rambut sebahu itu bertanya, membuat pergerakan menyuap laki-laki itu terhenti.

“Iya. Kau mau? Belum sarapan, kan?”

Gadis itu tersenyum senang. “Terimakasih.” Lalu duduk berdampingan disamping laki-laki yang sekarang sudah melanjutkan suapannya.

Mereka berdua diam menyantap sarapan yang tadi pagi dibuat Chae Yoon. Menikmati udara dingin di taman kampus yang luas, dan mendengarkan beberapa orang yang bergosip tentang dosen mereka yang belum menikah padahal sudah berumur 40 lebih.

Canggung sekali. Aku tidak suka.

Gadis itu merapikan rambutnya, menyisirnya pelan dan meletakkannya ke belakang telinga, ia sedang sibuk memikirkan cara apa agar suasananya tidak canggung seperti ini.

Tapi saat ia masih sibuk memikirkannya, jantungnya terpaksa memompa lebih cepat karena laki-laki itu dengan cepat mengikat rambutnya dengan ikat rambut hitam baru.

Gadis itu tertegun, untuk sejenak merasakan tangan itu lembut menyisir rambutnya, membiarkan jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya, dan bibirnya yang diam-diam tersenyum senang.

“Aku tahu kalau ikat rambutmu putus, dan kamu tidak sempat membelinya karena bekerja,” laki-laki itu berkata pelan sambil terus merapikan rambut gadis itu. “Jadi aku membelinya. Karena aku sempat.”

Rasa senang itu hilang setengahnya, gadis itu tersenyum kecut. Buat apa ia berharap lebih? Ini hanya ikat rambut. Dan laki-laki itu membelinya karena ia sempat. Bukan karena hal lain.

Jangan bodoh, Son Minsoo.

_

Chae Yoon meregangkan otot-otonya yang mulai kaku. Sialan, kenapa ia harus mendata semua orang yang mengikuti kegiatan ini? Apa untungnya bagi dia? Dan apa urusannya?

Lagi pula ini sudah jam 6 sore. Sebentar lagi langit mulai gelap dan dingin. Ia tidak membawa jaket tebal, dan ia tak kuat dingin.

“Coklat panas?” Suara bariton yang tadi siang ia dengar kembali mengalun lembut di dalam telinganya. Ia mendongak, menatap laki-laki jangkung yang sekarang sedang tersenyum sambil menjulurkan tangannya yang memegang cangkir putih dengan mulut sedikit terbuka.

“Eh? Kenapa kamu disini?”

“Aku ikut kegiatan musik.”

Chae Yoon diam sebentar, lantas mengangguk. Menerima coklat panas dari laki-laki itu dan meminumnya sedikit.

“Park Chanyeol.”

Chae Yoon kembali menoleh pada laki-lakiitu–yang sudah menatapnya lekat sejak tadi–dengan alis sedikit terangkat. Apa maksudnya?

Laki-laki itu kembali tersenyum. “Namaku Park Chanyeol. Kamu?”

“O–oh,” Chae Yoon tersenyum canggung, menggenggam erat cangkirnya. “Song Chae Yoon.”

Chanyeol tersenyum, masih menatap Chae Yoon, ia tenggak sedikit coklat panasnya.

_

Bagaimana kuliahmu? Aku sedang bekerja di kafe Paman Kim.

Chae Yoon tersenyum saat ponselnya mendapat pesan dari seseorang yang ia temui tadi pagi. Sedetik kemudian, jarinya lincah mengetuk balasan.

Aku lagi di bus. Oppa sudah makan?

Hari ini sangat melelahkan. Tapi aku bertemu laki-laki tampan :3

Tak lama, balasan datang lagi, dari orang yang sama.

Aku sudah makan tadi.

Hei, jangan bilang kamu sudah suka pada pandangan pertama.

Sama saja denganku, sama-sama lelah :p

Chae Yoon kembali tersenyum, selalu menyenangkan mengobrol dengannya.

Aku tidak menyukainya seperti itu! Jangan salah paham 😦

Yaaah, padahal aku belum makan :3

Semangat Oppa Sehun-ku sayang :* peluk cium dari bus :p

Chae Yoon cekikikan sendiri membaca tulisannya di layar ponsel. Itu sangat memalukan.

Ponsel gadis itu berbunyi lagi. Dengan semangat, ia rogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya dengan senyum merekah, dan membaca pesannya.

Bukan. Bukan dari Oppa-nya.

Ini aku. Park Chanyeol.

Aku dapat nomormu dari temanmu.

Chae Yoon bingung sendiri hendak membalas apa. Tapi ia tetap mengetik balasan untuk Chanyeol.

Ah, iya. Tidak apa-apa.

Chae Yoon menggaruk sedikit tengkuknya yang tidak gatal. Ini canggung sekali.

_

“Aku pulang~” Chae Yoon melangkah masuk setelah sepasang sepatunya tergeletak rapih di atas rak sepatu.

Ayah dan ibunya sedang duduk di atas kursi, menghadap meja makan yang dipenuhi banyak makanan lezat, sambil mengobrol.

“Kenapa kalian belum makan?” Chae Yoon melirik jam tangannya. “Ini sudah jam 8 malam.”

Ibu Chae Yoon tersenyum, menarik lengan gadis itu. “Kami menunggu kamu yang sangat sibuk dengan kampusmu,” lalu mendudukkan Chae Yoon di kursi, bersebrangan dengan tempat duduk ibu dan ayahnya. “Ayo makan.”

Chae Yoon mengangguk, mulai menyantap makan malamnya.

Mereka menyantap makan malam itu dengan penuh obrolan ringan yang menyenangkan, sesekali ayahnya membuat lelucon lucu yang membuat Chae yoon dan ibunya tergelak, lantas melanjutkan makan malamnya.

“Song Chae Yoon.” Ayah berucap serius di sela obrolan mereka, memandang lekat kearah gadis itu.

Chae Yoon mendongak. “Kenapa, Ayah?”

“Kamu sudah punya pacar?”

Chae Yoon terbatuk, makanannya hampir saja keluar semua, ibunya yang melihat itu, langsung mengambilkan segelas air putih, menyerahkannya pada Chae Yoon yang masih menepuk pelan dadanya yang sakit.

“Kamu harusnya bertanya pelan-pelan saja.” Ibu melotot, tangannya masih mengusap punggung Chae Yoon.

Ayah mengangkat bahunya. “Maaf.”

“Ehm,” ibu tersenyum saat Chae Yoon sudah baikan. “Begini, Chae Yoon-ah.

“Ayahmu sudah berjanji pada sahabat seperjuangannya dulu.”

“Berjanji apa?”

“Bahwa jika mereka mempunya anak seumuran, berbeda jenis kelamin, mereka akan menjodohkannya. Untuk mempererat persahabat ayahmu dan menjalin kerjasama keluarga.

“Dan untungnya, ibu yakin kamu belum punya pacar. Jadi, kamu mau, kan, kami jodohkan?”

Gila.

TBC

terimakasih untuk dukungannya 🙂 like and comment kutunggu selalu loh!

Iklan

5 thoughts on “[Author Tetap] Unexpected Love – Part 1

  1. yang disebut ayah ibu oleh chae yoon itu ayah ibunya di panti asuhan atau ayah ibu angkatnya yg baru?. q kok merasa yg akan dijodohin sm chae yoon itu chanyeol yh ( sok tau)
    ditunggu kelanjutannya kak

  2. Jangan bilang mau dijodohin sama chanyeol ?? Kalo iya aku setuju banget wkwkwk. Tapi kasian sehun. Btw ku serahkan saja jalan cerita ke kaka penulis. Aku hanya bisa menunggu kelanjutan ff mu dan memberikan semangat wkwkwk
    Ditunggu ya kaaa 😁😁😁😁😁💪💪💪💪💪

  3. Suka banget, bahasanya keren. Untuk next part semoga sama Chanyeol deh ya dijodohinnya haha.

    Eum.. Tadi sebenernya pas diawal-awal aku sempet bingung sih. Soalnya banyak skip scene gtu kan, terus aku bingung juga yang laki-laki itu siapa, tadi ada nyebut cowo ganteng kan(?) :3 yg nyari fakultas bisnis. Sama dosen 40th(?) ya itulah. Ku gak mudeng yg pas bagian itu.

  4. bahasanya bagus dan menarik >< cuma bagian yg skip tanpa keterangan itu buat bingung, sama beberapa kata yg kurang sreg gitu
    ditunggu lanjutannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s